Media, Lembaga & Perusahaan Internasional Yang Mendukung LGBT

(a) UN (United Nations) melalui United Nations Development Programme (UNDP) 

undp - nip-lacea.net

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengungkapkan bahwa ada upaya menghancurkan Indonesia melalui LGBT, terlebih kucuran dana dari UN (United Nations) atau dalam Bahasa Indonesia diartikan menjadi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) senilai Rp 107,8 miliar untuk program LGBT di Indonesia.

image

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain

“Kita bukan bangsa yang primitif atau bangsa yang tidak punya budaya. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia akan dihancurkan, nilai agama dan budaya,” ujar Tengku sebagaimana dilansir Republika.co.id, (14/2/2016).

Tengku Zulkarnain juga memaparkan bahwa bukan hanya Islam yang menolak LGBT di Indonesia, namun semua agama yang ada di Indonesia menolak keras LGBT. Ada skenario besar yang ingin merusak tatanan budaya dan agama yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut, Da’i yang biasa mengenakan sorban dan jubah ini mengungkapkan bahwa sejak dari dahulu kala LGBT dan tindakan seks bebas bertentangan dengan budaya dan suku Indonesia. [1]

(b) Perusahaan-Perusahaan Pendukung:

Apple

apple_topicPerusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang teknologi digital ini ikut mendukung kesetaraan pernikahan sesama jenis yang sempat ramai dibicarakan di AS pada 2013 lalu. Setelah Mahkamah Agung AS melegalkan pernikahan sesama jenis, Apple menjadi salah satu perusahaan yang mendukung LGBT. 

“Apple sangat mendukung kesetaraan pernikahan dan kami menganggapnya sebagai rights issue sipil. Kami memuji Mahkamah Agung untuk keputusan hari ini…,” kata juru bicara Apple, Steve Dowling.

Apple juga telah menambahkan ikon emoji untuk kesetaraan gender dan menyumbangkan 100 ribu dolar AS untuk kampanye melawan kelompok yang menolak pernikahan sesama jenis.

Starbucks

687474703a2f2f613336302e70686f626f732e6170706c652e636f6d2f75732f72313030302f3036392f507572706c652f76342f63372f31622f39362f63373162393637372d313963612d366331622d383336382d3139626264326430356565302f6d7a6c2e646e6175786768692e706e67Perusahaan kopi dan jaringan gerai kedai kopi Starbucks menjadi perusahaan selanjutnya yang mendukung gerakan LGBT. Melalui pemimpin dan CEO-nya, Howard Schultz, Starbucks menegaskan berusaha berpikiran terbuka, inklusif, dan berpikiran maju mendukung komunitas LGBT dan kesetaraan pernikahan sesama jenis, menyikapi dukungan MA Amerika yang akhirnya melegalkan pernikahan sesama jenis.

Instagram

a3rxT9ck“Mahkamah Agung Amerika Serikat menjatuhkan keputusan penting membatalkan Defense of Marriage Act, undang-undang pembatasan pemerintah federal atas pernikahan sesama jenis. Peristiwa bersejarah ini sedang didokumentasikan di Instagram oleh ribuan orang yang berkumpul di depan Mahkamah Agung–beberapa bahkan berkemah sepanjang malam–mendengar keputusan, yang diumumkan tak lama setelah 10 am ET,” tulis dalam pernyataan resmi Instagram yang diunggah pada 26 Juni 2013.

Google

Google_-G-_Logo.svgSetelah MA Amerika mengumumkan keputusan melegalkan pernikahan sejenis di AS, Google sempat merilis dukungannya terhadap LGBT dengan kotak pencarian yang berwarna pelangi. Selain itu, ketika pengguna mencari kata “Gay” dengan sendirinya pencarian tersebut ditempatkan di kota khusus berwarna pelangi.

“Google sepenuhnya mendukung hak yang sama bagi semua,” kata juru bicara Google.

Facebook

faceSehari setelah legalisasi pernikahan sesama jenis disahkan di AS, Facebook meluncurkan emoticon pelangi untuk menunjukkan kebanggaan bagi pengguna Facebook yang LGBT. Bahkan, raksasa media sosial ini meluncurkan hashtag #PrideConnectsUs untuk membantu pengguna Facebook yang LGBT menunjukkan kebanggaan mereka, bahkan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, menggunakan hashtag tersebut.

“Sekitar 70 persen dari pengguna Facebook di AS terhubung ke seorang teman yang telah tegas mengidentifikasi diri mereka sebagai gay, lesbian, atau biseksual pada timeline mereka,” dilansir dari Huffingtonpost, 27 Juni 2013 lalu, yang di- update kembali pada 2 Februari 2016.

Microsoft

zQ0xyGGK“Keputusan ini membalikkan halaman lama hukum yang membuat lebih sulit bagi kita untuk memperlakukan semua karyawan, tanpa memandang orientasi seksual, sama-sama. Microsoft bergabung dengan puluhan perusahaan, organisasi, dan pemerintah dalam mendukung tantangan untuk DOMA (Hukum Pernikahan AS), karena biaya yang signifikan dan beban administrasi itu dikenakan pada pengusaha dan karena mengganggu upaya kami untuk mempromosikan keragaman dan kesempatan yang sama di tempat kerja,” dalam pernyataan resminya.

Microsoft ikut mendukung keputusan MA Amerika yang akhirnya melegalkan pernikahan sesama jenis. Di perusahaan Microsoft sendiri memiliki perkumpulan karyawan yang tergabung dalam GLEAM (Gay dan Lesbian Karyawan Microsoft), yang telah diakui perusahaan sejak 1993. 

NIKE

downloyad-1“NIKE Inc, telah lama mendukung pengakuan sipil terhadap sesama jenis pernikahan, kemitraan domestik dan tempat kerja tanpa diskriminasi, dan kami senang Mahkamah Agung telah memutuskan mendukung kesetaraan hak perkawinan sesama jenis. NIKE, Inc., mendukung dan menandatangani koalisi bisnis singkat amicus, menentang Defense of Marriage Act karena kita adalah perusahaan yang berkomitmen untuk keragaman dan inklusi, dan kami percaya semua karyawan harus diperlakukan sama.,” Dalam pernyataan resmi perusahaannya.

Tujuh perusahaan terkemuka tersebut hanya sebagian dari beberapa perusahaan multinasional di AS yang dengan terang-terangan memberikan dukungannya terhadap LGBT.

20 Perusahaan Lainnya

Setidaknya, ada 20 perusahaan lain yang ikut dilansir Huffingtonpost, yang mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis. Di antaranya:

● MasterCard ● e-Bay ● Jet Blue ● AT&T ● Johnson&Johnson ● Cisco ● Marriott International ● GAP (produsen pakaian bermerk) ● Banana Republic ● Levi Strauss & Co. ● Ben & Jerry's (perusahaan makanan) ● Ernst & Young ● Mondelez International (Produsen Oreo) ● Marc Jacobs ● UBS ● Citi ● Orbitz ● Goldman Sachs ● Moody's ● Expedia [2]

LINE

unnamed-1Munculnya stiker-stiker LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di perpesanan instan LINE membuat pemerintah Indonesia turut mengambil peran dalam menyelesaikan hal ini. Mereka meminta kepada LINE untuk menghapus semua emoji dan stiker yang mengarah pada LGBT.

Tindakan tersebut dilakukan setelah banyak pihak masyarakat yang protes, termasuk beberapa tokoh agama terkemuka di Indonesia, seperti Aa Gym yang menyatakan boikot LINE karena dianggap mendukung adanya LGBT melalui emoji dan stiker-stikernya.


07-05.14.50

“Saya stop menggunakan LINE karena terang-terangan mempromosikan LGBT. Ayo pakai sosmed yang sehat saja,” kata Aa Gym. Pernyataan tegas Aa Gym tentu bukan tanpa alasan atau ikut-ikutan semata. LGBT jelas keharamannya dalam Al-Quran.

Pics7-05.26.05 Pics05-07-05.24.00

Dukungan terhadap pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia semakin marak. Salah satu pendukungnya adalah aplikasi chat bernamaLINE. Instant messaging itu dengan terang-terangan mengeluarkan stiker LGBT. Stiker tersebut bergambar dua orang sesama jenis yang sedang bermesraan.

Stiker tersebut menuai protes oleh para pengguna line. Protes tersebut disampaikan dengan berbagai cara. Ada yang melalui grup pesan instan, sosial media, media online, maupun media cetak dan televisi.

KH Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa Gym yang sedang menunaikan ibadah umrah pun turut angkat bicara melalui akun twitternya. “Saya stop menggunakan LINEkarena terang-terangan mempromosikan LGBT. Ayo pakai sosmed yang sehat saja,” tweet Aa Gym pada (10/2/2016).

Pernyataan tegas Aa Gym tentu bukan tanpa alasan atau ikut-ikutan semata. LGBT jelas keharamannya dalam Al-Quran. Salah satu azab Allah SWT paling dahsyat yang dikisahkan dalam Al-Quran, yaitu azab bagi kaum LGBT.

Umat Nabi Luth Alaihis Salam yang dzalim di Negeri Sodom itu dihancurkan dengan hujan batu, dan ditenggelamkan kotanya hingga ke dasar lautan. Kisah tersebut dapat dibaca dalam surah Al-Ankabut ayat 28 dan 31, surah Al-A’raf ayat 80 dan 81, surah Hud ayat 78, surah Asy-Syuara ayat 165 dan 166, surah An-Naml ayat 55, dan surah al-Ankabut ayat 29.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lelaki tidak boleh melihat Aurat lelaki. Perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Lelaki tidak boleh berkumpul dengan lelaki dalam dalam satu kain. Perempuan juga tidak boleh berkumpul dengan perempuan lain dalam satu kain.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).


Hal ini ternyata menarik perhatian dunia. Media terkemuka Inggris The Guardian pun memuat pemberitaan ini. The Guardian, Jumat (12/2/2016) memberitakan bahwa pemerintah Indonesia meminta kepada penyedia aplikasi layanan perpesanan instan untuk menghapus emoji dan stiker gay dari aplikasi tersebut.

Indonesia memang negara yang tidak mengizinkan paham LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), sebab isu tersebut merupakan hal sensitif. Hal itu membuat Line Indonesia mengatakan telah menghapus semua stiker terkait LGBT dari toko stikernya setelah mendapatkan kecaman dari penggunanya di Indonesia sejak Selasa (9/2/2016). Hal itu diungkapkan melalui laman resmi Facebook-nya.

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail Cawidu mengatakan, pemerintah akan tegas melarang WhatsApp untuk melakukan hal serupa. Menurutnya, media sosial harus menghormati budaya dan kearifan lokal Indonesia yang merupakan salah satu negara yang memiliki pengguna terbanya aplikasi tersebut.

image

Tak hanya The Guardian, BBC juga menayangkan berita serupa terkait dengan Line. Berjudul ‘Indonesia wants gay-themed emojis removed’. Setali tiga uang, laman Engadget menuliskan berita berisi Indonesia meminta Line untuk menghapus stiker LGBT. [3]

Media, Lembaga & Perusahaan Indonesia Yang Mendukung LGBT

(a) SGRC (Support Group and Resource Center On Sexuality Studies)

PicsA-05.30.20

Universitas Indonesia (UI) tidak mengakui keabsahan Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC). Ia merupakan kelompok pendukung dalam berbagai masalah seksual, termasuk lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Dalam beraktivitas kelompok SGRC ini turut memakai nama UI. Melalui pernyataan resmi di website UI Update, Kantor Humas dan KIP UI menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak berizin dan tidak berkaitan apa pun dengan UI.

SGRC bertekad, memberikan lingkungan yang aman bagi komunitas mereka serta bisa mengembangkan program yang berhububungan dengan seksualitas, reproduksi serta orientasi seksual. Mereka juga mengupayakan fasilitas serta infrastruktur dalam memberikan informasi dan pelayanan mengenai masalah reproduksi serta seksualitas.

Setiap dua minggu sekali, anggota SGRC menyelenggarakan arisan. Di forum ini, mereka berdiskusi membahas beragam topik terkait gender dan seksualitas. Pegiat SGRC mengklaim, mereka membahas seksualitas apa adanya, tanpa tabu dan menggunakan berbagai dalil akademis seperti psikologi, sosiologi dan antropologi.

Tidak hanya itu, SGRC juga kerap menggelar seminar terkait dua bahasan tersebut. Bahkan, anggota SGRC menjadi tempat curhat bagi orang yang bermasalah dalam urusan orientasi seksual dan bias gender.

Website SGRC juga menampilkan berbagai tulisan para anggotanya mengenai seksualitas, gender dan berbagai masalah yang menyertainya. SGRC juga rutin berkampanye melalui media sosial.

Keberadaan kelompok pendukung isu orientasi seksual sendiri masih amat langka di Indonesia, namun cukup marak di berbagai negara. Isu orientasi seksual seperti LGBT menyeruak ke permukaan setelah pemerintah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis. [4]

(b) Kompas TV

image

Acara dialog dalam Program Khusus yang membahas tentang LGBT di Kompas TV pada Kamis (11/2/2016) lalu menuai kritik dan menjadi sorotan oleh banyak pihak, karena dalam acara itu Kompas TV dianggap melakukan penggiringan opini dengan memihak kelompok LGBT dan pro-(legalisasi) LGBT.

Hal ini menjadi perhatian serius pengamat media, salah satunya seperti diutarakan Yons Ahmad, CEO Kanet Indonesia.

Lewat tulisan, pengamat media ini mengutarakan keprihatinan dan kritikannya terhadap Kompas TV yang dianggap berupaya menggiring opini untuk mendukung kelompok LGBT.

Berikut ini tulisan lengkap Yons Ahmad, yang Islamedia kutip dari kanetindonesia.com, pada Sabtu (13/2/2016):

Penggiringan Opini Kompas TV Pro LGBT

Akhirnya, Kompas TV memberi tempat bagi kelompok pro LGBT bersuara. Mereka mendapatkan panggung pada acara yang di pandu oleh wartawan senior Rosiana Silalahi (11/2/16). Acara didominasi narasumber pro LGBT. Sementara, di pihak kontra LGBT, dipilih anggota DPR yang saya lihat tampak tak menguasai persoalan. Tapi, pada akhirnya juga, semua itu pilihan politik media. Dan Kompas TV, barangkali memang menginginkan sebuah acara yang pro atau memberikan porsi suara lebih bagi yang pro LGBT. Lantas, bagaimana kita memandangnya dalam sudut pandang kajian media? Kita lihat.

Setelah tayangan itu disiarkan dan beberapa penggalan tayangannya dimuncul di situs Youtube, banyak komentar dari netizen. Satu yang menarik, beberapa komentar muncul, menilai Kompas TV memberikan tayangan yang berat sebelah. Dari komentar ini, saya menilai betapapun media berusaha mengemas dan menggiring opini, hal ini tak bisa tiba-tiba, serta merta begitu saja bisa memengaruhi alam pikir publik. Bagi publik yang sadar media dan punya pemahaman bahwa LGBT itu problematis dan tetap perlu dicemaskan, tak serta merta setuju begitu saja tayangan Kompas TV itu. Sebuah tayangan yang jika kita tonton secara utuh jelas menggiring opini bahwa LGBT tak perlu dicemaskan.

Lalu, siapa narasumber yang diundang? Komnas Perempuan, anggota DPR, jurnalis (Gatra dan Rappler), aktivis dan pelaku LGBT. Komnas perempuan, tak perlu kita bahas karena seperti biasanya, kita sudah tahu kecenderungan alam pikirnya, anggota DPR, saya juga kurang tertarik untuk membahasnya karena memang kurang paham persoalan, 1 jurnalis Gatra netral. Nah, saya tertarik 2 narasumber yang pro LGBT, dalam hal ini Febriana, jurnalis Rappler Indonesia dan Hartoyo, pegiat LGBT dan pengelola media online Suara Kita, media yang menyuarakan kaum LGBT.

(C) Rappler.com (melalui jurnalisnya: Febriana)

Setidaknya ada dua hal yang disampaikanya:

  • (1) LGBT bukan penyakit tapi variasi alam semesta
  • (2) LGBT bukan fenomena tapi fakta.

Saat kedua pernyataan itu dilontarkan, ingatan saya langsung melayang pada diskusi sebelumnya yang digelar di LBH Jakarta bertema “LGBT Mitos dan Fakta” difasilitasi oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk). Apa yang disampaikan Febriana di Kompas persis apa yang disampaikan narasumber dalam acara di LBH itu. Dengan narasumber seorang dokter dan aktivis HAM.

Terkait dengan LGBT bukan penyakit tapi variasi alam semesta, itu disampaikan dr Ryu Hasan. Dalam acara di LBH itu, sang dokter yang juga aktif dijadikan narasumber acara diskusi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Fredoom Institute, selain bilang kalau LGBT bukan penyakit juga serampangan mengatakan pada awalnya dalam janin semua perempuan, jadi kalau setelah lahir dan besar ada laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, pada dasarnya itu kembali ke fitrah. Ya, bagi saya kesimpulan demikian serampangan. Seserampangan sang dokter ini yang pernah terjerat kasus plagiat karena menggunakan karya orang lain dalam presentasinya. Terkait dengan LGBT bukan fenomena tapi fakta, ini juga pernah disampaikan Daniel Awigra (Human Right Working Group) yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi di LBH. Rupanya, diskusi tentang LGBT yang digelar Sejuk itu manjur juga merasuki pikiran wartawan.

Tapi, sebagai jurnalis, Febri juga memposisikan sebagai blogger. Pernah menulis artikel yang mengkritik Koran Republika ketika membuat headline “LGBT Ancaman Serius”. Dia melontarkan kritik dengan artikel “Radikalisme dan LGBT, Mana Ancaman yang Lebih Serius”. Artikel inilah yang menarik perhatian Rosiana, pemandu acara di Kompas TV mengundangnya. Padahal LGBT dan radikalisme dua isu yang berbeda. Barangkali memang beginilah persaingan dalam industri media. Anda mengritik habis Republika, kemudian Anda jadi narasumber “istimewa” di Kompas, “rival” bisnis dalam industri media. Ibarat kata tokoh pegiat sosial media Ulin Yusron yang begitu gencar mengritik dan mencaci Prabowo lalu dengan suka cita pemerintahan Jokowi mengundangnya makan di istana.

Sementara, Hartoyo, jelas membela LGBT dalam opininya, tapi yang menarik, dia berdandan pakai kopiah putih dan baju koko yang mengesankan layaknya orang-orang sholeh muslim setiap datang shalat ke masjid. Dia bercerita, dengan mata berkaca-kaca bagaimana perlakuan masyarakat terhadap kaum minirotas LGBT. Membuat orang yang menonton acaranya mungkin iba dan simpatik. Tapi, hasil “investigasi” media Suara Islam, Hartoyo ini juga tokoh yang pernah bersuara kencang, mendemo Front Pembela Islam (FPI), komunitas yang baginya berbeda pandangan untuk dibubarkan. Padahal kita juga tahu FPI ini juga kelompok minoritas di kalangan umat Islam. Jadi retorika pembelaan atas nama minoritas ini total hampa.

Tapi, pada akhirnya dalam industri media, membela LGBT, memberikan ruang kepada pembelanya, barangkali menjadi isu yang “seksi”. Dan Kompas TV, memilih melakukan politik media semacam ini.

Belum lagi terbongkar kabar, seperti diberitakan Detik (12/2/16) bahwa UNDP kucurkan 108 M untuk dukung LGBT di Indonesia dan 3 negara di Asia. Tentu saja kabar ini begitu mengiurkan bagi media, LSM, aktivis HAM, atau tokoh-tokoh pro LGBT untuk mengaksesnya. Yang, tentu dengan syarat pro LGBT dan bersedia mengkampanyekannya.

Itu sebabnya, ketika media mainstream (arus utama) ramai-ramai membela LGBT, sudah tepat juga media-media “alternatif” semisal media-media Islam, terutama media online, untuk tetap terus memberitakan LGBT sebagai problem yang perlu ditolong. Diberikan alternatif jalan keluar dan disembuhkan, agar harmonisasi masyarakat kembali tercipta, bukan justru memberi ruang bagi penyimpangan pemikiran dan laku yang terang benderang.

Sementara, di era kebebasan informasi sekarang ini, memang tak terhindarkan, media memainkan “agenda setting” sendiri-sendiri. Dalam kajian media, seperti dalam buku “Agenda Setting Media Massa” (Apriadi: 2012) dikatakan bahwa harus diakui jika media massa memiliki kekuatan besar memengaruhi opini publik. Agenda setting bergerak dalam tiga hal:

  • (1) agenda media melalui penonjolan isu-isu tertentu melalui berita,
  • (2) agenda publik yaitu sikap masyarakat terhadap suatu isu (termasuk narasumber yang dipilih media-pen),
  • (3) agenda kebijakan sebagai respon sikap pemerintah atas berkembangnya suatu isu.
Media pro LGBT melakukan ini:
  • (1) Memberikan suara lebih bagi LGBT, terutama pelaku atau komunitas LGBT,
  • (2) Memberikan porsi lebih, memberikan panggung bagi aktivis pro LGBT,
  • (3) Mendorong pemerintah untuk bersikap terhadap LGBT. Awalnya mungkin didorong untuk melindungi, memberikan kebebasan berpendapat dan memilih jalan hidupnya, seterusnya bisa jadi mendorong pelegalan perkawinan sesama jenis melalui Undang-Undang tertentu dst. Begitu kira-kira arah penggiringan opini dijalankan oleh media. [5]

Artis Indonesia Yang Mendukung LGBT

  • (a) Sherina Munaf

Di Indonesia, Sherina Munaf merupakan salah satu nama kondang yang ikut berkicau soal itu. Melalui akun Twitter-nya, Minggu (28/6/15) Sherina mengungkapkan pula kegembiraannya. Ia bahkan bermimpi pada tahap selanjutnya, bukan hanya AS, tetapi dunia ikut melegalkan itu.

image

Cuitan Sherina di-retweet sebanyak lebih dari 580 kali, dan menjadi favorit lebih dari 260 orang. Namun, tidak sedikit pula yang mencemooh karena ia dianggap pendukung LGBT.

“Apakah itu mimpimu? Melegalkan LGBT di seluruh dunia? Kasihan sekali dirimu. Mimpimu sungguh menyedihkan,” tulis akun @Abadi_Rengga. Ia juga menyebut pemikiran Sherina seperti kembali ke zaman jahiliyah. “Are you LGBT sampai bangga banget?” tulisnya.

image

Akun @hanapunzel yang sepertinya merupakan penggemar Sherina pun terkesan kecewa. “Lihat tweet ini jadi pengen buang semua album lo dari zaman gue kecil yang masih suka gue dengerin sampai sekarang,” begitu ia menulis.

image

Belum lagi pernyataan @Srigalapagi, yang mengaitkan komentar Sherina dengan agama. “Mbak ini sepertinya perlu belajar Islam lagi. Islam itu mengharamkan LGBT, jika Anda masih ingin ber-Islam tobatlah dari LGBT,” katanya.

Komentar Sherina bahkan melahirkan petisi. Muncul petisi online di situs Change.org yang menuntut permintaan maaf dari pelantun Pergilah Kau itu. “Boikot Sherina Munaf/Sherina Sinna dan pesohor pendukung LGBT,” begitu petisi online itu diawali.

image

Isinya menegaskan bahwa pelegalan pernikahan sesama jenis, di mana pun, adalah terkutuk. Penggagas petisi itu adalah Deny Rahmad, seseorang yang berasal dari Sleman, Yogyakarta. Baru ditulis dua jam lalu, petisi itu langsung mendapat 195 pendukung.

Beberapa penandatangan mengaku mendukung petisi itu karena mengaitkan LGBT dengan agama. “Anda itu panutan, Sherina. Jadi tolong, berhati-hatilah untuk setiap hal kecil yang Anda lakukan,” tulis Mala Sari dari Indonesia, beberapa menit lalu. [6]

  • (b) Aming Supriatna Sugandhi

image

Adalah Aming putra Sunda bernama asli Aming Supriatna Sugandhi terlahir di Jakarta 07 November 1980 sebagai seorang sarjana Seni Rupa & Design (FSRD) ITB-Bandung, malah dirinya terbawa arus tanpa ada seleksi nilai kesarjanaannya serta nilai yang telah ditanamkan kedua orang tuanya, dirinya hanyut kedalam gelombang kehancuran nilai kemanusiaan yaitu Sex-LGBT. Malah Aming tega bersusah payah untuk hadir serta tampil kedalam pawai pesta Gay Pride Parade 2015 di kota New York, tepatnya di sepanjang jalan Madison Avenue New York, Aming berjalan sembari berlenggang-lenggok memakai sandal hak wanita memamerkan tubuhnya yang nyaris mendekati bugil. Semua ini malah dilakukan Aming secara berlebihan melebihi orang Amerika yang gay. Jadi Aming lebih gila gay dari orang gila gay Amerika. Coba perhatikan foto Aming ketika itu dia hanya memakai penutup pada sekitar bawah perutnya dan sekitar duburnya dengan rangkaian minim dominan bulatan donat plastik warna merah seperti penutup dizaman flinston dahulu. Malah pakaian di zaman flinston lebih sopan. Memang Aming akhir-akhir ini sering tampil sebagai wadam laki-laki berpakaian wanita dan dia sangat menikmatinya sebagai kaum gay saat ini. Bahkan televisilah yang melambungkan serta membuat banyak para gay bisa eksis tanpa ada yang mengawasinya. Para gay dan lesbi bisa memanfaatkan media TV secara gratis bagi kepentingan popularitas mereka sebagai ajang kampanye para kaum Sex-LBGT selama ini dan bisa mempercepat pengrusakan moral masyarakat Indonesia.

  • (c) Priscilya Princessa

Perhatikan juga didalam foto seorang yang sering tampil dalam hal masak memasak bernama Priscil begitu sangat gembira dan sumringahnya mengambil foto selfi dan dipastikan dirinya sebagai pendukung berat para Sex-LGBT ini. Bagaimana tidak sebagai pendukung LGBT dan foto ini juga didapat dari tampilan di akun instagramnya dan dipublish dengan riang gembira.

  • (d) Jeremy Teti

Pada sebuah diskusi dan debat di TV-One tanggal 6/7/2015 ada seorang bernama Jeremy Teti yang mendukung Sex-LGBT mengatakan dalam menanggapi perkawinan sejenis tidak akan mendapatkan turunan manusia, malah Jeremy Teti menyanggah, kita kawin sejenis bisa kok mendapatkan turunan, kan ada dan bisa sewa rahim wanita untuk mendapatkan anak. Sedangkal inilah pola pikir seorang mantan penyiar TV dan mudahnya ia berkata seperti itu. Kalaulah punya anak dengan sewa rahim, bagaimana pendidikan keluarga bagi si anak itu kelak ? Pastilah sianak akan bigung kedua ibu bapaknya laki-laki, akibatnya akan menjadi generasi Sex-LGBT juga dikemudian hari dan menjadi generasi yang lebih parah rusaknya (generation lost). Kita semua prihatin dengan banyaknya para pendukung Sex-LGBT di Indonesia dan mereka bisa eksis karena tidak adanya pengawasan dan pelarangan dari Pemerintah Indonesia. Terutama cara tampilan para pendukung Sex-LGBT di media TV dan tidak ada sensor yang melarang dari para tokoh manajemen perusahaan TV swasta itu sendiri dan berkesan adanya pembiaran eksisnya Sex-LGBT. Termasuk Pemerintah berkesan melakukan pembiaran juga. [7]

  • (e) Anggun Cipta Sasmi

Penyanyi kelahiran Indonesia, Anggun menjadi salah satu musisi Tanah Air yang menyambut baik legalnya pernikahan sejenis di Amerika Serikat. Anggun, melalui akun Twitter pribadinya, menyatakan rasa senangnya melihat sejarah baru dari negara tersebut. Dia pun tak lupa mengutarakan pendapatnya tentang hal itu.

YES!!! Pernikahan adalah antara cinta dengan cinta,” seru akun @Anggun_Cipta

(f) Lola Amaria

Pernikahan sesama jenis yang dilegalkan di Amerika Serikat juga tidak lepas dari pandangan artis Lola Amaria. Lola memang pernah membuat film mengenai Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) yang ada di Indonesia. [8]

(g) Jerinx Superman Is Dead

Pentolah grup band punk asal Bali Jerinx Superman Is Dead punya pendapat sendiri soal homophobic (ketakutan berlebihan yang tak masuk akal pada kaum homo). Ia menganggap sikap homophobia sebagai kemunduran. Menurutnya, akan lebih baik bila masyarakat menerima LGBT dan tak berprasangka terlalu buruk. Jerinx juga tak malu mengakui ada banyak fans SID yang LGBT. Ini wajar, mengingat lagu-lagu SID bernada pemberontakan dan anti marjinalisasi. Hal yang sangat jelas dialami kaum LGBT.

(h) Pandji Pragiwaksono

Ingat stand up comedy “Mesakke Bangsaku?” oleh Pandji Pragiwaksono? Pandji adalah seorang suami dan ayah dari sebuah keluarga kecil. Namun, bukan berarti ia homophobic. Pandji mendukung LGBT dan dalam banyak kesempatan mencoba menyadarkan masyarakat untuk menerima kaum tersebut. Hal yang sangat perlu diapresiasi. Meski ia masih sering salah membedakan antara gay dan waria.

(i) Raditya Dika

Saya harus menggarisbawahi, Raditya Dika bukanlah artis yang bisa dikatakan jelas atau tidak mendukung LGBT. Tapi yang pasti, Raditya Dika tidak homophobic dan tidak mendiskreditkan mereka. Pada beberapa materi stand up comedy-nya, ia menyebut punya banyak teman gay dan tak ada masalah dengan mereka. [9]

(j) Ahmad Dhani

Ahmad Dhani lagi-lagi membuat pernyataan kontroversial. Pentolan Dewa 19 ini menuturkan bakal meresmikan pernikahan sesama jenis jika dirinya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Hal itu diutarakan Dhani dalam acara talkshow yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta, Minggu (29/11/2015) malam. Saat itu suami Mulan Jameela ini mengangkat tema tentang Lesbian Gay Biseks dan Transgender (LGBT).

Dhani menghadirkan tiga orang narasumber yang berada dalam komunitas LGBT, yakni Dena Rachman, Nino dan Tata Liem. Setelah membahas panjang lebar tentang pro dan kontra LGBT, sampailah pada segmen akhir. Di segmen penutup ini ketiga narasumber diperbolehkan untuk balik bertanya kepada Dhani.

Pada kesempatan Tata Liem bertanya, manajer Bella Shofie itu menanyakan apakah bos Republik Cinta Manajemen ini mau menjadi ikon bagi komunitas LGBT atau tidak..

“Kalau Mas Dhani diminta menjadi ikon LGBT, mau nggak?” tanya Tata Liem. “Kalau aku jadi presiden, aku resmikan pernikahan sesama jenis,” jawab Dhani sembari tersenyum.

Mendengar jawaban Dhani ketiga narasumber pun memberika tepukan tangan tanda setuju. Ucapan kibordis berkepala plontos itu juga sekaligus menutup acara yang dipandunya tersebut. [10]

Selain para artis diatas, masih banyak lagi artis² yang lainnya. Karena ada 119 organisasi yang mendukung LGBT di Indonesia.

Ada 119 Organisasi dibalik propaganda LGBT di Indonesia

Meski mendapat predikat sebagai negeri Muslim terbesar sedunia tetapi lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT) semakin unjuk gigi hingga menyebarkan foto pernikahan homo di Bali, padahal dalam ajaran Islam tak ada toleransi kepada penyakit yang satu ini, tapi dalam laporannya kepada UNDP dan USAid  2014 mereka mengklaim sudah memiliki jaringan 119 organisasi pendukung LGBT di Indonesia dan jumlah pelakunya jutaan.

“Gerakan LGBT di Indonesia terus bergerak didukung sistem sekuler yang ada, difasilitasi oleh media yang berorientasi bisnis dan bahkan mendapat sokongan dana yang tidak sedikit dari donor-donor internasional, karena itu di tengah kaum Muslim yang merosot taraf berfikirnya dan lemah penjagaan akidahnya, pengikut LGBT terus bertambah banyak,” ungkap Jubir Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Iffah Ainur Rochmah, seperti diberitakanMedia Umat Edisi 159: Kaum Homo Ancam Indonesia, Jum’at (18 Dzulhijjah – 2 Muharram 1436 H/ 2 – 15 Oktober 2015).

Modus operandinnya, menurut Iffah, dengan mengagungkan penghormatan terhadap HAM dan liberalisme. Dan atas nama dua konsep kufur inilah, mereka menuntut pengakuan dan perlakuan anti diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan, hak politik dan sikap/pandangan dari masyarakat. Selama mereka tidak ‘merugikan’, menimbulkan keresahan dan kekacauan maka tidak ada alasan menolak keberadaan mereka. Itu hak dan pilihan masing-masing orang. Apalagi bila ternyata mereka memberi ‘kebaikan’ karena sikap-sikap manusiawinya.

“Begitu kira-kira logika yang dikembangkan.  Masyarakat kita yang sudah terlanjur mengadopsi HAM tanpa sadar memenuhi tuntutan mereka,” keluh Iffah.

Iffah mengungkap, untuk mendapat keabsahan atas kesesatannya mereka menggunakan mekanisme suara terbanyak yang memang dijadikan patokan dalam demokrasi. Suara terbanyak menjadi kebenaran. Hukum diputuskan berdasar mekanisme voting. Amerika sebagai contoh kongkret terbaru. Lihatlah apa yang terjadi di AS. Kaum LGBT terus mendesakkan kepentingannya, mempengaruhi pengambil kebijakan melalui dana yang disumbangkan, menuntut hak sebagai pembayar pajak dsb. Hingga mereka menemukan momentum untuk melegalkan perkawinan sejenis dengan memperbanyak proporsi pengambil keputusan (hakim MA) yang mendukung mereka. Jadilah mereka memenangkan pembuatan aturan. Tanpa peduli sedikitpun pada pijakan agama. Bahkan mereka menantang norma agama yang paling mendasar tentang penciptaan manusia laki-laki dan perempuan berikut karakter bawaannya.

“Jadi jelas ya bahwa HAM, liberalisme, demokrasi dan turunannya menjadi lahan subur berkembangnya perilaku menyimpang bahkan mendorong agnotisme, menolak mengakui aturan agama. Masihkah akan kita biarkan?” pungkasnya. [11]

Demikian artikel ini saya rangkum untuk dapat memberikan pelajaran bagi kita agar berhati-hati dalam bergaul dan jangan sampai salah mengidolakan seorang tokoh ataupun artis.

Referensi

  • [1]sukasaya.com/2016/02/tengku-zulkarnain-pbb-ingin-hancurkan-indonesia.html?m=1
  • [2]dakwahmedia.net/2016/02/inilah-7-perusahaan-raksasa-as.html
  • [3]iberita.com/87075/via-fb-line-nyatakan-hapus-stiker-lgbt-di-indonesia
  • [4]okezone.com/read/2016/01/21/65/1293726/ini-profil-sgrc-kelompok-pendukung-lgbt-di-ui
  • [5]islamedia.id/jadi-corong-pro-lgbt-begini-cara-kompas-tv-menggiring-opini/
  • [6]cnnindonesia.com/hiburan/20150629155643-234-63061/muncul-ajakan-boikot-sherina-karena-dukung-lgbt/
  • [7]kompasiana.com/abahpitung/orang-indonesia-pendukung-lgbt_559bdc10c0afbda3048b4568
  • [8]terselubung.in/artis-artis-indonesia-yang-dukung-pernikahan-sejenis/
  • [9]duniasenyap.blogspot.co.id/2016/01/ini-dia-artis-indonesia-yang-mendukung.html?m=1
  • [10]liputan6.com/showbiz/read/2377891/jika-jadi-presiden-ahmad-dhani-akan-resmikan-pernikahan-sejenis
  • [11]hizbut-tahrir.or.id/2015/10/10/ada-119-organisasi-dukung-lgbt-di-indonesia-ini-penyebabnya/

Lihat Pula

SukaSaya.Com / DakwahMedia.Net / iBerita.Com / OkeZone.Com / Islamedia.Id / CNNindonesia.Com / Kompasiana.Com / Terselubung.In / DuniaSenyap.Blogspot.Co.Id / Liputan6.Com / Hizbut-Tahrir.Co.Id / Panjimas.Com

Iklan

6 responses »

  1. RizaldyNet berkata:

    Wah.. Keren banget deh postnya… Panjang dan lengkap.. Jadi mudah di mengerti

    Suka

  2. seo plugin berkata:

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

    Suka

  3. judi Bola online berkata:

    Good information. Lucky me I recently found your website by accident (stumbleupon).
    I have book-marked it for later!

    Suka

  4. Great blog here! Also your website loads up very fast!
    What web host are you using? Can I get your affiliate link
    to your host? I wish my site loaded up as fast as yours lol

    Suka

  5. Aditya Tri A berkata:

    Aku juga setuju kalo LGBT di terima di Indonesia. INGAT! aku hanya setuju legalnya LGBT saja, kalo pernikahan sesama jenis gak terlalu mendukung. aku bersikap adil aja. yang penting LGBT bisa diterima di masyarakat

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s