Bermadzhab Dalam Islam

Haruskah kita bermadzhab? Ini menjadi pertanyaan orang yang baru menapaki dunia fikih.

  • Pertama, pertanyaan semacam ini bagi sebagian kalangan mungkin layak dikatakan abang-abang lambe. Betapa tidak, banyak diantara kita yang mempertanyakan hal ini, namun sejatinya belum bisa memahami konsekuensinya. Kebanyakan orang yang kebingungan harus memilih madzhab tertentu, dia sendiri sebenarnya tidak memahami isi madzhab-madzhab itu.
    • Sebagai contoh misalnya, ada orang yang menyarankan agar kita memilih madzhab Syafii. Dan kita pun yakin bahwa itu lebih dekat dengan kebenaran. Kemudian, setelah kita merasa mantap untuk memilih madzhab Syafii, apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Diam saja, tanya ustadz, baca buku, atau bagaimana?
    • Kita sangat yakin, kebanyakan orang yang menghadapi semacam ini, dia hanya akan mengambil sikap diam saja. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan ketika ingin mengikuti madzhab Syafii. Anehnya, dia sendiri enggan untuk kemudian mempelajari buku-buku dan karya ulama bermadzhab Syafii. Ujung-ujungnya, dia hanya bisa bertanya kepada ustadz atau kiyai yang dia yakini bermadzhab Syafii. Anda tahu bagaimana hasilnya?
    • Ya, sejatinya orang ini tidak menganut madzhab Imam Syafii, tapi menganut madzhab sang kiyai atau ustadznya. Dus.., omong kosong ketika dia mengaku-aku dan merasa bangga dengan madzhab Syafii, sementara dia sendiri tidak mengenal madzhab Imam Syafii. Karena itu, Anda tidak perlu heran, ketika banyak pendapat masyarakat syafiiyah di tempat kita, yang justru bertentangan dengan pendapat imam madzhabnya. Salah satu contohnya adalah dalam masalah peringatan kematian. Mereka yang membela dan melestarikannya, semuanya mengaku bermadzhab Syafii. Padahal Imam Syafii dan ulama madzhab syafiiyah sendiri menentangnya.
    • Karena itu, yang lebih penting bukan Anda mengaku bermadzhab apa. Tapi yang lebih penting adalah belajar dan belajar. Memahami agama ini dari sumber-sumbernya. Dengan demikian, Anda akan bisa menimbang, manakah diantara semua pendapat itu yang lebih mendekati kebenaran. Dengan demikian Anda bisa mengambil sikap dengan penuh keyakinan, karena Anda tahu dasarnya. Dari pada menjadi orang awam, yang kebingungan dan terombang-ambing dalam lautan perselisihan.
  • Kedua, makna kata madzhab. Agar kita bisa memahami lebih sempurna, terlebih dahulu kita pahami makna kata madzhab. Secara bahasa, madzhab artinya tujuan keberangkatan. Kemudian kata ini mengalami perubahan, sehingga digunakan untuk menyebut kesimpulan hukum yang menjadi tujuan akhir pembahasan, sebagaimana keterangan al-Munawi dalam at-Tawqif.
    • Ad-Dasuqi dalam hasyiahnya untuk asy-Syarhul Kabir mengatakan,
      • مَذْهَبَ مَالِكٍ مَثَلًا عِبَارَةٌ عَمَّا ذَهَبَ إلَيْهِ مِنْ الْأَحْكَامِ الِاجْتِهَادِيَّةِ

      • Madzhab Malik berarti ungkapan untuk menyebut semua hukum hasil ijtihad yang menjadi pendapat Imam Malik (Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala asy-Syarh al-Kabir, 1:49).

      • Atau dengan kalimat yang lebih ringkas, madzhab = pendapat. Bermadzhab, berarti mengikuti pendapat. Bermadzhab Syafii, artinya mengikuti pendapat Imam asy-Syafii, dst.

      • Dengan demikian, seorang mungkin saja mengikuti banyak madzhab, dalam berbagai ibadahnya. Bahkan dalam satu kali shalat yang dia lakukan. Bisa saja orang shalat dengan cara takbir menurut madzhab Hanafi, sedekap menurut madzhab Maliki, rukuk dengan madzhab Syafii, dan i’tidal dengan madzhab Hambali. Kita tentu yakin, ada salah satu dari sekian tata cara dari masing-masing madzhab tersebut yang lebih mendekati kebenaran. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan, tidak mungkin ada satu madzhab yang pendapatnya benar secara mutlak.

  • Ketiga, kita sepakat bahwa Imam yang empat, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafii, dan Ahmad bin Hambalrahimahumullah, mereka semua adalah imam dan panutan bagi kaum muslimin generasi setelahnya. Allah jadikan pendapat mereka diterima di hati kaum muslimin, dari generasi ke generasi.
    • Namun kita juga sepakat bahwa ijtihad tidak hanya terbatas pada empat ulama ini. Karena Islam tidak mungkin hanya berkutat pada pendapat empat imam ini. Masih banyak ulama lain yang sekelas dengan mereka, semacam ats-Tsauri, al-Auza’I, Ibnul Mubarak, Ishaq bin Rahuyah, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Yahya bin Qathan, dll.
    • Untuk itulah, para imam tersebut tidak pernah berharap agar madzhabnya disikapi sebagaimana syariah yang maksum dari kesalahan. Demikian pula, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa orang lain agar mengikuti pendapatnya. Bahkan mereka menolak ketika ada orang lain yang mengambil pendapatnya, tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar mereka.
  • Wasiat para Imam Madzhab

    • (1) Imam Abu Hanifah mengatakan:

      • إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه و سلم فاتركوا قولي

      • “Jika saya menyampaikan pendapat yang bertentangan denagn Al-Quran dan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku.” (Iqadzul Himam al-Fallani, hlm. 50, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 48).

    • (2) Imam Malik pernah berpesan:

      • ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه و سلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه و سلم

      • Siapapun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pendapatnya layak diambil atau ditolak. Kecuali keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (al-Jami’ Ibnu Abdil Bar, 2:91, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 49).
    • (3) Imam Asy-Syafii mangatakan:

      • كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه و سلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني

      • Semua pendapatku, namun keterangan dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bertentangan dengan pendapatku maka hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak diikuti dan janganlah taqlid kepadaku. (Riwayat Ibnu Asakir dengan sanad shahih, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 52)
    • (4) Imam Ahmad berpesan:
      • لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

      • “Janganlah kalian taqlid kepada aku, jangan pula taqlid kepada Malik, As-Syafii, Al-Auzai, At-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil.” (I’lam al-Muwaqi’in, 2:201).

    • Kita bisa memastikan, bagaimana semangat mereka dalam mengajarkan kebaikan kepada umat. Sama sekali bukan dalam rangka membangun kelompok baru, bukan pula menciptakan perbedaan di kalangan umat.
  • Keempat, mengapa hanya 4 ini yang terkenal? Diantara balasan yang kebaikan yang Allah berikan kepada mereka, atas jasa besar mereka bagi kaum muslimin, Allah abadikan karya mereka dan pendapat mereka melebihi ulama lainnya. Sebagaimana yang dinyatakan Imam Malik,
    • ما كان لله بقي

    • “Sesuatu yang murni untuk Allah maka akan lebih langgeng”
    • Allah ciptakan para murid yang menimba ilmu dari mereka, mengabadikan pendapat dan perjalanan hidup mereka. Para murid itu mencatat pendapat mereka, penjelasan mereka, tanya jawab bersama mereka, termasuk prinsip mereka dalam berijtihad. Sehingga sejarah kehidupan, ideologi, dan pemahaman mereka dikenang oleh masyarakat generasi setelahnya.
    • Dalam perjalanannya, para ulama generasi selanjutnya, berusaha meniru metodologi mereka dalam berijtihad dan mengambil kesimpulan hukum. Mereka lebih mengikuti pada prinsip para imam dalam menyimpulkan pendapat, ketimbang mengikuti pendapat sang imam. Sehingga terbentuklah metodologi menggali kesimpulan dalil yang membedakan mereka dengan madzhab yang lainnya. Mengingat 4 orang ini yang lebih banyak pengikutnya, jadilah madzhab 4 imam ini lebih dikenal dibandingkan ulama lain yang sezaman dengan mereka.
  • Kelima, haruskah kita taqlid kepada madzhab? Ketika menjelaskan tentang hukum taqlid madzhab, Dr. Abdullah al-Judai mengatakan,
    • أنَّ النَّاسَ صنفَانِ، عالمٌ مجتهدٌ، وَعَامِيٌّ مقلِّدٌ، فأمَّا المجتهدُ فقدْ امتنعَ عليهِ التَّقليدُ ما دامَ قادرًا على الاجتهادِ، وأمَّا المقلَّدُ فإنَّه مأمورٌ بسؤالِ من يقدرُ على سُؤالهِ من أهلِ العلمِ، ولا يتقيَّدُ بمذهبٍ من المذاهبِ الأربعَةِ، وإنَّما هو كما يقولُ بعضُ العلماءِ: (مذهبُهُ مَذهبُ من يسْتَفتِيهِ) ، وعلَى هذا أكثرُ أهلِ العلمِ.

    • Sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua golongan: Alim mujtahid dan Awam yang taqlid. Seorang mujtahid, dia tidak diperbolehkan untuk taqlid selama dia masih mampu untuk berijtihad. Sementara orang yang taqlid, dia diperintahkan untuk bertanya kepada ulama yang mampu menjawab pertanyaannya. Dan tidak harus terikat dengan madzhab tertentu dari empat madzhab di atas. Statusnya sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama: “Madzhabnya orang awam sama denagn madzhabnya orang yang dia mintai fatwa.” Inilah yang menjadi pegangan para ulama.

    • Kemudian beliau melanjutkan

    • لكنَّ التَّتلمُذَ لمن يقصِدُ تحصيلَ آلَةِ الاجتهادِ على مذهبِ من هذهِ المذاهبِ لأجلِ ما وقعَ من العِنايَةِ بها مشروعٌ صحيحٌ؛ نظرًا لما يُحقِّقُ من المصالحِ العظيمَةِ في مراتِبِ العلمِ، ولا ضرُورَةَ لتسميَّتِهِ تقليدًا

    • Namun, orang yang berusaha menggali untuk mendapatkan metodologi berijtihad menurut salah satu madzhab dalam rangka memberikan perhatian kepadanya, hukumnya disyariatkan dan dibenarkan. Mengingat terwujudnya kemaslahatan yang besar dengan adanya penerapan tingkatan ilmu. Dan tidak masalah jika bentuk semacam ini disebut taqlid.

    • فإنْ كانَ في مراحِل العلمِ فلهُ بعضُ الحالِ يشبَهُ العامِّيَّ فيأخُذُ حُكمَهُ المذكُورَ آنفًا، ولهُ حالٌ يشبهُ المُجتهِدَ فيأخُذُ حُكمَهُ كذلكَ.

    • Kaitannya dengan tingkatan ilmu, ulama yang mengkaji madzhab terkadang pada satu keadaan sama dengan orang awam. Sehingga berlaku hukum baginya sebagaimana yang telah disebutkan. Dan terkadang dia berada pada keadaan seperti layaknya mujtahid, sehingga berlaku hukum mujtahid baginya. (Taisir Ilmi Ushul Fiqh, 394 – 395).

  • Dari keterangan beliau, kita bisa mengambil kesimpulan:
    • (a) Manusia bertingkat-tingkat keilmuannya, ada yang awam, ada yang secara khusus belajar agama, ada yang ulama mujtahid, dan ada yang menjadi mujtahid mutlak.

    • (b) Taqlid yang dilakukan seseorang, sesuai dengan tingkatan ilmunya. Taqlid yang dilakukan orang awam, jelas berbeda dengan taqlid yang dilakukan mereka yang sedang belajar. Demikian pula taqlidnya seorang penuntut ilmu, tentu berbeda dengan taqlidnya ulama di atasnya, dst.
    • (c) Dari tingkatan keilmuan itu pula, ada orang yang taqlidnya mentahan. Dia hanya menerima hasil akhir, tanpa tahu dalilnya sepeserpun. Itulah model taqlid orang awam. Kemudian ada yang taqlid hanya pada bagian metodologi berfikir dan berijtihad, sehingga ketika mendapatkan kasus tertentu, dia bisa gunakan metodologi itu untuk mendapatkan jawabannya. Itulah tingkatan taqlid yang dilakukan ulama yang menisbahkan dirinya kepada madzhab tertentu.
  • Kemudian, tidak lupa Dr. Abdullah al-Judai memberikan persyaratan ketika seseorang hendak taqlid kepada madzhab tertentu,
    • أمَّا الانتِسابُ بسببِ التَّلقِّي إلى واحدٍ من هذهِ المذاهبِ، فشرْطُ جوازِهِ أنْ لا يقترِنَ بعصبيَّةٍ
    • “Adapun menisbahkan diri pada madzhab tertentu, disebabkan dia mengambil banyak ilmu dari salah satu madzhab, hukumnya boleh dengan syarat tidak diiringi dengan ta’asub (taqlid buta).” (Taisir Ilmi Ushul Fiqh, hlm. 395).
    • Yang dimaksud taqlid buta di sini adalah memegangi semua pendapat madzhab tersebut, tanpa peduli benar dan salahnya. [1]

Bolehkah Fanatik Terhadap Mazhab Tertentu?

Bolehkah ta’assub (fanatik) kepada mazhab tertentu yang diikuti oleh manusia dalam setiap hukum dari hukum-hukum syariat, sekalipun dengan begitu ia menyelisihi pendapat yang benar?

Bolehkah meninggalkan mazhab tersebut dan mengikuti mazhab yang benar dalam keadaan tertentu?
Apa hukum mengikuti satu mazhab tertentu saja?

Orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad mutlak tidak boleh bertaklid. Adapun orang yang tidak memiliki kemampuan itu, (maka) boleh baginya bertaklid kepada orang yang lebih ‘alim (mengetahui) dari padanya. Terkait permasalahan bermazhab dengan salah satu dari mazhab empat yang terkenal dan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada mazhab tersebut, (maka) tidak ada larangan untuk itu. Misalnya, dikatakan “Fulan Hanbali”, “Fulan Hanafi”, “Fulan Maliki”. Gelar seperti ini senantiasa ada semenjak dulu di kalangan ulama, bahkan hingga ulama-ulama besar. Misalnya, dikatakan “Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali”, “Ibnul Qayyim Al-Hanbali”, dan seperti itu. 

Tidak ada larangan dalam hal ini

Semata-mata ber-intima’ (menisbatkan diri) kepada mazhab tersebut tidaklah terlarang, namun dengan syarat, dia tidak boleh mengikat dirinya dengan mazhab tersebut, sehingga dia mengambil seluruh pendapat yang ada di dalamnya, baik yang benar maupun yang salah. Yang seharusnya ialah dia hanya mengambil yang benar saja. Adapun yang diketahuinya salah maka tidak boleh dia amalkan.

Jika tampak baginya pendapat yang lebih rajih, maka wajib baginya mengambil pendapat yang rajih itu, baik jika pendapat itu berada dalam mazhabnya maupun di mazhab yang lain. Karena yang telah jelas baginya adalah sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia tidak boleh meninggalkannya hanya karena perkataan seseorang.

Teladan kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, kita mengambil pendapat yang ada dalam sebuah mazhab selama pendapat itu tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ternyata pendapat itu bertentangan dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maka wajib bagi kita untuk meninggalkan pendapat tersebut dan lebih memilih sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita mengambil pendapat yang rajih dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mazhab mujtahidin mana pun datangnya.

Adapun orang yang mengambil pendapat imam secara mutlak, baik benar maupun salah, maka dia dianggap melakukan taklid buta. Kemudian, jika dia berpendapat bahwa wajib taklid kepada orang tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini murtad (keluar dari Islam).

SYEKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH BERKATA, “BARANG SIAPA YANG BERKATA: ‘WAJIB TAKLID KEPADA ORANG TERTENTU SELAIN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM,’ MAKA DIA HARUS DIMINTA UNTUK BERTOBAT. JIKA DIA TIDAK MAU MAKA DIA DIHUKUM MATI, KARENA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG WAJIB DIIKUTI KECUALI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM. ADAPUN SELAIN BELIAU, (YAITU) DARI KALANGAN IMAM MUJTAHIDIN, MAKA KITA AMBIL PENDAPAT MEREKA YANG SESUAI DENGAN SUNNAH RASULULLAH. ADAPUN JIKA SESEORANG MUJTAHID KELIRU DALAM IJTIHADNYA MAKA HARAM BAGI KITA MENGAMBIL PENDAPATNYA YANG KELIRU ITU” [2]

Madzhab di Mekkah dan Madinah

Konon katanya, jaman dahulu di masjid nabawi dan mekkah, orang yang naik haji bisa belajar banyak madzhab, tapi sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu madzhab karena menganggap satu madzhab ini adalah yang paling benar.

Benarkah seperti itu keadaannya &
Madzhab apakah yang dipakai oleh ulama di Mekkah dan Madinah?

Ada beberapa informasi yang pelu kita luruskan dari apa yang disampaikan. Ada sebagian yang tidak sesuai realita, dan ada yang bisa menimbulkan kesalah-pahaman.

  • Kedua, madzhab resmi Mekah dan Madinah. Hampir semua negara islam, punya madzhab resmi. Tidak hanya Saudi, termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara islam lainnya. Bagi departemen agama, madzhab resmi fikih mereka adalah syafiiyah. Karena itu, dalam banyak keputusan, Depag lebih banyak merujuk keterangan madzhab Syafii. Demikian halnya yang terjadi di Malaysia. Sementara madzhab resmi Mesir, yang digunakan sebagai rujukan dalam hukum dan peradilan adalah madzhab hanafi. Demikian pula, dulu madzhab resmi yang dianut oleh Turki Utsmani adalah madzhab hanafiyah. Saudi menjadikan madzhab hambali sebagai madzhab resminya. Madzhab hambali menjadi aturan resmi untuk setiap peradilan. Dan kita sepakat, memilih satu madzhab sebagai acuan, bukanlah sikap yang tercela. Karena hampir semua negara islam memilikinya, dan tentu saja atas lisensi dari para ulama.
    • Ulama Belajar Semua Madzhab
    • Meskipun madzhab resminya adalah hambali, namun para ulama besar yang tergabung dalam Haiah Kibar Ulama Saudi (semacam MUI di Indonesia), mereka mengkaji semua madzhab. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh salah satu anggota Haiah Kibar Ulama, Dr. Muhammad Alu Isa,
      • غالبية أعضاء الهيئة أكاديميون يدرسون المذاهب الأربعة، ولا يعتمدون إلا القول الراجح بدليله أيا كانت مدرسته

      • ”Umumnya anggota Haiah adalah lulusan akademi, yang mereka mempelajari semua madzhab yang empat. Dan mereka tidak memutuskan, kecuali pendapat yang kuat berdasarkan dalilnya, dari manapun mereka belajar. [4]

  • Pertama, fikih yang diajarkan di universitas islam di Mekah dan Madinah adalah fikih perbandingan madzhab. Sejak semester pertama di fakultas Syariah jurusan fikih, mata kuliah fikih sudah diajarkan fikih perbandingan madzhab. Dengan kitab rujukan Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Kitab ini layaknya ensiklopedi ikhtilaf ulama dalam masalah fikih. Hampir dalam setiap masalah, Ibnu Rusyd menyebutkan berbagai pendapat ulama dari berbagai madzhab. Sebagai bagian dari keterbukaan informasi tentang metode belajar di Universitas Islam Madinah, pihak Universitas menyebarkan informasi ini kepada masyarakat. [3] Oleh karena itu, klaim bahwa pemerintah Saudi hanya mengajarkan satu madzhab dalam pendidikan mereka, jelas klaim yang tidak sesuai realita.
  • Ketiga, pengajar di Masjid Nabawi. Meskipun madzhab resmi negara adalah madzhab hambali, namun saudi tidak memaksa kaum muslimin untuk mengajarkan madzhab lain di sana. Kita jumpai ada beberapa ulama yang berasal dari madzhab Maliki, seperti Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi, penulis kitab Minhajul Muslim, yang beliau bermadzhab Maliki. Dan sebelumnya sudah ada Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithy, pengajar masjid nabawi, sekaligus penulis Tafsir Adwaul Bayan, beliau juga bermadzhab Maliki. Bahkan di Saudi bagian timur, terdapat ulama besar madzhab Syafii, hingga beliau digelari dengan Syaikhul Madzhabi as-Syafii [شيخ المذهب الشافعي], guru besar madzhab Syafii. Beliau adalah Syaikh Ahmad bin Abdillah ad-Daughan. Beliau meninggal akhir tahun 2003, semoga Allah merahmatinya.
  • Keempat, pernyataan: ‘sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu mahzab’. Keterangan ini penuh tanda tanya. Karena umumnya jamaah haji Indonesia tidak mengikuti kajian atau halaqah para masyayikh di masjidil haram maupun Masjid nabawi, karena :
    1. Nara sumbernya berbahasa arab, dan umumnya orang Indonesia tidak paham.
    2. Mereka yang paham bahasa arab, umumnya adalah pembimbing, dan biasanya sudah sibuk ngurusi jamaah
    3. Banyak jamaah Indonesia yang lebih sibuk belanja, kuliner, dan mengambil gambar suasana masjid dan sekitarnya. [5]

Bolehkah Kita Ber-Madzhab?

“Empat imam mahdzab memiliki kapasitas ilmu yang berbeda. Karena tentunya tidak ada seorang pun yang menguasai semua ajaran Nabi, dan tidak ada seorang pun manusia yang menguasai keseluruhan ilmu yang ada. Sehingga mereka kadang berbeda pada beberapa hal. Namun, mereka adalah para imam besar. Mereka memiliki pengikut yang merumuskan madzhab mereka. Pengikut para imam ini mengumpulkan pembahasan-pembahasan serta fatwa-fatwa para imam. Kemudian ditulis dalam banyak kitab sehingga menyebarlah madzhab mereka dan dikenal banyak orang. Yaitu disebabkan pengikut para imam yang menuliskan dan mengumpulkan pembahasan dan fatwa dari para imam tersebut.

Sebagian diantara empat imam madzhab kadang terjerumus dalam kesalahan. Karena kadang sebagia mereka belum mengetahui hadits yang berkaitan dengan masalah tertentu. Lalu mereka berfatwa dengan ijtihad. Sehingga, dengan sebab ini, mereka memfatwakan yang salah. Sedangkan sebagian imam yang lain mengetahui hadits yang berkaitan, sehingga mereka berfatwa dengan fatwa yang benar. Hal seperti ini banyak terjadi dalam berbagai masalah yang mereka bahas, semoga Allah merahmati mereka semua. Oleh karena itulah Imam Malik berkata:

ما منا إلا رادٌ ومردود عليه إلا صاحب هذا القبر

“Setiap boleh menolak dan boleh ditolak pendapatnya, kecuali pemilik kuburan ini“, yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

Namun tentang memilih salah satu pendapat madzhab, ini hanya layak dilakukan oleh orang yang serius belajar agama. Dan merekapun tetaptidak boleh taqlid terhadap salah satu madzhab. Selain itu, jika seseorang menisbahkan diri pada madzhab tertentu karena ia memandang kaidah-kaidah, landasan dan kesesuaian terhadap dalil secara umum pada madzhab ini, ini dibolehkan. Namun tetap ia tidak boleh taklid baik kepada Asy Syafi’i, atau kepada Imam  Ahmad, atau kepada Imam Malik, atau kepada Imam Abu Hanifah atau yang selain mereka. Yang wajib baginya adalah melihat sumber pendapat dan cara pendalilan dari para imam tersebut. Pendapat yang lebih kuat dalilnya dari beberapa pendapat yang ada, maka itulah yang diambil. Sedangkan dalam perkara ijma, tidak boleh ada yang memiliki pendapat lain. Karena para ulama tidak mungkin bersepakat dalam kebatilan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما منا إلا رادٌ ومردود عليه إلا صاحب هذا القبرلا تزال طائفة من أمتي على الحق منصورة…. الحديث

Akan selalu ada sekelompok orang (thaifah) dari ummatku yang teguh di atas kebenaran, mereka ditolong oleh Allah.”

Dan jika para ulama telah bersepakat, maka merekalah thaifah yang dimaksud.

Bagi orang yang paham agama, wajib baginya untuk memperhatikan dalil dalam masalah khilafiyah. Jika pendapat Imam Abu Hanifah didukung dalil, ini yang diambil. Jika pendapat Asy Syafi’i didukung dalil, maka ini yang diambil. Jika pendapat Imam Malik didukung dalil, ini yang diambil. Jika pendapat Imam Ahmad didukung dalil, ini yang diambil. Demikian juga, jika pendapat Imam Al Auza’i didukung dalil, ini yang diambil. Jika pendapat Ishaq bin Rahawaih didukung dalil, ini yang diambil, dan seterusnya. Wajib mengambil pendapat yang berdasarkan dalil dan wajib meninggalkan pendapat yang tidak berdasarkan atas dalil. Karena Allah Ta’alaberfirman:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10)

Kesimpulannya, wajib bagi orang yang paham agama untuk mengembalikan setiap permasalahan khilafiyah kepada dalil. Pendapat yang dalilnya paling kuatlah yang diambil.

Sedangkan orang awam, yang wajib bagi mereka adalah bertanya kepada orang yang berilmuyang ada di masanya. Yaitu orang alim yang dapat memilihkan pendapat yang menurutnya paling mendekati teladan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Orang alim tersebut juga wara’, sangat memahami ilmu agamanya, dan masyarakat pun percaya terhadap keilmuannya. Orang awam sebaiknya merujuk dan bertanya kepada mereka. Sehingga dapat dikatakan madzhab orang awam ini adalah madzhab sang ulama yang ia tanya.

Namun perlu ditekankan, orang awam sebaiknya merujuk pada ulama -baik yang ada di negerinya atau di luar negerinya- yang dikenal ketinggian kapasitas ilmunya, ia mengikuti kebenaran, ia menjaga shalat 5 waktu, ia dikenal sebagai ulama yang mengikuti sunnah Nabi, ia memanjangkan janggut, tidak isbal, bebas dari tuduhan dari ulama yang lain, dan pertanda-pertanda lainnya yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang istiqamah. Maka jika anda ditunjukkan kepada seorang ulama, dan dari zhahirnya nampak tanda-tanda kebaikan dan ia pun dikenal kapasitas ilmunya, silakan bertanya kepadanya tentang hal-hal yang anda belum paham dalam masalah agama. Alhamdulillah, Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian.” (QS. At Taghabun: 16)

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada orang yang mengetahui jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiya: 7)

[Sampai di sini penjelasan beliau, dikutip dari Fatawa Nurun ‘Ala Ad Darb Juz 1]. [6]

Mengenai mayoritas orang yang menisbahkan diri kepada salah satu mahdzab di negeri kita, yaitu mahdzab Syafi’i, kami pernah menanyakan kepada Syaikh Ali Salim Bukair hafizhahullah saat berkunjung ke Indonesia, beliau adalah seorangfaqih (pakar fiqih) Mazhab Syafi’i dan Anggota Majelis Syura negeri Yaman. Beliau mengatakan bahwa pada realitanya kebanyakan orang yang mengaku bermadzab Syafi’i adalah pengikut madzhab Syafi’i dalam masalah furu’, dan mereka banyak menyelisihi mahdzab Syafi’i dalam perkara ushul dan banyak mengikuti pendapat ulama Syafi’iyyah zaman belakangan yang menyelisihi qoul mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangang utama madzhab Syafi’i). [7]

Metode Mengikuti Dalil

Apabila ada seorang ulama mengeluarkan fatwa maka seorang penuntut ilmu harus mengetahui dalil dari fatwa tersebut. Jika dia tidak mampu, dia harus bertanya dan berpegang kepada jawabannya. Dan tidak wajib baginya lebih dari itu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Seorang penuntut ilmu harus bertanya atau minta dalil kepada orang yang mengeluarkan pendapat dalam satu masalah, dimana dalam masalah tersebut terdapat pendapat yang berbeda-beda. Ketika jawabannya bisa menentramkan hatinya dan menenangkan jiwanya, barulah dia boleh mengikuti pendapat tersebut. Sebab kebenaran tidak diketahui lewat orang per orang, tetapi kenalilah kebenaran itu niscaya kamu akan mengetahui ahlinya (pelakunya). [8]

Menggabungkan Pendapat Mazhab-Mazhab

Bagaimana menyikapi tentang orang yang memiliki kemampuan untuk membedakan antara pendapat yang didukung oleh dalil dengan yang tidak? Dalam arti, bolehkah dia menggabungkan antara (pendapat) madzhab-madzhab selama (pendapat itu) didukung oleh dalil?

Penjelasan:

Dia harus mengikuti dalil, meskipun masalah tersebut terdapat dalam madzhab yang lain. Yaitu, pendapat tentang masalah yang dipilihnya karena pendapat itu didukung oleh dalil. Betul, dia boleh–bahkan wajib baginya–memegang satu pendapat dari madzhab yang bukan madzhabnya, jika dia melihat bahwa pendapat itulah yang dalilnya paling sahih. Dengan begitu, dia tidak bersikap ta’ashshub (fanatik) kepada madzhab tertentu. Akan tetapi, dia hanya mengikuti dalil, baik (dalil) yang terdapat (pada pendapat) di dalam madzhabnya ataupun yang terdapat di madzhab yang lain.

Dia tidak boleh mengikuti pendapat yang termudah atau yang disukai nafsunya, demi mencari keringanan atau ingin mengikuti syahwat karena kemudahannya. Ini tidak boleh! Yang boleh ialah: dia berpindah dari satu madzhab ke madzhab yang lain dalam sebagian masalah, karena dalil madzhab tersebut sahih dan kuat.

DIA DIPERINTAHKAN UNTUK MENGIKUTI DALIL, BUKAN MENGIKUTI MAZHAB

Jika hal ini telah jelas baginya, dia telah termasuk orang-orang yang mencapai derajatikhtiar (memilih) dan tarjih (mampu membedakan antara pendapat yang kuat dengan pendapat yang lemah). (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Fauzan Al-Fauzan). [9]


Baca juga:

Mazhab & Bermazhab Menurut Muhammadiyah

Opini Dr. Zakir Naik Tentang Madzhab dan Banyaknya Sekte Dalam Islam


Referensi

  • [1]konsultasisyariah.com/15778-haruskah-kita-bermadzhab.html
  • [2]konsultasisyariah.com/4842-bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu.html
  • [3]islamhouse.com/64948/ar/ar/programsv/برنامج_المناهج_الدراسية_بالجامعة_الإسلامية_بالمدينة_النبوية
  • [4]aawsat.com/details.asp?section=17&article=511267&issueno=11067#.UxbVl-OSzgs
  • [5]konsultasisyariah.com/22014-mazhab-di-mekkah-dan-madinah.html
  • [6]binbaz.org.sa/mat/4729
  • [7]konsultasisyariah.com/563-bolehkah-kita-ber-madzab.html
  • [8]konsultasisyariah.com/10266-metode-mengikuti-dalil.html
  • [9]konsultasisyariah.com/4803-bolehkah-kita-menggabungkan-pendapat-mazhab-mazhab.html
Iklan

3 responses »

  1. payday loan berkata:

    Hello there! I know this is somewhat off topic but I was wondering if you knew where I could locate a captcha plugin for my comment form? I’m using the same blog platform as yours and I’m having difficulty finding one? Thanks a lot!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s