Mungkin pemberitaan yang saya paparkan kali ini sudah lama terjadi, tapi menurut saya artikel ini masih layak di beritakan. Bagaimana mengungkap sebuah fakta tentang salah satu tim kepolisian yang entah disengaja atau tidak terkesan mendiskreditkan umat Islam di Indonesia. Berikut artikelnya:

TPM pertanyakan kebenaran koper yang disita Densus 88 di Pal Merah

Tim Pembela Muslim (TPM) berencana mengajukan pertanyaan kepada Tim Densus 88 mengenai isi koper yang ditemukan di rumah Herman dan Davit, Gang Haji Kimin, RT 03 RW 09 Palmerah, Jakarta Barat. Dengan rumah yang sangat sempit, tidak mungkin Davit dan Herman menyimpan bahan peledak.

image

“Rumahnya maaf ngomong, cuma sepetak. Jadi Ibu Maryam (orangtua Davit dan Herman, red.) tahu betul segala isi di dalam rumahnya,” tegas Ahmad Kholid, Anggota TPM saat jumpa pers di Pondok Labu.

Kholid menduga isi koper hitam yang ditemukan pihak Densus adalah hasil rekayasa untuk menjerat David dan Herman dengan tuduhan terorisme.

“Jadi jika di berita ada beberapa koper yang dibawa dari rumah Herman dan Davit, itubullshit dan rekayasa,” tegasnya.

Hingga kini, Siti Maryam, Ibu Herman dan Davit, belum berani pulang ke rumah pasca penggerebekan Densus 88. Kondisi rumah yang masih dikelilingi garis polisi membuatnyashock dan urung kembali ke tempat tinggalnya. Ia menampik ada barang mencurigakan di rumahnya. “Paling ada lemari isinya pakaian semua,” ujarnya.

Dia mencurigai tas tersebut milik basir dan itulah yang dibawa Kepolisian saat penangkapan pada Sabtu lalu. “Rumah saya itu hanya petak, saya hafal seluk beluk rumah saya dan barang-barang yang ada di dalamnya, jadi kalau ada koper dan tas itu bukan milik kami,” ujarnya

Sebelumnya pihak kepolisian menyatakan bahwa 11 orang yang diduga teroris berencana meledakkan empat lokasi di antaranya, kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89 dekat Kedutaan Besar Australia dan PT Freeport, serta Markas Komando Brigadir Mobil Jawa Tengah di Serondon.

Davit Azhari dibebaskan Densus 88 tapi sudah terlanjur di cap teroris

Detasemen Khusus 88 akhirnya memulangkan Davit Azhari (19) lantaran dinilai tidak terlibat aktivitas terorisme. Sebelumnya siswa kelas tiga Sekolah Pelayaran di Jakarta Barat ini ikut ditangkap Densus 88 Sabtu pekan lalu dan diumumkan Kadivhumas Mabes Polri pada sore harinya sebagai terduga teroris.

image

“Benar, sudah di rumah,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM) seperti dilansir Suara Islam Online, Selasa malam (30/10/2012).

Sebelumnya, seusai tampil dalam sebuah acara televisi swasta nasional bersama ibu Davit, Siti Maryam, Michdan mengaku ditelpon salah satu perwira Densus 88. “Densus menelpon saya, Davit sudah dipulangkan,” kata Michdan.

Apakah Davit mengalami penyiksaan, Michdan belum berani memastikan. Pasalnya ia mengaku malam ini belum bertemu Davit. “Saya belum melihat langsung dan menanyakannya,” terangnya.

Davit Azhari adalah adik kandung Herman Setiyono (22). Kakak beradik ini, bersama seseorang bernama Basyir ditangkap Densus 88 pada Sabtu pekan lalu sekitar pukul 11 siang di rumahnya. Sementara Herman dan Nanto hingga saat ini belum ada kabarnya.

Kini, meskipun sudah dibebaskan David terlanjur harus menyandang gelar terduga “teroris” di mata masyarakat. Belum dipastikan pasca pembebasan Davit apakah akan dilakukan pula rehabilitasi nama baiknya.

Densus 88 sita bahan pembuat kue?

Korban salah tangkap Densus 88, Davit Ashari (19) beserta ibunya Siti Mariyam akhirnya kembali di kediamannya di Gang Kimin, Jalan Palmerah Barat II, Jakarta Barat, setelah ditangkap selama empat hari oleh Tim Densus 88 pada Sabtu lalu 27 Oktober lalu.

Davit dan Ibunda didampingi oleh Tim Pembela Muslim, Achmad Michdan, yang langsung melihat keadaan rumahnya setelah digerebek oleh Tim Densus 88.

image

Kondisi rumah Davit yang berukuran lima meter x 10 meter itu, terlihat dibagian ruang tamu sudah berantakan dan pakaian berserakan dilantai, begitupula diruang tidur dan dapur.

“Kita masih mencari apa aja yang hilang, yang baru ketahuan bahan-bahan buat kue saya, rencananya buat bikin kue untuk Idul Adha kemarin,” ujar Ibunda Davit, Siti Mariyam kepada arrahmah.com, dikediamannya, Jakarta,  Kamis (1/11/2012).

Mariyam menjelaskan, bahan-bahan tersebut diletakkan diatas lemari. “Ada terigu, susu bubuk, baking soda, tepung maizena, coklat chips, gula pasir, dan telur, saya taro di plastik,” jelasnya.

Mariyam pun menyimpulkan, bahwa Tim Densus 88 mengira bahwa tersebut adalah bahan pembuat bom. “Mungkin dikiranya (Polisi) bahan untuk bikin bom, jadinya diambil,” terang Mariyam.

Melihat keadaan Rumah Davit yang sangat berantakan tersebut, Michdan menyesalkan tindakan Densus 88 yangmenurutnya  tidak profesional dan tidak sesuai prosedur, ia meminta kepolisian untuk bertanggung jawab.

”Menggeledah seperti ini adalah perbuatan hukum, seharusnya Densus tidak perlu hingga seperti ini, kalau diberantaki ya harus drapihkan kembali, bukan dibiarkan seperti ini” lontarnya.

Sementara itu, Kakak kandung aktifis masjid Nanto yang ikut ditangkap Densus 88 geram dan sedih melihat keadaan rumah teman adiknya tersebut. “Ini zalim sekali, rumah diberantaki dan dibiarkan seperti ini”ungkapnya menahan haru.

“Ari-ari” disebut Bom

Keluarga Davit dan masyarakat sekitar menyesalkan pemberitaan media dan pernyataan beberapa pihak yang menyatakan telah ditemukan bom, padahal kenyataannya hanyalah tempat ari-ari ketika anak dari ibu Maryam itu masih kecil.

image

“Ini Cuma tempat-ari-ari mas, yang terbuat dari tempat cat dan digantung diatas genteng rumah” tutur salah satu warga.

Selain itu, menurut kesaksian warga Densus 88 juga membobol pintu samping rumah Davit  yang berfungsi menjadi tempat penanmpunagn barang-barang rongsok yang sudah tidak digunakan keluargnya. “Ini juga mas, didobrak Densus” ungkap warga yang tidak mau disebut namanya.

Kunjungan ke rumah Davit tersebut, dilakukan TPM dengan didampingi pula oleh Sekjen Forum Umat Islam (FUI) ustadz M AlKhaththath, ustadz Muzakkir dari Solo, dan keluarga Nanto.

Pembebasan Davit Azhari bukti Densus 88 asal main tangkap dan lakukan kriminalisasi

Direktur The Community of Ideological Islamic Analisyst (CIIA) Haris Abu Ulya menilai pembebasan tertuduh teroris Davit Azhari yang ditangkap Densus 88 di Palmerah dengan dugaan terlibat kelompok Hasmi pimpinan Abu Hanifah menjadi bukti bahwa Densus 88 sembrono dalam melakukan penangkapan.

“Pembebasan Davit Indikasi Densus 88 gegabah menangkap seseorang, makin keliatan tidak profesional. Main tangkap, sudah mirip kerja aparat di Amerika hanya mengandalkan indikasi 1 persen sudah bisa ciduk orang,” Katanya kepada arrahmah.com, Jakarta, Rabu (31/10).

Sementara itu, menurutnya penangkapan Davit itu sendiri dengan tuduhan atau asumsi terlibat atau berencana melakukan tindak pidana terorisme adalah tindakan kriminalisasi terhadap individu dan keluarganya.

image

“Sekarang Davit dilepas, rehabilitasi nama baik dia juga tidak dilakukan,”sesal Haris.

Kata Haris, Pola main tangkap seperti ini adalah teror psikis dan langkah kriminalisasi terhadap remaja Islam atau aktifis yang melahirkan dampak phobi terhadap masjid, alergi terhadap kegiatan Rohis atau semisalnya dari para orang tua.

“Inilah potret kezaliman yang legal atas nama undang-undang yang sarat dengan kepentingan politik imperialis,” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, Davit Azhari adalah adik kandung Herman Setiyono (22). Kakak beradik ini, bersama seseorang bernama Basyir ditangkap Densus 88 pada Sabtu pekan lalu sekitar pukul 11 siang di rumahnya dengan tuduhan terlibat jaringan teroris. Sementara Herman dan Nanto hingga saat ini belum ada kabarnya.

Densus 88 interogasi terduga “teroris” sambil hina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam

Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88) dikabarkan sedang berada dalam konflik internal. Pasalnya, dalam memeriksa terduga teroris mereka sudah kelewatan. Misalnya, dengan cara menghina Nabi Muhammad Saw. Anggota Densus yang muslim tidak terima dengan cara interogasi yang menyinggung SARA tersebut.

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath menyatakan hal tersebut dalam konferensi pers di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kamis (01/10). “Saat ini di tubuh kepolisian termasuk Densus 88 telah terjadi konflik kepentingan berdasarkan sentimen agama,” terang Khaththath.

Khaththath mengemukakan fakta konflik internal di tubuh Densus 88 ini dimulai ketika ada anggota badan khusus itu memeriksa tersangka kasus terorisme dan ditengarai sambil menghina Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Rupanya, sikap penghinaan itu telah memancing amarah anggota yang lain, yang beragama Islam. “Akhirnya sesama Densus saat itu berkelahi karena yang Muslim tidak terima Nabinya dihina,” ujar Khaththath.

Pengamat intelijen Mustofa B Nahrawardaya, membenarkan pernyataan Al Khaththath. Menurut Khaththath dan Mustofa, pola-pola ini untuk membangun stigma anti syariat ini, persis seperti operasi Komando Jihad (Komji) yang pernah digunakan Ali Murtopo di era Orde Baru.

Lebih jauh Khaththath mengajak umat bersabar akan masalah ini. “Umat Islam hanya perlu bersabar dan tetap berkordinasi dengan institusi keulamaan di Indonesia dalam menghadapi isu-isu terorisme,” himbaunya.

image

Terimakasih sudah membaca. Saya hanya memaparkan suatu contoh dimana banyak upaya yang sengaja menyudutkan umat Islam. Semoga Allah selalu beserta kami umat Muslim. Aamiin…

Referensi

  • arrahmah.id/read/2012/10/30/24358-tpm-pertanyakan-kebenaran-koper-yang-disita-densus-88-di-pal-merah.html
  • arrahmah.id/read/2012/10/31/24375-alhamdulillah-davit-azhari-dibebaskan-densus-88-meski-terlanjur-di-cap-teroris.html
  • arrahmah.id/read/2012/11/02/24425-setelah-mengacak-acak-rumah-davit-densus-88-sita-bahan-pembuat-kue.html
  • arrahmah.id/read/2012/10/31/24377-ciia-pembebasan-davit-azhari-bukti-densus-88-asal-main-tangkap-dan-lakukan-kriminalisasi.html
  • arrahmah.id/read/2012/11/02/24437-densus-88-interogasi-terduga-teroris-sambil-hina-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wassalam.html#main-nav
Iklan

4 responses »

  1. […] Densus 88 salah tangkap & mengada-ada […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s