Sebelumnya: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 4]


C.3.1.1.1. Tanggal 14 Mei 1998

Pukul 09.00

Massa aksi sudah berkerumun di traffic light dekat kampus UMS. Tak lama kemudian aparat keamanan memasang 4 buah berikade kawat berduri persi di depan massa aksi dan dijaga oleh barisan brimob dan kostrad. Lebih jauh lagi, aparat juga mulai membubarkan kerumunan massa di halte bus dan depan Toko “Alfa” sembari melakukan biokade jalur kendaraan kearah Kota Solo (dari arah barat) namun jalur kearah timur tetap dibuka. Penjagaan aparat juga disiagakan disebelah utara UMS, dekat pondok Assalam; sebelah timur “Alfa”; depan Rumah Sakit Islam Surakarta dan sebelah barat GOR Pabelan. Maka boleh dikatakan penjagaan-penjagaan tersebut memang mengepung massa aksi di kampus UMS. Karena massa mahasiswa dari ATMI dan massa rakyat sekitar kampus (terutama dari Desa Gonilan) tidak bisa masuk ke lokasi aksi (dengan sangat terpaksa mereka mencari “jalan tikus” meski harus menerabas sawah-sawah untuk sampai kesana). Bahkan mobil ambulance untuk membantu tim medis dari UMS tidak diperbolehkan masuk meski sudah dinegosiasikan oleh perangkat aksi kepada aparat.

Pukul 10.00

Aksi keprihatinan dimulai. Selama 45 menit aksi diisi dengan orasi-orasi oleh mahasiswa dan dosen dan diselingi juga dengan pestas teater. Karena semakin lama massa semakin padat dan mendesak-desak untuk turun jalan, perangkat aksi (dibantu dosen-dosen) mencoba untuk melakukan negosiasi dengan aparat (Kapolres dan Dandim) supaya diijinkan maju hingga separuh jalan A. Yani. Negosiasi gagal dan massa aksi tidak bisa turun jalan.

Pukul 11.00

Perangkat aksi mengajak massa untuk Sholat Ghaib. Setelah itu diteruskan  dengan orasi-orasi lagi sehingga massa semakin panas akibat negosiasi tidak membuahkan hasil dan mereka mulai mengamuk dengan menghujani aparat dengan batu-batu. Amuk massa itu coba diredakan dengan tembakan gas air mata (dengan konsentrasi bahan kuat dari gas yang pernah dipakai pada aksi sebelumnya) oleh aparat. Namun  meski massa sudah mulai tenang kembali, aparat ternyata menyemprotkan air dari panser water cannon kearah massa aksi. Massa semakin beringas dan merespon tindakan aparat itu dengan hujan batu. Kali ini aparat menyambut amukan massa itu dengan tembakan peluru karet, ketapel, dan gas air mata sehingga korban mulai bergelempangan.

Pukul 12.00

image

Massa aksi diajak lagi untuk sholat dhuhur. Namun aparat malah menembakkan gas air mata ke massa aksi. Ini membangkitkan lagi amuk massa dengan mulai membakar kotak-kotak telepon umum. Kembali aparat menembaki dengan peluru karet, sehingga membubarkan massa aksi dan membuahkan korban-korban lagi. Dengan seng sebagai tameng, sebagian massa aksi bergerak maju menyerang aparat keamanan dengan batu sedang yang lain mundur menyerang aparat di bagian belakang (dekat pondok Assala, utara UMS). Melihat itu semua, tim medis (PMI dan KSR) mulai bergerak untuk mengevakuasi para korban dan melarikan mereka ke Rumah Sakit Islam.

Pukul 12.30

Massa di luar aksi (Barat dan Timur) terbakar juga secara emosional lantaran menyaksikan kebiadaban di depan mata mereka. Namun aparat lebih dulu menghalau mereka agar pergi dari sana, sehingga mereka pun bergerak: massa di sisi barat kearah Kartosuro dan di sisi timur ke arah Kota Solo. Sementara itu, di lokasi aksi perang antara massa aksi dan aparat terus berlangsung sampai pukul 16.00 [Budi (mahasiswa UMS) mencoba negosiasi dengan aparat, namun tiba-tiba dari arah mahasiswa ada lemparan batu ke arah aparat sehingga ia ditarik, ditembak, dan dipukul oleh aparat].

Pukul 12.45

Massa diluar lokasi aksi mulai melakukan perusakan dan pembakaran. Mereka juga memblokade jalan-jalan dengan membakar ban-ban dan barang-barang di toko terdekat.

Pukul 13.00

Massa semakin bergerak masuk ke pusat kota sembari melakukan aksi-aksi anarkis. Dari barat tiba-tiba muncul kembali ribuan massa dan di depan Makorem sempat ditahan oleh aparat di bawah jembatan penyeberangan Kerten. Tak lama kemudian mereka bergerak lagi ke arah timur (Kota Solo) dan utara (Perumahan Jajar). Sementara di kampus UNS, keluarga mahasiswa membentuk aksi dalam bentuk sholat Ghaib untuk menghormati para pahlawan reformasi akibat tewas ditembak apara dalam Tragedi Berdarah Trisakti 12 Mei 1998.

Pukul 14.00

Kerumunan massa di tepi-tepi jalan mulai turun jalan dan bergabung juga dengan barisan massa dari barat. Lantaran toko-toko di sepanjang  Jalan Slamet Riyadi sudah rusak, massa mulai melakukan penjarahan dan pembakaran sehingga merembet dengan cepat di Kota Solo.

Pukul 15.00

Gerakan massa ke arah kartosuro pun mulai melakukan perusakan dan pembakaran terhadap toko-toko, bank, dealer mobil dan sepeda motor, bangunan mewah, pos polisi dll.

Pukul 16.00

Massa di Solo baru (sukoharjo) juga bergerak serupa dengan target sasaran terutama gedung bioskop Atrium, dealer mobil dan sepeda motor dan tak luput rumah pribadi ketua MPR/DPR RI H. Harmoko.

Pukul 17.00

Api huru-hara terus menjalar serentak di sudut kota dan tak mampu dicegah oleh siapa pun termasuk aparat keamanan. Menurut seorang saksi mata, target huru-hara diseluruh penjuru kota adalah Anti China dan Aparat. Sementara aksi di UMS dibubarkan dan massa aksi ditarik semua ke arah kampus.

Pukul 20.00

Radio memberitakan pemberlakuan jam malam di Kota Solo mulai pukul 22.00.

C.3.1.1.2. Tanggal 15 Mei 1998

Huru-hara di Kota Solo ini semakin meluas ke setiap sudut kota (bahkan ke kota-kota terdekat) dengan modus utama pembakaran dan penjarahan.

Pukul 04.00

Massa membakar dan menjarah Pusat Perbelanjaan Matahari Beteng. Bahkan mereka mulai memasuki kampung-kampung untuk mencari rumah dan toko milik warga etnis China. Ini membuat warga kampung di seluruh kota harus siaga satu dengan membuat berikade-berikade di setiap mulut jalan masuk ke kampung masing-masing.

Pukul 09.00

Solidaritas Mahasiswa Peduli Rakyat (SMPR) di UNS menggelar aksi keprihatinan untuk memperingati arwah 6 mahasiswa Trisakti (Jakarta) akibat ditembak aparat. Di tempat lain, konvoi 30 kendaraan bermotor melintas di depan PT Lokananta menuju Jalan Slamet Riyadi dan berbelok ke arah barat.

Pukul 11.00

SMPR dengan ribuan massa turun jalan dan minta bertemu dengan WaliKota Solo. Setelah diterima dan dialog, massa mahasiswa pulang ke UNS tanpa membuat kerusuhan.

Pukul 13.00

Huru-hara semakin menjalar kemana-mana sehingga mengganggu ketentraman dan keseimbangan hidup sehari-hari di kota ini. Sementara sejumlah pelajar melakukan aksi jalan kaki dengan sejumlah rute Jalan Slamet Riyadi (dihadang aparat) dan kemudia bergerak ke utara (melalui Balai Muhammadyah) menuju Pasar Legi. Tak bisa dihindari, huru-harapun merembet ke daerah Eks Karesidenan Surakarta seperti Delanggu, Boyolali, dan Sukoharjo.

Pukul 16.00

Konvoi kendaraan motor muncul lagi di Jalan Yosodipuro. Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan People Power  dan membawa bendera merah putih.

C.3.1.1.3. Tanggal 16 Mei 1998

Aksi perusakan, pembakaran, dan penjarahan masal masih menjalar terus. Selain itu, teror psikis juga semakin gencar ditiup ke tengah-tengah massa rakyat, seperti isu-isu penyerangan kampung oleh orang tak dikenal.

Pukul 09.00

Disekitar kota masyarakat terlihat lebih banyak di dalam kampung membuat berikade penutup jalan kampung (pengamanan teritorial kampung). Massa di pinggir jalan relatif kecil. Angkutan umum macet hanya 1-2 colt angkutan umum kuning tetapi hanya dipakai untuk angkutan pribadi (sewa). Antrian bensin panjang dan dijaga oleh tentara. Terdapat konsentrasi tentara balet hijau di gapura Kleco hingga pasar Kleco sekitar 15 orang. Lalu lintas dipadati oleh kendaraan roda dua.

Pukul 11.00

Di Jl. Sutami terlihat patroli aparat keamanan terdiri dari 6 orang polisi URC dengan motor trail, serta 1 panser dan 1 truk tentara menuju Palur. Di Palur tiap toko dijaga oleh tentara. Dua truk tentara di parkir di depan apotik sebelah jembatan penteberangan.

Pukul 14.00

Kampung di sekitar kestalan, mangkunegara, kampung baru, dan widuran serta semua lorong jalan di blokade pada ujung jalan kampung. Orang sulit keluar masuk, penduudk yang jaga membawa tongkat pentungan.

Pukul 15.00

Di Jl. Gajah Mada, hanya ada kendaraan roda dua dan sepeda yang lalu lalang. Dua tiga orang bergerombol ditiap mulut jalan kampung yang di blokade pendudukk. Polisi terlihat berjaga di perempatan seta pertigaan jalan.

Pukul 15.45

Jalan ke arah Gading di blokade oleh orang kampung sebanyak 4 sap. Baru saja terjadi perkelahian antara warga kampung dengan gerombolan orang (katanya mereka adalah mahasiswa dari yogya yang di datangkan dengan truk kemudian berjalan kaki. Cirinya: sebagian bersepatu dan bertas, muda dan nekat) yang berjalan dari arah Grogol ke jalan Veteran melalui Gading yang ingin merusak atau menjarah. Beberapa orang nekat masuk sehingga terjadi kejar-kejaran dan massa pejalan kaki lari ke arah selatan, banyak penduduk yang menonton. Disana ada dua orang bersikap aneh yang satu bercerita dengan agresif tentang kerusuhan dan satunya diam saja mengamati dengan cermat sesekali berkomentar (bicara dengan temannya). Sekarang disana tertutup untuk orang asing (luar kampung)

Pukul 17.00

Bangkai tokoh Ratu Luwes di Pasar Legi masih dikais orang. Jumlah mayat terbakar yang di temukan ratu luwes ada dua versi. Versi pertama, ditemukan 12 mayat di lantai 1 (ada 3 perempuan dan anak kecil) dan versi kedua mengatakan jumlah yang terbakar ada 29 orang.  Penjarah berasal dari daerah berlainan yang jauh seperti mojosongo dan Palur (dibuktikan dengan laporan orang hilang). Menurut informasi, massa perusak adalah mahasiswa yang telah membuat kesepakatan dengan pihak tertentu. Siapa? Tidak tahu. Uang jarahan senilai Rp.125.000.00,- diangkut dengan karung goni, tidak dibakar tetapi kemudian direbut orang dan diserahkan aparat.

Pukul 19.00

Perempatan Jagalan ke arah selatan (Sekarpace) diblokir penduduk tetapi oleh aparat disuruh membuka sebab keamanan dijamin (ada 3-6 tentara). Sebab penjarahan yang berlangsung di hari jum’at      dianggap mencampuri oleh oknum dari luar kampung. Hingga jam 19.00 WIB masih dilakukan upaya defensif yang berlebihan disebabkan atas trauma penjarahan dan pembakaran hari sebelumnya. Orang luar yang ingin masuk kampung benar-benar di larang (dengan brikade penduduk yang ketat) bahkan dengan ancaman yen ngeyel liwat, ora urip (kalau nekat lewat, tidak selamat).

Pukul 20.00

Kampung Manahan sekitar Jalan MT. Haryono, banyak sekali orang muda siap siaga sepanjang jalan dengan membawa berbagai jenis senjata untuk  mengantisipasi serangan pemuda dari kampung Sambeng yang hendak menggarong (merampok) rumah/toko seorang warga etnis tionghoa. Ada dua mobil kijang polisi berjaga-jaga dan menanyai pemuda setempat.

Berdasarkan kronologi diatas, ada sejumlah cacatan cukup menarik atas huru-hara itu dapat disajikan disini:

  1. Ketika massa aksi mahasiswa di kampus UMS mulai mencapai temperatus cukup panas, diluar lokasi aksi mahasiswa itu massa juga mulai bergerak dengan mulai melakukan aksi-aksi anarkis seperti perusakan dan pembakaran, bahkan sempat memblokade jalan, dan terus bergerak memasuki Kota Solo. Kalau momentum ini adalah suatu kebetulan, mengapa gerakan massa diluar lokasi aksi mahasiswa itu seolah-olah menunggu dulu sampai suhu di lokasi aksi mahasiswa dirasakan cukup panas untuk meledakkan api huru-hara? Mengapa pula api huru-hara itu diledakkan pada saat dan atau setelah aksi mahasiswa di UMS, bukan di UNS dan di UNISRI, atau kampus-kampus lain? Padahal aksi-aksi mahasiswa di kampus-kampus tersebut, terutama di UNS, tidak kalah seru dan panas juga? (lihat: kronologi pada pukul 12.30-12.45)
  2. Selama api huru-hara berkobar-kobar di Kota Solo, aparat keamanan kelihatan tidak begitu aktif, bahkan antisipatif, sesuai dengan fungsi dan peran mereka sebagai penjaga ketertiban dan keamanan. Barang kali mereka benar-benar “terlambat”. Namun dalam artian apakah alasan itu dapat diterima oleh akal sehat? Bukankah dalam komunitas mereka dikenal istilah siaga satu, siaga dua, atau siaga tiga? Mengapa bisa terjadi demian? (bdk. Kronologi hari pertama, kedua, dan ketiga)
  3. Setelah api huru-hara perlahan-lahan mulai mereda, diisukan bahwa dalam huru-haru itu adalah mahasiswa. Jika benar demikian, siapakah “mahasiswa” itu? Mengapa pada hari kedua huru-hara masih ada aksi mahasiswa sampai turun ke jalan untuk menemui waliKota Solo? Bahkan pada hari pertama huru-hara pun, mengapa aksi mahasiswa di UMS baru di bubarkan sore hari, sementara api huru-hara semakin menjalar ke pelosok-pelosok kota? (lihat: kronologi hari pertama dan kedua)
  4. Juga sering kali disiarkan bahwa huru-hara itu adalah suatu amuk massa dengan kemasan rasialis (baca: anti cina). Jika benar demikian, apakah warga kota ini memang benar-benar mengamuk lantaran sudah kehilangan kesabaran melakoni kehidupan selama ini? Apakah juga karena Solo terlanjur dikenal sebgai “kota kejutan” maka tanpa pikir panjang kita boleh menganggap huru-hara itu spontan atau kebetulan? Mengapa setelah api huru-hara itu padam mereka malah anteng-anteng saja?

Tentu masih ada setumpuk catatan lagi menggantung dalam benak kita tentang tragedi kemanusiaan di Kota Solo itu. Sementara catatan-catatan lain dengan segala macam pernik-pernik persoalan serupa menanti juga untuk segera dipecahkan.  Maka uraian sistematis berikut ini mungkin dapat dijadikan rujukan awal untuk menggugah kita semua agar semakin serius menangani pembongkaran peristiwa tersebut.

C.3.2. Cerita-Cerita Huru-Hara Pasca Tragedi

Ketika seorang teman duduk menikmati hidangan disebuah warung, samar-samar ia mendengar cerita pendek demikian:

”suatu malam seorang penjual sate ditakut-takuti oleh roh-roh halus di Toko Sepatu Bata, Coyudan. Kebetulan waktu itu si penjual sate sedang sibuk melayani para pembeli. Kemudian datang pembeli lain sembari berkata “Pak, minta sate yang gosong seperti kami”. Karuan saja penjual sate itu kaget bukan kepayang sembari mengamati para pembeli itu. Namun dalam sekejap mereka menghilang secara miserius, sehingga membuat si penjual sate pingsan. Ia dibawa dan dirawat di rumah sakit sampai sekarang.”

Dalam versi lain, cerita seperti itu juga sempat dikisahkan oleh seorang teman lain berikut ini:

Menjelang matahari terbenam di ufuk barat, di Plaza Matahari Singosaren seringkali terdengar teriakkan-teriakkan sejumlah orang mencari kaki. Bahkan suatu kali pernah seorang supir taksi membawa seseorang dari pusat perbelanjaan itu, di tengah-tengah perjalanan ia merasa kehilangan penumpang.

Cerita diatas memang sungguh-sungguh merasuk dalam hari-hari sesaat setelah api huru-hara meluluhlantakkan Kota Solo. Apalagi ketika senja mulai merambah pelan-pelan di cakrawala, cerita-cerita itu mau tidak mau memudarkan pesona kota ini di kala malam.

Dengan baik sekali sebuah majalah alternatif terkemukan di negeri ini mendokumentasikan kemuraman kota ini dalam suatu laporan berjudul: Tak ada lagi, “Solo Di Waktu Malam”. Berikut petikan laporan itu :

…TRAUMA kerusuhan Mei masih menggantung di Solo, jawa tengah. Gambaran Kota Solo di waktu malam seperti syair keroncong lama-ramai, damai, dan romantis-tak lagi ditemukan. Solo di waktu malam, dua bulan setelah kerusuhan lewat, masih seperti kota mati, seperti di hari-hari dekat setelah kerusuhan. “Jam delapan malam di Jalan Slamet Riyadi sudah jarang yang lewat, paling-paling sebiji sepeda motor, kemudian sepi,” kata seorang karyawanan sebuah perusahaan pers yang pekan lalu pulang ke kampungnya di Solo… (Tempo Interaktif, Edisi 20-03, 18 juli 1998).

Boleh jadi cerita-cerita horor itu sekedar dipandang sebagai isapan jempol semata. Atau, sering kali dikatakan bahwa itu adalah ulah orang-orang iseng saja.akan tetapi, tidak bisa diabaikan bahwa (adat) kebiasaan orang-orang jawa (Jawa Tengah), terutama Solo, memang begitu “akrab” dengan alam (mistis) seperti ini. Dalam suatau reportase dengan judul “Huru-Hara Solo Semarang”, dibahas juga masalah ini sebagai sebuah tinjauan mistis.  Dilaporkan oleh P. Bambang Siswoyo, si penulis reportase itu, bahwa kerusuhan rasial pada 19 november 1980 itu “didalangi” juga oleh Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul. “Sasmita” (isyarat) itu datang pada diri seorang buruh wanita dari PT Batik Keris, kelurahan Cemani, kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo. Laporan ini diperkuat pula oleh perkataan seorang ahli ilmu gaib (sekarang populer sebagai “paragnost”: seorang manusia yang mempunyai kemampuan di luar kemampuan manusia) bahwa berkaitan dengan huru-hara tersebut bila ditinjau dari alam gaib disebabkan karena Kanjeng Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) mengerahkan anak buahnya. Ini dilakukan atas permintaan dari salah seorang Sinuwun Sala (menurut dongeng, setiap sinuwun sala adalah juga suami dari Nyai Roro Kidul) yang sudah wafat dan menaruh dendam pada orang-orang china, entah apa sebabnya.

Agak tak masuk akal memang. Tetapi ya beginilah image “cerita” dan “ruomongso” telah menjadi darah dan daging dalam kehidupan masyarakat jawa. Karena memang sejak kecil pandangan dan cara hidup itu diasah dan dilatih sebagai suatu “bekal hidup” dalm hidup sehari-hari. Ini merujuk pada sebuah pepatah-petitih dalam aksara jawa berikut ini: “jawa iku yen dipangku dadi mati”. Dengan kata lain, orang jawa itu akan lululuh hatinya dengan “dislodohi” (ditinggikan). Namun bila tersinggung, terutama berkaitan dengan harga diri, derajat, pangkat atau semat mereka, maka akan sangat mudah menimbulkan amarahnya.

Bertolak dari itu, cerita-cerita horor pasca huru-hara tersebut tentu menjadi efektif dan operatif untuk menggugah rasa ikhlas dalam segumpal kehidupanWong Solo.  Kata kunci untuk memahami rasa itu terletak pada: bahwa seseorang (Jawa) tidak boleh dipengaruhi terus-menerus oleh ingatan akan (penderitaan) masa lalu. Dengan kata lain, pengalaman-pengalaman pahit dalam kehidupan itu cukup disimpan saja sebagai unggah ungguh untuk menjaga dan memelihara keharmonisan hidup bersama. Implikasi konkret atas hal tersebut dana dijumpai dalam tata cara ritual pemakaman (adat)

Kebiassan Jawa, seperti upacara brobosan dan selamatan. Selain itu, alat-alat pelengkap upacara pemakanaman, antara lain foto-foto dan kemenyan, juga memiliki  fungsi dan peran serupa sebagaimana dilukiskan diatas.

Maka pesan utama dalam cerita-cerita horor tentu bukan semata-mata adalah urusan dengan roh, arwah atau jin dari para korban huru-hara lalu, melainkan, dengan aneka macam kepentingan hirarkis dalam kehidupan masyarakat jawa.  Terutama berkaitan dengan dunia kematian, kepentingan-kepentingan itu memperoleh bentuk konkret dalam imajinasi-imajinasi kultural, ketimbang biologis, seperti telah diuraikan diatas. Tak heran bila cerita horor itu dapat merasuk dalam akal dan pikiran warga Kota Solo ketimbang data dan fakta mengenai nasip para korban itu sendiri (lihat: tabel klasifikasi korban). Sebab cukup dengan mengatakan: “apa yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah”, semua penderitaan masa lalu akan sirna tanpa harus  menimbulkan goncangan hebat dalam kehidupan sehari-hari.

Semua itu seringkali dipandang sebagai fenomena “alami”. Gambaran dunia akhirat dalam kebudayaan jawa berikut ini mungkin lebih bisa menjelaskan hal itu: “suasana hati orang jawa terhadap kematian bukanlah suatu duka cita histeria, isak tangis tanpa kendali, ataupun tetesan air mata kepedihan belaka. Tetapi, justru adalah suatu ketenangan, biasa-biasa saja, bahkan begitu langut. Tetes air mata tidak dilihat sebagai suatu oengakuan atas kebesaran hati; justru usaha untuk selekas mungkin keluar dari lingkaran duka adalah jalan paling arif dan bijak. Upacara ritual pemakaman dan doa-doa selama kurun waktu tertentu semata-mata adalah untuk menumbuhkan rasa ikhlas, tulus hati, tegar dan tabah.”

Namun toh tetap tak bisa dikatakan sebagai “hukum alam”. Karena campur tangan kepentingan-kepentingan hirarkis juga ambil bagian disana. Oleh sebab itu, cerita horor tersebut memang mata rantai dari fenomena “alami” dengan fungsi dan peran untuk memahat dan menerjemahkan penderitaan para korban huru-hara dalam (budi) bahasa lisan dan tulisan: Ikhlas. Akankah (adat) kebiasaan historis yang terus menerus berulang ini bisa diputus? [12]

Foto-foto Kerusuhan di Solo

Img source: KabarJournal.Org

Img source: KabarJournal.Org

image

Jl. Gatot Subroto (Sebelah timur Matahari Singosaren)

image

Atrium 21 Solo Baru sebelum dibakar

Img source: KabarJournal.Org

Img source: KabarJournal.Org

image

Matahari Beteng Plaza, sebelum dibakar (sekarang PGS dan BTC)

image

Matahari Singosaren

D. Simpang Siur Isu Pemerkosaan

D1. Kisah Vivian dan Foto-Foto Perkosaan

Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah perkosaan massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh seorang gadis
keturunan Cina bernama ‘Vivian. Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya.

Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu memperkosa mereka dengan berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan perbuatan itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.

Screenshot_2016-06-07-19-32-53_1

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti tersulut
amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus perkosaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking,
saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.

D.1.1. Upaya Menelisik Fakta

Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa Mei 1998, peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM mendapat pengakuan dari seorang anggota Satgas PDI Perjuangan bernama M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi menurut dia,

…”korban tidak hanya dari kalangan Cina. “Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada Arab,” kata anggota Satgas PDIP itu…

Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi ke luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak ekonom Christianto Wibisono yang terkonfirmasi sebagai korban perkosaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai berjumlah ratusan.

Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya Amoy yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartemen tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.

Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan semua laporan tentang adanya perkosaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasi dulu.

…”Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu.” kata anggota TGPF Roosita Noer…

Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil diklarifikasi, yang lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. Sementara, 2 (dua) orang korban yang di datangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang di duga sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.

Dari sisi ilmu statistik, data soal perkosaan massal pun aneh. Misalnya laporan tentang adanya perkosaan jauh lebih besar dari pada laporan tentang pelecehan seksual, di raba-raba dan sebagainya. Padahal, seharusnya menurut statistik, berdasarkan kurva sebaran, pola acak akan selalu membentuk kurva seimbang. Jumlah laporan orang yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak dari pada yang dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai diperkosa, dengan tingkatan paling berat.

…Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan keturunan Cina sendiri. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat menceritakan hal ini, sehingga cerita ini muncul di internet pada 13 Juni 1998— dan bisa mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukankah hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal perkosaan?…

Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998, minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak alamat si pengirim cerita tersebut di jaringan internet.

Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentayangan di situsnya, sama sekali tidak otentik. Kepada detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat di pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu adalah hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.

D.1.2. Terbongkar Habis

Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tidak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai dan hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan tidak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari Amerika Serikat,
tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.

Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai curiga.

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation Jakarta. Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat.

…”Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999,” kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini…

Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka palsu.

Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bohong-bohongan seperti diperkosa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998.

…”Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan,” kata Jaksa McNulty…

Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.

Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa supir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suaka sejak 31 Oktober 2000 hingga 6 Januari 2002.

…”Mereka mengaku diperkosa karena keturunan Cina,” kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia…

Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai sebagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah didramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.[13]

image

07-06-01.28.45

SELESAI

 

Kembali ke:

Part 1« Part 2« Part 3 « Part 4«

Referensi

  • [1] Sejarah Kelam Tagedi Trisakti 12 mei 1998 (PortalSejarah.Com)
  • [2] LSI: Ini 5 Kasus Kekerasan Paling Mengerikan di Indonesia (Liputan6.Com)
  • [3] Kerusuhan Mei 1998, Harga Yang Harus Dibayar Oleh Etnis Tionghoa (Tionghoa.Info)
  • [4] Innalillah Jenderal-Jenderal Dalang Kerusuhan Mei 1998 (voa-islam.com)
  • [5] Prabowo Ungkap Sekitar Lengsernya Soeharto (library.ohiou.edu)
  • [6] Kerusuhan Mei 98, dan pertemuan Prabowo di Makostrad (Merdeka.Com)
  • [7] Laporan TGPF (semanggipeduli.com)
  • [8] Sebelum Jakarta, kerusuhan Mei 1998 lebih dulu landa Kota Medan (merdeka.com)
  • [9] Kerusuhan Mei 98, Jakbar dibanjiri orang tak dikenal (merdeka.com)
  • [10] Sejarah kelam Solo saat kerusuhan Mei 1998 (merdeka.com)
  • [11] Solo, Portai besi dan malam paling Sunyi /Kerusuhan Mei 1998 di Solo (tiyoe.wordpress.com)
  • [12] Peta Politik Huru-Hara Kota Solo 1998 (situsmei98.wordpress.com)
  • [13] Kebohongan perkosaan masal Mei 1998 terungkap (fpi-online.blogspot.co.id)

Lihat Pula

  • ^http://semanggipeduli.com/tgpf/laporan.html
  • ^https://moeflich.wordpress.com/2014/06/09/the-untold-story-perlawanan-prabowo-pada-benny-moerdani/
Iklan

One response »

  1. […] Lanjut ke: KONSPIRASI DIBALIK TRAGEDI KERUSUHAN MEI 1998 [PART 4] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s