PROFIL

image

  • Nama Lengkap: Ulil Abshar Abdalla
  • Alias: No Alias
  • Kategori: Politisi
  • Agama: Islam
  • Tempat Lahir: Pati, Jawa Tengah
  • Tanggal lahir: Rabu, 11 Januari 1967
  • Zodiac: Capricorn
  • Hobby:
  • Warga Negara: Indonesia
  • Relation: No Relation

BIOGRAFI

Ulil Abshar Abdalla adalah seorang tokoh islam Liberal di Indonesia yang berafiliasi dengan Jaringan Islam Liberal. Perseteruannya dengan organisasi Front Pembela Islam dan pengakuannya atas dirinya adalah seorang muslim liberal banyak mengundang kontroversi. Ulil Abshar lahir di Pati, Jawa Tengah pada tanggal 11 Januari 1967. Ayahnya, Abdullah Rifa’i adalah pengelola pesantren Mansajul Ulum di Pati. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdatul Ulama.

Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz. Dia mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan memperoleh gelar Doktoral di Boston University, Massachussetts, AS.

Ia dikenal karena aktivitasnya sebagai Koordinator Jaringan Islam Liberal. Dalam aktivitas di kelompok ini, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam ini, Ulil disebut sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam setelah Cak Nur. Selain itu Ulil pernah menjadi Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta, sekaligus juga menjadi staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Sebagai politikus, ia menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Pengurus Pusat dari Partai Demokrat selama masa jabatan Ketua Umum Anas Urbaningrum. Kehadiran gagasan liberalisasi Islam, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Islam Liberal,” oleh Ulil telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan panjang. Ini karena banyaknya ide dan gagasan yang ia usung sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariat Islam.

Dalam artikelnya “Menjadi Muslim dengan perspektif liberal” telah menuai banyak kontroversi. Gagasan-gagasan yang tertuang dalam artikelnya banyak dianggap menyimpang dari akidah dan syariat Islam. Serta perseteruannya dengan Front Pembela Islam yang berbuntut panjang membuat Ulil menjadi sosok yang sangat kontroversial. Setelah FPI membeberkan dugaan adanya dana Rp. 62 Milyar yang mengalir untuk membubarkan FPI, pengurus FPI kembali membuka keborokan Ulil yang berniat membubarkan FPI sejak 2006. Pimpinan FPI mengatakan bahwa Ulil terlibat perselingkuhan dengan seorang perempuan bernama Marchelinta Dhika. (Oleh: Feronika) [1]

PERNYATAAN-PERNYATAAN & TINDAKAN-TINDAKAN KONTROVERSIAL

  • (a) Sebut Syiah Bukan Ancaman NKRI

“Syiah bukan ancaman bagi NKRI. Ancaman bagi NKRI adalah HTI yg nyata2 mau menegakkan negara khilafah,” katanya melalui akun Twitter @ulil.

Menurut dia, selain HTI, ancaman terhadap keutuhan NKRI adalah ajaran kelompok agama yang selalu menebar kebencian di antara sesama. “Syiah bukan ancaman bagi NKRI. Ancaman bagi NKRI adalah paham keagamaan yg menyebarkan kebencian antar-golongan,” ujar Ulil.

Karena itu, Ulil meminta semua pihak untuk waspada terhadap kelompok tertentu yang mencoba membenturkan ajaran Suni dan Syiah, yang bisa menggoyang NKRI. “Syiah bukan ancaman bagi NKRI. Ancaman bagi NKRI adalah kelompok2 yg mau mengimpor konflik Sunni-Syiah ke Indonesia.”

Menanggapi hal itu, pengamat pergerakan Syiah Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi menilai pernyataan Ulil bertentangan dengan fakta lapangan. Pasalnya, disejumlah negara Syiah meresahkan kehidupan beragama masyarakat.

“Ulil jangan kebanyakan teori dalam masalah Syiah, lihat saja langsung di lapangan. Di Malaysia saja Syiah mengganggu stabilitas negara dan meresahkan kelompok Aswaja (Ahlus sunnah wal Jamaah,red),” katanya kepada Kiblat.net.

Tidak hanya di Malaysia, kata Pizaro, Syiah juga meresahkan dan mengganggu stabilitas negara-negara Arab di kawasan Teluk. “Begitu juga di Timteng, Bahrain digoyang oleh Syiah, Irak yang 65 persen Ahlussunnah menjadi negara berdarah sejak Syiah berkuasa. Ulama dibunuh dan warga diperangi.” tutur penulis buku Syiah dan Zionis Bersatu Hantam Islam ini.

Terakhir, lanjut Pizaro, makar kaum Syiah juga terjadi di Yaman, ketika Syiah berhasil menguasai ibukota Yaman, Sana’a, terjadilah intimidasi besar-besaran kepada umat Islam.

“Bahkan Shalat Jumat dibubarkan paksa. Hingga kini menjadi negara yang tidak stabil,” tandasnya. [2]

  • (b) Pelesetkan kalimat Thayyibah

Banyak pengguna Twiter yang beragama Islam mengecam twit-twit yang dituliskan Ulil Abshar Abdalla. Dia dikecam karena mempelesetkan kalimat-kalimat Thayyibah seperti Astaghfirullah menjadi Ostogpiroloh atau Masya Allah menjadi Moso’oloh. [3]

  • (c) Islam adalah agama sejarah

Dalam tulisanya yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, Ulil Abshar Abdala menyatakan bahwa Islam adalah agama sejarah. Hal ini terungkap dalam kutipan tulisan tersebut:

Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.

  • (d) Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab tidak usah diikuti.

Misalnya, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot dan jubah merupakan cerminan budaya yang tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab dan bukan ajaran fundamental dari Islam itu sendiri.

Menurut Ulil Abshar Abdala, yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik Islam tersebut. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia.

  • (e) Larangan kawin beda agama sudah tidak relevan lagi.

Ulil Abshar Abdala juga menyebut bahwa larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama

  • (f) Tidak ada yang disebut “hukum Tuhan”

Menurut Ulil, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.

  • (g) Islam yang dibangun oleh Nabi di Madinah  bersifat konstektual.

Ulil Abshar Abdala juga menyinggung tentang kerasulan. Menurut Ulil, Islam yang dibangun oleh Nabi di Madinah  bersifat konstektual. Hal ini sebagaimana disebut oleh Ulil Abshar Abdala dalam kutipan berikut:

Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual. Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah

  • (h) Upaya menegakkan syariat Islam adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam.

Ulil Abshar Abdala juga menyindir formalisasi syariat Islam di Indonesia. Menurut Ulil, upaya menegakkan syariat Islam adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi. Di sini terlihat bahwa Ulil tidak menghendaki adanya formalisasi syariat Islam, sebagaimana yang telah berlaku di Aceh hari ini.

  • (i) sekularisme tidak dapat dihindarkan, terutama disebabkan oleh modernisasi. 

Paham Islam liberal yang dikampanyekan oleh Ulil Abshar Abdala juga tidak terlepas – dan bahkan merupakan kelanjutan dari paham sekularisme (sekularisasi). Dalam wawancara yang dilakukan oleh Maksum, Ulil Abshar Abdala menyatakan bahwa sekularisme tidak dapat dihindarkan, terutama disebabkan oleh modernisasi. Peran lembaga agama pasti semakin merosot karena adannya proses diferensiasi dan spesialisasi dalam masyarakat. Sekarang agama tidak dapat mengurusi segala hal.

  • (j) Tuhan hanyalah perlambang belaka, tapi celakanya, difahami banyak orang sebagai sesuatu yang sepenuhnya harafiah.

Intinya, menurut Ulil, dalam masa-masa kenabian dan kewahyuan itu, Tuhan diandaikan sebagi “pesona” yang sibuk terlibat dalam urusan duniawi, mulai dari mengajarkan diktum-diktum tetang benar-salah, mengintai tipu muslihat musuh-musuh para nabi yang diutus-Nya, hingga menimpakan azab yang langsung kepada manusia yang membangkang. Menurut Ulil, dalam paradigma tradisional, Tuhan itu sibuk sekali, tidak pernah lengah, tidak pernah ngantuk, seperti digambarkan dalam ayat Kursi. Menurut Ulil, gambaran Tuhan semacam itu hanyalah perlambang belaka, tapi celakanya, difahami banyak orang sebagai sesuatu yang sepenuhnya harafiah).

  • (k) Masyarakat sekarang adalah masyarakat pasca-wahyu.

Ulil Abshar Abdala juga menyebut masyarakat sekarang sebagai masyarakat pasca-wahyu, maksudnya sederhana: gambaran tentang Tuhan yang sibuk mengurusi segala tetek bengek urusan manusia itu sudah tidak tepat lagi. Gambaran Tuhan sebagi sejenis “Communiting God” (Tuhan yang wira-wiri dari kahyangan ke bumi dan balik lagi) juga tidak bisa lagi diterima. Salah satu warisan (yang kebetulan jelek) dari era kewahyuan itu adalah penggambaran Tuhan sebagai “instansi” yang mendektekan secara detail apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia.

  • (l) Ulil Abshar Abdala cenderung mendudukan akal dalam posisi pertama, disusul dengan Alquran, Sunnah, kemudian Ijma’.

Dengan mengutip dari Haidar Bagir, menurut Ulil Abshar Abdala, piranti paling penting dala era pasca kewahyuan ini adalah akal. Akal adalah Rasul “imanen” yang di-instal kedalam setiap manusia untuk memandu mereka membina kehidupan yang baik (apa yang dalam debat kesarjanaan terakhir sering diistilahkan sebagai “good life”).

Dari sini, Ulil Abshar Abdala ingin mengembangkan sesuatu ide tentang hirarki sumber hukum dalam Islam dalam tatapan baru. Ulil Abshar Abdala cenderung mendudukan akal dalam posisi pertama, disusul dengan Alquran, Sunnah, kemudian Ijma’.[20] Menurut Ulil, Akal memiliki posisi penting dan bahkan lebih tinggi dari wahyu itu sendiri, karena akal-lah yang harus menerjemahkan teks-teks dalam Alquran dan Sunnah.

  • (m) Sejarah agama bukanlah sejarah yang kemilau, tetapi buram, bahkan dalam beberapa kasus juga gelap.

Di sisi lain, tidak hanya berkutat pada masalah wahyu dan Islam liberal, Ulil Abshar Abdala juga memperbincangkan tentang berbagai kekerasan yang terjadi atas nama agama.

Dalam sebuah artikelnya, Ulil menulis:
Jika kita telaah sejarah dengan cermat, sebetulnya agama dan kekerasan adalah dua hal yang seringkali terjadi secara bersama-sama. Sejarah agama sarat dengan perang, pertikaian, fanatisme, persekusi atas kelompok yang dianggap berbeda, dan seterusnya. Sejarah agama bukanlah sejarah yang kemilau, tetapi buram, bahkan dalam beberapa kasus juga gelap. Meskipun tak bisa ditolak bahwa ada banyak yang kemilau dan cemerlang dalam sejarah agama. Yang ingin saya katakan adalah bahwa yang kemilau dan gelap, keduanya saling ada secara berbarengan dalam sejarah agama. Saya ingin mengatakan, ini berlaku untuk semua agama, bukan hanya Islam.

Pertikaian antara Sunni dan Syiah yang melibatkan pembunuhan ribuan nyawa saat ini di berbagai kawasan dunia Islam, bukanlah kejadian sekarang saja. Sejarah konflik antara kedua sekte dalam Islam itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Bukan saja pertikaian antar Sunni-Syiah saja yang kita saksikan dalam sejarah Islam, melainkan pertikaian antara puluhan sekte di sana.

  • (n) Kekerasan mendapatkan “justifikasi” dalam Kitab Suci.

Menurut Ulil Abshar Abdala, ada hal menarik dalam konteks kekerasan dalam agama tersebut, di mana  kekerasan semacam ini mendapatkan “justifikasi” dalam Kitab Suci. Apa yang disebut sebagai “kekerasan agama” adalah gejala yang unik karena di dalamnya terdapat kaitan antara kekerasan dengan agama. Kaitan di sini bukan yang sifatnya permukaan belaka, melainkan hingga ke lapisan yang terdalam. Yakni, bahwa kaitan ini menyangkut aspek yang berkaitan dengan keyakinan. Pada kekerasan agama ada dimensi teologis dalam bentuk pembenaran kekerasan itu melalui dalil-dalil keagamaan.

  • (o) Ayat Alquran adalah “ayat yang problematis”.

Ulil juga menyebut ayat-ayat yang seolah menjustifikasi kekerasan dalam Alquran sebagai “ayat yang problematis”, sebab ia memang rentan dipakai sebagai justifikasi atas sikap-sikap intoleran, dan lebih jauh lagi juga kekerasan. Dari statement tersebut dapat dipahami bahwa, menurut Ulil akar kekerasan atas nama agama itu sendiri terdapat dalam kitab suci dan mendapat justifikasi dari agama.

  • (p) Perkawinan poligami hanya fase antara untuk menuju ke fase ideal, yaitu monogami & poligami adalah bagian dari feodalisme pra-modern.

Terkait poligami, Ulil Abshar Abdala menyatakan bahwa perkawinan ideal sebagaimana dikehendaki oleh Islam adalah monogami. Perkawinan poligami hanya fase antara untuk menuju ke fase ideal, yaitu monogami. Menurut Ulil, kita tak bisa menutup mata bahwa poligami disahkan oleh Islam, sekurang-kurangnya Islam dalam diskursus resmi. Tetapi, bagi Ulil, itu hanyalah “solusi temporer” Islam menuju kepada keadaan yang lebih ideal, yakni perkawinan dengan satu isteri. Yang menarik adalah bahwa monogami ternyata bukan saja merupakan “keadaan ideal” yang dikehendaki oleh agama. Monogami, lebih penting lagi, adalah juga menjadi norma yang sangat penting dalam kehidupan modern. Sensibilitas masyarakat modern terbentuk dalam norma semacam ini, sehingga mereka melihat praktek poligami sebagai semacam “warisan” dari masa lampau yang “jahiliyah”. Menurut Ulil Abshar Abdala, poligami adalah bagian dari feodalisme pra-modern.

  • (q) Perdukunan adalah gejala yang hampir menyerupai kenabian. 

Pemikiran “unik” lainnya yang dimunculkan oleh Ulil Abshar Abdala adalah tentang kenabian. Ulil Abshar Abdala cenderung “mempersamakan” antara gejala perdukunan dan kenabian. Menurut Ulil, perdukunan adalah gejala yang hampir menyerupai kenabian. Dengan kata lain, perdukunan dan kenabian adalah “gejala mental” yang masih satu keluarga. Itulah sebabnya, dulu Nabi pernah dituduh sebagai dukun (kahin) atau penyihir oleh masyarakat Mekkah. Menurut Ulil, tuduhan ini tak mungkin terjadi kalau tak ada kedekatan antara kedua gejala itu. Tetapi, tentu perdukunan mempunyai sifat-sifat yang secara kategoris berbeda dengan kenabian. Kenabian bersumber dari Tuhan, perdukunan dari Setan; meskipun pembuktian sesuatu berasal dari Tuhan dan yang lain berasal dari setan bukan perkara mudah. [4]

  • (r) Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang sistem Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak sesuai syariah Islam haram, akan menjadi olok-olok publik.

Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menyatakan sistem asuransi dalam BPJS tidak mengandung gharar (unsur penipuan). Sebab, ada hak dan kewajiban yang jelas di sana.

“Konsep ‘gharar’ atau penipuan dalam pemahaman fikih lama enggak bisa dipakai untuk menelaah jasa ‘risk protection’ dalam bentuk asuransi itu. Tak ada ‘gharar’ dalam asuransi, menurut saya. Sebab kedua belah pihak, perusahaan dan pemegang polis, tahu apa hak dan kewajiban mereka,” terang dia.

Lanjut dia, sistem asuransi sama dengan transaksi perdagangan biasa. Namun, perbedaannya ada pada objek jual beli, yaitu jasa.

“Apa status asuransi? Buat saya sederhana: ini akad jual beli. Cuma obyeknya bukan barang, tapi jasa (services). Kesimpulannya: apakah asuransi adalah jasa yang halal atau haram? Jawab saya: halal sehalal-halalnya. Asal sesuai dengan UU keuangan kita,” pungkas dia.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan sistem Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak sesuai syariah Islam atau haram. Khususnya sistem denda 2 persen bagi peserta yang telat bayar iuran bulanan.

Selain itu MUI menilai, dari perspektif ekonomi Islam dan fiqh mu’amalah, BPJS juga tidak memenuhi syariat Islam.

Dari hasil pengkajian tersebut, MUI menilai penyelenggaraan BPJS Kesehatan, terutama yang terkait dengan akad antar para pihak, tidak sesuai dengan prinsip syariah. Sebab, pelaksanaannya mengandung unsur gharar, maisir dan riba.

  • (s) Semua agama mengandung kebenaran dan sama-sama akan mendapat balasan dari Allah.

Dalam bidang teologi, Ulil Abshar Abdala, tidak hanya mengakui eksistensi semua agama, tapi ia juga cenderung memposisikan semua agama pada level yang sama. Menurut Ulil Abshar Abdala, semua agama mengandung kebenaran dan sama-sama akan mendapat balasan dari Allah. [5]

  • (t) Seseorang Bernama “Tuhan” Buktikan Kalau Tuhan itu Ada

“Mestinya MUI bersyukur karena dengan demikian menambahkan bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada. :)),” Komentar Ulil melalui akun Twiter-nya @ulil, yang dikutipmerahputih.com. [6]

image

  • (u) Nabi Muhammad Liberal dan Pro Pasar

Ulil termasuk netter yang aktif disosial media, khususnya di twitter. Kicauan-kicauannya di twitter sering kali menghiasi media massa nasional. Kicauan terbaru (11/8/2015) Ulil tentang ekonomi pasar dan kebijakan harga bisa saja memicu kesalah pahaman dari orang-orang yang mudah salah paham.

Suatu saat harga2 naik. Lalu sahabat lapor kepada Nabi: Tolong dong intervensi, supaya harga turun. Nabi menolak seraya bersabda…

La tusa”isruu fa innallaha huwal musa”ir. Janganlah mengintervensi harga sbb Tuhanlah yg menciptakan harga itu.

Hadis ini menarik. Pendekatan Nabi terhadap “pricing policy” cukup liberal dan sesuai mekanisme pasar. Tak mau campuri harga scr langsung.

Kalau mau “mengatur” harga bukan dg cara memaksa penjual menjual dg harga murah sementara kulakannya mahal. Itu ndak fair.

Intervensi harga yg diperbolehkan oleh Nabi hanyalah dg mengikuti hukum “supply and demand”. Naikkan supply, kalau perlu impor.

Saya kagum pada keliberalan Nabi Muhammad dlm membaca soal kebijakan harga ini. Maklum dia kan dulu pedagang. 🙂

Tak heran jika Maxim Rodinson dulu, sejarawan Perancis, dlm bukunya “Islam et Capitalisme” menyebut Islam sbg agama yg pro kapitalisme. :)) [7]

  • (v) 90 % Alquran itu Pendapat Para Pengarang

Lewat dialog dengan salah satu followernya di akun twitter, ketika dinilai sesukanya dalam menafsirkan ajaran Alquran, dengan enteng ia menjawab bahwa Alquran itu isinya hasil pendapat para pengarang.

“90% Quran yg ada dlm sejarah Islam memamakai pendapatnya pengarang. Kalau ngga pake pendapat, ya ndak bisa.” Jawabnya.

Dialog ini terkait dengan pendapat ulil ketika membandingkan Islam Nusantara dengan salah satu ajaran didalam agama kristen, yaitu ajaran Katolik. [8]

(w) LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak pernah punah karena mereka. 🙂

image

“LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak pernah punah karena mereka,” kicau Ulil di akun twitter pribadinya, @Ulil.

Menurutnya, orang yang membenci sifat Lesbian Gay Biseksual dan Transgender tidak bisa dibenarkan. Sebab, pada akhirnya akan membenci pelaku juga.

“Akhirnya sama saja, kebencian pada perilaku berujung pada kebencian terhadap orang-orang LGBT. Itulah yang disebut homofobia,” tambahnya. [9]

  • (x) Kenapa azab tidak kunjung turun bagi negara yang mendukung LGBT?

Cuitannya di Twitter yang mempertanyakan tentang kenapa azab tidak kunjung turun bagi negara yang mendukung LGBT, semakin membuatnya menuai kecaman. [10]

image

  • (y) Ahmadiyah Islam, Mereka Shalat, Puasa, Zakat, Haji.

image

Kendati fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan Ahmadiyah bukan Islam. Hal itu juga ditekankan Wakil Ketua Umum MUI KH Ma’aruf Amin yang menegaskan Ahmadiyah bukanlah agama Islam. Namun, Ulil menyatakan sebaliknya. Menurut dia, orang Ahmadiyah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menunaikan rukun Islam sebagaimana yang dilakukan kaum Muslim di dunia.

“Ahmadiyah mmg Islam. Syarat Islam kan bersyahadat, salat, puasa, zakat, haji. Mereka lakukan semuanya,” katanya melalui akun Twitter, @ulil ketika menjawab salah satu pengikutnya.

Sebelumnya, Ulil mendapat ucapan selamat dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia terkait suksesnya Muktamar NU ke-33 di Jombang. Ulil pun menimpali bahwa ucapan tersebut menandakan rasa kasih sayang untuk semua, dan tak ada tempat bagi para pembenci. “Terima kasih untuk teman2 Ahmadiyah. Love for all, hatred for none!” [11]

  • (z) Nabi Muhammad bukanlah Nabi terakhir.

Berikut screenshot tweetnya:

image

image

Islam adalah Islam. Berhati-hatilah dalam memilih panutan. Tetaplah memahami Islam berdasarkan Qur’an dan Hadits.

Nabi Muhammad pernah bersabda:

“Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran sampai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw lewat riwayat Jabir Ibnu Abdullah bersabda:

“Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah SAW dan orang-orang mereka sendiri.”

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan.”
(HR. Sunan Abu Daud)[12]

Referensi

[1]merdeka.com/profil/indonesia/u/ulil-abshar-abdalla/
[2]kiblat.net/2014/11/03/sebut-syiah-bukan-ancaman-nkri-ulil-diminta-jangan-kebanyakan-teori/
[3]merdeka.com/teknologi/pemuka-jaringan-islam-liberal-pelesetkan-kalimat-thayyibah.html
[4]kompasiana.com/khairilmiswar/pemikiran-ulil-absar-abdala-dan-jaringan-islam-liberal_54f34ce87455137e2b6c7080
[5]merdeka.com/peristiwa/ulil-abshar-sebut-mui-fatwa-bpjs-haram-bisa-jadi-olok-olok-publik.html
[6]news.merahputih.com/nasional/2015/08/25/ulil-abshar-abdalla-nama-tuhan-buktikan-kalau-tuhan-itu-ada/24292/
[7]muslimedianews.com/2015/08/ulil-abshar-abdalla-nabi-muhammad.html?m=1
[8]dakwatuna.com/2015/08/25/73682/ulil-90-persen-alquran-itu-pendapat-para-pengarang/#axzz3yaRaXH5q
[9]kiblat.net/2016/02/08/bilang-lgbt-bukan-ancaman-ulil-didoakan-punya-menantu-sesama-jenis/
[10]1menit.com/inspirasi-dari-ulil-abshar-abdalla/785
[11]republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/08/07/nsoq06334-ulil-ahmadiyah-islam-mereka-shalat-puasa-zakat-haji
[12]facebook.com/BuletinIslam/posts/671878979509940

Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s