Seperti kita ketahui, saat ini ribuan warga etnis Rohingya yang terusir dari kampung halamannya di Myanmar saat ini berada di Aceh dan Sumatera Barat setelah diselamatkan oleh nelayan Aceh.

Nasib mereka tidak jelas, bahkan negaranya sendiri sudah tidak mengakui lagi kewarganegaraanya. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk melarikan diri dan mencari perlindungan di negara lain.

Hal itu dikarenakan mereka mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah mereka sendiri. Etnis Rohingya dibantai, dibunuh dan diperlakukan tak seperti manusia. Miris memang, disaat dunia ini menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia namun melihat keadaan rakyat Rohingya yang beragama muslim diperlakukan seperti itu, dunia malah seakan bungkam dan tidak tahu tentang hal ini.

Bahkan orang-orang yang dengan lantang menyuarakan HAM juga entah pergi kemana. Kekerasan yang dialami masyarakat Rohingya ini sebenarnya hanya dilatarbelakangi oleh SARA.

Mereka (etnis Rohingya) dibantai secara keji lantaran mereka beragama Islam. Kekejaman ini diduga dipimpin oleh seorang Biksu bernama Ashin Wirathu, seorang ‘biksu radikal’, begitulah media memberinya julukan.

Menghadapi hal tersebut membuat masyarakat Rohingya akhirnya terusir dari negara mereka berharap ada negara yang mau menolong mereka. Namun perjalanan yang mereka tempuh tidak berjalan mudah, karena negara-negara tujuan mereka seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia juga tidak mau ikut campur dalam masalah ini.

Hingga akhirnya ada warga Aceh yang dengan sukarela membantu mereka atas dasar ‘sesama muslim adalah saudara’ dan kemanusiaan. Indonesia merupakan negeri yang kental dengan budaya timurnya yang sopan, santun, dan berperikemanusiaan. Bahkan dalam falsafah negara dikenal pada sila ke duanya dengan ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’.

Bukti bentuk implementasi dari sila kedua tentang kemanusiaan telihat dari bagaimana rakyat Aceh menyambut kaum muhajirin etnis Rohingya yang terzalimi dan butuh bantuan. Masyarakat pun berbondong-bondong menyambut tamu ujian dari Allah ini dengan menolong dan memberikan kebutuhan mereka.

Mengutip dari situs zulfanafdhilla.com, Imigran etnis Rohingya yang terzalimi merupakan bentuk salah satu ujian dari Allah kepada kita rakyat Indonesia yang 99% muslim agar dapat mengayomi dan menolong saudara seiman.

Etnis Rohingya ini sendiri sudah ditolak oleh beberapa negara untuk menampung mereka seperti Thailand dan Malaysia. Miris kita lihat dimana sekat pembatas negara menjadi suatu sebab keegoisan kita.

image

Walaupun dunia memuji Aceh dengan segala upaya menolong Rohingya. Ternyata kemanusiaan juga muncul di negeri jauh sana seperti Turki dan Saudi.

Namun, kebijakan yang kemudian di tetapkan di Indonesia telah merobek arti kemanusiaan pada sila kedua dan menyangkal akan makna “ummatan wahidah” (ummat yang satu). Seperti kabar yang kita dapati senin lalu, bahwa TNI akan menghalau etnis Rohingya masuk ke Indonesia.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, Pemerintah Indonesia tak akan membiarkan wilayah lautnya dimasuki kapal-kapal pengungsi Rohingya. Menurut dia, bantuan kemanusiaan tetap akan diberikan kepada pengungsi yang terusir dari Myanmar tersebut, namun tetap melarang mereka masuk apalagi menepi di daratan Indonesia.

“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib dibantu. Kalau ada sulit air atau makanan kami bantu, karena ini terkait human. Tapi kalau mereka masuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” ucap Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jumat (15/5/2015).

Moeldoko menuturkan bantuan akan diberikan di tengah laut, sehingga kapal-kapal yang ditumpangi pengungsi Rohingnya tidak perlu memasuki wilayah teritori Indonesia. Patroli yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara juga akan dikerahkan untuk menjaga wilayah laut Indonesia tetap steril.

Menurut Moeldoko, langkah ini diambil lantaran keberadaan para pengungsi ilegal ini justru menimbulkan persoalan sosial.

“Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini,” ucap Moeldoko.

Oleh karenanya TNI AL telah mempersiapkan kapal-kapal militer untuk menghalau datangnya kaum-kaum yang terzalimi itu ke Indonesia.

“Empat kapal perang dan sebuah pesawat berpatroli di pantai Aceh untuk mencegah perahu imigran masuk,” kata Kepala Pusat PeneranganTNI Mayor Jenderal Fuad Basya, seperti dilansir The Guardian, Selasa (19/5/2015).

Namun berbeda dengan negara super seperti Turki dan Saudi. Dikabarkan, seperti yang saya kutip dari Eramuslim bahwa Turki telah mempersiapkan kapal-kapal militer AL untuk ikut serta dalam misi penyelamatan etnis Rohingya yang terombang-ambing di laut Andaman.

“Pemerintah telah menginstruksikan kapal militer Turki di wilayah tersebut dan bergabung dengan upaya internasional untuk membantu para pengungsi Rohingya,” kata Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu seperti dilansir dari Xinhua, Rabu (20/5).

Tak hanya itu, relawan dari Turki yang tergabung dalam Non-Governmental Organization (NGO) Asal Turki İnsani Yardım Vakfı (IHH) telah tiba di Aceh untuk memberikan bantuanya terhadap para pengungsi Rohingya yang berada di Aceh.

Sedangkan di Saudi Arabia dengan raja barunya King Salman Bin Abdul Aziz. Dimana 170.000 warga Rohingya diakui dan diizinkan tinggal di negri Saudi.

Pemimpin komunitas Muslim Rohingya di Arab Saudi Abu Al-Shamie Abdulmajid mengatakan mimpi mereka jadi kenyataan untuk bisa menjadi warga yang sah di Arab Saudi.

Menurutnya, hal itu berkat langkah kerajaan Arab Saudi yang mengakui keberadaan warga Rohingya di negara itu.

Diberitakan Saudi Gazette, hari ahad (15/03/2015), Kerajaan Arab Saudi telah memberikan izin tinggal (iqama) kepada 170 ribu pengungsi Muslim Rohingya di negara tersebut. Sementara jutaan penduduk Rohingya lainnya tengah menjalani proses penerimaan iqama.

Media lain, Arab News memberitakan, masih ada sekitar 4 juta warga Rohingya di Saudi kini berhak untuk mendapatkan iqama.

Abdulmajid bahkan mengatakan warga Rohingya telah lebih dari 70 tahun lalu menjadi bagian dari Arab Saudi, setelah kabur dari pembantaian etnis di Myanmar.

Bahkan kini, warga Rohingya bisa bebas bekerja, mendapatkan layanan medis dan menempuh pendidikan di sekolah pemerintah serta hak-hak warga negara lainnya.

Selain Turki dan Saudi, Aceh yang juga bagian dari Indonesia telah memberikan kontribusi yang banyak untuk peristiwa sejarah peradaban ini. Kebaikan rakyat Aceh pun telah diberitakan lintas internasional. Aceh kini telah membuat suatu sejarah dan peradaban baru bagi dunia. Tak hanya Aceh, rakyat Indonesia pun turut berbartisipasi dalam misi kemanusiaan Rohingya.

Dan saya yakin, walaupun mereka sempat ditolak di Thailand dan Malaysia. Rakyat disana juga banyak menaruh rasa iba dan keinginan untuk menolong walaupun terhalang oleh kebijakan pemerintah.

Namun, walau bagaimanapun Indonesia telah dipermalukan oleh Turki dan Saudi. Tatkala Indonesia mempersiapkan kapal-kapal AL untuk menghalau tibanya imigran Rohingya, maka Turki dengan segala persiapan kapal-kapal AL dikerahkan untuk menyelamatkan merka. Tatkala Saudi Arabia telah memberikan izin hidup di negara mereka, Indonesia malah kebingungan dengan hadirnya mereka.

Dengan demikian harus kita akui ketidak berdayaan negara kita jauh dibawah negeri Turki dan Saudi yang kadang kita sendiri sebagai warga Indonesia meledek dan menghina mereka. Dengan kekacauan politik serta sosial di negeri ini, membuat kita sadar betapa begitu akutnya penyakit yang diderita Indonesia.

Siapa Sebenarnya Sosok Biksu Ashin Wirathu Itu?

Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial yang membicarakan tentang sosok Ashin Wirathu. Tidak hanya di Indonesia saja, sosok Ashin Wirathu ini juga diperbincangkan di luar negeri. Bahkan, media-media ternama dunia seperti majalah Time juga membicarakan sosok orang ini.

Ashin Wirathu adalah seorang biksu asal Burma yang lahir pada 1968. Pada umur 14 tahun ia berhenti sekolah dan menjalani hidup kebikkhuan tersebut. Yang membuatnya menjadi terkenal seperti sekarang ini adalah karena aktivitas-aktivitasnya yang selama ini dikenal radikal.

Terlebih lagi setelah tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya beberapa waktu silam, namanya semakin mencuat dan dikait-kaitkan dengan kejadian tersebut.
Terlebih lagi setelah tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya beberapa waktu silam, namanya semakin mencuat dan dikait-kaitkan dengan kejadian tersebut.

image

Siapa yang menyangka, wajah tenang dengan pakaian sederhana yang sama seperti para biksu pada umumnya ternyata sangat bertolak belakang dengan kelakuannya selama ini.

Majalah-majalah terkemuka seperi Time, New York Times, sampai Washington Post bahkan melabelinya dengan sebukan pembenci muslim karena Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Buddha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Bahkan majalah Time menjadikan wajahnya sebagai cover majalah mereka dan terdapat tulisan ‘The Face of Buddhist Terror’. Washington Post juga menguak sepak terjang Ashin Wirathu yang mendalangi dalam pergerakan pembantaian Rohingya.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti mengutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud adalah muslim Rohingya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya bangga disebut sebagai Buddha garis keras karena kebenciannya terhadap Islam. Bahkan, dengan terang-terangan Ashin dalam ceramahnya di depan jama’ahnya mengatakan bahwa muslim Rohingya adalah musuh yang harus dihabisi.

Ia sangat aktif di sosial media seperti Youtube dan Facebook yang digunakannya sebagai sarana untuk menyebarkan pesannya. Bahkan, saat ini ia telah memiliki pengikut lebih dari 37.000.

Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.

Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

Dikutip dari sejumlah sumber, biksu Ashin Wirathu melakukan itu sebagai pembalasan atas penghancuran patung Buddha Bamiyan di Afganistan. Aksi pembalasannya itu dinamai gerakan 969.

PBB sempat geram kepadanya setelah ia melontarkan makian kepada seorang utusan PBB dengan menyebutnya sebagai ‘pelacur’ dan ‘wanita jalang’. Pejabat hak asasi manusia PBB, Zeid Ra’ad Al Hussein pun mendesak pemerintah Myanmar mengecam keras biksu Ashin Wirathu.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya yang terusir dari rumahnya di Myanmar dan kini mengungsi di Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi muslim Rohingya saat ini sangat memprihatinkan.

Namun, sayangnya pemerintah Myanmar tidak sanggup berbuat banyak atas kekerasan yang terjadi pada warganya itu. Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. “Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan,” kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.

“Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut,” kata Tin Tin Nyo.

Sumber:

  • ^www.makintau.com/2015/05/turki-dan-saudi-permalukan-indonesia-terkait-rohingya.html?m=1
  • ^www.makintau.com/2015/05/siapa-sebenarnya-sosok-biksu-ashin-wirathu-itu.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s