Mitos 350 Tahun Penjajahan

05-14-08.36.38

Tak ada sejengkal pun wilayah Nusantara dijajah Belanda sampai tiga setengah abad. Pic Source: Historia.id

Sebagai orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik.

Apakah benar Belanda menjajah selama itu?

Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju. Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?

Sebenarnya banyak sekali dampak buruk kolonialisme Belanda di Indonesia. Tapi, mengapa kita selalu menekankan lamanya kolonialisme yang justru tidak benar itu? Ini bukti betapa kita benar-benar buta sejarah, selain akibat ulah Orde Baru menghapus sejarah, mereduksinya hanya sebagai angka tahun dan peristiwa belaka. Sejarah sebagai narasi tentang perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.

Bagaimana sebaiknya melihat penjajahan Belanda serta pelbagai macam aspek negatifnya? Pernyataan “Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun” mengandung banyak ketidakbenaran dan salah persepsi. Tidak ada satu pun wilayah Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Maluku dan Banten/Jakarta sebagai markas besar VOC mengalami penjajahan maksimal selama 340 tahun. Bahkan Maluku atau Ambon baru Belanda kuasai pada 1630, kalau dihitung dari 1602 sampai 1942 ketika Jepang masuk, Belanda jelas sudah tidak efektif lagi menguasai Nusantara.

Selain Banten/Jakarta dan Maluku, Belanda bertahap menundukkan wilayah-wilayah Nusantara. Kebanyakan baru berlangsung pada abad ke-20 ketika kolonialismenya bercorak Politik Etis. Sisi lain Politik Etis yang bertujuan mendidik kauminlanders, oleh orang Belanda disebut sebagai pacificatie, gampangnya penaklukan wilayah-wilayah luar Jawa. Aceh baru ditaklukkan pada 1904 –bahkan Belanda baru sepenuhnya berkuasa pada 1912–, dan Bali dikuasai pada 1906. Dengan begitu Aceh maksimal dijajah Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun.

Artinya, kita tidak bisa pukul rata bahwa seluruh wilayah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Kalau itu tetap dilakukan, kita akan keliru memahami perjuangan orang-orang Aceh dan Bali yang mempertahankan wilayahnya dari pendudukan Belanda. Kita juga akan salah memahami kepahlawanan Tjoet Njak Dien, karena dia mati-matian mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh. Bukan karena Tjoet Njak memberontak terhadap (penjajahan) Belanda. Waktu itu, Aceh belum dikuasai Belanda. Sampai akhir abad ke-19 Aceh merupakan sebuah negara berdaulat, bahkan memiliki duta besar di Turki. Bukankah dengan menganggap Indonesia dikuasai Belanda selama 350 tahun berarti kita juga menganggap Aceh sudah lama dikuasai Belanda, sehingga Kesultanan Aceh dan perlawanan Tjoet Njak Dien kehilangan maknanya.

Kesalahan lain adalah menyebut “Indonesia”. Seolah-olah Indonesia sudah lama ada dan dijajah Belanda selama 350 tahun. Indonesia baru lahir pada 17 Agustus 1945. Sebelum itu adalah Hindia Belanda, dan sebelumnya pada abad ke-19 adalah Kesultanan Aceh, Kerajaan Bone, Kerajaan Klungkung, dan lain-lain. Indonesia sebagai sebuah negara, belum ada.

Pict Source: spreekbeurtenstartpagina.nl

Pict Source: spreekbeurtenstartpagina.nl

Ada pula pendapat yang menampilkan Belanda sebagai penjajah yang tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu tiga setengah abad. Ini jelas tidak benar. Yang mulai menjajah sebenarnya adalah sebuah perusahaan multinasional bernama VOC atau gampangnya Kumpeni. Selama abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Ketika VOC bangkrut, jajahannya diambil alih oleh Belanda yang masih belum bercorak monarki. Kemudian muncul apa yang disebut interregnum (penguasaan sela) Inggris pada awal abad ke-19 dengan Sir Thomas Stanford Raffles sebagai gubernur jenderal. Pada waktu itu Belanda sendiri dijajah oleh Napol on.

Ketika Belanda merdeka dari jajahan Prancis dan berubah menjadi kerajaan serta Inggris mengembalikan Nusantara, Belanda benar-benar menguasai Indonesia pada 1813. Tak lama kemudian dengan memberlakukan Tanam Paksa, alam dan rakyat Jawa langsung dijadikan sapi perahan. Sebagai kerajaan, wilayah Belanda masih mencakup wilayah Belgia. Keduanya masih satu kerajaan. Bahkan salah satu gubernur Hindia Belanda pada awal abad ke-19, Leonard du Bus de Gisignies, adalah orang Belgia. Jangan-jangan ini berarti kita juga pernah dijajah Belgia? Pada 1830 Belanda kembali mengalami perubahan karena Belgia memisahkan diri.

Nah, kalau hanya menyebut Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, selain jangka waktu itu salah, pelbagai perubahan penting yang terjadi di Belanda selama kurun waktu tiga setengah abad akan luput dari sudut pandang kita. Bagaimana membicarakan kolonialisme Belanda tanpa terjebak dalam pelbagai kesalahan tadi? Jangan khawatir: tanpa menyebut durasinya, kita masih tetap bisa menuding banyak keburukan kolonialisme Belanda di Indonesia. Salah satunya, dan ini jarang sekali diungkap orang adalah Tanam Paksa.

Orang Belanda sendiri mengakui betapa Tanam Paksa merupakan cara menyedot kekayaan dari wilayah jajahan. Bahkan sampai Cees Fasseur pun, sejarawan konservatif Belanda, mengakui hal itu. Katanya, berkat apa yang disebut Indische baten(keuntungan Hindia), Belanda bisa membangun jaringan kereta api yang sampai sekarang masih dipergunakan. Demikian pula dua jalan air penting Belanda, Noordzeekanaal dan de Nieuwe Waterweg, dibangun dengan keuntungan Hindia itu.

Anehnya, walaupun sudah mengakui keburukan Tanam Paksa, orang Belanda tetap saja menggunakan istilah Cultuurstelsel yang tak lain adalah bahasa pejabat pada abad ke-19 ketika politik memaksa petani Jawa ini dilancarkan. Ini juga bisa kita tudingkan pada mereka. Kalau sudah tahu buruknya, mengapa tidak menggunakan istilah Tanam Paksa saja yang dalam bahasa Belandanya adalahgedwongen coffieteelt? Di Belanda, baru Jan Breman yang menggunakan istilah ini. Pakar sosiologi pedesaan ini sekarang terlibat dalam polemik sengit dengan Cees Fasseur soal Tanam Paksa. Fasseur berpendapat, walaupun dirugikan, tapi petani Jawa masih sedikit memperoleh manfaat Tanam Paksa ketika hasil panen mereka dijual ke pasar internasional.

Breman tidak setuju, integrasi ke pasar dunia itu menurutnya malah memiskinkan. Mengutip seorang pejabat kolonial yang mbalelo, Breman dalam buku terbarunya mengenai Tanam Paksa di Pasundan menulis bahwa petani Zeeland (Belanda tenggara) pasti tidak akan mau kalau hasil panennya dijual di bawah harga pasar. Lebih dari itu, pelbagai pembatasan lain yang diterapkan penguasa kolonial terhadap warga beberapa desa Pasundan pada abad ke-18 merupakan semacam laboratorium untuk mengembangkan apartheid yang pada abad ke-20 berlaku di Afrika Selatan.

Hal lain yang bisa kita tudingkan ke hidung orang Belanda adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka pada 27 Desember 1949, ketika Den Haag menyerahkan (bagi kita mengakui) kedaulatan Republik Indonesia Serikat dalam sebuah upacara di Istana De Dam, Amsterdam. Beda lima tahun itu adalah upaya gagal mereka merebut kembali Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya. Baru pada 2005, ketika hari ulang tahun proklamasi ke-60, Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot hadir pada upacara detik-detik proklamasi. Sebagai menlu pertama Belanda yang hadir pada upacara itu, dia menyatakan mengakui secara moral proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pernyataan ini tidak tegas dan sangat mengambang.

Apa maksudnya “mengakui secara moral” itu? Mengapa tidak langsung saja mengakui proklamasi kemerdekaan kita? Ada yang menafsirkan ucapan semacam ini tidak lebih dari tameng untuk melindungi negara (tentu saja negara Belanda) dari kemungkinan tuntutan pengadilan yang diajukan kalangan bekas pegawai negeri Hindia Belanda. Selama penjajahan Jepang misalnya pemerintah Belanda tidak menggaji mereka lagi. Padahal mereka belum dipecat sebagai pegawai negeri. Dihalangi oleh kemungkinan-kemungkinan semacam ini Belanda pada akhirnya tidak pernah bisa tegas dan jelas dalam berhubungan dengan Indonesia. Rasanya seperti maju kena, mundur kena.

Melalui dua contoh di atas –sebenarnya contoh itu masih banyak– kita diajak untuk melek sejarah supaya paham, sadar dan bisa menerima bahwa dalam sejarah tidak ada yang statis dan tidak berubah. Indonesia baru lahir setelah Proklamasi 17 Agustus, sebelum itu Indonesia adalah Hindia Belanda yang dijajah Belanda. Tetapi selama penjajahan itu banyak terjadi perubahan dan itu bukan hanya berlangsung di Hindia Belanda melainkan juga di Belanda.

Sekarang Indonesia sudah merdeka, akankah perubahan itu berhenti seperti sering kita dengar dalam slogan NKRI harga mati? Silakan memikirkan dan menjawabnya sendiri. Yang jelas Timor Timur sekarang sudah jadi Timor Leste, itu karena Orde Baru sudah jatuh. Mungkinkah kita menghentikan perubahan. Yang pasti, sejarah sebagai penjelas masa kini yang juga berarti perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita. (Oleh: Joss Wibisono, 13 September 2011 di http://historia.id/modern/mitos-350-tahun-penjajahan)

Benarkah Indonesia Dijajah Selama 350 Tahun?

Hampir di setiap buku sejarah, baik untuk SD hingga SMA, berulang kali dikatakan “350 tahun penjajahan Belanda”. Mengapa poin lamanya waktu penjajahan begitu ditekankan, sedang dampak dari penjajahan itu sendiri terkadang abai dalam perbincangan? Terlebih, benarkah kita dijajah oleh Belanda selama 350 tahun?

1. VOC mulai beroperasi pada 1602

Jika yang disebut penjajahan adalah sejak mulai beroperasinya kantor dagang Belanda di Indonesia pada 1602, maka 350 tahun kemudian adalah 1952. Sedangkan kita memproklamirkan kemerdekaan pada 1945 meskipun Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949. Jika perhitungan 350 tahun adalah sebelum 1945, maka kita memperoleh tahun 1595 di mana itu merupakan awal ekspedisi Belanda menuju Indonesia yang dipimpin oleh Cornelius De Houtman. Namun ketika itu belumlah dimulai penjajahan dalam bentuk apa pun.

Pic Source: hello-pet.com

Pic Source: hello-pet.com

VOC pun tidak menguasai seluruh wilayah yang termasuk dalam negara Indonesia kini. Kantor dagangnya berpusat di Batavia (Jakarta-red) dan Maluku saja. Jika dihitung sejak 1602, maka maksimal “penjajahan” terjadi selama 340 tahun. Bahkan sebenarnya Maluku baru benar-benar dikuasai VOC pada 1630. VOC berusaha memperluas kantor dagangnya ke Aceh pada 1904, tetapi baru berhasil pada 1912. Sebelumnya, Aceh adalah negara berdaulat yang bahkan memiliki duta besar di Turki. Perluasan kantor dagang VOC ke Bali pun baru berhasil pada 1906. Jadi tidak ada satu pun wilayah Indonesia yang benar-benar mengalami 350 tahun penjajahan.

2. Penyebutan Indonesia

Indonesia baru benar-benar lahir sebagai negara, yakni pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya wilayah ini dinamakan Hindia Belanda, meskipun gerakan kebangsaan dimulai sejak awal 1900-an. Jauh sebelumnya wilayah ini bernama Kesultanan Aceh, Kerajaan Bone, Kesultanan Banten, Mataram dan sebagainya. Sebelum itu, negara bernama Indonesia belumlah lahir.

3. Penyebutan Belanda

VOC merupakan kantor dagang, yang meskipun milik Belanda dan melakukan monopoli perdagangan di Hindia Belanda kala itu, tapi VOC adalah sebuah perusahaan multinasional. Bentuk relasi yang terjadi adalah bisnis antara VOC dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara ini. Setelah VOC bangkrut pada 1799, barulah Belanda mengambil alih segala peninggalan VOC, termasuk utang sebesar 136 juta gulden. Namun kemudian Belanda pun dijajah oleh Prancis dan untuk sementara beberapa wilayah di Nusantara dikuasai Inggris. Belanda sendiri baru pada tahun 1813 menguasasi sebagian wilayah Nusantara dan menerapkan Tanam Paksa demi menyelamatkan perekonomiannya yang hancur kala itu.

Coin Value: Indonesia (Dutch East Indies) Duit and Half Duit 1726. Pict Source: coinquest.com

Coin Value: Indonesia (Dutch East Indies) Duit and Half Duit 1726. Pict Source: coinquest.com

Namun untuk menjadi sebuah negara-bangsa yang berdaulat tentu saja harus dibangun rasa senasib sepenanggungan, salah satunya adalah kesamaan sejarah yang dimiliki. Lebih besar dari itu, sebuah negara-bangsa harus dibangun dengan gagasan dan visi bersama. Meskipun masa lalu bisa menjadi latar historis yang menyentuh, namun visi untuk masa depan pun adalah utama. Indonesia seperti apa yang kalian harapkan dan bagaimana mencapainya? (Oleh: Rina Nurjanah on 17 Agu 2015 at 10:04 di http://m.liputan6.com/citizen6/read/2292961/benarkah-indonesia-dijajah-selama-350-tahun)

Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun Hanya Mitos… Kenapa bisa ? Temukan jawabannya

Sejarawan Taufik Abdullah mengatakan, Indonesia tidak pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Sebaliknya, Belanda yang memerlukan tiga abad untuk menguasai Indonesia.“Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta. Yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari tiga ratus tahun untuk menaklukkan beberapa daerah di Hindia Belanda,” katanya di Medan.

Selama ini, bangsa Indonesia meyakni bahwa rakyat dijajah Belanda selama 350 tahun, kemudian dijajah Jepang selama tiga setengah tahun.Dalam seminar nasional pengusulan Sultan Serdang ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945) sebagai pahlawan nasional, Taufik memaparkan, Belanda pertama kali masuk Indonesia tahun 1652 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan dan pusat kekuasaan nusantara (Banten).Sementara itu, kolonialisme Belanda berakhir tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan diduduki tentara Jepang.“Logikanya, apakah masuk akal kalau dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di Banten?” katanya.

Ia mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut pada abad ke-17 yang justru merupakan zaman ketika berbagai kerajaan di kepulauan nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa.Abad ke-17 adalah masa jayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang sempat meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatra, demikian juga Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa kecuali Banten dan Batavia.Begitu juga dengan Raja Tallo yang sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin Raja Gowa (1653-1669).

Mereka memerintah di kerajaannya dan biasa terlibat dalam kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula meraka menghadapi dengan gagah berani infilterasi kekuatan asing seperti Belanda, Spanyol, dan Portugis.“Lalu, bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda memerintah, raja-raja di nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing?” katanya. (Koran PR)

Catatan:Serba sejarah telah banyak membahas tentang “Mitos 350 Tahun Penjajahan Belanda”.

Diantara tulisan tentang ini adalah:

  • Mitos Penjajahan 350 Tahun
  • Resink dan Mitos Penjajahan 350 Tahun
  • Belanda Tidak Pernah Menjajah Ratusan Tahun di Indonesia

Taufik Abdullah menyatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut pada abad ke-17 yang justru merupakan zaman ketika berbagai kerajaan di kepulauan nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa. Dalam hal ini Serba sejarah sepakat, dan diatara tulisan-tulisan yang mendukung bahwa abad ke-17 bukan abad penjajahan Belanda tetapi “Peradaban Islam di Indonesia” diantaranya:

  • Eksistensi Negara-negara Islam di Nusantara
  • Indonesian Traditional StatesSejarah Peradaban Islam Indonesia Yang Terkubur (dikubur)
  • Manuskrip Ulama Nusantara Dijarah Penjajah 

(Oleh: Reza Tri Suci, 2011 di http://www.okwave.com/arigato/id/posts/478)

Benarkah Indonesia Dijajah Belanda Tak Selama 350 Tahun?

Sejak di bangku sekolah, para siswa diajarkan bahwa penjajahan yang berlangsung di Indonesia adalah selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. Namun, beberapa sejarawan ini sepakat, Belanda menjajah Indonesia bukan selama 350 tahun. Benarkah?

Menjawab pertanyaan detikcom tentang benarkah penjajahan Belanda bukan selama 350 tahun, 3 sejarawan:
  1. Dr Lilie Suratminto, MA (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia),
  2. Dr Sri Margana (Jurusan Sejarah Universitas Gajah Mada) dan
  3. Bonnie Triyana (alumni jurusan sejarah Universitas Diponegoro dan Pemred Majalah Historia), sepakat mengatakan bahwa benar, memang penjajahan Belanda bukan selama 350 tahun.
"Betul, benar, karena apa namanya arti penjajahan sebenarnya ketika negara kolonial Belanda itu didirikan. Nah negara kolonial Belanda itu didirikan

logo-a0b2c7061ac5c5efa02086600560d5b5

V.O.C. logo by: denyhendrawansaputra.blogspot.com

Hindia Belanda setelah VOC dihapuskan tahun 1800. 1800 itu VOC dinyatakan bangkrut, aset VOC diambil alih pemerintah Belanda, dan utang-utang VOC ditanggung pemerintah Belanda,” jelas Dr Sri Margana usai ‘Seminar Bedah Sejarah VOC 1602 Batavia’ di Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).

Nah, untuk mengelola aset-aset peninggalan VOC di Hindia Belanda, imbuh Margana, maka didirikanlah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, tahun 1800, pasca VOC dinyatakan bangkrut. Masa VOC dari 1602-1800, bukanlah masa penjajahan melainkan kapitalisme, karena yang berkuasa adalah modal VOC yang mengemban misi dagang.

“Jadi yang disebut negara kolonial Belanda adalah bekas wilayah VOC. Sedangkan yang disebut Indonesia setelah merdeka adalah bekas semua kekuasaan kolonial Hindia Belanda,” tutur doktor sejarah dari Universitas Leiden, Belanda ini. (Oleh: Dr Sri Margana, 11/2/2012 di http://m.detik.com/news/read/2015/02/12/034018/2830581/10/)

Jawaban Kemendikbud

05-14-09.14.24

Para sejarawan sepakat bahwa penjajahan Belanda di Indonesia tidak selama 350 tahun, yang selama ini diajarkan di bangku sekolah. Apa hal ini tak membuat anak sekolah bingung?

“Iya itu tadi, sejarah itu open interpretrasi. Apalagi 350 tahun itu wilayahnya macam-macam. Itu bukan hal baru,” jelas Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Kacung Marijan, usai ‘Seminar Bedah Sejarah VOC 1602 Batavia’ di Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).

05-14-09.25.37
Kacung mencontohkan wilayah Aceh, di mana orang Aceh tak pernah mengatakan dijajah 350 tahun. “Itu open interpretasi kan? Bukan sesuatu yang baru. Di Kalimantan juga enggak sampai segitu (350 tahun),” imbuhnya.

Angka 350 tahun itu, menurut Kacung, adalah fase kedatangan awal bangsa asing. “Itu (jumlah tahun) gelondongan. Kita pukul rata memang. Karena dulunya, negara Indonesia itu nggak ada, adanya kerajaan-kerajaan,” tuturnya.

Sejarawan Dr Lilie Suratminto, MA (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia) mengatakan, orang-orang di Nusantara itu baru sadar bahwa dirinya dijajah itu pada tahun 1908. Momen itulah yang jadi Kebangkitan Nasional.

“Jadi, orang-orang Indonesia ini dengan adanya Kebangkitan Nasional orang makin sadar, sadar menjadi bangsa terjajah, mulai Kebangkitan nasional tahun 1908 tapi nanti 20 tahun kemudian, ada konsolidasi Sumpah Pemuda,” tutur dia.

Perlawanan ratusan tahun yang sebelumnya dilakukan secara sporadis, baik oleh Diponegoro, Imam Bonjol dan lain-lain dilakukan dengan kekuatan otot. Namun setelah kesadaran intelektual tumbuh, maka hal itu lebih kuat dibanding senjata.

“Tapi begitu mereka (penjajah) dilawan dengan intelektual, kan ini orang pinter, kalah melawan intelektual. Tadinya kan pake senjata. Ternyata dengan okol (otot) kalah oleh akal,” tuturnya. (http://m.detik.com/news/read/2015/02…23/2830588/10/)

Referensi

  • ^http://historia.id/modern/mitos-350-tahun-penjajahan
  • ^http://m.liputan6.com/citizen6/read/2292961/benarkah-indonesia-dijajah-selama-350-tahun
  • ^http://www.okwave.com/arigato/id/posts/478
  • ^http://m.detik.com/news/read/2015/02…23/2830588/10/
  • ^http://m.kaskus.co.id/thread/54dbdb0b31e2e627588b456d/kata-kemendikbud-soal-belanda-yang-tak-jajah-indonesia-selama-35-abad/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s