Membedah Buku

76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN05-20-10.25.35

Karya: Syaikh Mustafa Al-Maraghi


1. BANGSA PERTAMA KALI YANG KAFIR KEPADA NABI MUHAMMAD SALLALAHU ’ALAIHI WA SALLAM.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 41 Allah menerangkan, bahwa Bangsa Yahudi/Bani Israil adalah bangsa yang pertama kali kafir kepada Nabi Sallalahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kali kafir kepada-Nya dan janganlah kamu menjual ayat-ayat- Ku dengan harga murah, dan hanya kepada Akulah hendaknya kamu bertaqwa!

Dalam ayat ini Allah berbicara kepada Bangsa Yahudi, sebagai bangsa yang telah sering kedatangan Nabi. Bangsa ini menerima kitab-kitab suci dari langit, tetapi merupakan bangsa yang paling benci kepada orang-orang mu’min. Bangsa Yahudi diajak untuk menjadi orang pertama untuk beriman kepada Nabi Muhammad supaya bangsa-bangsa lain bersedia mengikuti jejaknya.

Kepada bangsa Yahudi Allah berfirman supaya mereka beriman kepada Al-Qur’an sebagai pelaksanaan memenuhi janji kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi janji kepada Allah dengan mengikuti perintah dengan beriman kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad adalah suatu tindakan lebih penting, dari lainnya. Sebab langkah semacam ini merupakan dasar yang pokok dan tujuan utama.Al- Qur’an diturunkan untuk membenarkan keteranganketerangan yang tersebut dalam Taurat dan Kitab-kitab para Nabi sebelumnya. Perintah-perintah yeng tersebut di dalamnya yakni berupa ajakan bertauhid, meninggalkan perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan dengan terang-terangan maupun dengan tersembunyi, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan kemungkaran dan sebagainya yang membawa kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Ini sama dengan ajaran Musa dan para Nabi sebelumnya, karena semuanya itu tujuannya satu, yaitu menetapkan kebenaran dan memberi petunjuk kepada manusia serta melenyapkan kesesatan dalam aqidah.

Tetapi bagaimanakah sikap Bangsa Yahudi terhadap teguran Al-Qur’an ini? Mereka bahkan cepat-cepat bersikap kufur kepada Al-Qur’an. Padahal seharusnya mereka berada pada barisan depan untuk beriman kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur’an ini. Karena mereka telah mengetahui kebenaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan keterangan Kitab-kitab suci mereka, yang telah menyampaikan kabar kedatangan Nabi akhir zaman. Dalam buku-buku tarikh dijelaskan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang hijrah ke Madinah, kaum Yahudi Madinah mendustakannya. Kemudian langkah mereka ini diikuti oleh orang-orang Yahudi Bani Quroidhah, Bani Nadhir, Yahudi Khoibar dan meluas kepada golongan Yahudi lain-lainnya.

Terhadap sikap mereka yang kufur ini, maka Allah kemudian memperingatkan secara keras dengan titah-Nya: “Janganlah kamu bersikap mendustakan kenabian Muhammad dan kitab suci yang dibawanya serta menolak petunjuknya, karena ingin menukar dengan kesenangan dunia yang sedikit”. Para pendeta dan pemimpin Yahudi karena ingin memperoleh pengaruh, harta, pangkat dan kedudukan di mata rakyatnya. Mereka mendustakan kebenaran Nabi. Sedangkan golongan awam bangsa Yahudi menolak kebenaran Nabi Muhammad, karena ingin mendapatkan kasih sayang dari para pemimpin. Ingin memperoleh nasib baik dan takut menghadapi permusuhan dan kemarahan para pemimpin dan masyarakatnya.

Sikap pemimpin dan masyarakat Yahudi mendustakan kebenaran Nabi Muhammad adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri. Perbuatan mereka ini dikatakan menukar keridho’an dengan kemurkaan, rahmat dengan siksa baik di dunia maupun di akhirat.

Seharusnya memang Bangsa Yahudi sebagai bangsa yang menerima wasiat Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. untuk beriman kepada Nabi akhir zaman menjadi pionir menyambut kebenaran Al-Qur’an, bukan menjadi pionir yang kafir kepada Al- Qur’an dan Nabi Muhammad.

2. BANGSA YANG SUKA MEMUTARBALIKKAN KEBENARAN

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu campur-adukkan kebenaran dan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahuinya.” (Al- Baqarah: 42)

Dalam ayat ini para pendeta bangsa Yahudi mendapatkan peringatan keras, karena perbuatannya mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Yang dimaksud dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan ialah merubah ayat Taurat maupun Injil, sehingga tidak lagi dapat dibaca maksud aslinya. Misalnya, mereka telah merubah kata Muhammad dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Ibrani dengan kata “Paraclet” yang artinya orang yang punya sifat terpuji. Walaupun kata “Paraclet” sama artinya dengan kata “Muhammad” tetapi perubahan kata tersebut menimbulkan pengertian yang kabur. Akibatnya nama yang telah tegas disebut dengan kata “Muhammad” menjadi sulit untuk dimengerti orang dan lenyaplah kebenaran yang dikehendaki.

Ayat ini pun menjelaskan cara pendeta Yahudi melakukan perbuatan-perbuatan sesat dan menyesatkan. Kitab Suci Taurat dan Injil yang ada pada mereka hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengingatkan tentang munculnya Nabi-nabi palsu di tengah-tengah mereka,
    dan terjadi pada rnereka keanehan-keanehan yang mengejutkan hati.
  2. Allah akan membangkitkan seorang Nabi dari keturunan Ismail di tengah- tengah mereka, dia akan mendirikan satu ummat, dia adalah anak keturunan Hajar. Dan Allah terangkan tandatanda Nabi keturunan Ismail ini dengan te- rang, tidak samar sedikit pun dan tidak kabur.

Lalu para pendeta dan para rahib mengaburkan hal ini kepada masyarakat dengan menukar yang benar dengan kebatilan. Mereka kaburkan kepada masyarakat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah di antara Nabi-nabi yang diterangkan oleh Taurat tanda-tanda kepalsuannya. Mereka sembunyikan sifat-sifat yang sesuai dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah rnereka ketahui. Mereka sembunyikan pula pengetahuan mereka tentang sifat-sifat para Nabi yang jujur dan cara mereka mengajak manusia ke jalan Allah. Mereka menolak jalan yang lurus dengan tidak mau beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan menambahkan keterangan-keterangan dusta, tradisi-tradisi, bid’ah yang dibuat berdasarkan takwil dan mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan sebagian orang-orang dahulu yang mereka jadikan sumber agama. Dan beralasan bahwa orang-orang dahulu lebih mengerti maksud ucapan para Nabi dan lebih fanatik sikapnya dalam mengikuti mereka. Karena itu, maka bagi orang-orang yang datang kemudian, hendaklah mengikuti ucapan mereka itu, bukan sabda para Nabi yang sulit kita mengerti. Begitulah anggapan mereka.

Tetapi alasan ini tidak diterima Allah, dan dinyatakan sebagai perbuatan mencampuradukkan dan menyembunyikan kebenaran yang ada dalam Taurat sampai saat kita ini. Begitu juga “Allah tidak menerima ulama yang datang kemudian dari agama dan syari’at apapun yang meninggalkan kitab-Nya “dan mengikuti ucapan ulama dahulu dengan alasan seperti di atas. Semua yang diketahui berasal dari kitab Allah wajib kita amalkan dan kalau ada sesuatu yang tidak kita mengerti, hendaklah bertanya kepada ahlinya. Jika kita sudah mengerti dan mengetahui, maka wajiblah kita amalkan.

Ayat ini sekali pun khusus tertuju kepada Bani Israil, namun dapat mencakup semua orang yang berbuat seperti mereka. Karenanya orang yang menerima suap untuk mengubah kebenaran dan membatalkannya atau menolak memberitahukan apa yang wajib diberitahukan, atau menyampaikan ilmu yang wajib disampaikannya, tetapi hanya mau kalau diberi upah, maka perbuatan-perbuatan tersebut termasuk dalam ketentuan ayat ini.

3. BANGSA YANG DIPERINGATKAN ALLAH KARENA KEINGKARANNYA TERHADAP NIKMAT ALLAH

Allah berfirman: ‘Wahai, Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan ingatlah bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala ummat di alam ini. Dan takutlah kamu kepada satu hari yang seorang tidak akan dapat membela orang lain sedikit pun dan tidak akan diterima syafaat darinya dan tidak diambilnya tebusan dari padanya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan! (Al- Baqarah 47-48).

Ayat ini mengingatkan Bani Israil akan nikmat Allah yang pernah mereka terima, tetapi selalu mereka lupakan. Di dalam ayat, ini dijelaskan rupa nikmat yang diterima oleh Bangsa Yahudi ini, yaitu berupa karunia kelebihan dari bangsa lain.

Bangsa Yahudi memperoleh kelebihan dari bangsa-bangsa lain sekalipun dibandingkan dengan mereka yang telah maju kebudayaan dan peradabannya, seperti bangsa Mesir dan Bangsa Palestina.

Mereka dipanggil dengan nama bapak mereka, karena bapak mereka inilah yang menjadi sumber kebanggaan dan kemuliaan mereka. Nikmat dan, kelebihan itu semua disandarkan kepada mereka, karena kedua hal tersebut memang telah mencakup. Kelebihan ini hanyalah mereka peroleh karena mereka berpegang kepada perbuatan-perbuatan hina, karena orang yang menganggap dirinya terhormat, tentulah ia akan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang hina.

Allah mengingatkan mereka akan kelebihan ini untuk menyadarkan mereka bahwa Dzat yang memberikan kelebihan mereka ketimbang ummat lain, dapat pula memberikan kelebihan itu kepada orang lain seperti Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ummatnya. Juga untuk menyadarkan bahwa merekalah yang lebih patut dibandingkan dengan semua bangsa lain untuk memperlihatkan ayat-ayat yang dibawa oleh Muhammad. Karena orang yang diberi kelebihan lebih patut baginya mendahului melakukan yang baik daripada orang lain yang di bawahnya. Dan kelebihan ini jika berupa banyaknya para Nabi pada mereka, maka tak ada satu pun ummat menandingi mereka. Tetapi dengan kelebihan ini tak berarti bahwa tiap- tiap pribadi dari mereka ini lebih mulia dari pribadi-pribadi ummat lainnya. Di samping itu tidak menghalangi kemungkinan diunggulinya mereka oleh bangsa- bangsa yang paling remeh sekalipun, jika mereka menyimpang dari jalan kebenaran, meninggalkan tuntutan para Nabi mereka, sedangkan bangsa lain justru mengambil petunjuk para Nabi itu.

Adapun jika kelebihan ini berupa dekatnya mereka kepada Allah lantaran mengikuti syari’atNya, maka kelebihan itu hanya terbukti pada para Nabi dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk darl kalangan manusia di zamannya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sepanjang mereka masih berketetapan hati melaksanakan syari’at itu dan menempuh jalan yang membawa mereka berhak untuk mendapatkan keutamaan.

Di samping Bani Israil ini diperingatkan atas nikmat yang mereka terima, juga disusul dengan ancaman, agar mereka takut kepada siksa Allah yang pasti akan datang. Ancaman yang menyertai peringatan ini seolah-olah dapat dikatakan sebagai satu pernyataan marah yang tak tertahan karena kerusakan moral yang sangat berat pada Bani Israil ini. Dengan kata lain seolah-olah Allah berfirman: 

“jika kamu wahai Bani Israil, tidak mau ta’at kepada-Ku sesudah menerima nikmat-Ku, maka sekarang takutlah kamu menghadapi siksa berat dari Aku pada suatu saat di masa datang.”

Bangsa Yahudi mempunyai suatu anggapan yang sangat sesat terhadap hukum pembebasan Allah di akhirat kelak. Walaupun mereka menjadi bangsa yang menerima kitab-kitab suci dari Allah, tetapi aqidah mereka tetap sesat seperti halnya kaum penyembah berhala, yang mengkiaskan pengadilan akhirat dengan pengadilan yang berlaku di dunia.

Mereka menyangka, adalah mungkin untuk membebaskan orang-orang berdosa dari siksa dengan jalan membayar tebusan, atau pertolongan orang-orang yang dekat dengan hakim, sehingga hakim mengubah pendapatnya dan membatalkan apa yang telah diniatkannya.

Keingkaran Bangsa Yahudi terhadap pembalasan akhirat yang serba adil dan anggapan mereka bahwa pengadilan di akhirat dapat dipengaruhi oleh suap dan pembelaan orang-orang tertentu adalah bukti nyata keingkaran mereka kepada nikmat Allah.

4. BANGSA YANG PERNAH DIUJI DALAM PERBUDAKAN RAJA-RAJA MESIR

Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir’aun, mereka menimpakan siksa yang kejam, menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan dalam hal itu terdapat ujian besar dari Tuhan kamu” (Al -Baqarah:49).

Kepada orang-orang Yahudi yang hidup dimasa turunnya Al-Qur’an, Allah menyebut-nyebut tentang nikmat-nikmat-Nya yang pernah dialami oleh nenek moyang mereka. Karena pemberian nikmat kepada suatu ummat merupakan pemberian kepada segenap perorangannya baik yang mengalami nikmat itu ataupun yang tidak, sebab peninggalan yang ada di kalangan ummat itu akan diwarisi oleh generasi berikutnya.

Berbagai macam bencana yang diingatkan kepada kaum Yahudi dalam Al-Qur’an adalah bencana yang telah menimpa bangsa ini akibat perbuatan yang dikerjakan oleh segenap orang Yahudi.

Para ahli sejarah menceritakan bahwa orang pertama dari kalangan Bani Israil yang masuk ke Mesir ialah Nabi Yusuf as., kemudian datang saudara-saudaranya bergabung kepadanya. Lalu mereka berkembang biak dan dalam masa empat ratus tahun mencapai jumlah enam ratus ribu orang, yaitu ketika mereka keluar dari Mesir karena penindasan Fir’aun dan kaumnya. Karena ketika itu Fir’aun melihat bertambah banyaknya kaum Yahudi di negerinya mendesak Mesir, maka ia mulai membudakkan mereka, dan memaksa kerja berat dalam pelbagai bidang pekerjaan dan perusahaan. Akan tetapi sekalipun begitu, jumlah mereka semakin bertambah di samping tetap berpegang kepada kebiasaan dan tradisi mereka, tanpa mau berbaur sedikit pun dengan masyarakat Mesir dan tidak berpartisipasi dalam perjuangan mereka, sampai kepada sikap egoisme, enggan dan perasaan lebih tinggi dari bangsa lain, karena keyakinan bahwa mereka bangsa pilihan Tuhan dan manusia yang paling mulia. Kenyataan ini mencemaskan bangsa Mesir dan khawatir kalau kaum Yahudi semakin bertambah besar akan mengalahkan dan merampas negeri mereka. Karena itu bangsa Mesir yang giat, aktif, suka kerja dan berpikiran tajam menjadi susah, lalu berusaha membinasakan mereka dengan jalan membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka., Kemudian Fir’aun memerintahkan kepada semua kabilah supaya membunuh setiap bayi laki-laki bangsa Israil.

Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa ketika. Allah mengutus Musa kepada Fir’aun dan kaumnya, ia mengajak mereka supaya mereka beriman kepada-Nya dan Musa minta kepada mereka agar membebaskan Bani Israil, tidak menganiaya dan menindas. Tetapi justru Fir’aun menyiksa mereka lebih hebat lagi dan menganiaya mereka dengan lebih kejam.

Hal ini dikuatkan oleh keterangan yang terdapat dalam Kitab Keluaran pada Kitab Taurat, bahwa Allah memberitahukan kepada Musa yang menyatakan bahwa la akan menjadikan hati Fir’aun keras terhadap Bani Israil, akan lebih menganiaya dan tidak akan melepaskan pergi bersama Musa, sampai Allah perlihatkan ayat-ayat-Nya. Sesudah Musa mengajak Fir’aun supaya iman, ia bertambah zalim dan durhaka. Lalu menyuruh kepada orang-orang yang mengerjapaksakan Bani Israil supaya bersikap lebih keras lagi terhadap mereka, tidak memberi upah yang dulu biasanya diberikan sebagai upah kerja bangunan, memaksakan mengumpulkan batu dan mengerjakan semua bangunan yang dibangun tanpa keringanan sedikit pun.

5. BANGSA YANG MENYEMBAH BERHALA DI TENGAH BIMBINGAN NABI-NYA

Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami berjanji kepada Musa empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak sapi sebagai sembahan sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang dzalim:’ (Al-Baqarah: 51).

Ketika Nabi Musa diperintahkan oleh Allah selama 40 malam berada di bukit Tursina, maka bangsa Yahudi ditinggalkannya di bawah pimpinan Nabi Harun. Nabi Musa menanti di bukit Tursina ini adalah untuk memenuhi permintaan Kaum Yahudi kepadanya, agar Allah memberikan sebuah Kitab Suci sebagai bukti kebenaran kenabiannya. Lalu Tuhan berjanji kepada Musa akan memberikan Taurat dan memberi tempo kepadanya untuk menunggu. Menurut mereka saat-saat menunggu itu selama bulan Dzul-Qaidah dan sepuluh hari Dzul-Hijjah, tetapi mereka menganggapnya lama, lalu membuat anak sapi dari emas untuk disembah. Mereka berbuat dzalim kepada diri sendiri lantaran perbuatan syiriknya ini dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yakni menyembah anak sapi yang dibuatnya dari emas sebagai ganti menyembah kepada Pencipta mereka dan Penciptanya.

Peristiwa Bangsa Yahudi di zaman Nabi Musa ini dikisahkan kembali oleh Al-Qur’an kepada Bangsa Yahudi yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimaksudkan untuk menyatakan tingkah laku dan karakter Bangsa Yahudi yang begitu rusak. Sebab mereka tadinya minta kepada Nabi Musa agar Allah menurunkan Kitab Suci kepada mereka, tetapi sebelum Kitab Suci tersebut turun mereka telah menyambutnya dengan perbuatan-perbuatan jahil dan sikap menantang.

Akan tetapi perbuatan jahil mereka ini kemudian dihapuskan oleh Allah setelah mereka lebih dahulu bertobat. Allah tidak cepat-cepat membinasakan kaum Yahudi yang mengingkari ajaran Nabi Musa ini, bahkan menunda sampai Nabi Musa turun dari bukit Tursina adalah merupakan nikmat pula bagi mereka. Dalam sejarah ummat manusia hanya Bangsa Yahudilah yang menukar penyembahan kepada Allah dengan penyembahan kepada berhala yang berupa patung anak sapi dari emas. Demikianlah kehinaan dan rendahnya jiwa bangsa Yahudi yang tak mau menjadi baik walaupun dipimpin oleh seorang Nabi.

6. BANGSA YANG DIPERINTAHKAN MELAKUKAN BUNUH DIRI MASSAL

Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sungguh kamu telah menganiaya dirimu sendiri, karena menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Sebab itu bertaubatlah kamu kepada Penciptamu, lalu bunuhlah dirimu sendiri. Demikian itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu, lalu Dia menerima taubatmu. Sungguh Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q S. Al-Baqarah: 54).

Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Bangsa Yahudi di zaman Musa as. agar melakukan bunuh diri masal karena kedurhakaan mereka kepada Allah dengan melakukan penyembahan berhala ketika Nabi Musa sedang berada di atas bukit Tursina. Bangsa Yahudi merupakan bangsa yang sangat durhaka karena mereka menyembah patung anak sapi sebagai ganti dari menyembah Allah, Pencipta sekalian alam.

Di dalam ayat ini disebutkan kata-kata “bunuhlah diri-diri kamu” yang dapat berarti bahwa orang-orang yang durhaka di antara ummat Nabi Musa as. disuruh bunuh diri masal, atau dapat pula berarti bahwa orang-orang yang telah menyembah berhala disuruh oleh Allah agar dibunuh oleh orang-orang yang tetap beriman.

Kisah pembunuhan massal ummat Nabi Musa ini termaktub dalam Kitab Taurat yang ada sampai sekarang. Disebutkan bahwa Nabi Musa berseru kepada mereka: “Siapa yang memihak kepada Tuhan datanglah kepadaku”. Lalu berkumpullah seluruh Bani Levi.

Nabi Musa menyuruh mereka mengangkat pedang mereka. Kemudian sebagian mereka membunuh sebagian lainnya. Bani Levi melakukan seperti yang diperintahkan Musa. Dan pada hari itu tewaslah kira-kira 3000 orang.
Taubat dengan bunuh diri massal yang diperintahkan kepada Bangsa Yahudi ini adalah dimaksudkan membersihkan diri mereka dari bibit orang orang durhaka yang ada di tengah-tengah masyarakat mereka, sehingga kelak kemudian hari masyarakat ini diharapkan menjadi bersih dan baik.

Di dalam sejarah agama Samawi hanya Bangsa Yahudi yang diperintahkan oleh Allah untuk melakukan bunuh diri massal sebagai jalan bertaubat secara tuntas. Hal ini membuktikan bahwa Bangsa Yahudi merupakan golongan manusia yang sangat bobrok dalam kerusakan mental dan moralnya.

7. BANGSA YANG PERTAMA MENGINGKARI SIFAT GHAIB DAN BERFAHAM MATERIALISME

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah:.55-56)

“Dan ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami dapat melihat Allah dengan jelas, maka kamu disambar petir sedang kamu menyaksikannya. Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah kematianmu supaya kamu bersyukur.”

Bangsa Yahudi yang dipilih oleh Nabi Musa untuk menyertainya ‘pergi ke bukit Tursina ketika Musa kembali kepada mereka yang tiba-tiba didapatinya telah menyembah patung anak sapi dengan penuh keingkaran dan kesombongan berkata kepada Musa: “Kami tidak akan sudi mengakui kebenaran ucapanmu, bahwa Kitab Suci yang engkau bawa itu dari Allah, dan engkau telah mendengar firman-Nya serta Allah menyuruh supaya menerima dan mengamalkan Kitab suci Nya sebelum kami dapat melihat wujud Allah dengan mata kepala sendiri”.

Ucapan Kaum Yahudi kepada Nabi Musa sebenarnya hanyalah sebagai alasan yang dicari-cari, supaya perbuatannya menyembah patung anak sapi dapat dimaklumi oleh Nabi Musa as. Namun karena kedurhakaan dan kecongkakan mereka yang sangat keterlaluan ini mengakibatkan mereka binasa disambar petir. Orang-orang Yahudi yang masih taat kepada Nabi Musa selamat dari bencana ini.

Di dalam Taurat disebutkan, bahwa sebagian dari orang-orang Yahudi yang mengikuti Musa berkata, “Mengapa Allah hanya khusus berbicara ke pada Musa dan Harun saja, tetapi tidak berbicara kepada kita!

Maka tersebarlah hal ini kepada Bani Israil seluruhnya, lalu mereka bertanya kepada Musa sesudah kematian Harun, “Sesungguhnya nikmat Allah kepada Bangsa Israil adalah karena Ibrahim dan Ishak. Lalu mencakup seluruh bangsa ini. Sedangkan engkau tidak lebih baik daripada Ibrahim. Karena itu engkau tidak berhak menguasai kami tanpa adanya keistimewaan. Dan kami tidak akan percaya kepadamu sebelum kami dapat melihat wujud Allah dengan nyata.” Lalu mereka dibawa Musa ke suatu tempat perkemahan tertentu,. Tiba-tiba bumi terbelah dan menelan sebagian dari mereka dan dari jurusan lain datang api, lalu menyambar sisanya.
Bangsa Yahudi yang sama sekali tidak mau menggunakan akal sehatnya, tetapi hanya menurutkan bisikan setan adalah suatu kaum yang sungguh sungguh berwatak materialis. Walaupun mereka telah terpenuhi permintaan-permintaannya kepada Nabi Musa berupa mendapat makanan yang turun dari langit ataupun musibah sebagai bukti yang terjadi di hadapan mereka sendiri akibat kedurhakaan mereka sendiri, tetapi mereka tetap ingkar kepada seruan dan ajakan tauhid.

Di bawah pimpinan Nabi Musa, Bangsa Yahudi telah memperlihatkan sikap kejahilan yang tak ada taranya. Karena mereka meminta kepada Musa agar dapat melihat Allah dengan mata dan kepala sendiri. Sungguh tak ada golongan manusia di permukaan bumi ini yang watak materialis dan pandangan materialisnya seperti bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah mengherankan kalau bangsa Yahudi merupakan pionir dari semua pandangan sesat seluruh jagat ini.

8. BANGSA YANG SUKA BERBUAT ANIAYA DI TENGAH NIKMAT ALLAH

Allah berfirman : (Al-Baqarah:57)

“Dan Kami naungkan awan di atasmu dan Kami turunkan Manna dan Salwa kepadamu. Makanlah makanan yang baik-baik yang Kami karuniakan kepadamu; dan mereka tidaklah berbuat aniaya kepada Kami, akan tetapi mereka menganiaya terhadap diri mereka sendiri.“

Ketika Bangsa Yahudi keluar dari Mesir menyeberangi Laut Merah, lalu tinggal di gurun pasir yang panas, kemudian mereka mengadu kepada Nabi Musa, agar ia mohon kepada Allah mengirimkan awan untuk menaungi mereka sampai mereka tiba di daerah yang dijanjikan. Lalu Allah naungi mereka dengan awan sepanjang perjalanan menuju daerah yang dijanjikan. Selain itu mereka pun mendapatkan makanan Manna dan Salwa yang menjadi bekal mereka selama dalam perjalanan di padang pasir yang tandus dan panas, selama mereka tinggal di daerah yang dijanjikan itu. Ini dalam Kitab Keluaran disebutkan: “Mereka makan Manna selama empat puluh tahun dan rasanya makanan ini seperti roti dipoles madu, sebagai pengganti roti. Karena mereka dihararnkan makan buah-buahan dan sayur”

Namun apa gerangan sikap bangsa Yahudi menghadapi nikmat Allah yang melimpah ini? Nikmat ini justru menjadikan mereka semakin keras kepala dan ingkar kepada Nabi Musa as. Sebab apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa mereka tolak dan apa yang beliau larang justru mereka langgar. Keingkaran mereka ini menyebabkan berbagai malapetaka dan adzab Allah turun kepada mereka, sehingga mereka hidup dalam kesusahan dan penderitaan.

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa setiap tuntunan ilahi kepada manusia hanyalah mendatangkan kebahagiaan selama manusia mau mematuhinya. Tetapi bila manusia itu mengingkarinya niscaya akan menimbulkan penderitaan diri sendiri. Sejarah bangsa Yahudi menjadi saksi atas malapetaka yang menimpa mereka karena berbuat dzalim dan sikap kufur terhadap nikmat Allah.

9. BANGSA YANG PALING CEREWET TERHADAP NABINYA

Allah berfirman: (Al-Baqarah:61)

“Dan ingatlah ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak akan sabar dengan satu macam makanan. Maka mohonlah untuk kami tumbuh-tumbuhan bumi berupa sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihrrya, kacangnya dan bawang merahnya.

Musa berkata, “Apakah kamu mau menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah? Turunlah kamu ke suatu negeri karena di sana kamu memperoleh apa-apa yang kamu minta. Dan kepada mereka ditimpakanlah kehinaan dan kemiskinan, mereka patut mendapat murka dari Allah. Demikian itu karena mereka telah mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Nabi-Nabi dengan tidak benar. Demikian itu karena kedurhakaan mereka dan mereka melewati betas.

Nenek moyang Bangsa Yahudi di masa Nabi Musa as. gemar meminta hal-hal yang sulit kepada Nabi Musa dengan maksud untuk mempermainkannya. Contohnya yang nyata ialah kata-kata mereka kepada Nabi Musa, “Kami tidak akan dapat bersabar dengan satu macam makanan seperti ini, yaitu Manna dan Salwa.”

Mereka menyuruh Nabi Musa agar meminta kepada Allah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan berupa sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah. Tetapi Nabi Musa menjawab dengan kata-kata, “Apakah kamu mau menukar makanan yang baik dengan makanan yang lebih jelek?”

Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka pergi meninggalkan padang Tih dan tinggal di tempat lain, jika mereka inginkan apa yang mereka minta.

Karena bumi yang Allah tetapkan kepada mereka ini hanya akan mereka diami beberapa waktu saja, sehingga di situ tidak perlu ditumbuhkan sayur-mayur. Allah tidak menetapkan mereka tinggal di sana, kecuali untuk menghilangkan lemahnya tekad mereka mengalahkan negeri-negeri lain, yang penduduknya biasa makan satu macam makanan saja. Padahal untuk dapat melepaskan diri dari apa yang tidak mereka sukai itu hanyalah bisa dengan jalan berani menyerang negeri-negeri yang dijanjikan yang ada di depan mereka. Dan Allah menjamin untuk menolong mereka. Karena itu, hendaklah mencari cara yang dapat memberi jalan kemenangan bagi mereka.

Bangsa Yahudi sebagai golongan manusia yang durhaka telah melakukan kejahatan yang luar biasa dengan membunuh Nabi-nabi yang Allah kirim kepada mereka.

Mereka telah membunuh Asy’iya, Zakariya, Yahya dan lain-lainnya tanpa alasan yang benar atau suatu tuduhan yang boleh dijadikan alasan untuk membunuh. Karena orang yang berbuat salah adakalanya secara kabur beranggapan bahwa dia benar. Kitab mereka mengharamkan membunuh orang lain bukan Nabi, maka apalagi membunuh Nabi, kecuali ada alasan yang membenarkan demikian. Dan firman-Nya “Dengan tidak benar”, padahal membunuh Nabi-nabi sudah tentu tidak ada alasan yang membenarkannya, adalah untuk lebih menyatakan keburukan mereka dan menjelaskan secara gamblang bahwa mereka berbuat itu bukan karena salah paham atau mentakwilkan hukum sesuai yang disyari’atkan kepada agama mereka.

Akibat kedurhakaan dan sikap-sikap cerewetnya kepada Nabi-nabi, kemudian Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dijadikan mereka berjiwa hina, berkelakuan rendah dan bermental lemah. Mereka akhirnya menjadi bangsa yang berwatak plin- plan, bersikap mudah menyerah kepada paksaan atau kekuatan yang dapat menimbulkan ketakutan pada diri mereka. Bangsa Yahudi telah memiliki sikap kerdil, sehingga tampak bekasnya pada wajah mereka.

Walaupun Bangsa Yahudi selalu menerima teguran dari para Nabinya, tetapi karena sikapnya yang cerewet, mereka selalu melanggar apa yang diajarkan para Nabi itu pada mereka. Sesungguhnya agama para Nabi, besar pengaruhnya untuk merubah perwatakan manusia yang buruk menjadi baik, sehingga mereka tidak berani melanggar agamanya. Karena bila ajaran agama telah dilanggar sekali saja, maka jiwa orang yang bersangkutan akan menjadi lemah dan mudah melakukan perbuatan dosa. Jika pelanggaran terhadap agama ini dilakukan berulang kali, maka jiwa orang yang bersangkutan akan bertambah lemah dan berubahlah wataknya menjadi manusia pendurhaka. Seseorang yang menjadi pendurhaka akan dengan mudah bersikap cerewet terhadap Nabi dan Rasul Allah.

10. BANGSA YANG CEPAT MELANGGAR JANJI ALLAH

Allah berfirman: (QS. Al-Baqarah:64)

“Kemudian kamu berpaling sesudah itu. Kalau tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”

Bangsa Yahudi yang berada di bawah pimpinan Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan isi Kitab Taurat dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Di saat mereka menerima perintah ini Allah mengangkat gunung Thursina di atas kepala mereka, agar mereka menjadi yakin dan bertambah kuat iman serta menghayatinya dengan sedalam-dalamnya.

Sesudah mereka menyaksikan gunung yang terangkat di atas kepala mereka, lalu Allah menyuruh mereka berjanji untuk mematuhi kitab Taurat dengan sungguh- sungguh. Tujuan dari adanya persaksian gunung ini adalah menyiapkan diri mereka menjadi orang-orang bertaqwa yang sebenar-benarnya.
Akan tetapi yang terjadi pada Bangsa Yahudi ini adalah sikap yang sebaliknya. Mereka justru dengan cepat melanggar perjanjian yang baru saja mereka buat. Pelanggaran yang mereka lakukan terhadap Kitab Taurat tidaklah dengan segera dihukum oleh Allah. Seandainya tidak karena belas kasihan Allah kepada mereka niscayalah Bangsa Yahudi yang gemar melanggar janji ini telah binasa. Mereka berhak memperoleh siksa Allah sebab begitu cepat mereka mengingkari janji- janjinya kepada Allah. Bangsa Yahudi yang tinggal di kota Madinah di masa Rasulullah telah mengadakan perjanjian dengan beliau untuk tidak saling membantu musuh yang akan menyerang Madinah dan bersama-sama dengan ummat Islam untuk menjaga keamanan dan ketentraman di Madinah. Akan tetapi kemudian Bangsa Yahudi bersepakat dengan Bangsa Quraisy di Mekkah untuk menyerang kota Madinah dan menghancurkan ummat Islam. Penyerangan bersama ini terjadi dalarn perang yang disebut perang Khandaq.

Perang Ahzab ini pada bulan Syawal tahun 5 H. Peristiwa ini disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 10. Kota Madinah dikepung oleh musuh selama 27 hari, sehingga ummat Islam Madinah hampir mengalami kekacauan, karena kelaparan. Mayoritas kaum muslimin telah berputus asa. Pada saat yang telah dernikian gawat, kemudian Allah rnemberikan pertolongan-Nya sehingga musuh lari meninggalkan Madinah dan selamatlah umat Islam dari kepungan mereka.

Perang Ahzab ini memberikan pelajaran kepada Rasulullah bahwa Bangsa Yahudi sebagai manusia yang tak pernah jujur memegang janji-janjinya kepada Nabi Musa. Karena pelanggaran janji itulah kemudian Rasulullah menghukum mati Bangsa Yahudi laki-laki dewasa, sedangkan anak-anak dan perempuan diusir keluar dari kota Madinah.

Lanjut ke 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN (PART 2)

Iklan

One response »

  1. […] Lanjutan dari: 76 KARAKTER YAHUDI DALAM AL-QUR’AN […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s