Ada sebuah dosa bangsa Indonesia yang tidak termaafkan. Mereka, termasuk saya sendiri, berpura-pura dan memang tidak mau tahu dengan sebuah fakta sejarah.

Dosa itu adalah kita tidak mau mengakui dua putra bangsa terbaik pernah menjadi presiden Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi?

Bila kita ingin jujur dan berpikir sederhana, negara Republik Indonesia lahir pada 17 Agustus 1945. Waktu negara ini diumumkan kelahirannya kepada semua mahluk sejagat raya di sebuah ruang tamu yang tak jauh dari rel kereta api, Soekarno berdoa dengan mulut komat-kamit dan merem melek sambil menadahkan tangan keatas. Dia berdoa agar negara yang baru beberapa menit diumumkan kelahirannya, dapat hidup selamanya dan abadi.

Apakah benar Republik Indonesia abadi dan kekal?

image

Jawabannya cuma dua. Kalau kita mengakui dua orang yang bernama SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA dan DATO MUDA ASSAAT sebagai presiden Indonesia, maka benar Republik Indonesia kekal abadi tanpa sedetikpun pernah mati! Namun jika kita tidak mengakui dua orang tersebut sebagai presiden Indonesia, maka negara yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 pernah mati dan hilang entah ke mana bagai kapur barus.

Artinya, bahwa Republik Indonesia adalah negara jadi-jadian yang mirip mahluk halus. Pernah lahir, lalu mati dan hidup lagi, lalu mati dan hidup lagi. Ya seperti mahluk jadi-jadian. Kenyataannya tidak seperti itu! Republik Indonesia yang lahir sejak 17 Agustus 1945 tidak pernah mati sedetikpun, karena jasa SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA dan DATO MUDA ASSAAT.

Tulisan ini tidak akan menceritakan siapa dua putra terbaik itu, tetapi hanya ingin mengenang dan mengingatkan, bahwa tanpa mereka berdua, Republik Indonesia pernah mati dan hilang dari peta dunia. Mirip seperti negara Polandia yang dihilangkan dari peta dunia oleh Jerman, ketika diserbu, dibinasakan dan dijermankan oleh Hitler. Maaf saja, Indonesia tidak seperti itu dan tidak akan pernah menjadi seperti itu.

Bagaimana mereka berdua bisa dikatakan sebagai penjaga proklamasi? Jawaban sangat sederhana. Mereka pernah menjadi presiden Republik Indonesia di saat negara ini berada dalam situasi comma atau tak berdaya sama sekali. Tanpa mereka berdua, mudah sekali untuk mengatakan, “Indonesia sudah mati!”.

Sederhana sekali untuk menjelaskan bagaimana SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA dan DATO MUDA ASSAAT menjaga proklamasi 17 Agustus 1945 dengan keberanian dan pengabdian yang tulus.

17 AGUSTUS 1945

Republik Indonesia lahir. Tidak punya presiden, tidak punya wakil presiden, tidak punya kabinet, tidak punya parlemen, tidak punya tentara, tidak punya sistem moneter dan tidak punya apa-apa, apapun. Kecuali punya seorang Soekarno dan seorang Mohammad Hatta serta sebuah semangat dari 60 juta rakyat untuk hidup bernegara dengan damai.

18 AGUSTUS 1945 – 19 DESEMBER 1948

Republik Indonesia tertatih-tatih, lemah, digebuki oleh kekuatan asing, diacuhkan oleh dunia internasional sebagai sebuah bangsa baru, diejek dan dihina oleh Belanda dan diharamkan oleh Jepang. Tetapi Republik Indonesia tetap hidup, karena punya presiden dan wakil presiden yang jelas, berwibawa dan ragu-ragu diakui oleh dunia luar.

19 DESEMBER 1948 – 13 JULI 1949

image

Republik Indonesia dianggap sudah mampus oleh Belanda, karena ibukotanya sudah dikuasai. Presiden dan wakil presiden serta menteri-menterinya ditangkap dan diterbangkan ke Bangka dan juga ke Prapat, Sumatera Utara untuk dibuang, dikurung dan dinistakan.

image

Kata siapa Republik Indonesia yang lahir 17 Agustus 1945 mati? Ada sel-selnya yang masih hidup. Seorang menteri yang kebetulan sedang berkunjung ke Sumatera Barat, punya inisiatif membentuk pemerintahan darurat RI, agar keberadaannya tetap ada sejak 17 Agustus 1945.

Orang itu bernama SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA. Dialah “the real President of Republic of Indonesia” saat itu. Bukan Soekarno! Soekarno, Hatta dan sejumlah menteri ditangkap. Bagaimana bisa menjalankan tugas sebagai presiden?

Jabatan SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA hanyalah Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Apapun nama jabatannya, secara de facto dialah presiden RI untuk masa 8 bulan. Bagaimana dia menjalankan pemerintahannya? Ya di hutan-hutan sekitar Bukittinggi.

13 JULI 1949 – 17 DESEMBER 1949

Republik Indonesia makin tampak menggeliat. Setelah melalui beberapa kali perundingan dengan pihak Belanda, akhirnya Soekarno dan Hatta bisa kembali ke Jogjakarta, ibukota negara, sebagai presiden dan wakil presiden kembali. Artinya, selama 8 bulan yang menjadi presiden RI adalah SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA. Buktinya, dia terbang dari ibukota sementara Republik Indonesia di Bukittinggi ke Jogjakarta. Di ibukota negara RI itu, dia menyerahkan kekuasaan kepada Soekarno pada 13 Juli 1949. Dengan demikian Soekarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden kembali.

17 DESEMBER 1949 – 15 AGUSTUS 1950

Republik Indonesia tetap ada. Namun banyak wilayahnya digerogoti oleh Belanda. Jadi sejak merdeka 17 Agustus 1945 dengan wilayah dari Sabang sampai Merauke belum terwujud, malah makin sempit. Wilayah RI hanya meliputi beberapa daerah di Jawa, Sumatera dan beberapa daerah lainnya. Selebihnya adalah daerah pendudukan Belanda, yang kemudian dijadikan negara-negara mini alias negara boneka. Ada negara Pasundan, negara Indonesia Timur dan lain-lain.
image

Nah, melalui perundingan di Den Haag, Belanda, disepakati bahwa Belanda sudah capek dan kelelahan ingin merebut dan menguasai Indonesia, seperti sebelum tentara Jepang datang mengusir mereka dengan nista. Akhirnya Belanda dengan berat hati mau mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Lho! Kita kan sudah merdeka 17 Agustus 1945 lalu. Tapi tunggu dulu…
image

Belanda mau mengakui kedaualatan Indonesia dalam bentuk serikat, bukan mengakui negara Republik Indonesia yang merdeka 17 Agustus 1945. Bagi mereka negara yang lahir tanggal itu adalah negara haram dan tak patut dianggap atau diakui dengan bentuk apapun.
image

Akhirnya, Belanda mengakui Indonesia dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Jadilah Indonesia seperti Amerika Serikat. Saat itu di dunia hanya ada dua negara serikat, yaitu United States of America dan United States of Indonesia. Lalu siapa presiden RIS? Ya Soekarno. Makanya, sebelum ditandatangani pengakuan kedaulatan Belanda pada 27 Desember 1949, Soekarno buru-buru dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat di keraton Jogjakarta pada 17 Desember 1949. Tujuannya, agar pada saat pengakuan kedaulatan nanti, sudah ada pihak yang diakui oleh Belanda, yaitu RIS dengan ibukota Jakarta dan presidennya Soekarno.

Lalu di mana Republik Indonesia yang merdeka 17 Agustus 1945? Ya ada meski wilayahnya secuil kue mangkok dengan ibukotanya di Jogjakarta. Siapa presidennya? Kan Soekarno sudah jadi presiden RIS? Nah, karena Indonesia sudah jadi RIS, maka isinya kumpulan negara-negara kecil. Mirip AS dengan 51 negara bagian.

RIS inilah yang akan diakui Belanda yang terdiri dari 16 negara-negara mini:

  1. Negara Republik Indonesia (merdeka 17 Agustus 1945)
  2. Negara Indonesia Timur
  3. Negara Pasundan
  4. Negara Jawa Timur
  5. Negara Madura
  6. Negara Sumatera Timur
  7. Negara Sumatera Selatan
  8. Daerah Jawa Tengah
  9. Daerah Bangka
  10. Daerah Belitung
  11. Daerah Riau
  12. Daerah Istimewa Kalimantan Barat
  13. Daerah Dayak Besar
  14. Daerah Banjar
  15. Daerah Kalimantan Tenggara
  16. Daerah Kalimantan Timur

Tiap negara punya ibukota, presiden, parlemen dan sistem pemerintahan sendiri. Untuk RI yang merdeka 17 Agustus 1945, tetap ada dan tetap hidup meski wilayahnya kecil. Siapa presidennya? Presidennya adalah Mr. ASSAAT atau DATO MUDA ASSAAT. Kemana Soekarno dan Hatta? Mereka berdua sudah menjadi presiden dan perdana menteri RIS sejak 17 Desember 1949.

Makanya pada tanggal 29 Desember 1949, Soekarno kembali ke Jakarta yang dia tinggalkan selama 4 tahun. Dia datang kembali sebagai presiden RIS, bukan presiden RI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Nah, kantornya adalah di Istana Merdeka dengan Jakarta sebagai ibukota RIS.

Ini artinya sejak 17 Desember 1949, Soekarno bukan lagi presiden RI dan yang menjadi presiden adalah Mr. ASSAAT. Jabatannya adalah Pemangku Sementara Presiden RI atau Acting Presiden RI. Terserah apapun nama jabatannya, Mr. ASSAAT adalah presiden RI untuk meneruskan keberadaan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 itu.

15 AGUSTUS 1950 – 22 FEBRUARI 1966

Republik Indonesia meski tetap ada dengan presidennya Mr. ASSAAT, tetapi tidak bisa sepenuhnya menerima perjanjian Konperensi Meja Bundar itu. Masak wilayah kita tidak seperti yang kita inginkan. Cuma secuil dan bukan dari Sabang sampai Merauke. Mulailah timbul gagasan untuk melebur negara-negara boneka yang jumlahnya 16 negara itu menjadi satu kembali, yaitu Republik Indonesia, seperti yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Gagasan itu akhirnya terwujud dan semua negara boneka berjumlah 16 negara, sepakat melebur menyatu, menjadi Republik Indonesia. Masalahnya, kalau sudah melebur apakah hari peleburan itu dijadikan hari kemerdekaan? Ternyata tidak. Melebur disini sama seperti dengan penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur. Yang jadi negara hasil penggabunganan adalah Jerman Barat, dengan pemimpin, parlemen dan ibukota yang sama seperti yang dimiliki Jerman Barat sebelum penyatuan. Jadi,  A + B = A. Bukan menjadi AB atau C. Begitu juga dengan 16 negara RIS  yang melebur. A + B + C + … + N + O + P = A.

Nah, huruf A itu adalah Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Jadi waktu melebur bukan menjadi Negara Pasundan dengan ibukota Bandung. Bukan! Atau Negara Indonesia Timur! Bukan juga!

Negara Republik Indonesia adalah 1 dari 16 negara RIS yang paling dominan, berwibawa dan paling kredibel dibanding 15 negara lainnya. Makanya waktu melebur menjadi satu, semua sepakat menjadikan RI hasil gabungan seperti negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Ketika melebur menjadi satu, yang menjadi presidennya adalah Soekarno dan wakilnya adalah Hatta. Sama seperti yang diamanatkan pada 17 Agustus 1945. Akhirnya, Soekarno kembali lagi ke Jogjakarta, ibukota RI untuk meminta kembali jabatan Presiden RI yang dipegang oleh Mr. ASSAAT. Soekarno bertemu Presiden RI itu pada 15 Agustus 1950.

Sejak hari itu, Mr. ASSAAT tidak lagi menjadi presiden RI. Dan Soekarno menjadi presiden RI kembali menggantikan Mr. ASSAAT pada 15 Agustus 1950 hingga dia disingkirkan secara diam-diam pada malam hari 22 Februari 1967.

Dengan penjelasan di atas, memaksa kita untuk mengakui SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA dan DATO MUDA ASSAT sebagai presiden RI. Tanpa mereka diakui, sama saja kita mengakui dan membenarkan bahwa negara RI yang merdeka 17 Agustus 1945, pernah mati, lalu hidup lagi, mati lagi dan hidup lagi. Mirip mahluk jadi-jadian.

Tanpa diakui pun, SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA dan DATO MUDA ASSAT adalah penjaga proklamasi 17 Agustus 1945. Sejarah tidak bisa berbohong, karena itu adalah fakta.

Bukan hanya tidak diakui peranan mereka, tetapi juga sisa hidup mereka setelah menjadi presiden RI, sering dinistakan karena perbedaan pandangan dengan penguasa masa Soekarno dan Soearto dalam melihat masa depan negara ini.

Sedangkan Mr. ASSAAT tidak begitu terdengar namanya semasa Orde Baru. Yang saya ingat, justru ketika beliau wafat dalam ketidakperhatian pemerintah dan rakyat Indonesia atas perannya dalam mempertahanan proklamasi. Mereka secara sistematis sudah kita lupakan atas jasanya dalam proklamasi.

Sebaiknya pemerintah segera mengakui mereka sebagai presiden RI dan memberikan gelar kepahlawanan yang pantas untuk jasanya. Tanpa itu, sama saja kita mengakui bahwa Repbilik Indonesia yang lahir 17 Agustus 1945 adalah negara jadi-jadian.

Sumber

^http://baltyra.com/2010/08/05/serial-baltyra-orang-orang-terlupakan-dalam-proklamasi-sjafruddin-prawiranegara-dan-dato-muda-assaat/comment-page-9/#comments#ixzz3sC2Isnkl

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s