LGBT adalah persoalan Bangsa

image

Ilustrasi Lesbian (myrepro.wordpress.com)

Di sebuah resto di Bekasi, sepasang lesbi terlihat asik bermesraan di depan umum. Saling memegang tangan. Begitu mesranya. Lesbi yang buci rambutnya bondol, berpakaian kemeja pria, sepatu pria, celana levis, jam tangan putih besi ala lelaki. Mereka tak peduli lagi ditatap anak-anak kecil dengan tatapan melongo.

LGBT makin unjuk gigi. Kita perlu dukung Ibu Risma yang meminta memblokir situs LGBT. Jangan kaget!

  • Sekarang sudah ada puluhan sampai ratusan website yang mengkampanyekan LGBT.
  • Ada ratusan akun LGBT. 
  • Ada enam sampai tujuh aplikasi di android yang menjadi sarana komunikasi dan ajang newbiemencari jodoh LGBT.
  • Ada 22 point rekomendasi hasil LGBT dari dialog nasional LGBT yang ditujukan untuk organisasi mereka, pemerintah dan lembaga internasional. 
  • Ada begitu banyak buku, komik, yang mengkampanyekan LGBT.
  • Ratusan organisasi LGBT tersebar di hampir provinsi Indonesia. 
Menarik mengikuti isu LGBT. Lebih menarik saat menyimak tulisan Bapak Adhyaksa Dault, yang menyebut: LGBT adalah persoalan bangsa. Beliau meminta semua pihak menyelamatkan generasi bangsa dari LGBT, dengan cara beradab.

Semoga ajakan itu disambut seluruh pihak. Bukan wacana, tapi segera direalisasikan dengan langkah konkrit. Bila tidak, isu LGBT tidak akan pernah henti. Sebab, sejauh ini mereka telah berhasil. Berhasil, memanfaatkan apatisme masyarakat, tokoh dan ulama. Berhasil membiarkan LGBT hanya menjadi isu tanpa penyelesaian konkrit.

Selama ini masyarakat semakin terpolirasasi. Rakyat dipecah belah, lantas tanpa sadar masalah sosial terserak depan mata.

Apakah masih merasa kalau LGBT itu muncul tiba-tiba?

Jangan polos. Aneh juga, pemerintah masih membiarkan website LGBT menjamur begitu banyaknya. Organisasinya terus tumbuh. Padahal selain darurat narkoba, Indonesia sudah darurat LGBT. Kenapa dibiarkan?

Menyeruaknya isu LGBT dari poster konseling LGBT di UI sampai kampanye viral sosmed yang menyasar pelajar, itu bukanlah barang baru. Jauh sebelumnya sudah banyak buku, website baru, komik, seminar, atau kegiatan berbungkus sosial, humanis, dan ilmiah. Bahkan organisasi mereka terus tumbuh.

Kalau pemerintah serius, kenapa tidak memblokir situs resmi dan akun sosmed LGBT, bubarkan organisasi mereka, tarik buku-bukunya, komik, dan segala sarana yang bernuansa LGBT?. Lalu, dirikan lembaga khusus untuk menangani pelaku LGBT. Kebanyakan mereka butuh didengarkan. Butuh empati kita semua. Diarahkan. Bukan dikucikan.

Baca juga:

Mayoritas mereka hanya korban. Galau identitas seksualnya. Bingung sejak SD dan SMP tertarik dengan sesama jenis. Namun, tak berani terbuka pada orangtua. Mencari jalan sendiri tapi salah jalan. Tercebur lingkungan yang malah menyeretnya menjadi pelaku LGBT. Apalagi banyak wadah untuk menjadi LGBT.

Padahal tak sedikit dari mereka yang hanya tertular. Ya tertular karena ada di komunitas yang salah. Ada pula yang dendam, jiwanya terkepung pelbagai dendam. Di sini peran ulama dibutuhkan.

Sila kedua Pancasila adalah “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

Membiarkan LGBT menjamur, membiarkan generasi bangsa ini terseret LGBT sama halnya menentang sila kedua itu!

Kalau kita masih cuek, jangan kaget bila suatu hari buah hati menjadi pelaku LGBT. Bayangkan saja, dulu begitu senyap sekarang meledak. Bahkan, berani melakukan somasi media nasional sekelas Republika. Luar biasa bukan?

  • Secara tersirat, menyeruaknya LGBT saat ini termaktub dalam 22 poin rekomendasi dialog nasional LGBT. Rekomendasi itu ditujukan untuk organisasi dan pelaku LGBT, pemerintah, dan lembaga bilateral/multiteral. Organisasi mereka di Indonesia sudah ratusan. Meski di tubuh mereka sendiri ada pro-kontra antar organisasi.
  • Dalam catatan sixpackmagazine, yang mengutip survei CIA, jumlah LGBT di republik beradab ini menempati urutan kelima terbesar di dunia. Data itu masih meragukan. LGBT sendiri lemah mendata kaum mereka. Begitu pun lembaga pemerintah. Estimasi sudah jutaan, baik data pemerintah atau pengakuan pelaku.
  • Mereka mendapat dana dari pelbagai lembaga internasional. Bahkan, didukung salah satu lembaga PBB. Kucuran dana cihuy, sedikitnya lebih 8 juta dolar As untuk kesamaan hak para LGBT Asia Pasific.  Lembaga lain,Hivos Belanda
  • Bahkan, dalam satu website resmi LGBT ada annual report yang memaparkan angka mencengangkan. Ya, ada puluhan juta dolar. Di sana tertulis, statement of financial position June, 30, 2015 (with comparative amount at June, 30, 2014)
  • Tertulis, tahun 2014 total 20,562,886 dolar AS dan tahun 2015 total 23,299,244 dolar AS. Wow angka yang cukup fantastis. Sila telisik sendiri. Kalau mau menelisik lagi, angka lain juga menggiurkan. 

Kampanye terbuka kaum LGBT, bukan ujug-ujug. Kini mereka semakin tampil menggeliatkan kampanyenya di media. Come out ramai-ramai segala cara. Dari kemasan hak seksualitas, hak asasi, sampai menguatkan advokasi diskriminasi. Seolah menjadi pihak terdzalimi. Cihuy kan?

Ada satu paradoks sebetulnya. Seolah hanya LGBT yang memiliki hak asasi, apapun kemasannya. Selain LGBT, tidak. Kaum LGBT menuntut hak asasinya, tapi menafikan hak asasi orang yang tak sepakat dengannya.

Bagaimana orang baru yang terjerat LGBT. Bagaimana perasaan orangtuanya? Bagaimana perasaan dirinya yang bingung, terjebak tekanan batinnya. Hidup wajar tidak, wajar tidak, come out jangan, come out jangan. Gelisah. Gundah.

Orang yang mendukung LGBT atas dasar hak, tapi mengkerdilkan hak orang tertindas lainnya. Seperti, hak-hak para keluarga mantan terduga teroris yang traumatik, dibunuh karakternya, dikucilkan masyarakatnya. Padahal bukan pelaku, hanya bagian keluarga pelaku. Bahkan, pelakunya sendiri masih terduga. LGBT yang sudah pelaku, dibela. Standar ganda.

Kalau bicara hak, bicara asas keadilan, sepatutnya seimbang kan? Tapi, kenapa mereka bungkam? Hanya bersua membela hak LGBT. Lalu, melupakan hak lebih besar lainnya, yakni masyarakat Indonesia yang mayoritas menolak keluarganya jadi pelaku LGBT.

Masyarakat Indonesia seharusnya menghormati sila kedua Pancasila. Apalagi kita lahir dari budaya ketimuran yang kental. Mari simak:

  1. Christia Winsloe menulis novel dan difimkan judulnya Madchen in Uniform (1931). Film itu disutradai Leontine Sagan. Film lesbian pertama, kisah lesbi pelajar dan guru. Tapi, apa yang terjadi? Film itu dilarang di Amerika.  Bahkan saat Nazi berkuasa, film tersebut ditarik dari peredaran. Sampai-sampai sutradara dan pemainnya hengkang mabur ke negara lain. Nasib sang penulisnya Christa dieksekusi oleh Nazi, tahun 1944.
  2. Kisah hampir serupa karya Lilian Helman. Drama percintaan lesbi antara kepala asrama sekolah dengan guru. Drama itu dilarang dipentaskan di sejumlah kota, seperti Chicago, Boston. Bahkan, karya Lilian dicekal Hollywood. Jangankan pelakunya, karyanya saja tidak diterima di negara bebas. Pentagon pun pernah menutup situs besar LGBT. Amerika sendiri baru ramah pada LGBT di era Clinton
  3. Kehidupan di film Queer as Folk (2000) dan film The L World (2004), yang DVD bajakannya diburu atau rempong nanya episode ini sudah keluar belum, itu cuma film. Ini Indonesia. Kehidupan Ilene Chaiken, tidak cocok di sini.  
  4. Ellene DeGeneres sudah berpisah dengan Portia de Rossi. Begitu pula Jane Lynch dengan psikolog Lary Embry sudah bercerai. Serupa Melissa Etheridge dengan Tammy Lynn. Bahkan, Cheyenne dan Monte Lapka juga cerai. Pun Ricky Martin dengan Carlos Gonzales Abella. Si Portia sendiri mengalami depresi karena tekanan bucinya. Portia awalnya mengaku tidak mau jadi lesbi bukan? 

LGBT Adalah Proyek Asing!

Kembalilah ke fitrah. Ingatlah, orangtua yang melahirkan generasi bangsa ini bukan LGBT. Bahkan kaum LGBT tidak ada yang lahir dari orangtuanya yang LGBT. Meski memang organisasi LGBT ada yang disupport dengan dana cihuy. Apakah LGBT cuma proyek? Entahlah. Anda semua lebih paham tentunya.

Mari renungkan pesan Kolumnis internasional, Ann Lander:

"Tiga dari empat orang di dunia ini mengalami sakit jiwa. Jika ketiga teman Anda baik-baik saja, maka Andalah yang mengalaminya"

Kenapa pemerintah tetap membiarkan LGBT menjadi bola liar yang merisaukan masyarakat Indonesia? Ada apa? Apakah harus kita ucapkan beramai-ramai: Selamat! LGBT Berhasil! Masyarakat punya hak agar pemerintah menjalankan Pancasila. Mari kita desak ketegasan pemerintah terhadap penyebaran LGBT!

Sumber

  • ^http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/02/08/o26z9o336-selamat-lgbt-berhasil
Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s