0.11

Pegiat IT, Website Revolusi Mental Abal-Abal

Website Revolusi Mental “www.revolusimental.go.id” yang diluncurkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, menuai kontroversi. Selain karena biayanya yang menelan ratusan miliar, juga tampilannya yang sama sekali tidak bisa diakses.

Tak hanya itu, web revolusi mental juga menuai kritik dari netizen gara-gara status registar dari website Revolusi Mental menggunakan jasa penyedia hosting lokal dan bukan menggunakan server pemerintah.

Kritik paling keras disampaikan seorang pegiat IT, Moris. Ia tak hanya mengkritik, tapi juga membongkar sejumlah kejanggalan website tersebut. Melalui akun Facebook pribadinya, Moris menyatakan, web asuhan Menteri Puan itu abal-abal.

“Seorang menteri dengan inisial Puan dikibulin pembuat website tanpa tahu bahwa dia dikibulin. Nah, bingung kan? Anak SMP pun tahu kalo website “revolusimental.go.id” yang di luncurkan ini adalah website jadi2an. Website timed out terus, kode plagiat, dll. Mari melihat data dari WHOIS,” tulisnya.

WHOIS.COM adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan data informasi domain tertentu seperti nama pemilik domain, ip address, name server dan umur domain, kapan domain ini di daftarkan dan kapan domain ini akan expired, dan lain-lain.

Seperti diketahui, Puan meluncurkan situs tersebut pada Senin 24 Agustus 2015. Melalui web itu, ia berharap masyarakat bisa saling bertukar informasi dan bekerja sama dalam membangun Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui situs tersebut.

Komisi I DPR, Website Revolusi Mental Abal-Abal

abal2

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Gerindra Elnino M Husein Mohi tak habis pikir dengan langkah Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani yang meluncurkan revolusimental.go.id yang diduga menghabiskan anggaran sebesar Rp 140 miliar. Dia menyebut untuk membangun website yang mentereng sekalipun ditaksir hanya menghabiskan uang Rp 10 juta.

“Untuk website abal-abal semestinya tidak sampai Rp 140 miliar dan semua juga bisa bikin website abal-abal dengan gratis dan kalaupun bayar ya tidak sampai Rp 10 juta lah,” kata Elnino di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Elnino lagi-lagi tak habis pikir dengan alasan dibangunnya website tersebut yang mengharapkan agar masyarakat berpartisipasi aktif dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental. Ada baiknya, kata Elnino, tiap menteri yang ada di Kabinet Kerja terlebih dahulu mengaplikasikan gerakan revolusi mental dalam bekerja sehingga dapat dicontoh oleh rakyat.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Menko Puan tak perlu repot-repot membuat website yang diluncurkan. Jadi ketimbang bikin website, semestinya mental kabinet dan jajarannya diperbaiki dulu. Misalnya dengan melatih efisiensi kerja serta menjauhkan diri dari anggapan-anggapan revolusi mental sebagai proyek yang dapat diambil fee-nya,” tukasnya.

Pengamat: “Biar Tidak Abal-abal, Usut Proses Tender Website Revolusi Mental”

Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia, Agus Pambagio mendorong penegak hukum mengusut tender pembuatan laman website revolusi mental yang baru diluncurkan Menteri Koordinator Pembangunan Masyarakat dan Kebudayaan Puan Maharani pada Senin (24/8/2015).

Ditambah lagi, baru dua hari diluncurkan, website itu langsung jebol oleh serangan hacker dan hingga Kamis (27/8/2015) siang pukul 15.00 WIB, laman website masih juga tidak bisa diakses. “Ya diusut siapa yang buat? Bagaimana proses tendernya dan sebagainya. Supaya tidak abal-abal ya aparat hukum harus masuk,” ujar Agus kepada Tribun, Kamis (27/82015). Hal ini penting bagi pemerintah, agar lebih transparan dalam kinerja dan penggunaan uang negara. Hingga siang ini pukul 15.05 WIB laman website revolusimental.go.id masih belum bisa diakses. Hanya tampak layar biru bertuliskan “Terima kasih atas saran dan masukannya terhadap web revolusimental.go.id. Sejak awal dalam melaksanakan setiap kegiatan, Kami menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, termasuk dalam membangun web revolusimental.go.id. Kami akan bekerja keras untuk memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Mari bersama-sama melakukannya.” Kementerian Koorinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) membantah informasi yang berkembang di sejumlah media, teruma media sosial, mengenai adanya penggunaan anggaran Rp 140 miliar untuk pembuatan.

website http://www.revolusimental.go.id
“Sesungguhnya itu tidak benar, karena dana tersebut dipergunakan untuk berbagai program kegiatan gerakan nasional revolusi mental, yang telah direncanakan dengan baik dan disetujui pihak yang kompeten, termasuk salah satunya pembuatan website,” tulis Humas Kemenko Kesra dalam siaran persnya Kamis (27/8/2015).

Menurut Humas Kemenko PMK itu, Menko PMK Puan Maharani dan seluruh jajaran Kemenko PMK, sejak awal sangat menyadari beban tanggung jawab yang besar untuk mengoordinasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Termasuk memahami bahwa pengelolaan dan penggunaan Dana APBN untuk revolusi mental juga harus sesuai nilai, semangat, dan prinsip-prinsip gerakan revolusi mental, semua harus efektif dan akuntabel.

Untuk itu, lanjut siaran pers itu, Kemenko PMK sangat memaklumi sorotan, pertanyaan, ataupun kekhawatiran masyarakat atas penggunaan uang rakyat tersebut.
“Kami tetap menghargai dan berterima kasih atas semua itu, bahkan kami juga mengajak agar masyarakat terus ikut mengawasinya,” tulis siaran pers Humas Kemenko PMK seraya menyebutkan, bahwa komitmen Kemenko PMK adalah melaksanakan amanah dengan penuh Integritas, Kerja Keras dan Bergotong Royong.

Website Revolusi Mental Seharusnya Batal

Euforia masyarakat dan trend berita pindah ke urusan website portal berita yang digagas Presiden Jokowi dan para pembantunya. Saya sempat membuka halaman website itu sekali sebelum akhirnya tumbang dan masih under maintenance seperti sekarang. Dan dari tampilannya, saya berasumsi konten website ini tidak akan jauh berbeda dengan portal Jokowi Center atau website resmi Barrack Obama (karena *katanya* source codenya nyontek website Presiden America itu).

Revolusi Mental, mungkin di isi dengan konten yang berhubungan dengan pelaksanaan program kerja Presiden Jokowi, tapi alasan itu masih belum cukup untuk rakyat. Beberapa hari setelah kasak kusuk mengenai website sederhana yang katanya punya anggaran 140an Milyar itu, seorang juru bicara dari Kemenko PMK memberikan pernyataan klarifikasi bahwa ternyata anggaran untuk situs itu maksimal 200 juta. Ini pun masih terlalu mahal sebenarnya.

Kalau tim pengembang revolusi mental berniat untuk menyewa VPS, harganya hanya 300 ribu sampai 1 juta per bulan. Dengan hitungan sederhana, 1.000.000 * 12 bulan * 10 tahun (seandainya Presiden Jokowi menjawab 2 periode) totalnya masih 120 juta. Dan mengingat tim yang akan mengurus website itu nantinya adalah karyawan Kemenko PMK, seharusnya anggaran 200 juta itu tetap saja masih bersisa.

Bayangkan seandainya benar anggarannya adalah 140an Milyar, seharusnya Revolusi Mental bukan lagi berwujud webite tapi sebuah gedung kantor dengan puluhan karyawan. Baiklah, kembali lagi ke alasan kenapa pengembangan website ini seharusnya dibatalkan. Kemenko PMK dalam daftar tugas dan fungsinya memang sudah seharusnya membidangi pengembangan strategi dan pelaksanaan Revolusi Mental. Tanpa harus membuat sebuah website baru, kementerian ini bisa membuat satu sub-domain di websitenya yang isinya dikhususkan untuk semua hal yang menyangkut pelaksanaan dan pemantauan pengembangan manusia yang berhubungan dengan tujuan Revolusi Mental tersebut.

Revolusi Mental sendiri sebenarnya adalah hasil pemikiran dari Presiden Jokowi dan diusung oleh para pembantunya selama beliau menjabat. Bukan tidak mungkin setelah beliau selesai menjabat, Presiden baru akan meninggalkan konsep Revolusi Mental itu dan membuat konsep pengembangan manusia dengan nama yang baru. Kalau demikian, bagaimana dengan anggaran yang sudah dihabiskan untuk revolusi mental? Apakah dana itu bisa kembali dan digunakan untuk revolusi-revolusi lain buah pikiran dari Presiden selanjutnya? Sepertinya sulit kalau tidak mustahil.

Beda halnya kalau Revolusi Mental dijadikan sebagai subsidiary dari kegiatan-kegiatan Kemenko PMK. Kementerian seyogyanya jarang berubah. Karena perubahan kementerian berarti perubahan struktur menteri dan perombakan kabinet.

Mungkin saja suatu saat kemenko PMK tidak lagi dipakai, tapi program kerjanya pasti tetap berjalan walaupun atas nama kementerian lain. Dan seandainya hal itu terjadi, revolusi mental yang memang dijadikan cabang dari fungsi kemenko bisa diubah tanpa harus kehilangan banyak biaya.

Sekarang berbicara masalah biaya pembuatan website. Kita sebenarnya kesulitan mencerna angka 140 milyar dan 200 juta itu karena tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan kemana dana itu akan digunakan. Dan pada umumnya, masyarakat Indonesia cenderung berlebihan ketika diminta memberikan estimasi biaya. Berlebihan karena memang dari awal belum dapat angka yang tepat dan belum jelas kemana alokasi dananya. Sementara orang lain yang mendengar tentang estimasi itu sejak awal sudah sensitif masalah uang.

Jadi, untuk Kemenko PMK dan Ibu Puan Maharani, sudahlah. Lupakan saja masalah website revolusi mental. Hentikan pengembangannya, coret alokasi dananya dan pindahkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat. Dan untuk domain revolusimental.go.id yang sudah terlanjur dibeli, biarkan saja, tahun depan juga expired.

Referensi

  • ^http://m.bijaks.net/news/article/0-186655/pegiat-it-bongkar-kejanggalan-website-revolusi-mental-milik-pemerintah
  • ^http://m.merdeka.com/politik/politikus-gerindra-sebut-website-revolusi-mental-abal-abal.html
  • ^http://www.liputan6.info/2015/08/pengamat-biar-tidak-abal-abal-usut.html?m=0#sthash.HuSKmTL6.dpuf
  • ^http://m.kompasiana.com/rickybrahmana/alasan-website-revolusi-mental-seharusnya-dibatalkan_55e423b3779373082d1b0daf
Iklan

One response »

  1. Great post. I used to be checking constantly this weblog and I’m inspired!
    Very useful information specifically the closing part :
    ) I maintain such info much. I used to be looking for this certain info
    for a long time. Thanks and good luck.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s