Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 7)


69. BANGSA YANG MENGATAKAN ALLAH ITU BAKHIL

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 64)

”Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan perkataan mereka itu. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka: Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran pada sebagian besar mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.

Ibnu Ishaq dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Seorang Yahudi bernama Mubasy bin Qais berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tuhanmu itu sungguh kikir, tidak mau mengeluarkan pembelanjaan”. Lalu Allah menurunkan ayat-Nya ini (ayat 64), Abu Syeh meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan bertalian dengan kasus Fankash seorang tokoh Yahudi suku Qainuqa. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah sama seperti ini. Dan diriwayatkan dari Mujahid bahwa kaum Yahudi berkata “Allah menyempitkan kita wahai Bani Israil, sehingga tangan-Nya dimasukkan ke tempat penyembelihan-Nya.” Kata-kata mereka ini bermakna, bahwa Allah menyempitkan rezki mereka (mereka hidup serba kekurangan). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga, beliau berkata; “Perkataan mereka (tangan Allah terbelenggu) bukanlah mereka maksudkan bahwa tangan Allah itu terikat, tetapi maksudnya “Allah itu bakhil”, menahan segala rezki yang dimiliki-Nya. Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Maha Suci dan sifat-sifat yang dikatakan oleh orang-orang dhalim itu.

Yang berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, hanyalah sebagian orang Yahudi saja. Tetapi seluruh bangsa Yahudi terkait di dalamnya. Sebab anggota suatu masyarakat satu dengan yang lainnya punya kewajiban bertanggung jawab kepada seluruh masyarakatnya. Sebab suatu masyarakat adalah bagaikan satu tubuh. Dalam semua zaman manusia sering menimpakan perbuatan orang-orang tertentu dari suatu ummat kepada seluruh ummat itu sendiri. Dan telah menjadi suatu kebiasaan Al- Qur’an melibatkan generasi belakangannya terhadap perkataan dan perbuatan generasi sebelumnya yang sudah lewat beberapa abad.

Munculnya anggapan di kalangan bangsa Yahudi, bahwa Allah itu tangan-Nya terbelenggu atau Allah itu bakhil, karena kemelaratan yang diderita sebagian besar mereka. Mereka bertanya, mengapa Allah menjadikan sebagian besar manusia ini hidup dalam kemelaratan ? Mengapa manusia ini semua tidak dijadikan oleh Allah hidup berkecukupan padahal Allah itu Maha Pemurah dan Maha Luas karunia-Nya? Terjadinya kemelaratan yang merajalela di tengah bangsa Yahudi adalah karena tingkah laku mereka sendiri. Golongan kaya dari kalangan bangsa Yahudi tidak mau mengulurkan tangan untuk mengeluarkan infaq dan memberikan bantuan materiel bagi kepentingan masyarakatnya. Mereka adalah golongan manusia yang paling bakhil. Tidak ada seseorang Yahudi bersedia memberikan sesuatu kepada orang lain secara sukarela, atau tanpa imbalan keuntungan bagi dirinya. Bahkan Allah telah melaknat mereka karena sikap kebakhilannya dan anggapannya yang penuh kebohongan bahwa Allah itu bakhil.

Keluasan rahmat Allah dan melimpahnya pemberian-Nya kepada hamba-Nya bukanlah turun begitu saja. Tetapi Allah telah menetapkan aturan permainan, bagaimana cara manusia dapat meraih kemurahan dan luasnya rahmat-Nya. Maka manusia yang ingin memperoleh hidup serta berkecukupan sehingga tidak ada lagi kemelaratan di tengah masyarakat, maka manusia wajib menempuh cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah itu.

Bangsa Yahudi, sebagai golongan manusia yang serta bakhil, setelah melakukan kedurhakaan begitu rupa kepada Allah, dengan angan-angan kosongnya mengharapkan segenap masyarakat Yahudi dapat hidup kaya, tanpa mau mematuhi ketentuan-ketentuan Ilahi. Jalan pikiran bangsa Yahudi semacam ini, kemudian berbalik menyatakan, bahwa kemelaratan yang diderita oleh ummat manusia adalah karena Allah itu bersifat bakhil. Sungguh patut bangsa Yahudi mendapat laknat Allah karena dalih penuh dengan kebohongan ini.

70. BANGSA YANG GEMAR MEMBANGKITKAN PEPERANGAN

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 64)

“Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan perkataan mereka itu. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan den kekafiran pada sebagian besar mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan“.

Antara bangsa Yahudi dan ummat Nasrani senantiasa timbul rasa permusuhan dan kebencian sampal hari kiamat. Salah satu contoh dari permusuhan ini dengan hebat dapat kita saksikan di Rusia dan di Jerman. Sedangkan di Inggris, Perancis dan negri-negri Eropa lainnya sedikit berkurang.

Bangsa Yahudi mempunyai pengaruh yang dominan dalam berbagai bidang usaha keuangan, sosial dan politik di negri-negri Barat, yang mayoritas rakyatnya beragama Kristen. Bangsa Yahudi ditempat-tempat ini tak pernah diterima secara bersahabat oleh bangsa-bangsa tersebut, tetapi dipandang dengan penuh kebencian dan permusuhan.

Di Perancis dan negara-negara lain telah banyak ditulis buku-buku yang berisikan semangat permusuhan terhadap bangsa Yahudi, sedangkan bangsa Jerman dan negara-negara tetangganya setelah perang Dunia II berusaha memencilkan mereka, sehingga bangsa ini dalam pandangan mereka adalah bangsa yang terkeji di dunia. Demikianlah pula perasaan permusuhan antara sesama kaum Nasrani terus menerus berkobar yang berkali-kali muncul antara negara-negara adidaya. Mereka sesamanya selalu bersiap-slap untuk berperang guna saling menghancurkan.

Peperangan yang sekarang sedang berjalan antara sesama negara-negara Kristen dapat menjadi bukti terkuat kebenaran pernyataan ayat ini.

Di dalam sejarah sudah begitu terkenal riwayat bangsa Yahudi yang merayu kaum musyrikin bangsa Arab untuk memerangi Islam dan Nabinya. Mereka tidak henti- hentinya menghasut bangsa Romawi untuk memerangi pusat Islam di kota Madinah. Sebagian dari tokoh-tokoh Yahudi memberikan perlindungan dan bantuan kepada musuh-musuh Islam. Sikap permusuhan dan kegemaran membangkitkan peperangan terhadap ummat Islam didorong oleh kedengkian dan rasialisme serta hilangnya pengaruh para pendeta dari tengah masyarakat. Sebab sebelum munculnya kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, wilayah Hijaz khususnya dan Jazirah Arab pada umumnya berada di bawah Hegemoni bangsa Yahudi yang meliputi bidang ilmu pengetahuan, keagamaan, ekonomi dan politik.

Permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum Muslimin semata-mata bersifat politik kebangsaan bukan karena perjuangan agama ataupun semangat keagamaan. Sebagai bukti kebenaran pernyataan ini adalah karena kaum Yahudi di belakang hari membantu kaum Muslimin dalam melakukan perluasan dakwah ke negeri Syam dan Spanyol, tatkala mereka menghilangkan penindasan dan kedhaliman yang selama ini dilakukan oleh bangsa Romawi dan Goth terhadap mereka.

Begitu pula permusuhan kaum Nasrani terhadap kaum Muslimin semata-mata bersifat politik. Padahal dahulu kala antara kaum Nasrani dengan penjajah Romawi di negeri-negeri yang bertetangga dengan Hijaz, seperti Syria dan Mesir, adalah sangat bermusuhan. Negara-negara Nasrani adalah sebenarnya paling bersimpati kepada kaum Muslimin setelah mereka yakin atas keadilah kaum Muslimin dan berhasil melenyapkan kedhaliman yang selama itu mereka alami di bawah kekuasaan bangsa Romawi padahal masih seagama dengan mereka. Memang menjadi kebiasaan umum seseorang bersikap permusuhan atau mencintai orang lain tergantung kepada kerugian ataupun keuntungan yang diperolehnya.

Permusuhan terhadap Nabi dan kaum Muslimin, penyebaran fitnah dan perang sama sekali tidaklah mereka maksudkan demi perbaikan mental dan kesejahteraan masyarakat, tetapi semata-mata untuk menimbulkan kerusakan di atas bumi, melakukan tipu daya terhadap kaum Muslimin, mencegah tumbuhnya persatuan ummat manusia, menghalangi terhapusnya buta huruf sehingga bisa menjadi bangsa yang berilmu. Atau dari penyembahan berhala kepada tauhid. Sebab mereka sangat dengki terhadap kaum Muslimin dan ingin mempertahankan hegemoni mereka terhadap ummat manusia.

71. BANGSA YANG SUKA MENDUSTAKAN KEBENARAN YANG TIDAK DISENANGI

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 70)

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul- rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, lalu sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh“

Bangsa Yahudi mengadakan perjanjian dengan Allah yang isinya:

  • a. wajib mengesakan Allah;
  • b. mengikuti segala ketentuan hukuman Allah;
  • c. berakhlaq mulia

Semua janji ini mereka ingkari atau mereka langgar begitu saja. Setiap rasul datang kepada mereka untuk memperingatkan kedurhakaan mereka kepada janji-janji tersebut serta merta mereka tolak dan mereka dustakan.

Bangsa Yahudi sudah menjadi manusia yang paling bobrok dan selalu mengutamakan dorongan nafsu rendah, sehingga mereka menjadi manusia yang paling sesat. Di dalam hati mereka tidak lagi tersisa tempat untuk menampung nasihat-nasihat dan bimbingan para rasul. Bahkan mereka menunjukkan sikap kekafiran, kebenaran dan mendustakan setiap kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan tokoh-tokoh kebajikan.

Yang amat celaka pada karakter bangsa Yahudi ialah kedurhakaan mereka yang begitu bobrok, namun mereka tetap beranggapan tidak akan mendapat hukuman dari Allah, sebab mereka berkeyakinan putra dan kekasih Allah sebagaimana mereka ini. Sekiranya mendapat hukuman, toh hanya sebentar saja.

Apa yang menjadi latar belakang bangsa Yahudi selalu membenci kebenaran yang tidak disukalnya ialah adanya keyakinan mereka tidak akan di siksa oleh Allah walaupun melanggar kebenaran. Barangsiapa yang membaca Kitab Talmud akan mengetahui betapa bobroknya moral bangsa Yahudi yang tergambar di dalam ayat- ayat Talmud. Di antara ayat Talmud menerangkan bahwa jika Allah mendapati kesulitan, maka dipanggillah para pendeta Yahudi untuk menyelesaikannya. Berdasarkan keyakinan sesat semacam inilah, maka bangsa Yahudi menganggap bahwa kebenaran yang dibawa para rasul itu tidak ada artinya, jika mereka tidak menyetujuinya. Dengan kata lain bangsa Yahudi jauh lebih tahu daripada Allah itu sendiri.

72. BANGSA YANG BERANI MEMBUNUH NABI-NABINYA

Allah berfirman: (QS. Al-Maidah : 71)

“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka itu buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang me- reka kerjakan”

Sebagian besar bangsa Yahudi menutup mata dan telinganya dari menerima nasihat kebenaran. Mereka buta terhadap ayat-ayat Allah yang tercantum dalam kitab-kitab suci mereka. Bangsa Yahudi menutup telinga sehingga tidak mau mendengar nasihat yang dibawa oleh para rasul mereka. Semakin sering para rasul itu memperingatkan kedurhakaan, kedhaliman dan kesesatan yang mereka lakukan selalu saja mereka abaikan.

Sikap mental mereka yang begitu bobrok membuat mereka berani membunuh para Nabi yang membawa petunjuk dan bimbingan hidup kepada mereka. Mereka telah membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan mereka berusaha membunuh Nabi Isa, tetapi gagal.

Akibat kebobrokan moral mereka, kemudian Allah menurunkan adzab kepada mereka, sehingga mereka dijadikan bangsa yang hina dan selama berabad-abad silih berganti dijajah oleh berbagai bangsa. Mereka pernah dijajah bangsa Parsi, kemudian bangsa Romawi, sehingga mereka hidup dalam perbudakan.

Kedurhakaan bangsa Yahudi sehingga berani membunuh Nabi-Nabi mereka sendiri menjadi petunjuk puncak kebobrokan moral mereka. Karena itu tidaklah heran jika terhadap manusia biasa bangsa Yahudi bertindak sangat biadab, penuh kebuasan dan kelaliman yang tak terkirakan. Adanya kebiadaban yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina selama kurang lebih 50 tahun akhir-akhir ini dapat kita jadikan sebagai bukti kebobrokan moral mereka. Karena itu wajib kite bersikap waspada terhadap setiap gerak-gerik bangsa Yahudi dan bersiap diri untuk menghadapi kebiadaban mereka. Tanpa kita memiliki persiapan moril maupun kekuatan menghancurkan kebiadaban bangsa Yahudi, maka kaum Muslimin akan dijadikan budak mereka:

73. BANGSA YANG DILAKNAT OLEH NABI-NABINYA

Allah berfirman: (QS. Al-Maidah : 78)

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknati melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui Batas“

Bangsa Yahudi di samping membunuh beberapa orang Nabi mereka sendiri, mereka juga telah menjadikan beberapa orang Nabi dan orang-orang yang shaleh sebagai tempat untuk dimintai berkat, kekuatan ghaib dan disembah sebagai Tuhan. Ringkasnya, mereka telah membuat tuhan lain di samping Allah.

Perbuatan sesat yang mereka lakukan ini mereka ajarkan pula kepada kalangan awam, bahkan kepada bangsa-bangsa lain. Kesesatan mereka yang telah begitu hebat menyebabkan mereka mengabaikan ajaran-ajaran Zabur dan Injil maupun Taurat. Akibat dari pelanggaran itulah, maka Nabi Dawud mengutuk mereka, karena larangan bekerja pada hari Sabat telah mereka langgar. Begitu juga Nabi Isa as. telah melaknat mereka, karena terus menerus menolak ajaran agama dan berkecimpung dosa.

Dalam sejarah ummat manusia, di Barat maupun di Timur, hanyalah bangsa Yahudi yang banyak dikutuk dan dilaknat oleh berbagai bangsa di dunia.

Ayat ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa Nabi- nabi pun merasa jengkel membimbing bangsa Yahudi, karena keras kepala mereka menolak kebenaran. Oleh karena itu adalah sangat patut kalau ummat manusia pada umumnya bersama-sama mengutuk bangsa Yahudi dimanapun kita berada.

74. BANGSA YANG ULAMANYA TIDAK PEDULI KEMUNKARAN DI TENGAH MASYARAKATNYA

Allah berfirman: (QS. Al-Maidah : 79)

“Mereka tidak mau saling mencegah kemunkaran yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu“

Bangsa Yahudi sudah sangat egoistis dan apriori satu dengan lainnya. Tidak seorang pun di antara mereka mau perduli dengan kemunkaran yang dilakukan oleh temannya biarpun sangat keji dan berbahaya. Mencegah kemunkaran adalah upaya untuk menegakkan nilai-nilai agama dan membentengi masyarakat dari perbuatan yang menghancurkan. Bilamana kemunkaran tidak lagi dicegah dengan gigih, maka timbullah keberanian orang berbuat dosa terang-terangan. Dalam keadaan semacam ini rakyat awam akan beramai-ramai turut serta melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sehingga kemunkaran menjadi lumrah. Jika kemunkaran sudah menjadi lumrah, maka selanjutnya agama musnah dan tidak akan ada keberanian pada orang-orang yang baik untuk menyampaikan kebenaran.

Bagaimana proses kemunkaran itu merajalela di tengah bangsa Yahudi, hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Mas’ud, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya pertama kali rongrongan yang menimpa Bani Israil adalah semula ada seorang yang bertemu dengan sesamanya lalu mengingatkan: “Wahai saudara, takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah perbuatan anda ini karena tidak halal anda lakukan” Kemudian besoknya bertemu lagi dan temannya itu masih berbuat seperti kemarin, lalu ia tidak mau mengingatkannya lagi agar ia tidak (menjadikan hasil kerjanya yang haram) sebagai makannya, minumannya dan kebiasaannya. Tatkala mereka (para pendeta) membiarkan kemunkaran tersebut, maka Allah menutup hati mereka yang satu dengan yang lainnya.” Kemudian Nabi membacakan ayat-ayat ini (78-81). Kemudian beliau bersabd : “Janjan sekali-kali, Demi Allah teruskanlah amar maruf dan nahi munkar, kemudian cegahlah tangan orang yang berbuat dhalim dan kembalikanlah dia kepada kebenaran dan belalah kebenaran itu dengan pengorbanan. Atau (kalau kamu berdiam diri saja) niscaya Allah menutup hati kamu, yang satu dengan yang lainnya. Kemudian Allah melaknat kamu seperti Allah telah melaknat mereka.’

Perilaku ulama Yahudi yang membiarkan kemunkaran berkembang sedikit demi sedikit, sehingga merajalela di tengah masyarakat mereka dicela dan dikecam oleh Allah. Karena sikap berdiam diri mereka terhadap kemunkaran yang dilakukan oleh warga masyarakat mereka sama dengan setuju dengan perbuatan-perbuatan dosa. Ayat ini memperingatkan kita tentang betapa buruknya perangai ulama Yahudi, sehingga mereka menjadi bangsa yang bobrok dan terkutuk.

75. BANGSA YANG MAU BEKERJA SAMA DENGAN MUSUH-MUSUH AGAMA DEMI MENGHANCURKAN ISLAM

Allah berfirman: (QS. Al-Maidah : 80)

“Kamu melihat sebagian besar dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan”

Bangsa Yahudi, di dalam upaya menghancurkan Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahu-membahu dengan kalangan bangsa Arab yang masih musyrik dan kafir. Mereka mengadakan fakta perjanjian untuk memerangi Nabi dan membangkitkan semangat golongan Musyrikin bangsa Arab untuk terus melakukan perang melawan beliau.

Bangsa Yahudi pada dasarnya tahu bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah sama esensinya dengan yang dibawa para Nabi Bani Israil. Mereka tahu bahwa Rasulullah beriman kepada Allah, Tuhan yang juga mereka sembah, Rasulullah pun beriman kepada kitab suci mereka, bahkan menjadi saksi akan kebenaran para Nabi mereka. Para Nabi Bani Israil pun telah memberikan kesaksiannya dan kabar gembira akan munculnya Nabi akhir zaman yang dijanjikan.

Bangsa Yahudi pun juga tahu bahwa golongan Musyrik bangsa Arab tidak menyembah Allah, tidak beriman kepada kitab suci mereka dan tidak pula beriman kepada rasul-rasul mereka. Karena itu mereka tidak bahu membahu memusuhi musuh Allah dan Rasul-Nya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebagai contoh, seorang tokoh pendeta Yahudi, bernama Ka’ab bin Asyraf pergi ke Mekkah dan menghasut kaum Musyrikin sehingga berhasillah membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah pada perang Ahzab. Perang yang terjadi bulan Syawal tahun 5 Hijriyah ini dari golongan musuh Islam terdiri dari kaum Musyrikin Mekkah, bangsa Yahudi Khaibar, suku-suku bangsa Arab yang masih menyembah berhala (Ghotfan, Murrah dan Asyja’).

Perang Ahzab diceritakan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Ahzab ayat 10. Bangsa Yahudi yang melakukan persekongkolan dengan musuh-musuh Islam, bahkan musuh bagi agama mereka sendiri adalah karena dorongan kedengkian dan kebencian kepada Islam. Akibat dari sikap mereka yang penuh kebencian pada kebenaran mereka rela untuk memberikan angin kepada musuh-musuh Allah dan RasulNya, asalkan dapat menghancurkan kebenaran yang tidak diinginkannya.*) ——- *) Praktek-praktek kejahatan Zionisme yang terselubung menggunakan berbagai cara dan metode dengan merangkul berbagai idiologi-idiologi baik marxisme, kapitalisme, Nasionalisme. Dengan demikian seluruh sarana dan potensi yang ada dimanfaatkan untuk menghancurkan kekuatan Islam, red.

76. BANGSA YANG PALING KERAS PERMUSUHANNYA TERHADAP ISLAM

Allah berfirman: (QS. Al-Maidah : 82)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani! Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”.

Ayat ini menyebutkan 2 golongan yang sangat keras permusuhannya kepada Islam, yaitu bangsa Yahudi dan kaum musyrik. Namun di antara 2 golongan ini bangsa Yahudilah yang lebih keras permusuhannya terhadap Islam. Karena bangsa Yahudi merasa sebagai bangsa pilihan sehingga tidak rela ada Nabi atau Rasul Allah yang diangkat di luar golongan Yahudi.

Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa saham bangsa Yahudi dalam menggerakkan manusia untuk memusuhi Islam telah bermula sejak perkembangan Islam di Mekkah. Pada suatu hari para tokoh Quraisy yang memusuhi Islam mengadakan pertemuan untuk membahas upaya menghancurkan Islam. Dalam pertemuan ini para tokoh Quraisy bersepakat untuk bekerja sama dengan bangsa Yahudi di kota Madinah. Untuk itu mereka mengirimkan 2 orang utusan, yaitu Nadzar dan Uqbah, untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Yahudi Madinah merundingkan cara-cara menghancurkan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setelah kedua orang utusan Quraisy bertemu dengan para pendeta Yahudi di Madinah dan menceritakan keperluannya kepada mereka, lalu para pendeta Yahudi ini memberi petunjuk kepada mereka untuk menghadapi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Petunjuk yang mereka berikan itu menyangkut 3 hal, yaitu:

  • a. tentang riwayat beberapa orang pemuda Ashabul Kahfi;
  • b. tentang Dzul Qarnain;
  • c. tentang ruh.

Kata para pendeta itu, jika Muhammad dapat menerangkan dengan benar, berarti ia seorang Nabi. Tetapi jika tidak, ia adalah seorang pembual. Karena itu terserah pada kalian, bagaimana bertindak kepadanya.

Langkah pendeta Yahudi terhadap 2 utusan orang Quraisy ini adalah pangkal awal bagaimana mereka ingin menanamkan permusuhan lebih lanjut antara bangsa Quraisy dengan Nabi Muhammad, sehingga akhirnya dapat menyulut api peperangan.

Pada waktu 2 orang utusan ini pulang kembali ke Mekkah, mereka melapor kepada para tokoh Quraisy, lalu mereka melaksanakan saran para pendeta Yahudi Madinah. Apa yang mereka ajukan kepada Rasulullah mendapatkan jawaban yang tepat.

Sedangkan pertanyaan mereka yang ketiga dijawab oleh Allah dengan Surat Al-Isra’ ayat 85.

Jawaban yang diberikan oleh Rasulullah justru merupakan senjata makan tuan bagi para pendeta Yahudi Madinah. Sebab di antara tokoh-tokoh Quraisy ini terbuka hatinya untuk menerima Islam, sehingga para pendeta Yahudi justru menjadi lebih besar permusuhan dan kedengkiannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena masuknya beberapa tokoh Quraisy ini ke dalam Islam berarti memperkuat barisan para perneluk Islam yang masih sedikit itu. Demikianlah siasat bangsa Yahudi menghancurkan awal pertumbuhan Islam di Mekkah.

Peperangan-peperangan besar semasa hayat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti: Perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab dan perang Tabuq seluruhnya tidak lepas dari buah kelicikan bangsa Yahudi. Mereka mendorong dan membujuk golongan-golongan bangsa Arab yang musyrik maupun yang kafir agar bersatu padu menghancurkan dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Islam. Tatkala Rasulullah dan para sahabat dari perang Badar pulang membawa kemenangan, maka seluruh kaum Muslimin Madinah menjadi gembira. Pada waktu sampai di kota Madinah diberitakanlah kepada rakyat nama tokoh-tokoh Quraisy yang mati terbunuh dalam perang Badar. Pada saat bangsa Yahudi Madinah mendengar berita ini, seorang tokoh Yahudi bernama Ka’ab bin Asyraf berusaha melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berisi kebimbangan-kebimbangan terhadap kemenangan kaum Muslimin dan terbunuhnya tokoh-tokoh Quraisy. Setelah Ka’ab bin Asyraf memperoleh penegasan kematian para tokoh Quraisy pada perang Badar tersebut, lalu ia pergi ke Mekkah untuk membangkitkan semangat mereka kembali memerangi Rasulullah. la membacakan puisi, menangisi kekalahan mereka dan para korban perang itu di desa Al-Qalib. Usaha Ka’ab tidak hanya sampai di situ saja, tetapi setibanya ia kembali di kota Madinah mulai ia membuat puisi-puisi yang menyerang kehormatan wanita-wanita Islam Madinah. Tindakan Ka’ab yang keji ini menimbulkan marah ummat Islam Madinah, sehingga akhirnya ia dibunuh oleh salah seorang sahabat Nabi.

Kemenangan Rasulullah. terhadap bangsa Quraisy dalam perang Badar menimbulkan kedengkian pada bangsa Yahudi Madinah, sehingga mereka berusaha untuk melakukan tipu daya dan menimbulkan rasa antipati pada golongan-golongan Arab di sekitar Madinah terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena kasak- kusuk bangsa Yahudi ini, maka Rasulullah mendatangi bangsa Yahudi Bani Qainuqa, lalu mengumpulkannya di salah satu pasar di kota Madinah. Di tempat ini Nabi berpiciato kepada mereka: “Wahai bangsa Yahudi! Hati-hatilah kamu terhadap siksa Allah seperti yang menimpa bangsa Quraisy. Islamlah kamu. Karena kamu sendiri telah mengetahui aku adalah seorang Nabi utusan Allah. Kamu memperoleh keterangan ini dari kitab suci kamu dan janji Tuhan kepada kamu”. Namun dengan congkak dan penuh tipu muslihat bangsa Yahudi memberikan jawaban: “Wahai Muhammad, engkau melihat kami seperti bangsamu. Janganlah engkau merasa besar kepala berhasil menghadapi kaum yang tidak mengetahui pengetahuan perang sehingga engkau berkesempatan menang. Tetapi demi Tuhan, kami akan memerangimu supaya kamu tahu, bahwa kamilah sebenarnya manusia”.

Kecongkakan bangsa Yahudi ini kemudian memperoleh jawaban Allah yang tercantum dalam surat Ali -Imran ayat 12 dan 13. Allah berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya;” 12) Sesungguhnya telah ada tenda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” 13)

Kemudian kita perhatikan peranan bangsa Yahudi dalam perang Ahzab. Rombongan bangsa Yahudi Madinah di bawah pimpinan Hayyi bin Akhta’ dari suku Bani Nadzir mengajak bangsa Quraisy membentuk pasukan persekutuan memerangi Rasulullah di Madinah. Rombongan Yahudi ini berkata pada para tokoh Quraisy: “Kami akan bahu membahu dengan kalian untuk membasmi Muhammad sampai akar-akarnya dan menghancurkan misi keagamaannya”. Golongan Quraisy kemudian bertanya kepada rombongan Yahudi ini mengenai Muhammad, agamanya dan agama bangsa Quraisy. Kata mereka: “Wahai bangsa Yahudi, anda adalah ahli kitab yang pertama. Kalian tahu persoalan apa yang membuat kami berselisih dengan Muhammad. Karena itu bagaimana pendapat kalian ? Manakah yang lebih baik, agama kami atau agama Muhammad? Dengan pertanyaan ini rombongan Yahudi tersebut merasa memperoleh kesempatan emas untuk melampiaskan balas dendamnya dan kebenciannya kepada Islam. Mereka menjawab kepada bangsa Quraisy: “Agama kalian jelas lebih baik dari agama Muhammad. Kalian lebih mulia daripadanya”. Pernyataan bangsa Yahudi yang hanya timbul dari dendam dan kebencian kepada Islam ini diutarakan oleh Allah di dalam firmanNya pada surat An-Nissa ayat 51 dan 52. Allah berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman” 51) “Mereka itulah orang- orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” 52)

Akibat dorongan bangsa Yahudi ini, maka kaum Quraisy bersedia turut dalam perang Ahzab. Selain bangsa Yahudi mempengaruhi bangsa Quraisy mereka pun kemudian dengan aktif mengorganisasikan suku-suku Arab di sekeliling Madinah yang masih menyembah berhala untuk ikut serta dalam pasukan sekutu. Suku-suku bangsa Arab di sekeliling Madinah ini ialah: Ghotfan, Bani Murrah, Bani Asyja’ dan lain-lain.

Data-data sejarah tersebut di atas merupakan fakta yang mencerminkan secara konkret betapa besar permusuhan Yahudi terhadap Islam, sejak awal munculnya Islam di kota Mekkah sampai di kota Madinah. Karena itu kita tidak boleh lengah terhadap setiap gerak-gerik bangsa Yahudi yang ada dimanapun di dunia ini. Karena mereka akan selalu berusaha menghancurkan Islam dengan seribu satu cara, baik berupa intrik, semboyan-semboyan pintu ilmiah, organisasi, paham-paham, perdagangan sampai kepada peperangan.

Agar kaum Muslimin tetap waspada dan mengerti seluk-beluk tipu daya bangsa Yahudi terhadap Islam, maka adalah bermanfaat sekali membaca literatur sejarah dan buku-buku tentang Yahudi dan Islam. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai karakter Yahudi dan aneka ragam tipu dayanya terhadap Islam, maka kita dapat melawan kejahatan mereka.


Artikel ini adalah kutipan dari http://www.rajaebookgratis.com

Yang bersumber dari Buku

76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN Syaikh Mustafa Al-Maraghi

05-20-10.25.35

  • Penyusun: Drs. M. Thalib
  • Design Sampul: Pro-Graphic Studio
  • Khaththath: Kathur. S
  • Cetakan Pertama: April 1989
  • Penerbit: CV PUSTAKA MANTIQ Jl. Kapten Mulyadi 253 SOLO

Meet just a few of your Jewish Supremacist Warmongers From left to right: William Kristol, Richard Perle, Ari Fleischer, Israili Prime Minister and Mass-Murderer Ariel Sharon, Paul Wolfowitz, Elliott Abrams, Douglas Feith
http://www.nowarforIsrail.com/

Iklan

One response »

  1. […] Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 8) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s