SEBELUMNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 3]


Foto-Foto Kerusuhan di Medan:

image

image

image

image

image

image

image

image

(Sumber Gambar: Kaskus)

C.2. Kerusuhan di Jakarta

image

C.2.1. Sejarah Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

12 Mei 1998 merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kerusuhan yang terjadi di Indonesia mengikuti dilantiknya Soeharto setelah tujuh tahun berturut-turut pada bulan Maret di tahun yang sama. Yang membuat rakyat marah kemungkinan adalah karena Soeharto berseru tentang reformasi politik dan ekonomi, tapi pada kenyataannya Kabinet Pembangunan VII – kabinet buatan Soeharto pada saat itu berisi anggota keluarga dan kroni-kroni Soeharto, termasuk anak didiknya, Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai wakil presidennya.

Sebelum terjadi kerusuhan di Jakarta, Medan telah terlebih dahulu menyalakan api kebencian akan pemerintahan Soeharto. Pada awal Mei dimulai, para pelajar sudah mulai menjalankan aksi demonstrasi di kampus-kampus sekitaran Medan selama dua bulan. Jumlah pelajar yang mengikuti aksi demonstrasi ini terus bertambah seiring makin lantangnya panggilan dari masyarakat untuk reformasi total. Hal yang membuat mahasiswa semakin berang adalah tewasnya salah satu mahasiswa pada 27 April yang kesalahannya dilemparkan pada pihak berwajib yang melemparkan gas air mata ke kampus dan mencapai puncak pada tanggal 4 hingga 8 Mei saat pemerintah memutuskan menaikkan harga minyak sebesar 70% dan 300% untuk biaya listrik.

Pada tanggal 9 Mei, presiden Soeharto terbang menuju group of 15 summit di Kairo, Mesir. Sebelum berangkat, Soeharto berkata pada masyarakat untuk menghentikan protes mereka dan seperti yang dituliskan di Suara Pembaruan, bahwa ia menyatakan kalau hal ini terus berlanjut, tidak akan ada kemajuan di Indonesia. Soeharto yang awalnya dijadwalkan untuk kembali ke Jakarta pada 14 Mei, pulang lebih cepat saat kerusuhan di Jakarta mencapai titik kritis, sebuah kejadian yang akan mencatat Sejarah Kelam Tragedi Trisakti, Mei 1998 di Indonesia.

Kericuhan di Jakarta mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei ketika pihak kepolisian dan tentara mulai menembaki mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi protes damai. Tragedi ini menewaskan 4 orang, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Belasan orang juka terluka sebagai hasil dari tragedi ini. Penembakan protestan tanpa senjata ini menyebabkan kerusuhan yang sebelumnya sudah terjadi menjadi tambah marak di seluruh Indonesia, dan pada akhirnya melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinannya.

C.2.1.1. Kronologi Tragedi Trisakti

Protes yang menjadi kejadian kunci sejarah kelam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dimulai pada pukul 10 siang dan diikuti lebih dari 6000 mahasiswa, staff, dan dosen yang berkumpul di lapangan parkir universitas Trisakti. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menurunkan bendera Indonesia menjadi setengah tiang yang menyimbolkan duka atau kesengsaraan. Baru ketika hari mulai siang, para protestan ini bersiap-siap untuk melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Belum jauh dari kampus, mereka dihentikan oleh oleh pihak kepolisian, tepatnya di depan kantor walikota Jakarta Barat. Sebagai respon dari penghentian mereka, para protestan ini kemudian menduduki jalan S. Parman dan menghalangi jalur lalu lintas. Setelah bantuan dari pihak militer datang untuk membantu kepolisian, dekan fakultas hukum, Adi Andojo, berhasil membujuk para demonstran kembali ke kampus. Pada saat itu, pasukan pengamanan yang ada di lokasi adalah Polisi Brimob, KOSTRAD, dan Kodam Jaya. Mereka dipersenjatai dengan perisai huru-hara, gas air mata, Steyr AUG, dan Pindad SS-1.

Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, hampir seluruh demonstran telah kembali ke area kampus Trisakti. Sesaat setelah kembali inilah, cemoohan terdengar dari kumpulan polisi dan tentara, diikuti dengan rentetan tembakan yang menyebabkan para demonstran panik dan tercerai berai. Kekacauan ini memakan dua korban jiwa, yaitu Elang Mulya Lesmana dan Hendriawan Sie yang saat itu sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat di gedung Dr. Syarif Thayeb. Korban jiwa kembali jatuh ketika para mahasiswa yang belum mengungsi berkumpul di sebuah ruangan terbuka. Tentara-tentara yang diposisikan di atap gedung terdekat terus menembak, melukai banyak mahasiswa dan mengambil nyawa dari Heri Hartanto dan Hafidin Royan. Penembakan baru berhenti pada pukul 8 malam, dan pihak kampus bergegas membawa mereka yang terluka menuju rumah sakit terdekat.

Sejarah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ini seperti disebutkan di atas memakan 4 korban jiwa yang semuanya merupakan mahasiswa dari universitas Trisakti. Keempat mahasiswa ini kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api reformasi di hati masyarakat-masyarakat Indonesia yang lainnya. Meski begitu, sebelum presiden Soeharto turun, sempat ada kerusuhan yang jauh lebih besar di Jakarta yang menewaskan 1200 orang tewas yang kebanyakan dikarenakan oleh terjebaknya orang-orang itu di dalam gedung yang dibakar. Pada saat itu, penjarahan terjadi dimana-mana, dan warga Indonesia keturunan Tiongkok menjadi korban penganiayaan dan berbagai tindakan lainnya oleh masyarakat yang menjadi buas.

C.2.2. Jakbar dibanjiri orang tak dikenal

Dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa 13-15 Mei 1998, ternyata kerusuhan Mei itu mempunyai pola umum yang dimulai dengan berkumpulnya massa secara pasif yang terdiri dari massa lokal dan massa pendatang (tak dikenal).

Kemudian setelah itu muncul sekelompok provokator yang memancing massa dengan berbagai modus tindakan seperti membakar ban atau memancing perkelahian, meneriakkan yel-yel yang memanasi situasi, merusak rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya.

Salah satu pelaku sejarah Mei 1998, yang menyaksikan sendiri kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, khususnya di Jakarta Barat, Jaja menuturkan, dia menyaksikan roda perekonomian di Jakarta berhenti setelah kejadian penembakan Mahasiswa Trisakti pada Selasa 1998. Contohnya pasar Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat.

“Pokoknya pas ada penembakan mahasiswa di Grogol, besoknya (Rabu, 13 Mei), di Glodok habis toko-toko dijarah,” tutur Jaja, petugas parkir yang berada di bawah kolong jembatan area perbelanjaan Glodok kepada merdeka.com, Sabtu (11/5).

Pria yang sudah sejak tahun 1984 menjadi tukang parkir di kawasan Glodok itu menceritakan, awal-awal kerusuhan yang berbuntut pada penjarahan massal toko-toko di Harco Glodok itu bermula sekitar pukul 08.00 WIB. Ratusan massa yang tidak diketahui berasal dari mana, berkumpul di depan Harco Glodok.

“Saya enggak tahu dari mana datangnya itu orang-orang, yang pasti bukan orang sekitar sini. Awalnya mereka hanya ngumpul-ngumpul, baru sorenya, mereka mulai ngejarah toko-toko di harco. Sebelum mereka ngejarah, basement Glodok City ini ada yang ngebakar,” ujar Jaja.

Meski massa sudah mulai berkerumun di depan Harco Glodok, pria asal Pandeglang, Banten ini tidak melihat adanya petugas keamanan berjaga di sekitar lokasi. Petugas keamanan seperti TNI, khususnya Marinir disiagakan di depan Plaza Gajah Mada. Sedangkan di kawasan Taman Sari, dia tidak melihat adanya petugas keamanan.

“Kalau di sini ga ada petugas. Tapi kalau di sana, di Gajah Mada, banyak Marinir yang stand by,” terang Jaja.

Pada Rabu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, ratusan warga yang sudah berkerumun dari pagi tersebut mulai melakukan penjarahan. Mereka membongkar dan membawa lari peralatan elektronik seperti televisi, radio, hingga kulkas. Saat itu, Jaja hanya bisa terdiam, tanpa bisa melakukan apa-apa melihat penjarahan tersebut.

“Tapi meski toko-toko pada dijarah, orang-orang sini bilang harco jangan ada yang dibakar,” ujar Jaja.

Kerusuhan tidak hanya terjadi di sekitar Harco Glodok, di Stasiun Kereta Api Beos, ratusan massa membakar kendaraan melintas. Kendaraan yang dibakar tersebut dibiarkan teronggok di tengah jalan.

“Yang saya lihat, orang-orang yang naik motor, yang lewat stasiun Beos, motornya dibakar, orangnya ada juga yang dipukulin,” kata Jaja.

Selain di wilayah Kecamatan Taman Sari, sejumlah kecamatan di Jakarta Barat dilanda kerusuhan yang berujung pada aksi penjarahan, dan pembakaran pusat perbelanjaan. Di Kecamatan Kembangan, sejumlah supermarket Hero, Jameson, hingga bioskop 21 dijarah dan dibakar. Di Cengkareng, Plaza Cengkareng juga tidak luput dari aksi penjarahan dan pembakaran.[9]

Foto-Foto Kerusuhan di Jakarta:

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

(Sumber Gambar: Kaskus)

C.3. Kerusuhan di Solo

Berdasarkan catatan Solopos, bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan kali pertama terjadi di UNS Solo, 17 Maret 1998, kemudian merembet ke Ibukota dan kota-kota lain. Awalnya dipicu kematian Mozes Gatutkaca—aktivis mahasiswa Yogyakarta 8 Mei karena tindakan kekerasan aparat keamanan. Disusul Tragedi Trisakti yang menewaskan enam orang, 12 Mei. Sejak itu, unjuk rasa pun mengalami eskalasi luar biasa.

Kamis, 14 Mei 1998, ribuan mahasiswa UMS menggelar demo keprihatinan atas tewasnya Mozes dan Tragedi Trisakti. Kekacauan terjadi setelah ada batu melayang ke arah demonstran, disusul terjadi hujan batu. Ribuan demonstran akhirnya berlari mundur ke Kampus UMS. Sementara, lainnya membalas lontaran gas air mata aparat dengan batu.

Dua mahasiswa anggota tim negosiasi yang tak ikut lari ke kampus, tertinggal. Tak pelak, keduanya jadi bulan-bulanan oleh sejumlah oknum aparat keamanan. Puncak kemarahan massa terjadi saat insiden aparat menginjak-injak seorang demonstran yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan. Massa berteriak mengecam tindakan itu. Itulah awal kerusuhan Mei Kelabu yang menghanguskan sekaligus menghancurkan Kota Bengawan.

Gerakan Massa

Massa berjalan ke timur. Sesampai di depan showroom dan diler resmi mobil Timor, tiba-tiba terdengar teriakan, ”hancurkan”. Seketika, massa melempari dengan batu hingga seluruh kaca showroom yang tak terlihat ada mobilnya itu berantakan.

Massa kembali bergerak. Kali ini, showroom Bimantara di timur diler Timor jadi sasaran. Pelemparan batu meningkat setelah massa lepas dari Perempatan Gendengan. Restoran Akuarius, Kentucky Fried Chicken adalah sasaran pertama pelemparan. Sembari bergerak, massa terus melempari hampir semua pertokoan maupun gedung perkantoran di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Namun, sejauh itu, belum ada pembakaran.

Insiden pembakaran meletus kali pertama saat pergerakan massa sampai di Kantor BCA, Gladak. Sebuah mobil yang diparkir di halaman, dibakar massa. Setelah itu, giliran mobil di Bank Danamon, dan di Bank Indonesia. Massa sempat menyerbu Kantor PT Telkom dan Balaikota, tapi urung menyusul kedatangan sepasukan Kostrad. Ketika ribuan orang hendak menyerbu Balaikota. massa mulai terpecah, sebagian menuju kompleks pertokoan Matahari Beteng.

Sementara, massa di depan Balaikota yang telah menyemut hingga puluhan ribu orang itu menuju Jalan Urip Sumoharjo. Massa menyasar Bank Bumi Artha, Bank Buana, bekas Bank Bali.
Dua mobil di depan Losmen Trio, turut pula diamuk dan dibakar. Berbarengan dengan itu, di sejumlah kawasan Solo lainnya seperti di Nusukan, Gading, Tipes, Jebres, serta hampir seluruh penjuru kota juga meletus aksi serupa.
Kerusuhan kian meluas. Massa di hampir seantero kota turun ke jalan melakukan pelemparan dan pembakaran bangunan maupun mobil dan motor. Bahkan juga penjarahan.

se

Asap mengepul di mana-mana. Di Jalan Slamet Riyadi yang semula hanya terjadi pelemparan, berganti pembakaran. Di antaranya Wisma Lippo Bank dan Toko Sami Luwes. Supermarket Matahari Super Ekonomi (SE), serta Cabang Pembantu (Capem) Bank BCA di Purwosari, yang semula hanya dilempari, akhirnya dibakar. Di Solo bagian utara, massa membakar Terminal Bus Tirtonadi. Tak kurang dari empat bus ikut dibakar. Di Solo bagian barat, amuk massa juga menerjang Kantor Samsat, Jajar.

PLZ

Plaza Matahari Singosaren

Selain itu, Plasa Singosaren berlantai tiga turut pula dihanguskan. Matahari Department Store. Bangunan itu terletak di simpang Jalan Honggowongso dan Jalan dr Radjiman, Serengan, Solo, Jawa Tengah.

Bangunan yang sudah berganti bernama menjadi Singosaren Plaza ini, sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda dan masih terus berbenah. Singosaren Plaza awalnya merupakan pasar tradisional. Sekitar 20 tahun silam, pasar itu dikontrak dan dikelola pihak ketiga.

Pasar tradisional kemudian disulap menjadi pusat perbelanjaan modern yang diberi bernama Matahari Department Store. Meski telah mengalami perubahan besar, masih terselip pedagang tradisional.

Kesaksian warga

Hendra Saputra, warga Jayengan RT 01 RW 09, merupakan saksi hidup penghancuran dan pembakaran Matahari Department Store oleh massa.

“Dulu itu seingat saya, sekitar jam dua siang ada segerombolan orang yang melakukan perusakan. Memecah kaca Matahari dengan dilempar batu sampai hancur. Tak lama banyak orang menjarah barang-barang,” ujar Hendra kepada merdeka.com.

Hendra, yang saat itu masih bersekolah di SMP Al Islam 1 Solo, menambahkan, setelah puas menjarah, massa kemudian membakar Matahari. Tak hanya itu, mereka berteriak-teriak mengajak warga lainnya untuk ikut membakar. Bangunan-bangunan yang berdiri di sekitarnya pun ikut dijarah, dan dibakar.

“Setelah membakar Matahari, saya lihat gerombolan orang banyak lari ke selatan, dan membakar dealer Ramayana,” kenangnya.

Hendra bersyukur pasar kebanggaan warga Solo tersebut kembali berdiri gagah. Dia berharap, kejadian Mei 1998 tak akan terulang lagi. Sehingga, warga Solo bisa hidup tenang, tanpa dibayang-bayangi kerusuhan lainnya.

Lain lagi dengan Watik, saksi hidup hancur dan pembangunan kembali Singosaren Plaza itu, meski sudah berpindah ke Pasar Kadipolo yang posisinya tidak berjauhan, perempuan yang sudah puluhan tahun berdagang di Pasar Singosaren itu, tahu persis bagaimana perubahan wajah Pasar Singsosaren dari pasar tradisional menjadi supermarket.

Setelah dibangun menjadi Matahari, seluruh pedagang dipindah ke pasar Kadipolo, tapi ada juga yang tetap bertahan dengan membeli kios yang sudah disediakan.

“Saya berjualan di Singosaren sudah 25 tahun. Ketika pasar Singosaren dibangun menjadi pasar modern, para pedagang yang ada saat itu dipindahkan ke Pasar Kadipolo. Tapi saya masih bertahan, karena saya jual buah-buahan, jadi tetap di sana. Tapi karena sepi saya pindah ke pasar Kadipolo,” ujarnya.

Watik mengisahkan ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998 aktivitas ekonomi benar-benar lumpuh. Kini, Singosaren Plaza, atau Matahari Department Store telah berubah wajah seiring banyaknya mal dan pusat perbelanjaan. Matahari tetap mengisi tenant yang disediakan, ditambah pusat sandang, toko emas, pusat handphone dan sebagainya.

Saat ini pasar yang terletak di kawasan Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo tetap dikelola pihak ketiga, untuk lantai dasar dikelola Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Solo yang berisi 254 kios dan 17 los pasar tradisional.

Selain Matahari Department Store, Atrium 21 Solo Baru juga menjadi korban dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 lalu. Bangunan yang menjadi pusat hiburan terbesar dan termegah di Solo kala itu, hancur dibakar massa. Kini hanya tersisa semak belukar dan sebuah pintu gerbang.

Tak jauh dari Atrium 21, terdapat rumah yang sempat ditinggali Harmoko, mantan Menteri Penerangan era Soeharto. Bangunan berbentuk Joglo Jawa di Jalan Rambutan, Solo Baru tersebut juga luluh lantak tak berbekas.

Bahkan di dalam rumah tersebut terdapat seperangkat gamelan yang terbuat dari kuningan yang juga hancur terbakar. Kondisinya tak beda jauh dengan Atrium 21. Menurut beberapa tetangga, pemilik tanah sudah berganti.

“Setahu saya sudah bukan milik pak Harmoko lagi, sudah ada yang beli. Senin besok malah akan dibangun rumah,” ujar Husein yang tinggal di Jalan Mangga itu. [10]

Monza Dept Store di sebelahnya, diremuk, juga toko sepatu Bata dan beberapa toko lain. Peristiwa kerusuhan juga terjadi di kawasan Gading dan sekitarnya.

Aksi masih berlanjut

Kerusuhan tak hanya di Solo. Massa di barat Kampus UMS bergerak ke barat dan melakukan kerusuhan di Kartasura. Mereka membakar Kantor Bank BCA, Lippo, Danamon serta ATM BII, di samping pertokoan serta sebuah supermarket di Jalan Raya Kartasura, Sukoharjo, Toserba Mitra. Diler Suzuki, salon, toko kain, toko elektronik serta toko mebel dibakar.

Pada Jumat 15 Mei, aksi perusakan dan pembakaran masih berlanjut. Sekitar pukul 07.00 WIB masyarakat dikejutkan oleh asap hitam tebal yang membubung ke angkasa dari kawasan Gladak. Ternyata, Plasa Beteng telah dibakar massa.

Setelah itu berturut-turut sejumlah tempat yang semula luput dari amukan massa pada hari sebelumnya, akhirnya disasar juga. Toserba Ratu Luwes, Luwes Gading, pabrik plastik di Sumber serta puluhan tempat lain dibakar dan dijarah massa. Begitu juga pembakaran terhadap kendaraan roda dua dan empat masih terjadi di beberapa jalan di Kota Bengawan.

Menurut saksi mata, amuk massa di Solo, 14-15 Mei itu, ada yang memprovokasi. Dua saksi, seorang guru dan seorang alumnus sebuah PTS menyatakan pelaku kerusuhan adalah sekelompok orang dengan dandanan khas. ”Mereka berkelompok 10 sampai 20 orang, menutup muka dengan sapu tangan dan melakukan provokasi sepanjang jalan agar warga ikut merusak.” Kedua orang itu menyatakan kesaksian mereka dalam dialog kerusuhan yang diadakan SMPT UMS, 12 Juni.

Ketika asap kebakaran mulai sirna dan emosi massa mulai menurun, baru diketahui bahwa kerusuhan selama dua hari itu ternyata telah menelan korban jiwa 33 orang. Mayat mereka yang telah dalam keadaan hangus diketahui setelah dilakukan bersih-bersih atas puing-puing amuk massa.

Dari 33 mayat itu, 14 di antaranya ditemukan terpanggang di dalam bangunan Toserba Ratu Luwes Pasar Legi. Sedangkan 19 lainnya terpanggang di Toko Sepatu Bata kawasan Coyudan. Di sisi lain, akibat banyaknya toko, swalayan, dan tempat usaha lain (lebih dari 500 buah) dirusak massa, mengakibatkan sekitar 50.000 hingga 70.000 tenaga kerja (Naker) Solo menganggur.

Menurut catatan Akuntan Publik Drs Rachmad Wahyudi Ak MBA, yang juga Managing Partner KAP Djaka Surarsa & Rekan Solo, kerugian fisik usaha yang ada di plasa dan supermarket mencapai sekitar Rp 189 miliar. Sementara, nilai total kerugian di Solo total Rp 457,5 miliar.

Catatan Saksi Mahasiswa UNS

Pada bulan Mei 1998 saya masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UNS Solo semester II. Gelombang demonstrasi menuntut Soeharto turun selain di Jakarta dan kota lain juga berkobar di Boulevard UNS. Salah satu orang yang sering berorasi saat demo yang saya ingat adalah Ulin Ni’am Yusron.

Mulai sekitar jam 10 hingga sore demo terus berlangsung tiada henti, bahkan pada saat hari Jumat pun sebagian teman-teman solat Jumat di Boulevard dengan anjuran ber tayamum karena memang tidak ada kran air di sekitar Boulevard, kemudian melanjutkan demo lagi.

Pada saat itu opininya adalah kampus adalah mimbar demokrasi sehingga tabu dimasuki oleh polisi. Namun suatu hari demo aparat polisi pernah menyerang mahasiswa kedalam kampus, sehingga para mahasiswa berlarian kocar-kacir, termasuk saya setelah lari kira-kira 50m dibantu oleh teman yang tidak saya kenal menawarkan untuk segera naik motornya karena polisi sudah sangat dekat.

Pada siang hari tanggal 14 Mei 1998, saya (yang dari Jogja) pulang ke Solo dengan tetap menggunakan Prameks. Dalam perjalanan ada keanehan yang saya rasakan. Kereta penuh sesak, orang berjubel dan sampai susah untuk berjalan. Di sepanjang jalan sisi rel banyak orang bergerombol, duduk dengan raut muka tegang. Memasuki kota Solo sebelum sampai stasiun sudah banyak bangunan yang terbakar. Saya masih belum tahu apa yang terjadi.

Tiba di stasiun Balapan Solo ternyata sudah banyak orang mengantri berdesakan persis di sisi rel untuk naik kereta yang akan menuju Jogja kembali. Ini keanehan kedua yang saya ketahui. Setelah turun dan berada di gerbang stasiun seperti biasa saya menunggu bis yang lewat untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus UNS di Kentingan.

Setelah lama menunggu tidak ada satu pun bis yang lewat, bahkan sempat Pak Becak emosi karena saya tidak mau naik becaknya padahal dia sudah berulang kali mengatakan bis tidak ada yang berani jalan karena ada kerusuhan.

Saya tidak langsung percaya, hingga akhirnya memutuskan berjalan kaki dari stasiun Balapan sampai perempatan (bang-jo) dekat SD Margoyudan. Karena tidak ada bis yang lewat saya memutuskan naik becak sampai perempatan Panggung. Sebelum tanggul sudah ada rumah makan yang terbakar. Di perempatan Panggung ada tentara dan tank yang siaga penuh, terpasang juga kawat berduri yang panjang, gedung disekitar Panggung sudah hangus, sisa-sisa ban yang terbakar dan ada yang belum padam.

Setelah sampai di Panggung (nama daerah di Solo), saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di kos dekat kampus UNS. Beberapa gedung pertokoan di sepanjang jalan Kol Sutarto dan Ir Sutami juga bayak yang terbakar. Setelah sampai di kos ternyata ada teman saya sempat menjarah satu karung gula dari toko yang diserbu massa.

Saya memang tidak menyaksikan langsung proses penjarahan, gerakan massa dan pembakaran gedung karena siang hari tanggal 14 Mei peristiwa tersebut memang sudah selesai.

Keesokan harinya saya berkeliling kota, banyak toko-toko besar yang hangus terbakar seperti Pasar Singosaren, SE Purwosari hingga rumah Harmoko dan bioskop di Solo Baru juga tidak luput dari bidikan massa.

10 Hal Yang Saya Ingat:
  1. ”BCA Purwosari diobong, sak purwosari kobong kabeh. Entek (BCA Purwosari dibakar, satu daerah purwosari terbakar semua. Habis)” Kata pak tikno, tukang becak yang biasa mangkal diujung jalan dekat rumah.
  2. ”Ambil..ambil..wes ndak papa ambilen. Asal jangan dibakar” begitu kata engkoh cina didepan toko helmnya, dipertokoan jongke sambil duduk menangis.
  3. ”Cino diobong..Cino diobong..Cino diobong (cina dibakar)!!!” teriak massa yang hendak membakar bengkel motor, milik keturunan, di Gemblegan. Untung bisa dicegah warga setempat.
  4. “Pribumi Jawa Milik Haji ABC” begitu tulisan yang ditulis dengan cat pilox digerbang bioskop Galaxy. Pada waktu itu poster filmnya, film syur china, aktrisnya Peng Than.
  5. Aparat berbaju loreng, bersenapan, menembak ke atas langit di Jalan Slamet Riyadi. Membuat para penjarah di pertokoan Purwosari tunggang langgang.
  6. Dipertigaan kabangan, didepan kecamatan Laweyan. Mobil, motor, ban-ban dibakar. Dan banyak orang mabuk berwajah tegang duduk-duduk diseberangnya.
  7. Kadipolo ditutup, Ndalem Kalitan ditutup, Rumah Harmoko di Solo Baru ludes terbakar, Pertokoan habis dibakar tak peduli pribumi atau keturunan.
  8. Malam yang paling sunyi yang pernah terjadi di kota ini. Dan ada jam malam.
  9. Pak ‘Di’, tukang becak yang tinggal dibelakang masjid punya televisi baru 21”. Hasil jarahan.
  10. Inalillahi wa inna illaihi rojiun. Arif Nugroho. Kawan bermain saya dirumah. Dia meninggal didalam Matahari Dept Store Singosaren, dia masuk ke dalam saat api belum besar, entah apa niatnya. Saya yakin dia meninggal didalam situ. Dia tidak pernah mengambil kembali sepeda federal tanpa standart yang dititipkannya kepada saya sore itu, yang terus menunggunya diluar. Dia tidak pernah kembali pada ibunya yang menjadi penulis kain batik. Dia tidak pernah kembali ke sekolah. Tidak ada tenda upacara kematian. Mata ibunya membengkak menangis semalam, anaknya tak pernah kembali. Mewajahkan rupa mu kembali, seperti sembilu mengiris hati, dan didalam ayat-ayat suci berjanji menjaga mu agar abadi.

Konflik politis melebar ke Rasialis

Gema Kerusuhan di Solo memicu kerusuhan rasial, perusuh-perusuh itu menyerang pertokoan yang kebanyakan milik keturunan Cina, tergambar dengan hampir semua toko di eks Karesidenan Surakarta (Solo Raya) tertulis ‘Milik Pribumi’, sekalipun tulisan itu bukan cara ampuh untuk menghindari perusakan, penjarahan hingga pembakaran.

Lam Tjoeng Goen, 43 tahun, Direktur Utama Grup Sampoerna Photo. Jaringan toko foto itu memiliki enam toko di Solo, dan akibat kerusuhan, Lam mengaku menderita kerugian sekitar Rp 800 juta. Toh, ia terpaksa memberhentikan 19 dari 300 karyawannya. “Kalau terlalu banyak melakukan pemutusan hubungan kerja, dampaknya bisa negatif,” katanya, “bisnis sekarang itu tidak mungkin secara murni, tapi condongnya ke sosial.”

Provokasi

Tragedi Mei ‘98 meninggalkan trauma yang dalam bagi warga Solo. Begitu juga di dalam benak Edy Asa, seorang warga solo yang menjadi saksi mata kejadian kerusuhan, secara detail dia menuturkan apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan saat lensa kamera fotonya memotret setiap momentum, yang ternyata saat ini menjadi bagian sejarah kelam bangsa Indonesia menjelang pergantian rezim Soeharto. Sebulan setelah ia mencuci hasil jepretan kameranya, Ia baru menyadari, ternyata di setiap lokasi kerusuhan, mulai dari Matahari Singosaren, Pasar Gede dan pasar Klewer, terdapat satu orang yang sama dan terekam di dalam foto. “Orang itu pakai helm, mengenakan kaos biru putih, rambutnya cepak dan postur tubuhnya seperti aparat, tapi ada tatonya” ujarnya.[11]

C.3.1. Peta Politik Huru – Hara Kota Solo 1998

Ada 3 (tiga) alasan yang seringkali dipakai untuk mengabsahkan terjadi  huru-hara di Kota Solo.

  • Pertama, sentimen atas warga etnis tionghoa. Hal ini disebabkan karena ditinjau dari sasaran huru-hara, merekalah yang paling banyak  menerima akibatnya.
  • Kedua, kesenjangan sosial dan krisis ekonomi. Mereka yang dalam huru-hara kemarin menjadi korban sebagian besar adalah dari golongan kaya, seperti memiliki toko, rumah bagus, supermarket dsb.
  • Ketiga, aksi mahasiswa UMS dalam rangka memperingati korban penembakan mahasiswa Trisakti. Aksi tersebut, meskipun sangat “lokal” (baca: hanya di seputar kampus), ternyata telah dituduh sebagai api pemicu huru-hara di Solo.

Tentu alasan-alasan tersebut sah-sah saja untuk dikemukakan sebagai suatu catatan dan ingatan masa lalu. Tetapi, agaknya tak bisa di abaikan bahwa huru-hara kemarin memperlihatkan sejumlah kejanggalan dalam pola-pola dan modus operandinya. Berdasarkan kesaksian dari para saksi mata dan korban, dapat ditelusuri dengan jelas bahwa huru-hara itu bukan semata-mata “kebetulan” (coincidence). Dengan demikian, adalah enak dan perlu untuk mempertimbangkan kembali ketiga alasan diatas.

C.3.1.1. Kronologi Huru-Hara Kota Solo 1998

Tatkala Aksi Keprihatinan Mahasiswa Universitas Muhammadyah Surakarta (UMS) digelar pada 14 mei 1998, api huru-hara meledak dan meluluh lantakkan Kota Solo. Barangkali mahasiswa sendiri hera dan takjub: mengapa bisa jadi begini? Sebab ditilik dari agenda aksi itu sendiri, pada hari itu mereka hendak mementaskan suatu aksi keprihatinan untuk menghormati Tragedi Trisakti 12 mei 1998 dengan lokasi aksi di kampus mereka sendiri. Untuk memahami huru-hara itu dengan akal jernih dan nurani bening, marilah kita telusuri kronologi peristiwa tersebut. 


SELANJUTNYA: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 5]

Iklan

2 responses »

  1. […] Kembali ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 1] Lanjut ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 3] […]

    Suka

  2. […] ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 3] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 2] KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s