Benarkah Garuda Pancasila Terinspirasi Dari Lambang Samudera Pasai?

Garuda Pancasila adalah lambang negara Indonesia, lambang tersebut adalah berbentuk burung garuda yang ditengah-tengahnya terdapat perisai berisi simbol yakni bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, dan padi dan kapas.

Setiap lambang tersebut memiliki maksud dan makna yang berbeda-beda. Bintang melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemudian mata rantai melambangkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sedangkan pohon beringin melambangkan Persatuan Indonesia, kepala banteng melambangkan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.

GARUDA PANCASILA

GARUDA PANCASILA

Lambang Garuda Pancasila ini resmi menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 11 Februari 1950, dan terlihat lambang Negara Indonesia ini terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Tapi sudahkah Anda tahu tentang sejarah bagaimana terbentuknya lambang Garuda Pancasila ini? Lambang Garuda Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh presiden Soekarno.

Sebelum lambang Garuda itu dipakai sebagai lambang Negara Republik Indonesia, lambang Garuda ini sudah lebih dahulu digunakan sebagai lambang oleh Kerajaan Samudera Pasai. Samudera Pasai sendiri adalah sebuah kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke 13 atau pada tahun 1267.

Kerajaan Islam Samudera Pasai pada saat itu dikenal sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara, hal ini dikemukakan oleh seorang petualang bernama Ibnu Battutah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha.

Lambang kerajaan Islam Samudera Pasai ini dirancang oleh seorang Sultan Samudera Pasai yaitu Sultan Zainal Abidin. Lambang burung tersebut memiliki makna yaitu syiar Islam yang luas.

LAMBANG SAMUDRA PASAI

LAMBANG SAMUDRA PASAI

R Indra S Attahashi menjelaskan bahwa lambang negara Samudera Pasai berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Indra melanjutkan penjelasannya bahwa lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Pada saat itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.

Indra mengatakan, “Bisa saja disebut, lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai yang duluan eksis sebelum kaum Nasionalis Marhaenisme merancang NKRI”, ungkapnya. Ia juga generasi ketujuh dari Kerajaan Sungai Iyu.

Indra menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Tentang lambang Indonesia yang mirip dengan lambang kerajaan Samudera Pasai juga diutarakan oleh dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara, Ibrahim Qamarius. Setelah digelar seminar International Conference and Seminar “Malikussaleh; Past, Present and Future” di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Ibrahim menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai. Menurutnya, perlu pengkajian lebih lanjut.

Lambang Garuda Pancasila ini ternyata terinspirasi dari lambang kerajaan Samudera Pasai, namun terlepas dari itu semua sejarawan LIPI, Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia. “Ini bukanlah sebuah klaim yang menjurus ke arah negatif. Ini merupakan sebuah bentuk kecintaan bangsa Indonesia, yang dulu saat proses pemilihan lambang negara memang ikut terlibat,” ungkapnya.

Garuda Pancasila

Screenshot_2016-06-01-08-31-07_1

Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain:

  • 17 helai bulu pada masing-masing sayap
  • 8 helai bulu pada ekor
  • 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
  • 45 helai bulu di leher

Pada lambang Garuda Pancasila, jika sila pertama, berlambang “Bintang” bermakna Ketuhanan Yang Maha Esa, sementara pada lambang Samudra Pasai, merupakan kalimat Syahadat.

Keduanya simbol ini, berada diposisi yang sama yakni ditengah-tengah lambang, dan memiliki makna tentang Ketauhidan kepada Sang Maha Pencipta.

Lambang Kerajaan Samudra Pasai

Image Source: Kanzunqalam's Blog

Image Source: Kanzunqalam’s Blog

  • Pada Sayap sebelah kanan (atas), awal kalimat Basmalah
  • Pada sayap sebelah kanan (bawah): Asyhadu an-laa ilaaha
  • Sementara sayap sebelah kiri (bawah), kalimat Syahadat melengkapi pada sayap sebelah kanan (bawah): illallaah
  • Pada ekor : Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
  • Pada kepala dan sayap sebelah kiri (atas), kalimat Basmalah melengkapi kalimat pada sayap sebelah kanan (atas).

Penelusuran

Perihal lambang Negara Indonesia mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikulsaleh Aceh Utara. Setelah digelar seminar International Conference and Seminar “Malikussaleh; Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Isyu lain yang beredar adalah bahwa lambang burung garuda merupakan ide dari Sultan Abdul Hamid II dari Pontianak. Lambang negara yang selama ini dinyatakan sebagai  kreatifitas sejumlah tokoh nasional, -sebut saja Soekarno, mantan presiden pertama republik ini- mendapat bantahan. Dikatakan, bahwa lambang garuda merupakan hasil kreasi dari Sultan Hamid II. Hal inilah yang kini tengah diperjuangkan Kalbar di tingkat Nasional.

Namun fakta baru muncul dari kerajaan Sintang. Kerajaan yang pernah disebut-sebut sebagai kerajaan terbesar ke dua di region Kalimantan ini setelah kerajaan Kutai. Raja Sintang H.R.M. Ichsani Ismail Tsyafioeddin dalam sebuah ritual adat kerajaan melayu pada pernikahan salah satu keponakannya mengatakan bahwa sultan hamid II yang disebut-sebut sebagai pencetus ide lambang negara ini telah meminjam lambang kerajaan Sintang. Tepatnya di tahun 1948 dan dibawa ke pontianak. Sultan Hamid II sendiri merupakan putra pertama raja kerajaan Pontianak sultan Syarif Muhammad Alkadrie.

Untuk hal ini sultan Sintang dan tokoh sepuh yang masih kerabat keraton Gusti Djamadin mengaku masih menyimpan dokumen peminjaman lambang kerajaan Sintang oleh Sultan Hamid II tersebut.

Lambang kerajaan Sintang sendiri yang kini masih tersimpan di istana Al-Muqqaromah Sintang ada berupa patung burung yang memang sama dengan lambang negara kita saat ini. Patung burung itu sendiri menurut Gusti Djamadin dibuat oleh seorang putra Dayak yaitu Sutha Manggala di masa kerajaan Sultan Abdurrahman. Patung tersebut disyahkan sebagai lambang kerajaan Sintang tahun 1887.

Gambar patung burung yang kemudian dijadikan sebagai lambang kerajaan Sintang ini menurut penuturan Gusti Djamadin diambil dari salah satu bagian gantungan gong dari bagian seperangkat gamelan yang dijadikan barang hantaran lamaran Patih Lugender kepada putri kerajaan Sintang Dara Juanti. Pada bagian gantunga gong terdapat ukiran menyerupai burung garuda. Memiliki dua kepala yang berlawanan pandang. Satu kepala asli burung namun satu lagi menyerupai kepala manusia. Sedangkan pada lambang kerajaan Sintang kepala patung diukir menyerupai kepala manusia.

Pada tanggal 11 Agustus 1999, Turiman membuktikan kebenaran Sultan Syarif Muhammad Alkadrie atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak sebagai pencipta lambang Negara Burung Garuda dalam tesis S-2 di Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia yang berjudul Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia, Suatu Analisis Yuridis tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Perundang-undangan. Sultan Hamid II dikenal cerdas dan sekaligus sebagai orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan AkademiMiliter Belanda (KMA) di Breda Belanda dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal saat menjadi ajudan Ratu Juliana.

Dalam mencari ide untuk membuat lambang Negara, Sultan Hamid II mendapat inspirasi dengan meminjam lambang burung Garuda yang menjadi lambang kerajaan Sintang pada tahun 1948 yang dibawa ke Pontianak. Menurut Gusti Djamadin, Lambang kerajaan Sintang sendiri, kini masih tersimpan di Istana Al Muqqaromah Sintang. Ada berupa patung yang memang sama dengan lambang Negara kita saat ini. Patung-patung itu sendiri menurut Gusti Djamadin dibuat oleh seorang putra Dayak yaitu Sutha Manggala di masa kerajaan Sultan Abdurrahman. Patung tersebut disyahkan sebagai lambang kerajaan Sintang tahun 1887 (Sumber : Kalimantan-news.com).

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara yang bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang Negara untuk dipilih dan diajukan kepada Pemerintah. Dalam pelaksanaannya terpilih dua rancangan lambang Negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M.Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Sedangkan karya M.Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang. Setelah dilakukan penyempurnaan – penyempurnaan oleh Sultan Hamid II, Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang Negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang Negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Selain adanya pengaruh dari lambang Kerajaan Sintang, bentuk perubahan lambang Garuda lebih banyak terinspirasi dari lambang Kerajaan Samudera Pasai. Menurut Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara, lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Persoalannya, seberapa besar pengaruh lambang kerajaan Sintang dalam menginspirasi pembuatan lambang Garuda oleh Sultan Hamid II?

Pengaruhnya besar namun tidak seberapa banyak. Selain pengaruh-pengaruh diatas, inspirasi pembuatan lambang Negara oleh Sultan Hamid II termasuk diantaranya Muhammad Yamin juga Soekarno lebih banyak terinspirasi dari koin mata uang Negara asing sebagaimana gambar-gambar berikut dibawah ini:

Dalam buku Bung Hatta Menjawab–Hatta saat itu menjadi Perdana Menteri RIS–tertulis Menteri Priyono yang ditugaskan oleh Sukarno melaksanakan sayembara lambang negara menerima hasil dua buah gambar rancangan lambang negara yang terbaik. Yaitu Burung Garuda karya Sultan Hamid II dan Banteng Matahari karya Muhammad Yamin. Namun, yang diterima oleh Presiden Sukarno adalah karya Sultan Hamid II dan karya Muhammad Yamin ditolak. Melalui proses rancangan yang cukup panjang, akhirnya pada 10 Februari 1950, Menteri Negara RIS Sultan Hamid II mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang. Hasil akhirnya adalah lambang negara Garuda Pancasila yang dipakai hingga saat ini.

Pengaruh Garuda Dewa Wisnu, Lambang Nazi, Lambang negara Jerman, Elang Jawa dan Lambang Negara Polandia

Sebenarnya lambang Garuda sudah dipakai sejak Republik Indonesia Serikat (RIS), untuk stempel cap pos dan legalisasi.

06-01-07.33.43

Sultan Hamid dari Samudra Pasai (Nangroe Aceh Darussalam). Kerajaan Islam pertama di nusantara memprakasai bentuk perubahan yang ke-3.

Setelah bentuk sebelumnya mirip Garuda dewa Wisnu yang masih punya kaki dan tangan.

Garuda, kendaraan (wahana) Wishnu tampil di berbagai candi kuno di Indonesia, sepertiPrambanan, Mendut, Sojiwan, Penataran, Belahan, Sukuh dan Cetho dalam bentuk relief atau arca. Di Prambanan terdapat sebuah candi di muka candi Wishnu yang dipersembahkan untuk Garuda, akan tetapi tidak ditemukan arca Garuda di dalamnya. Di candi Siwa Prambanan terdapat relief episode Ramayana yang menggambarkan keponakan Garuda yang juga bangsa dewa burung, Jatayu, mencoba menyelamatkanSinta dari cengkeraman Rahwana. Arca anumerta Airlangga yang digambarkan sebagai Wishnu tengah mengendarai Garuda dari Candi Belahan mungkin adalah arca Garuda Jawa Kuna paling terkenal, kini arca ini disimpan di Museum Trowulan.

Garuda muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai “Tuan segala makhluk yang dapat terbang” dan “Raja agung para burung”. Di Bali ia biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan rumit dengan warna cerah keemasan, digambarkan dalam posisi sebagai kendaraan Wishnu, atau dalam adegan pertempuran melawan Naga. Posisi mulia Garuda dalam tradisi Indonesia sejak zaman kuna telah menjadikan Garuda sebagai simbol nasional Indonesia, sebagai perwujudan ideologi Pancasila. Garuda juga dipilih sebagai nama maskapai penerbangan nasional Indonesia Garuda Indonesia. Selain Indonesia, Thailand juga menggunakan Garuda sebagai lambang negara.

Lalu di rembug lagi jadi bentuk yang ke 4 (gundul). Nah yang ke 4 inilah yang diperlihatkan kepada Pak Sukarno.

Img Source: anangpaser.wordpress.com

Img Source: anangpaser.wordpress.com

Oleh Pak Sukarno ditambah lagi rambut garuda agar lebih sempurna merujuk pada elang jawa.

lambangpolandia

Lambang Negara Polandia

Namun, jika kita mengacu pada keterangan Max Yusuf Al Kadrie, mantan sekretaris pribadi Sultan Hamid II menyatakan: “… Sultan Hamid II sama sekali tidak mengacu pada elang jawa ketika merancang, Ia menggunakan elang Rajawali yang berukuran jauh lebih besar seperti kebanyakan lambang yang dibuat negara lain dengan tujuan agar bangsa Indonesia bisa tumbuh sama besar dan sama kuat dengan negara-negara lain di dunia.” (Nanang Hidayat, Mencari Telur Garuda, Nalar, Jakarta, 2008, halaman 37)

Pengaruh Koin Asing dan Lambang negara-negata Asing

06-01-07.48.36

06-01-07.43.58

06-01-07.12.26

06-01-07.36.47 06-01-07.39.10

Pengaruh Lambang Negara Albania

06-01-07.41.11

Kesimpulan

1. Garuda Pancasila Versi RIS

Screenshot_2016-06-01-09-08-34_1

(a) Versi RIS yang pertama terinspirasi dari:

  • Garuda Dewa Wisnu,
  • Perisai lambang negara Romania, dan
  • Sayap di lambang negara Albania di (uang koin Albania tahun 1940)

Screenshot_2016-06-01-09-09-21_1

(b) Versi RIS yang kedua terinspirasi dari:

  • Garuda (Kendaraan) Dewa Wisnu,
  • Perisai lambang negara Romania, dan
  • Sayap di lambang negara Jerman dan lambang Nazi (pada koin uang logam Jerman 1930)

Garuda versi RIS yang kedua Ditambahkan tulisan Arab: Republik Indonesia Serikat dibawahnya

2. Garuda Indonesia Versi RI

Screenshot_2016-06-01-09-27-50_1

(a) Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II terinspirasi dari:

  • Garuda (Kendaraan) Dewa Wisnu,
  • Perisai lambang negara Romania,
  • Sayap di koin USA tahun 1945
  • Lambang Kerajaan Sintang, dan
  • Lambang Kerajaan Samudra Pasai

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia.

Screenshot_2016-06-01-09-17-12_1

(b) Garuda Indonesia RI yang di resmikan tgl 11 Februari Tahun 1950 terinspirasi dari:

  • Garuda (Kendaraan) Dewa Wisnu,
  • Perisai lambang negara Romania, dan
  • Sayap di koin USA tahun 1945
  • Lambang Kerajaan Sintang, dan
  • Lambang Kerajaan Samudra Pasai

Kepala Garuda diubah tanpa Mahkota dan tanpa jambul serta, posisi cakar di belakang pita.

GARUDA PANCASILA

GARUDA PANCASILA

(c) Garuda Indonesia RI yang terakhir terinspirasi dari:

  • Garuda (Kendaraan) Dewa Wisnu,
  • Perisai lambang negara Romania,
  • Sayap di koin USA tahun 1945,
  • Lambang Kerajaan Sintang,
  • Lambang Kerajaan Samudra Pasai,
  • Perpaduan antara kepala Elang Jawa dan Kepala pada lambang negara Polandia.
  • Dan secara keseluruhan lebih mirip dengan lambang Kerajaan Samudra Pasai.

image

Posisi cakar Garuda pada Garuda Indonesia versi terakhir memegang pita.

Jadi, yang menginspirasi Garuda Indonesia adalah:

  • Kendaraan Dewa Wisnu,
  • Lambang negara Jerman,
  • Lambang Nazi
  • Lambang negara Romania,
  • Lambang negara Albania di
  • Lambang negara USA (Sayap di koin USA tahun 1945)
  • Lambang Kerajaan Sintang,
  • Lambang Kerajaan Samudra Pasai,
  • Elang Jawa, dan
  • Lambang negara Polandia.

Sederhananya, yang menginspirasi Garuda Indonesia yaitu Kendaraan Dewa Wisnu, Lambang Negara Asing, Koin Asing, Lambang Kerajaan Samudra Pasai, Lambang Kerajaan Sintang, Elang Jawa dan secara keseluruhan Garuda Pancasila lebih mirip dengan lambang Kerajaan Samudra Pasai


WARNING!

Dilarang menjadikan hasil penelitian diatas sebagai patokan atau dasar sejarah lambang Garuda Pancasila karena ini hanya sebuah kajian atau penelitian yang belum baku, yang dirangkum dari berbagai sumber.


Deskripsi dan Arti Filosofi Garuda Pancasila

Garuda

  • Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
  • Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
  • Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
  • Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain:
    • 17 helai bulu pada masing-masing sayap
    • 8 helai bulu pada ekor
    • 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
    • 45 helai bulu di leher

Perisai

  • Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
  • Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan gariskhatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat.
  • Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia”merah-putih”. Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
  • Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila. Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut:
  1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam;
  2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah;
  3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih;
  4. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah; dan
  5. Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.

Pita bertuliskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika

  • Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” berwarna hitam.
  • Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata “bhinneka” berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata “tunggal” berarti satu, kata “ika” berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Aturan Penggunaan

Penggunaan lambang negara diatur dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (LN 2009 Nmr 109, TLN 5035). Sebelumnya lambang negara diatur dalam Konstitusi RIS, UUD Sementara 1950, dan Peraturan Pemerintah No. 43/1958

Lambang Negara menggunakan warna pokok yang terdiri atas:

  1. warna merah di bagian kanan atas dan kiri bawah perisai;
  2. warna putih di bagian kiri atas dan kanan bawah perisai;
  3. warna kuning emas untuk seluruh burung Garuda;
  4. warna hitam di tengah-tengah perisai yang berbentuk jantung; dan
  5. warna alam untuk seluruh gambar lambang.

Lambang Negara wajib digunakan di:

  1. dalam gedung, kantor, atau ruang kelas satuan pendidikan;
  2. luar gedung atau kantor;
  3. lembaran negara, tambahan lembaran negara, berita negara, dan tambahan berita negara;
  4. paspor, ijazah, dan dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah;
  5. uang logam dan uang kertas; atau
  6. meterai.

Dalam hal Lambang Negara ditempatkan bersama-sama dengan Bendera Negara, gambar Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden, penggunaannya diatur dengan ketentuan:

  1. Lambang Negara ditempatkan di sebelah kiri dan lebih tinggi daripada Bendera Negara; dan
  2. gambar resmi Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden ditempatkan sejajar dan dipasang lebih rendah daripada Lambang Negara.

Setiap orang dilarang:

  1. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara;
  2. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukuran;
  3. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
  4. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Referensi

  • ^makintau.com/2015/06/garuda-pancasila-terinspirasi-dari-lambang-samudera-pasai.html?m=1
  • ^putramelayu.web.id/2013/07/lambang-negara-antara-garuda-dan.html?m=1
  • ^kanzunqalam.com/2016/02/20/misteri-lambang-kerajaan-islam-samudra-pasai/
  • ^catatan-primata.blogspot.sg/2013/12/lambang-negara-indonesia-ternyata.html?m=1
  • ^kompasiana.com/heroelonz/pengaruh-elang-polandia-pada-garuda-pancasila_55cad0f6f07a614005b9181a
  • ^okeebos.com/pancasila/sultan-dari-kalimantan-pencipta-garuda-lambang-negara-indonesia/
  • ^greatindnesia.blogspot.sg/2014/02/ternyata-garuda-pancasila-mirip-lambang.html?m=1
  • ^id.m.wikipedia.org/wiki/Lambang_Negara_Indonesia
  • ^berbagai sumber

Disempurnakan oleh

  • ^myrepro.wordpress.com
Iklan

3 responses »

  1. […] Baca selengkapnya tentang sejarah lambang Garuda Pancasila disini. […]

    Suka

  2. […] Dasar negara Indonesia, Pancasila, dihina oknum Australian Defence Force (ADF) dengan memelesetkannya menjadi “Pancagila”. Profesor Greg Fealy dari Australia National University memperingatkan bahwa menghina Pancasila berpotensi berbahaya bagi Indonesia. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s