SEBELUMNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [Part 2]


BAB VI KESIMPULAN

1. Sebab pokok peristiwa Kerusuhan 13-14 mei 1998 adalah terjadinya persilangan ganda antara dua proses pokok yakni proses pergumulan elit politik yang bertalian dengan masalah kelangsungan kekuasaan kepemimpinan nasional dan proses pemburukan ekonomi moneter yang cepat. Di dalam proses pergumulan elit politik itu, ada pemeran-pemeran Makostrad tanggal 14 Mei 1998, patut diduga dapat mengungkap peranan pelaku dan pola pergumulan yang menuju pada kerusuhan yang terjadi.

2. Peristiwa kerusuhan 14 Mei 1998 adalah puncak dari rentetan kekerasan yang terjadi dalam berbagai peristiwa sebelumnya, seperti penculikan yang sesunguhnya sudah berlangsung lama dalam wujud kegiatan inteljen yang tidak dapat diawasi secara efektif dan peristiwa Trisakti. Dapat disimpulkan bahwa peristiwa penembakan mahasiswa di Trisakti telah menciptakan faktor martir yang telah menjadi pemicu (triggering factor)kerusuhan.

3. Dari fakta di lapangan terdapat tiga pola kerusuhan, yaitu:

Pertama, kerusuhan bersifat lokal, sporadis, terbatas dan spontan, berlangsung dalam waktu relatif singkat dan dengan skala kerugian serta korban yang relatif kecil. Kerusuhan dengan pola seperti ini terjadi karena situasi sosial-ekonomi-politik yang secara obyektif sudah tidak mungkin dicegah.

Kedua, Kerusuhan bersifat saling terkait antar-lokasi, dengan model yang mirip Provokator dalam jenis kerusuhan ini berperan lebih menonjol dibanding jenis kerusuhan pertama. Mereka bukan berasal dari lokasi yang bersangkutan. Kemudian, ada kemiripan, atau bahkan keseragaman waktu dan urutan-urutan kejadian. Karena jenis kerusuhan ini skalanya besar, dan beberapa tempat, bahkan mengindikasikan berlangsung secara berurutan secara sistematik. Namun, belum ditemukan indikasi bahwa kerusuhan jenis ini direncakan dan pecah secara lebih luas daripada sekedar bersifat lokal yang berurutan. Terdapat mata rantai yang terputus (missing link) bagi pembuktian bahwa kerusuhan ini terjadi kondisi objektif. Kerusuhan jenis ini skalanya besar dan didapati semua tempat.

Ketiga, terdapat indikasi bahwa kerusuhan terjadi karena sengaja. Unsur kesengajaan lebih besar, dengan kondisi objektif yang sudah tercipta. Jenis kerusuhan ini umumnya mirip dengan jenis kedua, tetapi unsur penumpangan situasi jauh lebih jelas. Pada jenis atau pola ketiga ini, diduga kerusuhan diciptakan sebagai bagian dari pertarungan politik di tingkat elite. Sebagaimana halnya pada kerusuhan jenis kedua, terdapat sejumlah mata rantai yang hilang (missing link) yaitu bukti-bukti atau informasi yang merujuk pada hubungan secara jelas antara pertarungan antar elite dengan aras massa.

4. Dari temuan lapangan, banyak pihak yang berperan di semua tingkat, baik sebagai massa aktif maupun provokator unytuk mendapatkan keuntungn pribadi maupun kelompok atau golongan, atas terjadinya kerusuhan. Kesimpulan ini merupakan penegasan bahwa terdapat keterlibatan banyak pihak, mulai dari preman lokal, organisasi politik dan massa, hingga adanya keterlibatan sejumlah anggota dan unsur di dalam ABRI yang di luar kendali dalam kerisuhan ini. Mereka mendapatkan keuntungan bukan saja dari upaya secara sengaja untuk menumpangi kerusuhan, melainkan juga dengan cara tidak melakukan tindakan apa-apa. Dalam konteks inilah, ABRI tidak cukup bertindak untuk mencegah terjadinya kerusuhan, padahal memiliki tanggung jawab untuk itu. Di lain pihak, kemampuan masyarakat belum mendukung untuk turut mencegah terjadinya kerusuhan.

5. Angka pasti korban jiwa secara nasional tidak dapat diungkapkan, karena adanya kelemahan dalam sistem pemantauan serta prosedur pelaporan. Korban jiwa terbesar diderita oleh rakyat kebanyakan. Mereka sebagian besar meninggal karena terbakar. Mereka tak dapat dipersalahkan begitu saja dengan stigma penjarah. Begitu juga nilai kerugian material secara pasti tak dapat dihitung, hanya dapat diperkirakan.

6. Bedasarkan fakta yang ditemukan dan informasi dari saksi-saksi ahli, telah terjadi kekerasan seksual, termasuk perkosaan, dalam peristiwa Kerusuhan tanggal 13- 14 mei 1998. Dari sejumlah kasus yang dapat diverifikasi dapt disimpulkan telah terjadi perkosaan yang dilakukan terhadap sejumlah perempuan oleh sejumlah pelaku di bebagai tempat yang berbeda dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan, dapat terjadi secara spontan karena situasinya mendukung atau direkayasa oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu. Korban adalah penduduk indonesia dengan berbagai latar belakang, yang diantarannya kebanyakan adalah etnis Cina.

7. Belum dapat dipastikan bahwa kekerasan seksual yang terjadi merupakan kegiatan yang terencana atau semata ekses dari kerusuhan. Tidak ditemukan fakta tentang adanya aspek agama dalam kasus kekerasan seksual. Juga disimpulkan, bahwa perangkat hukum positif tidak memadai dan oleh karena itu tiadak responsif untuk memungkinkan semua kasus perkosaan yang ditemukan atau dilaporkan dapat diproses secara hukum dengan segera.

8. Peristiwa kerusuhan ini semakin meluas oleh karena kurang mamadainya tindakan-tindakan pengamanan guna mencegah, membatasi dan menanggulangi pecahnya rangkaian perbuatan kekerasan yang seharusnya dapat diantisipasi dan yang kemudian berproses secara eskalatif. Dapat disimpulkan bahwa adanya kerawanan dan kelemahan operasi keamanan di Jakarta khususnya bertalian erat dengan kerusuhan pengembangan tanggung jawab Pangkoops Jaya yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana yang seharusnya. Gejala kerawanan dan kelemahan keamanan dalam gradasi yang berbeda-beda di berbagai kota lain di mana terjadi kerusuhan, juga bertalian dengan masalah pergumulan elit politik pada tingkat Nasional.

9. Ditegaskan korelasi sebab-akibat dari peristiwa-peristiwa kekerasan yang memuncak pada peristiwa kerusuhan 13-14 mei 1998, dapat dipersepsi sebagai suatu upaya ke arah penciptaan situasi darurat yang memerlukan tindakan pembentukan kekuasaan konstitusional yang ekstra, guna mengendalikan keadaan, yang persiapan-persiapan ke arah itu telah dimulai pada tingkat pengambilan keputusan tertinggi.

BAB VII REKOMENDASI


Dari kesimpulan di atas TGPF menyampaikan rekomendasi kebijakan dan kelembagaan sebagi berikut:

1. Pemerintah perlu melakukan penyelidikan lanjutan terhadap sebab-sebab pokok dan pelaku utama peristiwa kerusuhan 13-14 Mei 1998, dan kemudian menyusun serta mengumumkan buku putih mengenai peranan dan tanggung jawab serta keterkaitan satu sama lain dari semua pihak yang bertalian dengan kerusuhan tersebut. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penyelidikan terhadap pertemuan di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 guna mengetahui dan mengungkap serta memastikan peran Letjen. Prabowo dan pihak-pihak lainya, dalan seluruh proses yang menimbulkan terjadinya kerusuhan.
2. Pemerintah perlu sesegera mungkin menindaklanjuti kasus-kasus yang diperkirakan terkait dengan rangkaian tindakan kekerasan yang memuncak pada kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang dapat diungkap secara yuridis baik terhadap warga sipil maupun militer yang terlibat dengan seadil-adilnya, guna menegakkan wibawa hukum, termasuk mempercepat proses Yudisial yang sedang berjalan. Dalam rangkaian ini Pangkoops Jaya Mayjen Syafrie Syamsoeddin perlu dimintakan pertanggung jawabannya. Dalam kasus penculikan Letjen Prabowo dan semua pihak yang terlibat harus dibawa ke pengadilan militer. Demikian juga dalam kasus Trisakti, perlu dilakukan berbagai tindakan lanjutan yang sungguh-sungguh untuk mengungkapkan peristiwa penembakan mahasiswa.
3. Pemerintah harus segera memberikan jaminan keamanan bagi saksi dan korban dengan membuat undang-undang dimaksud. Sementara undang-undang tersebut belum terbentuk, pemerintah segera membuat badan permanen untuk melaksanakan program perlindungan terhadap para korban dan saksi (victim and witness protection program).
4. Pemerintah harus memberikan rehabilitas dan kompensasi bagi semua korban dan keluarga kerusuhan. Pemerintah juga untuk mengurus surat-surat berharga milik korban. Terhadap gedung-gedung yang terbakar, pemerintah perlu segera membantu pembangunan kembali gedung-gedung tersebut, terutama sentra-sentra ekonomi dan perdagangan serta fasilitas-fasilitas sosial.
5. Pemerintah perlu segera meratifikasi konvensi internasional mengenai anti-diskriminasi rasial dan merealisasikan pelaksanaanya dalam produk hukum positif, termasuk implementasi konvensi anti penyiksaan.
6. Pemerintah perlu segera membersihkan segala bentuk premanisme yang berkembang di semua lingkungan, lapisan dan profesi masyarakat sesuai dengan hukum yang berlaku, dan menetapkan secara hukum pelarangan penggunaan seragam-seragam militer atau yang menyerupai seragam militer bagi organisasi massa yang cenderung menjadikannya sensasi organisasi para militer.
7. Pemerintah perlu segera menyusun undang-undang tentang intelejen negara yang menegaskan tanggung jawab pokok, fungsi dan batas ruang lingkup pelaksanaan operasi intelejen pada badan pemerintah/negara yang berwenang, sehingga kepentingan keamanan negara dapat dilindungi dan di pihak lain hak asasi manusia dapat dihormati. Yang tak kurang penting adalah bahwa kegiatan operasi intelejen dapat diawasi secara efektif oleh lembaga-lembaga pengawas, sehingga tidak berubah menjadi instrumen kekuasaan bagi kepentingan politik dari pihak tertentu.
8. Pemerintah perlu membentuk mekanisme pendataan lanjutan yang dapat menampung proses pemuktahiran data-data tentang semua aspek yang menyangkut kerusuhan tanggal 13-15 Mei 1998.

BAB VIII STATUS HUKUM

1. Keseluruhan bahan-bahan dan dukomentasi serta Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari Fakta diserahterimakan kepada pemerintah cq Menteri Kehakiman pada saat berakhirnya tugas TGPF.
2. Dengan Selesainya tugas Tim Gabungan Pencari Fakta, maka secara hukum segala hak, kewajiban dan tanggung jawab sebagai anggota berakhir.

BAB IX PENUTUP

Peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998 adalah tragedi nasional yang sangat menyedihkan dan merupakan satu aib terhadap martabat dan kehormatan manusia, bangsa dan negara secara keseluruhan. Pemerintah maupun masyarakat harus secara sungguh-sungguh mengambil segala tindakan untuk mencegah terulangnya peristiwa semacam kerusuhan tersebut. Adalah mendesak bahwa perhatian dan solidaritas semua pihak diwujudkan secara nyata kepada para korban dan keluarga korban, sehingga pemulihan hak-hak sebagai satu bangsa yang beradab juga ditentukan sejauh mana bangsa kita dapat mengkoreksi kelemahan dan kekurangannya, secepat apa kita menghilangkan rasa takut dan mewujudkan rasa tenteram dan aman untuk setiap orang tanpa terkecuali.

TIM GABUNGAN PENCARI FAKTA

1. Marzuki Darusman, SH 
2. Mayjen Pol Drs. Marwan Paris, MBA 
3. K.H. Dr. Saisd Aqiel Siradj 
4. Dr. rosita Sofyan Noer, MA
5. Zulkarnain Yunus, SH 
6. Asmara Nababan, SH 
7. Marsma TNI Sri Hardjo, SE
8. Drs. Bambang W. Soeharto 
9. Prof. Dr. Sapariah Sadli 
10. Mayjen TNI Syamsu D, SH 
11. Mayjen Pol Drs. Da'I Bachtiar 
12. Mayjen TNI Abdul Ghani,SH 
13. I Made Gelgel, SH 
14. Mayjen TNI Dunidja D
15. Romo I sandyawan Sumardi, SH
16. Nursyahbani Katja Sungkan,SH
17. Abdul Hakim Garuda, Sh, LLM
18. Bambang Widjojanto, SH

Menurut Fadli, pertemuan Makostrad justru bicara mengenai upaya-upaya yang mungkin dilakukan untuk mengatasi situsi saat itu.

“Inilah distorsi sejarah yang dibangun ketika itu dalam upaya mencari kambing hitam dan menutupi dalang sesungguhnya. Sehingga yang terjadi pada Pangkostrad Letjen TNI Prabowo adalah black propaganda, propaganda hitam,” kata Fadli.

Menurut Fadli, ada pertanyaan masih tersisa, kenapa Panglima ABRI waktu itu, Jenderal Wiranto membawa para Jenderal ke Malang. Padahal Jakarta sedang dilanda kerusuhan?

Salah satu keganjilan dalam episode kerusuhan Mei 1998 adalah ketika sejumlah pimpinan ABRI (sekarang TNI) malah tak berada di Jakarta. Mereka berbondong-bondong diboyong ke Malang untuk menghadiri upacara pemindahan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dari Divisi I ke Divisi II Kostrad.

“Acara seremonial ini sama sekali tak penting jika dibandingkan keadaan Jakarta di tengah rusuh. Upacara di Malang dihadiri Pangab Jenderal TNI Wirsnto, KSAD Jenderal TNI Subagyo HS, Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto, Danjen Kopassus Muchdi PR dan beberapa petinggi militer lainnya,” kritik wakil ketua umum Partai Gerindra ini.

Mereka berangkat pagi ke Malang dan pulang siang hari. Prabowo berkali-kali menyarankan agar acara tersebut ditunda namun Wiranto  tetap mengharuskan. Ketika para Jenderal kembali ke Jakarta, kerusuhan tak dapat dikendalikan.

“Hingga kini saya masih heran, mengapa Pangab bersikukuh pergi ke Malang padahal Jakarta dilanda huru hara. Ini masih misteri. Mudah-mudahan bukan usaha pembiaran,” tutupnya.[6]

Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 ada di belakang Jokowi-JK dengan mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar) untuk melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menjadi penghalang utama mereka ketika mencoba mendeislamisasi Indonesia.

C. Kerusuhan Tragedi Mei 1998 di Kota-Kota Besar di Indonesia

Tragedi Mei 1998 tidak berlangsung di Jakarta saja. Tragedi tersebut juga terjadi di kota-kota besar lainnya. Diantaranya Medan, Solo, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan lain-lain. Namun disini saya mengulas kerusuhan di 3 kota besar yakni Medan, Jakarta dan Solo dikarenakan 3 kota besar itulah yang kerugiannya lebih besar daripada kota-kota lainnya.

C.1. Kerusuhan di Medan

Sebelum Jakarta, kerusuhan Mei 1998 lebih dulu landa Kota Medan. Menjelang lengsernya Soeharto dari kursi presiden, Kota Medan dan sekitarnya lebih dulu dilanda kerusuhan. Daerah ini tak terkendali dan lumpuh pada Rabu, 6 Mei 1998.

Saat itu, ratusan ruko dilempari dan dirusak. Sejumlah kendaraan dibakar. Sedikitnya 5 orang tewas dan puluhan orang tertembak.

Salah satu pusat kerusuhan ada di kawasan Medan Tembung. Haris (36) menjadi salah satu saksi peristiwa itu. Dia bercerita, 6 Mei 1998 pagi Buana Plaza di Jalan Aksara Medan dijarah.

“Tapi tak semua dijarah, sepertinya hanya satu toko yang di bagian depan. Kalau tak salah toko itu menjual pakaian dan sepatu. Waktu saya ke sana, kaca toko itu sudah berganti dengan tripleks. Polisi dan PHH pun sudah berjaga di sana,” jelas Haris kepada merdeka.com di Medan.

Beredar kabar bahwa penjarahan di Buana Plaza itu dipicu pelecehan mahasiswa IKIP Medan (sekarang Unimed) oleh aparat keamanan.

“Bertepatan pula Presiden Soeharto malam harinya pas tanggal 5 Mei menaikkan harga BBM, bensin naik dari Rp 700 menjadi Rp 1.200, sehingga warga semakin mudah diprovokasi. Kami sempat ditanyai wartawan TV asing yang meliput di Aksara, waktu kami jawab kerusuhan itu dipicu kenaikan harga BBM, reporter perempuan itu sepertinya tak terima. Menurutnya, kerusuhan itu disebabkan pelecehan mahasiswa oleh aparat,” ucapnya.

Haris kemudian bercerita, setelah suasana Buana Plaza terkendali, terjadi pemblokiran jalan dengan cara pembakaran ban di kawasan Jalan Letda Sudjono, yang merupakan penghubung kawasan Aksara ke Tembung. Jalan dari dan menuju pintu tol Bandar Selamat yang ada di jalan itu terblokade. Serombongan tentara pun digerakkan ke sana.

Sementara itu, di Jalan Mandala By Pass, sekitar satu blok dari Jalan Aksara, terlihat konsentrasi massa di depan ruko tempat berdagang material bangunan. Sejumlah laki-laki dewasa mencoba menjebol pintu ruko, namun tak berhasil.

Massa semakin banyak dan beringas. Mobil Datsun pikap yang ada di depan toko didorong dan dihantamkan ke depan pintu ruko. Pintu pun menganga. Massa leluasa mengambil barang dagangan dan harta benda pemilik ruko.

“Di antara orang-orang itu, teman saya ada mengenali seorang polisi berpakaian sipil. Kalau tak salah, waktu itu dia mengambil gosokan dari dalam toko,” jelas Haris.

Massa berlomba-lomba keluar masuk ruko. Televisi besar Sony Kirara Baso tampak diangkat dari dalam ruko. Tak lama berselang, seorang pemuda keluar menggotong kulkas besar sebelum naik ke sepeda motor yang dikendarai temannya. Dia memangku mesin pendingin itu di boncengan. Mereka kemudian melaju sambil berteriak, “Merdeka!”

Haris mengaku prihatin melihat kejadian itu. Terlebih setelah dia menengadah ke atap ruko yang dijarah. Satu keluarga warga Tionghoa hanya bisa memandang dari lantai paling atas. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tak ada kata-kata.

Saat itu, dua pria berboncengan dengan sepeda motor bersemangat mengabarkan bahwa gudang di kawasan Jalan Padang, tak jauh dari pintu Tol Bandar Selamat sudah dijarah. Mereka mengarahkan agar massa bergerak ke sana. “Kami tidak ke sana. Kami bergegas pulang ke rumah di Perumnas Mandala. Kami senang tidak terlibat dalam penjarahan itu,” ucap Haris.

Kabar penjarahan gudang di seputaran Jalan Padang ternyata benar. Aksi massa yang lebih besar memang mulai terjadi di pergudangan di kawasan itu. Sedikitnya ada tiga gudang dijarah.

Semula gudang beras di Jalan Letda Sudjono dekat pintu tol, yang juga tak jauh dari Jalan Padang, digasak massa. Penjarahan kemudian bergeser ke gudang yang menyimpan barang pecah belah di Jalan Baru, masih di seputaran Jalan Padang. Meski laki-laki juga ikut, penjarah di sini umumnya perempuan. Mereka datang dari berbagai daerah yang dekat dengan kawasan itu, termasuk dari Perumnas Mandala.

“Kami sampai bingung mau mengambil apa, banyak sekali barang pecah belahnya. Polisi dan tentara yang ada di sana malah mempersilakan masuk dan meminta kita berhati-hati karena banyak kaca yang pecah,” ujar seorang perempuan yang tak mau disebutkan namanya.

Hari semakin petang, suasana kian ramai dan tak terkendali. Sasaran massa bergeser ke gudang besar di Jalan Tirtosari, sekitar 500 meter dari gudang di Jalan Baru.

Isi gudang di Jalan Tirtosari beraneka ragam. Selain memang sangat besar, tempat itu memang disewakan kepada produsen maupun distributor berbagai barang dagangan. Warga berduyun-duyun ke sana. Begitu ramainya warga yang datang membuat Jalan Tirtosari sulit dilintasi.

Kebanyakan warga datang berjalan kaki. Sebagian di antara mereka memarkirkan kendaraan di kawasan lain, seperti di Jalan Rajawali, Perumnas Mandala. Kendaraan-kendaraan itu kemudian dipenuhi dengan barang jarahan.

Meski hari telah malam, penjarah berulang kali keluar masuk gudang. Sebagian bangunan itu pun mulai terbakar. Api semakin membesar dan terlihat dari kejauhan. Ledakan pun berulang kali terdengar. Namun, gudang itu terus dijarah.

Dari dalam gudang, massa keluar membawa berbagai barang jarahan. Ada yang menggotong berkardus-kardus alat kantor, alat sekolah, biola, bola kaki, bola basket, gitar, sepatu, kursi lipat, lingkar sepeda, peralatan rumah tangga, bahan bangunan, hingga mesin-mesin.

“Bahkan ada ibu hamil yang mengikat dua closed jongkok dan menggantungkannya di bagian depan dan belakang tubuhnya, seperti ransel dibuatnya. Di gudang itu memang banyak sekali barang,” kata seorang pria yang mengaku ada di lokasi penjarahan.

Aparat keamanan berseragam dan bersenjata memang datang tengah malam ke kawasan Jalan Padang. Rentetan tembakan bahkan terdengar. “Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pemuda roboh dekat rel kereta api antara Jalan Padang dengan Jalan Rajawali Perumnas Mandala. Perutnya jebol. Belakangan setelah baca berita di koran, kudengar dia tewas,” kata pria yang juga tak mau disebutkan namanya itu.

Penjarahan di gudang Jalan Tirtosari ini dikabarkan tetap berlangsung hingga pagi. Barang di gudang itu masih ada, meskipun sebagian bangunan terbakar. “Memang sebagian gudang terbakar, tapi tidak ada korban jiwa di sana. Kalau yang tertembak di dekat rel itu saya enggak tahu,” kata Sumondang, warga yang tinggal tak jauh dari gudang itu.

Saat ini, gudang besar itu sudah tak ada lagi. Lahannya sudah dijual dan sekarang menjelma jadi kompleks pergudangan SBC 2. Terdapat 29 gudang minimalis di sana.

“Kompleks pergudangan ini dibangun sekitar 2 tahun lalu. Dulu satu, sekarang banyak pemiliknya, jadi tak lagi disewakan seperti dulu,” ucap Mulyono, sekuriti di kompleks SBC 2.

Selain di kawasan Medan Tembung, penjarahan dan perusakan juga terjadi di sejumlah tempat di Kota Medan dan Deliserdang, seperti di Simpanglimun, Jalan Krakatau, Jalan Sutomo, Pulo Brayan, Kampung Baru, Tembung, Sampali, Tanjungmorawa, dan lain-lain. Selain pertokoan, showroom, bank dan perkantoran juga menjadi sasaran massa. Perekonomian lumpuh.

“Waktu itu parah sekali, seperti tidak ada hukum. Rasa marah pada keadaan dan ketamakan bercampur. Mudah-mudahan ini jadi pelajaran semua pihak agar peristiwa itu tak terulang,” harap Haris.[8]


SELANJUTNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 4]

Iklan

3 responses »

  1. […] Lanjut ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 4] Kembali ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 2] […]

    Suka

  2. […] ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 3] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 2] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s