Lanjutan dari: LDII & Bukti-Bukti Kesesatan (2)


Kesaksian Dari Eks Jamaah GaLiPat (354) LDII

Slamet bin Sandriya seorang yang terperosok selama 26 tahun dalam aliran sesat Jamaah Galipat atau Jamaah 354 Burengan Kediri Jawa Timur kemudian mendapat hidayah dari Allah Ta’ala sehingga keluar dan meninggalkan kesesatan itu.

Berikut hasil wawancara nahimunkar.com dengan Slamet bin Sandriya:

Bagaimana Anda dapat keluar dari kubangan aliran sesat Galipat Burengan Kediri?

Mula-mula saya berada di Thaif Saudi Arabia. Dalam pengajian, saya bertanya kepada Syaikh Muhammad Hinin di Masjid Mukhadamat Al-Haramain di Thaif tahun 2006, tentang miqot haji (tempat mulai ihram) orang Indonesia. Jawab Syaikh Hinin: Yalamlam atau di Bi’r ‘Ali (Dzul Hulaifah).

→ Kenapa Anda bertanya tentang miqot haji bagi orang Indonesia?

Orang jamaah Galipat punya rumah di Hut di sekitar Makkah sebelah timur Masjidil Haram. Faham Galipat, miqot orang Galipat dari Indonesia harus dari Hut di Makkah, karena punya rumah sendiri di Hut. Jadi niat orang Galipat Indonesia ketika ke Makkah itu adalah pulang ke rumah di Hut, maka miqotnya sama dengan orang Makkah, jadi miqotnya dari rumahnya itu yakni Hut.

Itu saya kemukakan ke Syaikh Hinin. Bahwa qiyasnya: Orang Galipat dari Indonesia ke Hut adalah sama dengan orang Makkah sendiri, maka miqotnya dari rumah masing-masing. Bagaimana ini ya Syaikh Dijawab: Ya tidak boleh. Dari Indonesia ya dari miqot yang sudah disyari’atkan. Kalau dari Indonesia ya dari Yalamlam atau Dzul Hulaifah (Bi’r ‘Ali). Itu yang syar’i, sesuai dengan yang ditetapkan Rasulullah. Dan itu yang syar’i, sesuai dengan yang ditetapkan Rasulullah.

→ Anda sendiri mengikuti yang mana, yang Galipat atau yang keterangan Syaikh sesuai ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Saya sendiri meyakini yang itu, yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tahun 1990 (ke Saudi yang pertama) saya Slametbin Sandriya dari Riyadh, miqot dari Madinah (Dzul Hulaifah/ Bir Ali) dari posisi saya di rumah Amir Muhammad bin Abdul Aziz bin Su’ud (Putera Mahkota) di Riyadh, beliau memberangkatkan haji, miqotnya di Bi’r ‘Ali. Tapi teman-teman di Galipat meyakini haji saya tidak sah, dan mereka ucapkan (haji saya tidak sah), karena tidak sambung di Hut (rumah jamaah Galipat di Makkah) dan tidak miqot dari Hut. Ternyata setelah ditanyakan kepada Syaikh Hinin justru yang saya laksanakan miqot dari Bi’r ‘Ali itu dibenarkan.

→ Dengan jawaban Syaikh itu bagaimana sikap Anda?

Dari bertanya kepada Syaikh itu tadi kemudian saya timbul keraguan. Maka saya sering bertanya kepada Syaikh-Syaikh di Saudi.

→ Tanya tentang apa?

Tanya tentang keamiran.

→ Bagaimana jawab Syaikh?

Jawaban Syaikh Abu Samah di Thaif tahun 2006 (saya ke Saudi yang kedua kalinya), bahwa keamiran di dunia ini seluruh dunia ini belum ada Amirul Mukminin. Adanya masih firqoh-firqoh, belum bisa mendirikan keamiran secara syar’i seluruh dunia sampai sekarang. Jadi kalau nanti ada amir yang syar’i ya bai’at ke dia kalau menemui, kalau masih menjumpai. Lha sekarang kita ya berdoa saja (masih menunggu). Sedang Amir Kerajaan (Balad) Negara itu bukan Amirul Mukminin yang syar’i yang memimpin seluruh dunia. Sikap kita terhadap Amir Balad ya wajib taat, tidak boleh memberontak. Itu termasuk pemimpin kita.

→ Dengan jawaban itu bagaimana sikap Anda?

Maka saya yakin bahwa keluar (tidak ikut lagi) dari amir buatan Jamaah Galipat Burengan Kediri itu tidak ada masalah, karena bukan Amir Balad, dan bukan Amirul Muikminin yang menguasai dunia. Setelah punya pikiran begitu maka saya meninggalkan faham Jamaah Galipat Burengan tahun 2006.

→ Bagaimana tanggapan teman-teman Anda?

Maka saya ditanya-tanya kenapa keluar. Saya jawab sudah meninggalkan faham Jamaah Galipat Burengan. Tidak sepaham, setelah ada keterangan dari Syaikh-Syaikh di Saudi Arabia.

→ Biasanya, orang yang keluar dari Jamaah Galipat itu terus difitnah atau disebarkan isu yang tidak benar. Apakah itu menimpa Anda juga?

Ya. Saya keluar kan karena telah mendapat penjelasan dari Syaikh-Syaikh di Arab. Tapi anehnya, orang-orang menuduh, saya keluar dari Jamaah Galipat Burengan karena kasus bisnis Maryoso. Memang dalam kasus itu, saya tertipu 3 milyar 600 juta Rupiah, hingga rumah, tanah-tanah dan apa saja semua dijual untuk nomboki orang-orang yang setor ke saya untuk saya setorkan ke atasan. Saya sudah menjual harta saya semuanya,dan masih belum lunas. Saya harus nomboki itu karena jadi pengepul (pengumpul dari jama’ah untuk disetorkan ke atasan yakni lingkungan keamiran aliran sesat Galipat).

→ Apakah tidak ada janji untuk diganti oleh Amir Jamaah Galipat?

Setelah saya nomboki, ada janji dari Amirnya (Abdu Dho) bahwa nanti semua uang yang untuk nomboki (nambeli) dan uang yang dititipkan untuk bisnis dikembalikan semua. Ternyata (kejadian tahun 2003-an) setelah janji Amir itu diucapkan, sampai sekarang pun tahun 2010 tidak ada kabaranya.Keamiran berjanji mengembalikan itu sehabis sholat asar di Burengan Kediri , yang berbicara adalah Pak Kastaman, wakil Imam Galipat. Saya dengar pengumuman itu karena lagi kumpul para tokoh Jamaah Galipat di Burengan. Anehnya, Amirnya sendiri, Abdu Dho di Gadingmangu Perak Jombang, setelah sholat subuh mengumumkan, keamiran tidak mau tahu urusan Bisnis Maryoso. Tidak menjanjikan. Yang bicara itu amirnya sendiri (Abdu Dho). Jadi hanya selang satu malam, dari Asar sampai subuh, sudah diingkari. Dan pengingkarannya itu hanya di hadapan jama’ah setempat, tidak didengar oleh para tokoh seperti di Burengan kemarin Asar. Namun saya tahu itu karena pengingkaran dari Amir itu didengar oleh Ibu Mertua saya waktu itu ngontrak di Gading Mangu Jombang bersama keluarga. Karena posisi waktu itu saya dikejar-kejar nasabah, maka lari ke Gading mangu Jombang bersama mertua dan keluarga.

→ Bagaimana ketika mendengar bahwa pihak Amir tidak akan mengganti uang Anda 3 milyar 600 juta yang amblas dan Anda harus nomboki itu?

Mendengar pengumuman Amir itu maka saya sangat bingung. Akhirnya saya pulang dari Gading lari sembunyi ngontrak di Dlopo Madiun bersama keluarga dan mertua. Di situ kami bisnis kecil-kecilan, mertua buka warung nasi pecel, bahkan waktu itu makan sehari pun tidak kenyang, kekurangan. Sedang kalau mau utang ke pengurus atau teman-teman pun tidak dipercaya karena dianggap sangat miskin tak akan mampu menyaur. Alhamdulillah, sekarang mertua sudah bisa beli rumah dan tanah, warungnya sudah jadi depot (besar), dan laris sekali. Dan langganannya sudah banyak, alhamdulillah tidak debleg (melarat banget) seperti yang diancamkan orang Galipat kalau keluar dari Jamaah Burengan akan jadi kere. Alhamdulillah tidak jadi kere.

→ Bagaimana Anda dapat berangkat ke Arab Saudi padahal tak punya uang?

Saya pergi ke Saudi tahun 2006 dipinjami oleh Kyai Ahmad Muzayyin pemimpin Pesantren Duri Sawo (pondok pertama) di Ponorogo. Tempat mondok saya dulu (pesantren tradisional) sebelum ke Burengan pusat Jamaah Galipat. Saya terus ke Arab ke Thaif jadi sopir dan alhamdulillah bisa tanya-tanya kepada Syaikh-syaikh. Waktu di Thaif saya masih ngaji di Galipat didatangi mubalighh-muballigh Galipat, menerima lembaran-lembaran teks bulanan belum diartikan(teks Quran dan Haditsnya belum dimaknai) yang akan dibacakan kepada jamaah. Teks bulanan dari Galipat itu saya maknai (beri arti) dulu baru kemudian dibacakan ke kelompok-kelompok Galipat di Thaif. Isinya teks nasihat bulanan dari Imam kepada jama’ah yang diterbitkan tiap bulan.

→ Apa isi teks bulanan dari Imam Galipat itu?

Isinya teks-teks ajakan kepada keamiran, manqul, musnad muttasil, dan presenan (yang mempunyai hasil setiap bulan maka wajib mengeluarkan untuk persenan 10 persen disetorkan ke pusat Jamaah Galipat Burengan) dipungut dari masing-masing kepala (anggota Jamaah Galipat). Kaya dan miskin dikenai kewajiban mengeluarkan persenan itu. Kalau miskin, pokoknya setor tiap bulan dengan bebas. Tidak dijatah berapanya. Yang penting setor. Bahkan ada doktrin, pernah saya dengar, kalau rumahnya gedek bamboo, agar gedeknya dicabut satu persatu dijadikan lidi, dijual untuk pembelaan keamiran.

→ Bagaimana dengan doktrin galipat yang tidak ada belas kasihan terhadap orang miskin itu?

Mendengar seperti itu waktu saya masih di Jamaah Galipat ya tetap mantap, karena untuk membela keamiran.

→ Terus, kapan mulai tidak mantap?

Setelah di Thaif, kemudian saya pindah ke Madinah dalam keadaan goyang karena sudah bertanya kepada Syaikh-Syaikh itu. Dan saya sempat belajar kitab Siyasah Syar’iyah Ibnu Utsaimin kepada Syaikh Abu Samah di Thaif, 2 tahun lebih. Akhirnya sudah tidak mantap bahwa keamiran yang ada di Indonesiayang berpusat di Burengan Kediri disebut “adalah satu-satunya jalan masuk surga selamat dari neraka”, bahkan menurut saya, itu adalah ajakan ta’ashub(fanatisme golongan) yang dilarang Rasulullah saw:

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Abu Mijlaz dari Jundab bin Abdullah Al Bajali dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada ‘ashobiyah (fanatic golongan) atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.” (Hadits shahih riwayat Muslimnomor 3440).

Lalu saya berani meninggalkan faham Jama’ah Galipat Burengan. Dan sudah difikir segala resikonya apapun. Terus saya kabarkan kepada imam kelompok, Romdon Thoyib di dukuh Maya Desa Tonatan Kecamatan Kota Kabupaten Ponorogo, 2006. Bahwa kalau ditanya, saya sudah melepaskan faham Jamaah Galipat Burengan. Reaksi dari keamiran yakni saya bersama 12 orang dinyatakan murtad, lewat internet dan nasehat-nasehat bulanan.

→ Apa maksud perkataan “dinyatakan murtad”?

Murtad dari jamaah maksudnya, dikafirkan, sudah tidak berhak dimakmumi lagi. Prakteknya sudah tidak ada yang mau makmum bila saya shalat di masjid Galipat. Sehingga seluruh warga Jamaah Galipat tahu semua dan menghindar, takut terpengaruh ikut keluar dari faham Jamaah Galipat. Hanya yang belum tahu ya kenal nama saja. Tapi alhamdulillah, justru murid-murid saya yang setia bertanya, mengapa kok keluar? Terus saya jelaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا[النساء/59]

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa’: 59).

Di situ ditegaskan,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)…

Jadi kalau saya berselisih pendapat dengan seseorang maka saya kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti keluar saya dari Jamaah Galipat itu justru lari kepada Allah dan Rasul-Nya, dan meninggalkan faham segelintir manusia. Karena ajakan ‘ashobiyah tadi adalah bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi saya kembali kepada Al-Qur’an was Sunnah. Sedangkan kalau tetap mengikuti ajakan ‘ashobiyah berarti mengikuti jahiliyah. Siapa sekarang yang mau disebut jahiliyah. Kalau tidak keluar dari fahan segelintir manusia itu ya tetap seperti jahiliyah terus sampai kapanpun.

→ Bagaimana Hasilnhya, dengan keterangan Anda itu?

Alhamdulillah mereka ikut keluar dari ‘ashobiyah, contohnya Pak Gumrek di Ponorogo bertanya tentang kenapa saya keluar dari Jama’ah Galipat Burengan. Setelah dijelaskan, alhamdulillah rujuk kepada Al-Quran was Sunnah, faham salafus shalih. Masjidnya yang dulu dipakai Jamaah Galipat, sekarang ditempati pengajian ‘ala minhajin nubuwwah yakni ‘ala fahmi salafus shalih ajakan Tauhid terbebas dari syirik dan ‘ashobiyah. Pak Gumrek dan murid-muridnya banyak.

Pengaruhnya, sekarang sudah banyak muballigh-muballigh yang tetap bertanya kepada mantan-mantan yang 12 orang itu dengan sembunyi-sembunyi, akhirnya banyak yang terpengaruh juga, dapat hidayah. Lewat hp (hand phone) mereka bertanya, dan dapat hidayah. Ada hampir tiap kabupaten ada yang bertanya-tanya kemudian keluar dari Jamaah Galipat Burengan.

→ Kaitannya dengan tuduhan bahwa Anda keluar dari Galipat gara-gara tertipu kasus Bisnis Maryoso?

Bukan gara-gara bisnis tipuan Maryoso, saya keluar dari Jamaah Galipat Burengan, tetapi karena sekarang faham aqidah yang sesuai salafus shalih.

→ Apa perubahan secara fisik yang Anda alami?

Di antara perubahannya, dulu saya tidak berjenggot sekarang berjenggot.

→ Terus, apa saja yang janggal-janggal di ajaran Jamaah Galipat?

Ajakan ‘ashobiyah itu dilarang dalam Islam tetapi kok malah dijadikan tujuan. Padahal tujuan dakwah itu adalah ad’u ilallah bukan ad’u ilal imaroh (mengajak kepada jalan Allah, bukan mengajak kepada keamiran) maka saya dan kawan-kawan memilih yang ad’u ilallah ‘ala minhajin nubuwwah yakni bertauhid kepada Allah tidak bertauhid kepada amir.

Teks bulanan isinya penekanan supaya menetapi ijtihad-ijtihad dari Imam Jamaah Galipat dan tidak mencari ilmu agama kepada orang di luar Jamaah Galipat. Untuk meyakinkan bahwa ilmu-ilmu yang tidak manqul kepada amir (‘ashobiyah) itu tidak sah. Itu menurut faham mereka. Walau Quran Hadits yang diamalkan, kalau tidak dari kelompok Jamaah Galipat maka diyakini tidak sah. Itulah bid’ah keyakinan yang dipraktekkan dalam kelompok ‘ashobiyah. Quran Hadits dikaji, tetapi faham amirnya yang ‘ashobiyah itulah yang saya tolak. Sedangkan yang diberlakukan justru faham amirnya itu. Ini kalau diibaratkan sama dengan orang Yahudi yang kitabnya Taurat tetapi yang dipakai adalah Talmudتلمودatau “ijtihad” rahib-rahibnya. Inilah sebab keberanian saya untuk meninggalkan Jamaah Galipat Burengan. Bukan karena kasus Maryoso walaupun saya sampaidebleg (sangat miskin) awalnya tapi bukan penyebab keluarnya saya dari Jamaah Galipat Burengan yang ‘ashobiyah itu.

Persenan, atau pungutan itu termasuk bikinan untuk membela ‘ashobiyahnya. Sedangkan kalau dirujukkan ke Al-Qur’an maka hanya diperlakukan kepada non Muslim berupa jizyah (samacam upeti), yaitu untuk jaminan keamanan. Tetapi ini kok ditimpakan kepada Muslim. Kalau orang Muslim kan cukup zakat. Apakah mau, orang-orang Jamaah Galipat Burengan dibilang non Muslim? Tapi kok diperlakukan begitu. Jadi ada dua kesalahan. Pertama, memperlakukan ayat yang sebenarnya untuk non Muslim tetapi dipakai untuk orang muslim. Bagaimana ini? Kedua, memungutnya itu untuk membela keamiran (‘ashobiyah).

Galipat dalam arti organisasi bernama Elde dipimipin Prof Dr Abdillah Some Esha difahami jamaah Galipat Burengan sebagai mantel untuk melindungi jamaah. Sementara itu keamiran Jamaah Galipat Burengan dengan amirnya Abdulloh bin Digol pendiri Jamaah Galipat ini dilindungi oleh Prof Dr Abudillah Some Esha. Ini aneh. Anehnya, Abdillah Some, seorang professor justru wajib taat kepada Amir, ini berarti yang melindungi kok malah taat kepada yang minta dilindungi? Aneh kan? Coba berfikir? Ini ibarat induk ayam yang harus melindungi kok malah wajib taat kepada anak ayam yang minta perlindungan. Bagaimana Pak Profesor? Sampai Pak Proffesor ini membayar syarat untuk perlindungan keamanan kepada Amir yaitu persenan. Apa tidak terbalik-balik? Padahal dua-duanya itu bukan penguasa yang sah yang dapat melindungi keamanan. Inilah yang menjadikan rasa aneh. Maka saya berani meninggalkan Jamaah Galipat yang nyleneh dan aneh itu.

→ Apa perbedaan antara ketika masih dalam Jamaah Galipat dengan setelah keluar?

Alhamdulillah, setelah keluar dari Jamaah Galipat Burengan justru saya dapat berdakwah di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Lebih leluasa. Itu baru dakwah. Tentang kehidupan lebih leluasa lagi. Hanya saja dari segi muamalah mu’asyarah akhalqul karimah semakin terjaga, insya Alloh.

→ Ada contohnya?

Waktu saya masih di Jamaah Galipat Burengan, bisnis saya waktu dulu di antaranya jual beli toko rumah di pinggir jalan raya. Saya dulu jual toko di pinggir jalan raya tidak laku-laku. Setiap ada orang yang melihat, akan membelinyatapi dengan syarat, pedagang kaki lima yang di depan toko itu harus pindah dari situ. Maka saya cari jalan agar pedagang kaki lima pergi dari muka took. Saya kerahkan pejabat dengan nyogok 500 ribu Rupiah tahun 2000-an. Maka kios-kios di muka toko saya itu diangkut tenaga pemebersihan kota, akhirnya orang-orang pedagang kaki lima yang sudah miskin itu macet kerjanya. Dan itu saya anggap baik-baik saja, tanpa rasa belas kasihan. Semoga sekarang istighfarsaya diampuni oleh Allah dari sifat muamalah yang rusak tersebut. Rusaknya itu karena faham Jamaah Galipat Burengan tadi, ya mentolo-mentolo (tega) saja.

→ Anda pernah menipu juga?

Tahun 1987 saya jadi guru diBurengan masih bujangan. Kebetulan semua murid dijadikan satu di gedungklub motor, dan waktu itu saya didapuk (ditugasi untuk berperan) mengajar, ketika ada tamu dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jawa Timur yakni KH Misbah, Sun’an dan lain-lain. Saat itu lagi ramai-ramainya LEMKARI dipermasalahkan. Maka saya ditugasi untuk mengajar kitab Nadhom ‘Umrithi, ilmu nahwu Bahasa Arab yang biasa diajarkan di Pesantren NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga saya praktekkan seakan-akan di pesantren NU.

  • Lalu MUI bertanya: “Wah di sini diajar nahwu juga tho?”
  • Jawab Iwang dan Mustajibun (guru Burengan), ya, di sini diajar nahwu.

Padahal cuma satu hari itu saya mengajar nahwu untuk ngibuli (menipu), berdalih agar dianggap sama dengan orang-orang di luar Jamaah Galipat Burengan. Ini artinya, saya sudah pernah ditugaskan pura-pura jadi guru senior nahwu, padahal sama sekali dan juga tidak pernah ada pelajaran nahwu di pesantren Burengan saat itu.

MUI tampaknya semua percaya dengan keterangan saya, Iwang dan Mustajibun. Kalau ingat waktu itu, sekarang saya hanya tertawa, bahwa itu semua permainan belaka, sandiwara saja. Masa’ sampai sekarang mau jadi sandiwara terus, kan lucu;maka pilih meninggalkan faham itu demi cinta Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena Maryoso yang selalu diulek-ulek (dikata-katakan terus) oleh jamaah 354 di mana-mana bahwa keluarnya saya hanya karena Maryoso. Itu tidak benar!

→ Tadi Anda dianggap murtad. Mana bukti anggapan itu, apa ada?

Keluar dari Jamaah 354 Burenganitu oleh teman-teman saya dianggap murtad dari Islam.

Buktinya sms ini: (Tgl 26 April 2009)

Faham saya Slamet itu halal dipenggal. Syukron. Saya tidak butuh nasehat sampeyan. 

Itu sms dari Umar (TKI, sopir di Madinah) no hp 0559123063. SMS dikirim ke Slamet Riyadi no hp 05856065202 di Ponorogo atas pertanyaan:

Faham kamu bagaimana terhadap Slamet yang keluar dari jamaah (Galipat) itu? 

Kemudian sms itu dikirimkan oleh Slamet Riyadi ke saya (Slamet bin Sandriya) bahwa pendapat Umar begitu. Ternyata kemudian Umar bertandang di Madinah mau menghajar saya dengan pukulan maut Asadun (silat Galipat), namun qadarullah, karena sangat kerasnya pukulan, hingga ketika saya hindarijustru Umar tersungkur sehingga tangannya berdarah. Setelah kejadian itu Umar tampak malu, mudah-mudahan Umar mendapat hidayah.


Tentang Slamet

Nama: Slamet bin Sandriya, Asal: Jawa Timur, Kelahiran: Th 1961, Pendidikan: SLTA, nyantri di Pesantren Duri Sawo dan Maya di Tinatan Ponorogo 1984 tamat, masuk ke Jama’ah Galipat di Burengan Kediri tahun 1985, Keluar dari Galipat: Tahun 2006, di Madinah Al-Munawwaroh. Jumlah Isteri: 3 orang, Jumlah Anak: 11 anak. (Anak² Slamet pulang ke rumah ibunya masing-masing sebab Slamet Purwanto tidak punya rumah dan tanah, karena dijual semua untuk nasabah-nasabah dalam kasus tipuan di lingkungan Galipat yang dikenal dengan Bisnis Maryoso tahun 2003-an. (Kasus Bisnis Maryoso itu diuraikan panjang lebar kasus-kasusnya dalam buku H.M.C. Shodiq berjudul Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, terbitan LPPI –Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam— Jakarta, 2004). Cita-cita Slamet: Kembali membina rumah tangga, meluruskan aqidah yang pernah dia anut yakni faham ‘ashobiyah, kembali ke faham minhajun nubuwwah ‘ala fahmi salafus shalih. Menegakkan da’wah tauhid kepada Allah, dll.


Selanjutnya: LDII & Bukti-Bukti Kesesatan (4)

Iklan

3 responses »

  1. […] Lanjutan dari: LDII & Bukti-Bukti Kesesatan (3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s