image

CIA Melakukan Penyiksaan dan Pemerkosan Tahanan Wanita di Irak

Kejahahatan Amerika diberbagai kawasan dunia semakin terungkap. Amerika yang sering mengkritik negara lain sebagai pelanggar HAM, justru merupakan negara teroris, pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Pengadilan HAM Eropa kemarin menyatakan bahwa CIA melakukan penyiksaan  dan pemerkosaan di Irak.

Seperti yang dilansir http://www.globalresearch.ca (23/12), pengadilan HAM Eropa Menyebut Interogasi CIA sebagai “Penyiksaan”.  Sebelumnya Pengadilan Kejahatan Perang menyatakan mantan Presiden Bush dan rekan-rekannya sebagai para penjahat perang.

tanggal 18 Desember, Hamid al-Mutlaq, ketua sebuah organisasi HAM Irak mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Baghdad terjadinya penyiksaan dan pelanggaran HAM dan perkosaan terhadap para wanita yang ditahan di penjara-penjara Irak. Laporan ini didasarkan pada kesaksian rahasia para tahanan wanita di penjara-penjara Irak.

Mutlaq mengatakan bahwa “laporan itu menegaskan apa yang baru-baru ini telah dinyatakan oleh beberapa anggota komite parlemen dan organisasi HAM, bahwa ada pelanggaran, penyiksaan dan pemerkosaan yang sistimatis terhadap para tahanan wanita di penjara-penjara Irak,”

Pada tanggal 12 Desember Gerakan Sadris mengajukan permohonan kepada Jaksa Penuntut Umum untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Menteri Kehakiman Hassan Shammari dan para pejabat lainnya karena mencegah para anggota parlemen Irak mengunjungi penjara setelah mereka menerima informasi tentang adanya penyiksaan dan pemerkosaan terhadap beberapa narapidana.

Walaupun ada petunjuk keterlibatan aparat keamanan dalam penyiksaan sistematis dan pemerkosaan terhadap para tahanan wanita,  komite penyelidikan yang dibentuk  hanya menyatakan yang terjadi adalah “ancaman pemerkosaan”.

Perlu diketahui bahwa Amnesty International mengungkapkan dalam laporan yang dikeluarkan pada tanggal 12 September 2010, bahwa setidaknya ada tiga puluh ribu tahanan di penjara-penjara Irak yang belum dikeluarkan penilaian terhadap mereka, dan diperkirakan mendapatkan penyiksaan dan perlakuan buruk hingga kematian. Hal itu terjadi akibat penyiksaan atau perlakuan sewenang-wenang oleh para interogator atau sipir penjara, yang menolak untuk mengungkapkan nama-nama tahanan.

Pemerintah Amerika Bertanggung jawab

Pemerintahan AS bersalah atas munculnya tindakan penyiksaan, pemerkosaan dan sodomi. Pelanggaran HAM yang dimulai tahun 2004 dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual, termasuk penyiksaan, perkosaan, sodomi, dan pembunuhan terhadap para tahanan di penjara Abu Ghraib di Irak mengundang perhatian publik. Tindakan ini dilakukan oleh para personel polisi militer Angkatan Darat Amerika Serikat, bersama dengan lembaga-lembaga pemerintah AS lain.

Pada September 2010 Amnesty International mengeluarkan sebuah laporan berjudul “Orde Baru, Pelanggaran Yang Sama; Penahanan Semena-Mena dan Penyiksaan di Irak” dimana masih ada hingga 30.000 tahanan yang tetap ditahan tanpa diberi hak dan sering disiksa atau dilecehkan. Direktur Amnesty untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Malcolm Smart melanjutkan dengan mengatakan “pasukan keamanan Irak bertanggung jawab karena secara sistematis melanggar hak para tahanan dan telah diizinkan.

Pada tanggal 11 Mei 2012 sebuah pengadilan dengan suara bulat menyampaikan vonis bersalah terhadap mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan rekan-rekannya pada sidang Pengadilan Kejahatan Perang di Kuala Lumpur.

Dengan tuduhan melakukan tindak Kejahatan Penyiksaan dan Kejahatan Perang, pengadilan menyatakan para terdakwa yakni mantan Presiden AS George W. Bush dan rekan-rekannya yakni Richard Cheney, mantan Wakil Presiden AS, Donald Rumsfeld, mantan Menteri Pertahanan, Alberto Gonzales, lalu Penasihat Presiden Bush, David Addington, Penasehat Umum Wakil Presiden, William Haynes II, maka Penasihat Umum Menteri Pertahanan, Jay Bybee, Asisten Jaksa Agung, dan John Choon Yoo mantan Wakil Asisten Jaksa Agung, sebagai bersalah sebagaimana yang dituduhkan dan dihukum sebagai penjahat perang karena tindakan Penyiksaan dan Perlakuan Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan dari Para Pemohon yang merupakan korban kejahatan perang.

Pada tanggal 13 Desember Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa telah memutuskan bahwa warga negara Jerman Khaled el-Masri telah disiksa oleh agen-agen CIA. Ini adalah pertama kalinya pengadilan menjelaskan perlakuan oleh CIA sebagai penyiksaan. Para agen CIA telah menyiksa Khaled el-Masri, dengan sodomi, diikat, dan dipukuli, sementara polisi negara Macedonia hanya menonton, kata Pengadilan bersejarah HAM Eropa.

Akuntabilitas dan Keadilan bagi korban penyiksaan

James Goldston, direktur eksekutif Open Society Justice Initiative, menggambarkan putusan pengadilan HAM Eropa sebagai “hukuman otoritatif atas beberapa taktik yang ditolak yang dipakai dalam perang melawan teror pasca Peristiwa 11/9″.

Jadi, akhirnya kita melihat keadilan bagi para korban penyiksaan dalam “Perang Melawan Teror”. Mari kita berharap ini adalah awal dari sebuah proses yang akan terus meminta Pemerintah AS bertanggung jawab atas kejahatan perang dengan penyiksaan, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Peter Van Buren, 24 tahun mantan pejabat Departemen Luar Negeri, mendesak rekan-rekan senegaranya untuk menerima tanggung jawab mereka.

Namun, Otoritas Irak yang merupakan pemerintah bentukan AS melanjutkan kebijakan yang sama sebagaimana kebijakan penjajah AS. Mereka menggunakan alasan yang sama dan taktik seperti yang dipakai Amerika Serikat untuk menghindari tanggung jawab mereka. Suatu hari mereka harus diseret ke pengadilan.

Foto-Foto Keji di Penjara Abu Ghraib

image

image

image

image

image

image

image

image

image

USA Menyesalkan Peredaran Foto-Foto Abu Ghraib

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat langsung bereaksi menyusul tayangan rekaman gambar terbaru penyiksaan tahanan di penjara Abu Ghraib, Irak. Rekaman gambar tersebut dinilai menjijikkan dan bisa membangkitkan amarah dunia. Demikian dikatakan Penasihat Hukum Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat John Bellinger, Rabu (15/2) di Washington D.C, AS.

Gambar berupa foto-foto dan rekaman video pendek ini ditayangkan Stasiun Televisi Australia Special Broadcasting Service (SBS) dalam sebuah paket acaranya bertajuk Dateline kemarin. Foto-foto yang memperlihatkan pelecehan serendah-rendahnya terhadap manusia yang diambil pada akhir 2003 silam, diklaim sebagai rekaman terbaru dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Menurut Bellinger, akan lebih baik jika foto-foto itu tidak dipublikasikan. Ini bukan karena pihaknya ingin menyembunyikan bukti pelanggaran hak asasi manusia namun lebih karena khawatir akan dampak yang ditimbulkan. Ditambahkan Bellingger, publikasi foto itu tidak perlu apalagi investigasi berlapis telah dilakukan untuk mengusut kasus pelanggaran HAM di Abu Ghraib.

USA diperintahkan Tampilkan lebih banyak Foto Keji di Penjara Abu Ghraib

Pemerintah Amerika Serikat (AS) harus menampilkan foto-foto perlakuan kepada tahanan di Penjara Abu Ghraib, Iraq; dan rumah tahanan sejenisnya. Demikian keputusan yang diumumkan oleh Hakim Federal AS.

Hakim Alvin Hellerstein di Manhattan mengatakan, keputusan ini tidak akan berlaku untuk 60 hari agar Departemen Pertahanan AS mempunyai waktu memutuskan apakah mereka akan mengajukan banding atau tidak.

Keputusan ini merupakan sebuah kemenangan bagi Persatuan Kebebasan Sipil AS (ACLU) yang mengajukan gugatan kepada Pemerintah AS pada 2004 yang meminta perilisan foto-foto tersebut.

“Foto-foto itu penting untuk menjadi catatan publik. (Foto-foto itu) adalah bukti terbaik tentang seperti apa tempat penahanan militer, dan pengungkapannya akan membantu masyarakat untuk menyadari seperti apa akibat dari kebijakan pemerintahan Presiden Bush,” kata Wakil Kepada Bidang Hukum ACLU, Jameel Jaffer, yang dikutip Reuters, Sabtu (21/3/2015).

Pada 2004, beberapa foto dari Penjara Abu Ghraib bocor ke publik dan menimbulkan perdebatan mengenai perlakuan yang diberikan kepada para tahan di sana. AS diduga melakukan penyiksaan terhadap para tawanan, sehingga pada 2005 Hellerstein memerintahkan Pemerintah AS menyerahkan foto-foto dari Penjara Abu Ghraib.

Kongres kemudian mengesahkan sebuah undang-undang yang memperbolehkan Menteri Pertahanan AS untuk menahan foto tersebut dengan alasan perilisannya akan membahayakan warga AS.

Agustus 2014, Hakim Hellerstein memutuskan bahwa Pemerintah AS telah gagal membuktikan bahwa perilisan foto-foto tersebut berbahaya bagi prajurit dan pekerja AS yang bekerja di luar negeri, dan memberikan waktu bagi pemerintah untuk memberikan bukti baru.

Batas waktu pemberian bukti itu terakhir pada Jumat 20 Maret 2015, dan pemerintah tidak dapat memberikan bukti baru yang diminta.

Penyiksaan di Irak Akibat Pemerintahan Bush Mengabaikan Hukum Internasional

Laporan setebal 38 halaman  yang berjudul “The Road to Abu Ghraib” itu mempelajari bagaimana pemerintahan Bush dengan sengaja mengadopsi kebijakan yang memperbolehkan teknik-teknik interogasi yang ilegal. Selama dua tahun mereka juga menutup-nutupi atau mengacuhkan laporan penyiksan yang dilakukan oleh tentara Amerika.

“Horor yang terjadi di Abu Ghraib bukanlah semata tindakan pribadi seorang tentara, Abu Ghraib adalah hasil dari keputusan yang dibuat oleh pemerintahan Bush, yang tidak mengindahkan peraturan,” ujar Kenneth Roth, Executive Director Human Right Watch sebagaimana dimuat dalam www.hrw.org.

Menurut Human Right Watch, kebijakan pemerintahan Bush menciptakan kondisi ke arah kejadianAbu Ghraib melalui tiga cara.Pertama, setelah serangan 11 September, pemerintahan Bush memutuskan bahwa perang terhadap teroris memperbolehkan AS untuk menghindari pembatasan oleh hukum Internasional.  Konvensi Jenewa dikesampingkan dan dinyatakan “kuno”. Pengacara dari Pentagon, Departemen kehakiman, dan kantor penasehat Gedung putih menyatakan bahwa Presiden Amerikatidak terikat pada hukum Amerika dan hukum internasional yang melarang penyiksaan.

Sebagai konsekuensinya, Amerika mulai menciptakan penjara lepas pantai tak terbatas, seperti Guantanamo di Kuba dan menempatkan para tahanan lainnya di lokasi yang dirahasiakan. Pemerintahan Bush juga mengirim tersangka teroris–tanpa proses hukum–ke negara-negara dimana disana mereka dipukuli agar memberi informasi.

Kedua, Amerika menggunakan metode pemaksaan  dengan membuat kesakitan dan mempermalukan para tahanan dengan tujuan “melembekkan” mereka dalam interogasi. Metode itu termasuk menempatkan tahanan dalam posisi yang menimbulkan kesakitan dan stres, melarang mereka tidur atau mendapat cahaya untuk waktu yang lama, memberi mereka suhu yang terlalu panas atau dingin, atau memberi suara ribut, atau penerangan  yang berlebihan.

Padahal, teknik-teknik itu dilarang oleh hukum internasional yang tidak memperbolehkan penyiksaan, kekejaman atau perlakuan yang merendahkan kemanusian atau melanggar hak asasi manusia. Hal itu juga dilarang oleh hukum tentang konflik bersenjata dan peraturan militer Amerika sendiri.

Yang ketiga, sampai saat dipublikasikannya foto-foto Abu Ghraib di media massa, pejabat pemerintahan Bush  melakukan pendekatan “see no evil, hear no evil” terhadap laporan-laporan yang menyatakan adanya perlakuan menyimpang terhadap tahanan.

Bukti sangkalan

Sejak hari-hari pertama perang diAfghanistan maupun pendudukan Irak, pemerintah Amerika telah menutup-nutupi atau gagal melakukan tindakan terhadap tuduhan penyiksaan yang telah terjadi berulangkali.

Karena pemerintahan Bush menyangkal mempunyai kebijakan untuk menyiksa atau menyakiti tahanan, Human Right Watch meminta Presiden Bush untuk memberikan bukti-bukti atas sangkalan itu dengan cara mempublikasikan dokumen-dokumen pemerintah yang relevan.

Human Right Watch juga menuntut pemerintahan Bush untuk mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa penyiksan tersebut tidak berlanjut dan pemerintah dengan sungguh-sungguh menuntut semua pihak yang memberikan perintah atau menutup-nutupi penyiksaan yang terjadi.

“Semua orang telah melihat gambar Abu Ghraib. Kini saatnya Presiden Bush menyediakan gambar keseluruhan kebijakan AS tentang penyiksaan,” kata Roth.

Sumber

Iklan

2 responses »

  1. […] juga: USA DRONE STRIKE TERROR (REAPER & PREDATOR) Penyiksaan & Pemerkosaan Tahanan Abu Ghraib Konspirasi Tahanan […]

    Suka

  2. aji kamandoko berkata:

    amerika harus bertanggung jawab atas perbuatannya di irak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s