Berbagai upaya telah lama dilakukan oleh zionis untuk menghancurkan Islam. Beribu-ribu konspirasi terorganisir secara rapi tapi masif di berbagai negara. Begitu juga di Indonesia. Islam adalah agama yang melindungi, mengatur berbagai aspek kehidupan, agama yang damai, akan tetapi propaganda zionis tak henti²nya memperlihatkan kepada khalayak seakan-akan Islam adalah teror, dan orang yang beragama islam diperlihatkan seperti teroris. Apa saja upaya² zionis untuk menghancurkan Islam di Indonesia? Kita simak saja ulasan dibawah ini.

A. BNPT & DENSUS 88 Adalah Antek Asing

Perang melawan “terorisme” di Indonesia memiliki indikasi kuat bukanlah sebuah agenda mandiri melainkan turunan dari agenda global yang dikumandangkan AS. Hal ini ditegaskan oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Ahad (10/2/2013).

“Sejatinya perlawanan di dunia Islam sebagai akibat kezaliman global AS Cs. Namun AS memanipulasi dunia bahwa perlawanan tersebut adalah tindakan (melawan) ‘terorisme’. Maka perang melawan ‘terorisme’ sejatinya ‘topeng’ imperialisme di dunia Islam,” ungkap Harits.

Menurut Harits, Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) dan pasukan Densus 88 merupakan kaki tangan (antek) dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, yang bertugas melaksanakan agenda tersebut: menghancurkan umat Islam di Indonesia.

“Saat ini, Densus 88 dan BNPT mengikuti protokol CIA dalam pemberantasan ‘terorisme’,” kata Harits.

Dalam konteks lokal, kata Harits, ‘kontra-terorisme’ disterilkan oleh BNPT dan Densus 88 yakni proyek global dan faktor-faktor global yang memicu lahirnya perlawanan di dunia Islam.

Harits menambahkan, dalam menjalankan strategi “stick and carrot” (politik  belah bambu) di dunia Islam, AS menjaga keberlangsungan imperialismenya. Sebagai imbalan loyalitas Indonesia mengikuti arus perang melawan “teroris”, AS pun memberikan banyak hibah, pelatihan capacity building dan jalinan informasi dengan CIA yang hingga kini terus berlangsung.

“Kali ini penahanan hingga vonis penjara 15 tahun bagi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir saya duga kuat juga order dari CIA (Amerika), jadi sangat politis. Dan kezaliman ini produk kemitraan konspiratif Indonesia-AS dengan korban yang sebagian besar kelompok Islam,” pungkasnya. [1]

B. Upaya-Upaya Men”teroris”kan Islam

B.1 Pemblokiran Situs Islam

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr Din Syamsuddin menyesalkan langkah yang diambil Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) terkait pemblokiran situs media Islam di internet.

“Penutupan situs Islam tentu mengundang reaksi umat Islam karena ini sangat sensitif. Langkah ini bisa menjadi pro-kontra meskipun berdalih memberantas ‘terorisme’,” ujarnya di Makassar, sebagaimana dikutip Antara.

Menurut Din, seharusnya Kominfo membicarakan hal tersebut sebelum mengambil langkah tegas meskipun telah mendapat instruksi dari Badan Nasional Penanggulangan ‘Terorisme’ (BNPT).

“Saya sudah berkomunikasi dengan Menkominfo terkait hal ini. Dalam waktu dekat kami akan duduk bersama membahas soal ini. Saya sayangkan kenapa baru mau dibicarakan setelah sudah mengambil langkah itu,” katanya seusai menghadiri Harsiarnas KPI di Anjungan Losari.

Ketua Umum Muhammadiyah ini berpendapat bahwa pemblokiran situs Islam adalah langkah tidak tepat dan menyinggung perasaan umat Islam.

“Kenapa situs yang berbau porno dan merusak akhlak itu dibiarkan dan tidak diblokir, malah terkesan dibiarkan, sementara situs Islam dianggap penyebar ‘terorisme’ oleh pemerintah itu diblokir, padahal tidak semua situs kan,” ujar dia.

Din menambahkan pemblokiran situs Islam tidak efektif karena rata-rata situs Islam membawa idelogi agama yang menyangkut akidah orang Islam kendati ada pula yang memanfaatkan Islam dengan membuat situs.

“Faktanya semuanya di blokir dan tidak memberikan ruang dan memeriksa secara seksama, meskipun kami akan melakukan pertemuan tetapi langkah ini menurut pendapat saya tidak efektif,” ulasnya.

Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan pihaknya telah memblokir situs-situs Islam yang menyebarkan paham radikalisme. Pemblokiran tersebut atas permintaan BNPT.

Kominfo kemudian meminta pihak Internet Service Provider (ISP) segera memblokir situs-situs yang dianggap menyebar paham radikalisme tersebut. Diketahui ada 19 situs yang sementara ini diblokir berkaitan dengan tudingan sebagai penyebar paham radikal. [2]

  • B.1.1. Kemkominfo Akui tak Meneliti Isi Konten Situs yang Diblokir

Pihak Kemkominfo mengakui pihaknya tidak sampai meneliti isi konten media-media Islam online yang diminta diblokir oleh BNPT.

Humas Kemkominfo kepada wartawan menjelaskan bahwa pihaknya hanya meneruskan apa yang telah direkomendasikan dari BNPT.

“Jadi sesuai dengan penjelasan dari tim trust positif, semua domain website yang direkomendasikan untuk diblokir kami Kominfo meneliti satu-satu tapi tidak meneliti ke dalam,” jelas Ismail selaku Humas Kemkominfo kepada para wartawan yang hadir pada pertemuan antara perwakilan media Islam online yang diblokir dengan pihak Kemkominfo, Selasa (31/3/2015).

Lebih lanjut Ismail menegaskan dari 26 website yang dianggap radikal, ada beberapa sudah tidak aktif dan ada juga yang cuma duplikasi dari situs yang ada.

“Jadi cuma sampai di situ saja, kami tidak sampai meneliti kontennya seperti apa karena itu sudah rekomendasi BNPT,” tandas Ismail.

Pemblokiran situs-situs Islam menuai kecaman dari netizen, ribuan orang menggunakan tagar #KembalikanMediaIslam sebagai bentuk protes terhadap aksi Kemkominfo yang dengan mudahnya meloloskan rekomendasi BNPT. [3]

  • B.1.2. BNPT Salahkan Kemenkominfo

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Saud Usman angkat bicara soal penutupan puluhan situs Islam yang beberapa waktu lalu dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Dia membantah bahwa penutupan 19 atau 22 situs tersebut adalah permintaan dari BNPT.

Saud malah menyalahkan Kemenkominfo dalam merespon rekomendasi pemblokiran. Menurut Saud, pihaknya hanya menyampaikan apa saja muatan negatif dalam 22 situs melalui surat kepada Direktorat Jenderal Aplikasi Kementerian Kominfo.

Kriteria negatif menurutnya sesuai dengan Peraturan Menteri Kominfo No. 19 Tahun 2014 yang menyediakan payung hukum untuk menutup akses terhadap situs internet bermuatan negatif.

Permen itu mengacu pada UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). “Surat kami ke Kemkominfo sesuai aturan yang ada. Kami menyebutkan yang negatif itu. Jadi jangan dikatakan kami yang menutup situs Islam,” kata Saud Usman dalam diskusi  bertajuk “Kontroversi Penutupan Situs Radikal: Sensor Internet, Politis, atau Perlindungan Publik?” di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (5/4).

Pihaknya juga tidak keberatan bila semua pihak duduk bersama untuk merumuskan kembali kriteria situs bermuatan negatif sebagaimana disebut dalam Permen maupun UU ITE. Namun secara prosedur, Saud menegaskan BNPT hanya mengusulkan, keputusan apakah kriteria situs bermuatan negatif atau tidak tetap di Kemenkominfo.

Pihaknya juga menegaskan sesuai Permen tersebut, BNPT tidak berhak melakukan pemblokiran, karena yang berhubungan dengan pengelola situs adalah Kemenkominfo, baik untuk klarifikasi maupun penutupan aksesnya.

“Sesuai Permen, seharusnya Kemenkominfo-lah yang mengecek dan memonitor. Tidak ada kewajiban kami mengkalirifikasi, yang melakukan itu regulator/dirjen aplikasi Kemenkominfo, seharusnya dia punya tim juga,” jelasnya.

Bagi situs-situs yang tidak terbukti bermuatan negatif setelah diferivikasi Kemenkominfo, Saud menyatakan sesuai Permen itu pengelola bisa mengajukan normalisasi kembali. [4]

  • B.1.3. Blokir Situs Islam, Bumerang buat BNPT

Kebijakan Kemkominfo memblokir situs-situs media online Islam sangat mengejutkan kaum Muslimin di era Reformasi saat ini. Itu menunjukkan tindakan Abuse of Power dan otoritarian masih saja terjadi di negeri ini. Terlebjh korbannya lagi-lagi adalah Islam dan kaum Muslimin.

Protes pun bermunculan dari umat Islam, tokoh Islam, ormas dan sejumlah kalangan yang peduli untuk menjaga negara ini agar tidak kembali ke sejarahnya yang kelam di masa lalu.

Para pengelola situs Islam yang diblokir telah mendatangi Kemkominfo pada Selasa (31/3) lalu. Pihak Kemkominfo menyatakan mereka hanya menjalankan permintaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan ‘Terorisme’). Maka dalam hal ini BNPT-lah pihak paling bertanggung jawab atas pembredelan situs media Islam online ini.

Jika kita cermati lebih jauh, langkah yang diambil BNPT ini sangat berbahaya di samping terang benderang menentang semangat Reformasi dan UU No. 40 Tahun 1999. Pasalnya keputusan BNPT ini secara tidak langsung mengandung unsur pelecehan terhadap dakwah Islam dan para ulama, dimana tulisan, ceramah, pencerahan-pencerahan sejumlah ulama bertebaran di dalam situs-situs yang diblokir itu.

Fakta berbicara bahwa situs-situs media Islam online yang diblokir merupakan salah satu alat penghubung sekaligus penyambung lidah para ulama panutan, tokoh Islam, intelektual Islam kepada umat secara umum. Pencerahan-pencerahan dari para ulama ini dapat mudah diakses oleh umat melalui perantara situs-situs tersebut, tentu termasuk di dalamnya adalah berita-berita dunia Islam.

BNPT sendiri sejauh ini tidak mau menjelaskan definisi dan batasan radikal itu sendiri seperti pernyataan Deputi Penindakan & Kemampuan Brigjen Arif Dharmawan kepada cnnindonesia.com. Karenanya umat Islam dibuat bertanya-tanya apa yang dimaksud ‘radikal’ oleh lembaga anti ‘teror’ yang selama ini didanai oleh Amerika dan Australia itu.

Arif Dharmawan menegaskan, lembaganya hanya menekankan bahwa konten di website yang diblokir itu bertentangan dengan falsafah Indonesia dan Islam.

Ketidakjelasan definisi dan batasan ‘radikal’ menurut BNPT yang dijadikan dasar pemblokiran situs-situs media Islam online otomatis melahirkan kesimpulan di masyarakat, khususnya umat Islam, bahwa semua konten dalam situs tersebut adalah ‘radikal’, bertentangan dengan falsafah Islam alias menyimpang, termasuk di dalamnya adalah ceramah-ceramah, tulisan-tulisan ulama, intelektual, tokoh Islam bahkan tokoh Majelis Ulama Indonesia sekalipun.

Ini adalah bentuk pendiskreditan Islam, khususnya ulama, yang dijadikan narasumber utama oleh situs media Islam online tersebut. Ada pepatah mengatakan “daging Ulama itu beracun” yang dipahami merendahkan martabat ulama itu berbahaya. Penyematan stempel radikal atau menyimpang terhadap situs-situs media Islam online mau tak mau menyasar para ulama, intelektual dan tokoh-tokoh Islam. Tanpa harus disebutkan namanya umat Islam tahu siapa saja ulama-ulama panutan umat yang rutin memberi pencerahan-pencerahan kepada umat melalui situs-situa media online yang diblokir atas perintah BNPT itu.

BNPT tanpa sadar sedang menempatkan umat Islam dan ulama-ulamanya sebagai musuh utamanya. Retorika yang dibangun selama ini bahwa BNPT melawan tindakan ‘teror’ dengan latar belakang apapun bukan Islamnya atau umat Islamnya dengan sendirinya terbantahkan oleh ulah mereka sendiri.

Memang tidak sedikit ulama yang resah dengan keberadaan BNPT dan Densus 88 yang disinyalir kerap melancarkan aksi anti Islam dan umat Islam. Sebut misalnya, seperti seorang ulama kharismatik, KH Tengku Zulkarnaen (pengurus MUI Pusat) mengritik keras Densus 88 atas aksi mereka mengintimidasi santri penghafal Al Qur’an. KH Tengku Zulkarnaen bahkan meminta Densus 88 dibubarkan seperti diberitakan Republika.

Menempatkan kaum Muslimin dan ulama Islam sebagai musuh melalui kriminalisasi dan memblokir situs media Islam online semestinya diperhitungkan masak-masak oleh BNPT. Tindakan ini akan menjadiboomerang bahkan akan sangat membahayakan BNPT sendiri.

Kaum Muslimin dan ulama Islam Indonesia punya sejarah panjang bagaimana misalnya kegigihan mereka melawan pihak penjajah negeri ini. Sebut saja Syaikh Abdush Shomad Al Falimbani, Syaikh Yusuf Al Makassari, Pangeran Ngabdul Khamid (Diponegoro), Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanudin dan masih banyak lagi tokoh ulama sekaligus pahlawan nasional yang melawan penjajah Belanda dan penjajah “tetangga”nya sendiri yaitu kaum pribumi yang berkhianat mendukung Belanda dengan sebutan “Londo Ireng”.

Jangan lupa pula dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang menjadi pembakar semangat jihad pasukan Bung Tomo dan Resolusi Jihad-nya.

Akhirnya jika BNPT tetap pada pendiriannya memutuskan untuk membungkam situs-situs media Islam online dengan dalih radikal dan menyimpang dimana hari ini situs-situs tersebut menjadi penyambung lidah para ulama Islam, maka BNPT sedang memberi jalan kepada umat Islam untuk bersatu berdiri di belakang ulama panutannya.

Sebaiknya BNPT mulai hari ini kembali membuka lembaran sejarah yang ditulis dengan tinta emas, bagaimana kehebatan, keteguhan, kegigihan umat Islam dalam melawan penjajah asing dan penjajah dari dalam negerinya sendiri yaitu “Londo Ireng”.

Saudara-saudaraku umat Islam mari rapatkan barisan. Jadilah seperti air dan udara dimana semakin ditekan dan dimampatkan maka tekanan dan pancarannya akan semakin kuat ke segala arah. Ingat, pertolongan Allah Subahanau Wa Ta’ala sudah dekat.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214) [5]

C. Isu ‘Terorisme’ Akan Terus Dipelihara untuk Membungkam Kekuatan Islam

C.1. BNPT sebut 19 Pesantren Ajarkan Radikalisme

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman mengeluarkan statemen adanya 19 pondok pesantren terindikasi mengajarkan radikalisme yang mengarah kepada “terorisme”.

Pernyataan ini menuai kegaduhan di kalangan umat Islam, khususnya pondok pesantren. Dan banyak yang menyanyangkan sikap dan pernyataan itu yang dinilai tidak transparan bahkan gegabah.

Pengamat Kontra-Terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, termasuk yang meminta sebaiknya BNPT terbuka kepada publik dalam memaknai “terorisme”.

“BNPT eloknya transparan kepada publik, terlebih khusus kepada para ulama, tentang parameter yang digunakan untuk menilai radikal atau tidaknya satu institusi pendidikan seperti pesantren,”ujarnya.

Ia menegaskan, agar jangan sampai hanya karena ada alumni dari pesantren tertentu kemudian tersangkut tindak pidana tertentu semisal “terorisme”, lalu digeneralisir bahwa pesantren tersebut mengajarkan “radikalisme” bahkan “terorisme”.

“Tentu ini logika yang cacat, membuat analogi general (qiyas sumuli) yang dasarnya lebih karena tendensi dan kecurigaan,” tuturnya. Jika mau obyektif dan jujur, kata Harits, kenapa logika seperti itu tidak diterapkan pada kasus tindak pidana yang lain?

“Koruptor yang ketangkap kenapa tidak pernah dipersoalkan dari alumni mana dia kuliah. Para pembegal, penipu, pemerkosa, para pejabat zalim yang mengkhianati amanah rakyat kenapa tidak dipersoalkan dari mana mereka sekolah? Dan dipersoalkan institusi sekolahnya,” ujarnya.

Harits melihat ada paradigma cacat dari BNPT dalam memetakan persoalan terkait radikalisme dan terorisme. Paradigma tendensius, yang menurutnya, condong menempatkan umat Islam yang ideologis sebagai ancaman potensial bagi kehidupan sosial politik yang liberal dan sekuler.

“Jika BNPT tidak jelas tolak ukur dan tujuan membuat katagorisasi soal radikal dan tidaknya sebuah pesantren, maka sejatinya BNPT membuat daftar permusuhan terhadap umat Islam. Alih-alih menyelesaikan persoalan ‘terorisme’, justru yang terjadi adalah menstimulasi kemarahan dan sikap radikal makin mengkristal dari sekelompok umat Islam yang merasa dizalimi,” pungkasnya. [6]

C.2. Densus 88 Sengaja Membuat Umat Islam Marah

Urgensi keberadaan kelompok anti teror Detasemen Khusus (Densus 88) dinilai sudah tidak relevan lagi dengan kondisi di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia, Irfan S. Awwas. “Densus 88 membuat umat Islam merasakan adanya pelestarian diskriminasi,” kata Irfan di Jakarta, Ahad (3/3/2013).

Irfan menilai kecerobohan Densus 88 dalam menangani kasus pun telah mengambil banyak korban. Dia mengatakan kelompok anti teror Indonesia ini telah banyak melakukan salah tangkap. “Ini membuat umat Islam marah,” ujar Irfan. Untuk itu, ia sekali lagi menegaskan sangat setuju dan mendukung pembubaran Densus 88.

Irfan menambahkan, sebetulnya sudah sejak lama Majelis Mujahidin Indonesia menuntut pembubaran Densus 88. Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin bersama berbagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam juga meminta dibubarkannya Densus 88.

“Kami sepakat Densus 88 harus dievaluasi bila perlu dibubarkan. Diganti lembaga dengan menggunakan pendekatan baru bersama-sama untuk memberantas terorisme,” ujarnya. [7]

  • C.2.1. Contoh-Contoh Kejanggalan Densus 88 dan BNPT

    • C.2.1.1. Grebek Pesantren, Densus 88 Lakukan Kriminalisasi Ajaran Islam

Aksi Densus 88 yang menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ajaran Islam terutama jihad.

Demikian dikatakan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Selasa (13/10/2012). “Tindakan Densus 88 itu sangat tidak bijak,” ungkap Harits.

Menurut Harits, sangat tidak logis Densus 88 menggerebek pesantren tersebut hanya karena ditemukan buku-buku jihad dan aktivitas silat.

“Jika hanya karena ada aktivitas silat kemudian di pesantren tersebut ditemukan buku-buku jihad, Densus 88 main gerebek dan tangkap, maka harusnya Densus 88 gerebek saja seluruh pesantren yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Kata Harits, kalau alasan Densus 88 menggerebek pesantren tersebut ditemukan kegiatan silat, lebih baik pasukan antiteror kepolisian itu juga membubarkan aktivitas beladiri di pesantren tradisional maupun modern. “Semua pesantren baik tradisional atau modern yang ada aktivitas atau unit beladirinya bubarkan saja,” kritik Harits.

Ia melihat tindakan Densus yang menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk telah melukai umat Islam. “Saya melihat tindakan Densus 88 sangat kontra-produktif dan kesekian kalinya melukai perasaan umat Islam,” paparnya.

Kata Harits, tidak ada pesantren yang mengajarkan terorisme hanya karena membahas bab jihad di dalam kajian kitab-kitab fiqihnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (13/11/2012) dini hari.

Selanjutnya Densus 88 membawa sekitar 50 santri Pondok Pesantren Darul Akhfiya ke Markas Polres Nganjuk. Densus 88 menduga para santri itu terlibat dalam jaringan “teroris”. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhfiya bernama Nasiruddin Ahmad alias Landung Tri Bawono, 34, asal Sukoharjo, Solo.

Nasiruddin membantah Pondok Pesantren Darul Akhfiya dan dirinya terlibat dalam jaringan “teroris”. Kata Nasiruddin, di pesantren Darul Akhfiya diadakan pengajian seperti biasanya dan pelajaran bela diri.

“Kami tidak mengajarkan gerakan terorisme, namun hanya ilmu agama seperti pesantren umumnya. Selain itu, kami juga mengajarkan ilmu beladiri,” ujar Nasiruddin.

Tak salah jika ada yang berpikir, apakah ini merupakan skenario lanjutan untuk mempertahankan imej pesantren sebagai sarang dan pencetak “teroris”? [8]

    • C.2.1.2. Penangkapan Aktivis Masjid di Sukoharjo, untuk Pembenar Solo Pusat Teroris dan Kebencian pada Islam

“Penangkapan Ihsan dan Toni di Sukoharjo itu hanya bagian kecil. Padahal Densus 88, BNPT punya proyek besar pada 25 Desember 2012 menangkap para aktivis Islam yang diduga terlibat terorisme,” kata pengamat terorisme dan intelijen, Umar Abduh kepadaitoday di Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Kata Umar, Ihsan dan Toni akan memberikan pengakuan tentang keterlibatan para aktivis Islam yang ditangkap Densus 88.

“Nantinya ada pengakuan dari Ihsan bahwa si A yang ditangkap Densus 88 terkait dengan jaringan X. Modus yang dipakai Densus 88 selalu begitu,” jelas Umar.

Menurut Umar, penangkapan orang-orang yang diduga teroris di Solo akan menjadi pembenar pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai.

“Penangkapan ini akan menjadi pembenar pernyataan Ansyaad bahwa pusat teroris ada di Solo, padahal semua ini rekayasa BNPT dan Densus 88,” tegas Umar.

Sementara itu Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyatakan, penangkapan oleh Densus 88 terhadap aktivis Masjid Baitul Amin, Waringinrejo, Sukoharjo, Ihsan dan Toni  menjadi bukti pasukan antiteror milik aparat kepolisian menaruh kebencian pada Islam.

Menurut Harits, penangkapan terhadap Ihsan dan Toni yang merupakan aktivis masjid adalah sebuah kesengajaan untuk memberikan citra buruk terhadap Islam. “Upaya ngawur untuk membangun citra buruk kelompok-kelompok Islam dan aktivisnya,” ujar Harits seperti dikutip itoday, Selasa (11/12/2012).

Senada dengan Umar Abduh, kata Harits, ada kemungkinan penangkapan terhadap orang-orang yang diduga teroris tidak berhenti kepada Ihsan dan Toni. “Bisa saja merembet kepada kelompok-kelompok lain dengan modus tertentu yang sama atau beda sama sekali,” tegas Harits.

Selain itu, Haris juga mengatakan, Densus 88 dan BNPT sengaja mau memelihara isu terorisme dengan menangkapi banyak aktivis masjid dan Islam dengan bukti prematur bahkan hanya berdasarkan dugaan.

“Densus 88 yang merekayasa keterkaitan-keterkaitan dengan kelompok tertentu dengan jaringan teroris banyak menabrak rambu-rambu hukum (criminal justice system),” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang warga Waringinrejo RT 05/21, Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah yang berjualan kebab bernama Ihsan bersama temannya, Toni, ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat dalam aksi terorisme.

Ihsan yang sehari-hari juga menjadi muadzin di Masjid Baitul Amin, Waringinrejo, Sukoharjo ditangkap Densus 88 di perempatan Pabrik Konimex, Cemani, Grogol, Sukoharjo saat berjualan kebab, Senin (10/12/2012) malam.

Berdasarkan informasi dari kalangan kepolisian, Ihsan dan Toni diduga sebagai pemasang bom tabung gas di Polsek Pasar Kliwon, Solo, 20 November 2012 lalu.

Setelah ditangkap, Ihsan minta dipertemukan dengan seseorang yang telah banyak membantu dan dianggap seperti bapaknya sendiri bernama Martono.

“Dia minta maaf. Dia juga berpesan, kalau ada teman yang mencarinya, saya disuruh bilang ke teman-temannya kalau Ihsan ditangkap polisi,” cerita Martono.

Keduanya, Ihsan dan Toni, tinggal di Masjid Baitul Amin, Waringinrejo bersama dengan Nur, yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya maupun keterkaitannya dengan aksi terorisme. [9]

    • C.2.1.3 Kejanggalan dalam Penyergapan Terduga Teroris di Solo

Indonesian Police Watch (IPW) mencium adanya kejanggalan dalam penyergapan yang dilakukan Densus 88 di Solo, Jumat (31/8/2012) malam lalu.

Pertama, pistol yang disita dari terduga teroris adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police.

Padahal sebelumnya Kapolresta Solo Kombes Asdjima’in menyebutkan, senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran adalah jenis FN kaliber 99 mm.

“Pertanyaannya, apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya?” tutur Ketua Presidium IPW, Neta S Pane dalam keterangannya, Ahad (2/9/2012).

Keganjilan kedua terkait tertembaknya anggota Densus 88, Bripda Suherman. Tembakan yang membuat Suherman ikut tewas menunjukkan ketidakberesan standar operasi prosedur anggota Densus ketika bertugas.

“Pertanyaannya, apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus, jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?” kata Neta.

Keganjilan ketiga, beberapa jam setelah penyergapan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri segera meninjau lokasi kejadian.

“Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap Pospam Lebaran SBY tidak bersikap seperti itu. Pertanyaannya, apakah SBY ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo ini?” gugat Neta.

Dalam penyergapan hari Jumat (31/8/2012), Densus berhasil mengamakan satu terduga teroris dalam kondisi hidup di Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar.

Sementara dua terduga teroris berinisial F (19 tahun) dan M (19 tahun) tewas dalam baku tembak dengan personel Densus 88. Jasad keduanya kini berada di RS Sukanto Polri, Jakarta Timur. [9.1]

    • C.2.1.4. Densus 88 Tangkap Guru Ngaji, Ribuan Umat Islam Tasik Gelar Aksi Protes!

Detasemen Khusus (Densus) 88 kembali menangkap santri yang juga guru ngaji di Tasikmalaya. Fajar Sidiq (25) disergap ketika akan pulang ke rumahnya, setelah mendatangi jasa penitipan barang. Hingga kini pihak keluarga tidak yakin anaknya adalah terduga “teroris”.

Penangkapan terhadap Fajar Sidik (FS) warga Leuwianyar, Sukamanah, Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat ini terjadi pada Rabu (27/3/2013) lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Dia ditangkap anggota Densus 88 ketika akan pulang ke rumahnya setelah  mendatangi jasa penitipan barang Dakota Cargo di Jalan Kalangsari, Cipedes, Kota Tasikmalaya.

FS langsung disergap oleh enam orang yang diketahui sebagai anggota Densus 88 dengan mengendarai dua unit motor dan satu unit mobil.

Menurut saksi mata, Mumuh Muhtadin, FS disergap ketika berada di depan jasa penitipan barang Dakota Cargo. Tiba-tiba dua sepeda motor yang diketahui sebagai anggota Densus 88 langsung menyergap dari belakang hingga FS terjatuh. Bahkan anggota Densus sempat mengarahkan pistol ke atas.

Tanpa perlawanan, FS dibawa ke dalam mobil Toyota Avanza warna hitam. Begitu pun kendaraan motor milik FS dibawa anggota Densus menuju arah Bandung.

Menurut Hilmi, paman FS, sebelum mendapat laporan dari pihak kepolisian, pihak keluarga sempat mencari FS selama tiga hari ke beberapa temannya dan kerabat di wilayah Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar. Bahkan keluarganya sempat menanyakan kepada beberapa warga setempat, namun keberadaan FS tidak diketahui.

Istri dan keluarganya baru mengetahui FS sudah diamankan oleh anggota Densus 88, setelah adanya surat pemberitahuan penangkapan yang diterima pada hari Senin (1/4/2013), kemarin.

Hingga kini pihak keluarga merasa tidak yakin jika FS seorang “teroris”. Di mata keluarga, FS dikenal sebagai kepala rumah tangga yang baik dan guru mengaji di masjid, serta memiliki usaha busana Muslim.

Saat ditemui, Khoerudin, orang tua FS di rumahnya mengaku, pihak keluarga sudah mendapat kabar bahwa FS dalam kondisi baik dan saat ini masih ditahan di rutan Brimob Kelapa dua Jakarta.

Khoerudin, tidak menerima dan sangat menyesalkan atas penangkapan anaknya oleh Densus 88 yang terkesan arogan, karena FS tidak pernah terlibat dan melakukan aksi “terorisme”. Pihak keluarga berharap agar Densus 88 secepatnya memulangkan FS.

Jika tidak terbukti terlibat dalam aksi “terorisme”, keluarga akan menutut Densus 88 dan meminta kepada pemerintah untuk membubarkan Densus 88, karena dinilai telah memfitnah serta membuat malu keluarga.

Seperti dilansir inilah.com, ayah dua anak yang juga wirausahawan kerudung dan busana Muslim ini saat ditangkap langsung ditutup kain hitam oleh 6 orang dan dibawa pergi entah ke mana.

“Saat kejadian, kami pihak keluarga benar-benar kebingungan. Fajar telah diculik, dia seperti ditelan bumi,” tutur Hilmi. Pihak keluarga sendiri baru mengetahui Fajar ditangkap Densus 88 setelah 6 hari kemudian, persisnya Senin (1/4/2013) kemarin.

Dia bersama keluarga dan masyarakat sekitar mengaku kaget. Fajar yang selama ini dikenal baik, rendah hati, penyayang dan tidak pernah melakukan tindakan kriminal, tiba-tiba ditangkap Densus 88.

“Kami menuntut keadilan dari pemerintah, jangan bertindak semena-mena terhadap warga negaranya, junjung tinggi Hak Asasi Manusia,” tegas Hilmi. Dia juga mengecam tindakan Densus 88 dan meminta pemerintah agar segera membubarkan detasemen ini.

Sementara itu, ribuan massa yang terdiri dari sejumlah ormas, himpunan mahasiswa, pelajar dan santri dari berbagai wilayah di Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar melakukan aksi, Selasa (2/4/2013) di Institusi Polri melalui Polresta Tasikmalaya dan DPRD Kab Tasikmalaya.

Dalam surat undangan yang dikeluarkan Majelis Mujahidin Lajnah Perwakilan Daerah Tasikmalaya, nomor 017/MM/IV/2013, aksi solidaritas Muslim Tasikmalaya menggelar orasi di Mapolresta Tasikmalaya dan DPRD Kota Tasikmalaya. Ribuan massa dikabarkan menghadiri aksi ini. [10]

    • C.2.1.5. Penangkapan Santri, Proyek BNPT dan Densus 88

Santri berinisial AZ yang ditangkap Densus 88 merupakan bagian proyek dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pasukan antiteror milik kepolisian tersebut.

“Bukan hanya santri Ngruki yang dijadikan proyek Densus 88 dan BNPT tetapi semua yang ditangkap dan ditembak mati oleh Densus 88 merupakan bagian kegiatan proyek Densus 88 dan BNPT,” kata pengamat intelijen dan terorisme Umar Abduh kepada itoday, Senin (17/12/2012).

Menurut  Umar, seseorang atau kelompok yang sudah menjadi target Densus 88 akan dimasukkan dalam jaringan “teroris”.

“Yang sudah dipantau dan digiring melalui sistem jaringan Densus ke dalamkilling ground jihad dan terorisme otomatis sudah berada dalam perangkap dan kekuasaan Densus itu sendiri,” tegasnya.

Menurut Umar, penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terlibat “terorisme” menjadi indikator sekaligus bukti BNPT dan Densus 88 tidak melakukan upaya pencegahan atau deradikalisasi.

Selain itu, kata Umar, jika Densus 88 dan BNPT yang katanya sudah bisa mendeteksi sejak dini, seharusnya  dapat mengantisipasi kemunculan terorisme.

“Densus 88 dan BNPT bahkan menunggu dan atau sengaja untuk dipanen setiap saat diperlukan untuk dan dalam rangka menunjukkan masih adanya potensi terorisme,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 Mabes Polri menangkap seorang santri saat berbelanja di sebuah pasar di Purbalingga, Jawa Tengah, Ahad (16/12) pagi. Pihak pasukan antiteror milik kepolisian itu menduga AZ terlibat dalam kegiatan “teroris” dan terkait jaringan Farhan di Solo.

Berdasarkan keterangan Kapolres Purbalingga, AKP Ferdy Sambo, AZ dijemput oleh anggota Densus 88 saat membeli sayuran di pasar. Pengurus pondok pesantren, tempat AZ menyantri mengatakan, yang bersangkutan baru sekitar 2 bulan mondok.

“Dia ditangkap terkait dugaan peristiwa Solo yang terjadi jauh sebelum masuk pesantren kami,” kata Direktur Ponpes Tahfizhul Qur’an El-Suchary Purbalingga KH Ahmad Thoha Makhsun dalam rilis yang diterima salam-online, Senin (17/12/2012). ”Kami tidak mengetahui bahwa santri kami tersebut menjadi target operasi Densus 88.”

Menurut KH Thoha Makhsun, pihaknya memastikan, tidak ada keterkaitan pesantren, yayasan, staf pengajar dengan penangkapan tersebut.

Ponpes El-Suchary, ujarnya, adalah sebuah lembaga yang sudah belasan tahun dikenal baik dan tidak bermasalah di semua instansi pemerintah serta masyarakat Purbalingga dan sekitarnya. [11]


Selanjutnya: Terorisme & Islam, 2 (Dua) Kata Yang Dibuat Melekat Oleh Aparat (Bagian 2)

Iklan

6 responses »

  1. […] juga: Terorisme & Islam, 2 (Dua) Kata Yang Dibuat Melekat Oleh Aparat Antara Terorisme & Islam Khutbah Imam Katolik: Muslim bukanlah […]

    Suka

  2. […] Densus 88 & BNPT Propagandis perusak citra Islam […]

    Suka

  3. […] Densus 88 & BNPT Propagandis perusak citra Islam […]

    Suka

  4. […] Densus 88 & BNPT Propagandis perusak citra Islam […]

    Suka

  5. […] Sebelumnya: Terorisme Islam, 2 (Dua) Kata Yang Dibuat Melekat Oleh Aparat (bag. pertama) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s