Berita di media-media, entah itu di radio, televisi, surat kabar, media internet selalu menyuguhkan aksi² pelanggaran HAM yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim. Seakan² Islam adalah agama yang brutal, anarkis, suka membunuh dan melakukan tindakan² kejam lainnya. Padahal dalam agama Islam tidak mengajarkan seperti itu, kecuali karena sebagian umat muslim telah dibodohi oleh oknum² yang berkepentingan dibalik itu, atau oleh mereka yang salah menafsirkan atau hanya sedikit menukil dari ayat² Al-Qur’an sehingga ayat tersebut telah salah diartikan karena tidak seluruhnya dibaca dan di pahami.

Dibalik peran media² yang menyudutkan Islam, sebenarnya banyak aksi² brutal bahkan keji telah di lakukan oleh agama lain atau oknum² terhadap kaum muslim akan tetapi sengaja ditenggelamkan oleh media begitu saja. Dari sini kita tahu bahwa media² yang ada saat ini sengaja mendiskriminasikan Islam sebagai agama teroris.

Banyak cara dilakukan kalangan anti-Islam melakukan intimidasi dan provokasi terhadap umat Muslim. Yang aneh, mereka manfaatkan kebebasan berekspresi guna menghindari tuduhan penistaan agama. Itu sebabnya, bentuk intimidasi dan provokasi itu mulai beragam. Dari yang sederhana, hingga menghabiskan waktu dan dana. 

Untuk itu disini saya mencoba memaparkan tentang beberapa aksi diskriminasi terhadap umat Islam.

Diskriminasi terhadap umat Islam di Indonesia

  • Larangan Siswi Berjilbab di Bali

Ombudsman RI (ORI) Bali mencatat masih ada pelarangan jilbab bagi pelajar di provinsi itu. Padahal, peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan sudah mengharuskan sekolah untuk memfasilitasi penggunaan pakaian khas tersebut. Namun ORI menyayangkan, banyak pelajar yang menjadi korban pelarangan enggan melaporkan kasusnya.

Ketua ORI Bali Umar Ibnu Alkhotob menjelaskan, bungkamnya para pelajar tersebut membuat ORI sulit mengadvokasi mereka. “Kami menyayangkan masih adanya pelarangan itu dan pelajarnya enggan melapor,” kata Umar kepada Republika di Denpasar, Rabu (15/10).

Kasus dugaan penolakan jilbab di Bali kembali terjadi kepada seorang pelajar, Fitratunnisa. Siswi yang menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 3 Denpasar itu mengeluh karena ditolak di jalur prestasi untuk masuk ke SMP Negeri di Denpasar. Padahal, Nisa—begitu dia disapa—adalah juara lomba pencak silat antarpelajar Provinsi Bali. Nilai akademik Nisa pun terbilang bagus.

Nisa memilih sekolah jenjang SMP tidak menggunakan jalur akademik. Lewat prestasinya sebagai juara pencak silat, dia optimis diterima di sekolah negeri. “Nggak tahu apa sebabnya saya nggak diterima, mungkin karena foto di ijazah yang mengenakan jilbab,” kata Nisa.

Menanggapi kasus Fitratunnisa, Umar mengungkapkan, seharusnya siswi tersebut segera melaporkannya ke Ombudsman sehingga masalahnya cepat diselesaikan. “Sekarang kan sudah tengah semester, bagaimana kami mengadvokasi?” katanya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh meminta masyarakat melaporkan bila ada pihak sekolah yang melarang siswinya mengenakan jilbab. Menurutnya, mengenakan jilbab adalah masalah keyakinan dan bagian dari pelaksanaan agama.

Dia menjelaskan, sekolah harus memfasilitasi jika ada siswi yang ingin mengenakan jilbab. Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 menyatakan demikian.

Dia meminta masyarakat mencatat dan membuatkan laporannya secara detail, sekolah mana, daerah mana, dan tentunya nama siswi yang dilarang mengenakan jilbab.

Nuh mengatakan telah berikhtiar dengan menerbitkan peraturan menteri (permen) yang mengatur masalah pengenaan jilbab di sekolah. ”Sudah jelas bunyinya, sekolah tidak boleh melarang siswi berjilbab, asal warna seragamnya sama,” katanya.

Selain masalah seragam, ujarnya, Kemendikbud juga telah mengatur masalah guru agama di sekolah. Menurutnya, sekolah wajib menyediakan guru agama yang sesuai dengan keyakinan siswanya. Jika di sekolah Islam ada siswa beragama Kristen atau Hindu, sekolah wajib menyediakan guru agama sesuai keyakinan siswa. 

  • Penistaan Simbol² Islam

Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini menilai bahwa penistaan simbol-simbol Islam yang terjadi berturut-turut di Indonesia ini sudah tidak wajar.

“Kalau sekali mungkin itu kebetulan, dua kali bisa dikatakan itu kecerobohan, tapi kalau lebih dari tiga kali itu sudah tidak wajar. Bisa jadi ada desain besar pihak yang sengaja ingin mengutak-atik kerukunan umat Islam di Indonesia,” katanya seperti dilansir Republika, Rabu (05/01).

Pernyataan itu dikatakan untuk merespon beberapa peristiwa penistaan simbol agama Islam di beberapa daerah. Di antaranya lafadz Allah di sandal yang ditemukan di Surabaya, plat cetakan Alquran untuk cetakan panggangan kue, celana ketat wanita berlafadzkan surah Al-Ikhlas.

Dan yang terbaru, kertas sampul Al-Qur’an yang digunakan untuk membuat terompet tahun baru dan sajadah/karpet shalat yang digunakan untuk menari di acara Hari Amal Bakti ke 70 Kementerian Agama DKI Jakarta.

Oleh karena itu, ia meminta aparat untuk segera mengusut pelaku di balik penistaan simbol Islam. “Jangan sampai insiden seperti ini dibiarkan saja, dan mungkin kembali terjadi tanpa ada hukuman jera bagi pelakunya,” tukasnya.

Muhammadiyah: Ada Upaya Menciptakan Muslim Antagonis di Indonesia

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir menilai ada upaya menciptakan umat Islam Indonesia mengalami situasi antagonistik atau selalu bersikap kasar. Hal itu terlihat dari terus terjadinya pelecehan simbol agama Islam di berbagai modus yang ada.

“Ada pihak atau otak intelektual yang boleh jadi bertujuan terselubung untuk menciptakan situasi antagonistik,” katanya, Selasa (05/01). Situasi antagonistik tersebut, antara lain pihak tertentu berharap gesekan antar sebagian elemen umat Islam maupun agama lain.

Situasi antagonistik umat Islam ini, mudah terpancing dari kesenjangan sosial yang bisa memberi ruang pada konflik kelas. penyebab lain, proses kebebasan dari sisi ekonomi, politk dan budaya yang memberi celah banyak hal, termasuk menjadikan sebagai media pemicu.

Selain itu menurut Haedar, beberapa hal yang patut dikaji dari semua modus pelecehan simbol Islam di Indonesia, antara lain:

  • Pertama, bisa jadi pelaku atau beberapa orang tidak paham mana simbol penting atau suci yg tidak boleh dilecehkan dan diperlakukan sembarangan.
  • Kedua, trend bisnis yang ingin mengeruk keuntungan dengan cara menjual simbol Islam. “Bisa jadi ada kemungkinan pihak tertentu memancing emosi umat Islam sehingga lahir tindakan reaksi yang berbalik merugikan Islam, padahal justru Islam yang jadi bahan pelecehan,” ujarnya.

Kasus sandal berlafadz Allah, plat cetakan Al-Qur’an untuk panggangan kue, celana ketat wanita berlafadzkan surah Al-Ikhlas. Dan yang terbaru sampul Al-Qur’an yang digunakan untuk terompet tahun baru dan sajadah/karpet shalat sebagai alas tarian di acara Kemenag DKI.

Walaupun Kemenag DKI Jakarta telah meminta maaf atas insiden itu, dan di luar kesengajaan. Namun menurut Haedar, hal ini bisa saja menimbulkan banyak asumsi di masyarakat. “Muhammadiyah berharap aparat dapat serius dan bertindak sigap, mengusut siapa di balik ini semua agar hadir rasa keadilan di masyarakat,” tegasnya.

  • RCTI Nodai Simbol Islam

Ramainya pemberitaan yang menyudutkan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) membuat sejumlah pihak melakukan tindakan yang kebablasan. Tak ketinggalan, kantor-kantor berita dan saluran televisi yang turut heboh memberitakan ISIS akhirnya kena batunya.

Salah satunya adalah saluran televisi swasta RCTI. Dalam program berita ‘Seputar Indonesia’ pagi yang tayang pukul 04.30 WIB tertanggal 8 Agustus 2014, Seputar Indonesia membahas tema “Polemik ISIS”.

Ironisnya, RCTI dengan sengaja melakukan penistaan terhadap Allah dan Islam dengan menayangkan gambar latar bertuliskan lafadz tauhid “Laa ilaha ilallah” yang dicoret silang dengan garis berwarna merah mencolok.

Sontak, kejadian ini turut menjadi perhatian pengguna sosial media. Salah seorang pengguna Facebook yang menggunakan akun Ai Gozali mengajak umat Islam untuk melaporkan RCTI atas tayangan gambar “Laa ilaha Illa llah” yang dicoret garis merah. Sebab, hal itu merupakan penodaan dan penghinaan terhadap simbol-simbol Islam.

“Stasiun Televisi RCTI melakukan Penodaan dan Penghinaan terhadap Allah dan Agama Islam. Anda Muslim? Mari Laporkan! Silahkan pro dan kontra mengenai ISIS (Khilafah Islamiyah). Namun penodaan, penistaan dan penghinaan terhadap Allah dan Islam, salah satunya seperti yang dilakukan stasiun televisi RCTI, tetap tidak bisa ditoleransi,” tulis Ai melalui akun facebooknya pada Rabu, 13 Agustus 2014.

Ia juga mengajak kepada seluruh pengguna facebook lainnya untuk melaporkan penodaan simbol-simbol Islam ini melalui Komisi Penyiaran Indonesia melalui:

  1. Website Komisi Penyiaran Indonesia, klik http://kpi.go.id/index.php/pengaduan
  2. Call Center Komisi Penyiaran Indonesia (via telepon) 021-634 0626
  3. Melalui SMS ke nomor 081213070000
  • Pembatasan Ibadah Tahanan KPK

Sejumlah penghuni tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) POMDAM Jaya Guntur Jakarta mengeluhkan pembatasan ibadah di masjid. Pembatasan dilakukan pada ibadah shalat berjamaah, zikir bersama, dan pengkajian Islam.

Melihat kasus itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Shohibul Faroji Azmathkhan, MA menilai penghinaan terhadap unsur-unsur ajaran Islam adalah penistaan terhadap Islam.

Menurut dia, pelarangan shalat berjamaah terhadap tahanan KPK merupakan termasuk penistaan terhadap Islam.

“Apalagi, di zaman Rasulullah SAW orang yang menghalangi ibadah seperti shalat berjamaah, halal darahnya,” katanya dalam diskusi ‘Penistaan Agama oleh Sipir Rutan KPK dari Aspek Hukum Islam’ di Jl.Talang no.3, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/6).

Fahroji berpendapat, masalah pelarangan shalat berjamaah di masjid merupakan masalah yang besar. Karena, mayoritas rakyat di Indonesia adalah muslim yang melaksanakan shalat.

“Siapa yang tidak peduli terhadap masalah besar ini, maka keislamannya patut dipertanyakan,” ujarnya.

Kata Fahroji, di dalam fiqh Islam, tahanan tidak boleh dihukum bila belum terbukti bersalah atau divonis.

Islam juga sangat menjaga hak-hak tahanan yang terangkum di dalam maqashid syariah. Di antaranya, Hifzu Ad-Diin (menjaga agama), hifzu An-nafs (menjaga jiwa), hifzu Al-aql (menjaga akal), hifzhu Al-maal (menjaga harta), dan hifzhu An-nasab (menjaga turunan).

“Dalam fiqh, kalau seseorang ditahan lima hal itu harus dijaga,” ujarnya.

Fahroji juga menilai, tindakan sipir Rutan KPK bertentangan dengan Pancasila, HAM, dan UUD 1945. Yang di dalam ketiga hal itu, memuat jaminan kebebasan beragama seseorang.

  • Polisi Serbu Mushalla di Riau

Aparat kepolisian bertindak brutal saat melakukan penyerangan kepada sejumlah mahasiswa yang lari ke dalam Mushalla As-Syakirin di kantor RRI Pekanbaru, Riau pada Selasa (24/11) kemarin. Insiden itu terjadi setelah aparat melakukan pembubaran aksi demonstrasi mahasiswa dari BEM se-Pekanbaru yang menolak kedatangan Jokowi ke kota itu.

Kepolisian sempat melakukan aksi brutal masuk ke dalam Mushalla Asy-Syakirin menggunakan sepatu dalam rumah ibadah hingga menginjak-injak sajadah yang ada di Mushalla bahkan membuat Al Quran berserakan.

Sejumlah tokoh dan elemen umat Islam karuan saja melayangkan kecaman kepada aparat kepolisian. Salah satunya datang dari MUI. Organisasi para ulama itu menganggap apa yang dilakukan aparat kepolisian telah melecehkan agama dan merupakan penistaan agama.

“Itu arogansi. Kita mengecam apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang dianggap melecehkan agama, apalagi  di dalam rumah ibadah menggunakan sepatu. Harusnya menghormati rumah ibadah, presiden saja masuk masjid buka sepatu,” demikian diungkapkan Ketua MUI Provinsi Riau, Prof Dr H Mahdini MA saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Rabu (26/11)

Mahdini juga minta agar aparat minta maaf secara terbuka kepada khalayak. ” Kita juga sangat menyayangkan sikap arogansi aparat kepolisian yang berujung kepada penistaan terhadap Agama Islam,” jelas Mahdini.

Menurut Mahdini, pihaknya akan menyurati kepolisian daerah Riau untuk mempertanyakan hal tersebut. Sebab, aksi penertiban terhadap mahasiswa tersebut tentunya di bawah satu komando. Maka pihak MUI akan mempertanyakan langsung kepada Polda Riau ataupun Polresta Pekanbaru.

“Sepatu tak layak masuk ke rumah ibadah, aparat harus minta maaf kepada umat Islam secara terbuka. Kita mengecam hal ini jangan sampai terulang lagi,” pintanya

Seharusnya, sebut Mahdini, polisi membuka sepatu sebelum masuk ke dalam mushalla memanggil satu persatu mahasiswa untuk berbincang di luar mushalla. Namun, karena sikap arogan membabi buta, polisi menyerang mahasiswa hingga ke dalam mushalla tanpa membuka sepatu.

“Tidak mungkinlah rumah ibadah diinjak-injak dengan sepatu, saya tidak menduga dia agama lain, mungkin dia agama Islam, maka dia dosa besar. Dia tak memahami makna rumah ibadah. Maka di samping tobat, kita minta dia sampaikan maaf kepada khalayak, sampaikan secara terbuka,” desaknya.

Penyerangan mahasiswa oleh polisi ini terjadi Selasa (25/11) sore kemarin, saat mahasiswa yang melakukan aksi demo di RRI dibubarkan paksa oleh aparat polisi karena dituding tidak memiliki izin. Namun, sebagian mahasiswa endemo membantah hal itu.

Karena ketakutan banyaknya mahasiswa yang dipukuli polisi, maka sebagian mahasiswa berlindung di dalam mushalla yang ada di samping Kantor RRI. Ternyata pihak polisi tetap mengejar mahasiswa hingga masuk mushalla tanpa menanggalkan sepatu menginjak-injak lantai Mushalla tempat ibadah.

Atas insiden ini, selain puluhan mahasiswa terluka parah akibat tindak brutal polisi yang menerobos masuk ke dalam tempat suci tersebut lengkap dengan sepatu juga. Aksi brutal itu juga menyebabkan lemari kecil tempat menyimpan sajadah dan Al-Quran rusak.

  • Terompet Dari Lembaran Al-Qur’an

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan  beredarnya terompet berbahan kertas Al-Quran di Kendal, Jawa Tengah (Jateng) merupakan bentuk pelecehan bagi umat Islam. MUI meminta aparat hukum bertindak tegas terjadap pelakunya.

Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, mengatakan kasus beredarnya terompet berbahan kertas sampul Al- Quran di Kendal , Jateng merupakan bentuk pelecehan bagi umat Islam yang harus ditindaklanjuti secara tegas oleh aparat penegak hukum. “Kasus terompet itu sebagai pelecehan pada umat Islam, dan perlu dipidanakan,” kata Ma’ruf, kepada MySharing, di kantor MUI Pusat, Jakarta.

Ma’ruf menghimbau agar umat Muslim Indonesia tidak mengambil langkah main hakim sendiri dalam menyikapi kasus terompet berbahan kertas sampul Al-Quran. Menurutnya, kasus pelecehan agama ini merupakan ranah pidana yang harus diselesaikan sesuai koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

MUI, kata Ma’ruf sudah memberikan intruksi kepada MUI Jawa Tengah untuk membentuk tim terkait kasus terompet yang ditemukan di Kendal, Solo dan Semarang. Namun begitu, lanjut dia, meski dibentuk tim tetap pelimpahan kewenangan pidana terhadap pelaku atau produsen pembuat terompet ini ada di aparat penegak hukum.

“Biar polisi yang menginvestigasinya. Pelecehan itu bisa penodaan, penistaan. Ada pasal-pasalnya. Kami harapkan masyarakat jangan main hakim sendiri,” kata Ma’ruf.

Sikap Pemerintah

Kejadian pelecehan terhadap agama Islam di Indonesia semakin diluar batas logika di tengah jumlah umat Islam yang mayoritas. Wajar jika publik bertanya, pada kemana umat Islam? Atau bisa lebih spesifik lagi, mana sikap tegas presiden Indonesia?

Jika pemimpin negeri ini beragama Islam, maka selayaknya pelecehan demi pelecehan terhadap agama Islam tidak akan terjadi terus menerus.

Di ketahui, Presiden Jokowi mengakui sebagai orang yang sudah Haji. Sedang Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI). Saat agama Islam dilecehkan, kenapa mereka tidak bersuara lantang memprotes? Mulai dari pembakaran masjid di Tolikara, sandal/sepatu bertuliskan kalimat Allah, terompet dari sampul Al Qur’an, sampai yang baru – baru ini terjadi, Kanwil Kementrian Agama RI Jakarta menjadikan sajadah sholat sebagai alas di injak demi pertunjukkan tari – tarian. Adakah suara Jokowi memprotesnya?

Yang ada usai masjid di Tolikara di bakar, Jokowi malah asyik nonton film komedi dan tak lama mereka sebagai otak pelaku pembakar di undang ke Istana negara. Miris!

Kalau seandainya ada sikap tegas dari pemimpin negeri ini, maka pelecehan kepada agama Islam takkan terjadi bertubi–tubi.

Hal itu juga disayangkan oleh Pimpinan Pesantren Yatim As-Syafiiyah, Tutty Alawiyah yang mengaku prihatin dengan sikap umat Islam terhadap upaya melecehkan ajaran agama. “Kok diam saja, ada upaya melecehkan Islam,” kata dia, dalam tasyakur Milad 38 Tahun Pesantren Khusus As-Syafiiyah, seperti dilansir Republika.

“Saya dikirim gambar sepatu tenis, ayat Alquran dari tumit ke atas. Ini terjadi di Indonesia,” kata dia.

Semoga keprihatin yang mendalam juga dirasakan para pemimpin negeri pertiwi ini dan bisa bersikap tegas.

image

image

image

image

Sumber

  • »kiblat.net/2016/01/06/penistaan-simbol-islam-di-indonesia-dinilai-sudah-tak-wajar/
  • »kiblat.net/2016/01/06/terkait-seringnya-kasus-pelecehan-simbol-islam-muhammadiyah-ada-upaya-menciptakan-muslim-antagonis-di-indonesia/
  • »www.salam-online.com/2014/10/masih-ada-larangan-siswi-berjilbab-di-bali.html/
  • »kiblat.net/2015/06/24/pbnu-pembatasan-ibadah-tahanan-kpk-adalah-penistaan-terhadap-islam/
  • »kiblat.net/2014/11/27/polisi-serbu-mushalla-mui-riau-itu-arogansi-kepolisian-yang-berujung-penistaan-agama-islam/
  • »mysharing.co/mui-kasus-terompet-pelecehan-pada-umat-islam/
  • »pekanews.com/2016/01/terjadi-pelecehan-demi-pelecehan-terhadap-islam-sikap-tegas-jokowi-mana/
Iklan

One response »

  1. […] Diskriminasi Terhadap Umat Islam di Indonesia […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s