A. PERJALANAN KAUM LGBT DI INDONESIA

image

Isu lesbian, gay, biseksual dan transgender atau LGBT dari tahun ke tahun terus saja menggelinding. Isu ini selalu menjadi bola liar nan panas yang selalu mendapat sorotan banyak pihak.

Tak terkecuali sekarang ini. Namun, seperti isu lain, pro-kontra juga ikut bermunculan. Lalu, timbul tenggelam. Begitu seterusnya. Tak pernah selesai. Lantas bagaimana sebenarnya geliat perkembangan LGBT di Indonesia dari masa ke masa?

Literasi tentang LGBT terserak dimana-mana. Namun, bisa dibilang teramat jarang yang mengungkap progres sejarah LGBT dan sumber dananya. Terbanyak, justru propaganda LGBT, yang tentu saja ditulis pelaku atau pendukung LGBT.

Pada tulisan ini, saya mencoba menuliskan sekelumit informasi dari sumber mantan pelaku lesbi. Sekaligus literasi yang dibuat pihak LGBT sendiri, laporan dialog nasional mereka.

Tahun 1960 an: Sentul & Kantil

LGBT di Indonesia, setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada yang menyebut dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak, menyebut fenomena LGBT ini sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang.

Jadi secara kronologis, perkembangan LGBT ini sesungguhnya telah dimulai sejak era 1960-an. Kalau dulu terkenal Sentul dan Kantil, kini sebutannya adalah Buci dan Femme.

Hiwad, Cikal bakal advokasi LGBT

Cikal bakal organisasi dan avokasi LGBT di Indonesia sudah berdiri lama. Salah satunya organisasi jadul bernama: Hiwad, Himpunan Wadam Djakarta. Wadam, wanita Adam, mengganti istilah banci dan bencong. Namun organisasi Wimad diprotes MUI.

Tahun 1982: Organisasi Lambda Indonesia & GAYa Nusantara

Kemudian pada 1982, pelaku homo mendirikan Lambda Indonesia. Tahun 86 berdiri Perlesin, Persatuan Lesbian Indonesia. Pada tahun yang sama, berdiri juga pokja GAYa Nusantara, kelompok kerja Lesbian dan gay Nusantara.

Tahun 1990 an: Organisasi Berkedok Emansipasi Wanita

Sementara era 1990-an semakin banyak organisasi yang berdiri. Tahukah Anda? Pendirian organisasi mereka berkedok emansipasi, merujuk emansipasi wanita. Mereka juga mendirikan media sebagai publikasi. Ada beberapa media yang didirikan sebagai wadah komunikasi antar LGBT.

”Gue tahun 1984 mulai jadi lesbi,” pengakuan seorang mantan lesbi yang menjadi buci.

Saat itu, ia biasa nongkrong di King Cross, Hailai, dan sejumlah pub di Jakarta. Jangan heran. Di sejumlah pub itu, dirinya juga sering bertemu dengan pejabat-pejabat era Ore Baru, eksekutif maupun legislatif. Tapi mereka hanya mencari hiburan. Beberapa tempat kongkow era jadul, kini ada juga yang sudah tutup.

Era 90-an bergerak luar biasa dengan dukungan organisasi sekutu mereka: seperti organisasi feminis tapi tidak semuanya. Lalu, dukungan organisasi kesehatan dan seksual, organisasi layanan HIV, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

Mereka ini mendukung dan memberi ruang, bahkan untuk sejumlah kegiatan. Nah, ragam kegiatan itu sering disamarkan untuk kalangan muda.

Tahun 1993, 1995, 1997: KLG 1, KLG 2, KLG 3 dan istilah “September Ceria”

Pada 1993, dihelat Kongres Lesbi dan Gay disingkat KLG 1, di Jogja. Dua tahun berikutnya, digelar kongres serupa. KLG II, pada 1995 diadakan di Bandung. KLG III di Bali (1997). Organisasi LGBT mulai menyeruak ke sejumlah daerah. Di antaranya, Surabaya, Medan, Ambon. Namun, pendataan jumlah pelakunya lemah.

Tak hanya organisasi dan perhelatan kongres, mereka juga menggelar pesta akbar. Dulu sangat terkenal istilah September Ceria pada 90-an. Ini adalah pesta massif pelaku LGBT yang digelar malam mingu pertama tiap September.

”Sekarang namanya gathering, khusus lesbi ya. Sebulan sekali kita kumpul semua, semua grup. Sekali party ratusan orang. Having fun aja. Menyewa villa atau tempat sepi lah,” demikian penuturan Amel, nama samaran, mantan pelaku lesbi.

Tahun 1998: LGBT mendapatkan momentumnya, Tahun 2000 an: LGBT semakin merajalela.

Kembali ke perjalanan organisasi LGBT. Pada 1998, ketika sudah memasuki era reformasi, LGBT mendapatkan momentumnya. Momentum sama, awal gerbang pertama carut marut republik ini dengan buntut diamandemennya UUD 1945. Organisasi-organisasi LGBT semakin menggurita. Mari simak laporan Dialog Nasional LGBT.

Dalam laporan bertajuk, Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia, setebal 85 laman itu dituliskan:

Perubahan dramatis yang terjadi dalam sistem politik dan pemerintah pada bulan Mei 1998, membuka pintu bagi gerakan ini untuk semakin berkembang dengan cakupan lebih luas:

  • Kongres Perempuan Indonesia pada bulan Desember 1998 secara resmi mengikutsertakan perwakilan dari kaum lesbian, wanita biseksual dan pria transgender (LBT). Dalam Kongres tersebut, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPI) menegaskan mereka secara resmi termasuk Sektor XV, yang terdiri dari orang-orang LBT. Meskipun di beberapa provinsi yang lebih konservatif terjadi sentimen yang keberatan terhadap pengikutsertaan orang-orang LBT. Di wilayah yang mengenal kerangka ini, orang LBT dapat diberdayakan untuk mengorganisir diri.
  • Pendekatan yang berbasis hak asasi manusia menjadi semakin nyata dalam karya banyak organisasi LGBT, baik yang sudah lama maupun yang baru muncul. Hal ini membuka peluang kerja sama lebih lanjut dengan organisasi-organisasi hak asasi manusia arus utama.
  • Sementara wacana media massa seputar HIV selama dasawarsa sebelumnya telah meningkatkan visibilitas permasalahan di seputar pria gay dan waria. Tanggapan ad hoc terhadap masalah HIV diganti dengan penyelenggaraan berbagai program yang strategis, sistematis dan didanai secara memadai. Pada 2001 dan 2004 diadakan konsultasi nasional dan pada awal 2007 berdiri Jaringan Gay, Waria dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki-Laki Lain (GWL-INA) dengan dukungan dari mitra kerja baik nasional, bilateral maupun internasional (Anonim, 2012).
  • Setelah Konferensi International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) tingkat Asia yang ke-3 di Chiang Mai, Thailand, yang diselenggarakan pada Januari 2008, enam organisasi LGBT yang berkantor pusat di Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta bergabung untuk memperkuat gerakan mereka.  Langkah ini menjadi awal Forum LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex & Queer) Indonesia. Dialog Nasional dihadiri 71 peserta dari 49 lembaga termasuk wakil-wakil organisasi LGBT dari 15 di antara 34 provinsi di Indonesia. Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia digelar 13-14 Juni 2013 di Nusa Dua, Bali, sebagai kegiatan utama komponen Indonesia dalam rangka prakarsa ‘Hidup Sebagai LGBT di Asia’. Diorganisir kerjasama dua jaringan nasional, GWL-INA yang berhubungan dengan permasalahan HIV dan Forum LGBTIQ Indonesia. Demikian tulis laporan LGBT tersebut. Pada 26 dan 27 Februari 2015, dihelat kongres LGBT Asia di Bangkok.

Dalam catatan LGBT sendiri, pada 2013, diklaim ada 119 organisasi LGBT. Organisasi tersebut tersebar ke 28 provinsi di Indonesia. Pada 2015, menurut pengakuan mantan lesbi, ada sedikitnya 200-an organisasi LGBT.

”Kalau lo bilang LGBT ada di kota doang, lo salah. Sekarang dimana-mana, strata apa saja banyak. Pelaku yang menikah banyak, tapi selingkuh dengan LGBT. Sekarang ngincar pelajar, mereka disebut brondong.”

Di kalangan jetset, LGBT terutama lesbi, ada semacam arisan brondong. Misal, si A memiliki pasangan remaja. Si B, iri. Nah, bila si B mendapatkan pasangan brondong milik si A, itu kebanggaan tersendiri. ”Siapa yang gak ngiler. Ada yang dapat rumah, mobil atau deposito. Shopping-shopping mah gampang,” ungkap Amel.

Kaum LGBT, terutama lesbi memiliki grup. Antara belasan sampai puluhan. Masing-masing grup memiliki basecamp untuk kongkow. Khusus di kalangan middle up, kongkow dilakukan di sejumpah pub di Jakarta. Biasanya paling banyak di daerah Jakarta Selatan. Ada juga yang ngumpul di rumah-rumah mereka. Kehidupan LGBT lekat sekali dengan alkohol, drugs, penyimpangan seks.

Kalau lesbi biasanya suka minum apa? Amel mengungkap, minuman mereka berbandrol ratusan ribu sampai jutaan per botol. Seperti Long Osland, Flaming Bikini, Black Russian, Jack Daniel, dan semacamnya. Beberapa diiringi ekstasi dan narkoba lain. Seringnya adalah sabu.

Jika ada acara gathering, mereka menyebarkan via broadcast. Bahkan, ada EO khusus untuk mengorganisir acaranya. Dananya patungan. Bagi kalangan jet set, itu mudah. Ada yang menarik bila menilik laporan nasional LGBT. Di laman 64, tertulis:

”Ada sejumlah negara Uni Eropa yang pernah mendanai program jangka pendek, terutama dalam kaitan dengan hak asasi manusia LGBT. Pendanaan yang paling luas dan sistematis telah disediakan oleh Hivos, sebuah organisasi Belanda.

Dimulai tahun 2003, pendanaan ini kadang-kadang bersumber dari pemerintah negeri Belanda. Kemudian Ford Foundation bergabung dengan Hivos dalam menyediakan sumber pendanaan bagi organisasi-organisasi LGBT.

Kedua badan penyandang dana yang terakhir disebut di atas, mengarahkan penggunaan dananya pada advokasi LGBT dan hak asasi manusia, dari pada penanggulangan HIV sebagaimana fokus tradisional badan pemberi dana lainnya”.

LGBT selalu menggunakan hak seksualitas dan hak asasi manusia sebagai tamengnya. Namun, mereka lupa masyarakat Indonesia yang tidak sepakat dengan LGBT juga memiliki hak asasi. Kalau mereka menggunakan hak itu untuk senjata agar diterima, masyarakat juga punya hak asasi menyelamatkan generasi dari LGBT. Menyelamatkan dari seks menyimpang, menyalahi fitrah manusia, norma, dan agama.

Kaum LGBT dan pendukungnya juga menuding agama Islam, Kristen dan masyarakat yang menolak LGBT dianggap konsevatif. Pertanyaannya: agama mana yang menerima LGBT? Islam, Kristen, bahkan Yahudi melarang gaya hidup LGBT. Tak ada agama yang mengizinkan.

Jadi LGBT menganut agama apa, budaya mana?

Salah satu kitab suci psikologi LGBT, buku DSM. The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, biasa dikenal DSM. Buku ini terbitan American Psychiatric Association. Buku itu digunakan pelaku LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidak menyimpang. Disusun tujuh orang. Lucunya, lima dari penulisnya adalah pelaku LGBT.

Dilansir Hidayatullah, penulis buku tersebut adalah Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat Catalist Award dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual).

Masyarakat sepatutnya waspada gurita LGBT. Apalagi bocah ingusan mulai terjerat jaringnya. Namun, tak pantas juga berlaku keras. Asal vonis. Alangkah elegan jika semua pihak merangkulnya, menasehatinya dengan hati, bukan emosi. Banyak dari mereka adalah korban. Korban lingkungan, dendam, dan sebagainya. Alangkah ciamik jika ada lembaga khusus yang menangani hal ini.

Tak hanya LGBT, tapi patologi sosial lain. Untuk lebih jelas mengetahui seluk beluk, keseharian, penyebab, dan potret telanjang lain tentang LGBT serta penyakit sosial di Indonesia: saya coba mengupas di buku LDU, yang masih digarap.

Observasi kecil beberapa tahun, turun lapangan, dari pelosok pegunungan sampai pedalaman Kalimantan. Berkaitan persoalan LGBT, mudah-mudahan seluruh pihak bisa turun tangan menyelesaikan secara tuntas, tentu bukan dengan jalan kekerasan. [1]

B. LGBT ADALAH PROPAGANDA BARAT

Amerika bangkitkan LGBT melalui semboyan “Demokrasi”nya

Di kala umat Islam diseluruh dunia menghormati bulan suci Ramadhan dengan berbagai ibadah yang diperintahkan Allah SWT, sembari terus menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Kabar kontroversial datang dari negara kampium Demokrasi, Amerika Serikat. Negara berpenduduk 320 juta lebih itu akhirnya melegalkan pernikahan sesama jenis (same-sex marriage) di seluruh negara bagiannya melalui keputusan Mahkamah Agung AS pada Jumat 26 Juni 2015 waktu setempat.

Presiden AS Barack Obama pun memuji keputusan ini,“Today is a big step in our march toward equality. Gay and lesbian couples now have the right to marry, just like anyone else.” (Hari ini kita mengambil langkah besar di dalam perjuangan mencapai kesetaraan. Pasangan gay dan lesbian sekarang memiliki hak untuk menikah seperti siapa pun) kata Obama. (twitter.com, 26/6/2015).

Dukungan serupa muncul dari calon presiden AS Partai Demokrat, Hillary Clinton. “Proud to celebrate a historic victory for marriage equality—& the courage & determination of LGBT Americans who made it possible.” (Saya bangga dapat ikut merayakan kemenangan bersejarah demi mencapai kesetaraan pernikahan ini –& keberanian serta tekad warga LGBT Amerika-lah yang membuat hal demikian menjadi mungkin) kata Hillary. (twitter.com, 26/6/2015).

Dilegalkannya pernikahan sesama jenis di AS, sebenarnya berbanding lurus dengan kondisi objektif masyarakat AS itu sendiri, yang beberapa tahun ini memang menunjukan dukungan yang tinggi terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Tengok saja misalnya, survei Pew Research Center yang dirilis Maret 2014, menyatakan bahwa 54 % warga AS mendukung pernikahan sesama jenis, hanya 39 % yang menolak, dan sisa 7 % tidak tahu. (pewresearch.org, 7/3/2014). Tren ini semakin meningkat hingga 63 % pada tahun 2015 sebagaimana dirilisCNN/ORC International pada Februari kemarin. (cnn.com, 19/2/2015).

AS tentunya bukan negara Barat pertama yang mengesahkan hukum kontroversial ini. Menurut laporan washingtonpost.com (26/6/2015), ada lebih dari 20 negara yang melegalkan hal tersebut, diantaranya:

  • Belanda (2001),
  • Belgia (2003),
  • Kanada (2005),
  • Spanyol (2005),
  • Afrika Selatan (2006),
  • Norwegia (2009),
  • Swedia (2009),
  • Portugal (2010),
  • Argentina (2010),
  • Islandia (2010),
  • Denmark (2012),
  • Brazil (2013),
  • Inggris (2013),
  • Prancis (2013),
  • Selandia Baru (2013),
  • Uruguay (2013),
  • Luxemburg (2014),
  • Skotlandia (2014),
  • Finlandia (2015),
  • Slovenia (2015),
  • Irlandia (2015), dan
  • Meksiko (2015).

Peristiwa legalisasi pernikahan sesama jenis di AS dan negara Barat lainnya, sejatinya menunjukan kepada dunia secara pasti betapa rusaknya masyarakat yang dibangun dengan tatanan Demokrasi. Dengan mekanisme demokratis pelaku LGBT bisa bebas dan menyebarkan virusnya. Maka tak berlebihan jika kita sebut bahwa demokrasi telah membangkitkan kaum Luth modern.

Kampanye Barat

image

Sebenarnya Amerika sendiri sebagai negara Demokrasi, sudah sejak lama melakukan kampanye mendukung LGBT, hal ini dimulai sejak Januari 2009, ketika HIllary Clinton masih menjadi menlu, dia mengarahkan Departemen Luar Negeri AS agar mendukung penuh diciptakannya sebuah agenda HAM yang komprehensif, yakni agenda yang meliputi perlindungan terhadap kaum LGBT. Deplu AS menggunakan segala perangkat diplomatik dan berbagai fasilitas bantuan pembangunannya untuk mendorong dihapuskannya kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum LGBT di seluruh dunia. (www.state.gov, 6/12/2011).

Sesuai dengan visi Menlu Clinton kala itu, Kedutaan Besar AS di Jakarta pun sejak 2011 telah berusaha mengintegrasikan hak-hak kaum LGBT melalui beragam upaya untuk mendukung HAM di Indonesia. (indonesian.jakarta.usembassy.gov, 15/05/12).

Karena itu bisa dikatakan, legalisasi pernikahan sesama jenis di AS, merupakan momentum propaganda Barat dalam memperkokoh tatanan Demokrasi dan menyebarkan kebebasan (liberalisme) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka jangan heran, jika setelah ini akan semakin bermunculan propaganda besar-besaran dukungan terhadap LGBT di negeri muslim terbesar ini. Hingga akhir tahun 2013 saja, terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang terdiri dari 119 organisasi berlokasi di 28 provinsi dari 34 provinsi di Indonesia (Lihat: Hidup Sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia, UNDP.www.id.undp.org, 2014: 57).

Pelaku LGBT beserta para pendukungnya bisa bergerak bebas dan menyebarkan pikiran tak beradab tersebut, justru tentunya setelah mendapat justifkasi dari ide liberalisme, berupa kebebasan berekspresi dan berperilaku; berdasarkan ideologi sekuler yang menafikan agama dari kehidupan. Hal ini dilegitimasi juga oleh ide HAM, dan dilestarikan negara Demokrasi. Jadi, selama Indonesia menerapkan Demokrasi, maka ancaman propaganda LGBT akan terus menusuk sendi-sendi kehidupan umat Islam di Indonesia. [2]

Israel adalah Surganya Kaum Gay dan Lesbian

image

LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender. Menurut Wikipedia LGBT dapat dijelaskan sebagai:

LGBT adalah singkatan yang secara kolektif mengacu pada komunitas khusus kaum “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Digunakan sejak1990-an, istilah “LGBT” merupakan adaptasi dari singkatan “LGB”, yang mewakili “komunitas gay” dimulai sejak pertengahan hingga akhir1980-an. Singkatan ini telah menjadi arus utama penunjukan diri dan telah diadopsi oleh “seksualitas dan identitas gender berbasis” mayoritas pusat-pusat komunitas dan media di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya.

Istilah LGBT dimaksudkan untuk menekankan keragaman “seksualitas dan identitas gender berbasis budaya” dan kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada siapapun yang non-heteroseksual.

  • Lesbian: adalah perempuan yang menyukai dan menjalin hubungan seks dengan sesama perempuan.
  • Gay: adalah lelaki yang menyukai dan menjalin hubungan seks dengan sesama lelaki.
  • Bisexual: adalah lelaki atau perempuan yang menyukai dan menjalin hubungan seks dengan lawan jenisnya masing-masing tetapi juga menyukai dan menjalin hubungan seks dengan sesama lelaki dan sesama perempuan.
  • Transgender: adalah lelaki atau perempuan yang lebih suka jika dirinya beralih menjadi jenis kelamin lawannya, jika perempuan ia lebih suka menjadi lelaki dan jika ia lelaki ia lebih suka dirinya menjadi seorang perempuan.

Dunia modern dewasa ini benar-benar telah menghamba kepada faham Liberalisme (kebebasan mutlak) sehingga komunitas yang menyimpang secara seksual bukan saja diizinkan keberadaannya bahkan diperbolehkan mengembangkan diri. Salah satu situs Islam sampai menulis artikel sebagai berikut:

Sekarang Barat menghadapi kekuatan baru yang sangat menakutkan, yaitu gerakan kaum gay, lesbian, biseksual, dan transgender (GLBT). Seperti air bah yang melanda seluruh daratan Eropa dan Amerika. GLBT benar-benar menjadi “trend” baru di seantero jagad. Tak kurang Presiden Barack Obama dan Michele yang liberal, mendukung pernikahan sesama jenis.

Ini bukan basa-basi politik Obama yang akan menghadapi pemilihan presiden akhir tahun ini, tetapi Obama memahami “trend” global, yang sekarang tumbuh di setiap negara.

Di Amerika Serikat berdasarkan Gallup Poll, di mana rakyat Amerika Serikat 50,7 persen mendukung perkawinan sejenis. Perkawinan sejenis sudah menjadi pilihan dan keyakinan. (“Bangkitnya Gerakan Gay, Lesbian, Biseksual, dan Transgender Dunia” — voa-islam.com)

Pada kenyataannya bukan hanya dunia barat yang menghadapi gerakan LGBT, bahkan di negeri-negeri muslim-pun trend serupa mulai bermunculan. Coba perhatikan betapa terbuka dan beraninya apa yang ditulis oleh kaum LGBT di negeri ini:

Sedikit demi sedikit dunia ini menjadi lebih baik untuk kita, kaum LGBT. Seperti perempuan dan orang kulit hitam yang pada akhirnya memperoleh haknya, saat ini kita sedang berada di jalur yang tepat dalam memperoleh hak kita sebagai seorang manusia, hak untuk mencintai siapapun yang kita cintai.

Jadi teman-teman, bahkan orang sebesar dan se-berpengaruh seperti Presiden Barack Obama tidak membedakan kita karena orientasi seksual kita, tidak ada alasan untuk kita merasa tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Ingat, Orientasi Seksual kita hanyalah sebagian kecil dari siapa kita sesungguhnya. (“Presiden Obama Mendukung Pernikahan LGBT” http://lgbtindonesia.org/main/)

Lalu, dimanakah tempat di muka bumi dewasa ini yang dianggap paling menyenangkan bagi kaum gay? Ternyata di ibukota negara zionis Israel, yaitu di Tel Aviv. Setidaknya demikianlah yang ditulis di media Israel berikut ini:

Tel Aviv is the best gay destination in the world. That’s what a worldwide survey hosted in January by GayCities.com and American Airlines showed, and Israeli diplomats in Western countries proudly put the fact on display. (“LGBT Rights in Israel” http://www.haaretz.com)

Artinya:

Tel Aviv adalah tujuan gay terbaik di dunia. Itulah yang ditunjukkan survei di seluruh dunia yang diselenggarakan pada bulan Januari oleh GayCities.com dan American Airlines, lalu para diplomat Israel di negara-negara Barat dengan bangga menyajikan fakta tersebut.

Masih bersumber dari media Israel yang sama, ada artikel lainnya yang memuat tulisan berikut:

Komunitas LGBT Israel memiliki alasan untuk bangga: Ia secara resmi telah dicanangkan sebagai tujuan wisata terbaik kaum gay tahun 2011. Dalam sebuah survei di seluruh dunia yang dilakukan oleh GayCities.com dan American Airlines, 43 persen pemilih memberikan suara mereka dalam mendukung Kota Putih (Tel Aviv) ,diikuti oleh New York City dengan 14 persen, Toronto dengan 7 persen, Sao Paulo dengan 6 persen, Madrid dan London masing-masing dengan 5 persen, dan New Orleans serta Mexico City masing-masing dengan 4 persen. (“Tel Aviv declared world’s best gay travel destination” http://www.haaretz.com)

Hasil survei di atas jelas menunjukkan bahwa –alhamdulillah- tidak satupun kota yang dipilih sebagai surga kaum gay berlokasi di negeri muslim. Semua kota yang dipilih merupakan kota-kota di negeri barat (baca: negeri kafir).

Dan kota yang paling favorit adalah ibukota negeri kafir yahudi, yaitu Israel. Memang sudah sepantasnyalah bahwa negeri dengan penduduk yang mayoritas bakal menyambut dengan antusias kedatangan puncak fitnah, yaitu Al-Masih Ad-Dajjal, menjadi surga bagi kaum ini, sehingga Rasulullah SAW mengutuknya hingga tiga kali :

Rasulullah SAW bersabda:

“Terkutuklah barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth (yakni melakukan hubungan sejenis kelamin), terkutuklah barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth, terkutuklah barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth, terkutuklah barangsiapa yang menyembelih (hewan) tanpa menyebut nama Allah, terkutuklah barangsiapa yang durhaka kepada kedua orang-tuanya.” (HR Thabrani dan Al-Hakim dengan isnad shahih)

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Artinya :

“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah: 2563, 1457]

“Allah tidak mau melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya” [HR Tirmidzi : 1166, Nasa’i : 1456 dan Ibnu Hibban : 1456 dalam Shahihnya. ]

Bahkan dalam kesempatan berbeda secara tegas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (yakni melakukan homoseksual), maka bunuhlah pelaku dan pasangannya”. (TIRMIDZI – 1376) [3]

Kitab Injil Untuk Kaum Gay

image

Bulan Juni yang lalu, negara sekuler Amerika Serikat telah melegalkan pernikahan sesama jenis,  Melalui Mahkamah Agung, negara pamansam tersebut telah mencabut larangan pernikahan sesama jelnis di 14 negara bagian, sehingga total yang menghalalkan pernikahan terlarang ini sebanyak 50 Negara bagian.

Keputusan ini merupakan kemenangan besar bagi aktivis kaum Gay yang selama ini mengampanyekan legalisasi pernikahan mereka, tak lama setelah keputusan itu dibuat para pendukung pernikahan sesama jenis tumpah ruah di luar gedung Mahkamah Agung untuk merayakan momen bersejarah ini.

“Keputusan ini sangat berarti bagi kami dan pasangan saya dari Texas yang melarang pernikahan ini,” kata Dave Johnston yang segera berencana menikahi pasangannya.

Pernikahan sesama jenis semakin mendapat dukungan dari warga Amerika terutama kaum muda, hal ini tecermin dalam survei terakhir Pew yang menunjukkan bahwa 57 persen warga Amerika mendukung pernikahan sesama jenis.

Lebih menyedihkan lagi, ketika Presiden AS Barack Obama memuji keputusan terlarang ini melalui akun tweetrnya

“Hari ini kita mengambil langkah besar di dalam perjuangan mencapai kesetaraan. Pasangan gay dan lesbian sekarang memiliki hak untuk menikah seperti siapa pun,” kicau Obama.

Tidak  lama setelah legalisai pernikahan sesama jenis di diterbitkan, terbitlah Bible Gay atau Alkitab Untuk Kaum Homo yang mereka berinama Bible Queen James Version, yang seolah menjadi legalitas dari Tuhan akan kebolehan pernikahan terlarang tersebut.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, menurut sang penyunting Bible Gay, buku bernama Bible Queen James Version itu merupakan penerbitan kembali Alkitab King James yang telah diterjemahkan dengan muatan untuk mencegah salah tafsir firman Tuhan.

Kata Homoseksualitas disebut pertama kali dalam Alkitab edisi revisi pada 1946. Sebelumnya kata itu tak pernah disebut dalam penerbitan Alkitab.

Alkitab yang mendapat protes dari banyak kalangan Kristen ini dibandrol dengan harga Rp 337.00,  dan sudah tersebar luas di Amerika. Bahkan sekarang sudah tersedia di situs jual beli online terkemuka didunia, sehingga siapapun bisa memilikinya dengan mudah.

Situs penjualan buku online itu mengatakan: “Anda tak bisa memilih jenis kelamin ketika dilahirkan, tapi Anda bisa memilih Yesus. Sekarang Anda bisa memilih Alkitab.”

Parahya ada seorang pendeta di Selandia Baru baru-baru ini dikecam lantaran memasang poster di dinding gereja di Kota Auckland dan menyebut Yesus adalah seorang gay atau seorang Homo.

Bagaimana bisa seorang yang mereka anggap Tuhan dihina dengan disebut dengan Gay?

Tambal Sulam Bible Gay

Demi memuaskan hawanafsu, para editor Bible Gay melakukan tambal sulam beberapa ayat dalam Alkitab agar terkesan bahwa hubungan sesama jenis ini sejatinya tidak dilarang, malah mendapat restu dari Tuhan.

Setidaknya ada 7 ayat yang mereka tambal sulam, diantaranya seperti dibawah ini:

  • Kitab Kejadian 19: 5

Versi King James:

And they called unto Lot, and said unto him, Where are the men which came in to thee this night? Bring them out unto us, that we may know them,”

Versi Queen James:

And they called unto Lot, and said unto him, Where are the men which came in to thee this night? Bring them out unto us, that we may rape and humiliate them,”

Mereka berseru kepada Lot, dan bertanya, “Di mana orang-orang yang datang bermalam di rumahmu? Serahkan mereka, supaya kami dapat mengenal mereka!”

Mengenal mereka dalam dalam Versi King James  (Know tem) di ganti menjadi rape and humiliate them atau memperkosa dan mempermalukan mereka

  • Kitab Imamat 18:22

Versi King James:

“Thou shalt not lie with mankind, as with womankind: it is an abomination,”

Versi Queen James:

“Thou shalt not lie with mankind as with womankind in the temple of Molech: it is an abomination,”  Imamat 18:22

Orang laki-laki tak boleh bersetubuh dengan orang laki-laki; [di kuil Molech – tambahan pada  Queen James Version] Allah membenci perbuatan itu.

Ketika Bible Gay atau Queen James Version menambahkan kata in the temple of Molechyang berarti di kuil Molech, maka larangan tersebut seolah – olah hanya berlaku saat dilakukan kuil Molech saja, di luar sana bebas melakukannya, laki laki boleh berhubungan dengan laki laki begitu juga dengan wanita, boleh berhubungan dengan sesamanya, padahal yang sebenarnya larangan tersebut berlaku dimanapun dan sampai kapanpun.

  • Surat Paulus Kepada Jamaah di Roma Pasal 1 ayat 26

Versi King James:

“For this cause God gave them up unto vile affections for even their women did change the natural use into that which is against nature. Roma 1:26

Karena manusia berbuat yang demikian, maka Tuhan membiarkan mereka menuruti nafsu mereka yang hina. Wanita-wanita mereka tidak lagi tertarik kepada laki-laki seperti yang lazimnya pada manusia, melainkan tertarik kepada sesama wanita.

Versi Queen James:

For this cause God gave them up unto vile affections  Their women did change their natural use into that which is against nature: And likewise also the men, left of the natural use of the woman, burned in ritual lust, one toward another,”  Roma 1:26


Selanjutnya, Propaganda LGBT [bagian 2]

Iklan

One response »

  1. […] Lanjutan Propaganda LGBT [bagian pertama] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s