Mereka adalah sekelompok 7 pemuda dan seekor anjing yang tertidur dalam gua. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang kejam bernama Diqyanus. Raja tersebut meminta rakyatnya untuk menyembah selain Allah Ta’ala. Jika tidak, maka akan disiksa dan dibunuh.

Nama-nama Ashabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda tersebut yaitu: Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatyunis, Dzununis. Serta seekor anjing bernama Qithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga.

image

Pada awalnya penduduk negeri Efesus beriman kepada Allah. Tapi keadaan berubah setelah Raja Diqyanus (Decius) yang menguasainya. Kekejamannya yang luar biasa telah membuat banyak rakyat sengsara. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, akan segera dibunuh. Dalam masa yang cukup lama, sebagian besar rakyat patuh kepada Raja dengan menyembah selain Allah.

Demi mempertahankan keislaman dan keimanan kepada Allah Ta’ala, 7 pemuda Ashabul Kahfi dan seekor anjing, memilih untuk mengasingkan diri serta bersembunyi dalam sebuah gua. Mereka teguh mempertahankan aqidah mereka walaupun menyadari nyawa dan diri mereka mungkin terancam dengan berbuat demikian.

Pada saat mereka beristirahat di dalam gua itulah, Allah s.w.t. menidurkan 7 pemuda tersebut selama 309 tahun. Allah s.w.t. membolik-balikkan tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit, condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri. Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari kejaran Raja Diqyanus yang kejam dan tidak mengakui adanya Allah Yang Maha Sempurna.

Setelah 309 tahun tersebut, Allah s.w.t. membangunkan 7 pemuda Ashabul Kahfi. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati.” Salah satu anggota Ashabul Kahfi bernama Tamlikha berkata: “Aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan”. Setibanya di sebuah pasar, ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”. “Ephesus,” sahut penjual roti.

Penjual Roti berkata kepada Tamlikha: “Alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja.” “Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini kudapatkan tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga 3 dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanus!”

Penjual roti itu marah. Tamlikha lalu ditangkap dan dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil.  Tamlikha menjelaskan: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun!
Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”
“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu
nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan.

Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”
“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertaiku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi.
Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di
kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “ inilah rumahku!”

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut
usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan
mengkeruthampir menutupi mata karena sudah terlampau tua.ia terperanjat
ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
“Aku Tamlikha anak Filistin!”
Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Engkau adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanus, raja durhaka.”

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua Al-Kahfi.

Pada masa itu Negeri Ephesus diatur oleh dua orang bangsawan istana. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanus datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini.

image

Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!” Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanus!” Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanus? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” “Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka. “Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun!

Diqyanus sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!” Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?” “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya. “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang, cabutlah nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!” Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas.

Pendapat Tentang Cerita Tujuh Pemuda Kahfi

Adapun lokasi gua Ashabul Kahfi tersebut ada 3 pendapat yaitu

  1. Gua di Efesus, Anatolia, Turki sekarang. Paulus, Orang Yahudi dan Kristian mempercayainya di sini. Namun gua ini juga turut menepati ciri-ciri yang diberikan dalam Al-Quran.
  2. Gua di Damsyik, Syria.
  3. Gua di Amman, Jordan.

Ada dua pandangan yang populer mengenai siapakah raja atau penguasa negera dari Ashabul Kahfi berada. Semua pandangan ini didasarkan pada penguasaan Romawi atas daerah-daerah di utara Semenanjung Arabia, yang dulunya disebut sebagai Syam sampai ke daerah Turki.

Syam sekarang meliputi negara Syiria, Libanon, Israel, Palestina dan Yordania. Dahulunya negeri Syam adalah daerah kekuasaan Romawi Timur sampai Islam menguasainya ketika berada di bawah kekhalifahan Umar bin Khatab Ra.

Pandangan pertama mengatakan bahwa kisah ini terjadi di zaman pemerintahan kaisar Romawi Timur Diqyanus atau Decius yang memerintah Romawi timur pada sekitar 249-251 Masehi. Pada saat itu, pemerintahan dipusatkan di kota Amman Yordania sebelum dipindahkan ke Turki oleh kaisar Konstantin yang mendirikan kota Konstantinopel (Istambul) sekitar awal tahun 300 Masehi.

Diqyanus terkenal sebagai kaisar yang kejam dan suka menyiksa penduduk yang tidak sepaham dengannya. Pada saat itu Romawi masih merupakan negara yang menyembah patung berhala dewa-dewa. Jika ada yang menolak penyembahan patung-patung berhala itu maka ia akan bertindak kejam bahkan membunuh orang tersebut. Kemudian dikatakan bahwa Ashabul Kahfi bangun di saat pemerintahan kaisar Theodocius II yang memerintah Romawi Timur sekitar tahun 408 sampai 521 Masehi.

Kaisar-kaisar Romawi Timur memeluk agama Nasrani setelah Kaisar Konstantin di tahun 300-an Masehi menjadikannya agama negara, termasuk di dalamnya Teodocius II. Tetapi tentunya di sini sudah banyak sekali penyelewengan dari ajaran yang sebenarnya, salah satunya adalah konsep Trinitas yang mengakui adanya 3 Tuhan yaitu Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Roh Kudus.

Pandangan kedua ialah kisah ini terjadi ketika Romawi Timur diperintah oleh kaisar Trajan atau Trajanus sekitar tahun 98 117 Masehi. Manuskrip sejarah membuktikan bahwa kaisar yang diktator ini menyembah berhala dan membunuh siapa saja yang menentang penyembahan tuhan-tuhannya. Lebih-lebih lagi, kaisar ini mengeluarkan undang-undang yang tegas yang berisi hukuman terhadap para penolak penyembahan berhala. Kaisar pada saat itu mungkin berada di pusat ibukota di Damascus, Syiria dan memiliki tangan kanan gubernur-gubernur di kota-kota besar.

Salah satu sumber sejarah menyebutkan bahwa terdapat sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trajanus, ia merujuk kepada sekelompok pengikut agama Messiah / Masehi (asal katanya mungkin dari Al Masih yaitu gelar untuk Nabi Isa As) atau Nasrani yang dihukum karena menolak menyembah patung berhala. Dikatakan bahwa Ashabul Kahfi adalah salah satu diantara pengikut Isa Al Masih yang masih memegang teguh ajaran yang sebenarnya, yaitu mentauhidkan Allah. Kemudian mereka dibangunkan saat pemerintahan Kaisar Teodocius II yang memerintah Romawi Timur antara tahun 408 sampai 450 Masehi.

Jika kita simak baik-baik Surat Al Kahfi ayat 25 telah disebutkan bahwa mereka tinggal di dalam gua selama 300 tahun Syamsiah atau 309 tahun Qamariah. Jika kita masuk ke pendapat pertama yaitu saat Diqyanus memerintah, maka paling awal adalah di tahun 249 Masehi, sedangkan Theodocius II paling akhir memerintah di tahun 450 Masehi.

Dari data ini maka dapatlah kita ketahui bahwa rentang waktu awal Diqyanus memerintah sampai akhir masa pemerintahan Teodocius II hanya berjarak 201 tahun saja. Pendapat pertama ternyata bertentangan dengan ayat 25 di atas, jika ternyata data ini memang benar-benar akurat. Otomatis jika pendapat tersebut bertentangan dengan Al Quran pastilah salah, sebab hanya Al Quran sajalah sumber kebenaran yang hakiki.

Jika kita lihat pendapat kedua, maka pendapat ini masih memungkinkan untuk benar, karena jika dilihat rentang waktu dari Trajanus yaitu di tahun 98 117 Masehi sampai ke Teodocius II di tahun 408 sampai 450 Masehi akan sampai lebih dari 300 tahun. Jika kita ambil rentang waktu terjauhnya akan didapatkan angka 352 tahun, sedangkan rentang waktu sejak awal Trajanus memerintah sampai awal Teodocius II adalah 310 tahun. Sehingga dari sini jelaslah bahwa pendapat kedua lebih bisa diterima karena sesuai dengan ayat 25 di atas. Bisa jadi di rentang waktu antara kedua kaisar inilah Ashabul Kahfi berada.

Kedua pendapat di atas memang mayoritas kita dapatkan di beberapa referensi tentang kisah Ashabul Kahfi, tetapi ini pun tidak bisa dipastikan 100% kebenarannya. Alasan utamanya ialah karena cerita ini sudah sekian lama terjadi, bahkan sebelum kelahiran Rasulullah Muhammad SAW dan mungkin seringkali tercampur dengan pendapat sebagian besar orang-orang Nasrani.

Agaknya cerita ini digabungkan oleh orang-orang Nasrani dengan berbagai kisah sejarah para pengikut sekte-sekte Kristen yang dikejar-kejar penguasa Romawi yang menyembah berhala sebelum masa Kaisar Konstantin (300 Masehi). Contoh sekte Kristen yang terkenal adalah sekte Yesuit Qumran yang berlindung di gua Qumran daerah kekuasaan Israel saat ini karena dikejar-kejar oleh penguasa Romawi. Di gua ini ditemukan banyak sekali manuskrip-manuskrip kuno yang bercerita tentang masa depan dan masa lalu yang sebagiannya disimpan di perpustakaan Paus di Vatikan.

Kalau kita analisa kembali cerita-cerita di atas mungkin masih sangat jauh dari kebenaran karena hanya berjarak sekitar 250an tahun dari masa Rasulullah SAW. Orang-orang Arab Mekah sudah seringkali berdagang menuju ke daerah Syam, yaitu daerah orang-orang Nasrani saat itu, tetapi mengapa tidak ada seorang pun dari mereka yang mendengar kisah itu sebelumnya dari nenek moyang mereka ?

Sedangkan yang mengetahui dengan baik kisah itu adalah orang-orang Yahudi Madinah saat itu sebab Surat Al Kahfi ini diturunkan karena pertanyaan mereka kepada Nabi Muhammad untuk menguji kenabiannya melalui perantara orang Mekah. Pendeta Yahudi Madinah mengetahui kisah ini secara pasti melalui kitab Taurat mereka yang asli.

Kita tahu sendiri bahwa kitab Taurat Nabi Musa As diturunkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW sekitar tahun 1500-1300 SM, berarti pastinya kejadian itu berlangsung sebelum kenabian Musa As. Karena kejadian itu terpaut jarak yang sangat jauh, maka akan sulit sekali untuk melacak sejarahnya. Oleh sebab itu, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui siapa, dari mana, kapan mereka hidup dan dibangunkan kembali.

Ayat-Ayat al-Qur’an Sebagai Sumber Utama

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [Al-Kahfi: 10]

“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyak dalam gua itu, bertahun-tahun, yang banyak bilangannya”. [Al-Kahfi: 11]

“Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya), untuk Kami menguji; siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)”. [Al-Kahfi: 12]

“Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”. [Al-Kahfi: 13]

“Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), semasa mereka bangun (menegaskan tauhid) lalu berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi: 14]

“(Mereka berkata pula sesama sendiri): “Kaum kita itu, menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah; sepatutnya mereka mengemukakan keterangan yang nyata yang membuktikan ketuhanan makhluk-makhluk yang mereka sembah itu?(Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian); Maka tidak ada yang lebih zalim dari orang-orang yang berdusta terhadap Allah. [Al-Kahfi: 15]

“Dan oleh karena kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah yang lain dari Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari RahmatNya kepada kamu, dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk urusan kamu dengan memberikan bantuan yang berguna”. [Al-Kahfi: 16]

“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, cenderung ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam satu lapangan gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dialah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak akan memperoleh seorang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya”. [Al-Kahfi: 17]

“Dan engkau sangka mereka sadar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri (supaya badan mereka tidak dimakan tanah); sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa penuh ketakutan kepada mereka”. [Al-Kahfi: 18]

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. [Al-Kahfi: 19]

“Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. [Al-Kahfi: 20]

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. [Al-Kahfi: 21]

“(Sebagian dari) mereka akan berkata: “Bilangan Ashabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka”; dan setengahnya pula berkata bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka”, secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: “Bilangan mereka tujuh orang dan yang kedelapan ialah anjing mereka”. “Katakanlah (wahai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit”. Karena itu janganlah engkau membahas dengan siapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorang pun dari golongan (yang membincangkannya)”. [Al-Kahfi: 22]

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi”. [Al-Kahfi: 23]

“Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. [Al-Kahfi: 24]

“Dan mereka telah tidur dalam gua mereka, tiga ratus tahun (dengan perkiraan ahli kitab) dan sembilan lagi (dengan perkiraan kamu)”. [Al-Kahfi: 25]

“Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. [Al-Kahfi: 26]

Dalam alqur’an surat Al-Kahfi, Allah SWT menyebutkan kembali 3 kisah di masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Surat tersebut dinamakan Alkahfi karena banyak menyebut tentang kisah itu. dan hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena terdapat kisah Ashabul Kahfi di surat itu, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Kisah tentang ashabul kahfi ini bukanlah lelucon, dongeng atau hanya sebuah rekayasa fiktif . Secara historis atau sebab turunnya ayat di surat alkahfi tersebut punya hubungan erat dengan kegelisahan Nabi Muhammad Saw saat ditanya oleh beberapa orang Yahudi untuk membuktikannya bahwa Beliau memang seorang Nabi Utusan Allah. Kaum Yahudi ini bertanya, wahai Muhammad, tolong ceritakan kepada kami tentang kisah 7 pemuda yang mengasingkan diri untuk mempertahankan keyakinannya kepada Allah SWT, jika engkau sanggup menceritakan dengan benar maka kami juga akan mengikuti ajaranmu dan menjadi bagian dari Islam.

Kemudian Nabi Muhammad Saw memohon pertolongan pada Allah SWT dan beberapa saat kemudian beliau mendapat wahyu yang berisi penjelasan kisah ashabul kahfi atau cerita tentang 7 pemuda yang ditanyakan oleh orang yahudi tersebut.

Dan dibawah ini adalah beberapa gambar gua yang dijadikan tempat bersembunyi oleh Ashabul Kahfi, gua ini terletak di Yordania di perkampungan Al-Rajib atau dalam Al-Quran di sebut Al-Raqim, yang berjarak 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman. Gua ini diyakini lebih menepati ciri-ciri yang diberi dalam Al-Quran.

image

image

image

image

[mohlimo.com, inilah.com, kabarmakkah.com]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s