Resep Obat Nabi Muhammad

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt. Rabb penguasa dan penggengam alam semseta. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada manusia agung, uswatun hasanah, pemberi contoh aplikasi wahyu Allah dalam segala aspek kehidupan, Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. adalah suri tauladan terbaik bagi kita umat islam (QS.33:21). Suri tauladan tersebut mencakup semua aspek kehidupan kita, termasuk dalam memelihara kesehatan atau berobat dan mengobati orang sakit. Allah Swt berfirman :“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.33:21).

Jika Allah telah menjamin bahwa rasulullah adalah teladan sempurna hal itu berarti semua amalan beliau adalah membawa keselamatan, kebaikan dan ridlo Allah Swt.amalan beliau tersebut tidak terbatas pada maslah-masalah ibadah maghdhoh saja tetapi mencakup semua aspek kehidupan termasuk juga kesehatan. Hal itu dikarenakan semua perkataan beliau adalah wahyu Allah Swt yang menciptakan alam semsesta dan memegang rahasianya (QS.21:45 ; 53:4).

Salah satu contoh di antara sekian banyak hikmah dari amalan beliau di bidang kesehatan adalah perintah beliau dalam hal makanan. Beliau saw apabila makan senantiasa mengunyah makanan selembut mungkin. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau memerintahkan sahabatnya mengunyah makanan 33x. Bagi orang awam dan pendek akalnya, hal ini pastilah menjengkelkan. Tetapi tidak demikian bagi dokter. Mereka mendapati bahwa makanan yang dimakan dengan lembut akan dapat menghindarkan seseorang dari penyakit perut. Oleh karenanya para dokter menyarankan kita untuk mengunyah makanan selama 30 – 45 kali. Apa rahasianya? Tidak lain adalah bahwa makanan yang kita santap setelah melewati mulut dan kerongkongan akan turun memasuki lambung.

Di dalam lambung inilah makanan akan dihancurkan supaya aman dicerna oleh usus halus. Saat makanan memasuki lambung, lambung akan mengeluarkan asam lambung yang fungsinya adalah menghancurkan makanan juga toksin atau pathogen-patogen yang masuk bersama makanan. Bila makanan yang masuk ke lambung terlalu kasar (kurang lembut mengunyahnya) maka lambung akan mengeluarkan jumlah asalam lambung dan pepsin untuk mengancurkannya. Akbitanya, asam lambung dan pepsin ini akan berbalik melukai mukosa lambung yang menyebabkan terjadi peradangan lambung. Inilah penyebab penyakit maag. Subhanallah, betapa sempurnanya petunjuk Allah yang disampaikanNya melalui RasululNya.

KONSEP PENGOBATAN RASULULLLAH SAW

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Said Bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Sholallahu alaihi wasalam

“Kesembuhan itu ada 3, dengan meminumkan madu (bisyurbata ‘asala),  sayatan pisau hijamah (syurthota mihjam), dan dengan besi panas (kayta naar) dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas.”

“Gunakanlah dua penyembuh; Al Qur’an dan Madu” (HR. Ath Thabrani dari Abu Hurairah)

Masih banyak dalail dalil shahih yang menjelaska pengobatan nabawi. Tetapi dari cuplikan dua hadits tersebut dapat diketahui bahwa Pengobatan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw adalah : Al Qur’an, madu, al hijamah (sayatan pisau/bekam), dan kay tetapi rasululullah melarang yang terakhir ini.

Pengobatan Dengan Al Qur’an.

Menerut Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya At Thibun Nabawy bahwa penyakit itu digolongkan 2 jenis yakni menyakit bathin dan penyakit dhahir (fisik). Penyakit batin adalah penyakit yang bverkaitan dengan jauhnya batin (hati) seseorang dari Allah Swt. Penyakit ini menyerah unsur ruh manusia seperti keranjingan, kesurupan dsb. Pengobatan penyakit ini adalah dengan Al Qur’an (Ibadah, do’a, ruqyah syar’iyah). Sedangkan yang kedua, adalah penyakit Dhahir (fisik). Penyakit ini obatnya adalah dengan obat-obatan dokter yang sesuai dengan al Qur’an (pembahasan sebab penyakit dan terapinya akan dibahas di lain bab dibelakang)

Pengobatan Dengan Madu

“Allah Swt berfirman “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan  bagi manusia.” (An Nahl:69).

Madu, merupakan makanan juga obat yang dinyatakan oleh Allah Swt dalam al Qur’an. Oleh karena itu Rasulullah Saw amat gemar menggunakan madu sebaga makanan maupun sebagai obat-obatan. Bahkan Beliau saw paling suka meminum madu di pagi hari dengan dicampur air dingin. Hal itu dimakdsudkan untuk menjaga atau mengobati penyakit usus. (Pembahasan tenatang pengobtan madu, insya Allah akan dibahas di lain bab). Keunggulam madu sebagai makanan dan obat dikarenakan ia di hasilkan dari lebah yang menghisapnectar bunga. Selain madu, rasulullah juga seringan menggunkan makanan atau tumbuhan sebagai pengobtan seperti : habatus sauda, kurma, mentimun mesir, susu kambing, dsb. Dari sinilah ada sebagian ulama yang menafsirkan madu sebagai obat-obatan alamiah.

Pengobatan Dengan Al-Hijamah/Berbekam

Definisi Berbekam / Al-Hijamah

Dalam bahasa Melayu, hijamah biasa disebut bekam. Di masyarakat Jawa dan lainnya disebut kop atau cantuk. Di Sumbawa dan sekitarnya disebut tangkik atau batangkik. Dalam Bahasa Inggris disebut blood cupping atau blood letting. Dengan bahasa yang lebih ilmiah, cakupan yang lebih luas dan dengan pendekatan medis, kami menyebutnya Oxidant Drainage Therapy yang disingkat ODT.

Secara terminologis dapat dipahami, bahwa hijamah adalah: Pengeluaran “darah kotor” dari dalam tubuh melalui permukaan kulit dengan melakukan penyedotan dan penyayatan pada bagian yang dimaksud.

Karena penggunaan istilah “darah kotor” untuk darah hijamah ini dapat dimaknai lain, misalnya darah haid wanita, maka kami lebih suka menyebutnya toxin atau racun. Tapi karena cakupan toxin ini terbatas, maka kami lebih suka menyebutnya oxidant.

Jadi definisi Bekam / hijamah yang lebih luas ialah metode pengobatan dengan penyedotan kulit di bagian-bagian tertentu untuk mengeluarkan racun, toxin dan oxidant dalam tubuh melalui torehan tipis pada pembuluh darah perifer di kapiler pada lapisan epidermis.

Al Hijamah disebut juga kop, bekam, cantuk, besungu, cupping terapi (terapi gelas), blood letting.

Hijamah ada dua macam :

Hijamah Jaffah (bekam kering), hijamah hanya berupa cupping (penyedotan), yang prinsip kerjanya mengeluarkan angin dari tubuh.

Bekam Kering dibagi 3 macam:

  1. Bekam tarik
  2. Bekam luncur
  3. Bekam magnit

Hijamah Damawiyyah (bekam basah), hijamah dengan cara mengeluarkan darah dari kulit yang sudah dicupping (disedot) sebelumnya. Rasulullah hanya mengenal cara yag kedua dan tidak mengenal cara pertama, dan cara mengeluarkan darah ialah dengan Syarthoh (sayatan).

Beberapa Hadits Tentang Berbekam / Al-Hijamah

Termuat di dalam Shahih Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam; beliau bersabda: “Kesembuhan itu ada dalam tiga hal: sayatan hijamah (bekam), minum madu, dan sundutan dengan api. Tetapi aku melarang ummatku melakukan sundutan”

“Sesungguhnya cara pengobatan kalian ang paling ideal adalah hijamah dan menggunakan al qusthul bahri”. (Muttafaq alaihi).

Termuat dalam Sunan Ibnu Majah, dari Katsir Ibnu Salim, dia berkata: Aku mendengar Anas Ibnu Malik mengatakan: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Aku tidak melewati malaikat pada malam Isro’ Mi’roj, kecuali mereka mengatakan: “Wahai Muhammad, perintahkanlah kepada ummatmu untuk berbekam” .

 “Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah hijamah”. (HR. Ibnu Majah & At Tirmidzi).

Waktu Utama Untuk Melakukan Berbekam / Al-Hijamah

Waktu yang paling ideal untuk melakukan hijamah adalah:

  1. Siklus jam-an : rentang ± 2 jam sesudah makan
  2. Siklus harian : antara jam 8.00 – 10.00 atau jam 13.00 – 15.00
  3. SIklus mingguan : Senin, Selasa dan Kamis.
  4. Siklus Bulanan : setiap tanggal 17, 19, 21 dari bulan Qomariyah.
  5. Tahunan : Bulan Sya’ban, untuk pengobatan preventif agar dibulan Ramadhan tubuh bugar dan dapat menyelesaikan berbagai aktifitas ibadah dengan sempurna di bulan yang penuh berkah.

Dari Abbdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, beliau berkata, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Waktu yang paling baik bagi kalian untuk melakukan hijamah ialah pada tanggal 17, 19, dan 21 (dari bulan Qomariyah)”. (Shahih Sunan At Tirmidzi).

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Hijamah sebelum makan pagi adalah paling ideal. Hijamah itu dapat menambah kecerdasan akal, menambah kekuatan hafalan orang-orang yang menghafal, siapa yang hendak melakukan pengobatan dengan hjamah, hendaklah dia melakukannya pada hari Kamis, atas nama Allah, Hindarilah hijamah pada hari Jum’at, hari Sabtu dan hari Ahad. Lakukanlah hijamah pada hari Senin dan Selasa. Hindari hijamah pada hari Rabu, karena itu merupakan hari ketika Ayyub di timpa bala’. Penyakit lepra dan kusta tidak muncul melainkan pada hari rabu atau malam rabu”. (Shahih Sunan Ibnu Majah, Al AlBany, 2/261).

Al Khallal berkata, Aku diberitahu oleh Ismah bin Isham, dia berkata, aku diberi tahu Hambal, dia berkata: “Abu Abdullah Ahmad bin Hambal biasa melakukan hijamah kapanpun ketika darah bergejolak (tidak normal), dan kapanpun waktunya”, (Ath Thibb An Nabawy, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 59).

Termuat di dalam Atsar bahwa berbekam yang dilaksanakan pada waktu perut kosong (rentang ± 3 jam sesudah makan) merupakan pengobatan, pada waktu perut kenyang merupakan penyakit.

Pengarang Al-Qanun, Ibnu Sina berkata: “Dianjurkan untuk tidak berbekam pada awal bulan, karena darah belum bergerak dan bergejolak. Juga tidak diakhir bulan karena darah telah berkurang. Melainkan pada pertengahan bulan di mana darah benar-benar telah bergejolak dan banyak karena banyaknya sinar rembulan”.

Secara ilmiah dan medis, jika waktu-waktu yang ditetapkan oleh para ulama itu merupakan waktu yang paling baik dan paling tepat untuk melakukan hijamah, karena saat itulah darah sedang tidak normal, maka waktu datangnya sakit adalah merupakan waktu yang paling tepat dan efektif, karena saat itulah darah sedang tidak normal.

Laki-laki Membekam Wanita Atau Sebaliknya

Ibnu Baththal berkata, “Pengobatan dengan hijamah terhadap wanita hanya boleh dilakukan mahramnya, atau oleh para wanita yang memang dapat melakukannya, sebab tempat yang akan diobati tidak boleh disentuh oleh lain mahram”.

Jadi, Hijamah terhadap wanita harus dilakukan oleh ahli hijamah wanita, hijamah terhadap laki-laki harus dilakukan oleh ahli hijamah laki-laki pula. Kalaulah harus dilakukan secara bersilang (karena mendesak, darurat) maka mahram harus menyertainya.

Penyakit Yang Dapat Disembuhkan Dengan Berbekam / Al-Hijamah

Insya Allah semua penyakit dapat disembuhkan dengan hijamah, sesuai dengan pernyataan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, hijamah merupakan cara pengobatan & penyembuhan yang paling ideal. Menurut kajian medis modern hijamah dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, karena sel-sel darah putih tidak ikut keluar dari tubuh dan hanya sel-sel darah merah yang keluar. Adapun beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan hijamah berdasarkan penelitian ilmiah dan praktik langsung, yaitu :

  • Sakit kepala
  • Masuk angin
  • Migrain
  • Lumpuh setengah badan (hemiplegia)
  • Pendarahan pada otak
  • Encok (sciatica)
  • Sakit gigi, telinga, mata, hidung
  • Varices
  • Reumatik
  • Sakit tulang punggung
  • Wasir
  • Elephantiasis (kaki gajah)
  • Haid tidak teratur
  • Tumor
  • Sakit tenggorokkan
  • Sesak napas
  • Alergi; gatal-gatal, asma, bronchitis
  • Benjol-benjol di lengan dan paha
  • Dada berdebar-debar
  • Buang air kecil tanpa terkontrol
  • Sakit liver dan limpa
  • Kanker
  • Sembelit, lambung & pencernaan
  • Bisul
  • Asam Urat
  • Kolesterol
  • Impotensi
  • Penyumbatan pembuluh darah
  • Darah tinggi
  • Pundak pegal-pegal & kaku
  • Kaki & tangan kesemutan

Beberapa Tikik Berbekam / Al-Hijamah

Dari Ibnu Abbas dia berkata: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berbekam pada kepalanya yang sering pusing-pusing…. (HR. Bukhari)

Termuat di dalam Ash-Shahih, bahwa “beliau berbekam pada kepalanya ketika dalam keadaan ihram, untuk menghilangkan pening yang ada di kepalanya.”

Abu Na’im menyebutkan di dalam kitabnya Ath-Thibbun Nabawi, sebuah hadits marfu’: “Lakukanlah olehmu berbekam pada rongga kuduk, karena menyembuhkan lima penyakit”, salah satu diantaranya adalah lepra.

Di dalam hadits lain termuat: “Lakukanlah olehmu berbekam pada rongga kuduk, karena menyembuhkan tujuh puluh dua penyakit”. Segolongan dari mereka menganggapnya baik dan mengatakan bahwa hal itu bermanfaat terhadap exophthalmos, yaitu penonjolan bola mata, kelebatan alis, dan kelebatan bulu mata, disamping bermanfaat pula terhadap kotoran kelopak mata.

Termuat di dalam Sunan Abu Daud, dari Hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berbekam pada pinggul beliau untuk menghilangkan kelesuan.

PRINSIP-PRINSIP PENGOBATAN RASULULLAH SAW

Keyakinan Bahwa Allah SWT., Sebagai Maha Penyembuh

Bila memperhatikan pengobatan modern sekarang sungguh banyak yang bertolak belakang dengan prinsip pengobatan Rasulullah Saw. Manusia sekarang banyak beranggapan bahwa obat bisa menyembuhkan penyakit. Keyakinan ini adalah keyakinan yang batil bahkan bisa menjurus kepada syirik. Seorang ulama dari Malaysia H Ismail bin Ahmad mengungkapkan bahwa rata-rata pasien muslim yang berobat ke rumah sakit, setelah sembuh sakitnya mereka semakin jauh dari Allah Swt dikarenakan mereka memiliki keyakinan yang salah bahwa yang menyembuhkan mereka adalah obat disamping obat-obatn tersebut tidak bisa dipastikan kehalalannya.

Sebaliknya, Reasulullah mengajarkan bahwa Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Penyembuh. Allah berfirman,“Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan aku.” (Asy Syu’ara:80). Keyakinan ini akan membantu pasien untuk tenang dan dekat kepada Allah yang pada akhirnya akan mempercepat proses kesembuhannya. Itulah sebabnya Rasulullah saw selalu mengajarkan orang yang sakit untuk berdoa kepada Allah Swt. Salah satu doa’ yang matsur adalah do’anya Nabi Yunus : Laa illaha illa anta subhanaka inni kuntu minal dhalimiin atau doa sebagai berikut :

“Allahumma rabbannaasi adhibil ba’sa wasyfi antas syaafii laa syifaa’a illaa syifaauka syifaan laa yughaadiru saqma” Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah,, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit” (HR Bukhari)

Menggunakan Obat Halalan Thayyiba

Prinsip pengobatan dalam Islam yang diajarkan Rasulullah yang kedua adalah Bahwa obat yang dikomsumsi harus halal dan baik. Allah Swt yang menurunkan penyakit, maka dialah yang menyembuhkan. Bila kita menginginkan kesembuhan dari Allah Swt maka media ikhtiar (penggunaan obat) kita haruslah media yang diridhoiNya. Allah melarang kita memasukan barang yang haram dan merusak ke dalam tubuh kita. Allah berfirman:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya “  (QS.Al-Maidah: 88)

“…dan janganlah kamu mencampakkan dirimu dalam kebinasaan..” (QS.2:195)

Rasulullah Saw bersabda : “Setiap daging (jaringan tubuh) yang tumbuh dari makanan haram, maka api nerakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi)

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit pasti ada obatnya.Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud)

Pengunaan obat yang halal disamping mendatangkan ridlo Allah adalah agar supaya badan tetap sehat. Ibnu Qayim menyatakan bahwa setiap yang haram bukanlah obat. Karena setiap yang haram tidaklah menyembuhkan melainkan akan mendatangkan penyakit baru yakni penyakit hati.

Tidak Menimbulkan Mudlarat

Prinsip pengobatan dala Islam yang ketiga adalah dalam menerapi pasien atau mengkonsumsi obat hendaklah diperhatikan kemudhoratan obat. Seorang dokter muslim akan selalu mempertimbangkan penggunaan obat kepada pasiennya. Untuk penyakit sederhana obatnya adalah obat sederhana (dengan makanan/obat alamiah). Tidak boleh memberikan pasien dengan obat kompleks (obat kimia) sebelum menggunakan obat sederhana dikarenakan obat kompleks bisa memiliki sifat merusak tubuh pasien.

Pengobatan Tidak Bersifat TBC (Tahayul, Bid’ah & Khurafat)

Pengobatan yang disyariatkan dalam Islam adalah Pengobatan yang bisa diteliti secara ilmiah. Pengobatan dalam Islam tidak boleh berbau syirik (pergi ke dukun, kuburan, dsb). Allah sendiri selalu memberikan pertolongannya (obat) melalui pengetahuan sebab suatu penyakit.

Selalu Mencari Yang Lebih Baik (Ikhtiar dan Tawakal)

Islam mengajarkan bahwa dalam berobat hendaklak mencari obat atau dokter yang lebih baik. Dalam etika kedokteran Islam diajarkan bila ada 2 obat yang kualitasnya sama maka pertimbangan kedua yang harus diambil adalah yang lebih efektif dan tidak memiliki efek rusak bagi pasien. Itulah sebabnya rasulullah menganjurkan kita untuk berobat pada ahlinya. Sabda beliau,

Abu Dawud, An Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya; katanya: Telah berkata Rasulullah saw: “Barang siapa yang melakukan pengobatan, sedang pengobatannya tidak dikenal sebelum itu, maka dia bertanggung jawab (atas perbuatannya)”

SUMBER-SUMBER PENGOBATAN RASULULLAH SAW

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Said Bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Sholallahu alaihi wasalam“Kesembuhan itu ada 3, dengan meminumkan madu (bisyurbata ‘asala),  sayatan pisau hijamah (syurthota mihjam), dan dengan besi panas (kayta naar) dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas.”

“Gunakanlah dua penyembuh; Al Qur’an dan Madu” (HR. Ath Thabrani dari Abu Hurairah)

Dari aparan hadits-hadits di atas dapat kita ketahui bahwa sumber pengobatan rasulullah Saw adalah :

  1. Al Qur’an
  2. Madu (Obat Alamiah), atau
  3. Gabungan Al Qur’an dan obat alamiah.

Tiga sumber pengobatan inilah yang utama dan mulia menurut Ibnul Qayim. Beliau mengatakan bahwa cirri pengobatan dalam Islam adalah pengunaan Al Qur’an dan dengan bahan alamiah. Sementara pengobatan alopatik (kimia) tidaklah dikenal dalam pengobatan islam. Pengobatan ini munculnya dari orang-orang romawi yang digali dg prinsip sillogisme atas pendapat Aristoteles, dan Socrates. Sedangkan pengobatan islam digali atas dasar wahyu. Dengan demikian megikuti wahyu itu lebih pasti dan lebih selamat dari pada mengikuti pendapat manusia.

Kebenaran tentang kebaikan/keungulan obat alamiah dibandingkan dengan obat alopatik (kimia) telah ditemukan oleh para ahli medis belakangan ini. Di dalam Convention of Medical Heretic, Robert S. Mendelson,berkata bahwa hampir 100% antibiotik yg diberikan tidak perlu. Antibiotik hanya boleh diberikan 3-4 kali dalam hidup. Dalam buku Bad Treatment Bad Doctor : penggunaan antibiotik untuk salesme biasa secara berlebihan, mengakibatkan tubuh semakin lemah dan bakteria makin kuat. Penyakit semakin sukar dirawat, yang berarti risiko maut semakin besar.

Berikut ini adalah table perbedaan anatara obat alamiah vs obat alopatik :

Pengobatan Konvensional/alopati;  Pengobatan Herba/Homeopati
Berasa dari Barat

Fizikal

Mengobati gejala penyakit (Symptomatic Treatment)

Membunuh kuman penyakit

Memiliki kesan yang lebih cepat

Terjadi Efek Samping

Mengandungi Kimia Anorganik dan Sintetis

Berasal Dari Timur

Fizikal & Ruhani

Mengobati Punca/Causa Penyakit

Meningkatkan Imunitas Tubuh

Memiliki Kesan lambat/bertahap

Tidak ada efek samping

Materi alami: Mengandung nutrisi makanan, vitamin dan mineral organik

KAIDAH PENGOBATAN THIBBUN NABAWY

Menjaga kesehatan

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS 2:184)

Allah SWT mengizinkan berbuka puasa bagi orang yang sakit karena alsan penyakit dan membolehkan orang yang bepergian untuk berbuka dalam rangka memelihara kesehatan dan kekuatannya selam perjalanan.

Menghindari pantangan dari peyakit (Pencegahan)

“Dan jika kamu sakitatau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)” (QS. 5 :6)

Allah SWT membolehkan orang yang sakit mengganti pemakaian air dengan debu untuk mencegah jasadnya dari infeksi yang mengganggunya, sehingga dia dapat dicegah dari segala faktor yang menggangunya baik dari dalam maupun dari luar.

Menolak atau membuang bahan yang basi (beracun) atau penyakit

“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS. 2: 196)

Allah SWT membolehkan orang yang ikhram, yang dikepalanya ada yang gangguan atau sakit seperti kutu, gatal, tau yang lainnya, untuk mencukur rambutnya untuk menolak/ menghilangkan materi yang menimbulkan gangguan di kepala.

KHASIAT OBAT TRADISIONAL RASULULLAH SAW

Khasiat Buah Delima

  • Hakikat Buah Delima

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma. Tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya);dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’aam [6]: 141)

Delima, sejenis buah lain yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, mengandung potassium yang besar volumenya, selain dari mineral-mineral lain seperti fosfor, kalsium, besi, dan sodium, dan vitaman-vitamin A, B1, B2, B3, dan C. Bereaksi bersama sodium, potassium mengatur ekuilibrium air tubuh dan menjaga detak jantung agar tetap normal. Dengan memelihara keseimbangan kadar potassium-sodium, buah ini juga menunjang kepekaan saraf dan otot agar berfungsi secara teratur, mencegah edema, dan mengurangi kadar gula yang beredar di dalam darah. Delima menghilangkan rasa letih otot dan memungkinkannya bergerak dengan mudah,22 dan juga menguatkan jantung. 23

  • Tanaman Berkhasiat

Berbagai jurnal kesehatan menyebutkan, sari buah delima bisa menjaga kesehatan jantung dan dapat mencegah/mengobati penyakit kanker (lihat pula Jus yang Menyehatkan).

Selain biji, bagian yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional antara kulit batang dan kulit akar, serta daun. Kulit akar dan kulit batangnya mengandung alkaloid peliterin, sebuah senyawa aktif untuk mengobati penyakit cacing dan diare.

Tumbukan buah dan seduhannya juga berguna untuk menghentikan mencret atau disentri. Sementara air rebusan bunganya bisa dijadikan obat alternatif untuk meredakan sakit gigi.

Kulit akar, kulit batang, serta kulit buahnya juga mengandung zat penyamak (tanin), yang berkhasiat untuk mengecilkan pori-pori, antiseptik dan hemostatik (obat keputihan). Kadar tanin tertinggi terdapat pada kulit akar (28 %), sedangkan kulit buah yang kering mengandung 26 persen tanin.

Bahkan, menurut Anorital dan Yuningprapti (1995), kulit buah delima termasuk golongan slightly toxic serta memiliki daya anti-bakteri terhadap Salmonella typhi: penyebab penyakit tipus. Nah, mengapa kita tidak segera membudidayakannya? (Sriyati-32)

Di Irak dan Iran, jus delima yang dibuat kumur terlebih dahulu sebelum diminum membantu membersihkan mulut dan gigi, serta mencegah infeksi sehingga membantu menghilangkan bau mulut yang tidak sedap. Memakan dengan perlahan-lahan buah delima dan mengeluarkan bijinya dapat menjernihkan suara yang serak dan menghindari kekeringan tenggorokan. Manfaat lainnya, kandungan zat tannin dalam buah delima dapat membius cacing gelang, cacing kremi dan cacing pita dalam usus sehingga mereka dapat dikeluarkan melalui air besar. Cara ini sudah biasa digunakan oleh penduduk Mesir dan Vietnam.

  • Manfaat Daun Delima

Bagi Anda yang sering mengalami gangguan pada pencernaan, misalnya perut sering kembung, mual dan sering terasa perih. Anda dapat menyembuhkannya dengan minum air seduhan daun delima. Caranya sebagai berikut : ambil 5 helai daun delima, cuci kemudian di iris halus. Sedu irisan daun delima tersebut dengan iar mendidih kira-kira setengah gelas. Biarkan sampai 5 menit, minum air seduhan tersebut hangat-hangat, selama 5 hari berturut-turut. Insya Allah pencernaan Anda akan sehat kembali.

  • Rahasia Penciptaan Buah Delima

Di dalam al Quran, terakam indah firman Allah yang bermaksud, ” Di dalam kedua- duanya (syurga) juga terdapat buah- buahan serta pohon kurma dan delima”. [Surah al Rahman ayat 68]. Allah menyebut buah delima (rumman) sebanyak 3 kali di dalam ayatNya untuk menunjukkan betapa hebatnya penciptaan Allah itu dan ia juga disebut sebagai buahan daripada syurga. Mengapa begitu sekali pengiktirafan Allah terhadap buah delima sebagai anugerah kepada makhlukNya di muka bumi? Apakah keistimewaan di sebalik sebiji buah delima?

Jika ditinjau, delima yang berasal dari negara Iran dikenali sebagai Pinica granatum dalam istilah botani juga didapati di India, Afghanistan dan Syria. Pada zaman Nabi Musa as lagi, buah delima yang bermutu sudah ditanam di Palestin dan Lebanon. Buah delima menjadi simbol kesuburan bagi perkahwinan masyarakat di Timur Tengah. Manakala dalam agama Kristian, buah delima menjadi simbol kebangkitan semula dan kehidupan yang kekal serta dalam agama Buddha, buah delima dikatakan buah yang berkat selain daripada buah limau dan pic. Di China pula, buah delima menjadi satu simbol kesuburan, rezeki yang melimpah ruah, keturunan yang ramai dan masa depan yang diberkati. Namun, dalam Islam, buah delima merupakan salah satu buah yang terdapat di dalam syurga yang dikurniakan Allah sebagai rezeki yang boleh dinikmati oleh umat manusia yang menunjukkan tanda- tanda kekuasaanNya sebagaimana yang termaktub dalam firmanNya di dalam surah al An’am ayat 99 dan ayat 141.

Al Ghazali mengajak manusia agar merenung tentang penciptaan buah delima sebagai tanda kehebatan Allah di mana ia terbentuk seperti kantung- kantung kecil yang segar, dengan bahagian bawahnya besar dan bahagian atasnya tipisyang kelihatan seperti bukit. Kemasan yang tersusun rapi biji buah tersebut seakan disusun oleh manusia serta dibalut dengan kulit yang tipis seperti tenunan halus dan akhirnya ia dibalut dengan kulit yang tebal mengelilingi buah delima tersebut. Hikmah penciptaan buah delima dengan percaturan yang sebegitu rupa mempunyai nilai kehebatan tersendiri. Seandainya ia tidak dilapisi dengan lapisan yang halus itu, sudah tentu sari makanan tidak dapat sampai kepada biji buah delima tersebut. Dengan mendapat sari makanan itulah, buah delima mempunyai rasa manis tetapi akarnya sendiri mempunyai rasa yang amat pahit.. Lapisan yang membahagi ruang biji buah delima berfungsi untuk memelihara buahnya dan seluruh biji buah tersebut dilitupi dengan kulit yang keras tetapi rasanya agak pahit adalah untuk menjaganya bebas daripada segala hama. Sorotan tentang kejadian ini menunjukkan kepada kita betapa setiap kejadian yang Allah ciptakan mempunyai keistimewaan tersendiri.

Dari sudut pemakanan, buah delima amat kaya dengan sodium dan mengandungi unsur- unsur nutrien seperti riboflavin, tiamin, niasin, vitamin C, kalsium dan fosforus. Manakala zat protein dan lemak hanyalah sedikit sahaja terkandung di dalamnya. Oleh sebab ia mempunyai nilai pemakanan yang baik, buah delima juga disarankan dimakan dalam mengimbangi pemakanan sempurna dari kelas buah- buahan.

Ternyata buah delima mempunyai banyak manfaat untuk manusia sama ada sebagai buah- buahan mahupun dijadikan sebagai ubat penawar. Menurut Ibn Qayyim Al Jauziyah, buah delima bersifat panas dan lembap, oleh sebab itu ia amat baik untuk menguatkan perut, tekak, dada dan paru- paru keranaia akan melegakan batuk. Sepertimana sabda daripada Nami Muhammad SAW daripada Ali dan Abu Nu’aim yang bermaksud: “Buah delima dan kulitnya dapat menguatkan perut untuk penghadaman”. Jus buah delima dapat memberikan zat kepada tubuh badan serta menyegarkan badan dan ia dapat dihadam dengan cepat kerana sifatnya yang ringan dan akan mengeluarkan haba bersama dengan angin di dalam perut. Oleh sebab itu buah delima tidak disarankan kepada mereka yang menghidap demam. Ia juga bertindak sebagai penawar yang baik untuk cirit birit, anemia, tekanan darah tinggi dan atritis.

Di samping itu, buah delima dapat menguatkan jantung dan membantu dalam fungsi saraf dan otot. Oleh kerana itulah, ia mampu menghilangkan rasa keletihan. Di dalam perubatan homeopati pula, buah delima disarankan untuk mengubat cirit birit, sakit telinga dan kurang lawas penghadaman.

Tidak dapat dinafikan bahawa terdapat bukti yang menyatakan bahagian pokok delima banyak kegunaan dan faedahnya. Dan ini telah diakui dalam perubatan melayu seperti ramuan jamu daripada pokok delima sebagai ubat cacing. Ramuan ini sebenarnya sudah lama diamalkan oleh masyarakat tradisional melayu. Cuma yang mungkin, ilmu perubatan Melayu tradisional ini tidak terus diamalkan dan tidak langsung sampai kepada generasi baru sekarang dan ia seolah- olah dibiarkan begitu sahaja. Bahagian kulit buah delima pula mengandungi sejenis alkaloid yang boleh mengawal beberapa cenis cacing seperti cacing pita yang mendiami perut manusia. Rasanya yang pahit tidak sesuai untuk dimakan tidak seperti bijinya yang manis, tetapi manfaat daripada rasa pahit tersebut ialah dapat menghapuskan cacing pita dalam perut manusia. Kulitnya yang tebal pula bertanggungjawab melindungi buah delima supaya dapat disimpan dengan mutu yang baik. Jika diselusuri faedah dan kepentingan kulit serta batang buah delima, ia dapat digunakan untuk melembut dan menguningkan kulit lembu dan kambing dalam industri barangan kulit di Morocco dan Syria. Ini kerana kulitnya mengandungi punicotannic acid yang agak tinggi iaitu sebanyak 22%. Manakala bunga buah delima pula mempunyai nilai yang amat tinggi dalam tujuan perubatan kerana ia dapat mengubati pelbagai jenis penyakit.

Justeru, kemanfaatan buah delima tidak dapat disangkal lagi kerana ia bukanlah hanya sekadar sebiji buah yang mengandungi banyak khasiat untuk dimakan tetapi keseluruhan penciptaan pokok buah delima memberi manfaat kepada umat manusia. Sekaligus ia menggambarkan kepada kita, betapa hebatnya kuasa Allah. Renungkanlah dan perhatikanlah, bagaimana dahan tempat buah delima tergantung yang diciptakanNya dengan rapi dan kuat serta tidak gugur buahnya sebelum sampai waktunya. Ini menunjukkan betapa setiap kejadian yang Allah cipta mempunyai rahsia dan keistimewaan tersendiri agar manusia mendapat manfaat dan menilai kurniaan tersebut.


Selanjutnya: Resep Obat Nabi Muhammad (2)

Iklan

One response »

  1. […] Sebelumnya: Resep Obat Nabi Muhammad (bagian 1) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s