Muslimah pertama yang menjadi buron FBI

Tahanan No. 650 di Bagram ini dikabarkan mengalami perkosaan dan siksaan. Sungguh mengejutkan. Setelah pers “meributkan” nasib ‘Tahanan No. 650’, yang merupakan satu-satunya tahanan wanita Pakistan yang mengalami penyiksaan dan perkosaan di penjara AS di Bagram.

Dr. Aafia Siddiqui

Dr. Aafia Siddiqui (Find My Hero.Com)

Amerika, hari Selasa (5/8/2008), tiba-tiba menyatakan bahwa Dr. Afia Sidiqui hendak diadili di New York. Padahal sudah hampir lima tahun ia “diculik” dan tidak diketahui rimbanya.

Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, Michael Garcia mengatakan, Afia Sidiqui ditangkap bulan lalu di Afghanistan. Menurut pengakuan Amerika, saat ditangkap, katanya, wanita yang pernah tinggal di AS itu kedapatan membawa dokumen-dokumen mengenai bagaimana membuat bahan peledak dan deskripsi berbagai gedung AS termasuk di New York City.

Sekali lagi menurut pengakuan AS, ketika perwira militer AS tiba di tempat tahanan Siddiqui untuk menjemputnya, wanita itu sempat melepaskan tembakan dari senapan yang tergeletak di lantai. Katanya, Siddiqui dua kali menembak namun tidak mengenai siapapun. Dia kemudian terkena tembakan di dada oleh seorang perwira AS. Siddiqui kemudian diekstradisi ke AS.

Jika benar bahwa Afia ditangkap di Afghanistan satu bulan yang lalu. Lantas, siapakah yang telah menculiknya tahun 2003? Benarkah  bahwa ia tertangkap satu bulan yang lalu?

Berikut rekaman media massa mengenai “alur” perjalanan Muslimah pertama menjadi buron FBI ini:

Awalnya, media massa telah melansir bahwa Dr. Afia Siddiqui telah ditangkap bersama 3 anak-anaknya, oleh intelijen Pakistan pada awal tahun 2003. Dan sejak saat itu nasib wanita beserta ketiga anaknya ini tidak diketahui.

Di saat yang sama Amerika dan intelijen Pakistan menuduh bahwa Muslimah ini memiliki hubungan dengan Al-Qaidah. Akan tetapi Amerika dan pihak intelejen Pakistan menyanggah bahwa mereka telah menangkap Afia.  Foto Afia, hingga kini masih terpampang di situs FBI, yang berstatus sebagai buronan.

Peristiwa penculikan Afia sendiri dilakukan ketika ia bersama ketiga anaknya sedang naik metro untuk mengambil penerbangan ke Rawalpindi, Punjab pada 30 Maret 2003.

Panculikan itu dilakukan ketika ia berjalan menuju airport. Media massa mengklaim bahwa penculikan itu dilakukan oleh intelejen Pakistan, kemudian diserahkan kepada pihak FBI. Saat itu Afia berumur 30 tahun, anaknya yang tertua berumur 4 tahun dan yang terakhir adalah bayi yang masih berusia satu bulan.

Beberapa hari setelah itu channel berita Amerika NBC melaporkan bahwa Afia telah ditangkap di Pakistan atas tuduhan telah menjadi penghubung untuk mentransfer uang kepada Al-Qaidah. Ibunya, Ismat (yang kini telah wafat) menyanggah tuduhan itu.

Pada 1 April 2003, sebuah media massa berbahasa Urdu menyebutkan bahwa Menteri Dalam Negeri Pakistan Faisal Saleh Hayat membantah, ketika ditanya apakah Dr. Afia telah ditangkap?. Ia mengatakan, ”Dr. Afia memiliki hubungan dengan Al-Qaidah dan ia belum ditangkap.” Tapi hingga sampai saat itu pun, nasib Dr. Afia tidak diketahui.

Tidak berselang lama muncullah laporan-laporan media tentang wanita ‘Tahanan No. 650’, yang berada di tahanan Amerika di pangkalan Bagram Afghanistan, yang dikabarkan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dan telah kehilangan kesadarannya.

Pejabat Majelis Tinggi Inggris (The House of Lord) mendapatkan informasi mengenai kedaan tahanan itu. Ia menerangkan bahwa kondisi kejiwaan wanita itu terganggu karena terus menerus menjadi korban perkosaan petugas penjara dan kedaan sel yang dihuni ‘Tahanan No. 650’ ini tidak memiliki toilet dan kamar mandi tertutup, sehingga tahanan lain bisa bebas melihatnya ketika, ia sedang mandi.

image

Pada 6 Juli 2008, seorang jurnalis Inggris, Yvonne Ridley, menggelar jumpa pers dan meminta berbagai pihak perduli dengan nasib tahanan wanita Pakistan ini, yang menurut keyakinannya, wanita itu  sedang berada dalam ruang isolasi tahanan Amerika di Bagram selama empat tahun.

Jurnalis yang menjadi Muslim setelah ditawan Taliban ini mengatakan,

”Saya menyebutnya sebagai “perempuan abu-abu”, karena bentuknya sudah mirip hantu, terkadang ia menjerit dan menangis terus-menerus.”

Ridley mengetahui hal ini setelah ia membaca sebuah buku The Enemy Combatant  yang ditulis oleh mantan penghuni penjara Guantanamo, Muazzam Begg. Sesudah ditangkap pada Februari 2002  di Islamabad, Begg ditahan di pusat penahanan Kandahar dan Bagram selama sekitar setahun, sebelum dia dipindahkan ke Guantanamo. Dia menceritakan pengalamannya di dalam buku yang terbit pada tahun 2005, yang di dalamnya menyinggung tentang ‘Tahanan No. 650’.

“Saya ingat Muazzam yang mengatakan kepada saya tentang teriakan wanita yang dulu dia membayangkan bahwa bisa jadi wanita itu istrinya. Dan saya pernah berfikir bahwa teriakan itu keluar dari tape recorder, yang dijadikan sebagai salah satu bentuk penyiksaan secara psikis.” Ungkap Ridley dihadapan lebih dari 100 wartawan
“Walau bagaimanapun, kami sekarang tahu, pekikan itu datang dari seorang wanita yang sudah dipenjara di Bagram selama beberapa tahun. Kami juga bisa mengungkapkan dari sumber valid bahwa ia adalah ‘Tahanan 650’, ”Jelas Ridley.
“Tahanan 650’ adalah ujung gunung es pelanggaran hak asasi, penahanan secara ilegal yang sangat buruk. Adalah episode memalukan di sejarah Pakistan yang harus diluruskan,” Tambah Ridley.

Seakan-akan menyindir Pakistan,

“Adalah hal yang cukup aneh, bagaimana kita menyerahkan saudara perempuan kita kepada non-Muslim laki-laki yang sejarahnya penuh perkosaan dan perlakuan sewenang-wenang kepada tahanan,” kata Ridley dikutip sebuah koran Pakistan.

Atas data-data yang ia miliki, Ridley berkesimpulan bahwa ‘Tahanan No. 650’ adalah Dr. Afia Sidiqui.

Mr. Imran Khan, Pemimpin Partai Keadilan (T.I) juga mencurigai bahwa ‘Tahanan 650’ itu adalah Dr. Afia Siddiqui. Dan ia menuduh bahwa AS dan Pakistan sedang menyembunyikan fakta ‘Tawanan 650’ itu.

Dugaan-dugaan bahwa ‘Tahanan No. 650’ adalah Dr. Afia Sidiqui tidak lama berlangsung, karena lewat pengacaranya, Afia menyatakan bahwa ia memang pernah disekap di Bagram dan mendapat perlakukan yang amat mengerikan. Ini dituturkan oleh pengacaranya Elaine Whitfield Sharp, sesuai yang dilansir Cageprisoners (8/8/2008), sebuah LSM London yang konsetrasi memberikan bantuan terhadap Muslim yang terlibat dalam kasus terorisme.[1]

Aafia dan ketiga anaknya ditangkap oleh agen intelijen Pakistan

Sidang seorang ahli saraf asal Pakistan yang menghabiskan waktunya untuk sekolah di AS dan terkena tuduhan percobaan membunuh personil AS di Afghanistan di New York. Namun sejauh ini belum terdengar keputusan apapun.

Otoritas AS memengatakan Aafia Siddiqui (37) merupakan orang yang terkait dengan jaringan al Qaidah, seorang teroris yang mencoba membunuh perwira Amerika pada 18 Juli 2008, setelah ia ditahan oleh dinas keamanan di Afghanistan.

Seorang juri dari tujuh perempuan dan lima laki-laki dipilih pada hari Kamis, dengan empat alternatif juri. Dr Aafia sebelumnya keberatan atas komposisi juri. Dia juga mengatakan dia tidak mau melakukan persidangan jika jurinya Yahudi.

Minggu lalu ia memerintahkan untuk ditarik dari ruang sidang setelah ia menyela proses pemilihan anggota juri dan mengatakan bahwa ia tidak ada hubungannya dengan insiden 11 September 2001 dan menurutnya Israel-lah yang bertanggung jawab.

Seorang hakim memutuskan pada bulan Juli 2009 Dr. Aafia menderita gangguan mental dan tidak mungkin bisa dibawa untuk menghadapi persidangan. Pengacara menolak putusan hakim dan mengungkapkan argumen bahwa Dr. Aafia tertekan akibat penahanan pra-sidang.

Aafia dan ketiga anaknya ditangkap oleh agen intelijen Pakistan pada Maret 2003 dan diserahkan kepada Amerika di Afghanistan, ia dipenjarakan di Bagram dan sering kali diperkosa, disiksa dan dilecehkan selama bertahun-tahun. Sebuah laporan pers Pakistan yang diterbitkan dengan bahasa Urdu pada waktu itu mengatakan bahwa Aafia dan ketiga anaknya terlihat ditangkap oleh pihak berwenang Pakistan dan dibawa ke tahanan.

image

Moazzam Begg, dan beberapa mantan tawanan Amerika Serikat melaporkan bahwa seorang tahanan perempuan yang bernomor “650”, ditahan di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan. Yvonne Ridley dari Cageprisoners.com menulis bahwa “Tahanan Nomor 650” (Aafia) yang selalu disiksa dan diperkosa berulang kali selama lebih dari empat tahun.

“Jeritan perempuan tak berdaya ini bergema (bersama dengan siksaan yang harus ia hadapi) dari penjara yang mendesak para tahanannya untuk untuk terus mogok makan.” Yvonne menyebut Dr. Aafia sebagai “perempuan pucat dan hampir mirip dengan hantu, membuat para tahanan lain yang mendengar tangisan dan teriakannya ketakutan. Dan penderitaan ini tidak akan pernah terjadi pada seorang perempuan Barat.”

Baik pemerintah Pakistan serta pejabat AS di Washington menyangkal bahwa pihaknya mengetahui apapun terkait dengan dipenjaranya Dr. Aafia sampai akhirnya media mengeksposnya ke hadapan publik. Berbagai macam tuduhan pun dibuat dan ditimpakan pada dirinya. Dr. Aafia terlibat dalam jaringan terorisme dan yang lebih menggelikan adalah klaim bahwa ia berhasil merebut senjata dari tentara AS dan menembakinya.

Pada tanggal 4 Agustus 2008, jaksa federal di Amerika Serikat menegaskan bahwa Dr. Aafia Siddiqui diekstradisi ke AS dari Afghanistan yang menurut mereka telah ditahan sejak pertengahan Juli 2008. Pemerintah AS menyatakan bahwa dia ditangkap oleh pasukan Afghan di luar kompleks gubernur Ghazni dengan tuduhan membawa bahan peledak dan ‘zat berbahaya dalam stoples tertutup’. Mereka lebih lanjut menyatakan bahwa selama berada di tahanan dia menembak di para petugas AS (yang bahkan tidak ada yang terluka satu pun) dan dirinya (dr. Aafia) terluka dalam percobaan tersebut.

Pada tanggal 7 Agustus 2008 sebuah artikel di The News menyingkap beberapa perlakuan yang diperoleh Dr. Aafia dalam penjaranya di Amerika:

  • salah satu ginjalnya telah diambil
  • giginya telah dicopot
  • hidungnya patah
  • luka tembak yang baru diketahui setelah pakaian yang ia kenakannya basah dengan darah.

Pada 11 Agustus 2008, laporan Reuters mengatakan bahwa ia telah muncul di persidangan dengan kursi roda, dan pengacaranya memohon pada hakim untuk memastikan bahwa Dr. Aafia menerima perawatan medis. Elizabeth Fink, salah satu pengacara, mengatakan kepada Hakim:

“Dia telah di sini, hakim, selama satu minggu dan dia tidak pernah memperoleh perawatan dokter, meskipun mereka (pemerintah AS) mengetahui bahwa dia telah ditembak.”

image

Pengacara Aafia, Elizabeth Fink, mengatakan kepada seorang hakim federal di New York bahwa Aafia menunjukkan tanda-tanda telah dipenjarakan dan diperlakukan tidak manusiawi untuk jangka waktu yang panjang. Menurut dokumen yang dijelaskan di pengadilan oleh Fink, Aafia meminta staf penjara untuk memberikan makanan dari nampannya pada anaknya di Afghanistan. Aafia sangat mencemaskan anaknya kelaparan dan memperoleh penyiksaan.

image

Pengacara lainnya, Elaine Whitfield Sharp, mengatakan:

“Kita tahu ia ada di Bagram untuk waktu yang lama. Ini adalah waktu yang sangat lama. Menurut klien saya dia ada di sana selama bertahun-tahun dan kemudian ia ditahan di dalam tahanan Amerika; dan perlakukannya itu sangat tidak manusiawi.”

Aafia masih ada di fasilitas penahanan AS di New York, kesehatan memburuk, ia selalu menjadi objek diskriminasi dan seringkali dipermalukan saat ia menerima kunjungan hukum atau muncul di pengadilan. Dia kemudian menolak untuk bertemu dengan pengacara. Bahkan muncul laporan bahwa Dr. Aafia mungkin menderita kerusakan otak dan sebagian dari ususnya telah dipotong. Pengacaranya mengatakan dia mengalami gejala konsisten dari Post Traumatic Stress Disorder.

Militer AS menolak semua laporan atas perlakuan buruk mereka terhadap Dr. Aafia tersebut, dan mengatakan bahwa laporan-laporan itu ‘tidak berdasar’.[2]

Divonis 86 Tahun Penjara

Seorang muslimah, ilmuwan Pakistan, seorang Hafidzah, dan seorang ibu, Dr. Aafia Siddiqui yang telah divonis penjara selama 86 tahun di sel tahanan salibis AS, dikabarkan telah mengidap kanker dan diduga hamil akibat pelecehan seksual selama masa tahanan, seperti yang dilaporkan kantor berita Pakistan, The Nation.

image

Saudara perempuannya, Dr. Fouzia Siddiqui mengatakan kepada The news Tribe, mengatakan bahwa dia mengetahui datang untuk mengetahui keadaan saudarinya melalui Jenderal Konsulat di Houston bahwa Dr. Aafia telah didiagnosa mengidap kanker.

Dia menambahkan bahwa sebelumnya ada laporan bahwa Dr. Aafia telah hamil karena pelecehan seksual selama masa tahanan. Meski demikian, kedutaan Pakistan belum terlihat mengkonfirmasi ataupun membantah laporan-laporan tersebut.

Fouzia mengatakan bahwa mantan duta besar Pakistan untuk AS, Husain Haqqani dipanggil kembali keesokan harinya ketika dia memberitahu kita tentang kondisi Dr. Aafia.

Dia mengutip Konsulat Jenderal Pakistan, Aqil Nadeem, mengatakan bahwa dia telah meminta otoritas penjara untuk menyediakan fasilitas medis untuk Dr. Aafia.

Dr. Fouzia juga mengatakan, melihat reputasi penjara Rosswell dan sifat penyakit saudarinya, permintaan itu tidak cukup.

Dia mendesak kedutaan besar Pakistan untuk membentuk tim dokter yang terdiri dari dokter-dokter di penjara dan juga dari sector swasta untuk Dr. Aafia.

Fouzia mengatakan bahwa duta besar Pakistan untuk AS yang baru terpilih, Sherry Rahman, telah memastikan padanya segala bantuan yang mungkin dilakukan sebelum berangkat ke Amerika untuk menerima tugasnya yang baru. Bagaimanapun, bukannya menghubungi dirinya, duta yang satu ini malah belum memberi respon apa-apa soal ini.

Terkait tentang laporan kehamilan Dr. Aafia, Fouzia mengatakan bahwa dia dan keluarga telah diberitahu mengenai ini setelah Dr. Aafia menunjukkan beberapa gejalanya di penjara wanita.

Fouzia mengajukan banding ke AS dan otoritas Pakistan untuk mengatur percakapan melalui telepon antara ibunya dengan Dr. Aafia.

Baru-baru ini, jurnalis Inggris dan aktivis “HAM”, Yvonne Ridley telah menyatakan hukuman panjang untuk Dr. Aafia seperti “hanya satu langkah dari kematian”.

Berbicara mengenai para politisi Pakistan yang mengangkat kasus Dr. Aafia, Fouzia mengatakan bahwa dia tidak akan mempercayai pernyataan-pernyataan mereka hingga dan kecuali saudarinya kembali ke Pakistan. Dia mengeluhkan para politisi itu hanya mengeksploitasi kasus Dr. Aafia hanya untuk mendapatkan “ruang” politik.

Dia mengatakan bahwa di penjara, Dr. Aafia diberi makanan yang tidak memenuhi standard yang layak, yang menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan sebagaimana yang dikeluhkannya selama percakapannya via telepon sebelumnya.

The News Tribe, sebuah website yang berbasis Inggris, telah mengirimkan email kepada duta besat Pakistan untuk AS, Sherry Rahman, untuk mendengar pendapatnya mengenai isu ini tetapi tidak juga mendapatkan balasan sampai ditulisnya berita ini.

Dr Aafia Siddiqui dilahirkan pada 2 Maret 1972 di Karachi, Pakistan.  Dia menghabiskan masa kecilnya di Zambia hingga usia 8 tahun. Dia adalah yang termuda dari tiga bersaudara. Ayah Aafia Muhammad Siddiqui adalah seorang dokter dari Inggris dan ibunya Ismet, adalah ibu rumah tangga yang juga aktif dalam sebuah lembaga sosial. Kakak laki-lakinya adalah seorang arsitek di Texas, sedang kakak perempuannya, Fouzia adalah seorang neurologist lulusan Harvard yang bekerja di rumah sakit Sinai di Baltimore dan juga mengajar di universitas John Hopkins sebelum kembali ke Pakistan. Dr. Aafia secara ilegal diculik di Pakistan pada tahun 2003 dan ditahan di penjara Bagram, Afghanistan, lalu ia diadili di Pengadilan Amerika atas tuduhan terkait dengan pendanaan operasi Al Qaeda.[3]

Dr. Fowzia Siddiqui mengunjungi RS Jiwa Youm-e-Azadi di Karachi pada hari kemerdekaan Pakistan, Kamis (14/8/2014). Di balik kesedihannya dan upayanya membebaskan kakaknya, Dr. Aafia Siddiqui, ia tetap peduli akan wanita lainnya. Menurutnya, tidak boleh ada muslimah lain di dunia ini yang mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh kakaknya. Lantas, siapakan Dr Aafia Siddiqui, hingga seluruh dunia diketuk pintu hatinya agar mendukung pembebasannya?

Berikut sedikit ulasan mengenai sang Mujahidah cendekia dari Pakistan oleh Abdulloh Azzam Al-Adnany dari risalah Yvonne Ridley, yang dipublikasikan pada Jum’at (15/8) dalam akunnya di Facebook. Yvonne adalah wartawati Inggris dan pelindung LSM hak asasi manusia cageprisonners.com yang berbasis di London serta menjadi presiden Eropa dari Persatuan Perempuan Muslim Internasional dan Wakil Presiden Liga Muslim Eropa.

Mujahidah cendekia, putri bangsa Pakistan

Dr. Aafia Siddiqui lahir di Pakistan dan menjadi warga Amerika. Ia merupakan satu-satunya ilmuwan neurologi di dunia yang memiliki PHD dari Universitas Harvard. Juga memiliki 144 sertifikat dan ijazah kehormatan dari lembaga seluruh dunia termasuk dari MIT. Beliau juga seorang hafidzah Al-Quran dan seorang Mujahidah. Tidak ada seorang wanita barat yang setara dan sebanding dengan pendidikan beliau.

Ia diculik bersama 3 orang anak kecilnya tanpa kabar berita sampai 4 orang tahanan Bagram yang berhasil melarikan diri mengungkapkannya tentang narapidana bernomor tahanan 650 yang tidak diketahui namanya. Mereka hanya mengetahui dia adalah seorang wanita Pakistan dan seorang ibu yang dipisahkan dari anak-anaknya dan setiap hari mereka akan mendengar wanita tersebut menjerit akibat disiksa.

Selanjutnya Yvonne Ridley yang juga pernah menjadi sandera Taliban pada tahun 2001, sebagai satu-satunya jurnalis Barat yang secara khusus datang ke Afghanistan untuk menyelidiki kasus Dr Aafia Siddiqui, mengatakan bahwa keadaannya telah menjadi cause celebre (kasus yg terkenal) di seluruh dunia Muslim. Dimana ia dilaporkan dan diungkapkan secara besar-besaran di sidang wartawan tentang siapa sebenarnya tahanan 650.

Sejak saat itu seluruh dunia ingin tahu apa yang telah terjadi kepada Dr. Aafia dalam periode 5 tahun tersebut dari 2003-2008 dan apa kesalahan beliau dan mengapa ia tidak dibicarakan. Penipuan Amerika tentang tiadanya narapidana wanita di penjara Bagram akhirnya terbongkar bersama skrip-skrip bodoh untuk meyelamatkan harga diri FBI Amerika. Alhamdulillah.

Kasus dari ibu-tiga-anak yang sudah terkenal diseluruh rumah tangga dari yang paling relijius sampai yang paling sekuler di Pakistan ini mendorong rakyat Pakistan meminta pemulangannya, diketuai oleh Dr. Foezia Siddiqui, adik Dr. Aafia dengan gerakan bernama Free Aafia Movement.

image

Sekarang ia dikenal sebagai Putri Bangsa meskipun kisahnya telah berkelana melampaui batas negara Pakistan. Ribuan anak muslim telah diberi nama sama dengannya karena itu dia telah menjadi simbol perjuangan Muslimah dunia. Segala sesuatu yang dia wakili berasal dari ketidakadilan yang diciptakan oleh perang Amerika terhadap “terorisme” dengan penculikan, renditions, penyiksaan, pemerkosaan, dan “waterboarding“.

Selama di dalam tahanan di Bagram ia disiksa dan diperkosa setiap hari dan dilecehkan haknya sebagai seorang wanita. Dipaksa menggunakan WC pria dan kamar mandi yang rentan dan bisa dilihat oleh penjagaan penjara. Situasi beliau sepanjang penahanan tersebut sangat meyedihkan sehingga ia hilang ingatan. Nasib anak-anaknya selama 5 tahun tersebut juga tidak diketahui oleh siapapun sehingga sekarang.

Akademisi cerdas, neurosaintis itu, mendapat pendidikan di universitas-universitas kelas atas di AS, sekarang ini terbaring lemah di penjara Texas menjalani 86 tahun hukuman setelah dituduh bersalah mencoba membunuh tentara Amerika. Faktanya, dimana mereka menembaknya dari jarak dekat dan hampir membunuhnya sering diabaikan. Begitu hinanya, tentara AS yang bertugas di Afghanistan yang dibawah sumpah pengadilan mengklaim bahwa akademisi kecil dan rapuh itu melompat di balik tirai sel penjara, menyambar salah satu senjata mereka untuk menembak dan membunuh mereka.Itu adalah cerita yang dikarang dimana pengacara manapun yang berpengalaman bisa membantahnya.

Skenario yang digambarkan di pengadilan meragukan, dan lebih penting lagi, ketiadaan bukti – tidak ada residu tembakan di pakaian dan tangannya, tidak ada peluru dari senjata yang ditembakkan, tidak ada sidik jari milik Dr. Aafia pada senapan yang didapat di TKP. Bukti penting lainnya yang diambil oleh militer AS dari TKP pun hilang sebelum sidang. Jika Anda sudah menonton episode dari CSI, tentu kita bersama akan berkata “ayolah, ilmu tidak berbohong”. Itu benar-benar dakwaan yang mentah dan bodoh.

Setelah diobati di bagian medis di Bagram, ia kemudian di ‘rendition‘ (dipindahkan secara rahasia -red) ke Amerika untuk diadili atas kejahatan yang diduga dilakukan di Afghanistan. Dengan mencemoohkan Konvensi Wina dan Jenewa, ia tidak diberi akses konsuler sampai hari ia tampil pada pengadilan pertama.

Kesaksian Dr. Aafia “dimutilasi” di pengadilan

Pengadilannya diadakan di New York, lokasinya berjarak selemparan batu dari tempat dimana Menara Kembar pernah berdiri. Tentu saja membuatnya tidak mungkin untuk tidak membangkitkan kenangan yang mengerikan di hari 11 September dimana bagi sebagian orang selamanya mengubah umat Islam menjadi “Musuh Publik Nomor Satu”. Maka, sebuah tim legal yang “tak bersemangat” dipaksakan kepada Dr. Aafia oleh pemerintah AS. Mereka sukses, gagal meyakinkan juri bahwa ia tidak bersalah, akibat kesaksian Dr. Aafia “dimutilasi” oleh penerjemah pengadilan, terlebih bukti ilmiah kuat bahwa ia tidak bisa merebut pistol tentara, apalagi menarik pelatuk.

Yvonne telah melihat penjara di Ghazni beberapa minggu setelah penembakan di Juli 2008 dan menemukan bahwa para tentara ketika itu panik dan menyembur ruangan dengan peluru saat mereka berusaha melarikan diri. Buktinya ada disana dalam rekaman film kunjungannya dan diserahkan kepada tim pembela. Penuntut tidak mempercayai seorang jurnalis barat telah melakukan perjalanan di Afghanistan bagian ini dan mendapatkan kesaksian dan bukti yang menarik. Sayangnya, segera setelah itu bukti forensik penting termasuk peluru yang dihabiskan telah dicungkil dari dinding dalam sel, hilang.

Melihat Dr Aafia muncul dari balik tirai tanpa borgol dan tutup kepala menyebabkan kepanikan buta di antara para prajurit muda yang telah diberi penjelasan singkat oleh FBI bahwa mereka akan menangkap salah satu wanita yang paling berbahaya di dunia. Saya mewawancarai saksi mata, petugas polisi senior Afghanistan dan satu demi satu mengatakan laporan mereka tentang apa yang terjadi. Namun satu-satunya orang Afghanistan yang dibawa ke pengadilan untuk memberikan kesaksian terhadap dirinya adalah penerjemah FBI yang sekarang memiliki “Green Card” (ijin bekerja di AS -red) dan tinggal di New York bersama keluarganya. Sungguh iming-iming kewarganegaraan AS membuat “mutilasi” persaksian itu fitnah yang keji bagi Dr. Aafia, hingga kini.

Yang tidak diberitahukan kepada juri adalah bahwa Dr. Aafia, dan ketiga anaknya, semuanya dibawah umur lima tahun ketika itu, telah diculik dari jalanan di dekat rumah mereka di Karachi dan hilang sejak tahun 2003. Sebaliknya, FBI mengeluarkan cerita bahwa pada waktu itu dia sebenarnya pergi jihad ke Afghanistan – itu adalah sebuah kisah menggelikan tanpa dasar dan, karena setiap ibu dari anak-anak tahu, perjalanan ke sudut toko lokal dengan balita sudah enjadi tantangan monumental, palagi berangkat untuk berperang di Afghanistan, apa mungkin dengan kereta dorong bayi, dan menggendong balita ditangan- adalah hal yang tak terbayangkan.

Narasi FBI dimentahkan oleh Elaine Whitfield Sharp, seorang pengacara berbasis di Boston yang disewa oleh keluarga Siddiqui untuk mengemukakan kronologi ketika Dr. Aafia pertama kali menghilang. Namun, karangan bebas itu telah diyakini pengadilan untuk selamanya. Hanya Alloh yang dapat mengabulkan permohonan kita atas kebebasannya. Allohu Musta’an.

Dari tahun-tahun yang hilang dari kehidupan akademisi ini terungkap cerita yang sekarang dikenal hampir semua orang di dunia Muslim di mana dia secara luas dianggap sebagai korban perang George W Bush melawan “terorisme”. Saat ia mencoba untuk memberitahu juri bagaimana ia ditahan di penjara rahasia – tanpa perwakilan hukum, terputus dari dunia luar sejak 2003, dimana digunakan teknik interogasi brutal untuk melemahkannya- ia dibungkam oleh hakim yang mengatakan ia hanya terkait dalam insiden penembakan sel.

Hakim Richard Berman, seorang pria berpostur kecil sederhana yang terlalu sederhana, bersikeras bahwa iatidak tertarik pada tahun-tahun yang hilang, itu tidak ada relevansinya dengan kasus ini, dia bersikeras. Padahal ia tahu bahwa Dr. Aafia tidak mungkin seteroris itu. Sebagaimana pengakuannya tentang Dr. Aafia bahwa,

“Dia (Dr Aafia) bersaksi bahwa setelah menyelesaikan studi doktor dia mengajar di sekolah, dan minatnya adalah dalam pemberdayaan kemampuan disleksia dan anak berkebutuhan khusus lainnya. Dia muncul sebagai pengasuh yang cinta kemanusiaan dan pendidik, lembut namun tegas untuk mencari kebenaran dan keadilan.”

Ketika bukti terus diungkap kita jadi tahu bahwa dia tidak tahu di mana ketiga anaknya – itu sesuatu yang menggemparkan bagi mereka yang tahu kisah sebenarnya. Ia berbicara tentang kecemasan dan ketakutan akan diserahkan kembali ke Amerika ketika ia ditahan di Ghazni dan ditahan oleh polisi.

Sebagaimana pengakuan Dr. Aafia selama di pengadilan bahwa,

“Dalam ketakutan saat di penjara rahasia lain, saya mengintip dibalik tirai yang membatasi bagian ruangan lain dimana tentara Afganistan dan Amerika ketika itu sedang berbicara. Lalu tentara Amerika terkejut melihatnya, dia melompat dan berteriak bahwa tahanan telah lepas, dan menembaknya di bagian perut. Saya juga ditembak di bagian samping oleh orang kedua. Setelah roboh di tempat tidur di ruangan itu, saya secara kasar dilempar di lantai dan kehilangan kesadaran.”

Rangkaian cerita ini persis seperti yang diceritakan Kepala Polisi Anti Terorisme yang Yvonne wawancarai di Afghanistan pada musim gugur 2008 lalu. Ia ingat ketika ia tertawa menceritakan kepada Yvonne bagaimana tentara AS panik, menembak secara acak di udara ketika menyerbu ruangan dalam kepanikan membabi buta.

Tentu saja tidak mungkin sekelompok tentara itu akan mengakuinya, tetapi berdasarkan mereka yang diwawancarai Yvonne, untuk filmnya yang bertajuk “In Search of Prisoner 650” di Afghanistan, itulah yang terjadi.

Alhamdulillah, dua dari anak-anaknya yang hilang telah ditemukan dan bersatu kembali dengan keluarga mereka di Karachi. Masih tidak jelas di mana anak-anak ini ditahan ketika mereka diculik dari sebuah jalan di Karachi, tapi ada tidak ada yang bisa menyamarkan aksen Amerika dari para penculik, yang mungkin suara dari sipir penjara mereka.

Jadi mengapa FBI ingin berbicara dengan Dr. Aafia sedari awal dan mengapa mereka menggambarkan ia sebagai seorang teroris berbahaya yang buron? Jika memang ia adalah orang yang mereka tuduhkan mengapa ia tidak didakwa dengan terorisme dan mengapa jaksa berhati-hati untuk menunjukkan bahwa dia bukan Al-Qaeda?

Satu orang yang mungkin memegang kuncinya adalah mantan suami Dr Aafia yang telah menolak untuk diwawancarai Yvonne. Dia akan melalui perceraian yang sangat agresif dan pahit di bulan-bulan sebelum Dr. Aafia menghilang. Dia yang pertama kali jadi perhatian FBI pada tahun 2002 ketika ia tinggal di Amerika, tapi apa yang ia katakan kepada mereka (FBI) menjadikan mereka mencurigai mantan istrinya melakukan kesalahan, itu adalah tebakan semua orang.

Siapa yang merenggut Dr. Aafia dan anak-anaknya? Yvonne tidak tahu, tapi Yvonne juga telah melacak beberapa mantan tahanan Bagram yang mengatakan kepadanya, bahwa mereka melihat Dr. Aafia ditahan di Bagram pada tahun 2005 dan memberikan identitas positifnya dengan foto sebelum dia diculik dan setelah penangkapannya di Ghazni. Intinya adalah Dr. Aafia Siddiqui tidak boleh di penjara dan selama ketidakadilan ini terus berlangsung dia akan menjadi ajakan bagi siapa saja yang ingin memilih memerangi Amerika.

Satu laporan juga menyatakan bahwa ia mungkin mengidap kerusakan sel-sel otak dan sebagian dari usus kecil beliau telah dipotong dan dibuang, karena tidak mengalami perawatan intensif atas luka tembak yang dialaminya di awal insiden ini. Pengacaranya mengatakan bahwa Dr. Aafia menunjukkan gejala-gejala yang konsisten dengan penderita tekanan perasaan akibat trauma.

Bukan saja Dr.Aafia yang tengah mengalami kekejian AS si tangan Dajjal, tetapi banyak lagi wanita Islam yang diculik oleh FBI dan sekutunya tanpa diketahui dan diadili, dan akhirnya kita hanya tahu bahwa wanita-wanita ini dilecehkan secara seksual seperti di penjara Abu Gharib, Irak. Biarlah Dr. Aafia menjadi penyebab pembebasan untuk wanita-wanita Islam yang tertindas di penjara-penjara Amerika dan sekutunya di seluruh dunia.

Berikut ini pidato yang menyentuh dari Lauren Booth seorang mualaf Inggris dalam aksi ‘Menentang Penahanan Aafia Siddiqui’ di London pada 23 Sepetember 2012. Lauren Booth dikenal gencar melakukan pembelaan terhadap umat Islam yang ditindas. Meskipun merupakan saudara ipar dari mantan PM Inggris Tony Blair, Booth dengan berani menyerukan menyeret mantan PM Inggris itu bersama George W Bush ke Pengadilan Kriminal Internasional karena bertanggung jawab dalam berbagai kejahatan terhadap umat Islam.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Wahai saudara-saudaraku seiman, Aafia Siddiqui adalah saudara kita dalam ikatan kemanusiaan. Dia adalah saudara kita dalam Islam, dan apa yang telah diperbuat Amerika terhadapnya adalah sebuah tindakan kejahatan, dan mengapa mereka memenjarakan seorang wanita seperti saudara kita Aafia? Mari kita lihat sebenarnya siapakah dia. Aafia Siddiqui adalah seorang ilmuwan biologi syaraf, salah satu dari para ilmuwan jenius umat kita sekarang.
Wahai saudara-saudaraku, enam bulan yang lalu saya berada di Malaysia, saya mendatangi sebuah konferensi yang bertujuan untuk membawa George Bush dan Tony Blair ke pengadilan Den Haag, pengadilan dengan tuduhan kriminalitas perang. Di konferensi itu saya berbincang dengan seseorang ibu-ibu Iraki, yang telah diambil dari rumahnya, yang telah dituduh dengan salah satu tuduhan kriminalitas Amerika, yang telah disiksa, keponakannya telah dibawa ke selnya dan ditelanjangi di hadapannya, dan dipermalukan dengan tindakan lainnya, anak perempuannya diancam akan diperkosa.
Kalau ada orang yang berani mengecam kita sebagai unjuk rasa anti Barat, maka kami akan katakan jangan coba-coba mengancam kami secara emosional, karena hukum yang buruk tetaplah hukum yang buruk, tindakan kriminal tetaplah kriminal, dan kita akan selalu memprotesnya hingga Allah subhana wa ta’ala memanggil kita.. dan kalian tidak akan membungkam kami dengan tuduhan-tuduhan ‘anti Barat’ dan ‘anti semitisme’
Saudara-saudara, Aafia Siddiqui tidak ditahan sebagai teroris
Dia ditahan karena dia adalah ilmuwan biologi syaraf
Dia ditahan karena dia adalah aktivis
Kalian mungkin tidak tahu, tapi dalam waktu 5-6 tahun sebelum dia ditahan, Aafia telah menyuarakan derita Bosnia, Afghanistan, Irak dan umat Islam di dunia.
Aafia adalah seorang yang terbaik di antara umat kita ini
Saya bekerja dengan Muslim Legal Fund (yayasan bantuan hukum untuk Muslim) di Amerika, dan ketahuilah ketidakadilan yang menimpa Aafia bukanlah satu-satunya..
Saat ini di Amerika ada sekitar 300 saudara Muslim yang menjalani hukuman penjara dalam waktu yang lama karena tuduhan yang berdasarkan motivasi pre-emptive (sangkaan kejahatan sebelum kejahatan tersebut terjadi)
Amerika senang melakukan tindakan pre-emptive, seperti serangan pre-emptive dan sekarang mereka mau keadilan pre-emptive.
Kalian tahu? Menurut saya mereka terlalu banyak menonton film, siapa yang telah menonton Minority Report? Di dalam film tersebut Tom Cruise adalah seorang polisi dari masa depan, dan tidak ada kejahatan sama sekali, karena jika ada tindakan kejahatan, mereka bisa ke masa depan dan menghentikan tindakan kejahatan tersebut. Mereka berpikir bahwa itu yang sedang terjadi di Amerika. Jika kalian berpakaian seperti “teroris”, jika kalian pergi ke konferensi-konferensi aktivis, jika kalian memprotes dan kalian cocok dengan kriteria-kriteria tersebut, Amerika akan melakukan tindakan pre-emptive dengan memasukkan kalian ke penjara dengan tuduhan kejahatan teroris, sebuah tindakan yang tidak kalian lakukan, dan tidak akan pernah kalian lakukan, saya mau kalian semua awas terhadap ini, bukan berarti saya ingin kalian takut saudara-saudara, tapi kita harus bersatu.
Aafia Siddiqui selalu teguh berjuang untuk saudara-saudara dan tidak pernah mundur. Demikian pula kita juga harus bersikap sama dengan Aafia dan umat Islam lainnya di masyarakat kita.
Karena kalau kita lihat Inggris sekarang, ketika salah seorang dari saudara kita ditahan, seseorang yang kita kenal, mungkin dia seorang dokter, atau sukarelawan, tahukah kita apa yang terjadi? Apakah kita masih mau mengunjunginya, atau kita berkilah kita khawatir terhadap keluarga kita.. ingat bahwa kita semua akan mempertanggungjawabkan kepada Allah terkait nasib saudara-saudara kita.
Maka kita tidak boleh takut, hukum yang tidak adil adalah hukum yang tidak adil.
Dan saya akan akhiri dengan pernyataan berikut. Aafia Siddiqui adalah korban ketidakadilan, tapi tidak ada yang menang di sini. Saya beritahu, Subhanallah, Aafia Siddiqui adalah pemenang terhadap para penahannya. Dia adalah pemenang yang sebenarnya karena Aafia menginginkan Jannah.
Alhamdulillah.

Kabar gembira untuk Aafia

Pada bulan Ramadhan 2011, sang ibu menerima telepon dari Aafia yang terpenjara di Amerika. Ibunya pun menangis mengenang nasib cucunya harus melalui penderitaan, cucu laki-lakinya masih hilang, dan anak perempuannya masih tidak jelas kapan bebasnya, kecuali dengan ridho Allah.

Tahukah apa yang Aafia katakan kepada ibunya? Berikut isi surat cantik tersebut.

“Wahai ibu janganlah menangis, saya gembira! “Wahai ibu, setiap malam dalam mimpiku Rasulullah SAW mengunjungiku. Lalu Rasulullah mengajakku untuk menemui istrinya Aisyah ra, dan memperkenalkanku kepada istri baginda.Baginda berkata pada Aisyah .. inilah putriku Aafia .. “

Subhanallah. Jadi kita bukanlah pemenang, tapi kita akan menjadi pemenang kalau kita bersikap tegas dalam menegakkan keadilan demi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ibu Aafia telah mendapatkan kabar bahwa Aafia akan mendapatkan Jannah dari Nabi Muhammad SAW dalam mimpi Aafia. Allahu Akbar, pekikkan takbir!

Kita tidak akan takut oleh siapapun, kecuali Allah SWT. Tidak ada yang bisa kita sumbangkan melainkan doa, menyebarkan kisahnya di blog dan juga media lain untuk pembebasan beliau.

Boleh jadi dengan upaya semisal membagikan berita ini dan memboikot produk Amerika, kita bisa turut berjihad membantu Aafia-Aafia lainnya, dari bumi Indonesia.

Allah tidak memandang efeknya, namun semoga usaha kita yang dilandasi niat tulis ikhlas ini menjadi pembela dan peringan penderitaan saudara-saudari kita. Ianya juga mudah-mudahan menjadi sumbangsih atas penegakan kalimatullah di muka bumi. Di akhirat nanti Allah akan bertanya tentang apa yang telah kita lakukan untuk saudara-saudara Islam yang tertindas, insyaa Allah kita bisa menjawabnya.

Setiap share yang dilakukan melalui media apapun, mudah-mudahan menjadi pembuka semua mata dan hati kita sesama muslim dan muslimah. Dengannya terbongkar nasib saudara/saudari kita yang tertindas hak hidupnya di belahan lain bumi Allah.[4]

Allah Maha Menggenggam hati mahluk-Nya, maka siapa saja dapat Dia gerakkan hatinya untuk membela Mujahidah cendekia kita, Dr. Aafia Siddiqui. Sebagaimana yang terjadi pada Senin (27/9/2014),The Deen Show telah mengunggah liputan Mantan pengacara AS Jenderal Ramsey Clark pada Youtube, yang telah membuka fakta bahwa Mujahidah cendekia Dr. Aafia Siddiqui tidak bersalah dan telah dijadikan korban politik kekuasaan internasional.

“Dr Aafia Siddiqui telah dikorbankan oleh politik internasional yang memainkan kekuasaan. Saya belum pernah menyaksikan ketidakadilan sekeji ini selama karier saya,” the Daily Times mengutip Clark.

“Dr. Aafia tidak membunuh ataupun berusaha membunuh siapapun. Faktanya, ia telah ditembak tiga kali dan harus segera dibebaskan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa hubungan Pakistan dan AS malah akan semakin baik jika Dr. Aafia dibebaskan.

Clark memperlihatkan niatnya untuk mengumpulkan aspirasi masyarakat Amerika sebagai salah satu jalan untuk membebaskan Dr. Aafia dari cengkraman tirani AS.

image

“Sejumlah aktivis perdamaian dan keadilan akan bergabung bersama saya untuk mempromosikan agenda ini. Di bawah payung hukum, keadilan seharusnya tersedia bagi siapa saja tanpa syarat apapun,” katanya tegas.

Clark menyeru peran serta masyarakat Pakistan terurama para pengacaranya, untuk menyuarakan pembebasan Dr. Aafia hingga ke tingkat negara.Insyaa Allah dengan tekanan dari berbagai pihak, upaya pembebasan ini tidak akan mustahil.

Ia mengaku bahwa dukungan kampanye pembebasan ini akan didapatkan dari semua ranah masyarakat di Amerika Serikat. Selain Clark, Pendeta Kathleen Day juga akan menyuarakan tuntutan pembebasan Dr. Aafia Siddiqui.

Diikuti mantan calon presiden AS dan senator bermasa kerja 2 periode -Mark Gravel- turut membela Aafia Siddiqui. Insyaa Allah, para penyuara keadilan ini, termasuk anggota kongres Cynthia McKinney akan memperjuangkan Mujahidah cendekia kita pada acara The Deen Show pekan ini. Allahu Akbar![5]

image

image

image

Referensi

  • [1] Terungkapnya Misteri Tahanan No. 650 (arrahmah.id)
  • [2] Akankah Tahanan Nomor 650 Itu Bebas? (arrahmah.id)
  • [3] Dr. Aafia Siddiqui dinyatakan mengidap kanker dan diduga hamil akibat pelecehan seksual (arrahmah.id)
  • [4] Kenali Dr. Aafia Siddiqui, deritanya tak boleh dirasakan Muslimah lainnya (arrahmah.id)
  • [5] Jenderal Ramsey Clark : Dr. Aafia Shidiqqui memang diculik dan disiksa AS (nahimunkar.com)
    Sumber lain: freeaafia.org, aafiamovement.com
Iklan

One response »

  1. […] Baca juga: USA DRONE STRIKE TERROR (REAPER & PREDATOR) Penyiksaan & Pemerkosaan Tahanan Abu Ghraib Konspirasi Tahanan #650 […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s