Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 4)


41. BANGSA YANG PALING SENANG MEMBUAT SIASAT KERAGU- RAGUAN

Allah berfirman (QS. Ali-Imran : 72 – 73)

“Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya), “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada keingkaran)”. “Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamanya. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah) kamu percaya bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan bahwa mereka akan menyalahkan hujjahmu di sisimu”. Katakanlah, “sesungguhnya karunia di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan Allah Maha luas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui 73).

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari lbnu Abbas, katanya, “Abdullah bin Shaib dan Adi bin Zain serta Haris bin Auf saling berkata satu sama lain, “Marilah di waktu pagi kita beriman kepada ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan sahabat- sahabatnya, tetapi di waktu sore kita kembali kafir, supaya mereka bingung terhadap agama mereka, mudah-mudahan mereka akan berbuat seperti yang kita perbuat sehingga mereka dapat kembali menjadi kafir:’ Lalu Allah menurunkan ayat mengenai perangai mereka itu, ayat 72 ini.

Sasaran golongan ini ialah merusak manusia, sehingga mereka (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) berkata, “Sekiranya mereka hendak melihat kebathilan Islam, tentu mereka tidak akan keluar sesudah menjadi orang Islam. Karena tidak masuk akal seseorang yang telah mengetahui kebenaran lalu meninggalkan kebenaran tanpa sebab. Lebih-lebih lagi mereka sampai mengeluarkan pernyataan bahkan berani berbuat yang demikian”.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, katanya, “Orang-orang Yahudi shalat shubuh bersama Nabi, tetapi sore hari mereka kafir karena ingin berbuat tipu daya, supaya manusia bisa melihat, bahwa mereka telah mengetahui kesesatan agama Islam setelah mereka mengikutinya.”

Tidak aneh bila segolongan di antara mereka menggunakan tipu daya seperti itu, karena mereka tahu, salah satu tanda kebenaran ialah orang yang sudah mengetahuinya tidak mau melepaskannya. Hal ini dapat ditunjukkan oleh pernyataan Heraclius, raja Romawi kepada Abu Sufyan pada waktu ia masih kafir, ketika ia bertanya tentang hal-ihwal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada waktu beliau berseru kepada agama Islam. “Adakah orang yang keluar dari agama itu setelah ia memasukinya ?” Jawab Abu Sufyan, “Tidak ada”.

Allah telah memperingatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan tipu daya mereka, memberitahukan rahasia mereka, supaya tipu daya itu tidak mempengaruhi hati orang-orang mukmin yang lemah. Dan perbuatan mereka yang keji itu belum pernah ada orang lain yang melakukan sebelumnya, sehingga peringatan itu menjadi penangkal bagi mereka.

Ayat tersebut di atas berisikan berita ghaib yang merupakan mukjizat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sikap kaum Yahudi terhadap kebenaran sangat rasialis sekali. Para pemimpin Yahudi memerintahkan kepada masyarakatnya. “Janganlah kamu percaya kepada siapapun kecuali orang-orang yang seagama dengan kamu”. Pernyataan seperti ini menunjukkan adanya keyakinan mereka bahwa orang yang bisa menjadi Nabi atau Rasul Allah dari kalangan bangsa Yahudi. Bahkan mereka bersikap berlebih-lebihan dan menghinakan golongan-golongan lain. Mereka berkeyakinan hanya yang keluar dari merekalah yang baik, sedang yang keluar dari golongan lain pasti buruk.

Ringkas kata, janganlah kamu beriman secara formal itu, yang di waktu siang datang kepadamu menyatakan kepadamu menyatakan beriman. Tetapi berimanlah seperti orang yang mengikuti agama kamu sejak awal mulanya. Mereka yang beriman secara formal yaitu sebagian orang Yahudi yang masuk Islam dengan tujuan untuk keluar kembali. Mereka bersuka cita dan penuh semangat keluar dari Islam. Dan sebaliknya penuh kemarahan dan kebencian terhadap keislaman mereka dahulu. Dari ayat di atas dengan jelas dilukiskan betapa hebatnya kaum Yahudi menggunakan siasat rasa ragu-ragu terhadap kebenaran Islam, sehingga dapat mengelabuhi mata ummat manusia untuk melihat kebenaran Islam. Karena itu adanya tehnik menimbulkan keraguan terhadap kebenaran Islam yang digunakan oleh sarjana Barat (kaum Orientalis) ataupun musuh-musuh Islam lainnya, seluruhnya bersumber dari cara-cara bangsa Yahudi ini.

42. BANGSA YANG SUKA MENGINGKARI AMANAH ORANG

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 75)

“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang sedikit, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu karena mereka mengatakan, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang Arab”. Mereka berdusta atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.”

Segolongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) berusaha memperdayakan ummat Islam, agar mereka keluar dari agama Islam. Dan segolongan lagi berani menghalalkan memakan harta orang Islam dan orang lain secara bathil, karena beranggapan perbuatan tersebut tidak dilarang oleh agama mereka, kecuali kalau dilakukan secara khianat terhadap sesama Bani Israil.

Ringkasnya, Ahli Kitab ini terbagi 2 golongan:

  • a. Yang bersikap amanat terhadap harta yang banyak maupun sedikit. Contohnya, Abdullah bin Salam. la pernah dititipi seorang Quraisy sebanyak 1.200 uqiyah emas, dan ia jaga dengan baik amanah ini.
  • b. Yang khianat terhadap amanat. la mengingkari titipan orang kepadanya walaupun jumlahnya sedikit. Dan dia tidak mau menunaikan amanah kepadamu, kecuali kalau kamu terus menerus menuntutnya atau memperkarakannya ke pengadilan. Termasuk dalam golongan ini ialah Ka’ab bin Asyraf. la pernah dititipi seorang Quraisy uang satu dinar, kemudian diingkarinya.

Lebih jauh Allah menjelaskan bahwa kaum Yahudi mempunyai anggapan sesat, yaitu bahwa tidaklah berdosa kalau tidak bersikap amanat terhadap harta benda orang-orang Arab dan non-Yahudi lainnya. Bagi bangsa Yahudi mengkhianati amanat yang diberikan oleh orang-orang non Yahudi tidaklah akan menjadikan Allah murka kepada mereka.

Anggapan sesat ini dicela oleh Allah. Menurut orang-orang Yahudi bahwa Allah murka terhadap orang-orang non-Yahudi serta memandangnya rendah, sehingga golongan manusia non-Yahudi tidak mempunyai hak apapun terhadap harta kekayaan dan harta mereka tidaklah mendapat perlindungan hukum. Karena segala cara yang dapat digunakan untuk merampas harta orang-orang non-Yahudi dianggap tidak berdosa.

Anggapan bangsa Yahudi yang sesat semacam ini jelas merupakan suatu tipu daya, pengelabuan dan fanatik keagamaan yang berlebihan serta penghinaan terhadap adanya hak pemilikan pada setiap orang.

Ibnu Jarir meriwayatkan sebagai berikut: “Sekelompok ummat Islam menjual kepada orang Yahudi beberapa barang mereka pada zaman Jahiliyah. Tatkala mereka ini masuk Islam, mereka menebus harga barangnya, tetapi orang-orang Yahudi menjawab, “Kami bukanlah golongan yang amanat. Dan kami tidak berkewajiban melunasi hutang kami kepadamu. Karena kamu telah meninggalkan agama yang dahulu kamu ikuti, seraya mereka mengaku bahwa mereka mendapatkan di dalam kitab mereka ketentuan yang demikian itu.

Al-Qur’an menyatakan bahwa kaum Yahudi mengetahui secara persis betapa dustanya anggapan mereka yang kosong ini. Karena ajaran Allah yang ada pada kitab-Nya dan Taurat yang ada di tangan mereka tidak ada keterangan yang membenarkan khianat terhadap orang-orang Arab dan memakan harta mereka secara bathil. Mereka tahu dengan sebenar-benarnya ketentuan Allah. Tetapi karena mereka tidak suka berpegang kepada kitab sucinya semata, melainkan mengikuti pendeta-pendeta mereka dan menganggap fatwa mereka sebagai agama, padahal mereka ini mengeluarkan fatwa agama menurut akal dan hawa nafsunya serta memutar-balikkan ayat-ayat Kitab Suci untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka. Di dalam pendapat-pendap’at seperti inilah mereka menemukan suatu pembenaran terhadap anggapan mereka itu.

Al-Qur’an menegaskan bahwa perbuatan bangsa Yahudi berkhianat terhadap amanat orang-orang non-Yahudi tetap sebagai perbuatan dosa. Kamu (bangsa Yahudi) tetap berkewajiban memenuhi janji-janji kamu yang telah ditentukan, dan memenuhi semua amanat. Bila seseorang meminjamkan hartanya kepada kamu sampai batas waktu tertentu menjual barangnya kepada kamu dengan harga jatuh tempo pembayaran atau dititipi suatu amanat, maka wajiblah engkau memenuhi dan menguatkan hak orang itu pada saat tiba temponya tanpa perlu ditagih atau diajukan ke pengadilan. Hal seperti ini sesuai dengan ketentuan fitrah dan ketetapan agama.

Ayat ini mengisyaratkan, bahwa bangsa Yahudi beranggapan, pada hakekatnya memenuhi janji bukanlah suatu kewajiban mutlak. Bahkan mereka memperbedakan siapa lawan perjanjiannya itu. Jika sama-sama Bani Israil, wajib dipenuhi, tetapi kalau orang lain, tidak wajib.

43. BANGSA YANG SUKA MENGADA-ADA URUSAN AGAMA

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 78)

“Di antara mereka sungguh ada segolongan yang merubah ucapan mereka dalam membaca Al-Kitab supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan, “Ia dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta atas nama Allah, sedang mereka mengetahuinya”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa golongan ini adalah orang-orang Yahudi yang datang kepada Ka’ab bin Asyraf, seorang tokoh yang sangat memusuhi Rasulullah, banyak menyakiti beliau dan mengganggunya. Mereka inilah yang mengubah dan menulis sebuah kitab dengan mengubah keterangan mengenai ciri-ciri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Buku yang mereka susun ini dijadikan pegangan oleh Yahudi Bani Quraidhah, lalu mereka campur dengan kitab suci yang ada pada mereka. Ketika mereka membaca Al-Kitab, mereka membacanya dengan mengubah ucapannya, sehingga menimbulkan dugaan pada orang banyak bahwa yang dibaca itu adalah Taurat.

Para pendeta Yahudi yang melakukan kutipan kata-kata berasal dari tokoh-tokoh mereka kemudian disisipkannya di dalam rangkaian pembacaan kitab suci mereka adalah dimaksudkan untuk mengelabui ummat Islam. Dengan cara semacam ini diharapkan ummat Islam percaya bahwa kata-kata yang mereka baca itu adalah berasal dari sisi Allah, padahal sebenarnya adalah buatan mereka sendiri.

Dengan demikian kata-kata yang mereka sisipkan di tengah pembaca kitab suci mereka adalah kedustaan ciptaan mereka sendiri. Maka ayat Al-Qur’an ini mencela keras perbuatan mereka dan sekaligus menjelaskan betapa hebatnya kekurangajaran mereka di dalam memutarbalikkan agama mereka. Kaum Yahudi bukan hanya melakukan kebohongan secara sembunyi-sembunyi di dalam mengada-ada urusan agama mereka, bahkan secara berani mengatasnamakan sebagai wahyu dari Allah. Mereka berani berbuat kurangajar semacam ini, karena punya anggapan, bahwa dosa apapun yang mereka lakukan tentu akan diampuni oleh Allah. Sebab mereka sebagai kekasih Allah dan bangsa pilihan. Ayat inipun menegaskan bahwa dusta yang dilakukan oleh kaum Yahudi dengan kedok agama Allah adalah tindakan yang sengaja, bukan karena kekeliruan.

Penyakit kaum Yahudi semacam ini juga menimpa sebagian besar ummat Islam dewasa ini. Mereka punya anggapan sudah pasti masuk syurga, biar dosa apapun yang mereka lakukan. Karena mereka punya keyakinan bahwa setiap orang Islam mesti akan mendapat pertolongan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, asalkan mengaku beragama Islam, walaupun tidak melaksanakan syari’at Islam, bahkan melakukan perbuatan yang biasa dilakukan orang kafir atau munafik.

44. BANGSA YANG MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI ALAT MEMPERBUDAK BANGSA LAIN

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 79 – 80)

“Sama sekali tidak benar seseorang manusia yang Allah beri kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah-penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu ahli agama yang bertaqwa, kerena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan selalu mempelajarinya”.79) “Dan (sama sekali tidak benar baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekefiran di waktu kamu sudah Islam”. 80)

Ibnu Ishaq dll. meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, Abu Rafiq Al-Quradli ketika para pendeta Yahudi dan Nasrani dari Najran berkumpul di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Nabi mengajak mereka kepada Islam, ia berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau ingin kami menyembahmu, seperti orang-orang Nasrani menyembah Isa?” Lalu seorang lakilaki Nasrani dari Najran, berkata, “Atau seperti tuan inginkan ?” Lalu Rasulullah menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari kami menyembah selain Allah atau menyuruh manusia menyembah selain Dia. Tidak untuk itu Allah mengutusku dan tidak untuk itu aku diperintah”. Kemudian Allah menurunkan ayat ini.

Di dalam ayat ini Allah mencela kaum Yahudi yang menyalahgunakan rahmat Allah berupa pemberian agama sebagai alat untuk menyeru manusia agar menyembah dirinya. Perbuatan orang Yahudi yang mengajak manusia menyembah diri mereka sama halnya menjadikan agama sebagai alat memperbudak bangsa lain. Agama yang Allah berikan kepada bangsa Yahudi memerintahkan kepada mereka untuk mengajak manusia menyembah kepada Allah saja, mengajak mereka mengetahui hukum-hukum Allah. Jadi seharusnya bangsa Yahudi menjadi contoh bagi manusia lain dalam taat dan beribadah kepada Allah, dan menjadi guru yang mengajarkan Kitab Allah kepada manusia. Akan tetapi yang dilakukan oleh bangsa Yahudi justru sebaliknya. Mereka telah mengadakan suatu cara untuk berhubungan dengan Allah, yaitu dengan mengadakan perantara antara seseorang dengan Allah misalnya sebagai pembaca do’a. Dengan adanya lembaga perantara ini mereka telah melanggar ketentuan hukum melakukan penyembahan kepada Allah dengan cara yang sebersih-bersihnya. Tindakan lain yang mereka lakukan di dalam membentuk lembaga perantara ini yaitu mereka mengangkat para wali untuk menjadi penghubung manusia awam dengan Allah.

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bangkit menghadapi kaum Yahudi memperingatkan kepada mereka agar mereka menyembah Allah secara langsung tanpa perantara apapun, Rasulullah menyuruh agar setiap orang tekun mempelajari Kitab Allah dan mengamalkannya, supaya menjadi ahli agama yang bertaqwa, yang diridhai Allah.

Al-Qur’an pun menegaskan bahwa Nabi sama sekali tidak pernah menyuruh manusia menyembah dan bersujud kepada para Nabi ataupun para malaikat di samping menyuruh mereka mengesakan Allah dan mentaatinya. Jika benar, seorang Nabi berbuat begitu, maka perbuatan semacam itu menunjukkan pada kekafirannya, hilang kenabiannya dan ketiadaan iman.

Bangsa Yahudi yang mengajarkan kepada manusia bahwa Uzair adalah putra Allah dan kemudian mengajak menyembah kepada Uzair pada hakekat nya adalah sama dengan mengajak manusia menyembah kemuliaan bangsa Yahudi di tengah ummat manusia lainnya. Dengan keyakinan bahwa di tengah bangsa Yahudi lahir seorang putra Tuhan, maka diharapkan manusia yang lain memperlakukan bangsa Yahudi secara istimewa. Dan ini berarti melalui agama bangsa Yahudi memperbudak bangsa lain. Karena dengan melalui jalur agama ini bangsa Yahudi dapat menetapkan hukum dengan kehendaknya sendiri untuk diberlakukan kepada bangsa-bangsa lain dengan tujuan mengajak mereka untuk tunduk pada kemauan bangsa Yahudi.

Barangsiapa yang memperhatikan perkumpulan-perkumpulan internasional yang disponsori bangsa Yahudi, seperti perkumpulan Lions Club, Rotary Club, Sarjana Ahli Perbandingan Agama, Pertukaran Pelajar dan Pemuda Internasional, Korps Sukarelawan Perdamaian, akan mengetahui bahwa segala tata tertib yang mereka ciptakan pada hakekatnya mengabdi pada kepentingan bangsa Yahudi.

45. BANGSA YANG INGIN MEMBUAT AGAMA LAIN SEBAGAI TANDINGAN AGAMA ISLAM

Allah berfirman : QS. Ali-Imran : 83 – 85

“Apakah mereka mencari agama selain dari agama Allah, padahal hanyalah kepada-Nya segala yang di langit dan di bumi berserah diri, baik dengan suka hati atau terpaksa dan kepada-Nya mereka dikembalikan” 83)

Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail. Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”84)

‘Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (amal) daripadanya dan dia di akherat termasuk orang-orang merugi.’85)

Kaum Yahudi dan Ahli Kitab pada umumnya meninggalkan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Padahal kebenaran yang mereka hadapi tidak dapat dibantah sedikit pun. Mereka kemudian mencari agama selain Islam.

Salah satu dalih yang digunakan bangsa Yahudi untuk meninggalkan Islam ialah dengan mengatakan bahwa mereka adalah pewaris agama yang di bawa oleh Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Musa dan Isa as. Semua Nabi yang disebut bangsa Yahudi ini adalah membawa ajaran Allah yang sama dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bahkan Al-Qur’an mengatakan bahwa Nabi dan kaum muslim bukanlah orang yang mengakui sebagian Rasul, tetapi kafir sebagian lainnya, sebagaimana dilakukan oleh bangsa Yahudi dan kaum Nasrani.

Para Nabi ini dapat diibaratkan dengan para amir yang jujur lagi amanat yang diutus oleh raja secara bergantian untuk mengurus salah satu wilayah kerajaannya, membangun kepentingan penduduknya dan membuat undang-undang yang bermanfaat untuk memerintah wilayah tersebut. Lalu ada kalanya seorang amir di belakangnya mengubah sebagian undang-undang yang sama, sejalan dengan perkembangan penduduknya dan adat-istiadat mereka, sebagaimana is saksikan dari suasana yang hatinya kasar menjadi halus, dan yang tadinya bodoh menjadi berilmu, yang tadinya biadab menjadi beradab. Tujuan dilakukannya, perubahan ini ialah demi kesejahteraan mereka dan memperluas kebahagiaannya serta membawa mereka kepada keadaan yang sejahtera.

Bangsa Yahudi dengan agamanya ternyata tidak menjadikan mereka sebagai manusia yang dapat berjiwa pasrah dan tunduk kepada Allah. Agama Yahudi telah menjadi suatu cara hidup yang berlawanan dengan akal sehat dan fitrah manusia. Sebagai bukti ialah doktrin mereka, bahwa mereka menjadi kekasih Tuhan, sedangkan manusia yang lain menjadi budak mereka, Tuhan akan mengampuni dosa orang Yahudi, walaupun betapa besar kejahatannya, karena mereka adalah manusia pilihan. Doktrin-doktrin semacam ini menyebabkan mereka menolak ajaran Islam yang mengajarkan adanya persamaan derajat bagi setiap manusia dan pertanggunganjawaban manusia atas setiap tindakannya kepa da Allah.

Agama yang tidak bisa menjadikan penganutnya berjiwa pasrah dan tunduk kepada Allah, adalah merupakan sekedar rangkaian slogan dan tradisi yang tidak membawa manfaat kepada ummat manusia. Bahkan akan menambah kerusakan jiwa dan kebingungan. Jika agama telah menjadi sekumpulan slogan dan tradisi, pada saat itu akan menjadi sumber kebencian dan permusuhan sesama manusia di dunia ini.

Bangsa Yahudi telah merasakan bahwa agama mereka hanya tinggal serangkaian slogan dan tradisi dan penuh dengan kebingungan dan sumber kerusakan moral. Walaupun Islam datang kepada mereka membawa ajaran yang membangkitkan kesegaran jiwa dan memberikan cahaya terang benderang, tapi karena kebencian mereka kepada Islam, mereka menolaknya dan berusaha menciptakan agama tandingan. Agama tandingan yang hendak mereka sodorkan ini, mereka tawarkan sebagai warisan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Maka tidaklah mengherankan kalau sampai saat ini bangsa Yahudi dengan penuh kecongkakan membanggakan diri sebagai pewaris agama Nabi-Nabi Bani Israil yang bersumber dari Nabi Ibrahim. Dan pada hakekatnya pernyataan mereka ini adalah sebagai kedok untuk menciptakan agama lain sebagai tandingan dari agama Islam.

46. BANGSA YANG KEDZALIMANNYA MEMPERSULIT HATINYA MELIHAT KEBENARAN

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 86 – 87)

“Bagaimana Allah akan memimpin suatu kaum yang kafir sesudah beriman, padahal mereka telah mengakui kerasulan (Muhammad) adalah benar dan telah datang bukti-bukti kepada mereka ? Allah tidak memimpin orang-orang yang dzalim.” 86)

“Kepada mereka itu balasannya adalah sungguh-sungguh laknat dari Allah, dan malaikat serta seluruh manusia.” 87)

Abdullah bin Khumaid dan lain-lain meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa Ahli Kitab dari kaum Yahudi dan Nasrani mengetahui sifat-sifat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Kitab Suci mereka dan mereka mengakui serta bersaksi bahwa beliau adalah Rasul yang benar. Tetapi ketika Rasul ini bangkit dari luar golongan mereka, mereka dengki kepada bangsa Arab atas kejadian ini. Karena itu mereka mengingkarinya dan kafir kepadanya, padahal dulu mereka mengakuinya. Hal ini disebabkan kedengkiannya kepada bangsa Arab, ketika ternyata bahwa orang yang dibangkitkan menjadi Rasul ini bukan dari golongan mereka.

Bangsa Yahudi punya kesaksian bahwa kerasulan Muhammad adalah benar. Sebagaimana termuat dalam berita-berita gembira dari para Nabi Bani Israil. Mereka sangat menginginkan untuk menjadi pemimpinnya di saat Nabi yang dijanjikan ini datang. Tetapi setelah mereka menyaksikan bahwa bukti dan tanda- tanda kebenaran dari seorang Nabi yang dijanjikan itu adalah Muhammad yang berasal dari bangsa Arab ini, dengan tiba-tiba mereka menjadi kafir dan mengingkarinya.

Perbuatan orang Yahudi mengingkari bukti kebenaran yang melekat pada diri Muhammad sebagai Nabi yang dijanjikan adalah perbuatan dzalim.Karena mereka menyimpang dari jalan yang benar, menolak pemikiran yang rasional di dalam menghadapi bukti-bukti kenabian yang ada pada diri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bangsa Yahudi dinyatakan jauh dari kemungkinan untuk mendapat hidayah dari Allah karena mereka telah menolak sunatullah yang berlaku pada hamba-Nya. Salah satu sunnatullah di dalam memberi hidayah kepada manusia untuk dapat mengetahui kebenaran ialah dengan mengetengahkan dalil dan bukti-bukti, sehingga rintangan yang menghalangi kebenaran dapat dilenyapkan. Sedangkan bukti-bukti dan dalil-dalil yang diberikan kepada Bangsa Yahudi untuk mengenal diri Nabi Muhammad telah diutarakan jauh sebelum beliau dilahirkan dan dibawa oleh para Nabi Bani Israil sendiri.

Penolakan Bangsa Yahudi terhadap kerasulan Nabi Muhammad menyebabkan memperoleh laknat Allah, para malaikat dan segenap ummat manusia. Sebab dengan adanya manusia mengetahui kedzaliman bangsa Yahudi di dalam memperlakukan kebenaran sehingga mereka menjadi bangsa yang penuh kebingungan dan kerusakan mental, maka serta-merta membuat manusia lain melaknat mereka. Adalah menjadi fitrah manusia bersikap marah terhadap orang yang berlaku dzalim terhadap kebenaran.

Perilaku manusia semacam Bangsa Yahudi ini bagaimana mungkin dapat memperoleh hidayah dari Allah, padahal mereka menjadi kafir terhadap hal-hal yang tadinya telah mereka imani dan berjanji untuk mentaatinya sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh para Nabi mereka di dalam Kitab-Kitab Suci mereka. Dengan demikian penolakan bangsa Yahudi untuk beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikuti ajaran-ajaran yang beliau bawa adalah karena kedzaliman mereka. Kedzaliman ini menutup hati nurani mereka untuk melihat atau membenarkan kebenaran.

47. BANGSA YANG SUKA MENGHALANGI ORANG BERJALAN PADA KEBENARAN

Allah berfirman : (Ali-Imran : 99)

“Katakanlah, “Hai ahli kitab, mengapa kamu membelokkan orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan ?” Allah sekali-kali tidak lalai terhadap perbuatan-perbuatan kamu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Said bin Aslam, ia berkata, “Sya’as bin Qois, seorang Yahudi yang sangat permusuhan dan celaannya pada kaum muslimin, pada suatu hari lewat di depan beberapa orang sahabat Nabi yang sedang duduk bercakap-cakap, terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini tampak rukun setelah datang Islam pada mereka. Padahal di zaman Jahiliyah dahulu mereka saling bermusuhan. Melihat hal ini Sya’as merasa gusar dan beranggapan bahwa, kalau suku Aus dan Khazraj menjadi bersatu di negeri ini, bangsa Yahudi nantinya tidak akan memperoleh tempat untuk berdiam. Lalu iapun menyuruh seorang pemuda Yahudi yang berjalan bersamanya seraya diperintahkan kepadanya, “Datanglah ke tempat mereka itu. Duduklah bersama mereka, kemudian bangkitkanlah kepada mereka kenangan perang Ba’ats. Pemuda ini kemudian mendatangi mereka seraya mengucapkan beberapa bait syair yang mengingatkan pertumpahan darah itu. Maka terjadilah pertengkaran di antara kedua suku tersebut sehingga ada dua orang dari suku ini yang melompat ke depan dan saling mengatai, sehingga terlontarlah ucapan “Demi Allah, kalau kalian bersedia, bolehlah kita mengulang kembali gejolak muda dahulu itu (maksudnya perang). Maka kedua suku ini terbakar oleh rasa marah dan menjawab, “Silakan, kami pun mau, Tunggulah di Harrah (satu tempat yang di luar Madinah).” Lalu mereka keluarlah ke tempat tersebut dan orang banyak sudah bersiap-siap. Suku Aus lalu berkumpul. Begitu pula suku Khazraj, memenuhi panggilan yang menjadi tradisi pada zaman Jahiliyah. Kejadian ini sampailah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau bersama dengan beberapa sahabat Muhajirin mendatangi mereka, kemudian mengingatkan, “Ingatlah kepada Allah ! Apakah kalian ini mengikuti ajakan Jahiliyah, padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian, lagi pula kalian telah diberi hidayah oleh Allah ke jalan Islam dan dijadikannya manusia terhormat serta dilepaskan dari ikatan Jahiliyah, diselamatkannya dari kekafiran dan dipersatukan hati kalian. Karena itu patutkah kalian kembali lagi kepada kekufuran yang dahulu itu ?”.

Segeralah kedua golongan ini menyadari percikan api syetan dan tipu daya dari musuh mereka. Kemudian mereka lemparkan senjata yang ada ditangan mereka, dan mereka menangis seraya saling berpelukan antara suku Aus dan Khazraj. Kemudian mereka pun bubar, pergi bersama Rasulullah dengan perasaan penuh kepasrahan. Dengan demikian Allah memadamkan tipu daya musuh Allah yaitu Sya’as bin Qois, yang memercikkan api dendam kepada mereka.

Riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat di atas dengan jelas menggambarkan betapa gigihnya bangsa Yahudi berusaha menghalangi manusia untuk berjalan kepada kebenaran.

Ayat di atas dengan keras memberikan teguran kepada bangsa Yahudi khususnya, dan ahli kitab umumnya. Kepada mereka ini Allah mengajukan pertanyaan , “Apa sebab kamu, wahai ahli kitab berupaya memalingkan orang-orang yang sudah beriman kepada Nabi Muhammad, yang sudah taat kepadanya, yang telah berbuat amal shaleh, berakhlaq luhur ? Mengapa kamu mendustakan mereka dengan penuh rasa kekufuran dan kedurhakaan, kedengkian dan. kesombongan? Mengapa pula kamu menimbulkan perasaan ragu dan bimbang yang bathil dengan penuh perasaan dengki serta tipu daya di tengah orang-orang Islam yang masih lemah imannya terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Kamu, wahai Ahli Kitab melakukan tindakan-tindakan semacam itu terhadap orang-orang yang berjalan pada jalan kebenaran dan menjadi pemeluk agama Allah adalah dengan maksud menyesatkan dan memalingkan dari jalan yang benar. Padahal bukankah kamu telah mengetahui jauh sebelumnya perihal Muhammad yang telah diberitakan kedatangannya pada kitab-kitab suci serta kamu pun sudah tahu bukti kebenaran kenabiannya. Karena itu tentulah tidak patut bagi kamu terus menerus mengikuti jalan yang bathil dan sesat serta berusaha menyesatkan orang”‘

Peringatan keras yang Allah tujukan kepada bangsa Yahudi sebagaimana tersebut dalam ayat ini membuktikan bahwa bangsa Yahudi tidak akan pernah lengah untuk mengatur segala macam cara untuk menyesatkan ummat manusia dan memalingkannya dari jalan yang benar.

48. BANGSA YANG SUKA BERPECAH BELAH DAN MERUSAK PAHAM AGAMA

Allah berfirman : (Qs. Ali-Imran : 105)

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang terpecah belah dan berselisih, sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Bagi mereka itulah siksa yang berat!

Golongan Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani, sepanjang sejarahnya gemar berpecah-belah dan menimbulkan pertentangan sesama kelompok agama mereka. Mereka telah menjadikan agama menjadi bermacam-macam aliran dan sekte, sehingga mencapai 72 golongan.

Masing-masing sekte bertentangan satu dengan lainnya. Mereka membela sektenya dengan semangat fanatik dan mempropagandakan kebenaran sektenya sendiri serta menganggap sekte yang lain sesat. oleh karena sejarah perjalanan agama Yahudi dan Nasrani penuh dengan warna peperangan dan permusuhan.

Timbulnya perpecahan di kalangan ummat Yahudi dan ummat Nasrani adalah karena tidak ada lagi di tengah mereka orang-orang yang mau menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, mengajak masyarakat kembali ke jalan Allah dan membina persatuan yang berdasarkan Tauhid. Bahkan kaum Yahudi terus menerus melahirkan doktrin-doktrin keagamaan yang baru, sehingga semakin mempertajam perbuaaan pendapat antara satu sekte dengan sekte lainnya, sehingga menyebabkan perang agama antar sekte.

Perpecahan yang terus menerus timbul sesama penganut agama Yahudi dan sesama penganut agama Nasrani mengakibatkan kerusakan moral dan mental pada pemimpin-pemimpin agama dan masyarakat mereka. Karena itu maka di dalam sejarah akhirnya bangsa Yahudi dapat dijajah oleh bangsa Romawi di sebelah barat dan bangsa Parsi di bagian timur. Perpecahan agama yang mereka lakukan ini akhirnya menimpakan derita dan kerugian terhadap mereka, baik nasib di dunia maupun siksa di akherat. Kegemaran bangsa Yahudi melakukan perpecahan dan merusak kemurnian agama Tauhid tidaklah berhenti sampai dengan sebelum munculnya Muhammad sebagai Rasul Allah, tetapi terus berlangsung hingga akhir zaman. Karakter Yahudi semacam ini tidak hanya berlaku di dalam tubuh agama mereka sendiri, tetapi akan mereka lakukan pula terhadap agama lain. Jadi perbuatan berpecah-belah dan membuat paham sesat di dalam agama adalah merupakan ciri watak bangsa Yahudi.

49. BANGSA YANG TAK SUKA MELIHAT KEBAIKAN UMMAT ISLAM

Allah berfirman : (QS. Ali-lmran : 118 – 120)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan selain (golongan) kamu sebagai teman dekat. Mereka tidak pernah lengah (berusaha) membahayakan kamu, dan menginginkan penderitaan kamu. Telah banyak kebencian pada mulut-mulut mereka, sedangkan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih hebat. Sungguh Kami telah menjelaskan kepada kamu tanda-tandarrya jika kamu mau berpikir:’ 118)

“Kamulah yang mencintai mereka, tetapi mereka tidak mencintai kamu. Kamu mengimani Kitab ini (Al- Qur’an) seluruhnya. Jika mereka bertemu dengan kamu, mereka berkata, “Kami telah beriman! Tetapi apabila mereka berpisah (dari kamu), mereka menggigit ujung-ujung jari lantaran geram bercampur benci kepada kamu. Katakanlah, “Matilah dengan kegemaran kamu yang bercampur kebencian itu Sungguh Allah Mengetahui isi dada mereka” 119)

“Jika kebaikan menyentuhmu, mereka susah, tetapi jika kecelakaan menimpamu, mereka bergembira karenanya. Dan jika kamu bersabar serta bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala perbuatan mereka 120)

Di dalam ayat-ayat ini dikatakan bahwa kaum Yahudi khususnya, dan semua golongan non-Islam mempunyai sifat-sifat negatif terhadap kaum Muslimin sebagai berikut:

  • a. selalu berusaha. menimbulkan kerugian
  • b. senang melihat kesusahan kaum Muslimin
  • c. menyimpan dendam di dalam hatinya tetapi berpura-pura berkata manis
  • d. tidak dapat mencintai kaum Muslimin dengan hati yang tulus
  • e. di saat bertemu sesama Yahudi, mereka merundingkan siasat pengrusakan terhadap kaum Muslimin.

Peristiwa sejarah pada zaman sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah membuktikan adanya ketidaksenangan bangsa Yahudi terhadap kemajuan Islam. Sebagai contoh adalah kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar.

“Sehari sebelum Nabi dan kaum Muslimin sampai di Madinah, kedua utusannya, Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawaha sudah lebih dulu sampai. Mereka memasuki kota dari jurusan yang berlainan, Dari atas unta yang dikendarainya itu Abdullah mengumumkan dan memberitahukan khabar gembira kepada kaum Anshar tentang kemenangan Rasulullah dan sahabat-sahabat, sambil menyebutkan siapa dari pihak musyrik yang terbunuh. Begitu juga Zaid bin Haritsah melakukan hal yang sama sambil menunggang Al-Qashwa’, unta kendaraan Nabi. Kaum Muslimin bergembira ria. Mereka berkumpul dan mereka yang masih berada di dalam rumah keluar beramai-ramai dan berangkat menyambut berita kemenangan besar ini.

Sebaliknya orang-orang musyrik dan orangorang Yahudi merasa dengki dan terpukul sekali dengan berita itu. Mereka berusaha akan meyakinkan diri mereka sendiri dan meyakinkan orang-orang Islam yang tinggal di Madinah, bahwa berita itu tidak benar.

“Muhammad sudah terbunuh dan teman-temannya sudah ditaklukkan,” teriak mereka. “Ini untanya seperti sudah sama-sama kita kenal. Kalau dia yang menang, niscaya unta ini masih di sana. Apa yang dikatakan Zaid bin Haritsah hanya mengigau saja, karena sudah gugup dan ketakutan”

Tetapi pihak Muslimin setelah mendapat kepastian yang benar dari kedua utusan itu dan yakin sekali akan kebenaran berita itu, sebenarnya mereka malah makin gembira, kalau tidak lalu terjadi peristiwa yang mengurangi rasa kegembiraan mereka itu, yakni peristiwa kematian Ruqayyah, putri Nabi. Tatkala ditinggalkan pergi ke medan perang Badar ia dalam keadaan sakit dan ditinggalkannya suaminya, Usman bin Affan, yang juga merawatnya.

Apabila kemudian ternyata Muhammad yang menang, mereka merasa sangat terkejut. Posisi mereka terhadap kaum Muslimin jadi lebih rendah dan hina sekali, sampai-sampai ada salah seorang pembesar Yahudi yang mengatakan, “Bagi kita sekarang lebih baik berkalang tanah daripada tinggal di atas bumi ini sesudah kaum bangsawan, pemimpin-pemimpin, dan pemuka-pemuka Arab serta penduduk tanah suci itu mendapat bencana!”

Pada ayat-ayat di atas kaum Muslimin diperingatkan bahwa kaum Yahudi dan golongan non-Islam lainnya sangat keras permusuhannya terhadap kaum Muslimin. Mereka tidak hanya berusaha menimbulkan kerugian materiel terhadap ummat Islam, tetapi lebih jauh selalu mencari saat dan kondisi yang tepat untuk menghancurkan ummat Islam sampai ke akar-akarnya. Hal ini terbukti dalam sejarah Islam pada peristiwa perang Ahzab atau perang Khandaq tahun 5 H. di kota Madinah.

Oleh karena itu kaum Muslimin tidak boleh bersangka baik kepada kaum Yahudi, yang mayoritas sangat benci dan dendam terhadap ummat Islam.

50. BANGSA YANG MENCELA ALLAH SEBAGAI SI FAKIR

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 181)

“Sungguh Allah telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan, “Allah itu sesungguhnya miskin, dan kamilah yang kaya”. Akan Kami catat perkataan mereka itu dan pembunuhan mereka terhadap Nabi-Nabi dengan cara yang tidak benar. Dan Kami katakan, “Rasakanlah siksa yang membakar.”

Diriwayatkan oleh Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa telah datang kepada Rasulul,lah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sekelompok Yahudi pada saat turunnya firman Allah:

“Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah sesuatu pinjaman yang baik,”saat itulah mereka berkata kepadaRasulullah, “Apakah Tuhanmu itu fakir sehingga meminta kepada hamba-Nya pinjaman? Kami adalah orang-orang yang kaya”. 

Demikianlah sebab turunnya ayat ini.

Bangsa Yahudi yang serba materialis dan bersikap formalistis menganggap bahwa seruan Allah kepada orang-orang beriman supaya mendermakan harta bendanya pada jalan kebajikan dan untuk kepentingan perbaikan kehidupan masyarakat tidak mendapatkan tanggapan yang semestinya, bahkan mengejek. Ejekan ini pertama, karena Al-Qur’an menggunakan kata kiasan, yaitu “Allah meminjam”, yang kemudian oleh bangsa Yahudi diartikan bahwa Allah itu miskin, karena meminta pinjaman kepada manusia.

Apa yang mendorong bangsa Yahudi mempunyai prasangka busuk terhadap seruan Allah agar manusia yang beriman memberikan pinjaman yang baik kepada Allah itu? Karena bangsa Yahudi terkenal sebagai bangsa yang kikir dan rakus, sehingga menyebabkan mereka menjadi lintah darat. Kebobrokan moral mereka menyebabkan lebih senang melakukan riba daripada mengeluarkan derma kepada orang-orang yang lemah dan miskin yang membutuhkan pertolongan mereka.

Kerakusan bangsa Yahudi terhadap harta benda telah menimbulkan keyakinan dan kepribadian yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu mereka menganggap bahwa berderma sama dengan melakukan tindakan yang merugikan kekayaan seseorang. Sebaliknya berlaku kikir mereka pandang sebagai melindungi harta kekayaan.

Atas dasar anggapan yang sesat ini, maka masyarakat Yahudi dengan sangat mencolok terlihat perbedaan golongan yang kaya dan yang miskin. Golongan miskin ini di tengah masyarakat mereka hanya menjadi sasaran pinjaman berbunga. Golongan miskin inilah yang selama ini memerlukan pinjaman yang baik (pinjaman tak berbunga) untuk dapat membiayai kehidupan mereka. Demikianlah realitas sosial dalam masyarakat Yahudi.

Tatkala turun seruan Allah agar orang-orang mukmin yang mampu mendermakan harta kekayaannya bagi kepentingan pembangunan masyarakat Islam di Madinah dan pembelaan terhadap perjuangan Islam, maka seruan ini oleh orang Yahudi dijadikan sasaran ejekan. Karena di dalam seruan berderma ini Allah gunakan kata- kata “memberi pinjaman”. Sikap orang Yahudi yang mengejek Allah sebagai si fakir membuktikan betapa bobroknya mental bangsa Yahudi dalam memenuhi kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Selain itu membuktikan bahwa bangsa Yahudi telah diperbudak oleh harta sehingga buta terhadap kewajiban untuk mendermakan sebagian hartanya – untuk kepentingan masyarakat.

Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 6)

Iklan

3 responses »

  1. […] Bersambung… KLIK DISINI UNTUK MELANJUTKAN […]

    Suka

  2. […] Selanjutnya: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 5) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s