Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 2)


21. BANGSA ‘”YANG BENCI KEPADA MALAIKAT JIBRIL DAN MALAIKAT LAINNYA

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah:97-98)

“Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka sungguh Jibril itu telah menurunkannya (Al- Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” 97)

“Barangsiapa menjadi musuh Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail dan sungguh Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” 98).

Ayat ini menjelaskan alasan Bangsa Yahudi untuk menolak beriman kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur’an, karena Jibril sebagai Malaikat yang membawa turunnya wahyu ini kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun ayat ini mematahkan dalih-dalih bohong bangsa Yahudi itu.

Ada riwayat dari Bangsa Yahudi yang diceritakan oleh seorang pendeta bernama Abdullah bin Shuriyah, yang bertanya kepada Nabi siapakah Malaikat yang membawa wahyu kepada Nabi. Ketlka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab bahwa malaikat itu adalah Jibril, lalu pendeta tersebut berkata, “Jibril adalah musuh Bangsa Yahudi. Karena ia pernah menyampaikan berita kepada Bangsa Yahudi akan datangnya kehancuran Baitul Maqdis”. Walaupun berita ini terbukti benar namun bangsa Yahudi beranggapan bahwa Jibril sebagai malaikat yang dibenci bangsa Yahudi.

Anggapan Bangsa Yahudi semacam ini jelas menunjukkan manusia yang sudah rusak mental dan sesat pikiran. Lebih-lebih dengan alasan benci kepada Jibril lalu memusuhi petunjuk-petunjuk Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya. Kalau bangsa Yahudi benci kepada Jibril maka Malaikat ini pulalah yang membawa turun Kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Kitab Zabur kepada Nabi Daud. Padahal mereka mengaku beriman kepada Kitab Zabur dan Taurat. Maka sesungguhnya dengan membenci Jibril sama artinya dengan membenci Allah. Karena yang menyuruh Jibril membawa turun Kitab-kitab suci tersebut adalah Allah sendiri.

Dengan adanya dalih-dalih bohong yang dikemukakan untuk memusuhi Jibril adalah sebenarnya merupakan kedok belaka untuk mencari pembenaran bagi sikap mereka menolak beriman kepada Al Quran dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

22. BANGSA YANG PALING SUKA MENGINGKARI PERJANJIAN

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah:100)

“Dan apakah setiap kali mereka mengikat janji, segolongan dari mereka mencampakkannya? Bahkan kebanyakan dari mereka tidak beriman.”

Bangsa Yahudi setiap kali mengadakan perjanjian selalu melanggar perjanjian tersebut. Cara melakukan pelanggaran ialah dengan jalan pihak lain sesama bangsa Yahudi melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap lawan Bangsa Yahudi yang mengadakan perjanjian tersebut. Pihak yang melakukan pelanggaran ini berdalih karena tidak terikat kepada perjanjian yang dibuat oleh teman mereka bangsa Yahudi itu.

Ayat ini merupakan berita ghaib kepada Nabi Muhammad dan kaum muslimin, bahwa mayoritas Bangsa Yahudi sungguh tidak beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik semasa Nabi masih hidup maupun sampai hari kiamat. Berita semacam ini merupakan bukti Al-qur’an sebagai mukjizat bagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ayat inipun menerangkan dua macam sifat bangsa Yahudi yang pokok. Pertama, mereka sama sekali tidak dapat dipercaya dalam urusan apapun. Karena mayoritas mereka suka melanggar perjanjian dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Kedua, mayoritas mereka tidak dapat diharapkan mau beriman kepada Islam. Karena kesesatan dan kedurhakaan telah mendarah daging, meresap ke dalam jiwa mereka, sehingga mereka tak pernah mampu mengangkat diri dari kehinaan dan kesesatan. Oleh sebab itu perbuatan melanggar janji bagi mereka tidak merupakan akhlaq tercela, bahkan sebagai perbuatan yang membanggakan.

23. BANGSA YANG PALING SUKA MENGIKUTI KHURAFAT

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah:102)

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan di masa kerajaan Sulaiman, sedang Sulaiman tidak menyihir, tetapi setan-setan itulah yang menyihir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua Malaikat, Harut dan Marut di Babilonia dan tidaklah mereka mengajarkan kepada seorang pun sehingga mereka berkata, “Kami ini hanya cobaan, karena itu jangan kamu belajar sihir”. Lalu mereka belajar dari dua Malaikat itu apa yang mereka dapat menceraikan antara seseorang dengan istrinya. Padahal mereka tidaklah dapat membahayakan kepada seorang pun dengan sihir itu, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka belajar sesuatu yang membahayakan mereka, dan yang tidak berguna bagi mereka. Demi, mereka sungguh telah meyakini, bahwa siapa yang membelinya (sihir), maka baginya tidak ada bagian sedikit pun di akhirat. Dan alangkah jeleknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

Khurafat ialah sesuatu yang dibuat-buat atau dongeng-dongeng yang tidak ada dasar pembuktian kebenarannya. Termasuk di dalam pengertian khurafat ialah sihir. Sihir oleh orang-orang Yahudi dianggap sebagai ilmu yang diwariskan oleh Nabi Sulaiman kepada Ummat manusia. Hal ini disangkal oleh Allah dalam ayat ini.

Segolongan pendeta Yahudi dengan sikap pura-pura bodoh terhadap ajaran-ajaran Taurat dengan sengaja melemparkan Kitab suci Taurat, kemudian mereka mengikuti dan mempraktekkan sihir yang diterimanya dari setan-setan pada zaman Sulaiman bin Dawud.

Bangsa Yahudi beranggapan bahwa Nabi Sulaimanlah orang pertama yang mempunyai koleksi buku-buku sihir, kemudian menanam buku-buku tersebut di bawah singgasana kerajaannya. Kemudian dari tempat inilah Bangsa Yahudi menukil dan menyebarkan ilmu sihir. Cerita semacam ini jelas merupakan kebohongan yang dengan sengaja dilontarkan oleh Bangsa Yahudi atas nama Nabi Sulaiman.

Sihir adalah suatu upaya untuk menipu dan mengelabui mata manusia. Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa ahli-ahli sihir Fir’aun menggunakan air raksa untuk merubah tali-tali, tongkat-tongkat bergerak laksana ular yang sedang berjalan sehingga mata orang awam terpedayakan dan mempercayainya apa yang dilihatnya benar-benar ular. Dari sinilah sebenarnya pangkal tolak sihir dapat memukau manusia. Sihir dengan bentuk dan kerjanya semacam ini dapat mempunyai pengaruh untuk menanamkan angan-angan pada diri manusia, sehingga yang bersangkutan dapat dikendalikan perasaan dan pikirannya.

Bangsa Yahudi dengan keyakinannya yang sesat, bahwa Nabi Sulaiman sebagai guru sihir telah menjadikan sihir sebagai alat untuk melakukan ke rusakan di tengah masyarakat. Mereka menggunakan sihir untuk menimbulkan pertengkaran dan perceraian antara suami istri. Bahkan mereka mempunyai buku petunjuk untuk menimbulkan rasa kebencian antara suami istri.

Ayat ini dengan tegas menyebutkan bahwa salah satu dari jenis sihir yang oleh orang Yahudi dipandang sebagai alat ampuh untuk menciptakan malapetaka, sesungguhnya adalah anggapan yang tidak benar. Sebab seseorang memperoleh malapetaka hanyalah karena kehendak Allah. Allah telah menetapkan undang- undang sebab akibat (prima causa) yang tidak dapat dilanggar ataupun dihapuskan oleh kemauan manusia sendiri, sekalipun dengan cara-cara sihir. Bangsa Yahudi dengan kepercayaannya kepada sihir yang bisa dijadikan alat menimbulkan penderitaan dan kesusahan kepada manusia telah menjadi sasaran kebencian ummat manusia. Sebab orang yang senang menimbulkan penderitaan orang lain sudah tentu dijauhi oleh masyarakat. Pengalaman kita menyaksikan bahwa orang- orang yang melakukan pekerjaan sihir mengalami hidup kefakiran dan kehinaan.
Taurat telah melarang Bangsa Yahudi mempelajari sihir. Hukuman yang dijatuhkan kepada orang-orang yang mengikuti bisikan setan dan dukun sama dengan hukuman bagi penyembah berhala dan patung.

Perbuatan Bangsa Yahudi mengikuti ajaran-ajaran sihir menunjukkan bahwa mereka tidak beriman kepada Kitab Taurat. Karena Taurat telah melarangnya. Begitu pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Nabi yang telah dijanjikan dalam Kitab Taurat juga telah melarang sihir dan mengajak mengikuti tuntunan wahyu. Namun, Bangsa Yahudi bahkan mengingkari ajaran wahyu dan lebih patuh mengikuti para pendeta mereka yang mengajarkan khurafat dan sihir.

24. BANGSA YANG PALING DENGKI TERHADAP NABI MUHAMMAD DAN UMMATNYA

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah:105)

“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan rakhmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah adalah pemilik karunia yang benar!

Yang dimaksud dengan orang-orang kafir di sini ialah Bangsa Yahudi. Mereka dikatakan kafir sebab tidak mempunyai sikap sopan santun kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satu dari ketidaksopanan Bangsa Yahudi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah mengatakan Nabi sebagai orang jahat, padahal beliau seorang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi rasul dan diberi wahyu pula.

Keberanian Bangsa Yahudi mengucapkan kata-kata yang tidak sopan seperti tersebut di atas kepada Nabi adalah sebagai sikap kekafiran.

Golongan ahli kitab bersikap dengki kepada Nabi, karena tidak ingin Nabi dan ummatnya mendapat karunia Allah. Karunia Allah yang terbesar ialah Kitab suci Al- Qur’an yang merupakan hidayah agung bagi kaum muslimin. Dengan Al-Qur’an Allah menghimpun dan menyatukan kamu sekalian dalam satu ummat, meluruskan jalan pikiran kamu, membebaskan kamu dari kesesatan penyembahan berhala dan meluruskan jiwa kamu untuk berjalan pada garis-garis fitrah.

Bangsa Yahudi dan kaum penyembah berhala dengki kepada kamu, ketika mereka menyaksikan Al-Qur’an turun berangsur-angsur kepada kamu, sehingga kamu terpimpin pada jalan yang benar dan tumbuh menjadi ummat yang kuat, ummat yang mampu menyebarluaskan da’wah, menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan. Padahal mereka menginginkan agar kamu mengalami kebinasaan, baik dalam urusan dunia maupun agama, karena mereka tidak menghendaki tegaknya kebenaran yang kamu bawa.

Kedengkian Bangsa Yahudi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ummatnya pada hakekatnya menentang dan marah kepada Allah yang memberikan rahmat tersebut kepada mereka. Menjadikan penerima rahmat sebagai sasaran kedengkian berarti marah kepada pemberi rahmat itu sendiri. Allah menasihatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ummatnya agar tidak merasa khawatir menghadapi kedengkian Bangsa Yahudi dan kaum penyembah berhala karena kedengkian mereka tidak dapat menutup pintu rahmat Allah. Allah tidaklah terpengaruh oleh kedengkian manusia. Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa saja dan kapan saja sesuai dengan kehendakNya. Dialah pemilik tunggal dari karunia yang berbentuk apa pun. Setiap hamba-Nya menerima karunia-Nya. Karena itu tidak patut seseorang dengki melihat orang lain memperoleh kebaikan dari sisi Tuhan-Nya.

Bangsa Yahudi karena tertipu oleh kepercayaan palsunya, yaitu menganggap diri sebagai putra Tuhan dan sebagai bangsa pilihan, maka mereka merasa marah dan dengki kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ummatnya yang mendapatkan rahmat melimpah dari Allah. Selama Al-Qur’an menjadi pegangan kaum Muslimin, maka Bangsa Yahudi akan terus berupaya keras merencanakan segala bentuk penghancuran ummat Islam. Karena dengan Al-Qur’an inilah bangsa Yahudi merasa ditelanjangi segala cacat celanya dan sekaligus menjadi dasar bagi ummat Islam membangun dirinya menjadi ummat yang kokoh dan bersih. Maka tidak heran kalau Bangsa Yahudi terus menerus mengacaukan pengertian-pengertian Al-Qur’an dan melakukan tipu daya kepada ummat Islam agar tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai prinsip hidup yang mutlak.

25. BANGSA YANG PALING KERAS BERUPAYA MENGKAFIRKAN UMMAT ISLAM

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah :109-110)

“Kebanyakan ahli Kitab ingin sekali kalau dapat mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman, karena rasa dengki pada diri mereka sesudah nyata kebenaran pada mereka. Maka maafkan dan biarkanlah sehingga Allah datangkan perintah-Nya. Sungguh Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu!

“Dan dirikanlah shalat serta berikanlah zakat. Dan apa yang kamu lakukan untuk dirimu berupa kebaikan, maka kamu akan dapati dia di sisi Allah. Sungguh Allah Maha Melihat apa saja yang kamu lakukan.”

Kebanyakan Pendeta Yahudi tetap secara licik berusaha menjadikan kaum muslimin ragu-ragu kepada agamanya. Siasat yang mereka lakukan ialah dengan jalan menyuruh sesama orang Yahudi untuk menyatukan beriman kepada Islam di pagi hari, tetapi sore harinya kembali kafir. Tujuan siasat ini ialah melemahkan iman kaum muslimin dan menimbulkan kebingungan, sehingga akhirnya mereka keluar dari Islam.

Kaum Yahudi maupun Nasrani secara sistematis berusaha memalingkan kaum muslimin darl ajaran Tauhid dan keimanan kepada Nabi Muhammad, semata-mata karena rasa dengki kepada Islam. Seandainya mereka mau memberikan nasihat kepada orang Islam, maka hal itu bukan tumbuh dari hati yang bersih, tetapi dari jiwa yang jahat dan rasa fanatik kepada kebatilan.
Maka dalam menghadapi upaya licik bangsa Yahudi mengkafirkan ummat Islam ini, Allah menyuruh kita bersikap tidak memperdulikan segala celaan dan caci mereka, bahkan bersikap memberi ma’af sampai kelak Allah memberikan perintah untuk membinasakan mereka.

Dalam sejarah Nabi dan sahabatnya telah terjadi apa yang dinamakan perintah atau ketetapan Allah terhadap bangsa Yahudi ini, Yahudi Bani Quraidzah telah menerima hukum pembunuhan massal setelah terjadi perang Ahzab, karena khianat kepada perjanjian mereka dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Begitu juga Yahudi Bani Nadzir diusir dari kota Madinah, karena khianat dan membatalkan perjanjian secara sepihak dengan Nabi, dimana mereka membantu kaum musyrikin Quraysyi menyerbu kota Madinah.

Perintah memberi ma’af dan menunggu keputusan Allah ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan kaum muslimin waspada terhadap tipu daya Yahudi dan Nasrani yang berjumlah besar itu tetapi sesat, sedangkan kaum muslimin walaupun seclikit namun berpotensi lebih kuat, karena membela kebenaran.

Kemudian Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Apa sebab kedua ibadah ini dijadikan sebagai penangkal menghadapi tipu daya bangsa Yahudi dalam mengkafirkan Islam?

Karena shalat memperkokoh sendi iman, meninggikan kemauan dan mengangkat jiwa lantaran berdialog dengan Allah, menyatukan hati sesama orang mukmin ketika shalat jama’ah saling kenal mengenal dalam masjid, yang dengan begini iman jadi hidup, kepercayaan kepada Allah menjadi kuat dan jiwapun bersih dari perbuatan- perbuatan kotor baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan lebih dapat menembus kepada kebenaran, sehingga menjadilah orang-orang yang patut menang.

Adapun zakat, karena ia dapat menguatkan hubungan antara golongan kaya dan miskin, sehingga terwujud kesatuan ummat dan menjadi laksana satu tubuh, jika satu anggota menderita, maka seluruhnya ikut merasa demam dan tidak bisa tidur.

Sudah menjadi kelaziman Al-Qur’an mengiringkan zakat dan shalat, karena shalat mengandung perbaikan individu, sedangkan zakat mengandung perbaikan sosial, lantaran harta adalah saudara kandung jiwa. Barang siapa memberikan hartanya karena mencari keridhaan Allah, maka ringan hatinya untuk menyerahkan jiwanya di jalan Allah, guna membela agama-Nya dan meninggikan firman-Nya.

Sesudah Allah jelaskan bahwa shalat dan zakat merupakan sebagian jalan mencapai kemenangan di dunia, maka diiringi dengan penjelasan bahwa kedua perbuatan tersebut juga merupakan sebagian jalan mencapai kebahagiaan di akherat.

26. BANGSA YANG TIDAK MENGAKUI SAMA SEKALI AGAMA NASRAN

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah :1 13)

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani itu tidak punya pegangan suatu apapun, dan orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai pegangan apapun padahal mereka membaca A1-Kitab”. Begitu pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan.”

Menurut riwayat, telah datang kepada Nabi delegasi dari suku Najran yang beragama Nasrani. Delegasi ini bertemu dengan kaum Yahudi Madinah, kemudian sempat timbul perdebatan di antara mereka. Isi perdebatan itu antara lain ialah kaum Yahudi mengatakan bahwa agama Nasrani tidak mempunyai asal usul yang benar. Sebaliknya kaum Nassrani mengatakan bahwa agama Yahudi tidak punya asal usul yang benar juga.

Anggapan Bangsa Yahudi bahwa agama Nasrani itu tidak benar menyebabkan mereka mengingkari kenabian Isa yang datang sebagai penyempurna syari’at Musa. Sebaliknya kaum Nasrani karma beranggapan agama Yahudi tidak ada asal usul, maka mereka mengingkari kenabian Musa, padahal Isa pelanjut syari’at Musa.

Perdebatan kaum Yahudi dan kaum Nasrani ini sungguh-sungguh aneh. Karena mereka sama-sama berpegang pada Kitab suci, yang isinya saling melengkapi satu dengan lainnya. Kitab Taurat merupakan induk dari Injil, yang juga menjadi pegangan kaum Nasrani. Sedangkan Kitab Injil pelengkap dari Kitab Taurat, yang isinya merupakan rincian lebih lanjut dari Kitab Taurat. Di dalam Taurat Nabi Musa telah memberikan kabar gembira akan datangnya Nabi Isa kepada Bangsa Yahudi, sedangkan Nabi Isa mengaaskan bahwa dirinya tidak membawa syari’at baru, tetapi melanjutkan misi Nabi Musa. Dengan demikian perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani ternyata berlawanan dengan Kitab suci mereka masing-masing.

Ucapan kaum Yahudi kepada ummat Nasrani den sebaliknya sama nilainya dengan ucapan para penyembah berhala yang saling menuduh bahwa orang lain sama sekali tidak benar. Mereka sating menuduh seperti ini karena memang tidak mempunyai pegangan iman den pedoman amal shaleh yang otentik. Akibatnya mereka berpecah- belah den saling berbeda dasar-dasar ajarannya satu dengan yang lain. Tetapi dengan secara fanatik yang didorong oleh hawa nafsu semata-mata mereka saling berkeras kepada menuduh yang lain sama sekali tidak benar.

Maka ucapan orang Yahudi dan Nasrani tersebut di atas hanya warisan dari para penyembah berhala sebelumnya. Oleh karena itu perselisihan Yahudi dan Nasrani ini akan berlanjut sampai hari Kiamat, sampai saat Allah menegakkan pengadilan di akherat.

27. BANGSA PERTAMA YANG MENYATAKAN ALLAH BERPUTRA

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah:116)

“Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Allah mengambil anak”. Maha suci Dia. Bahkan milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk kepada-Nya.”

Bangsa Yahudi boleh dikatakan bangsa yang pertama memperoleh Kitab suci Taurat melalui Nabi Musa as. Tetapi bangsa Yahudi ternyata berkeyakinan bahwa Uzair adalah anak Allah. Kepercayaan semacam ini adalah kepercayaan yang tumbuh di kalangan penyembah berhala. Mereka berkeyakinan bahwa malaikat adalah putri Tuhan. Dengan demikian tidak ada bedanya antara kaum musyrikin yang tidak menerima kitab suci dengan Bangsa Yahudi yang telah menerima Kitab suci Taurat. Sebab ternyata kepercayaan yang terlarang, yaitu Allah punya anak, terus diikuti oleh Bangsa Yahudi walaupun bertentangan dengan Taurat.

Allah Maha suci dari keyakinan sesat ini. Anak adakalanya berasal dari langit atau dari bumi, padahal Allah sedikit pun tidak sama dengan langit maupun bumi. Anak muncul sebab dorongan untuk memperoleh pembantu atau teman penolong dalam kehidupan atau menjadi generasi penerus di hari kemudian. Padahal Allah sama sekali tidak membutuhkan yang demikian itu.

Allah menegaskan bahwa langit dan bumi adalah milik-Nya. Dialah penciptanya. Dengan demikian tidak patut punya keyakinan bahwa Allah bernasab atau punya anak.

28. BANGSA YANG MEMBENCI KEBEBASAN BERAGAMA

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah:120)

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sungguh petunjuk Allah itulah sebenar-benar petunjuk.” Dan jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka sesudah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.„“

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama ini besar sekali harapannya kepada ummat Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Islam. Karena prinsip-prinsip yang dibawa oleh Nabi dengan ajaran para Nabi sebelumnya adalah sama. Semua Nabi mengajarkan Tauhid kepada Allah, meluruskan segala perbuatan yang menyalahi fitrah dan membatalkan segala macam doktrin agama yang keliru, karena pengaruh-pengaruh tradisi.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat prihatin menyaksikan keingkaran ummat Yahudi dan Nasrani terhadap dakwah Islam padahal jauh sebelumnya mereka menantikan kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi yang dijanjikan dalam Taurat dan Injil.

Akan tetapi keprihatinan Nabi ini mendapatkan teguran dari Allah bahwa tidak perlu Nabi menaruh harapan terhadap Bangsa Yahudi dan ummat Kristen untuk menjadi ummat Islam. Karena bagi orang Yahudi dan Nasrani punya keyakinan hanya agama merekalah satu-satunya yang benar. Karena mereka menjadikan agama sebagai monopoli kebangsaan atau menganggap mereka sebagai kekasih-
kekasih Tuhan sehingga hanya mereka sajalah yang diberi petunjuk kebenaran oleh Tuhan. Karena keyakinan yang membabi-buta seperti ini, maka mustahil orang Yahudi maupun Nasrani mau mendengarkan dakwah Islam dengan hati jernih dan pikiran yang lurus.

Anggapan kaum Yahudi dan Nasrani bahwa merekalah satu-satunya golongan manusia yang diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan kebenaran dibantah dan disanggah oleh Allah sendiri. Bahwa petunjuk kebenaran hanyalah Allah turunkan kepada para Nabi-Nya tidak berdasarkan kebangsaan tertentu atau keturunan tertentu dan bukan pula menurut hawa nafsu dan selera manusia sendiri sebagaimana anggapan kaum Yahudi dan Nasrani itu. Jika benar bahwa kaum Yahudi dan Nasrani sebagai ummat yang terpimpin di jalan kebenaran, mengapa Kitab suci mereka satu dengan yang lain berbeda, banyak perubahan dan pemalsuan sehingga sulit ditentukan keasliannya. Selain itu mereka berpecah-belah menjadi puluhan sekte, sehingga satu sama lain mengkafirkan dan mengaku dirinyalah yang benar. Dengan demikian kaum Yahudi maupun Nasrani mengalami kebingungan dan kekacauan, baik dalam bidang aqidah maupun bidang ibadah dan syari’ah.

Dengan adanya kekacauan semacam ini, maka Nabi diperingatkan oleh Allah agar tidak tergoda oleh keingkaran dan penolakan mereka terhadap dakwah Islam. Kaum Yahudi dan Nasrani punya prinsip, bahwa mereka hanya mau mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan syarat Nabi mau mengikuti ajaran-ajaran agama yang ada pada mereka. Oleh sebab itu Allah pun mengancam kepada Nabi dan ummatnya agar jangan mengikuti godaan dan rayuan mereka, karena mereka adalah orang-orang yang gemar memalsukan kebenaran, membuat ajaran-ajaran yang sesat dan membelokkan ke arah nafsu mereka yang disesuaikan dengan keadaan dan zaman, maka Allah akan menurunkan azab kepada Nabi dan ummatnya. Allah tidak akan mau menolong Nabi dan ummatnya, bila mereka ini mengikuti kehendak dan kemauan kaum Yahudi maupun Nasrani.

Ancaman keras di dalam ayat ini yang pada dhahirnya ditujukan pada Nabi pada hakekatnya adalah ditujukan pada ummat Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijadikan sebagai obyek titah pada ayat ini adalah untuk memberi pelajaran kepada kaum muslimin, walaupun sesungguhnya yang dimaksud adalah ummat Islam itu sendiri. Figur Nabi dijadikan obyek titah adalah untuk memperingatkan kaum muslimin betapa besar kesalahan mereka kalau mengharapkan toleransi dari kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Islam, karena mereka telah membabi-buta berkeyakinan bahwa selain agama mereka adalah sesat, sehingga bagaimanapun kondisi dan situasi serta masa kapan pun kaum Yahudi dan Nasrani akan tetap memusuhi Islam sebagai suatu agama yang mereka pandang sesat. Maka seseorang yang beragama Islam hanya mungkin dijadikan teman oleh orang Yahudi atau Nasrani, kalau orang ini dinilai lemah agamanya atau tidak begitu teguh berpegang kepada Islam. Dengan kata lain, orang yang mengaku Islam, tetapi mengabaikan ajaran-ajaran Islam, maka orang seperti inilah yang dijadikan teman baik oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Sebaliknya seorang Muslim yang teguh dengan agamanya akan dijadikan sasaran kecaman oleh kaum Yahudi atau Nasrani.

29. BANGSA YANG MEMBENCI AGAMA IBRAHIM

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah : 130-133)

“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang-orang yang menghinakan dirinya sendiri dan sungguh Kami telah pilih dia di dunia ini. Dan sungguh dia di akherat benar-benar tergolong orang-orang yang shaleh.” 130)

“Adakah kamu menyaksikan di kala datang tanda maut kepada Ya’qub, ketika ia berkata kepada anak- anaknya, “Apakah yang akan kamu sembah sesudahku?” Mereka berkata, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya’ 133)

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun disebabkan Abdullah bin Salam mengajak dua orang anak saudaranya, Salamah dan Muhajir untuk masuk Islam: katanya, “Kamu berdua telah mengetahui bahwa Allah berfirman dalam Taurat, ‘Sungguh Aku akan bangkitkan seorang Nabi dari keturunan Ismail bernama Ahmad, barangsiapa beriman kepadanya, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa tidak beriman kepadanya, maka ia telah terkutuk ” Lalu Salamah masuk Islam, tetapi Muhajir tidak mau.

Bangsa Yahudi dengan bangga mengakui bahwa Nabi Ibrahim adalah nenek moyang mereka. Nabi Ibrahim adalah bapak segala Nabi bani Israil yang mengajak kepada tauhid dan kepada Islam. Akan tetapi ternyata bangsa Yahudi kemudian menjadi penyembah berhala dan berkeyakinan bahwa Tuhan punya anak. Jelas keyakinan serupa ini menyalahi ajaran Nabi Ibrahim dan para Nabi bani Israil.

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menerima dakwah Islam ternyata mereka ingkar dan mengaku mengikuti ajaran-ajaran yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim. Dengan demikian nyata sekali bahwa bangsa Yahudi betul-betul manusia kepala batu, karena membenci dakwah Nabi yang mengajak kepada kemurnian tauhid sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim sendiri.

Ibrahim dibesarkan dalam masyarakat penyembahan berhala dan bintang, namun Allah memberinya hidayah sehingga ia tetap berjalan pada jalan kebenaran. Dengan hidayah itu dia dapat mengerti bahwa alam semesta ini diatur dan dikendalikan oleh Tuhan Maha Pengatur lagi Maha Esa, tempat kembali seluruh makhluk. Dia berjuang di tengah masyarakatnya untuk memberantas penyembahan berhala dengan argumentasi yang rasional dan menyanggah kepercayaan Tuhan punya anak seperti tersebut dalam Al -Qur’an surat keenam ayat 80.

Tetapi kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang mengaku dirinya sebagai pewaris agama Ibrahim ternyata menjadi penyembah berhala dan melanggar wasiat Nabi Ibrahim untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Maka kepada orang Yahudi diminta bukti sejarah adakah mereka dahulu benar-benar menyaksikan wasiat Nabi Ibrahim kepada anak cucunya yang membolehkan penyembahan berhala dan menyekutukan Allah? Dengan demikian kalau sekarang mereka menentang dakwah Nabi Muhammad untuk kembali ke ajaran tauhid dan menerima Islam, maka jelaslah pada hakekatnya mereka membenci agama Nabi Ibrahim itu sendiri. Maka pengakuan mereka, bahwa mereka adalah pewaris agama Nabi Ibrahim dan nabi-nabi bani Israil dahulu adalah semata- mata pengakuan dusta. Bukti dari kedustaan mereka adalah penolakan mereka terhadap dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ayat-ayat di atas pada hakekatnya menunjukkan bahwa agama yang dibawa para Nabi adalah satu. Karena saripati dari ajaran semua Nabi adalah prinsip tauhid dan jiwa pasrah kepada Allah serta tunduk kepada para Nabi.

Al-Qur’an sebagai mata rantai dari Kitab-kitab samawi sebelumnya mendorong kepada ummat manusia untuk bersatu dalam agama yang mempunyai prinsip:

  • a. Bertauhid dan anti syirik.
  • b. Pasrah dan taat kepada Allah dalam setiap gerak-geriknya.

Maka orang yang tidak memenuhi prinsip-prinsip di atas berarti bukan pengikut Nabi Ibrahim, sehingga berarti ia bukan orang yang beragama dengan agama Allah.

Dewasa ini orang menyebutkan kata “Islam” untuk menggelari segolongan manusia yang punya ciri-ciri keagamaan dan tradisi yang berbeda dari golongan manusia lainnya, yang juga digelari dengan berbagai gelar keagamaan lain, padahal sebagian golongan yang digelari sebutan “Islam” itu tidak berserah diri dan tidak ikhlas kepada Allah di dalam tingkah laku perbuatannya bahkan ada yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah, atau fasik dengan mempertuhankan hawa nafsunya.

Islam yang diserukan oleh Al-Qur’an itulah Islam yang diseru oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan Islam yang dewasa ini sudah menjadi sebutan populer itu. Jadi Islam dalam pengertian yang ada dalam ayat ini itulah yang menjadi agama Nabi Ibrahim, tetapi ternyata kaum Yahudi dan Nasrani membencinya.

30. BANGSA YANG PALING RASIALIS DAN APOLOGETIK

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah : 135)

“Dan mereka berkata, “Jadikanlah kamu orang Yahudi atau orang Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah, “Tidak, melainkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia tergolong orang-orang musyrik.”

Kaum Yahudi menjadikan agama sebagai identitas ras (kebangsaan) dan dijadikannya pula sebagai dalih yang dipertahankan secara membabi buta, bahwa Yahudi adalah satu-satunya kebenaran yang diridhai oleh Tuhan.
Akan tetapi Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa mereka menjadi pengikut Nabi Ibrahim. Sementara itu Ibrahim jelas bukan bagian dari Yahudi maupun bagian dari Nasrani. Sebab ajaran yang dijalankan oleh Bangsa Yahudi dan kaum Nasrani bertentangan dengan ajaran Nabi Ibrahim.

Kaum Yahudi dan Nasrani secara historis menyadari bahwa mereka telah sesat dari ajaran-ajaran Nabi Ibrahim. Maka untuk membuat dalih agar dapat membohongi manusia, lalu mereka menciptakan keyakinan palsu berupa semboyan “Jadilah pengikut Yahudi, niscaya engkau akan menjadi orang yang mendapat petunjuk kebenaran”. Semboyan ini pun dikumandangkan pula oleh kaum Nasrani. Dengan semboyan seperti ini mereka merasa puas dapat mengklaim kebenaran yang mereka anggap sebagai milik mutlak mereka.

Terhadap kebohongan yang dikumandangkan oleh ummat Yahudi dan Nasrani ini, maka Al-Quran kemudian mengajukan pertanyaan “Apakah Nabi Ibrahim yang lahir jauh sebelum adanya agama Yahudi dan Nasrani itu orang yang tidak benar, padahal kamu wahai Yahudi dan Nasrani mengaku sebagai pewaris dari agama Ibrahim?”. Jelasnya, kamu wahai Yahudi dan Nasrani harus dapat membuktikan kebenaran historis bahwa Ibrahim pun punya kepercayaan Tuhan berputra dan membolehkan penyembahan berhala, sebagaimana kini kamu lakukan.

Dengan sanggahan bersifat historis yang telah dikemukakan oleh Al-Qur’an pada ayat di atas kini membuktikan bahwa sebenarnya Bangsa Yahudi merupakan golongan manusia yang paling rasialis. Karena cintanya yang membabi buta kepada kebangsaan (paham Nasionalisme), maka mereka mengklaim Nabi Ibrahim pun sebagai orang Yahudi. Padahal beliau lahir jauh sebelum adanya Bangsa Yahudi. Begitu juga Bangsa Yahudi merupakan golongan manusia yang paling suka benar sendiri, sehingga berani mengklaim bahwa agama Yahudi adalah agama Nabi Ibrahim juga.

Padahal Nabi Ibrahim tidak menganggap Uzair sebagai putra Allah atau pernah menyembah patung anak sapi, sedangkan Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair putra Allah dan pernah menyembah patung anak sapi. Agama Ibrahim adalah agama yang bersih dari syirik, tauhidnya murni dan benar-benar agama yang lurus. Dan orang yang melanjutkan mata rantai agama Ibrahim adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman kepadanya

lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 4)

Iklan

2 responses »

  1. […] Lanjut ke KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (Part 3) […]

    Suka

  2. […] Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s