Mintalah, Langsung Kepada Allah

Setiap hamba pasti membutuhkan sesuatu yang menopang kehidupannya, sehingga dia akan berusaha untuk meraihnya. Ketika mereka tertimpa bencana, mereka pun bersimpuh dan memohon kepada AllahTa’ala agar dilepaskan dari marabahaya. Namun sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin justru terjerumus ke dalam praktek-praktek kesyirikan tanpa mereka sadari karena berdo’a untuk menggapai keinginan mereka.

Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah lebih baiknya kita bahas tentang Tawassul.

Tawassul, yang Terlarang dan yang Dibolehkan

Tawassul atau mengambil perantara dalam beribadah kepada Allah dalam bentuk berdoa kepada orang yang sudah meninggal atau tidak hadir adalah bentuk kesyirikan.

Namun, ada pula tawassul yang diperbolehkan, yaitu:

  1. Menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah pada permulaan berdoa (dengan menyesuaikannya dengan permintaan yang dimohon, -ed) seperti mengatakan,”Yaa Ghafuur, ighfirlii” (“Wahai Yang Maha pengampun, ampunilah hamba”);
  2. Meminta kepada orang shalih yang masih hidup dan bisa memahami permintaan agar mendoaakan kebaikan baginya, sebagaimana Khalifah Umar yang meminta tolong paman Nabi Al-‘Abbas untuk berdo’a bagi kaum muslimin;
  3. Menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukannya sebagaimana kisah 3 orang yang terperangkap di dalam gua.

Berdo’a tak perlu perantara (kuburan orang yang sudah meninggal, jin dan berhala)

Dalam berdoa kepada Allah, kita tidak perlu melalui perantara, karena hal itu termasuk perbuatan syirik. Berikut dibawah ini saya uraikan tentang ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits-nya:

Firman Allah dalam QS. Al-Mu’min:60

“Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan”

Firman Allah dalam QS. Yunus:18.

“Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka. Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah

Firman Allah dalam QS. Az-Zumar:3

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”

Firman Allah dalam QS. al-Baqarah:186

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad ) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia beroda kepada-Ku. Hendakalah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”

Firman Allah QS. An-Nahl:36

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”

Firman Allah QS. Al-Ahqaf:6

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (do’a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka?”

Bagaimana dengan syafaat Nabi?

Mungkin ada orang yang bertanya kepada kita, “Apakah kalian mengingkari syafaat? Yang saya lakukan ini bukanlah meminta kepada selain Allah. Akan tetapi saya hanya mencari syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah pada hari kiamat nanti beliau akan memberikan syafaat ?!”

Maka kita jawab pertanyaan mereka bahwa kita sama sekali tidak mengingkari syafaat. Syafaat Nabi itu benar adanya. Akan tetapi, syafaat itu tidak boleh diminta kepada Nabi yang telah wafat. Syafaat itu hanya boleh diminta kepada Allah, karena syafaat itu memang hak-Nya.

Firman Allah dalam QS. Az-Zumar:44

“Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah”

Firman Allah QS. As-Saba’:40-41

“Pada hari mereka semua dikumpulkan, kemudian para malaikat ditanya, ‘Apakah semasa hidup di dunia mereka beribadah kepada kalian? ‘Malaikat menjawab, ‘Maha Suci Engkau, Engkau lah penolong kami. Sebenarnya mereka itu telah beribadah kepada jin. Kebanyakan mereka beriman kepada jin.”

Maka dari itu, sebaiknya mari kita tinggalkan hal² yang berbau kesyirikan seperti berdoa meminta kepada orang yang sudah meninggal, berhala, kepada jin. Jangan pula meminta do’a kepada orang² yang mengaku kyai atau ulama, namun dalam prakteknya, mereka menggunakan sarana yg mengandung unsur kesyirikan seperti, sesajen, kemenyan, dupa, dll, apalagi meminta do’a kepada kyai slamet yang ternyata adalah kebo bule, dengan berbekal plastik kemudian membawa kotorannya dibawa pulang sebagai sarana untuk berkah.

Faedah

Dengan pemaparan yang amat ringkas ini kita dapat memahami bahwa sebenarnya aqidah Islam yang diwariskan oleh Rasul dan para sahabat adalah aqidah yang sangat mulia. Islam menghendaki agar kita hanya bergantung kepada AllahTa’ala. Islam menghendaki agar kita memahami hakikat sesuatu sebelum mengikuti ataupun menolaknya. Islam menghendaki agar kita berpikir dan tidak terjebak dalam kebekuan berpikir (kejumudan). Allah tidak membutuhkan siapa pun sebagai perantara (wasilah)dalam hal ibadah. Di sisi lain, Allah juga mengangkat Rasul sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan tata cara beribadah yang benar kepada-Nya. Barangsiapa yang mengingkari wasilahyang pertama, maka dia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa yang mengingkari wasilah yang kedua, maka dia kafir.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)

Wallahu a’lam bish-shawaab

(Berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s