KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998

Setelah Soekarno diturunkan dan dicabut kepresidenannya pada tanggal 12 Maret 1967, Soeharto mengambil alih posisi presiden Indonesia. Pada masa pemerintahannya, Soeharto amat sangat mengekang kebebasan berpendapat hingga melarang adanya bentuk protes apapun yang dilakukan oleh mahasiswa dan para aktivis.

image

Pada tahun 27 Juli 1996, pihak bersenjata menyerang markas PDI di Jakarta Pusat. Pada masa itu, Megawati Sukarno putri yang diangkat menjadi ketua partai dinilai berbahaya oleh pemerintahan Orde Baru. Pada 29 Mei 1997, pemilu dilakukan dan dimenangkan oleh Golkar dengan 74% suara. Pemilu ini dinilai telah dicurangi dan menyebabkan kemarahan publik. Hal ini berujung pada salah satu catatan kelam negara kita, tragedi kerusuhan Mei 1998. [1]

A. Kerusuhan Mei 1998 Termasuk Salah Satu Kasus Kekerasan Paling Mengerikan di Indonesia

image

Lingkaran Survei Indonesia dan Yayasan Denny JA merilis survei terbarunya “Dicari Capres 2014 yang Melindungi Keberagaman”. Dalam survei tersebut juga mencantumkan lima fakta kasus kekerasan terburuk yang terjadi.

Menurut Peneliti Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar mengatakan, lima kasus terburuk itu adalah kasus kekerasan antaretnis di Maluku dan Maluku Utara, Dayak versus Madura di Sampit, kerusuhan Mei 1998, Transito Mataram, dan Lampung Selatan. “Kasus-kasus itu ditemukan fakta lima terburuk,” ujar Kahar di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (23/12/2012).

Lima fakta terburuk dari lima kasus tersebut, lanjut Kahar, dilihat dari fakta jumlah korban, lamanya konflik, luas konflik, kerugian materi, dan frekuensi berita.

#1. Maluku dan Maluku Utara

Kahar menjelaskan, untuk kasus Maluku dan Maluku Utara terdapat 8.000 sampai 9.000 korban meninggal dunia dan 700.000 warga mengungsi. Dengan lama konflik yang mencapai empat tahun, dari 1999 sampai 2002, konflik ini mencakup luasan sampai tingkat provinsi.

Kerugian:

Kerugian materi akibat konflik tersebut, yakni 29.000 rumah terbakar dan 7.046 rumah rusak, serta 45 masjid, 57 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintah, dan 4 bank hancur. Konflik ini juga menjadi pemberitaan dengan frekuensi sebanyak 147.000 item di Google Search dengan kata kunci “kerusuhan Ambon”.

#2. Konflik Dayak versus Madura

Dalam konflik Dayak versus Madura, lanjut Kahar, terdapat 469 korban meninggal dunia dan 108.000 warga mengungsi, dengan lama konflik mencapai 10 hari sepanjang tahun 2001. Cakupan konflik juga terjadi dari Kota Sampit ibukota Kotawaringin Timur meluas ke Kota Palangkaraya, Kuala Kapuas, dan Pangkalanbun.

Kerugian:

Kerugian materi akibat konflik ini terdiri atas 192 rumah dibakar dan 748 rumah rusak serta 16 mobil dan 43 sepeda motor hancur. Konflik ini memiliki 41.000 item pemberitaan dengan kata kunci “Kerusuhan Sampit” di Google Search.

#3. Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta

Kahar menerangkan lebih lanjut, Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta juga menjadi kasus konflik kekerasan terburuk. Dalam kasus itu mengakibatkan 1.217 korban meninggal dunia, 85 wanita diperkosa, dan 70.000 warga mengungsi. Dengan lama konflik selama 3 hari, dari tanggal 13 sampai 15 Mei 1998, cakupan konflik ini mencapai se-Provinsi DKI Jakarta.

Kerugian:

Total kerugian akibat kerusuhan sekitar Rp 2,5 triliun dengan frekuensi pemberitaan di Google Search lewat kata kunci “Kerusuhan 13-15 Mei 1998” sebanyak 24.700 item berita.

#4. Konflik Ahmadiyah Lombok atau Transito Mataram

Kasus konflik kekerasan lainnya adalah Ahmadiyah Lombok atau Transito Mataram. Dalam kasus itu ditemukan 9 korban meninggal duni, 8 luka-luka, 9 gangguan jiwa, 379 terusir, 9 dipaksa cerai, 3 keguguran, 61 putus sekolah, 45 dipersulit membuat KTP, dan 322 dipaksa keluar dari Ahmadiyah.

Konflik ini berlangsung hingga 7 kali penyerangan yang massif antara kurun 1998 sampai 2006 dengan 8 tahun warga jadi pengungsian. Cakpuan konflik ini mencapai 4 wilayah provinsi, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram.

Kerugian:

Kahar melanjutkan, kasus itu mengakibatkan 11 tempat ibadah dan 114 rumah rusak, dengan 64,14 hektar tanah terlantar, 25 tempat usaha rusak, dan ratusan harta benda rusak dan dijarah. Dengan kata kunci “Penyerangan Ahmadiyah Lombok” di Google Search, konflik ini mempunyai 30.800 item pemberitaan.

#5. Konflik Lampung Selatan

Kasus konflik kekerasan terakhir adalah di Lampung Selatan. Dalam konflik tersebut, 14 korban meninggal dunia, belasan luka parah, dan 1.700 warga mengungsi dengan lama konflik mencapai 3 hari dari tanggal 27 sampai 29 Oktober 2012. Cakupan luas konflik ini meliputi dua kecamatan, yakni Kalianda dan Way Panji.

Kerugian:

Total kerugian akibat konflik itu mencapai Rp 24,88 miliar, 532 rumah rusak dan dibakar. Konflik ini memiliki 80.700 item pemberitaan di Google Search dengan kata kunci “Bentrok Lampung Selatan 28 Oktober 2012”. [2]

B. Kerusuhan Mei 1998 Adalah Sebuah Propaganda Tumbangkan Soeharto Dengan Tumbalkan Etnis Tionghoa & Kambing Hitamkan Prabowo

B.1. Propaganda Tumbangkan Soeharto

Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang menyeberang ke kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang akhir Orde Baru karena terbukti terbukanya niat Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen.

Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang akan saya bongkar di bawah ini.

“Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu…

Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, ‘Sudah tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti’…Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, ‘Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian gereja”. (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316)

B.2. Korbankan Etnis Tionghoa

Seperti yang kita ketahui bersama, etnis Tionghoa menjadi korban utama kekerasan yang terjadi pada peristiwa itu, dimana ketika rumah, toko, perusahaan dan aset milik kaum Tionghoa dibakar dan isinya dijarah; termasuk  pemerkosaan, penganiayaan dan pelecehan terhadap ratusan wanita etnis Tionghoa kala itu. Seperti dikutip dari situs Wikipedia dan berbagai media blog/website referensi lain, disimpulkan bahwa Kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 terjadi awalnya karena:

  1. Penembakan terhadap para aktivis mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 yang mengakibatkan 4 mahasiswa tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat melakukan aksi demo Krisis Moneter di Indonesia.
  2. Krisis Finansial Asia sehingga menimbulkan kritik kepada pemerintahan waktu itu (Orde Baru).

Namun ternyata yang paling dirugikan dari rentetan peristiwa ini sebenarnya adalah etnis Tionghoa yang sejatinya tidak tahu menahu, bahkan tidak mau ambil pusing soal aksi demo para mahasiswa ini (yang bermaksud untuk menggoyang pemerintahan pada waktu itu). Etnis Tionghoa juga sebenarnya tidak mau pusing siapa yang mengkudeta siapa, atau siapa yang mengerahkan pasukan, dsb. Yang kita tahu kita hanya ingin hidup aman dan tentram di Negeri ini; tetapi faktanya justru kita yang “dikorbankan” sebagai tumbal reformasi? Ibarat pribahasa “Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah”. Ya, etnis Tionghoa pada waktu itu benar-benar menjadi korban kerusuhan; dimana yang seharusnya “berperang” adalah rakyat sipil (diwakili mahasiswa, juga sebagian provokator) dan negara (diwakili aparat keamanan), tapi akhirnya menjadi bias.

Jika ditarik lebih jauh lagi maka sedikit banyak akan menyinggung 2 tokoh elite politik yang saat ini masih aktif dalam dunia perpolitikan; dimana pada waktu itu masing-masing memegang posisi tertinggi dalam jajaran militer (memegang tongkat komando tentara). Anehnya sebagai aparat keamanan (apalagi tentara yang harusnya lebih keras), mereka seperti terlihat melongo dan pasrah saja melihat rakyatnya di zolimi seperti itu, serta hanya sibuk mengawal gedung DPR/MPR.

Sampai saat ini, beberapa pertanyaan seputar tragedi kerusuhan Mei 1998 masih menjadi misteri, diantaranya adalah:

  • (a) Kemana aparat keamanan militer pada waktu kerusuhan itu (menurut sumber, kerusuhan yang terjadi selama 30 jam, polisi dan tentara sempat menghilang di sejumlah daerah)?
  • (b) Mengapa sampai terjadi pembiaran (penjarahan dan pembakaran rumah,toko dan perusahaan milik etnis Tionghoa, serta yang paling parah adalah pemerkosaan, penganiayaan dan pelecehan terhadap wanita etnis Tionghoa (disertai pengrusakan alat kelamin dan bagian tubuh lainnya, dimutilasi, bahkan dibakar hidup-hidup), yang mengakibatkan gangguan psikis (gangguan kejiwaan) yang sangat luar biasa bagi para korban hingga saat ini; bahkan banyak yang berujung pada aksi bunuh diri atas rasa keputus asaan?
  • (c) Siapa yang menggerakkan massa (melakukan provokasi) yang menyebabkan kerusuhan SERENTAK di beberapa kota besar Indonesia (diantaranya Jakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Medan, dsb)?

B.2.1. Dimana Pemerintah Komunis Republik Rakyat Tiongkok (China)?

Akibat kasus ini, banyak Negara yang pada waktu itu ikut mengecam keras pemerintahan Indonesia yang dianggap gagal dalam melindungi warga negaranya, diantaranya; Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, Malaysia dan Thailand.

Berikut beberapa aksi simpatik Negara-Negara tersebut:

  1. Pemerintah Singapura. Menyatakan Bandara Internasional Changi terbuka 1×24 jam dan sewaktu-waktu siap menerima kedatangan korban kerusuhan.
  2. Pemerintah Taiwan. Menyampaikan protes keras kepada pemerintah Indonesia, bersamaan dengan itu mengirim pesawat penumpang untuk mengangkut para korban kerusuhan.
  3. Pemerintah Amerika. Mengizinkan “permohonan perlindungan” para korban keturunan Tionghoa, bersamaan itu mengirim kapal perangnya ke Indonesia untuk mengangkut sejumlah besar korban kerusuhan.
  4. Pemerintah Malaysia. Meminta Komite HAM PBB menyelidiki peristiwa pembunuhan dan pemerkosaan bergilir ditengah kerusuhan yang dialami oleh kaum perempuan keturunan Tionghoa di Indonesia, serta menyerahkan hasil penyelidikan kepada Pengadilan Kejahatan Internasional untuk diadili.
  5. Pemerintah China?

Sungguh ironis, Pemerintah Komunis Republik Rakyat Tiongkok (China) malah mengambil sikap tidak melaporkan, tidak mengecam dan tidak mencampuri segala urusan dalam negeri Indonesia. Menurut pemerintah China pada saat itu mengatakan, orang Tionghoa di Indonesia telah menjadi Warga Negara Indonesia, maka apa yang terjadi di Indonesia segalanya adalah urusan dalam negeri Indonesia. Padahal jika dilihat dari sisi keterikatan emosional dan kedekatan suku bangsa, Negara China lah yang seharusnya menjadi pembela nomor satu.

Sejumlah masyarakat etnis Tionghoa pada waktu itu berada dalam situasi keadaan yang genting dan mencekam dikabarkan pernah mencoba mengadu ke Kedubes China, yang atas dasar perikemanusiaan memohon bantuan. Namun ditolak mentah-mentah oleh kedubes China dengan alasan yang melapor bukan warga negaranya. Sudah tentu kabar ini membuat Pemerintahan Orde Baru yang kala itu sangat ketakutan merasa telah memperoleh dukungan semangat yang kuat, termasuk para pelaku kerusuhan yang menganggap aksi mereka sebagai suatu pembenaran.

Hal ini membuat Pemerintahan Soeharto kala itu yang sangat ketakutan merasa telah memperoleh dukungan semangat yang kuat.

Atas terjadinya peristiwa tersebut, pemerintah Indonesia yang hanya atas desakan Negara-Negara sahabat akhirnya membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (disingkat TGPF) yang dibentuk sebagai tim penyelidik untuk mengusut kasus Kerusuhan Mei 1998. Meski begitu, kelanjutan dari kasus ini, seperti siapa oknum-oknum yang harus bertanggung jawab atas kerusuhan Mei 1998 ini masih belum diungkap. Pemerintah selama belasan tahun ini tampaknya tidak pernah serius dalam menindaklanjuti dengan proses hukum soal laporan investigasi dari TPGF (menurut informasi kasus ini sudah sampai tingkat Kejaksaan Agung tapi seperti dipeti es kan), dimana dalam laporannya, ternyata terdapat lebih dari 1800 orang tewas selama kekacauan selang tanggal 13-15 Mei 1998! Hal ini jelas bisa memunculkan spekulasi publik bahwa ini adalah bentuk Operasi Militer terselubung pemerintah kala itu. Maka itu pemerintah enggan untuk memperpanjang masalah ini.[3]

B3. CIA Berada dibalik Tragedi Kerusuhan Mei 1998

Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa dua hari sebelum kejadian Megawati sudah mengetahui dari Benny akan terjadi serangan terhadap kantor PDI dan Catatan Rachmawati Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002.

image

Maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi) dan Megawati untuk menaikan seseorang dari keluarga Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto, kebetulan saat itu hanya Megawati yang mau jadi boneka Benny Moerdani. Sedikit kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri:

“Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?

Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak.”

Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah “eureka moment” yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet untuk regenerasi kepemimpinan Indonesia dan diganti Megawati, sehingga menimbulkan kecurigaan dari pihak Mabes ABRI.

Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS) yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI dan selama ini dianggap perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani berada di sisi Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru.

Semua fakta ini juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang mana menyebutkan rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi yang membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan dokumen buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana diklaim oleh Budiman Sejatmiko selama ini.

Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada anak buahnya seperti “siapa suruh kalian mau ikut saya?” dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada masing-masing SBY yang memimpin rapat penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Megawati melakukan bunuh diri bila menyelidiki kejahatannya sendiri!

Bila dihubungkan dengan grup yang berkumpul di sisi Jokowi maka sudah jelas bahwa CSIS; PDIP; Budiman Sejatmiko, Agum Gumelar; Hendropriyono; Fahmi Idris; Megawati; Sutiyoso ada di pihak Poros JK mendukung Jokowi-JK demi menghalangi upaya Prabowo naik ke kursi presiden.

B.3.1. Tiga fakta yang menguatkan kesimpulan CIA & kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:

  1. Menjatuhkan lawan menggunakan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).
  2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!!!
  3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329).

B.4. Tumbalkan Prabowo

image

Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di masa kepanglimaan Benny.

Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira bawahan dia melihat sajadah di kursi dan bertanya “Apa ini?”, jawab sang perwira, “Sajadah untuk shalat, Komandan.” Benny membentak “TNI tidak mengenal ini.” Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat menjelang ibadah Jumat, sehingga menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.

Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam.

Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang sama bahwa para perwira yang menonjol keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak akan mendapat kesempatan sekolah karena sang perwira dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir militernya suram.

Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken yang diangkat dan menduduki pos penting pada masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Johny Lumintang; Albert Inkiriwang; Herman Mantiri; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei dan lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam atau Islam abangan (yang tidak dianggap “fanatik” atau berada dalam golongan “islam santri” menurut versi Benny).

Inilah yang dilawan Prabowo antara lain dengan membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh kelompok Benny Moerdani namun tidak berhasil. Tidak heran kelompok status quo dari kalangan perwira Benny Moerdani membenci Prabowo karena Prabowo yang menghancurkan cita-cita mendeislamisasi Indonesia itu.

Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis, namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, “Hijau ABRI” dan “Hijau Islam”.

Lalu, Peter Beek menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di Kasebul, Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Hoemardani (baca kesaksian George Junus Aditjondro, murid Pater Beek).

Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, “Hijau ABRI” dan “Hijau Islam”

Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu Golkar-PDIP-Hanura-NasDem ada hubungan dengan kelompok anti Islam santri yang dihancurkan Prabowo?

Silakan perhatikan satu per satu nama-nama yang mendukung Jokowi-JK, ada Ryamizard Ryacudu (menantu mantan wapres Try Sutrisno-agen Benny untuk persiapan bila Presiden Soeharto mangkat).

Ada Agum Gumelar-Hendropriyono (dua malaikat pelindung/bodyguard Megawati yang disuruh Benny Moerdani); ada Andi Widjajanto (anak Theo Syafeii) ada Fahmi Idris (rumahnya adalah lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 pertama kali dilontarkan Benny Moerdani); ada Luhut Panjaitan; ada Sutiyoso; ada Wiranto dan masih banyak lagi yang lain.

Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut:

“Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu.”(Salim Said, halaman 320)

Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki hubungan dekat dengan Benny Moerdani namun kita memiliki cara membuktikan kebohongannya. Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto.

Ketika dikonfrontir mengenai hal ini Wiranto mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong. Namun bila kita melihat catatan penting masa setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat bahwa memang terjadi banyak perwira “hijau” di masa Wiranto yang waktu itu dimutasi dan hal ini sempat menuai protes.

Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang Benny Moerdani yang masih tersisa di sekitar Soeharto menjawab sekali untuk selamanya mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot; dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto, sehingga Prabowo diusir dan dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto. Hal ini sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny Moerdani menjatuhkan karir dan menistakan Prabowo.

Membicarakan “kebejatan” Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa semua kepala staf angkatan darat, laut dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh.

Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka sangat patut diduga Wiranto memang sengaja melarang pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan sampai marinir berinisiatif keluar kandang.[4]

B.4.1. Pengakuan Prabowo Subianto

image

Mantan Pangkostrad Letjen (pur) Prabowo Subianto akhirnya bersedia mengungkapkan kesaksiannya mengenai berbagai peristiwa menjelang lengser-nya Soeharto. Selain itu, Prabowo berani membuka perseteruannya dengan Habibie dan Jenderal TNI Wiranto secara cukup gamblang. Padahal, selama ini, Prabowo berusaha menyembunyikan perseteruan itu. Dalam sebuah tulisan laporan utama bertajuk ”Si Kambing Hitam?” yang cukup panjang, majalah Asiaweek edisi terbaru memasang wajah Prabowo dalam sampulnya. Majalah tersebut meminta Prabowo bercerita dari sudut pandangnya sendiri tentang berbagai kesan miring mengenai dirinya selama ini.

Tentang tuduhan memimpin pasukannya mengepung rumah Habibie dan Istana Negara pada 21 Mei 1998 malam dan menjadi dalang (mastermind) kerusuhan etnis di Jakarta, Prabowo menyangkal dengan keras.

”Saya tidak pernah mengancam Habibie, saya tidak pernah berada di belakang kerusuhan 13-14 Mei. Saya tidak pernah mengkhianati Pak Harto. Saya tidak pernah mengkhianati negara saya sendiri.”

Tuduhan bahwa dirinya berniat ”menyandera” Habibie itu dirasakan Prabowo sebagai sesuatu yang berlebihan. Dia mengakui, sejak lama hubungan dirinya dengan Habibie sangat baik. Sosok Habibie sendiri di mata Prabowo cukup perfect.

Berbekal hubungan pribadi yang begitu dekat itu, Prabowo menuturkan, setelah Soeharto terkena stroke pertama pada Desember 1997, Habibie -yang diakui Prabowo sangat berpeluang menggantikan Soeharto- mengatakan hal penting kepada dirinya.

”Berkali-kali dia mengatakan, ‘Seandainya saya menjadi presiden, kamu akan saya jadikan KSAD. Kamu akan jadi perwira berbintang empat’,” tutur Prabowo menirukan ucapan Habibie.

Hubungan yang terbina baik selama bertahun-tahun itu, menurut Prabowo, terputus begitu saja ketika dia akan menghadap Habibie pada 22 Mei 1998 di Istana Merdeka. Suasana yang begitu tegang ketika Prabowo menyerahkan pistolnya kepada petugas Istana sebelum bertemu Habibie justru membuat Prabowo bertanya-tanya sendiri.

”Saya berbuat menurut prosedur resmi. Tapi, saya diinformasikan mau mengadakan kudeta. Informasi itu keliru. Saya percaya ada kelompok tertentu yang menginginkan saya menjadi kambing hitam untuk menutupi keterlibatan mereka (dalam drama kerusuhan 13-14 Mei),” ungkapnya.

Berbeda dengan hubungannya yang mulus dengan Habibie di waktu lalu, Prabowo mengakui hubungannya dengan Wiranto sejak lama memang kurang akrab. Wiranto tumbuh dalam budaya Jawa yang kuat, sedangkan Prabowo sangat kosmopolit. Selain itu, Wiranto banyak bertugas sebagai perwira staf kodam, sedangkan Prabowo besar dalam tugas-tugas pertempuran.

”Tidak ada jalinan hubungan baik di antara kami. Tidak pernah kami bertugas dalam kesatuan yang sama. Kami berasal dari latar belakang yang berbeda,” jelas Prabowo.

Saling asing satu sama lain ini, menurut Prabowo, sangat terasa ketika dia gagal mencegah rencana Wiranto ke Malang pada 13 Mei 1998 untuk memimpin upacara Kostrad di Malang. Wiranto secara tegas mengatakan ”Tidak!” ketika Prabowo memintanya untuk tidak datang ke Malang.

”Sepanjang hari itu, saya menelepon kantornya sebanyak delapan kali dan semua jawabannya sama bahwa the show must go on,” aku Prabowo.

Perbedaan dengan Wiranto kembali muncul ketika cuaca politik yang panas menerpa Jakarta menjelang rencana Amien Rais mengumpulkan massa di Kompleks Monas pada 19 Mei 1998. Dalam rapat perwira tinggi militer yang dipimpin Wiranto menjelang showdown Amien Rais, Prabowo yang ikut dalam rapat sempat mendengar ucapan mengejutkan dari Wiranto.

”Rapat yang dipimpin Wiranto mengatakan bahwa perintah yang dibuat adalah mencegah masuknya para pendemo dengan segala cara (at all cost). Saya bertanya berkali kali apa maksud perintah itu. Apakah akan digunakan peluru tajam. Dia (Wiranto) tidak memberikan jawaban jelas,” tutur Prabowo.

Diungkapkan pula oleh mantan Pangkostrad itu bahwa salah satu peristiwa yang sangat menyakitkan hatinya adalah peristiwa sehari sebelum dan sesudah Soeharto lengser. Saat menghadapi Habibie, dia berkata,

”Pak, bapak sepuh mungkin akan lengser. Siapkah Anda menggantikannya. Dia (Habibie) menjawab ‘Ya, ya, ya’. Selanjutnya, saya meminta dia untuk mempersiapkan diri.”

Merasa apa yang dilakukannya secara konstitusional dibenarkan, Prabowo lega. Aksi-aksi di Jakarta dia duga akan berangsur-angsur mereda dan langkah Pangdam Jaya Sjafrie Samsoeddin mengatasi massa sangat tepat. Namun, ketika Soeharto sudah lengser, Prabowo tidak menyangka akan diperlakukan semena-mena oleh keluarga mertuanya itu.

Ketika Prabowo menuju rumah Soeharto, dia melihat Soeharto duduk dikelilingi kelompok Wiranto. Dia menuturkan lagi, begitu wajahnya terlihat, putri bungsu Soeharto, Siti Endang Hutami Adiningsih atau Mamiek, langsung menghardik Prabowo dengan kasar.

”Dia menatap saya, mengacungkan jari telunjuknya hanya berjarak satu inci tepat di muka hidung saya, sambil berkata, ‘Kamu pengkhianat. Jangan injakkan kakimu di rumah saya lagi’. Saya kemudian keluar dan istri saya, Titik, menangis,” urai Prabowo.

Pada 22 Mei 1998, sesudah salat Jumat, Prabowo di Makostrad ditelepon Mabes AD. Prabowo diminta menanggalkan benderanya. Perintah itu dia artikan, tak lain, adalah bahwa dirinya akan diganti. Merasa ada yang kurang beres, Prabowo langsung menghadap Habibie di istana. Langkah l itu, meski berisiko, dia ambil karena alasan kuat.
image

”Saya ingat perkataan Habibie. ‘Prabowo, kapan pun kamu ragu, temui saya setiap waktu dan jangan berpikir tentang protokol’. Saya l kenal betul dengan Habibie selama bertahun-tahun. Saya jawab oke.”

Setelah melalui momen cukup tegang saat bertemu para petugas protokoler istana, Prabowo langsung menemui Habibie. Begitu bertemu, Habibie langsung mencium kedua belah pipinya.

Kemudian, Prabowo berkata, ”Pak, apakah Anda sudah mendengar saya akan diganti? Dia mengatakan ‘Ya, ya, ya’. Setelah itu, dia (Habibie) berkata bahwa mertua saya (Pak Harto) meminta agar saya diganti. Katanya, itu yang terbaik. Jika saya berhenti dari dinas di AD, dia akan menunjuk saya menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat.”

Prabowo mengaku sangat terkejut mendengar ucapan Habibie itu. Dia langsung pamitan keluar dan berusaha menemui KSAD Subagyo Hadisiswoyo ketika itu. Dalam perjalanan menuju Mabes AD, Prabowo sempat bertemu para jenderal pendukungnya. Kolega koleganya itu berpesan, ”Mari kita konfrontasi saja!” Mendengar pesan tersebut, Prabowo mengaku hanya bisa diam.

Setelah itu, Prabowo bertemu Danjen Kopassus Muchdi Purwopranjono dan
sepakat membangun persepsi bahwa pergantian Pangkostrad tersebut hendaknya tetaplah dikesankan sebagai pergantian biasa. Pesan ini disampaikan kepada Subagyo. Lantas, Subagyo yang juga senior Prabowo itu menghadap Wiranto.

Usulan manis tersebut ternyata tak digubris Wiranto. Prabowo memperoleh kabar dari Subagyo bahwa Wiranto tidak mau ada penundaan penggantian Pangkostrad.

”Wiranto mengatakan penggantian Pangkostrad harus terjadi hari itu juga,” tutur Prabowo. Sementara itu, tentang tuduhan berada di belakang kerusuhan etnis 13-14 Mei di Jakarta, Prabowo secara tegas mengatakan bahwa tuduhan itu sangat tidak berdasar. Prabowo tahu persis bahwa menghancurkan Cina di Indonesia akan merugikan Indonesia sendiri.

”Siapa pun tidak bisa memungkiri orang Cina memainkan peranan sangat besar dalam perekonomian kita. Sangat tidak masuk akal menghancurkan mereka,” tegasnya.

Prabowo juga amat menyayangkan sikap Menko Polkam Feisal Tanjung dan Pangab Wiranto yang konsisten menyangkal bahwa perintah membuat kerusuhan tersebut berasal dari mereka atau datang langsung dari Soeharto sebagai Pangti.

Tuduhan bahwa perintah tersebut berasal dari Prabowo justru hanya didengar Prabowo dari siaran-siaran radio.

”Orang-orang itu (Feisal dan Wiranto) tidak mempunyai keberanian untuk menghadapi saya atau memanggil saya. Harus saya katakan, segala sesuatu yang saya lakukan, semuanya sepengetahuan para atasan saya, dengan restu dan di bawah perintah mereka langsung,” tandasnya.

Prabowo mengakui, mungkin saja perintah itu tidak dalam satu rangkaian komando. Sebab, tuturnya, bos-bosnya itu senang bekerja secara melompat-lompat dalam berbagai level. Bagi dia sendiri, operasi dilakukan semata-mata untuk menghentikan kampanye teror. Dia juga secara tulus mengakui pernah bersikap kurang hati-hati. Namun, dia memastikan bahwa dirinya tidak pernah memperoleh order menyiksa orang.[5]

B.4.1.2 Perlawanan Prabowo Pada Benny Moerdani

Perlawanan Prabowo Pada Benny Moerdani

Screenshot_2016-06-07-12-48-11_1

Informasi luar biasa. Penjelasan sistematis yang membongkar politik intelijen negara yang selama puluhan tahun tersembunyi dan tak diketahui masyarakat. Ini lebih dari sekadar soal Prabowo Subianto, tapi soal kebenaran informasi politik.

Tentang Prabowo Subianto sang Senopati Wirang untold Story …

  1. Sedikit orang yang tahu bhw perkawinan Prabowo Subianto dgn Titik H Suharto pada thn1983 adalah berkat jasa LB Moerdani
  2. Prabowo pada 1982 – 1985 berpangkat Mayor adalah staf khusus Menhankam/Pangab LB Moerdani. Moerdani sdh lama mengamati Prabowo
  3. Sejak lulus Akmil berpangkat Letda, Moerdani serius mencermati/menilai perilaku, karakter dan kinerja Prabowo. Kesimpulannya : Luar Biasa
  4. Disamping memiliki kejeniusan (IQ 152), Prabowo sangat berani, patriotik, sangat cinta tanah air. Dalam cerita2 Jawa : Senopati Wirang
  5. Menhankam / Pangab LB Moerdani tahu persis Prabowo sdh dijodohkan dengan putri seorang jenderal yg juga dokter. Moerdani diam2 tdk setuju
  6. Pada tahun 1982-1985 itu LB Moerdani adalah tokoh yang sangat dipercayai oleh Presiden Soeharto. Saran2nya didengar dan sering diterima
  7. Besarnya Kepercayaan Soeharto kepada Moerdani krn dia selalu menunjukan loyalitasnya thdp Soeharto. Jadi pengaman kekuasaan Soeharto/Orba
  8. LB Moerdani kebetulan jg penganut Katolik, sama dgn Ibu Tien. Pak Harto Islam abangan, lebih ke Kejawen (Bhirawa). Moerdani lobi Bu Tien
  9. Moerdani melobi Ibu Tien agar setuju mengambil Mayor Prabowo menjadi calon menantu, menjodohkannya dgn Titiek Hediati Hariyadi Suharto
  10. Bu Tien setuju dan Pak Harto pun setuju. Mereka tidak tahu Prabowo sdh bertunangan. Akhirnya tunangan dbatalkan, Prabowo nikahi Titiek
  11. Semula LB Moerdani berharap Prabowo akan menjadi mata dan telinganya di Cendana. Menjadi tangan kanan Moerdani dlm menggapai cita2nya
  12. LB Moerdani tidak menyangka Mayor Prabowo setelah jadi menantu Soeharto malah mengkhianati Moerdani, berpihak kepada Pak harto/Cendana
  13. Moerdani salah menganalisa dan menilai Prabowo yg islam abangan, berayahkan sosialis sekuler, ibu dan saudara2nya kristen/non muslim 
  14. Moerdani merasa tdk berisiko ketika dia memaparkan rencananya selaku Menhankam/Panglima ABRI utk menghancurkan islam RI scra sistematis
  15. Termasuk rencana Moerdani utk merekayasa stigma negatip pada umat Islam Indonesia sbg “ancaman terhdap Negara dan kekuasaan Soeharto”
  16. Contohnya ABRI membantai ratusan umat Islam pada peristiwa Tanjung Priok. Moerdani melakukan pengondisian agar Islam = musuh negara!
  17. Moerdani memaparkan bgmn ABRI “menciptakan terorisme Islam”, “pembangkangan Islam”, “Islam Phobia” dst ..lalu menumpasnya scra keji
  18. Moerdani menapak karier di ABRI dgn cara menciptakan Islam sbg musuh negara dan kemudian ditumpas. Penghargaan dan pujian Suharto utknya
  19. Ketika Prabowo tahu rencana besar dan rekayasa2 yang pernah dilakukan Moerdani dlm rangka membenturkan Islam dgn Pak Harto, dia bocorkan
  20. Prabowo melaporkan rencana keji Moerdani terhadap umat Islam Indonesia kepada Suharto, mertuanya. Pak Harto kaget, marah dan menyesalkan
  21. Sebelumnya, Pak Harto sdh lama mendengar adanya rekayasa petinggi ABRI terhadap sejumlah peristiwa terkait “makar kelompok Islam”, tapi
  22. Tapi, Pak Harto abaikan, ia nilai itu hnyalah ekses rivalitas di internal ABRI. Kali ini informasi itu datang dari menantunya sendiri
  23. Prabowo menilai Moerdani punya agenda lebih besar dengan merekayasa benturan antara Umat islam dgn Suharto. Moerdani ingin jadi Presiden
  24. Cita2 Moerdani menjadi Presiden setelah Pak Harto lengser sangat besar dan hanya bisa terwujud jika Islam dan Pak Harto bermusuhan
  25. Karena jika Hubungan Umat Islam dan Pak Harto baik/normal, maka akan sulit bagi Moerdani yang Katolik menjadi wapres pada tahun 1988.
  26. Pak Harto pasti memperhatikan aspirasi umat Islam saat penetapan wapresnya pada 1988. Oleh sebab itu hub Suharto – Islam harus dirusak
  27. Selanjutnya, Moerdani berharap, setelah menjabat wapres pada 1988, kemungkinan besar Pak Harto akan mundur pd 1993. Moerdani jadi RI -1
  28. Rencana KEJI Moerdani terhadap umat islam Indonesia ini dinilai Prabowo sangat membahayakan posisi Pak Harto. Islam mayoritas di RI
  29. Lebih kecil risikonya bagi Soeharto membina hubungan baik dgn umat Islam drpd menjadikan Islam sbg musuh negara. Prabowo membocorkannya
  30. Setelah dpt laporan Prabowo mengenai rencana keji ABRI diotaki Menhankam/Pangab Moerdani, Soeharto tdk langsung bertindak. Diamati diam2
  31. Pak Harto diam2 mencegah rencana keji LB Moerdani dgn menempatkan / promosikan sejumlah perwira tinggi ABRI yang kuat keislamannya
  32. Selain mempromosikan perwira2 Islam ABRI, Pak Harto juga promosikan perwira2 dari kesatuan lain yg tdk berhubungan dgn jaringan Moerdani
  33. Akibatnya Menhankam/Pangab Moerdani tdk lagi bisa bergerak bebas karena dikelilingi oleh jenderal2 Islam (TNI Hijau). Dia terjepit
  34. Puncak kekesalan Moerdani terjadi ketika Pak Harto mencopot Moerdani dari jabatan Pangab thn 1988 dan menunjuk Try Soetrisno jadi Pangab
  35. Try Soetrisno tdk berasal dari Akmil tapi dari Atekad (akademi teknik AD), bukan perwira intelijen, tdk ada sentuhan dari Moerdani
  36. Moerdani yang marah dan kecewa thdp Soeharto kemudian merencanakan balas dendam besar2an dgn berencana menjatuhkan Soeharto
  37. Sebelumnya pada tahun 1984, Moerdani berhasil mengompori umat Islam agar marah kepada Suharto dgn menerapkan kewajiban azas tunggal
  38. Seluruh Ormas dan partai di Indonesia harus mencantumkan Pancasila sbg satu2nya azas. Tdk boleh Islam atau azas lain. HARUS PANCASILA
  39. Reaksi keras umat Islam thdp penerapan azas tunggal Pancasila memang diharapkan Moerdani. Bahkan Moerdani kondisikan agar Islam berontak
  40. Reaksi keras umat Islam thdp penerapan azas tunggal Pancasila memang diharapkan Moerdani. Bahkan Moerdani kondisikan agar Islam berontak
  41. Jaringan intelejen Moerdani disusupkan ke ormas2 Islam dan ditugaskan untuk mengipasi2i tokoh2 ormas Islam memberontak thdp Suharto
  42. Tujuannya agar Suharto marah sama Islam dan Islam dinilai sbg ancaman thdp negara/Suharto, lalu ABRI diperintahkan membantai “musuh tsb”
  43. Rencana Benny Moerdani kandas, gagal total, karena ormas2 Islam juga didekati orang2 Suharto dan diberi pengertian kondisi sebenarnya
  44. Moerdani kemudian tahu bahwa penyebab kegagalan rencana besarnya menstigmasasi Islam sbg musuh negara dikarenakan laporan Prabowo
  45. Prabowo sempat “dibuang” oleh Moerdani dgn mutasikannya menjadi Kasdim (kepala staf kodim), namun oleh Kasad Rudini, Prabowo dipulihkan
  46. Sejak itu, dalam otak Moerdani ada 2 musuh besar yang harus dihancurkan yakni Prabowo dan Suharto. Moerdani susun rencana strategis
  47. Puluhan tahun menjadi “DEWA” di ABRI dan Intelijen, antek2 Moerdani masih banyak. Dua yang menonjol : Luhut Panjaitan dan Hendropriyono
  48. Meski LB Moerdani sdh tdk jadi panglima ABRI dan Menhankam, dia masih bisa memerintahkan Hendropriyono utk back up PDI Megawati
  49. Saat itu Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Presiden Suharto khususnya melalui PDI. Kongres PDI terpecah menghasilkan PDI Kembar
  50. Keberadaan PDI kembar: satu diketuai Soerjadi dan satu lagi dipimpin Megawati, bisa terjadi karena ada dukungan jenderal pro Moerdani
  51. Oh ya lupa, keberhasilan Prabowo meyakinkan Pak Harto dan Ibu Tien thdp bahaya besar yang sdg direncanakan Moerdani, menyebabkan ..
  52. Menyebabkan Pak Harto dapat menerima& mempercayai Prabowo sepenuhnya, termasuk saran Prabowo agar Pak Harto membina hub mesra dgn Islam
  53. Penerapan azas tunggal Pancasila yang menimbulkan reaksi keras umat Islam, tidak meletus menjadi bencana dgn perubahan sikap Pak Harto
  54. Pak Harto mulai mendekati Islam. Ibu Tien menjadi mualaf, disusul Pak Harto dan kemudian Pak Harto sekeluarga menunaikan Ibadah Haji
  55. Pak Harto berhasil membangun hub harmonis dgn umat Islam. Suatu hubungan baik yang belum pernah terjalin selama 24 thn Suharto berkuasa
  56. Tahun 1990 merupakan tahun kemerdekaan umat Islam Indonesia setelah “dijajah dan ditindas” selama 24 tahun Orde baru/Suharto
  57. Puncaknya 7 Des 1990 ICMI didirikan di UniBraw Malang. Tahun 1993 menteri2 Kabinet dan petinggi2 ABRI mulai dijabat tokoh/perwira Muslim
  58. Benny Moerdani dan kelompoknya terus mencari jalan bgmn menghancurkan Soeharto dan Prabowo. Akhirnya ditemukan cara: Penculikan !
  59. Penculikan/pembunuhan sejumlah warga pada tahun 1997 menjelang pemilu dan kemudian diikuti dgn penculikan/pembunuhan setelah SU MPR 1998
  60. Saat terjadi Penculikan/pembunuhan menjelang pemilu 1997 sama sekali belum ada tuduhan kepada Kopassus sbg terduga pelakunya
  61. Namun ketika Tim Mawar melakukan penculikan aktivis pada 2-4 Februari 1998 dan 12-13 Maret 1998 dlm rangka terjadi kebocoran operasi
  62. Kebocoran informasi mengenai operasi Tim Mawar dlm rangka pengaman SU MPR terjadi karena ada 1 target, yakni andi arief belum diringkus
  63. Andi Arief sempat kabur, dicari kemana2, akhirnya ditemukan di persembunyiannya di Lampung. Dibawa ke Jakarta jalur darat via Bakauheni
  64. Saat Tim Mawar menaiki Kapal Ferry di Bakauheni, petugas polisi menghentikan Tim Mawar yang membawa Andi Arief dgn mata tertutup kain
  65. Meski Tim Mawar kemudian diizinkan masuk Ferry setelah menunjukan kartu pengenal, kejadian ini dilaporkan polisi ke DenPom Lampung
  66. Dan DenPom Lampung meneruskan info ini ke DanPuspom TNI di Jakarta. Saat itulah info bocor, lalu ditunggangi oknum2 TNI binaan Moerdani
  67. Peristiwa penangkapan andi arief di Lampung dan dibawa ke Jakarta pada tgl 28 Maret 1998, ditunggangi dgn terjadinya penculikan lain
  68. Penculikan lain/susulan pada tanggal 30 Maret 1998 dengan korban Petrus Bima Anugrah, dilakukan oleh Tim Lain BUKAN Tim Mawar
  69. Sebelumnya Tim Lain juga sdh menunggangi penculikan Herman Hendarwan pada tgl 12 Maret 1998. Para korban ini hilang/mati dibunuh
  70. Korban penculikan Tim Lain semua dibunuh, mayoritas non muslim agar menimbulkan kesan pembunuhan dilakukan oleh Kopassus pimp Prabowo
  71. Fitnah terhadap Prabowo, Kopassus melalui penculikan/ pembunuhan warga/aktivis adalah utk tujuan akhirnya utk melemahkan Suharto. Knp?
  72. Karena untuk menghancurkan Suharto harus terlebih dahulu menghancurkan penopang utama kekuasaan Suharto yakni TNI
  73. Kekuatan inti TNI ada pada Kopassus sebagai kesatuan elit yang plg dibanggakan TNI. Moerdani cs hancurkan Suharto dgn menghancurkan TNI
  74. Pemilihan target korban yg umumnya non muslim/katolik dimaksudkan “menghilangkan jejak pelaku” sekaligus memancing perhatian Dunia
  75. Seolah2 di Indonesia sdg berkuasa rezim Suharto yang anti katolik/ Kristen. Media2 yg dimiliki katolik/kristen pun bersuara sangat keras
  76. Akibatnya, Prabowo – Kopassus – TNI – Suharto babak belur dihajar dan difitnah Moerdani cs melalui penunggangan operasi Tim Mawar ini
  77. Namun Pak Harto tetap bertahan. Sampai akhirnya terjadi peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang diawali dgn penembakan thdp Mhswa Trisakti
  78. Peristiwa Trisakti jelas ditunggangi kelompok Benny Moerdani dgn memfitnah Polres JakBar, Brimob dan Kopassus sbg pelakunya.
  79. Krisis Moneter yg diperburuk oleh perampokan fasilitas BLBI oleh bankir cina melalui rekayasa kredit & tagihan pihak ketiga yg macet dll
  80. Sampai hari ini Negara kita masih terbebani utang BLBI sebesar lebih Rp 600 triliun, baru lunas dibayar via APBN hingga 2032 yad
  81. Krisis Moneter, rekayasa opini, fitnah, kerusuhan Mei 1998 menjadi penyebab utama kejatuhan Soeharto 20 Mei 1998
  82. Pada saat kerusuhan Mei 1998 kembali TNI, Kopassus dan Prabowo dijadikan kambing hitam oleh kelompok Moerdani cs yg berkolaborasi dgn KG
  83. Situasi kacau dan tak terkendali dimanfaatkan para perusuh diduga kesatuan loyalis Moerdani cs utk membakar kota dan mengeruhkan situasi
  84. Kehadiran sekelompok orang tdk dikenal membuat rusuh, terkordinir dan ini yang dibaca Prabowo sbg faktor dominan yg membahayakan negara
  85. Paska kerusuhan dikembangkan opini sampai ke seluruh dunia seolah2 telah terjadi pemerkosaan thdp wanita2 cina, tuduhan itu tdk terbukti
  86. Tuduhan itu tdk terbukti sama sekali. Secara teori pun mustahil ada org yg sempat dan berhasrat lakukan pemerkosaan di tengah2 kerusuhan
  87. Tuduhan itu hanya utk menjatuhkan TNI, menhancurkan Suharto dan Prabowo. Fitnah itu sukses besar. Suharto pun termakan fitnah tsb
  88. Laporan sejumlah jenderal lgsg ke Suharto menghasilkan pengusiran Prabowo oleh keluarga krn dianggap pengkhianat
  89. Prabowo tdk diberi kesempatan menjelaskan fakta sebenarnya kpd Suharto. Operasi Inteljen, penyesatan fakta &informasi Moerdani cs SUKSES
  90. Operasi itu sangat rapi, cermat dan dibantu media2 kolaborator moerdani seperti hariankompas grup. Prabowo dicap pengkhianat Suharto
  91. Peran KG (konspirasi global) sgt dominan. Sejak Suharto mualaf dan mesra dgn umat Islam, Suharto tdk lagi jadi “Hadiah Terbesar” utk AS
  92. Kebangkitan Islam Indonesia era 1990an dinilai jadi ancaman oleh AS, Barat, Australia & Singapore. Sejalan dgn teori pasca perang dingin
  93. Teori/pendapat Samuel P. Hutington dlm tulisannya “The Clash of Civilization” (benturan peradaban) terus menerus dikembangkan di Barat
  94. Islam dikembangkan sbg musuh baru dunia Barat paska kejatuhan Komunis Uni Soviet & Eropa Timur. Islam di RI juga dinilai sbg ancaman
  95. Upaya penjatuhan Suharto yg sdg mendorong kebangkitan Islam di Indonesia setelah 24 thn dijajah bangsa sendiri, dijdkan agenda utama KG
  96. Penjatuhan Suharto itu sekaligus utk melakukan imperialisme baru atas Indonesia melalui LOI IMF – RI yang menghancurkan kedaulatan RI
  97. Plus menerapkan demokrasi liberal yg tdk sesuai dgn demokrasi Pancasila, yang menyebabkan para kapitalis dgn mudah menjadi penguasa2
  98. Era 1998-2004 Indonesia gonjang ganjing tanpa henti, gangguan keamanan, kerusuhan dimana2, ekonomi morat marit, pers tak terkendali
  99. Pers menjadi penguasa baru yg dominan, membentuk opini, mengarahkan dan membentuk persepsi rakyat sesuka hati dan sesuai agenda masing2
  100. Pers jd the first state. Opini mengendalikan kebijakan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Trial by the press menjadi tontonan sehari2
  101. Pencopotan Prabowo selaku Pangkostras juga disebabkan penyesatan informasi. Bermula dari laporan ke Panglima TNI ttg adanya pasukan liar
  102. Pangkostrad Prabowo mengantisipasi gerakan pasukan liar tsb dgn mengerahkan pasukan kostrad dlm rangka pengamanan, malah jadi sasaran
  103. Apalagi ketika hasil penyisiran gedung2 di sekitar Istana/Ring 1 ditemukan sejumlah besar senjata dan amunisi di Gedung Humpus (Gambir)
  104. Kontan Prabowo dituduh sbg penimbun senjata dan amunisi dlm jumlah besar yg ditemukan di lantai 3 Gedung Humpus tsb, Prabowo difitnah
  105. Usaha Prabowo menjelaskan bhw dirinya MUSTAHIL melakukan kudeta atau menggulingkan presiden Habibie tdk diterima Presiden Habibie
  106. Opini yang begtu kuat menyudutkan Prabowo adlah hasil misinformation (penyesatan) & deception (pengelabuan) oleh kelompok Moerdani cs
  107. Begitu kuatnya rekayasa opini dan fitnah dilancarkan kepada Prabowo sehingga Habibie, petinggi2 TNI dan publik LUPA pada SATU HAL :
  108. Mereka LUPA pada SATU HAL yang menjadi sifat dan karakter dasar Prabowo yang sdh sejak muda menjadi ciri khas/trade marknya yakni:
  109. Yakni Prabowo memiliki patriotisme yang luar biasa, kecintaannya terhadap bangsa dan negara yang luar biasa. Mustahil dia melakukan itu
  110. Kami pernah ditegur keras Mayjen Hariyadi Darmawan,, mantan ketua Alumni UI : Saya jamin dgn jiwa raga saya ttg PATRIOTISME PRABOWO !!!
  111. “Orang seperti PRABOWO TDK AKAN MUNGKIN melakukan tindakan sekecil apapun yang dapat membahayakan negara !” Itu pesan Hariadi pada kami
  112. Tokoh seperti Prabowo lah yang dibutuhkan bangsa ini, tokoh yang sepanjang hidupnya hanya memikirkan nasib bangsa. Bukan jongos cina !
  113. Tokoh seperti Prabowo lah yg dibutuhkan rakyat Indonesia, tokoh yg akan jadikan Indonesia MACAN ASIA. Bukan jongos asing. MERDEKA BUNG ! (Blog Special Return, Facebook)

B.4.2. Laporan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta)

Perlu ada pelurusan sejarah agar tak ada pengaburan data kelak. Peristiwa Trisakti merupakan titik balik penting dalam sejarah Indonesia kontemporer. Empat mahasiswa yang gugur hari itu menjadi pahlawan reformasi,” kata penulis buku Politik huru-hara Mei 1998, Fadli Zon kepada merdeka.com.

Fadli membeberkan lima belas tahun lalu, Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto disudutkan karena dituduh melakukan pertemuan makar di Makostrad 14 Mei 1998. Laporan akhir TPGF (Tim Gabungan Pencari Fakta) menyimpulkan untuk menyelidiki dan mengungkap peran Prabowo dalam pertemuan di Makostrad 14 Mei 1998. TPGF melihat pertemuan itu berkaitan dengan terjadinya kerusuhan di Jakarta Mei 1998.

Satu hari setelah TPGF menyampaikan laporannya, informasi yang berkembang seolah-olah pertemuan Makostrad adalah rahasia merancang kerusuhan dan dalangnya Letjen Prabowo.

“Saya hadir dalam pertemuan tersebut. Tuduhan merancang kerusuhan jelas fitnah besar. Pertemuan itu hanya silaturahmi dan diskusi tanpa rencana. Dilakukan malam hari 14 Mei setelah Magrib, digagas Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Rendra, Bambang Widjojanto dan lain-lain. Prabowo menyampaikan informasi mutakhir situasi. Para tokoh yang hadir membantah hasil laporan TPGF. Bagaimana merancang kerusuhan, padahal huru hara sudah terjadi,” kata Fadli membela Prabowo.

SELANJUTNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 2]

Iklan

3 responses »

  1. […] Kembali ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 3] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 2] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 1] […]

    Suka

  2. […] SEBELUMNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 1] […]

    Suka

  3. […] IMF kepada negara-negara anggotanya untuk terus mendorong liberalisasi ekonomi,” ungkap Ishak.   Pada saat krisis Asia termasuk Indonesia pada tahun 1997-1998, IMF masuk ke Indonesia dengan memberikan pinjaman yang disertai dengan syarat agar Indonesia […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s