Kesan baik akan Bali dan kekaguman akan mahabharata sirna seketika ketika melihat ini

Aliansi Hindu Bali Tolak Petugas Tol Berkerudung

Massa dari aktivis Hindu memprotes kebijakan PT Jasa Marga Bali Tol yang mengeluarkan imbauan agar petugas gerbang Tol Bali Mandara mengenakan kerudung atau peci selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri.

Berbagai elemen massa dari Cakrawahyu, Yayasan Satu Hati Ngrestiti Bali, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, dan Pusat Koordinasi Hindu Nusantara bergabung dalam Aliansi Hindu Bali.

Mereka menggelar demonstrasi di depan Kantor PT Jasa Marga Bali Tol seraya mendesak agar imbauan itu dicabut, Rabu (16/7/2014).

Beberapa aspirasi disampaikan mereka kepada pihak PT Jasa Marga Bali Tol diwakili Hadi Purnama selaku Manager Operasional dan Manajer PT Lingkar luar Jakarta, Budi Susetyo.

Hasilnya, PT Jasa Marga Bali Tol bersedia mencabut kebijakan itu yang awalnya dimaksudkan untuk toleransi antar umat beragama pada bulan Ramadan.

Tokoh Hindu I Gusti Ngurah Artha menyambut baik itikad PT Jasa Marga Bali Tol yang mau mencabut kebijakannya dan meminta maaf secara tertulis melalui media kepada seluruh masyarakat Bali.

“Kami harapkan toleransi PT Jasa Marga Bali Tol tidak dalam bentuk menggunakan busana arab bagi masyarakat Bali karena itu akan menimbulkan permasalahan,” kata Ngurah Artha, 2014.

Pihaknya mendorong agar sebagai negara yang menganut kebhinekaan, harus tetap mempertahankan keragaman.

“Kami tidak ingin adat dan budaya ditekan, hal-hal seperti itu sangat menekan kami sebagai orang Bali,” tegas Dana aktivis lainnya.

Manager Teknik PT Jasa Marga Bali I Gusti Lanang Bagus W menjelaskan, sebenarnya tidak tidak ada aturan secara tertulis mewajibkan menggunakan kerudung dan peci.

“Itu hanya imbauan saja dan bukan kebijakan PT Jasa Marga Bali Tol. Ini kebijakan PT Lingkarluar Jakarta, tentunya kami tidak membiarkan jika berisiko mengundang permasalahan,” imbuhnya.

Manejemen Smartfren: Kami Tak Ada Maksud Lain, Himbauan Sudah Dicabut

image

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Hindu Muda Indonesia, menggelar aksi damai di Kantor PT Smartfren di Jalan Pulau Kawe, Kamis (24/7) kemarin. Aksi yang berlangsung dari pukul 9.00-11.30 wita ini sebagai reaksi dari himbauan perusahaan kepada seluruh karyawan Customer Service Representative (CSR) Gallery Smartfren di Bali  untuk mengenakan aksesoris busana muslim menyambut Hari Raya Idulfitri.

Regional Gallery Manager East Java 1 PT Smartfren, Yongki H. Wibowo mengakui memang ada himbauan dari perusahaan terhadap seluruh karyawan, namun karena sifatnya himbauan, maka bukan kewajiban, namun hanya partisipasi dalam rangka menyemarakan bulan Ramdhan. “Kami tak ada maksud lain. Dan kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, dan per tanggal 23 Juli 2014, himbauan itu sudah dicabut dan tidak berlaku lagi di gallery kami di Bali,” kata Yongki saat diwawancara kemarin petang.

Yongki menjelaskan, himbauan tersebut berkaitan dengan tematik Ramadhan yang berlaku di seluruh gallery kami di Indonesia. “Itu sifatnya partisipasi dan tak ada satu pun yang dipaksa. Di Surabaya misalnya, banyak karyawan yang non muslim tidak memakai asesoris tersebut, karena sifatnya himbauan. Dengan demikian, bisa pakai bisa juga tidak,” kata Yongki.

Pihaknya menyayangkan langkah yang dilakukan mahasiswa yakni sebelum demo mereka melakukan survey terlebih dahulu pada tanggal 19 Juli di Kantor Smartfren. “Saat survey mereka datang tanpa ada surat, dan tanpa ada pemberitahuan. Di kantor mereka bertanya kepada karyan yang bukan pekerja kami, dan tidak juga menemui manejemen, sehingga informasi yang mereka terima pun menjadi kurang tepat,”sesalnya.

Sementara Koordinator Aliansi Hindu Muda Indonesia, Jero Putu Rudy Warmasadha, Kamis (24/7/2014) menyatakan, Pada (19/7/2014) melakukan investigasi ke masing-masing perusahaan bahwa dalam investigasi yang dilakukan oleh team kami tercatat alasan adanya penggunaan busana muslim berupa kerudung dan peci itu karena dalam rangka menyambut ibadah puasa.

“Kami juga mencatat dalam penggunaan pakian muslim itu ada orang Bali yang beragama Hindu menggunakannya. Terkait berapa jumlahnya kami tidak membawanya. Karena dibawa oleh teman saya,” katanya saat dikonfirmasi Kamis petang (24/7/2014).

Atas dasar itu, kami dari Aliansi Hindu Muda Indonesia melayangkan surat pada (23/7/2014) ke pihak Hypermart, Smartfren, dan Hoka-Hoka Bento. Selanjutnya, pada tanggal itu juga pihak Hoka-Hoka Bento melakukan klarifikasi.  “Sedangkan dari Hypermat juga sudah memberikan klarifikasinya dengan menyampaikan telah menghentikan pakian muslim seperti peci dan kerudung dan meminta maaf kalau jika telah membawa citra kurang baik bagi budaya Bali,” jelasnya. 003/022

Aliansi Hindhu Bali Tolak Ekonomi Syariah

Maraknya gerakan ekonomi Pro-Pancasila di Bali dinilai sebagai sinyal positif bagi tokoh–tokoh agama dan adat di Bali, mengingat Bali secara kultural dijiwai oleh nilai – nilai agama Hindu yang terangkum dalam hukum adat. Dan penolakan akan berkembangnya ekonomi syariah di Bali dirasa merupakan suatu kewajaran, mengingat Bali sangat konsisten menerapkan ekonomi adat. Dan salah satu isu yang hangat dimedia sosial adalah penolakan sebagian besar rakyat Bali terhadap adanya yang mengaku Hotel Syariah dikawasan pariwisata Kuta, bahkan hotel tersebutpun sudah melakukan promosi gencar dengan menggunakan bahasa – bahasa Islami yang tidak relevan dengan adat dan budaya Bali. Dan kecaman itupun muncul dari President The Hindu Center Of Indonesia, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III disela – sela peluncuran Gerakan Ekonomi Satyagraha di Kuta Selatan. ”Saya ingatkan pada investor pendatang yang ingin mencari makan di Bali, tolong hargai perasaan umat Hindu dan juga Desa Adat bahwa orang Bali itu adalah pendukung ekonomi Pancasila. Kami bangga dengan LPD, bangga dengan Koperasi dan bangga dengan BPR.

Jangan lagi orang Bali dikotak – kotakkan dengan ekonomi label agama tertentu. Jadi segera kita akan lakukan gerakan dan aksi hukum terhadap hotel yang mengaku sebagai hotel Syariah di Kuta itu.Saya sedang menunggu laporan dari Tim Hukum Hindu Center.”ungkap Dr. Arya Wedakarna. Iapun beralasan bahwa warga Kuta masih trauma dengan Bom Bali I dan Bom Bali II beberapa tahun silam. ”Saya ingatkan pada warga Kuta, JAS MERAH, jangan sesekali meninggalkan sejarah. Bali dibom pada  tahun 2002 oleh teroris agama fundamentalis itu karena alasan SARA. Jadi jangan bawa lagi  masalah SARA ke Kuta. Jangan membangunkan macan tidur. Ini bahaya,disatu sisi kita orang Bali sedang berusaha mengikis Islamophobia, eh ini kok ada yang menantang ekonomi Pancasila. Saya minta aparat menyegel Hotel Syariah tersebut.Saya dengar Pemkab Badung juga dibohongi karena nomenklatur izin perhotelan, tida ada izin untuk hotel syariah.”ungkap President World Hindu Youth Organization (WHYO) itu. Untuk itu pihaknya menghimbau agar desa adat di Bali agar semakin selektif mengamati operasional investor yang tidak mendukung budaya Hindu di Bali. ”Saya rasa, desa adat wajib menegur bahkan merekomendasikan penutupan usaha diwilayah adat yang tidak mendukung sistem budaya Hindu Bali. Belajarlah dari kehancuran Majapahit diabad XV, bahwa Hindu di Jawa hancur bukan karena tatwa tapi karena masalah ekonomi. Wahabiyah ini menggunakan strategi yang sama. Waspadai gerakan anti Pancasila di Bali.”ungkap Calon Senator RI ( DPD ) RI Nomer 41.


Jejak Permusuhan Arya Wedakarna terhadap
Islam

Bukan Arya Wedakarna namanya kalau tak memusuhi Islam dan umat Islam. Berkali-kali lelaki Bali ini memprovokasi umat Islam. Tak segan-segan dia menentang semua hal yang dinilai terkait dengan syariat Islam.

Terbaru, pada 7 Agustus 2014 lalu melalui akun facebooknya, Arya Wedakarna, menulis status yang menyatakan penolakannya terjadap perbankan syariah di Bali.

“Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) hari ini berdemonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia Denpasar untuk moratorium/stop izin Bank Syariah di pulau seribu pura. Bersuaralah anak anak muda Hindu. Pertahankan ekonomi Pancasila! Lanjutkan !!!”, tulis President World Hindu Youth Organisation (WHYO) itu.

Sikap anti terhadap Islam ini bukan kali pertama ini ditunjukkan Arya. Lelaki berusia 34 tahun ini telah seringkali melecehkan Islam.

Salah satu contohnya, dalam artikelnya berjudul “HIV/AIDS, Jihad Model Baru di Bali?”, yang dimuat tabloid TOKOH edisi edisi 9-15 Januari 2012, pria berusia 32 tahin ini terang-terangan menuduh orang-orang Islam sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di Bali dan melalui merekalah virus HIV/AIDS disebarkan untuk menghancurkan generasi muda Hindu Bali.

“Tentu cafe liar ini dilengkapi dengan SDM para pekerja seks komersial (PSK) yang saya yakini (lagi) didominasi oleh perempuan non-Hindu dan pendatang luar Bali,” tulisnya di paragraf kedua artikel itu.

Meski tidak tegas menyebut para PSK itu adalah perempuan-perempuan Islam, tetapi pernyataan Ketua DPD PNI Marhaenisme Bali itu dipertegas lagi dalam tulisannya di paragraf empat. Arya Wedakarna tegas memfitnah Islam bahwa gerakan penyebaran HIV/AIDS adalah jihad tersembunyi yang dilakukan kelompok kecil fundamentalis Islam.

“Dan kini, saya dituntut makin percaya, ternyata gerakan penyebaran HIV/AIDS ini adalah gerakan jihad tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok kecil fundamentalis Islam yang sama-sama menjadi sponsor Bom Bali I dan Bom Bali II,” tulisnya.

“Kenapa? Menurut mereka, Bali tidak akan pernah bisa hancur karena Bom, ini di buktikan Bom bali I dan Bom Bali II Tidak mampu menghancurkan kekuatan taksu Bali. Bali sebagai pulau Hindu yang disayangi Dunia,” lanjutnya.

Cacian dan fitnah murahan Arya Wedakarna tak berhenti sampai disitu, ia bahkan menuding berdirinya warung-warung pecel lele, nasi pedas, tukang cukur, sertifikasi halal bagi hotel dan restoran di Bali adalah upaya untuk menghancurkan Basli.

“Tetapi, kini ada senjata model baru untuk menghancurkan Bali yakni gerakan ekonomi seperti gerakan pecel lele, nasi tempong, nasi pedas, tukang cukur, gerakan labelisasi Halal di setiap Hotel dan restoran di bali (saya akan bahas di setiap tulisan berikutnya),” tulisnya.

Arya Wedakarna menjelaskan bahwa dalam hal penyebaran HIV/AIDS, diduga orang-orang Bali, anak-anak muda Bali ketika mereka datang ke cafe, maka PSK tidak menyarankan untuk memakai kondom, tapi sebaliknya jika kaum pendatang yang memanfaatkan PSK, maka sangat disarankan memakai Kondom.

“Mungkin gadis PSK itu sudah di cuci otaknya, agar Bali ini 10 tahun ke depan banyak suami-suami, anak-anak muda yang mati nelangsa karena HIV/AIDS,” tandasnya.

Sebelumnya, di paragraf yang sama ia juga menuduh program Keluarga Berencana (KB) yang digallakn pemerintah merupakan cara untuk mengurangi populasi warga Hindu. Karena kebodohannya, dia menyebut ada umat agama lain boleh berpoligami hingga lima orang. Entah agama mana yang dia fitnah.

“Belum lagi aksi pemerintah dan program KB-nya yang sukses mengurangi jumlah Krama Hindu dengan paksaan selalu punya anak dua (yang di satu sisi umat lain boleh berpoligami dengan istri maksimal lima orang). Tentu hal ini akan merugikan keluarga Hindu yang terlanjur punya dua anak, tapi putranya mati karena AIDS atau rabies,” katanya.

Cacian dan fitnah murahan Arya Wedakarna tak berhenti sampai disitu, ia bahkan menuding berdirinya warung-warung pecel lele, nasi pedas, tukang cukur dari kaum pendatang, serta sertifikasi
halal pada hotel dan restoran di Bali adalah upaya untuk menghancurkan Bali.

Menjelang hari raya Idul Adha pada 2012 lalu, ia mengimbau supaya umat Islam di Bali tidak memotong sapi sebagai hewan kurban. Alasannya sapi adalah hewan yang disucikan kaum Hindu.

“Saya menghimbau semeton Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme,” katanya seperti dikutip Tribunnews.com, Rabu (24/10/2012).

Tak berhenti sampai disitu, Arya juga mengimbau kepada perusahaan-perusahaan dan pejabat di Bali jika ingin membagikan dana CSR supaya tidak berupa sapi.

”Karena umat Hindu harus memberi contoh dan teladan sebagaimana tatwa yang diajarkan Sang Sulinggih. Mari hargai perasaan umat Hindu sehingga persatuan bisa dijaga,” ungkap President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini.

Arya Wedakarna juga menyudutkan ruang gerak muslim di Bali. Baru-baru ini, para siswi dan karyawati muslim di Bali disulitkan dengan himbauan untuk tidak boleh menggunakan jilbab di beberapa sekolah umum dan perusahaan swasta di Bali.

Siapa Arya Wedakarna?

Lantas, siapa sebenarnya sosok yang bernama lengkap Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III , SE (MTRU), M.Si itu?

Rupanya biodata sosok muda itu bisa ditemukan dalam websitenya, http://vedakarna.com. Di sana dijelaskan bahwa Arya Wedakarna adalah lelaki kelahiran Denpasar, 23 Agustus 1980. Gelarnya Raja Majapahit Bali Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I.

Berulang kali dia mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). Tercatat ia pernah menyabet gelar sebagai doktor termuda di Indonesia saat berusia 27 tahun dan rektor termuda di Indonesia dengan usia 28 tahun. Ia sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Mahendradatta Bali, yang dikatakannya sebagai universitas tertua di Bali yang didirikan oleh ayahnya, Shri Wedastera Suyasa, bersama Presiden Sukarno.

Pendidikan SD-SMAnya ditempuh di Bali. Tahun 2000 ia menempuh pendidikan di Melbourne Languange Center, Australia. Pada 2002 ia kembali ke Indonesia dan masuk ke Jurusan Manajemen Transportasi Udara di Universitas Trisakti. Kemudian ia menyelesaikan S-2 dan S-3 nya di Universitas Satyagama Jakarta. Ia mengklaim memiliki keahlian dalam bidang transportasi udara dan manajemen pemerintahan.

Arya Wedakarna juga pernah terjun ke dunia hiburan. Ia menjadi model dan bintang film serta sinetron.

Baca berita-berita di atas. Sempat mikir juga, bali itu bagian dari Indonesia, bukan? Indonesia mayoritas MUSLIM, bukan? Mereka ingin dihormati, tapi tidak mau menghormati muslim. Toleransi bukan berarti hanya salah satu pihak yang menghormati, tapi pihak yang lain juga harus ikut menghormati.

Kalau mengacu pada prinsip negara Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, maka seharusnya bisa menerima kalau ada upaya toleransi dengan mengenakan jilbab atau peci di event-event agama Islam. Dari keterangan perusahaan-perusahaan di atas, katanya itu juga cuman imbauan, bukan kewajiban.

Namun entah kenapa diplintir seolah-olah itu adalah pemaksaan untuk warga nonmuslim.


HYPERMART, HOKA-HOKA BENTO, SMARTFREN DAN TAMAN NUSA MINTA MAAF KE UMAT


Wedakarna Kecam Pemaksaan Jilbab & Peci ke Karyawan Hindhu

Ternyata tidak hanya Jasamarga Bali Tol yang awalnya memiliki kebijakan menggunakan pakaian Muslim terhadap para karyawannya (termasuk karyawan yang beragama Hindu) dibulan Ramadhan dan Lebaran lalu, ternyata masih banyak perusahaan di Bali yang memiliki kebijakan serupa. Dan hal ini megundang keprihatinan dari Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (President The Hindu Center Of Indonesia) yang menganggap bahwa kebijakan memakaian pakaian Muslim yakni Jilbab, kerudung dan peci bagi pelaku indusri di Bali mencerminkan tidak adanya penghormatan terhadap citra Bali sebagai Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura, apalagi dalam prakteknya, dilapangan banyak perusahaan yang mewajibkan karyawan beragama non-Muslim untuk memakai pakaian kearab – araban. ”Saya ingin membela rakyat saya yang beragama Hindu, bahwa tidak baik memaksaan citra kearab – araban pada perusahaan di Bali. Semua investor harus mengakui, bahwa turis itu datang ke Bali adalah untuk melihat pura, melihat orang Hindu Bali berupacara dan kagum dengan Pulau Dewata. Dan banyak perusahaan di Bali ini mendapatkan keuntungan karena budaya Hindu Bali, tapi saya prihatin sekali banyak perusahan industri di Bali yang tidak komit menciptakan rasa nyaman pada masyarakat Bali dan cenderung bermain – main pada isu SARA. Dan saya minta kedepan harus tegas bahwa tidak boleh ada kebijakan yang mendegradasi budaya Hindu Bali baik didunia industri dan pariwisata di Bali.”ungkap Dr. Wedakarna disela – sela bertemu dengan sejumlah relawan di Canggu.

Iapun mengkritik umat Hindu yang berada diperusahaan – perusahaan yang mau begitu saja menerima kebijakan yang tidak sesuai dengan kata hati. ”Saya harap,para pekerja Hindu agar tegas menolak dan berani memberi masukan yang benar pada atasannya jika dipaksa menggunakan pakaian agama lain. Kenapa masalah ini terus terjadi ? Karena mental pekerja Hindu kurang bisa beragumen dan cenderung cari selamat. Saya ingatkan, gerakan Syariah dan Misionaris ini akan masuk keranah kehidupan orang Bali jika orang Hindu yang lalai. Maka dari itu, kedepan harus ada revolusi mental terhadap anak – anak kita yang bekerja diperusahaan- perusahaan dan kita akan amati terus. ”ungkap Dr. Wedakarna. Dalam press confrence di Denpasar pada (3/8) kemarin, The Hindu Center Of Indonesia menyampaikan bahwa ada sejumlah perusahaan yang telah meminta maaf dan mencabut kebijakan pakaian Muslim untuk pekerjanya yakni Jasa Marga Bali Tol, Hypermart Kuta, Hoka – Hoka Bento Denpasar, Smartfren Denpasar dan Taman Nusa Gianyar. ”Saya apresiasi pada perusahaan yang sudah meminta maaf. Tahun depan kita akan lebih awasi secara besar – besaran terhadap perusahaan di Bali yang mencoba untuk memaksakan karyawan Hindu memakai pakaian agama lain. Saya akan libatkan desa pekraman untuk mengawasi. Tentu saya membutuhkan laporan dari umat Hindu sebagai mayoritas di Bali. Jika perlu kita boikot perusahaan – perusahaan yang tidak komit terhadap citra pulau Dewata. Kita belajar dari kejadian tahun ini.”ungkap Dr. Wedakarna yang juga Senator RI Terpilih dengan suara terbanyak di Bali ini.

Waduh, fitnahkah? Kalau ya, keterlaluan sekali. Sampai mau boikot segala. I got news for you: muslim yang 200 juta ini juga bisa lo boikot hal-hal yang tidak menguntungkan Islam.

image

Kampanye Boikot Zionis terhitung lumayan berhasil. Gimana kalau diterapkan ke bali, ya?

Dari sini bisa dilihat adanya kejomplangan yang nyata di negara ini. Kalau agama minoritas yang merasa didzalimi, semua pada teriak-teriak tentang HAM, SARA, dll. Lah, sekarang giliran Islam yang diginiin, mana suaranya? Ini juga termasuk pelanggaran HAM dan SARA! Ini juga termasuk mencederai kebhinnekaan Indonesia! Mana tuh pegiat HAM, anggota organisasi lintas agama, dan media-media mainstream yang gencar banget membahas ISIS baru-baru ini? Pada tiarap ya karena kali ini bukan Islam yang jadi bahan diskusi? Ketauan deh agendanya! Makanya aku nggak lagi merujuk pada media-media mainstream sebagai sumber informasi utama. Hanya media-media Islam saja yang jadi sumber informasiku karena pemberitaannya lebih adil terhadap Islam. Selain itu, sebagian besar media mainstream dimiliki non-muslim jadi wajar saja jika isi beritanya nggak banget.

Di atas juga disebutkan bahwa di Bali ada yang menolak ekonomi syariah dengan alasan “anti Pancasila”. Hei, lihat dulu ini!

Canangkan GRES, SBY harap Indonesia Jadi Kekuatan Baru Ekonomi Syariah

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap gerakan ekonomi syariah mampu mendorong misi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Demikian disampaikan SBY saat mencanangkan “Gerakan Ekonomi Syariah” (GRES) di Lapangan Silang Monumen Nasional, Jakarta

image

“Indonesia berpotensi menjadi pusat ekonomi syariah dunia,” kata Presiden SBY, Ahad (17/11/2013).

Dalam sambutannya, SBY berharap sistem eknomi syariah berkembang di berbagai sektor mulai dari perdagangan, perbankan, asuransi dan lainnya.

SBY Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kembali komitmen untuk menjadikan sistem perekonomian syariah sebagai agenda nasional mengingat sistem itu mampu bertahan dari gejolak ekonomi dunia.

“Ekonomi ini (syariah) tidak mudah menjadi gelembung atau yang kita kenal sebagai bubble economy,” kata SBY dikutip Antara.

Menurut SBY, sistem ekonomi syariah menghindarkan pembiayaan yang bersifat spekulatif atau eksploitasi pasar keuangan, lingkungan hidup dan sosial, hanya demi keuntungan ekonomi pemilik modal.

Melalui sistem bagi hasil, tambah SBY, ekonomi syariah menghilangkan jarak antara sektor keuangan dan sektor riil.

“Dengan kata lain, perkembangan sektor keuangan merupakan cerminan kemajuan sektor riil,” katanya.

Acara pencanangan yang dihadiri Ibu Ani Yudhoyono, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

SBY menilai sistem ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi yang harus diperkuat di Indonesia. Pasalnya, saat perekonomian dunia mengalami gejolak, ekonomi syariah terbukti mampu bertahan.

“Saya menyambut baik GRES, untuk meningkatkan akselerasi masyarakat pada ekonomi syariah, mari kita perkuat ekonomi domestik, mari kita bangun sistem dan budaya, ekonomi nenek moyang kita,” ajak SBY sebelum menekan sirine tanda pencanangan GRES.


 Selanjutnya: Bali Hina Muslim? Boikot! (2)

Iklan

5 responses »

  1. Very rapidly this site will be famous amid all blog people, due to it’s fastidious content

    Suka

  2. […] Lanjutan dari Bali Hina Muslim? Boikot! (Bagian Pertama) […]

    Suka

  3. Kennith Hovden berkata:

    Ϝor newest news you have to go to see web and on the web I found this web site as abest website for hottest updаtеs.

    Mү web-site Isle of Eleuthera

    Suka

  4. Mittie berkata:

    Hi there, for all time i used to check web site posts here in the early hours in the daylight, sice i enjoy to gain knowledge of more and more.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s