Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 3)


31. BANGSA YANG TIDAK MALU BERSIKAP SOK TAHU

Allah berfirman ” (Al-Baqarah : 139-140)

“Katakanlah, “Apakah kamu mendebat kami tentang Allah, padahal Dia-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Dan bagi kami amal usaha kami dan bagi kamu amal usaha kamu. Dan hanya kepada-Nyalah kami mengikhlaskan diri! 139)

Atau kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak keturunannya adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, “Apakah kamu yang lebih tahu ataukah Allah? Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang-orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sedikit pun tidak lalai terhadap yang kamu perbuat.”

Diriwayatkan, bahwa sebab turun ayat ini ialah karena kaum Yahudi dan Nasrani berkata, “Seluruh manusia wajib mengikuti agama kami. Karena para Nabi dulu dari bangsa kami dan syariat pun turun kepada kami. Belum pernah dikenal Nabi-Nabi dan agama pada Bangsa Arab,” Lalu Allah membantah mereka ini dengan keterangan sebagai berikut:

Apakah kamu mendakwakan bahwa agama yang benar adalah agama Yahudi dan Nasrani? Dan kamu berkata pula, “Tidak akan dapat masuk syurga selain orang yang beragama Yahudi dan Nasrani.” Dan di waktu lain kamu berkata, “Jadilah orang Yahudi atau Nasrani supaya kamu memperoleh petunjuk” Dari manakah datangnya kedekatan Allah kepada kamu yang mengecualikan kami itu? Padahal Allah itu Tuhan kami dan Tuhan kamu dan Tuhan seru sekalian alam.

Dialah Pencipta dan kamu ini semua adalah ciptaan-Nya. Manusia hanya jadi lebih dari sesamanya karena amal usahanya. Hasil perbuatannya kembali kepadanya, yang baik maupun yang buruk. Dan demikian pula perbuatanmu kembali kepada dirimu sendiri. Kami mengikhlaskan amal kami kepada-Nya dan kami tiada mencari selain keridhaan-Nya. Sedangkan kamu menggantungkan harapan kepada leluhur- leluhur yang shaleh dan kamu menyangka mereka nanti bisa menjadi pembelamu di sisi Tuhanmu, padahal perbuatan-perbuatanmu menyeleweng dari jalan hidup mereka. Sebab mereka dulu bertaqarrub hanya dengan amal shaleh dan iman yang benar. Karena itu jadikanlah mereka itu sebagai petunjuk jalan bagimu dan ikutilah jejak langkah mereka, niscaya kamu dapat memperoleh kemenangan dan kebahagiaan.

Selanjutnya Allah bertanya kepada mereka, “Apakah kamu mengaku menjadi orang istimewa yang dekat kepada Allah lebih dari kami, kaum muslimin, itu suatu pengakuan yang berdasar firman Allah, Tuhan kami dan Tuhan kamu, ataukah kamu mengaku mendapat keistimewaan itu semata-mata karena menjadi orang Yahudi atau Nasrani, dan Nabi-Nabi dahulu juga beragama Yahudi dan Nasrani?” Kalau pengakuan itu semata-mata berdasarkan kamu sebagai orang Yahudi dan Nasrani, maka pengakuanmu itu penuh dusta. Sebab nama Yahudi timbul sesudah meninggalnya Nabi Musa. Jadi apa dasarnya kamu beranggapan bahwa para Nabi Bani Israil sampai kepada Nabi Ibrahim adalah beragama Yahudi dan Nasrani, padahal menurut logika dan sejarah pengakuan itu bohong belaka?

Oleh sebab Allah berfirman kepada mereka, “Apakah kamu yang lebih tahu tentang agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan para Nabi Bani Israil ataukah Allah?” Dengan demikian terbukti bahwa Bangsa Yahudi tidak malu bersikap sok tahu tentang sejarah Nabi Ibrahim dan pada Nabi Bani Israil, dimana Nabi-Nabi tersebut mendapatkan kitab suci dari Allah yang isinya bertentangan jauh dengan praktek kehidupan kaum Yahudi.
Fakta sejarah yang membuktikan kebodohan Bangsa Yahudi terhadap sejarah para Nabi Bani Israil, terutama Nabi Ibrahim sebagai nenek moyang mereka, tetapi Bangsa Yahudi tetap bersikeras bahwa Nabi Ibrahim dan para Nabi Bani Israil sebagai pengikut agama Yahudi, jelas membuktikan bahwa bangsa Yahudi tidak malu memalsukan sejarah dan tidak punya malu menjadi golongan manusia sok tahu. Maka mental sok tahu adalah menjadi bagian mental bangsa Yahudi. Karena itu apapun yang ditulis atau dikatakan oleh orang Yahudi janganlah kita mempercayai kebenarannya, sebelum kita dapat membuktikan sendiri.

32. BANGSA YANG MENGANGGAP DIRINYA PALING PANDAI

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah : 142)

“Orang-orang bodoh di antara manusia akan berkata, “Apa yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu mereka menghadapnya? Katakanlah, “Milik Allah timur dan barat” Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”

Ketika Nabi pindah ke Madinah, selama masa 16 bulan, kiblat umat Islam adalah Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Masjidil Aqsha adalah kiblat para Nabi Bani Israil. Bahkan orang Yahudi beranggapan Nabi yang benar-benar menjadi utusan Allah kiblatnya adalah Masjidil Aqsha.

Akan tetapi Nabi memohon kepada Allah agar dibolehkan menjadikan Masjidil Haram sebagal kiblatnya. Karena ke tempat inilah Nabi Ibrahim berkiblat. Permohonan Nabi ini dikabulkan oleh Allah, sehingga menjadilah Ka’bah sebagai kiblat bagi Rasulullah dan ummat Islam untuk selama-lamanya. Perpindahan kiblat yang dilakukan Rasulullah ini mendapat celaan dan kritik dari kaum munafiq, Yahudi dan musyrik bangsa Arab. Mereka dengan heran berkata, “Apakah motif yang mendorong kaum muslimin berpindah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, padahal para Nabi dan Rasul dahulu berkiblat padanya?”

Pertanyaan dan cernoohan mereka ini, kemudian Allah perintahkan kepada Rasul- Nya untuk menjawab. “Segala arah adalah milik Allah”. Karena itu hakekat lapangan yang ada di Baitul Maqdis tidak lebih baik dari hakekat batu-batu yang lain. Yang tidak ada manfaatnya seperti juga yang lainnya. Begltu juga Ka’bah dan Baitul Haram. Allah jadikan dia sebagai kiblat bagi manusia hanya untuk menyatukan mereka dalam ibadah. Tetapi orang-orang yang akalnya rusak menyangka bahwa kiblat itu merupakan pokok agama dengan melihat batu atau bangunan itu sendiri. Bahkan hal ini membuat Yahudi sampai berkata, kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Kembalilah kepada kiblat kami, nanti kami akan ikut dan iman kepadamu”.

Maksud omongan mereka ini hanyalah sebagai ujian pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan hinaan kepada agamanya. Menghadap atau tidak menghadap kiblat itu adalah perbuatan bukan tanpa dasar, sehingga mereka juga berani berkata, “Sebenarnya dulu Muhammad benci menghadap kiblat leluhurnya, kemudian sekarang kembali lagi dan nanti kembali pula pada agama mereka”.

Ucapan kaum Yahudi ini membuktikan bahwa mereka adalah golongan materialis, yaitu golongan manusia yang hanya semata-mata memperhatikan hal-hal yang formal dan bersifat materi. Namun Allah menghendaki kaum muslimin sebagai golongan manusia yang bersikap tengah-tengah, yaitu yang menjadikan hal-hal kebenaran semata-mata sebagai alat yang mempermudah memahami sesuatu. Karena itu menjadikan Masjidil Haram sebagai kiblat hanyalah semata-mata bersifat alat untuk menyatukan arah segenap kaum muslimin di dalam mengerjakan shalat.

Allah menegaskan bahwa kaum muslimin dijadikan saksi di atas segenap umat manusia. Maksudnya ialah agar kaum muslimin menjadi ummat yang mempelopori tegaknya kebenaran di tengah-tengah ummat yang lain dan menjadi manusia yang ideal sehingga dapat memberikan contoh dan memegang amanat dengan baik. Manusia yang menunaikan amanat dengan baik ialah orang yang dapat menjalankan kewajiban kepada Tuhannya, baik bersifat jasmaniah maupun rohaniah, kepada keluarga dan seluruh ummat manusia.

Akan tetapi Bangsa Yahudi karena kebenciannya kepada kaum muslimin sewaktu berpindah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, lalu mereka menganggap kaum muslimin sebagai ummat yang bodoh. Jadi penilaian kaum Yahudi terhadap kaum muslimin ini semata-mata karena mereka tidak sependapat dengan perpindahan kiblat tersebut.

Padahal perpindahan kiblat yang Allah perintahkan kepada kaum muslimin di Madinah itu semata-mata untuk membuktikan dan menguji siapakah yang beriman teguh dan siapakah yang lemah. Di sini ujian iman yang menjadi tujuan pokok dan bukannya perpindahan kiblat itu sendiri. Ringkasnya, Allah menguji orang-orang beriman dengan cara yang dapat membuktikan siapa yang sejati dan siapa yang ragu. Sehingga orang yang telah mengerti rahasia dan hikmah agama, akan tetap teguh, tetapi bagi orang-orang yang beragama karena tradisi, tanpa pengertian akan menjadi bimbang dan ragu.

33. BANGSA YANG HANYA MENURUTI KEMAUANNYA SENDIRI

Allah berfirman : (Al-Baqarah : 145)

“Dan sungguh jika kamu bawakan bukti kepada orang-orang yang diberi kitab mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lainnya. Dan sungguh kalau kamu mengikuti keinginan mereka sesudah datang kepadamu pengetahuan, sungguh kamu kalau begitu tergolong orang-orang yang dzalim”

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa kaum Yahudi tetap mengingkari kebenaran perintah berpindah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Mereka mengingkari kebenaran ini semata-mata melihat tradisi yang berlaku pada Bangsa Yahudi selama ini. Dengan dasar tradisi ini mereka mencoba untuk mematahkan argumentasi berupa wahyu yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Untuk meneguhkan sikap Nabi dan kaum musslimin, maka Allah menjelaskan sikap Bangsa Yahudi yang keras kepala di dalam mengingkari kebenaran. Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa sekalipun Nabi dan kaum muslimin membeberkan semua keterangan dan argumennya kepada kaum Yahudi, mereka tetap tidak akan mau mengikutinya. Bahkan di antara kaum Yahudi dan Nasrani sendiri saling berselisih soal kiblat.

Ummat Yahudi tetap pada kiblat mereka, tidak mau menghadap ke timur dan ummat Nasrani pun tetap pada kiblat mereka, tidak mau menghadap ke barat. Berhubung masing-masing golongan berpegang kepada tuntunannya sendiri, tidak peduli benar atau batil, tidak mau lagi melihat pada hujjah dan keterangan. Karena taklid telah membutakan hatinya, sehingga tidak mau mencari apa faedah yang terkandung di dalamnya dan tidak mau pula untuk membandingkan dengan yang lain, guna mengikuti mana perkara yang baik dan lebih besar faedahnya.

Ayat tersebut bermaksud bahwa tidak patut seorang mukmin berpikir mengikuti kemauan suatu kaum, karena ingin menyenangkan hati mereka, karena kebenaran punya kebenaran sendiri. Maka barang siapa menyimpang daripadanya dan mengikuti golongan penganut hawa nafsu demi mendapatkan keuntungan atau menghindari kerugian materi, maka ia telah dzalim terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang-orang yang menempuh jalan sesat ini.

Jika ancaman ini ditujukan kepada orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhannya, kalau ia berani mengikuti hawa nafsunya, demi mendapat simpati orang banyak dengan mengikuti perbuatan batil mereka, maka bagaimanakah perkiraan saudara, kalau orang lain yang mengikuti kemauan orang banyak dan hawa nafsunya yang melanggar agama Allah? Karena itu hendaknya orang-orang mukmin mengerti bahwa mengikuti hawa nafsu manusia sekalipun maksudnya baik adalah perbuatan dzalim yang besar, yang tidak ada bandingannya dengan yang lain, sekalipun diandaikan yang melakukan itu seseorang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah (Nabi dan Rasul), maka tetap Allah catat sebagai kedzaliman.

Karena itu, bagaimana jadinya terhadap orang yang bukan tergolong dekat kedudukannya dengan Tuhannya?

Tidak bimbang lagi, bahwa seorang mukmin wajib mendengarkan ancaman ini dan yang seumpamanya agar berpikir panjang dan memperhatikan keadaan kaum muslimin dewasa ini dan bagaimana dengan keadaan para ulama yang mengikuti kemauan masyarakat dalam perbuatan bid’ah dan kesesatan, padahal mereka tahu kalau perbuatan-perbuatan itu jauh dari ajaran agama. Mereka tidak merasa takut kepada larangan Allah, ancaman-Nya yang keras dan tegah-tegahan-Nya yang menjadikan gunung-gunung tunduk ketakutan.

Dan yang sangat mengherankan lagi ialah mereka tunduk kepada hawa nafsu para raja dan penguasa, sehingga mereka berani menyusun macam-macam helah dan fatwa demi memenuhi keinginan raja-raja dan penguasa tersebut. Dan dengan fatwa-fatwa itu mereka dapat memenuhi dan mengikuti hawa nafsu mereka.

34. BANGSA YANG PALING MENGENAL CIRI NABI MUHAMMAD TAPI MENGINGKARINYA

Allah berfirman : (Al-Baqarah : 146)

“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak- anak mereka sendiri. Dan sungguh segolongan di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Dalam ayat ini seolah-olah Allah berfirman, “Mereka. itu mengenal Muhammad dengan sungguh-sungguh, karena mereka telah memperoleh penjelasan dari kitab- kitab suci mereka”. Di dalam kitab-kitab suci ini secara terperinci dijelaskan segala sifat dan tabiat Nabi yang akan datang, sehingga mereka mengenal ciri-ciri Nabi Muhammad seperti mereka mengenal ciri-ciri anak mereka, sehingga tidak satu pun ciri anak-anaknya itu yang luput dari perhatiannya.

Abdullah bin Salam, seorang Pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam sampai berkata, “Aku lebih banyak mengenalnya (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) daripada mengenal anakku sendiri”. Lalu Umar bertanya, “Mengapa”. Dia menjawab, “Karena aku tidak ragu-ragu lagi bahwa Muhammad seorang Nabi. Adapun anakku boleh jadi ibunya menyeleweng”. Lalu Umar mencium kepalanya. Demikianlah pengakuan salah seorang Pendeta Yahudi yang mendapat hidayah Allah. Juga sama dengan pengakuan Tamim Ad Daar, seorang bekas Pendeta Nasrani.

Walaupun kaum Yahudi mendapatkan fakta-fakta sifat Nabi Muhammad itu ada di dalam kitab-kitab suci mereka, namun golongan dari kaum Pendeta mereka mengingkari dan merahasiakan fakta kebenaran tersebut. Hanya sedikit dari golongan Pendeta Yahudi yang dengan jujur mengakui kebenaran dan beriman kepada Nabi Muhammad. Sedangkan mayoritas mereka tetap ingkar kepada Nabi, karena sikap taklid dan kebodohan para pemimpin mereka.

Karena itu pada ayat 147 QS. Al-Baqarah Allah memperingatkan kaum muslimin agar jangan mengikuti kata-kata kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka selalu mengingkari kebenaran Ilahi. Kaum Yahudi dan Nasrani lebih dikuasai oleh sikap fanatik dan sentimen golongan, sehingga selalu apriori terhadap segala argumen dan keterangan yang datang dari orang lain.

35. BANGSA YANG DIKUTUK ALLAH KARENA MERAHASIAKAN KEBENARAN

Allah berfirman : (Al-Baqarah : 159)

“Sungguh orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa bukti-bukti kebenaran dan petunjuk sesudah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itulah orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.”

Ayat ini menjelaskan bahwa ahli kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani telah merahasiakan hal-ihwal agama Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah tertulis dalam Taurat dan Injil. Di dalam kedua Kitab suci ini dijelaskan bahwa ahli kitab yang merahasiakan kebenaran yang menerangkan ciri dan sifat Nabi Muhammad adalah orang-orang yang berhak mendapatkan laknat dari Allah. Disamping itu iapun mendapatkan kutukan dari para malaikat dan segenap manusia. Lebih jauh Al-Qur’an menjelaskan mengenai sebab-sebab kaum Yahudi mendapat laknat Allah sebagaimana tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 77-82. Garis besar isinya adalah sebagai berikut:

  • a. membuat aturan agama secara berlebih-lebihan;
  • b. mengikuti dorongan berbuat sesat;
  • c. gemar berbuat dosa;
  • d. tidak mau menegur temannya yang berbuat dosa;
  • e. menjadikan orang-orang yang kafir kepada Allah sebagai pimpinan dan anutannya;
  • f. mayoritas masyarakat Yahudi bermental rusak;
  • g. sangat antipati terhadap Islam.

Akibat perbuatan-perbuatan seperti di atas, maka seluruh kaum Yahudi mendapat laknat dari Allah. (saya kira tidak semuanya lho, mas)

Pada hakekatnya ayat di atas adalah merupakan ketentuan umum yang mencakup semua ummat manusia, yaitu setiap orang yang merahasiakan ke benaran kepada orang lain atau menyembunyikan ilmu yang diketahuinya akan mendapat laknat Allah.

Ayat inipun memberikan pelajaran, bahwa orang yang melihat seseorang atau masyarakat melanggar ketentuan-ketentuan Allah di depan matanya, atau melihat seseorang dengan terang-terangan merusak agama atau menyebarluaskan bid’ah, perbuatan-perbuatan sesat, tetapi ia berdiam diri dan tidak berjuang untuk melawannya, dengan lisan ataupun tulisan, maka orang seperti ini juga mendapatkan laknat Allah. Ringkasnya setiap orang beriman yang membiarkan merajalelanya kemungkaran, akan mendapat laknat Allah sebagaimana dialami oleh kaum Yahudi.

36. BANGSA YANG PALING FANATIK TERHADAP TRADISI DAN LELUHURNYA

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah : 170)

“Dan bila kepada mereka dikatakan, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mengikuti apa yang kami dapatkan dari leluhur kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun leluhur mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?”

Sebagaimana tersebut dalam peristiwa perpindahan kiblat, yang tercantum pada QS. Al Baqarah 192, bahwa kaum Yahudi mengingkari kebenaran perintah Allah untuk berpindah kiblat ke Ka’bah. Penolakan mereka ini semata-mata beralasan kepada tradisi leluhur mereka.

Kemudian di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa, golongan musyrik, termasuk kaum Yahudi ini apabila menerima ajakan untuk mengikuti wahyu-wahyu Ilahi, mereka selalu menolak. Alasannya ialah, bahwa mereka tetap mengikuti langkah- langkah nenek moyang dan tradisi leluhur. Mereka selalu bersikap membeo dan taklid. Kata-kata populer yang selalu mereka jadikan pegangan; “Kami selama ini hanya mengenal ajaran yang diwariskan para leluhur dan para pemimpin kami yang terpandang.”

Ungkapan-ungkapan dan kata-kata semacam ini selalu kita dapatkan pada segolongan manusia yang menolak seruan-seruan untuk berpegang kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Dalam ayat ini diberikan peringatan kepada bangsa Yahudi dan golongan manusia sejenisnya, yaitu apakah mereka patut mengikuti tradisi leluhur di dalam segala bidang, sekalipun mereka dahulu sesat aqidah dan ibadahnya? Patutkah mereka menolak dalil yang masuk akal dan ibadahnya? Patutkah mereka menolak dalil yang masuk akal dan firman-firman Tuhan yang menerangkan masalah aqidah dan ibadah?

Kepada golongan musyrik dan bangsa Yahudi yang bersikap fanatik terhadap warisan leluhur dikatakan sebagai perbuatan mengikuti langkah setan. Padahal sebenarnya yang mereka ikuti adalah tingkah laku para pemimpin mereka yang menganjurkan pelestarian warisan leluhur dan tradisi nenek moyang. Ini berarti bahwa taklid kepada peninggalan leluhur adalah merupakan perbuatan setan itu sendiri. Dengan demikian bangsa Yahudi yang fanatik terhadap tradisi dan leluhurnya adalah pengikut-pengikut setan.

37. BANGSA YANG MENGANGGAP DAGANG DAN RIBA SAMA SAJA

Allah berfirman : (QS. Al Baqarah : 275)

“Orang-orang yang memakan riba, mereka tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang yang gila kesurupan setan. Demikian itu karena mereka telah berkata, “Berdagang itu sesungguhnya sama de- ngan riba”. Padahal Allah menghalalkan berdagang dan menghalalkan riba. Maka barangsiapa mau berhenti setelah datangnya nasihat ini dari Tuhannya kepadanya, maka baginyalah apa yang sudah lalu dan perkaranya terserah kepada Allah. Tetapi barangsiapa yang mengulang kembali, maka merekalah penghuni neraka. Mereka akan kekal di dalamnya.

Bangsa Yahudi menghalalkan riba, karena beranggapan bahwa keuntungan dengan berjual-beli dan keuntungan membungakan uang sama saja. Mereka beranggapan, kalau menjual barang dengan harga Rp. 10,– kontan, kemudian kalau dengan kredit Rp. 15,– atau Rp. 20,– dibolehkan, maka sebenarnya meminjamkan uang dengan bungapun juga dibolehkan. Menurut mereka selisih bunga dalam kredit sesuatu barang adalah karena pengunduran waktu. Jika pengunduran waktu semacam ini boleh dijadikan alasan untuk menaikkan harga barang, maka mengapa meminjamkan uang dengan bunga tidak boleh?

Pendirian mereka semacam ini sebenarnya adalah berdasarkan pikiran analogis yang salah. Kesalahannya ialah bahwa di dalam pembungaan uang secara otomatis merugikan satu pihak. Sedangkan dalam jual-beli (berdagang) pembeli dan penjual sama-sama menghadapi barangnya yang nyata, baik manfaat yang dapat dirasakan seketika itu ataupun pemikiran untuk selama-lamanya.

Misalnya orang yang membeli gandum, maka ia membeli untuk dimakan atau diperdagangkan lagi, dan bukan untuk dibuang ke tanah. Dan harga barang yang dibeli hanyalah dilakukan antara pembeli dan penjual berdasarkan kemauan bebas dan dengan kerelaan. Adapun riba berarti memberikan beberapa rupiah kepada peminjam, kemudian mengambilnya kembali berlipat ganda pada waktu yang lain. Apa yang diambilnya dari peminjam lebih dari pokok pinjaman bukanlah sebagai penukaran atau imbalan dari nilai barang atau kerja, tidak diambil atas dasar kerelaan dan kemauan bebas, tetapi dengan paksa dan kebencian.

Jual beli sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu yang akan dimiliki dilakukan oleh seseorang dengan pilihan dan kemauan bebas serta adanya kemerdekaan tawar-menawar. Dengan demikian dalam jual beli tidak ada sifat pemaksaan sepihak. Sebab jual beli yang dilakukan dengan cara paksaan adalah tidak syah. Hal ini jauh berbeda dengan riba. Selain tidak ada kemerdekaan dan kebebasan pilihan pada pihak yang harus membayar bunga, pada pihak pemberi pinjaman tidak mengalami resiko bila terjadi sesuatu yang merugikan. Bahkan pemberi pinjaman selalu bertambah keuntungannya sedangkan peminjam bertambah berat menanggung bunga uang.

Memperhatikan cara berpikir bangsa Yahudi yang menganggap dagang dan riba sama saja menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakter lintah darat dan pemeras serta jauh dari perasaan belas kasihan kepada orang yang lemah. Maka dunia perdagangan bila dikuasai oleh bangsa Yahudi niscaya akan menimbulkan malapetaka bagi urnmat manusia seluruh dunia. Bukti yang konkret pada zaman modern ini ialah bencana yang menimpa negara-negara berkembang akibat yang dililit hutang akibat pinjaman yang berbunga dari Bank-Bank milik Yahudi di Amerika dan di Eropa Barat.

38. BANGSA YANG MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI ALAT KEBOHONGAN

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 23-24)

“Tidakkah Engkau melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab suci, mereka diajak kepada kitab Allah untuk memisahkan di antara mereka, kemudian segolongan mereka berpaling seraya mereka mengingkari.” 23)

Demikian itu, karena mereka telah berkata, “Tidaklah api neraka akan menyentuh kami kecuali beberapa hari tertentu. Dan mereka telah terpedaya dalam agama mereka karena dusta yang mereka adakan.”24)

Bangsa Yahudi sering berhakim kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan niat untuk memalukan keputusan-keputusan yang ditetapkan beliau kepada mereka. Tetapi kalau putusan itu di luar yang mereka inginkan, lalu mereka menolaknya dan pergi meninggalkan Nabi. Pernah sekelompok orang Yahudi terkemuka berbuat zina. Kemudian mereka datang kepada Nabi untuk minta pengadilan. Lalu Nabi menetapkan hukumannya sesuai dengan kitab suci mereka. Namun ternyata menolak, sebab motif mereka datang kepada Nabi adalah untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan daripada yang ada di dalam kitab suci mereka.

Sekelompok pemuka Yahudi yang selama ini mengaku berpegang teguh pada kitab suci mereka, sehingga menolak kehadiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengingkari kitab suci Al Qur’an, ternyata pada saat menerima keputusan hukum sebagaimana bunyi ketentuan kitab suci mereka sendiri juga mereka tolak. Mereka sebenarnya selalu ragu-ragu terhadap agama mereka sendiri, akan tetapi pada saat mereka mengingkari kerasulan Muhammad dan Kitab Al-Qur’an, mereka jadikan kitab suci mereka sebagai kedok untuk membenarkan kekufuran mereka itu.

Sebagian dari kaum Yahudi mempunyai keyakinan, walaupun mereka berbuat dosa apapun, namun hanyalah sementara saja mengalami siksa neraka di akhirat. Anggapan yang menganggap ringan adanya siksa neraka dan memandang kecil terhadap ancaman atas dosa-dosa yang mereka lakukan karena merasa punya hubungan darah dengan para Nabi mereka. Jadi mereka berani berbohong atas nama agama, yaitu sebagai keluarga dari para Nabi mendapatkan suatu perlakuan istimewa di sisi Allah.

Orang-orang yang menganggap kecil ancaman Allah, karena beranggapan tidak akan turun ancaman itu kepada orang yang semestinya dikenai hukuman, akan mengakibatkan orang seperti itu menyepelekkan perintah-perintah dan larangan- larangan Allah. Sebab itu ia tanpa peduli melanggar kehormatan agama, menganggap remeh pemenuhan kewajiban. Demikianlah keadaan semua ummat ketika mereka berani durhaka kepada agamanya dan tidak memperdulikan perbuatan-perbuatan dosa. Hal ini telah terjadi pada bangsa Yahudi dan ummat Nasrani kemudian ummat Islam. Karena kebanyakan ummat Islam dewasa ini punya anggapan bahwa seorang muslim sekalipun berbuat dosa-dosa besar dan keji, mungkin ia akan mendapat syafaat atau selamat dengan membayar kafarat atau mungkin akan dimaafkan dan diampuni oleh Allah, karena karunia dan kebaikan Allah. Dan jika dosanya itu akan menerima siksa, maka siksanya sebentar. Kemudian keluar dari neraka masuk syurga. Sedangkan orang-orang yang beragama lain akan kekal di dalam neraka, sekalipun mereka berbuat baik atau berbuat dosa.

Bangsa Yahudi yang terlanjur punya doktrin sebagai kekasih Tuhan dan manusia pilihan dengan sangat berani mengadakan kebohongan-kebohongan yang diatasnamakan ajaran agama. Doktrin-doktrin mereka yang mereka pandang sebagai ajaran agama adalah sebagai berikut:

  • a. merasa menjadi anak Tuhan dan kekasihnya;
  • b. manusia yang mendapat perlakuan istimewa di sisi Allah karena nenek moyangnya banyak yang menjadi Nabi;
  • c. bahwa Allah berjanji kepada mereka untuk tidak menyiksa keturunan Nabi Ya’qub kecuali hanya sebentar saja.

Semua doktrin ini tidak satu pun dapat mereka buktikan sebagai ketentuan yang tercantum di dalam kitab suci mereka. Sebab itu mereka kemudian berusaha untuk memasukkan hal-hal tersebut ke dalam keyakinan mereka dalam dongeng-dongeng. Oleh karena itu kalau kita tuntut supaya mereka menunjukkan adanya firman Tuhan di dalam kitab suci mereka mengenai hal-hal tersebut, muncullah kebohongan- kebohongan mereka. Soal siksa misalnya adalah suatu masalah yang tidak dapat ditetapkan berdasarkan akal manusia. Karena soal ini bersifat ghaib. Dengan demikian mereka harus dapat menunjukkan adanya wahyu dari Allah yang menyatakan bahwa siksa neraka bagi bangsa Yahudi hanyalah beberapa hari saja. Karena wahyu semacam ini tidak ada, jelaslah bahwa doktrin-doktrin agama yang mereka percayai di atas adalah suatu kebohongan.

39. BANGSA YANG TERLARANG BAGI KAUM MUKMININ UNTUK BERSETIA KAWAN

Allah berfirman: (QS. Ali -Imran : 28)

“Dan janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman lebih dari orang- orang beriman. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka tidaklah ada (perlindungan) dari Allah sedikit pun. Kecuali karena kamu takut betul-betul (gangguan) dari mereka. Dan Allah mengancam kamu dengan diri-Nya dan kepada Allah tempat kembali.”

Ahli-ahli sejarah telah meriwayatkan bahwa sebagian orang yang tadinya masuk Islam terkecoh oleh kegagalan dan kekuatan orang-orang kafir ke mudian mereka meninggalkan Islam dan memihak mereka. Soal seperti ini tidaklah aneh. Bahkan sesuatu yang sudah menjacli tabiat manusia.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata, “Adalah Hajjaj bin Amr dan Ibnu Abil Huqaiqu dan Qais Ibnu Zaid, semuanya orang Yahudi berteman karib dengan beberapa orang Anshar. Mereka ini suka mengganggu agama orang-orang Anshar itu. Lalu Rifaah bin Mundair ini berkata, “Jauhilah orang-orang Yahudi itu. Tetapi beberapa orang Anshar enggan, bahkan tetap berteman karib dengan mereka, orang-orang Yahudi itu.” Lalu turunlah ayat ini.

Ayat di atas maksudnya, janganlah orang-orang beriman memuliakan orang-orang kafir, lalu menyampaikan rahasia-rahasia tertentu dalam soal-soal agama kepada, mereka dan mendahulukan kepentingan mereka daripada kaum mukminin. Karena perbuatan seperti ini berarti mengutamakan mereka dan menyokong kekafiran, serta mengabaikan keimanan.
snya, orang-orang mukminin dilarang mcnjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat atau pimpinan, karena hubungan keluarga atau persahabatan jahiliyah atau karena tetangga atau hubungan pergaulan lain-lainnya. Tetapi seharusnya orang-orang mukmin memperhatikan apa yang menjadi perintah Islam seperti mencintai dan membenci semata-mata haruslah berdasarkan pertimbangan agama. Berdasarkan pertimbangan inilah maka memilih teman dekat sesama orang beriman lebih menjadikan baik kepentingan agama mereka daripada berteman karib dengan orang-orang kafir.

Tetapi jika hubungan teman karib dan kawan perjanjian itu untuk kepentingan bersama kaum muslimin, maka tidak ada salahnya. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan suku Khuza’ah yang masih musyrik. Begitu pula tidak salah seorang muslim percaya dan berhubungan baik dengan orang-orang bukan Islam dalam urusan keduniaan.

Akan tetapi bila dalam keadaan tertentu yang mengharuskan kaum mukminin untuk mengambil golongan kafir sebagai teman kerja sama, maka hal ini dibolehkan.

Jika menjadikan mereka sebagai teman itu dibolehkan, karena adanya bahaya, maka adalah lebih utama membolehkan mengambil mereka sebagai teman dekat di dalam urusan yang menguntungkan ummat Islam. Jadi tidak ada salahnya suatu negara Islam, bila mengadakan perjanjian persahabatan dengan negara non-Islam bila membawa keuntungan yang lebih baik, mungkin untuk menolak bahaya atau memperoleh keuntungan. Tetapi tidak boleh mengadakan perjanjian persahabatan di dalam sesuatu hal yang merugikan ummat Islam. Kebolehan ini tidak hanya terbatas ketika keadaan lemah, tetapi berlaku pada segala waktu.

40. BANGSA YANG PERTAMA-TAMA MERENCANAKAN PEMBUNUHAN ISA AS

Allah berfirman : (QS. Ali Imran : 52-54)

“Maka tatkala Isa merasakan kekufuran mereka, lalu ia berkata, “Siapakah menjadi pembelaku di jalan Allah?” Lalu orang-orang Hawari berkata, “Kami adalah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan saksikanlah, bahwa kami sungguh-sungguh orang-orang yang berserah diri.” 52)

“Wahai Tuhan kami, kami beriman kepada yang Engkau turunkan. Dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menyaksikan! 53)

“Dan mereka memperdayakan, tetapi Allah juga memperdayakan. Dan Allah sebaik-baik (pembalas) orang- orang yang memperdayakan.” 54)

Tatkala Islam mengetahui bangsa Yahudi tetap bersikap kafir, bermaksud menganiayanya, dan memang orang-orang Yahudi sering kali menganiaya beliau, mengejek dan mencemoohkannya. Kepada Isa mereka berkata, “Cobalah engkau terangkan si fulan tadi malam makan apa atau ia menyimpan apa di rumahnya besok pagi?” Bila pertanyaan ini dijawab oleh Nabi Isa dengan tepat, mereka pun tetap mengejeknya. Lebih daripada itu bangsa Yahudi bermaksud membunuh beliau. Karena itu beliau lalu menjadi takut dan bersembunyi, sehingga beliau dan ibunya pergi mengembara meninggalkan kampung halamannya.

Di saat Nabi Isa dalam pengejaran bangsa Yahudi ini, ia kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Siapakah yang bersedia menyerahkan jiwanya karena Allah untuk membela diriku mengikuti jejakku meninggalkan jejak masyarakat yang tidak baik kemudian mau membela para Rasul Allah? Seruan Nabi Isa ini mendapat jawaban dari murid-muridnya yang dinamakan kaum Hawari. Para sahabat beliau ini berkata, “Kamilah penolong agama Allah, pejuang yang rela berkorban memperkokoh dakwahmu, sahabatnya yang setia mengikuti ajaranmu dan meninggalkan sikap membeo kepada para leluhur.

Kaum Yahudi berupaya dengan segenap tenaga dan mengatur segala tipu daya untuk dapat mernbunuh Nabi Isa. Karena itu mereka menugaskan seseorang untuk membunuh dan merayu Nabi Isa agar beliau mau datang ke suatu tempat yang mereka katakan sebagai tempat perlindungan, sehingga di tempat itu Nabi Isa dapat dibunuh. Tetapi tipu daya mereka ini gagal. Sebab di saat mereka datang menggerebek tempat persembunyian Nabi Isa dengan tiba-tiba Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit, lalu dimunculkan seorang dengan wajah mirip Nabi Isa, sehingga orang inilah yang kemudian mereka bunuh.

Bangsa Yahudi bukan hanya menjadi orang pertama yang berusaha untuk melenyapkan Nabi Isa dari permukaan bumi, tetapi juga mereka merupakan bangsa yang pertama membunuh Nabi-Nabi sebelumnya.

Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 5)

Iklan

2 responses »

  1. […] lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 4) […]

    Suka

  2. […] Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 4) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s