Selanjutnya: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 5)


51. BANGSA YANG SENANG MEMBUAT UKURAN KEBENARAN MENURUT SELERANYA SENDIRI

Allah berfirman : (QS. Ali-Imran : 183)

“(Yaitu) orang-orang yang berkata, “Allah sesungguhnya telah menjanjikan kepada kamu, agar kami tidak mempercayai seorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kamu kurban yang dimakan api”, Katakanlah, “Telah datang kepadamu beberapa orang Rasul sebelumku dengan keterangan-keterangan dan dengan yang telah kamu katakan itu. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh mereka, jika kamu orang-orang yang benar ?”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa Ka’ab bin Asyraf dan Malik bin Shaif, Finhash bin Azwara’ dalam satu rombongan dengan orang-orang lain mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Wahai Muhammad, engkau telah menganggap dirimu sebagai rasul Allah, engkaupun diberi wahyu oleh Tuhan, akan tetapi di dalam Taurat, Tuhan telah memberitahu kepada kami, agar tidak beriman kepada seseorang Rasul sebelum ia dapat memberikan pengorbanan yang dimakan api kepada kami. Dan apinya mempunyai bunyi berdengung pelan ketika turun dari langit. Jika engkau dapat menunjukkan hal seperti ini kepada kami, tentulah kami akan mengetahui kebenaranmu.”

Menurut riwayat Ibnu Jarir, bahwa pernah terjadi pada salah seorang di antara mereka yang memberikan sedekah. Jika sedekah itu diterima oleh Tuhan, lalu turunlah api kepadanya dari langit lalu sedekah itu dimakan oleh api.

Sebenarnya apa yang mereka katakan sebagai pernberitahuan Tuhan di dalam Taurat itu adalah dengung yang penuh dengan kebohongan belaka. Terjadinya sesuatu sedekah atau korban yang dimakan api sebagai bukti penerimaan Tuhan kepada pemberi korban atau sedekah adalah semata-mata suatu bentuk mukjizat, bukan sesuatu syarat untuk keimanan seseorang. Dongeng yang dibawakan oleh orang Yahudi di atas pada dasarnya dimaksudkan untuk menjadi alasan tidak beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena Rasulullah tidak pernah mengemukakan bukti sesuai dengan permintaan mereka itu.

Syarat yang ditetapkan oleh orang Yahudi untuk menolak dan menerima kebenaran yang dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah suatu kebohongan yang diselimuti dengan kedok agama. Bahkan Al-Qur’an balik bertanya kepada bangsa Yahudi, mengapa mereka membunuh Nabi Zakariya, Yahya dan lain-lain, yang notabene telah membawa mukjizat sesuai dengan kehendak mereka dan dari bangsa mereka sendiri ? Blla benar bahwa seseorang Rasul itu terbukti benar pengakuannya bila telah menunjukkan bukti sebagaimana mereka inginkan, tetapi mengapa mereka tetap ingin membunuhnya ? Mengapa bangsa Yahudi begitu berani membuat ukuran kebenaran berdasarkan hawa nafsu sendiri ? Mengapa pula mereka menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan selera mereka ?

Ayat ini menegaskan karakter bangsa Yahudi bahwa mereka tidak pernah mau mengakui kebenaran apapun, bila bertentangan dengan selera dan kehendak mereka. Sebaliknya bangsa Yahudi dengan keras kepala menyalahkan kebenaran, walaupun datangnya dari Allah sendiri.

52. BANGSA YANG SUKA MENCARI PUJIAN PALSU

Allah berfirman : (QS. Ali-Amran : 188)

“Janganlah kamu sama sekali mengira orangorang yang bersuka ria dengan perbuatannya dan suka dipuji dengan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh mereka. Janganlah kamu sangka mereka itu akan selamat dari adzab. Akan tetapi, bagi mereka itu adzab yang pedih”.

Ayat ini menjelaskan bahwa golongan Ahli Kitab, Yahudi khususnya senang sekali mendapat pujian terhadap hal-hal yang tidak turut mereka lakukan. Di dalam sejarah disebutkan bahwa golongan Ahli Kitab ini telah melakukan penyelewengan dan memutarbalikkan isi kitab suci mereka. Kejahatan ini mereka lakukan dengan perasaan bangga. Sebaliknya di kalangan mereka pun terdapat segolongan kecil yang masih penuh keteguhan hati menjaga kemurnian kitab suci mereka. Golongan kecil inilah yang oleh Allah dijadikan sebagai tauladan bagi ummat yang lain.

Namun mayoritas golongan Yahudi yang durhaka ini merasa turut bergembira terhadap prestasi golongan kecil yang patut menjadi tauladan ini. Terhadap mereka inilah ayat Al-Qur’an ini menyatakan kritik dan kecamannya. Sebab golongan mayoritas tersebut adalah rusak dan menjadi penyebab ummat manusia jauh dari hidayah Allah, sehingga menimbulkan bencana di muka bumi.

Perilaku bangsa Yahudi yang merasa bangga mendapat pujian sebagaimana tersebut dalam riwayat di atas, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang yang merusak agama menunjukkan bobroknya akhlaq mereka. Kebobrokan mereka ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

  • Pertama, kecintaan mereka kepada hal-hal yang menggiurkan, sebab pujian dapat menjadikan seseorang terpesona pada kesenangan yang palsu.
  • Kedua, karena ingin menghilangkan jejak kejahatan yang dilakukannya, sehingga masyarakat melupakan keburukannya. Dengan adanya mayoritas bangsa Yahudi yang durhaka ini turut merasa bangga atas tindakan beberapa orang pendeta Yahudi yang jujur adalah dimaksudkan untuk mengelabui ummat manusia dan menghilangkan jejak kejahatan mereka. Karena itu kaum Mukminin diperingatkan oleh Allah agar jangan terpedaya oleh tingkah laku bangsa Yahudi yang jahat itu.

53. BANGSA YANG MERASA DIRINYA PALING BERSIH

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 49)

“Tiadakah kamu perhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendakiNya, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari AI-Hasan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kasus Yahudi dan Nasrani karena mereka menyatakan sebagai kekasih Allah (Qs. Al- Maidah ayat 18), tidak akan ada manusia yang masuk syurga kecuali mereka sendiri (QS. Al-Baqarah ayat 111), dan mereka masuk neraka hanya beberapa hari saja (QS. Al-Baqarah ayat 80). Diriwayatkan dari As-Sudy, ia mengatakan, “Ayat ini turun dalam kasus orang Yahudi, karena mereka mengatakan, “Kami sekalian anak keturunan Taurat adalah (bagaikan) anak kecil. Karena itu mereka (anak-anak kecil) tidak mempunyai dosa. Dosa-dosa kami ibarat dosa anak-anak kecil kami. Dosa yang kami lakukan pada siang hari akan diampuni pada malam hari.”

Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada artinya bagi bangsa Yahudi punya anggapan dirinya sebagai manusia bersih, sebagai kekasih Allah dan bangsa pilihan, sehingga tidak akan mengalami siksa neraka, kecuali sebentar. Bangsa Yahudi yang membanggakan diri sebagai keturunan dari para Nabi dan penerima kitab-kitab suci adalah sia-sia belaka, kalau tidak beramal shaleh dan beriman.

Allah sama sekali tidak membedakan suatu bangsa, suatu suku dan suatu keturunan di dalam memberikan hidayah kepada jalan kebenaran, amal shaleh dan akhlaq mulia. Siapa pun orangnya, apapun bangsanya dan keburukannya dapat membersihkan dirinya dari segala macam. dosa, asalkan ia mau beriman dan beramal shaleh.

Bangsa Yahudi yang beranggapan sebagai keiompok manusia yang bersih, karena berdasarkan ras, keturunan dan nenek moyangnya yang banyak menjadi Nabi adalah satu kebohongan. Karena Allah telah menetapkan ketentuan bahwa seseorang hanya dapat menjadi bersih, bila ia beramal shaleh, aqidah benar, berakhlaq mulia dan mengikuti jalan orang-orang yang beriman.

Ayat ini mengandung dua pelajaran, sebagai berikut:

  1. Allah hanya menilai seseorang berdasarkan amal shaleh dan keimanannya yang benar. Seseorang musyrik, bila beramal shaleh dengan penuh perasaan tulus, maka siksanya akan dikurangi. Hal ini disebutkan dalam beberapa hadits Rasulullah yang menerangkan bahwa seorang dermawan bernama Hatim At-Thai diringankan siksanya di neraka, karena kedermawanannya.
  2. Seseorang yang hanya berbangga dengan keunggulan agamanya dan kebenaran ajaran-ajarannya, tetapi ia sendiri tidak melaksanakan apa yang menjadi perintah agamanya, maka ia tidak akan lepas dari siksa api neraka. Hal semacam ini adalah karakter yang dimiliki oleh bangsa Yahudi, sebagairriana penuturan, ayat ini.

54. BANGSA YANG SERING MEMERAS ORANG LAIN APABILA BERKUASA

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 53)

“Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.”

Bangsa Yahudi sangat egois dan bakhil serta berat untuk bersikap sedikit menguntungkan orang-orang di luar Yahudi. Bilamana mereka mempunyai kekuasaan, sangat kuat keinginannya membendung keuntungan jatuh pada orang lain, sekalipun keuntungan yang sedikit. Bangsa semacam ini sikapnya sudah pasti sangat berkeinginan agar jangan muncul dikalangan bangsa Arab seorang Nabi pun, yang nanti memiliki sahabat-sahabat yang dapat membangun kekuasaan untuk menundukkan Bani Israill. Karakter Yahudi ini tetap dimiliki sampai hari ini. Bilamana mereka telah dapat memperoleh kekuasaan untuk kembali memegang Baitul Maqdis dan wilayah sekitarnya, sudah pasti kaum Muslimin dan ummat Kristen akan diusir dari tanah Qudus itu dan sama sekali tidak akan diberi bagian.

Tetapi adakah kekuasaan yang mereka inginkan itu akan teraih? Di dalam ayat ini tidak terdapat pembenaran ataupun pengingkaran. Tetapi ayat ini hanya menjelaskan bagaimana karakter mereka sekiranya ambisi mereka itu berhasil.

Apa sebab bangsa Yahudi senang memeras bangsa lain bila memegang kekuasaan?

Ayat 54 QS. An-Nissa menjelaskan sebab-sebabnya sebagai berikut:

  1. Tidak senang melihat manusia lain memperoleh kelapangan rezeki dari Allah, sehingga menjadi bangsa yang lebih hebat dari bangsa Yahudi.
  2. 2. Mereka dengki melihat kejayaan ummat Islam, sehingga menyebabkan mereka menjadi lemah dan tidak dapat menguasai dunia.

Maka untuk mencegah jangan sampai ummat Islam memperoleh kejayaan dan bangsa-bangsa lain menjadi lebih kuat ekonomi maupun pengetahuannya, karenanya mereka selalu memeras bangsa lain.

Abad XX ini telah membuktikan bagaimana bangsa Yahudi memeras bangsa Jerman, sehingga menyebabkan Hitler memimpin bangsa Jerman membinasakan bangsa Yahudi.*) ——-
*) Gerakan Zionisme Internasional Yahudi memang bertujuan untuk memeras dan menguasai seluruh dunia, sehingga dunia tunduk dan jadi budaknya Yahudi. Cuma sayangnya banyak orang Islam yang kurang memahami makna ayat ini dan bukti rencana kejahatan mereka.

55. BANGSA YANG SELALU DENGKI KEPADA KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN

Allah berfirman : (An-Nisa : 54)

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepada manusia itu? Sungguh Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”.

Bangsa Yahudi menyaksikan bahwa Nabi Muhammad selain memperoleh nikmat kenabian juga setiap hari Allah memberikan kekuatan yang bertambah besar, sehingga negara Madinah bertambah kuat, bertambah besar pengaruhnya dan bertambah banyak pengikutnya. Perkembangan semacam ini membuat bangsa Yahudi semakin dengki kepada beliau.

Bangsa Yahudi dengki kepada Nabi Muhammad karena keberuntungan yang beliau terima setiap hari semakin besar. Allah menegaskan bahwa kedeng kian yang muncul pada diri bangsa Yahudi terhadap Nabi Muhammad, karena nikmat yang bertambah besar pada beliau sebenarnya adalah satu kesalahan mereka. Sebab nikmat yang Allah berikan kepada Nabi semacam ini bukanlah hal baru. Dahulu pun bangsa Yahudi pernah memperoleh berlimpah nikmat dari Allah, sebagaimana yang pernah diterima oleh Nabi Ibrahim dan keturunannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. sebenarnya adalah bagian dari keluarga Ibrahim lewat silsilah Nabi Ismail. Berdasarkan ikatan keturunan semacam ini adalah salah satu sikap tercela, bila bangsa Yahudi dengki kepada nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad. Mengapa bangsa Yahudi tidak merasa heran, bila mereka menerima limpahan nikmat dari Allah, tetapi merasa heran kalau Allah memberikan nikmat-Nya kepada Nabi Muhammad? Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. juga sedarah daging dengan bangsa Yahudi karena berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Nabi Ibrahim.

Bangsa Yahudi, karena mungkin telah silau dan terpedaya oleh berbagai karunia Allah sebelumnya, lalu mereka punya anggapan bahwa karunia Allah itu semata- mata menjadi hak mereka, orang lain tidak ada yang berhak. Atau mereka beranggapan bahwa orang lain hanya patut mendapat karunia Allah sedikit. Atau mungkin mereka beranggapan bahwa alam ini seluruhnya berada di dalam kekuasaan mereka, sehingga tidak patut orang lain memperoleh bagian nikmat Ilahi, sekalipun sebesar kulit bawang.

Setelah bangsa Yahudi melihat fakta yang ada di sekitarnya sangat bertentangan dengan harapan dan angan-angannya, maka semangat kedengkiannya muncul. Mereka melihat bahwa di tengah bangsa Arab muncul seorang Rasul yang telah dijanjikan di dalam Kitab suci mereka, padahal keadaan semacam ini tidak mereka inginkan. Mereka pun melihat bangsa Arab yang tadinya hidup dalam alam Jahiliyah, kini kemudian tampil sebagai golongan manusia yang menerima kitab suci, pengetahuan Ilahiyah dan semakin dekat untuk meraih kekuasaan guna menjadi pemimpin dunia.

Ayat ini telah mengandung satu isyarat bahwa bangsa Arab yang telah menjadi Muslim, di samping memperoleh nikmat kenabian dan kitab suci, juga diperingatkan untuk waspada terhadap segala kelicikan bangsa Yahudi. Kaum Muslimin yang pada saat itu terdiri dari bangsa Arab telah memperlihatkan tanda- tanda untuk menjadi kekuatan yang besar, sehingga mampu mengalahkan bangsa Yahudi maupun kaum yang lain.

Ringkasnya, Allah memperingatkan kepada kaum Muslimin bahwa pada diri bangsa Yahudi melekat sikap kedengkian pada orang-orang non-Yahudi. Karena mereka beranggapan bahwa orang selain Yahudi tidak berhak memperoleh limpahan karunia Allah.

56. BANGSA YANG SENANG MEMBUAT KELALIMAN DALAM HUKUM

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 60)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka kepada kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

Bangsa Yahudi mengaku beriman kepada para Rasul mereka dan kitab-kitab suci yang dibawa oleh para Rasul itu. Kitab-kitab suci para Nabi Bani Israil berisikan perintah untuk menjalankan syari’at Allah dan menjauhi larangan Allah. Seseorang yang mengaku beriman kepada kitab suci para Nabi tidak patut meninggalkan perintah agamanya, selama dia mampu. Bila ia meninggalkan atau melanggar larangan-Nya menunjukkan bahwa iman yang dinyatakannya itu tidak meresap kedalam hatinya. Maka apakah lagi kalau orang yang mengaku beriman selalu melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari’at yang dibawa para Nabinya.

Bangsa Yahudi di masa Nabi Muhammad dengan dalih yang dibuat-buat menolak berhakim kepada Nabi Muhammad, tetapi mereka rela menerima ketetapan yang berasal dari para dukun atau pendeta-pendeta yang sesat. Di antara dukun dan pendeta sesat itu ialah Abu Barza al Aslany dan Ka’ab bin Asyraf. Sikap mereka semacam ini membuktikan bahwa iman mereka benar-benar palsu. Karena kitab suci mereka menyuruh agar mereka menjauhkan diri dari kesesatan dan jalan syetan. Namun ternyata mereka justru mengikuti seruan dukun dan pendeta yang sesat.

Perbuatan bangsa Yahudi mengikuti ajakan pendeta dan dukun atau mematuhi nasihat pendeta dan dukun dan menolak ketetapan yang dikeluarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tindakan dhalim terhadap prinsip iman dan tauhid. Karena perbuatan sesat menjerumuskan pelakunya kepada siksa neraka. Dan orang-orang yang memperoleh siksa neraka adalah karena kedhaliman terhadap dirinya.

Yang dapat dikategorikan sebagai orang dhalim terhadap ketentuan rasul dan kitab suci ialah orang-orang yang percaya kepada nasihat Dajjal, misalnya percaya omongan peramal nasib, percaya kekuatan jimat ataupun percaya pada keampuhan wali.

Ayat ini pun mengisyaratkan bahwa setiap orang yang mengingkari ketetapan Rasul dan Kitab Suci Ilahi, baik karena ragu-ragu maupun terang-terangan mengingkari berarti kafir. Itulah sebabnya para sahabat Nabi berpendapat bahwa orang yang menolak membayar kewajiban zakat adalah murtad, sehingga ia halal dibunuh dan disita hartanya.

57. BANGSA YANG BERUSAHA MEMPENGARUHI KE ARAH KERUSAKAN APABILA DIJADIKAN TEMAN

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 89)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah kepada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung dan jangan (pula) menjadi penolong”

Pada bab 41 telah dijelaskan bahwa bangsa Yahudi paling senang membuat siasat keragu-rangan pada orang lain terhadap kebenaran agama Islam.

Siasat yang mereka lakukan berupa menyuruh golongan mereka sendiri bersikap munafiq terhadap Islam. Karena itu pada dasarnya tindakan kaum munafiq di Madinah terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dipelopori oleh bangsa Yahudi.

Kaum munafiq, termasuk di dalamnya kaum munafiq yang didalangi bangsa Yahudi, tidak rela mengalami kesesatan atau berjalan pada jalur kesesatan sendirian. Mereka ini berusaha keras menyeret kaum Muslimin ke dalam kesesatan, sehingga Islam tiada punya penganut lagi. Sikap bangsa Yahudi yang mempelopori kemunafiqan semacam ini adalah suatu kekufuran yang keterlaluan. Sebab mereka tidak hanya berbuat kesesatan untuk diri sendiri, tetapi merasa tidak puas sebelum dapat menyeret orang lain masuk di dalam kesesatan pula.

Oleh karena watak kaum munafiq semacam ini, maka Allah memperingatkan agar setiap orang mukmin jangan sampai berteman dengan mereka. Begitu pula jangan sampai seorang mukmin mempercayakan urusannya kepada kaum munafiq ini. Karena bangsa Yahudi yang selalu bersiasat munafiq terhadap Islam sama sekali tidak mengharapkan orang-orang mukmin menikmati kesenangan. Orang-orang munafiq ini tidaklah mau turut membantu kaum Muslimin yang ada di dalam bahaya.

Menghadapi upaya kaum munafiq, yang di dalamnya termasuk orang-orang yang disponsori oleh bangsa Yahudi, maka kaum Muslimin diperintahkan bersikap keras kepada mereka. Sebab bagaimanapun juga mereka adalah golongan yang membahayakan masyarakat Islam. Mereka selalu berusaha merusak akhlaq ummat Islam dengan cara apapun.

Ayat ini memberikan petunjuk kepada kaum Muslimin dalam mengatasi bahaya rayuan kaum munafiq, termasuk bangsa Yahudi sebagai biang keladinya, ialah dengan jalan menawan mereka, atau membunuh mereka, bila mereka senantiasa mengganggu kaum Muslimin.

55. BANGSA YANG SENANG MEMPERMAINKAN PARA NABI

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 153)

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar, dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata” Lalu mereka disambar petir karena kedhalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa kekuatan yang nyata!”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, katanya, “Kaum Yahudi berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Kami tidak akan membaiat anda pada ajakan yang anda serukan kepada kami, sebelum anda dapat membawakan sebuah Kitab suci dari sisi Allah yang di dalamnya tertulis: (“Dari Allah kepada si Fulan. Engkau sesungguhnya adalah utusan Allah, Engkau sesungguhnya utusan Allah”). Begitulah, lalu mereka menyebutkan beberapa nama pendeta-pendeta mereka. Tujuan permintaan mereka itu hanyalah untuk mempersulit dan membikin susah bukan untuk mencari dalil yang bisa memuaskan hati”. Al-Hasan berkata, “Sekiranya orang-orang Yahudi ini mengajukan permintaan tersebut dengan tujuan mencari hidayah, niscaya Allah akan memberikannya kepada mereka.”

Ayat ini mengingatkan agar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jangan merasa heran dan jangan merasa aneh menghadapi permintaan bangsa Yahudi yang tidak rasional itu. Karena pada zaman Nabi Musa pun mereka pernah mengajukan permintaan yang lebih berat dari itu. Permintaan bangsa Yahudi kepada Nabi ini hanyalah membuktikan betapa jahil dan kerasnya penolakan mereka kepada kebenaran.

Permintaan bangsa Yahudi kepada Nabi Musa untuk melihat Allah dengan mata kepala adalah bukti kejahilan luar biasa. Karena berarti mereka menganggap Allah itu berjasad sebagaimana dengan benda-benda yang ada di alam ini. Sedangkan permintaan mereka kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar dapat membawakan kitab suci yang tertulis dari langit membuktikan salah satu dari dua kemungkinan. Pertama, membuktikan kebodohan mereka dalam memahami hakekat kenabian dan kerasulan. Padahal banyak para Nabi dari bangsa Yahudi yang datang kepada mereka tanpa membawa lembaran-lembaran tulisan kitab suci. Kedua, karena keingkaran mereka kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bangsa Yahudi yang biasa terpesona dengan sihir dan terpengaruh mental materialisme tidak dapat membedakan antara mukjizat yang diterima oleh para Nabi dengan keanehan yang diperbuat oleh ahli sihir. Bangsa Yahudi selalu bersikap ingkar di dalam menerima penjelasan kebenaran apapun yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Ayat ini lebih jauh menjelaskan, bahwa generasi bangsa Yahudi di masa Nabi Musa telah pernah disambar petir karena perilakunya yang penuh kejahilan dan penuh keingkaran kepada Nabi Musa. Di zaman Nabi Musa mereka telah melihat berbagai macam mukjizat, misalnya: tongkat menjadi ular, tangannya keluar sinar, laut menjadi daratan dan lain sebagainya. Walaupun begitu, ternyata bangsa Yahudi masih membuat patung anak sapi untuk disembah sebagai Tuhan.

Bangsa Yahudi di zaman Nabi Musa karena kedurhakaannya, pernah diperintahkan melakukan bunuh diri. Nabi Musa dikaruniai Allah kekuatan yang luar biasa, sehingga dapat menjadikan bangsa Yahudi patuh kepadanya.

Ayat ini pada dasarnya memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa bangsa Yahudi yang suka melawan beliau itu, pada akhirnya akan tunduk dan menyerah kepada beliau. Dengan kabar gembira ini, diharapkan bahwa kaum Muslimin tidak berputus asa menghadapi perilaku bangsa Yahudi yang penuh kejahilan dan keingkaran terhadap Islam.

59. BANGSA YANG MENGAKU MEMBUNUH NABI ISA AS.

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 157)

“Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh A1-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, “padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa:’

Bangsa Yahudi, karena keingkarannya kepada Nabi Isa as, mereka berupaya untuk membunuhnya. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa mereka telah berhasil membunuh dan menyalib Nabi Isa sampai wafat. Namun sebenarnya mereka tidak berhasil membunuh maupun menyalib Nabi Isa. Karena ketika mereka mengepung rumah yang menjadi tempat persembunyian Nabi Isa, dengan tiba-tiba mereka berselisih, yaitu apakah orang yang ada di depan mereka itu Isa atau bukan. Pada saat Nabi Isa terkepung masuklah seseorang yang mirip dengan beliau. Dan sebenarnya orang ini adalah murid Nabi Isa yang telah berkhianat. Di dalam Injil Mathius : 26 : 31 dan Markus : 14 : 28, Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya: “Kamu sekalian pada malam ini sedang dalam kebingungan”, maksudnya pada malam orang-orang Yahudi mencari Nabi Isa untuk dibunuh. Memang pada malam itu murid Isa yang bernama Yudas Askariyet, orang yang berkhianat itu, mirip benar dengan Nabi Isa. Sehingga orang Yahudi yang mengejarnya menyangka dia sebagai Nabi Isa. Bangsa Yahudi sebenarnya tidak pernah yakin telah membunuh Nabi Isa bin Maryam. Sebab mereka tidak pernah mengenalnya sendiri. Injil-Injil dengan terus terang menjelaskan bahwa seseorang yang diserahkan oleh orang-orang Yahudi kepada tentara musuh Isa as. adalah Yudas Askariyet. Orang inilah yang menuntun tentara musuh menuju persembunyian Nabi Isa. Menurut Injil Barnabas, tentara musuh ini menangkap Yudas sendiri, karena mengira dialah Isa, sebab wajahnya mirip beliau.

Bangsa Yahudi, yang karena salah penglihatan, menganggap telah membunuh dan menyalib Nabi Isa, adalah suatu kejadian yang lumrah. Sebab banyak kejadian yang serupa, yaitu salah penglihatan yang terjadi dalam banyak peristiwa. Sebagai contoh adalah peristiwa berikut ini.

Ada beberapa penulis bidang kedokteran Kehakiman dari Inggris menyebutkan satu peristiwa peradilan yang terjadi pada tahun 1539 M di Perancis.

Peradilan ini menghadirkan 150 orang saksi yang mengenal seseorang yang bernama Martin Guir. 40 dari 150 yang hadir menyatakan bahwa orang tersebut benar-benar Martin. 50 orang lainnya menyatakan bukan, sedangkan selebihnya ragu-ragu apakah orang itu Martin atau bukan. Setelah dilakukan penelitian yang cermat terbukti bahwa orang tersebut bukan Martin. Karena itu 40 orang yang menyatakan sebagai Martin tertipu. Padahal pada saat itu sesungguhnya Martin tinggal bersama istrinya di tengah kerabat dan teman-temannya serta para kenalannya. Dan dia hidup 3 tahun kemudian dari peristiwa pembunuhan yang terjadi hari itu. Mereka semua menyatakan bahwa Martin benar-benar hidup. Tatkala Mahkamah menetapkan bahwa apa yang telah dilakukan sebenarnya adalah bohong berdasarkan bukti-bukti yang meyakinkan lalu pengadilan mengadakan sidang ulang pada pengadilan lain. Dalam pengadilan ini dihadirkan 30 orang saksi. 13 di antaranya bersumpah bahwa orang yang dihadapkan adalah Martin. 7 orang lainnya menyatakan bukan, dan yang lainnya ragu-ragu.

Dengan membandingkan peristiwa Nabi Isa as. dengan kasus Martin Guir, kita dapatkan memperoleh kesimpulan bahwa pengakuan bangsa Yahudi berhasil membunuh Nabi Isa dan menyalibnya adalah dusta belaka.

60. BANGSA YANG DIHARAMKAN ALLAH MEMAKAN MAKANAN YANG BAIK

Allah berfirman : (QS. An-Nisa : 160)

“Maka karena kedzalimannya, orang-orang Yahudi Kami haramkan kepada mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang telah) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah”.

Kedzaliman yang pada umumnya dilakukan oleh bangsa Yahudi ialah memakan riba dan harta orang lain dengan jalan bathil. Jalan bathil yang mereka lakukan itu antara lain: korupsi, khianat, berbuat dosa, berbuat jahat dan lain-lain. Karena kedzaliman inilah, semakin hari makanan yang semula halal kemudian diharamkan kepada mereka. Setiap kali mereka melakukan perbuatan dosa, lalu pada mereka diharamkan jenis makanan halal tertentu. Walaupun sudah diberi hukuman semacam ini, bangsa Yahudi pandai mencari dalih kebohongan, yaitu mereka mengatakan: “Kami bukanlah manusia pertama yang dilarang memakan barang semacam ini. Tetapi hal ini sudah diharamkan semenjak zaman Nabi Nuh dan Ibrahim”. Perkataan mereka ini dibantah oleh Allah di dalam surat Ali-Imran ayat 93.

Makan-makanan halal yang diharamkan kepada bangsa Yahudi sebagai hukuman itu di antaranya tersebut pada Surat Al-An’am ayat 146. Di dalam ayat ini secara umum disebutkan makanan yang diharamkan kepada mereka, sebagai hukuman atas kedzaliman mereka.

Perbuatan dzalim apapun bentuknya menyebabkan gangguan kehidupan masyarakat, merusak kesejahteraan sosial dan melemahkan kekuatan masyarakat itu sendiri.

Bangsa Yahudi gemar melakukan kedurhakaan yang menyebabkan dirinya sendiri dan orang lain tidak mentaati Allah. Di masa Musa mereka berkali-kali melakukan perlawanan ataupun penolakan terhadap perintah-perintah beliau. Begitu pula bangsa Yahudi senang merintangi orang lain berbakti kepada Allah dengan jalan membikin contoh tidak baik di tengah masyarakat atau mengajak masyarakat itu sendiri berbuat durhaka. Tingkah laku Yahudi semacam inilah yang dinamakan berbuat dzalim, sehingga mereka diharamkan memakan makanan yang baik.

Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 7)

Iklan

2 responses »

  1. […] Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 6) […]

    Suka

  2. […] Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 6) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s