Opini Noam Chomsky Tentang USA-Israel Terhadap Islam

Berikut dibawah ini adalah opini Noam Chomsky Tentang Amerika Serikat & Israel Terhadap Agama Islam:

1. USA Adalah ‘Negara Teroris Utama di Dunia’

Filsuf terkenal AS Noam Chomsky menggambarkan Amerika Serikat sebagai “negara teroris utama di dunia” karena operasi-operasi global negara itu yang dijalankan oleh CIA.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Truthout, sejarawan Amerika itu menunjuk ulasan rahasia dari CIA sendiri untuk mempersenjatai para pemberontak di seluruh dunia dalam sejarah lembaga itu yang berusia 67 tahun.

Dia mengatakan bahwa The New York Times pada tanggal 15 Oktober memilih judul dalam salah satu kisah, yang mengatakan “Bantuan Rahasia CIA Memicu Skeptisisme Tentang Bantuan Terhadap Para Pemberontak Suriah.”

Namun, Chomsky percaya bahwa koran itu seharusnya memilih judul ini, “Berita Resmi:. AS Adalah Negara Teroris Utama Dunia, Dan Bangga Akan Hal Itu”

Dia menulis bahwa “kampiun dalam menyebarkan teror” membuatnya melakukan peran antagonis terhadap kelompok-kelompok oposisi di seluruh dunia.

“Paragraf pertama dari artikel New York Times itu mengutip tiga contoh utama dari ‘bantuan rahasia’: Angola, Nikaragua dan Kuba. Bahkan, setiap kasusnya merupakan operasi teroris besar yang dilakukan oleh AS, “kata Chomsky.

Dia menjelaskan bahwa adalah Amerika Serikat, yang pada tahun 1980-an, mendukung era Apartheid Afrika Selatan ketika menyerang Angola untuk melindungi dirinya “dari salah satu ‘kelompok teroris yang terkenal di dunia,” yang menurut Washington adalah: “Kongres Nasional Afrika pimpinan Nelson Mandela . ”

“Washington bergabung Afrika Selatan dalam memberikan dukungan penting bagi teroris tentara teroris Unita pimpinan Jonas Savimbi di Angola,” tulis Chomsky.

“Konsekuensinya menghebohkan. Sebuah penyelidikan PBB tahun 1989 memperkirakan bahwa penghancuran Afrika Selatan menyebabkan tewasnya 1,5 juta orang di negara-negara tetangga, belum lagi apa yang terjadi di Afrika Selatan sendiri, “tambahnya.

Dalam contoh lain, sejarawan itu menulis tentang “kampanye dengan pembunuhan dan merusak ” Amerika Serikat yang diarahkan pada Kuba, termasuk invasi Teluk Babi yang gagal dan embargo keras yang masih berlanjut.

“Jumlah korban pada perang teroris panjang diperkuat oleh embargo yang menghancurkan, yang bahkan terus terjadi hingga hari ini yang bertentangan dengan sikap dunia. Pada tanggal 28 Oktober, PBB, untuk yang ke-23 kalinya, mendukung ‘perlunya mengakhiri blokade ekonomi, komersial, dan keuangan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Kuba, “kata profesor MIT itu.

Dia juga berbicara bahwa perang-perang dibawa Amerika AS kepada pihak-pihak oposisi di Amerika Tengah pada tahun 1980 dan kampanye pengeboman saat melawan kelompok IS di Suriah dan Irak.

Chomsky menyimpulkan bahwa Amerika Serikat terus melakukan operasi-operasi mematikan dengan serangan pesawat drone di beberapa negara Muslim seperti Pakistan dan Yaman.

“Untuk ini kita dapat menambahkannya sebagai kampanye teroris terbesar di dunia: proyek pembunuhan global ‘para teroris’ oleh Obama. ‘Kebencian menghasilkan akibat’ dari mereka yang menjadi korban drone dan serangan pasukan khusus yang telah sangat jelas untuk diminta komentar lebih lanjut,” tulisnya . “Ini adalah catatan untuk direnungkan dengan beberapa kekaguman.” [1]

2. USA Tidak Takut Pada Islam Radikal, Tapi Pada Kemerdekaan Negara Bonekanya

Yang dikhawatirkan Amerika bukanlah Islam radikal, tetapi kecenderungan negara bonekanya untuk merdeka.

Ia menambahkan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam surat kabar Inggris, The Guardian bahwa AS menekankan pentingnya karakter bagi setiap rezim yang didukungnya di dunia Arab. Kemudian yang paling penting baginya adalah mengendalikannya. Dikatakan bahwa warga negara di negara-negara itu terus dibodohkan hingga mereka melepaskan sendiri ikatan-ikatannya.

Ia lebih suka meminjam kata-kata yang muncul di layar Channel Al Jazeera pekan lalu, yang mengatakan “Dunia Arab Membara” untuk mempermudah pesan artikel yang ditulisnya untuk mengkritik politik AS dalam memperlakukan rezim-rezim diktator, terutama di dunia Arab.

Ia mengatakan bahwa “Pemberontakan tiba-tiba di Tunisia telah menciptakan gempa yang mengakibatkan terusirnya diktator dukungan Barat, dan bahkan gemanya bergaung di dunia Arab, khususnya di Mesir, di mana para demonstran berhasil mengalahkan kebrutalan polisi presiden diktator.

Ia menambahkan bahwa Washington dan sekutunya “menganut prinsip yang kuat berdasar pada penerimaan demokrasi selama hal itu sejalan dengan tujuan strategis dan ekonominya.”

Chomsky memberi contoh terkait perlakukan Amerika terhadap rezim-rezim diktator di dunia, seperti di Rumania, di mana Washington mendukung rezim Presiden Nicolae Ceausescu, yang digambarkan sebagai “diktator yang paling korup di Eropa Timur” sehingga untuk berdiri di sampingnya saja menjadi perkara yang mustahil.

Namun tidak lama kemudian Washington memuji penggulingannya. Di mana hal ini dilakukan untuk menghindar dari dampak buruk akibat sikap-sikap Amerika sebelumnya.

Ia melihat bahwa jenis perlakuan ini terus menjadi kebiasaan Amerika Serikat. Bukankah mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos; Haiti, Jean-Claude Duvalier; Korea Selatan, Chan Doo-hwan; Indonesia, Suharto; dan banyak lagi yang lainnya, di mana dari mereka ini dapat diambil pelajaran. Ini tidak lain adalah bukti atas semua itu.

Baca juga:
USA DRONE STRIKE TERROR (REAPER & PREDATOR)
Penyiksaan & Pemerkosaan Tahanan Abu Ghraib
Konspirasi Tahanan #650

Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat mungkin melakukan cara yang sama terhadap Presiden Mesir, Hosni Mubarak, dengan berbagai prosedur rutinitas yang diperlukan dalam upaya memastikan bahwa rezim penggantinya tidak banyak menyimpang dari jalan yang telah dirancangnya. [2]

3. USA dan Israel Adalah Dua Negara “Bajingan” Yang Beroperasi di Timur Tengah

“Sebenarnya ada dua negara bajingan yang beroperasi di wilayah tersebut, yang menggunakan agresi dan teror dan melanggar hukum internasional: Amerika Serikat dan Israel, ” tulis Chomsky dalam sebuah artikel baru-baru ini.

Chomsky mengecam satu dekade kebijakan agresif Amerika Serikat terhadap Iran atas program energi nuklirnya.

“Sepuluh tahun yang lalu Iran menawarkan untuk menyelesaikan perbedaan dengan Amerika Serikat atas program nuklirnya, ” katanya, “bersama dengan semua isu lainnya. Pemerintahan Bush menolak tawaran itu sambil bersikap marah dan menegur diplomat Swiss yang menyampaikannya.”

Dia juga menyebutkan proposal yang dibuat oleh Turki dan Brasil pada tahun 2010 di mana Iran akan mengirimkan uranium yang diperkaya ke luar negeri untuk disimpan. Sebagai imbalannya, Barat akan menyediakan bahan bakar untuk reaktor penelitian medis Iran.

Chomsky menjelaskan bagaimana AS merusak proposal itu. “Presiden Obama marah dan mengecam Brasil dan Turki karena memecahkan barisan, dan dengan cepat menjatuhkan sanksi lebih keras. Karena kesal, Brasil mempublikasikan isi surat dari Obama di mana dia telah mengusulkan pengaturan ini, mungkin dengan asumsi bahwa Iran akan menolaknya. Insiden ini dengan cepat menghilang.”

Akademisi terkenal itu juga mengatakan pemerintahan Obama melanggar NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir) dengan tetap menjaga ancaman opsi militer.

“Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang secara langsung melanggar Nuklir Non – Proliferasi Nuklir (dan lebih parah lagi, melanggar Piagam PBB) dengan mempertahankan ancaman kekerasan terhadap Iran,” tulis Chomsky. “Amerika Serikat juga bisa bersikeras bahwa kliennya, yakni Israel, menahan diri dari pelanggaran berat atas hukum internasional – yang hanya merupakan salah satu dari banyak pelanggaran. ”

Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman mengumumkan perjanjian interim atas program energi nuklir negara itu pada bulan lalu di Jenewa. Kesepakatan itu akan memberikan waktu enam bulan untuk pembicaraan substantif untuk mencapai kesepakatan jangka panjang.

Hak Iran untuk memperkaya uranium telah menjadi titik pembahasan utama dalam negosiasi. Setelah kesepakatan itu diumumkan, para pejabat Iran menyatakan bahwa dokumen tersebut termasuk hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium. Di sisi lain, para pejabat AS mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak memberikan hak tersebut kepada Teheran.

Ketika berbicara pada Forum Saban Brookings Institution pada hari Sabtu, Presiden Barack Obama juga mengatakan bahwa kesepakatan interim tidak memberikan Iran “hak untuk memperkaya” uranium. [3]

4. Obama adalah “Godfather” Baru USA

Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya.

“Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky.

Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.

→ Iran dan Irak←

“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,”papar Chomsky.

Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky.

Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.

“Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.

Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.

“AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.”

Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.”

Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.

Somalia, Darfur dan Israel←

Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.

Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky.

Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky.

Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.

Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.

“Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina,” tandas Chomsky. [4]

5. Obama Gagal dan Israel Menuju Kematian

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris, “The Guardian” pakar bahasa dan sejarah itu menambahkan bahwa Obama telah berhasil meraih kekuasaan dengan pidatonya yang dramatis tentang harapan dan perubahan, namun ocehannya tidak memiliki arti sama sekali.

Dalam menanggapi pertanyaan apakah “Israel” akan tetap menjadi negara selama lima puluh tahun ke depan. Filsuf Amerika menjawab bahwa “Israel” tengah menempuh kebijakan yang justru akan meningkatkan resiko keamanan yang mempercepat kehancurannya, yaitu kebijakan yang memilih untuk memperluas keamanan, dan yang menyebabkan dekadensi moral, terisolasi, serta mencabut legitimasinya, sebagaimana yang mereka katakan saat ini. Inilah perkara yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran “Israel”. Dan ini bukan sesuatu yang mustahil.

Baca juga:

Daftar Kejahatan Amerika Serikat
5 Skenario Amerika Untuk Melenyapkan Islan
Teror Yang Terlupakan
Teror Terhadap Muslim, Teror Yang Diabaikan Dunia

Chomsky—yang dianggap sebagai salah satu pemikir paling kontroversial di dunia oleh media—menyatakan optimis terhadap “Musim Semi Arab” yang dilihatnya sebagai “contoh klasik dari gerakan rakyat yang kuat, khususnya di Tunisia dan Mesir”, namun sebaliknya ia mengejek hubungan Barat dengan apa yang terjadi di lapangan.

Terkait dengan hal itu, ia mengatakan: “Jajak pendapat di Mesir menunjukkan bahwa mayoritas, yaitu antara 80 hingga 90% dari rakyat Mesir menganggap bahwa Amerika Serikat dan “Israel” merupakan ancaman utama yang sedang dihadapi mereka. Dan meski mereka tidak menyukai Iran—di mana bangsa Arab pada umumnya tidak menyukainya—namun mereka tidak melihatnya sebagai ancaman bagi mereka.”

Tentang situasi di Suriah, pemikir dan filsuf yang telah berumur 84 tahun cenderung pada jenis penyelesaian melalui dialog, sekalipun ia bahwa pemerintah Suriah telah melakukan banyak kekejaman terhadap rakyatnya sendiri. [5]

6. Ketakutan Utama USA, Jika Umat Islam Bersatu

Saat ini, kata Chomsky, tantangan terbesar bagi AS adalah bagaimana tetap mempertahankan dominansi terhadap negara-negara penghasil sumber energi di dunia, yaitu Timur Tengah.

“Persatuan di kalangan umat Islam, umat yang selama ini berada di hampir seluruh wilyah penghasil sumber energi dunia, merupakan mimpi buruk terbesar bagi AS, “ kata Chomsky.

Menurutnya, langkah AS memberikan bantuan untuk keperluan militer di sejumlah negara Timur Tengah baru-baru ini, hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan itu. Dan itu adalah taktik pemerintahan Bush agar kekerasan tetap berkobar di Timur Tengah dan untuk mencegah persatuan umat Islam.

Chomsky meyakini, invasi Irak merupakan pesan AS bahwa negara itu akan melakukan serangan sepanjang target serangannya dianggap “tidak memiliki pertahanan” yang memadai.

Dalam hal ini, ia juga mengkritik kecenderungan media massa AS mengabaikan pesan-pesan damai yang dilontarkan para pemimpin negara-negara Timur Tengah.

Menurut Chomsky, cuma ada dua negara penghasil sumber energi di Timur Tengah yang gagal dikontrol AS, yaitu Iran dan Suriah. Tak heran jika AS, selama ini menganggap kedua negara itu sebagai musuh, utamanya Iran.

Ia memperkirakan bahwa negara-negara yang selama ini menolak dominasi AS, seperti Iran dan Suriah akan membentuk sebuah blok yang cenderung bergabung dengan Asian Energy Security Grid dan Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang berbasis di China.

Chomsky mengutip laporan surat kabarSouth China Morning Post edisi Juni 2006 yang terbit di Hongkong. Surat kabar itu melaporkan bahwa Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad telah mencuri perhatian para peserta pertemuan tahunan SCO.

Dalam pidatonya di pertemuan itu, Ahmadinejad menyerukan agar SCO bersatu melawan negara-negara yang selama ini menentang dan mengkritik program nuklir Iran. SCO sendiri, yang beranggotakan negara-negara di Asia Tengah, mendesak AS agar segera menarik instalasi militernya yang ada di negara-negara anggota SCO. [6]

Baca juga:
Terorisme & Islam, 2 (Dua) Kata Yang Dibuat Melekat Oleh Aparat
Antara Terorisme & Islam
Khutbah Imam Katolik: Muslim bukanlah teroris

Siapa Noam Chomsky?

Noam Chomsky. (hizbut-tahrir.or.id)

Noam Chomsky. (hizbut-tahrir.or.id)

Chomsky merupakan Institute Professor serta Profesor Linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Massachusetts.

Chomsky juga banyak memberi kuliah dan mengajar di berbagai universitas di seluruh dunia.

Dia meraih gelar sarjana dan pasca sarjana di University of Pennsylvania, serta gelar PhD dalam linguistik.

Puluhan buku telah dihasilkan Chomsky sejak tahun 1955. Beberapa karya terbaiknya meliputi:

  • The Logical Structure of Linguistic Theory,
  • Aspects of the Theory of Syntax,
  • Language and Mind, dan
  • American Power and the New Mandarins.
  • Bukunya yang lain, Imperial Ambitions and Failed States diterbitkan pada tahun 2006.

Pendekatan linguistik Chomsky berasal dari filsafat rasionalis yang beranggapan bahwa pikiran bukanlah sesuatu yang kosong saat lahir atau semata terbentuk karena pengalaman dan pembelajaran.

Dia percaya bahwa pikiran telah dilengkapi dengan pengetahuan yang universal untuk semua manusia.

Chomsky percaya bahwa semua bahasa – lebih dari 5.000 macam – memiliki kesamaan inti dalam struktur tata bahasa sehingga bisa dipahami oleh manusia sejak dilahirkan.

Jenis bahasa yang dipaparkan pada seseorang pada usia dini tidak membuat perbedaan. Konsep ini disebut sebagai tata bahasa generatif transformasional.

Chomsky menekankan bahwa aspek tak sadar universal bahasa memungkinkan seorang individu menciptakan kalimat grammatic asli.

Pendekatan ini melihat linguistik sebagai tidak hanya terhubung ke psikologi, tetapi sebagai komponen pasti psikologi.

Menurut Chomsky, manusia secara bawaan siap menjadi kebal untuk mentolerir lingkungan politik yang tidak masuk akal.

Dia berpendapat manusia adalah agen bebas sampai titik tertentu karena dibatasi oleh struktur kognitif pelindung yang hadir sejak lahir.

Chomsky dikenal pula sebagai seorang aktivis anti-perang pada tahun 1960 dan terus menjadi seorang kritikus kebijakan luar negeri Amerika dan partisipasi Amerika Serikat dalam perang.

Banyak tulisan-tulisannya bersifat politis dan berbicara tentang perlunya perubahan sosial dalam tatanan dunia saat ini.[7]

Chomsky menceritakan pada Reuters dalam pembicaraan melalui telpon dari ibukota Jordania, Amman, bahwa ia telah melakukan perjalanan ke Jembatan Allenby yang melintas di atas Sungai Jordan, yang menghubungkan Jordania dan Israel, tempat para pejabat imigrasi Israel menolak untuk membolehkannya melintas.

“Mereka tampaknya tidak suka kenyataan bahwa saya akan mengajar di sebuah universitas Palestina dan tidak di Israel,” kata Chomsky, yang seorang Yahudi.

Anggota parlemen Mustafa al Barghouti, yang akan menampung Chomsky di Palestina, menjelaskan, guru besar linguistik dan ahli filsafat itu akan mengajar di Birzeit University dan Institute for Palestine Studies di Ramallah, di Tepi Barat.

“Keputusan itu merupakan tindakan fasis, sama dengan penindasan terhadap kebebasan berekspresi,” kata Barghouti pada Reuters.

Seorang jurubicara kementerian luar negeri Israel menyatakan para pejabat imigrasi telah salah mengerti akan tujuan Chomsky, pada awalnya mengira ia juga akan berkunjung ke Israel.

Ia menjelaskan bahwa beberapa pejabat telah berusaha untuk mendapatkan izin dari militer Israel, yang mengawasi akses ke Tepi Barat untuk memungkinkan Chomsky masuk.

“Kami akan berusaha menghubungi militer untuk menjelaskan segalanya dan jika mereka tidak berkeberatan, kami melihat tidak ada alasan mengapa ia tidak diperbolehkan masuk,” kata jurubicara Sabine Hadad.

Menurut Chomsky, ia sedang membicarakan perjalanan ke wilayah itu dan menambahkan bahwa jadwalnya sangat ketat karena ada janji lainnya untuk memungkinkannya berupaya mengurus perjalanannya ke Tepi Barat kali ini.

Chomsky menuturkan, ia terakhir mengunjungi Israel dan Tepi Barat adalah pada 2007 ketika ia mengajar di Ben Gurion University dan juga di Birzeit. Menurut dia, semua kunjungan sebelumnya ke Tepi Barat sebagai bagian dari perjalanannya ke Israel. [8]

Sumber:

[1] Noam Chomsky : AS Adalah ‘Negara Teroris Utama di Dunia’
[2] Chomsky: AS Tidak Takut Pada Islam Radikal, tapi pada Kemerdekaan Negara Bonekanya
[3] Chomsky : AS dan Israel Adalah Dua Negara “Bajingan” Yang Beroperasi di Timur Tengah
[4] Noam Chomsky: Obama, “Godfather” Baru AS
[5] Chomsky: Obama Gagal dan Israel Menuju Kematian
[6] Noam Chomsky: Ketakutan Utama AS, Jika Umat Islam Bersatu
[7] Siapakah Noam Chomsky? Ahli Bahasa & Pengkritik Kebijakan AS
[8] Israel Larang Chomsky Masuk Tepi Barat

Iklan

One response »

  1. […] Opini Noam Chomsky Tentang AS-Israel & Islam […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s