Sosok Gajah Mada

Gajah Mada yang dikenal masyarakat sekarang ini sering digambarkan sebagai sosok wajah lelaki berpipi tembam dan berbibir tebal. Apakah memang demikian sosoknya?

05-11-06.17.37

Bapak Hasan Djafar, seorang ahli arkeologi, epigrafi, dan sejarah kuno berpendapat mengenai buku karya Muhammad Yamin. Yamin pernah menulis sebuah buku “Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara” yang terbit kali pertama pada 1945 dan telah dicetak ulang belasan kali. Buku itu mengisahkan epos kepahlawanan Gajah Mada sebagai Patih Kerajaan Majapahit.

Dalam lampirannya terdapat secarik peta wilayah Indonesia, terbentang dari Sabang sampai, dari Timor sampai ke Talaud, dengan judul ”Daerah Nusantara dalam Keradjaan Madjapahit”. Tentang peta ini, Djafar mengungkapkan bahwa ”gagasan persatuan ini oleh para sejarawan telah ditafsirkan sebagai wilayah Majapahit sehingga seolah ada penaklukan. Itu salahnya!”

Yamin, dalam buku tersebut, juga menampilkan foto sekeping terakota yang mewujudkan sosok wajah lelaki berpipi tembam dan berbibir tebal. Di bawah foto sosok itu, Yamin dengan keyakinan ilmu firasat menuliskan, ”Gajah Mada… Rupanya penuh dengan kegiatan yang mahatangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh.” Namun, belakangan Bapak Hasan menyaksikan kepingan terakota itu di Museum Trowulan yang sejatinya bagian dari celengan kuno dan tidak ada kaitannya dengan Gajah Mada.

Buku Yamin itu, secara tak kita sadari, telah menjadi panutan dari sekolah-sekolah dasar di Indonesia hingga lembaga pemerintahnya. Kini, sebuah patung lelaki bertubuh gempal dengan wajah seperti dalam buku Yamin itu telah berdiri di halaman Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di Kebayoran Baru. ”Itu skandal ilmiah dalam sejarah,” ujar Hasan. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia).

Sampai sekarang sebenarnya belum diketahui secara pasti wajah Gajah Mada. Wajah Patih Majapahit yang dikenal selama ini masih kontroversial. Wajah itu berdasarkan pendapat sejarawan Mohammad Yamin yang menemukan terakota di Trowulan yang ia sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada.

Hanya Rekayasa Yamin

Sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Yamin, pengarang buku Gajah Mada Pahlawan Nusantara, cetakan tahun 1945. Keterangan pada buku itu berbunyi, arca tanah liat ini dapat digali didekat Puri Gajah Mada di Trowulan.

11-06.54.28

Ia dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan Gajah Mada. Ia berusaha mengkaji keberadaan tokoh Gajah Mada. Ada yang berpendapat bahwa wajah Gajah Mada dimiripkan dengan wajah Moh. Yamin. Patung terakota wajah Gajah Mada itu dapat dijumpai di museum Trowulan, Mojokerto, Jatim.

Bisa dibaca di keterangan terakota, ini bunyinya, “celengan ini dibentuk seperti figur manusia dengan bermacam-macam jenis. Di antaranya figur wajah anak-anak dan figur wajah dewasa. Umumnya digambarkan dengan pipi tembem dan terdapat lubang koin di atasnya. Jadi tidak disebut khusus wajah Gajah Mada,” kata petugas museum Majapahit, Subandi.

Beberapa sejarawan seperti Buchari (Fakultas Sastra Universitas Indonesia) dan S.I Purodisastro juga membantah. Buchari mengatakan bahwa itu bukan patung Gajah Mada. Itu hanya celengan peninggalan Majapahit yang ditemukan di Trowulan.

Bahkan S.I. Purodisastro mengatakan bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Zissenis menulis bahwa ‘celengan’ itu ‘vermoedelijk een doodsmasker van Gajah Mada’ (boleh jadi topeng kematian Gajah Mada). Celengan semacam itu menurut S.I. Purodisastro berpeti-peti di gudang Dinas Purbakala di pekarangan candi Prambanan. Yamin membantah. “Buktikan kalau itu bukan patung Gajah Mada,” ujarnya saat itu.

Sejarahwan UI, Agus Aris Munandar, dalam bukunya, “Gajah Mada, Biografi Politik”, mempunyai pendapat lain tentang Gajah Mada dalam arca perwujudan. Di dalam buku itu dituliskan, ia melakukan kajian mendalam tentang arca-arca yang banyak ditemukan di beberapa tempat. Di antaranya koleksi arca batu di Museum Nasional bernomor inventaris 310d yang berasal dari Gunung Penanggungan.

Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa Gajah Mada merupakan tokoh yang dipuja-puja oleh pengikutnya. Untuk mengenangnya maka dibuatkan arca perwujudan, Gajah Mada disamakan dengan sosok Bima atau Brajanata.

Jika Gajah Mada digambarkan sebagai Brajanata maka arcanya memiliki ciri  berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak. Di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dan terdapat pita  membentuk seperti topi tekes. Busananya dilengkapi dengan perhiasan gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingganya menonjol sehingga menyingkap kain yang menutupinya.

Sedangkan, jika digambarkan sebagai Bima, maka arcanya bercirikan badan tegap, lingganya menonjol menyingkap kain penutupnya, wajahnya sangar, kumis melintang dan mahkotanya supit urang.

Perbedaan penggambaran Gajah Mada pada kedua arca Brajanata dan Bima hanya pada model rambutnya saja. Brajanata rambutnya berbentuk tekes, sedangkan Bima berbentuk supit urang.

“Saya cenderung lebih sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Sejarawan UI, Agus Aris Munandar. Juga mirip dengan cerita-cerita rakyat masyarakat Trowulan tentang sosok Gajah Mada,” ujar budayawan Trowulan, Dimas Cokro Pamungkas.

Sosok Gadjah Mada adalah idola masa lalu yang tidak perlu ditanyakan lagi pamornya. Dia adalah seorang sosok menawan sekaligus misterius yang asal, keluarga, bahkan nama aslinya tidak pernah diketahui. Dia begitu terkenal dengan sumpah palapa yaitu “Aku tidak akan makan buah palapa, sebelum aku menyatukan nusantara!” Selain beberapa kelebat kisahnya dalam ‘Negarakertagama’ yang ditulis oleh ‘Mpu/Guru Prapanca’ kita hanya tahu sekilas bagaimana bentuk wajahnya dari sebuah potret patung berwajah bulat, tambun namun mempunyai garis wajah keras.

Potret Gadjah Mada itulah yang menjadi patokan setiap buku-buku sejarah untuk menggambarkan sosok paling besar di abad ke 12 itu. Namun otentikasi potret sosok Gadjah Mada itu sebenarnya sangat lemah. Sosok yang sekarang ini muncul sebagai gambaran Gadjah Mada sebenarnya hanyalah salah satu bentuk tembikar yang kebetulan ditemukan di trowulan, bekas ibukota Majapahit sekarang ini.

Sosok Gadjah Mada sekarang ini pertama kali dikemukakan oleh Muhammad Yamin di awal kemerdekaan Indonesia. Tujuan dari dikeluarkannya pernyataan ini sebenarnya sangat mudah. Indonesia masih sangat muda dan harus mempunyai sosok idola yang dianggap mampu merepresentasikan persatuan bangsa di kala itu. Maka sosok Gajah Mada dianggap cocok untuk menggambarkan bagaimana sebuah bangsa yang baru dahulu pernah juga bersatu dan mempunyai kejayaan yang gilang gemilang.

Sedikit sulit untuk menentukan bagaimana bentuk yang sesungguhnya dari Gajah Mada. Catatan menggenai kehidupan beliau saja tidak lengkap. Bahkan, catatan mengenai tempat kelahiran sang Mahapatih dan juga makamnya tidak pernah dapat dijelaskan. Entah karena catatan mengenai kehidupannya tidak pernah ada, atau memang sengaja dihilangkan.

Referensi

  • ^mercubuanaraya.com/Satrio-Piningit-Bagian-1.html
  • ^nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/faktanya-nusantara-bukanlah-wilayah-majapahit.
  • ^ninditablog.wordpress.com/2012/09/30/fakta-peradaban-majapahit.
Iklan

One response »

  1. […] Siapakah Gajah Mada Sebenarnya? […]

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s