Mensyukuri nikmat Allah adalah merupakan bagian dari bagian dari keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Dan nikmat yang sangat besar bagi manusia adalah nikmat iman itu sendiri. Termasuk orang yang menyia-nyiakan nikmat Allah adalah orang yang menggunakan nikmat Allah tidak pada tempatnya, atau menggunakan nikmat Allah untuk kemaksiatan. Untuk itulah kita perlu mengetahui akan hakikat dan cara mensyukuri nikmat Allah atas limpahan karuniaNya atas diri kiri kita semuanya.

Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia sajalah yang kurang pandai memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah belum diberikan sesuatupun oleh Allah. Disebabkan ia tidak bersyukur kepada Allah dan tidak merasakan bahwa Allah telah memberi kepadanya sangat banyak dari permintannya.

Ibnul Qayyim memberikan pengertian syukur dalam Islam adalah bahwa syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah”.(Madarijus Salikin, 2/244).

1. Cara yang benar untuk bersyukur atas nikmat Allah

  • Mensyukuri Nikmat Allah Dengan Hati. 

Cara bersyukur kepada Allah dengan hati ini maksudnya adalah dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya dari Allah SWT semata.

  • Mensyukuri Nikmat Allah Dengan Lisan.

Caranya adalah dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).

  • Mensyukuri Nikmat Allah Dengan Perbuatan.

Yaitu perbuatan dalam bentuk ketaatan kita menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. PerintahNya termasuk segala hal yang yang berhubungan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah itu yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah.Selain ketiga cara bersyukur dan mensyukuri atas segala nikmat Allah yang ada pada diri kita semuanya ini, maka ada juga bentuk wujud kita ketika kita merasakan kenikmatan-kenikmatan yang datangnya hanya dari Allah Ta’ala. Dan hal ini dinyatakan dengan tanda orang yang bersyukur.

Baca juga:

2. Tanda-tanda orang bersyukur kepada Allah

  • Mengakui, memahami, serta menyadari bahwa Allah-lah yang telah memberikan nikmat.

Pengertiannya di sini adalah bahwa segala nikmat pada dasarnya Allah yang memberikan kepada kita. Manusia adalah juga merupakan perantara dari Pemberi Nikmat yang sesungguhnya yaitu Allah. Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk atau pun lainnya.

  • Orang bersukur kepada Allah akan menunjukkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah.

Jadi tanda mensyukuri nikmat Allah adalah menggunakan nikmat tersebut dengan beribadah dan taat menjalankan ajaran agama. Keanehan bila seseorang mengakui nikmat Allah, tetapi tidak mau menjalankan ajaran agama seperti halnya sholat, enggan belajar agama dan sejenisnya.

Ada beberapa dalil bersyukur bisa kita dapatkan dalam Al-Qur’an ini yaitu diantaranya :

“Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl : 18)

2. Bersyukur Hanya Untuk Memamerkan

Terlepas apakah itu diniatkan untuk pamer atau tidak, intinya adalah menampilkan segala hal yang berpotensi mengundang keheranan dan kekaguman orang yang menyaksikannya. Pamer di dunia maya menjadi hal yang murni baru, karena medsos asli keturunan kandung dekade ini. Melalui medsos, potensi pamer manusia yang terpaksa disimpan sekian lama karena ketiadaan tempat pengejawantahan seperti mendapatkan wahana realisasi. Karena keterbatasan, untuk jangka waktu yang demikian panjang, potensi pamer yang ada pada manusia harus diendapkan. Mungkin pamer secara terbatas sudah terlaksana melalui media konvensional yaitu komunikasi tatap muka dan foto cetak atau lainnya. Namun, medsos secara masif mampu menjadi pelepas dahaga yang akhirnya mampu melunaskan gelegak pamer yang lama tertahan.

Melalui medsos, terpantau orang berlomba mengabarkan apa yang dimilikinya. Entah itu lekuk tubuh, materi kebendaan atau kemampuan keilmuan. Lantas, apa sebenarnya yang melandasi ini semua, hingga kemudian medsos menjelma menjadi media yang sungguh pas untuk menampilkannya?

Saya pribadi merasa bahwa jejaring sosial ini hampir sebagian besar digunakan sebagai ajang pamer, baik disadari atau tidak disadari, antara lain:

  • Bersyukur Tapi Pamer Harta

Hal ini dapat dilihat dari status-status di jejaring sosial, contoh:

    • “haduh BB gue lagi rusak nih, untung masih ada Iphone gue… hmmm alhamdulillaaah”
    • “Syukron…. syukron akhirnya punya IPAD 3 juga”
    • “Ya Allah, Si Jazzy lagi di bengkel nih untung MerC bokap ga kepake…Alhamdulillah…”
    • “Syukur alhamdulillah mama akhirnya sampai juga di London”.
    • “Huft alhamdulillah setelah deg-degan nunggu kabar, papah mamah akhirnya pesawatnya nyampe juga di Singapore” 
    • Bahkan tanpa disengaja bisa dilihat dari gadget apa yang dipakai ketika mengupdate status (terlihat simbol-nya via apa)
  • Bersyukur Tapi Pamer Prestasi

Hal ini bisa dilihat juga dari status dan juga album yang diunduhnya sesuai dengan prestasi yang telah dicapainya. Prestasi disini   dapat berupa tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan. Contoh:

    • “Alhamdulillaaahhh keterima juga di Harvard” 
    • “Huaaaa ga sia2 belajar buat tes, lolos juga masuk BI”

 

  • Bersyukur Tapi Pamer Kebaikan

Hal ini bisa dilihat dari status-status mereka, contoh:

    • “Alhamdulillah hari ini bisa ngasih sisa uangku ke pengemis tadi”
    • “Yes, target khatam quran 3x sehari bisa tercapai”
    • “alhamdulillah…akhirnya gaji sebulan udah dialokasiin buat naikin haji orang2 sekampung”
    • “Alhamdulillah cukup buat beli ini dan buat hidup sebulan kedepan :)” (sambil upload foto barang yang sudah dibeli)

Masih banyak cara-cara bersyukur tapi memamerkan selain tersebut diatas yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

3. Lihatlah Orang di Bawahmu

Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): (1) Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2)beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad, 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)

Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan,

“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

Untuk itu, maka bagi yang suka pamer wajah, kasihanilah mereka yang memiliki tampang pas-pasaan dan seadanya, hargai perasaan mereka.

Bagi yang suka pamer harta, tolong hargailah mereka yang hidupnya miskin, serba kekurangan,  duit pas-pasan, makan seadanya, hargai perasaan mereka.

Bagi yang suka pamer prestasi, tolong hargailah mereka yang otaknya pas-pasan, ga bisa sekolah, ngelamar kerja ditolak mulu, jadi bawahan tertindas, hargailah perasaan merek.

Bagi yang suka pamer kemesraan dan keharmonisan, kasihanilah mereka yang jomblo bahkan melajang seumur hidup, hargailah mereka yang terpisah dari keluarganya, hargailah mereka yang tak kunjung hamil, keguguran berkali-kali, belum dikaruniai anak bahkan ditakdirkan tidak punya anak, hargailah perasaan mereka.

Bagi yang suka pamer kebaikan, hargailah amal kebaikan dan ibadahmu sendiri, biarlah hanya engkau dan Tuhan yang tau, itu sudah lebih dari cukup supaya tak menjadi sia-sia nantinya.

Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati dan keadaan teman-teman dan followers kita, jagalah perasaan mereka. Ketika kita pamer sesuatu bisa jadi tanpa disadari kita telah menyinggung dan menyakiti perasaan mereka. Terlebih ketika mereka punya penyakit hati seperti iri dan dengki, itu memang salah mereka, tapi kita menjadi lebih berdosa lagi kalo kita justru tambah ‘memanas-manasi’ mereka dengan sikap pamer kita.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s