Sebelum menjalani masa hukuman di rutan Pondok Waru Bandung, Ariel juga lama menjalani masa tahanan di Rutan Baresekrim Mabes Polri. Di tempat ini, Ariel bertemu dengan banyak orang, mulai dari pembunuh, Misbakhun (tersangka pemalsuan LC Bank Century, yang oleh Ariel hanya menulis pak Mis) hingga ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Ariel pun menyerahkan diri dan menjadi hunian resmi di ‘Kampung Atas’, sebuah sebutan di blok rumah tahanan Bareskrim Mabes Polri.

Kisah hari pertama Ariel pun tertuang dalam buku ‘Kisah Lainnya’ yang ditulisnya sendiri selama mendekam di Rutan Kebon Waru, Bandung.

Sebagai artis terkenal, sambutan hangat diterima Ariel saat menjadi ‘warga’ baru di ‘Kampung Atas’. Namun, Aril tetap gugup dengan ‘status’ barunya sebagai tahanan. Berbagai karakter unik orang pun ditemui Ariel di rumah tahanan itu.

Ariel mengaku mendapat pelajaran dari pertemuan dengan orang-orang baru itu. Salah satu yang paling unik adalah pertemuannya dengan pejabat-pejabat negara tersangka kasus korupsi, dan tokoh kondang ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang ditangkap atas tuduhan aksi terorisme.

Di lingkungan ‘Kampung Atas’, Abu Bakar Ba’asyir dipanggil ‘Pak Ustad’, dan Ariel punya kesan tersendiri terhadapnya. Ada kata-kata dari Pak Ustad yang terus diingatnya.

“Jangan berkecil hati, manusia diciptakan di dunia ini memang untuk bikin kesalahan, lalu memperbaiki diri,” kenang Ariel menirukan nasihat Abu Bakar Ba’asyir dikutip detikcom.

“Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan Tuhan karena tidak ada tujuan hidup,” tambahnya.[1]

image

Seperti dilansir JPNN, Ariel mengenal ustadz yang dituding sebagai gembong teroris itu lewat pak Mis. ustadz Abu Bakar hanya mengenal nama Ariel namun tidak pernah bertemu wajah. “Oh ini toh Ariel? Saya hanya tahu namanya saja,” kata ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam buku “Kisah Lainnya” Catatan 2010-2012, Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David.

Suatu hari sekitar pukul 05.00, Ariel duduk sendirian di Kampung Atas (sebutan untuk Rutan Bareskrim).  Ariel yang susah tidur melihat Ompung tua, tahanan lainnya, keluar dari selnya untuk melakukan senam pagi.

Tak lama kemudian ustadz Abu Bakar Ba’asyir keluar dari selnya menggunakan celana panjang. Ia juga memulai aktivitasnya dengan berlari-lari kecil, bolak balik sepanjang koridor sel.

image

Ariel membuat puisi khusus untuk ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Berikut bunyinya:

Ba’asyir tua, berlari kecil di gang yang bergema
Larut dalam dunianya sendiri
Dia tidak menolerensi dunia
Sehingga dunia tidak menolerensinya
Keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras
Hitam putih, tapi tidak abu-abu
Keras memang …
Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat.[2]

Referensi

  • [1] Kenangan Ariel bersama ustadz Ba’asyir di penjara (bilal/arrahmah.com)
  • [2] Bait-bait Puisi Ariel untuk ustadz Abu Bakar Ba’asyir (bilal/arrahmah.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s