image

Alex Kawilarang adalah perwira angkatan 45 yang tergolong bersih dan tidak pernah mendukung rejim Soeharto. Menurut seorang tokoh pemuda tahun 45, Des Alwi, Kawilarang adalah seorang tentara asli yang jujur dan tidak main politik. Kawilarang memulai kariernya tahun 1945 sebagai perwira penghubung dengan Pasukan Inggris di Jakarta . Ia pernah menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor, kemudian tahun 1946 menjadi Komandan Brigade II Sukabumi. Pada 1948, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I/Siliwangi di Yogyakarta.

Alex Kawilarang memiliki peran penting dalam penyusunan organisasi TNI di awal kemerdekaan. Termasuk membangun pasukan elite yang kelak dikenal sebagai Kopassus TNI AD.

Di zaman Belanda, Alex mengikuti pendidikan perwira Koninklijk Militaire Academie (KMA) di Bandung. Sebenarnya KMA Bandung merupakan sekolah perwira darurat karena saat itu Belanda telah dikuasai Jerman dalam perang dunia II. KMA Breda di Belanda pun tutup.

Alex tak lama menjadi perwira Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL), atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Tahun 1942, Jepang keburu masuk dan KNIL dibubarkan. Walau begitu dia tercatat sebagai satu dari sedikit orang Indonesia yang bisa menjadi perwira KNIL.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Alex bergabung dengan TNI. Awalnya dia menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris. Karirnya terus merangkak naik. Kawilarang dipercaya memimpin ekspedisi TNI menumpas berbagai pemberontakan di hari-hari awal republik. Mulai dari Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Pengalaman menumpas berbagai pemberontakan ini yang membuat Kawilarang berpikir perlunya Indonesia memiliki pasukan kecil dengan kemampuan tempur hebat. Kawilarang begitu kagum akan kemampuan musuhnya, pasukan baret merah dan hijau Belanda dari Korps Speciale Troepen. Dia banyak berdiskusi dengan Letkol Slamet Riyadi soal pembentukan pasukan elite ini.

Menampar Soeharto

Alex Kawilarang pernah disorot pers ibukota pada tahun limapuluhan. Ketika itu secara mengejutkan Alex menangkap Menlu Roeslan Abdulgani di lapangan terbang Kemayoran dengan tuduhan korupsi. Roeslan ketika itu bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri. Belakangan Presiden Soekarno meminta Panglima Siliwangi ini membebaskan kembali Menlunya itu.

image

Tahun 1949 ia menjadi Komandan Territorium Sumatera Utara, lalu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium I hingga tahun 1950. Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi. Nah saat itu Kawilarang melapor pada Presiden Soekarno bahwa kondisi Makassar sudah aman. Tapi Soekarno malah menunjukkan radiogram yang memberitakan Makassar diserang pasukan KNIL.

image

Kawilarang mencari Komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto yang bertugas menjaga Kota Makassar. Dia kesal melihat anak buah Soeharto malah melarikan diri ke lapangan udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Alex menjadi marah dan buru-buru kembali ke Makassar.

Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto: “sirkus apa-apaan nih?”, kata Kawilarang sambil menempeleng Soeharto.

Saat menjabat Panglima TT III/Siliwangi, Kawilarang merintis pembentukan Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwang bulan April 1951. Kesatuan inilah yang kelak menjadi Kopassus.

Walau merintis pasukan elite tersebut, baru tahun 1999 Kawilarang diterima menjadi warga kehormatan Kopassus. Hal ini baru bisa dilakukan setelah Soeharto lengser.

Kawilarang pernah dianggap bersalah telah menyeberang ke pihak PRRI/Permesta yang saat itu memberontak pada pemerintah Jakarta. Tapi Soekarno kemudian mengeluarkan abolisi walau memberikan sanksi pangkat Brigjen Kawilarang diturunkan menjadi Kolonel. Kawilarang kemudian memilih mengundurkan diri dari TNI. Padahal bersama Nasution, Kawilarang banyak memberikan saran dalam membangun TNI.

Saat Orde Baru, hubungan Kawilarang dan Soeharto tetap kurang harmonis. Soeharto rupanya belum lupa pernah ditempeleng. Maka Kawilarang hidup sebagai pengusaha. Alex menghidupi keluarganya dari bisnis. Sebuah perusahaan swasta dalam bidang kopra digelutinya, selain bisnis suplai barang-barang kebutuhan ABRI. Alex menikmati hari tuanya bersama H.O. Pondaag, istrinya yang terakhir dari tiga perkawinannya. Dengan tubuh setinggi sekitar 170 sentimeter, tongkat yang selalu ditentengnya tak bisa menyembunyikan kegagahannya di masa silam.

Kakek yang lahir di Jatinegara, Jakarta, pada 23 Februari 1920, ini memiliki tujuh cucu dari tiga anak. Nama Alex Kawilarang kini dikenang kembali ketika masa yang disebut banyak orang sebagai era reformasi bergaung. Kopassus memberikan penghargaan kepadanya sebagai anggota kehormatan Korps Baret Merah, pertengahan April 2011, pada ulang tahun ke-47 komando itu.

Kolonel (Purn.) Alex E Kawilarang, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Selama Soeharto berkuasa berkali-kali Alex mendesak Pepabri untuk mengkritik Soeharto tetapi Pepabri yang sudah dikuasai para kaki-tangan Soeharto tetap saja mendukung kebijakan “Bapak Pembangunan” ini.

image

Sesepuh Kopassus ini meninggal 6 Juni 2000, dalam usia 80 tahun akibat komplikasi beberapa penyakit. Di rumah duka, Jalan Situbondo No.8, Menteng, Jakarta Pusat beberapa pejabat yang tampak hadir di rumah duka antara lain ialah kehadiran para mantan perwira pasukan Permesta yang sejak tengah malam berada di rumah duka. Danjen Kopassus, Mayjen Syahrir MS, Ali Sadikin dan Menhub Agum Gumelar juga mendatangi rumah duka. Dari kalangan politisi nampak Ketua DPA Achmad Tirto, Arnold Baramuli, Sabam Sirait dan Des Alwi.  Sabam Sirait tokoh PDI Perjuangan menceriterakan kenangan menariknya bersama Almarhum. Sabam menuturkan bahwa, waktu hari ulang tahun Kopasus, ketika Prabowo Subianto menjabat Danjen Kopasus saat itu lupa mengucapkan terima kasih kepada Alex. Padahal Prabowo sudah sempat memuji-muji perwira-perwira senior lainnya.

Sabam yang mengingatkan Prabowo bahwa Kawilaranglah yang mendirikan KKAD atau RPKAD. Lalu Prabowo kembali naik mimbar dan mengucapkan terima kasih yang ditujukan kepada Alex. Alex-lah yang membentuk Satuan Komando Tentara Teritorium III pada 1952, “cikal bakal” Kopassus yang berganti nama beberapa kali. Dari Kesatuan Komando Angkatan Darat, lalu berubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat, kemudian Komando Pasukan Sandi Yudha (1969), dan terakhir Komando Pasukan Khusus (1984), sampai sekarang.

Tetapi, lanjut Sabam, Alex mengatakan padanya bahwa, saya tidak perlu ucapan terima kasih dari perwira-perwira rejim ini. Dalam suatu percakapan dengan Radio Nederland, Kawilarang yang secara akrab biasanya disapa dengan Bung Lex, mengatakan: “Ketika Wiranto masih menjabat Panglima TNI saya pernah mengatakan, melihat sepak terjang TNI selama Orde Baru saya kira sebaiknya TNI dibubarkan saja. Tetapi Wiranto tidak bereaksi, kata Kawilarang. Perwira professional ini beranggapan, yang paling tepat memimpin TNI adalah Agus Wijoyo karena, selain professional, Agus Wijoyo juga tidak berpihak pada kelompok-kelompok politik.

Bapak Kopassus ini dimakamkan di taman makam pahlawan Cikutra, Bandung

Kepemimpinan Kawilarang di segani para prajurit

Di sebuah warung kopi di Kota Bitung, duduk beberapa orang  paruh baya. Ada yang terlihat bersemangat seakan-akan memegang sebuah senapan dan melakukan tembakan yang ditandai dengan suara “dor” dikeluarkan dari mulut. Rupanya mereka sedang bercerita tentang masa Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dulu di Sulawesi Utara.

Salah satu pria tua itu mengaku bernama Utu Mudeng, 78 tahun. Utu Mudeng mengaku masih pemuda belia saat Permesta pecah di Sulawesi. Saat itu Utu mengikuti ajakan seorang Letnan Kolonel bernama Alex Evert Kawilarang.

Utu mengisahkan, putra Manado kelahiran Jakarta itu bak legenda di kalangan prajurit Permesta. Jika berkumpul, para veteran tentara yang pernah dianggap memberontak ini berkumpul untuk mengenang kisah mereka.

“Saat itu saya seorang pemuda yang masih berumur 20-an,” kata Utu. “Saya mengikuti peperangan Permesta dan dipimpin langsung oleh Letkol Kawilarang. Dia lelaki yang pintar membuat strategi perang, kami selalu bersemangat di bawah pimpinannya,” ujar Utu kepada VIVAnews.com, Sabtu, 3 Maret 2012.

Sebagai tentara perlawanan, Permesta terhitung memiliki persenjataan lumayan, mulai persenjataan mesin, granat, senjata antiserangan udara hingga pesawat pun dimiliki oleh Permesta. “Persenjataan dikirim dari Taiwan dan masuk melalui Filipina, karena pangkalan Amerika ada di Taiwan dan Filipina,” katanya.

Pergolakan Permesta yang dianggap pemberontak saat itu muncul akibat perekonomian Indonesia dinilai tebang pilih. Presiden Soekarno yang memerintah saat itu dinilai menganaktirikan daerah-daerah di luar Jawa. “Kisahnya panjang sewaktu perang terjadi, bertahun-tahun setiap kami berkumpul kami mengenang peristiwa itu dan menceritakan bersama tanpa bosan,” katanya.

Dan ciri khas pasukan Permesta saat itu adalah baret merah. “Sampai saat ini, kami merasa sangat bangga, setiap melihat pasukan TNI dengan baret merah, kami selalu melihat itu adalah Kawilarang,” ucap Utu sembari meneteskan air mata menceritakan kisah Permesta dibawah pimpinan Letkol A.E. Kawilarang.

Dan pemberontakan Permesta yang ikut dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) itu berakhir dengan penumpasan tahun 1958. Para pelaku sebagian besar mendapatkan amnesti dan kemudian memilih mundur dari dinas ketentaraan.

Sumber

  • ^https://atadikenadonara.blogspot.co.id/2013_08_01_archive.html?m=1
  • ^https://langitkata.blogspot.co.id/2011/11/saat-soeharto-ditampar-alex-kawilarang.html?m=1
  • ^https://m.news.viva.co.id/news/read/293083-legenda-alex-kawilarang-di-warung-kopi
  • ^https://dickyrachmadie.blogspot.co.id/2013/02/ae-kawilarang.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s