Lanjutan dari: Jawa (Part 2)


Dalang

Dalang adalah pemimpin, pengarah, sutradara dan dirijen dari suatu pertunjukkan wayang. Kecuali pertunjukkan Wayang Orang dan Wayang Topeng, Dalang harus memainkan seluruh gerak peraga tokoh wayang yang dimainkannya. Ia juga member ipengarahan pada para penabuh gamelan, pesinden dan wiraswara. Pengarahan itu dilakukan dengan berbagai isyarat yang dipahami oleh anak buahnya.

Dalam pelajaran pedalangan Wayang Kulit Purwa ada delapan pasyarat yang harus dimiliki oleh seorang dalang, yakni :

  1. Parama Sastra, seorang dalang harus kaya akan perbendaharaan kata, ahli dalam tata bahasa, terutama bahasa lisan.
  2. Parameng Kawi, seorang dalang harus memahami arti kata-kata dan istilah bahasa Kawi dan bahasa Jawa Kuno.
  3. Mardi Basa, Dalang yang baik harus pandai memainkan atau mengolah kata-kata yang digunakan, sehingga penceritaannya lebih meikat perhatian penonton, lebih dapat membawakan suasana cerita.
  4. Mardawa lagu, artinya dalang harus menguasai berbagai tembang, gending dan seni karawitan.
  5. Mandra Guna, seorang dalang harus menguasai berbagai keterampilan dalam seni pedalangan. Ada juga yang mengartikan dalang yang harus memiliki kelebihan batiniah dan sugesti diri yang kuat, sehingga dapat menguasai dan mengendalikan emosi penonton.
  6. Hawicarita, Dalang harus seorang yang mempunyai kemampuan bercerita, kemahiran untuk membawakan cerita secara runtut dan memikat. Tidak ada bagian cerita yang terlupa.
  7. Nawung Krida, dalang harus mengerti dasar-dasar ilmu psikologi, memahami karakter semua tokoh wayang dan kaitannya dengan karakter manusia.
  8. Sambegana, dalang harus mempunyai ingatan kua terhadap semua lakon wayang dan tahu benar urutan scenario ceritanya.

Ketoprak

Pementasan Ketoprak. (wikipedia)


Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak. Pada mulanya ketoprak merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut gejogan. Dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk teater rakyat yang lengkap.

Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggah- ungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu:

  • Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
  • Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
  • Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)

Menggunakan bahasa dalam ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa. Karena itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesifik.

Adapun ciri khas dari ketoprak ini dilakukan dengan dialog bahasa Jawa. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

Kesenian yang dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.


Wayang orang

Pandawa dan Kresna dalam suatu adegan pagelaranwayang wong. (Wikipedia)


Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731.

Wayang Wong dalam bahasa Indonesia artinya wayang orang, yaitu pertunjukan wayang kulit, tetapi dimainkan oleh orang. Wayang wong adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional dan tidak memakai topeng. Pertunjukan wayang orang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan wayang orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer. Lahirnya Wayang Orang, dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang Kulit yang dapat dimainkan oleh orang. Wayang yang dipertunjukan dengan orang sebagai wujud dari wayang kulit -hingga tidak muncul dalang yang memainkan, tetapi dapat dilakukan oleh para pemainnya sendiri.

Sedangkan wujud pergelarannya berbentuk drama, tari dan musik.

Pada dasarnya, cerita atau peran yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang orang tidak berbeda dengan wayang kulit. Biasanya lakon yang dibawakan adalah lakon dalam cerita epik seperti Mahabrata dan Ramayana. Bedanya jika dalam wayang kulit peran itu ditampilkan dalam sosok wayang, maka dalam wayang orang lakon atau peran semacam itu dibawakan oleh orang atau wong dalam bahasa jawa.

Tugas dalang wayang wong tidak jauh berbeda dengan dalang wayang kulit. Namun tugas dayang wong lebih ringan karena para pelakon melakukan percakapan sendiri. Dalang wayang wong hanya menyampaikan sedikit narasi baik ketika membuka pertunjukan, di tengah pertunjukan atau di akhir pertunjukan.

Wayang orang dapat dikatakan masuk kelompok seni teater tradisional, karena tokoh-tokoh dalam cerita dimainkan oleh para pelaku (pemain). Sang Dalang bertindak sebagai pengatur laku dan tidak muncul dalam pertunjukan. Di Madura, terdapat pertunjukan wayang orang yang agak berbeda, karena masih menggunakan topeng dan menggunakan dalang seperti pada wayang kulit. Sang dalang masih terlihat meskipun tidak seperti dalam pertunjukan wayang kulit. Sang Dalang ditempatkan dibalik layar penyekat dengan diberi lubang untuk mengikuti gerak pemain di depan layar penyekat. Sang Dalang masih mendalang dalam pengertian semua ucapan pemain dilakukan oleh Sang Dalang karena para pemain memakai topeng. Para pemain di sini hanya menggerakgerakan badan atau tangan untuk mengimbangi ucapan yang dilakukan oleh Sang Dalang. Para pemain harus pandai menari. Pertunjukan ini di Madura dinamakan topeng dalang. Semua pemain topeng dalang memakai topeng dan para pemain tidak mengucapkan dialog.


Ludruk

Kartolo, salah seorang pemain ludruk terkenal. (Wikipedia)


Tari Remo, diperagakan sebagai pembuka pementasan Ludruk.


Ludruk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur, berasal dari daerah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa denganDialek Jawa Timuran. Dalam perkembangannya ludruk menyebar ke daerah-daerah sebelah barat seperti karesidenan Madiun, Kediri, dan sampai ke Jawa Tengah. Ciri-ciri bahasa Dialek Jawa Timuran tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur menjadi bahasa Jawa setempat. Peralatan musik daerah yang digunakan, ialah kendang, cimplung, jidor dan gambang dan sering ditambah tergantung pada kemampuan grup yang memainkan ludruk tersebut. Dan lagu-lagu (gending) yang digunakan, yaitu Parianyar, Beskalan, Kaloagan, Jula-juli, Samirah, Junian.

Pemain ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh teater rakyat di berbagai tempat, pemainnya selalu pria (randai, dulmuluk, mamanda, ketoprak), karena pada zaman itu wanita tidak diperkenankan muncul di depan umum.

Kesenian ludruk ini sendiri sebenarnya adalah sebuah pertunjukan drama tradisional yang pada awalnya ada di Jawa Timur dengan menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya. Ludruk hanya ditampilkan di dalam sebuah panggung oleh grup kesenian ludruk sendiri.

Cerita yang dijadikan tema di dalam pementasan ludruk ini adalah cerita mengenai kehidupan rakyat dan keseharian mereka. Ada pula tema tentang perjuangan kehidupan. Yang menjadi ciri khas dalam pertunjukan ludruk ini adalah mengeksploitasi tentang humor yang dalam bahasa jawa dikenal dengan guyonan dan lawakan.

Karena cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari, yang dekat dengan kehidupan masyarakat, ludruk pun digemari oleh semua kalangan masyarakat. Selain itu, walau menggunakan Dialek Jawa Timuran, guyonan yang dilontarkan para pemain ludruk pun dapat dimengerti oleh orang dari luar Jawa Timur. Ini dikarenakan para pemain tidak hanya mengandalkan guyonan dalam bentuk perbincangan, tapi juga dalam gerak.


Primbon Jawa

Primbon adalah pengetahuan Jawa yang berusia ratusan tahun, dan kini masih lazim digunakan dalam masyarakat Jawa. Primbon merupakan sistem perhitungan atau ramalan berkaitan dengan aktivitas orang Jawa. Primbon sedikitnya membicarakan tentang perhitungan berkaitan dengan baik buruknya waktu kegiatan (upacara perkawinan, mendirikan rumah, menempati rumah, dan sebagainya), ramalan watak manusia dan hewan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, ramalan yang bersifat gaib (misal, mimpi dan kedutan), serta perhitungan mengenai tempat tinggal.

Inti pesan dari primbon adalah agar kita senantiasa bersikap peka dan waspada.


Gugon tuhon

Gugon tuhon berada di tengah masyarakat Jawa disebut pepali atau larangan atau pamali atau pantangan. Gugon tuhon ini tergolong kepercayaan yang sudah ada dari jaman dahulu.

Gugon tuhon adalah solusi terpercaya untuk beberapa masalah atau yang tidak ditemukan dalam akal sehat. Terhadap dengan beberapa orang-orang yang selalu rasa merasa sedih bahwa dia tidak bisa mempersiapkn atau mengantisipasi sesuatu yang dianggap berbahaya di kemudian hari.

Pantangan adalah hal yang dilarang untuk dilakukan karena akan mengakibatkan sesuatu buruk akan terjadi. Biasanya pantangan ini hanya terjadi pada orang Indonesia terutama orang Jawa yang banyak mempercayai hal-hal yang ghaib. Namun pantangan yang disebutkan ini merupakan pantangan yang unik dan aneh dan hanya dilakukan oleh orang Indonesia yang mempengaruhinya.

“Gugon tuhon” adalah mengikuti dengan setia dan “tanpa reserve”, pokoknya ikut. Pada umumnya nasihat dalam “gugon tuhon” bersifat “wewaler” atau larangan. Rumusnya adalah: “Jangan melakukan …. nanti akan ….. “.

Wewaler untuk makanan bisa baik bisa buruk pengaruhnya. Kalau anak dilarang makanan yang justru zat bergizi, akan berpengaruh buruk untuk tumbuh-kembangnya. Sebaliknya andaikan ada gugon tuhon bahwa orang darah tinggi dilarang merokok, akan bagus untuk membantu menurunkan tekanan darahnya. Sayang tidak ada gugon tuhon yang seperti itu.

Gugon tuhon ada yang menyembunyikan nasihat sayangnya tidak diberi penjelasan. Umumnya terkait dengan perilaku manusia. Gugon tuhon ini sebenarnya baik. Hanya saja di jaman modern ini semestinya dijelaskan reasoningnya apa. Jangan sekadar “ora ilok” atau akan ditelan buaya, dan sebagainya.

Ada gugon tuhon terhadap terjadinya suatu penyakit. Misalnya suatu penyakit dikatakan akibat kutukan, padahal sebenarnya penyakit menular. Dengan penemuan “mikroskop” banyak yang dapat diluruskan, misalnya penyebab kolera yang dikatakan “lelembut” atau penyebab kusta dan TB Paru yang dikatakan sebagai kutukan. Ada pula gugon tuhon untuk tempat-tempat yang dianggap keramat, karena dipercaya orang banyak, kita pun jadi takut.


Mantra Jawa

Mantra adalah perkataan atau ucapan yang mampu untuk mendatangkan daya gaib, menyembuhkan, mendatangkan celaka dan sebagainya. Susunan kata berunsur puisi yang dianggap mengandung kekuatan gaib ini biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. Mantra juga dapat disamakan dengan doa.

Dalam tradisi Jawa, mantra disebut pula dengan japa, japa mantra, kemad, peled, aji-aji, rajah, donga, sidikara yang semuanya dianggap mempunya daya kekuatan gaib. Mantra jika dibaca dengan bersuara disebut di-mel-kan dan kalau hanya dibaca dalam hati disebut matek mantra atau matek aji.

Wujud mantra ada beberapa macam di antaranya: (1) Mantra dalam wujud kata-kata/puisi lisan yang dibaca dalam batin disebut japa mantra, aji-aji dan rapal. (2). Mantra dalam wujud tulisan misalnya tertulis pada kain, kertas, kulit disebut rajah. (3). Mantra yang ditanam pada benda disebut jimat, aji-aji.

Pegon

Huruf Pegon adalah huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan Gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.


Abjad Jawi

Sering kita mendengarkan percakapan dikalangan anak muda Yogyakarta yang menggunakan bahasa jawa yang tidak formal. Tren penggunaan bahasa Jawa seperti itu sudah lama muncul, sebagai tren khusus bahasa anak muda Yogyakarta atau bahasa gaul anak muda Yogyakarta. Kadang masyarakat Jogja sendiri banyak yang tidak mengenal bahasa tersebut.

Contoh:

Basa Jawa gaul Bahasa Jawa sebenarnya Bahasa Indonesia
jape Cahe (bocahe) Teman
Panyu Aku Saya
Dab Mas Kakak laki-laki

Bilangan dalam bahasa Jawa

Bila dibandingkan dengan bahasa Melayuatau Indonesia, bahasa Jawa memiliki sistem bilangan yang agak rumit.

Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kuna sa rwa telu pat lima enem pitu walu sanga sapuluh
Kawi eka dwi tri catur panca sad sapta asta nawa dasa
Krama setunggal kalih tiga sekawan gangsal enem pitu wolu sanga sedasa
Ngoko siji loro telu papat lima enem pitu wolu sanga sepuluh

Fraksi

  • 1/2 setengah, separo, sepalih (Krama)
  • 1/4 seprapat, seprasekawan (Krama)
  • 3/4 telung prapat, tigang prasekawan (Krama)
  • 1,5 siji setengah, setunggal kalih tengah (Krama)

Bahasa pemrograman Java

Logo Java

Bahasa Jawa adalah bahasa yang berasal dari Jawa. Sedangkan. Bahasa Java adalah bahasa yang digunakan untuk membuat program dan merupakan salah satu jenis dari Bahasa Pemrograman tingkat tinggi atau High Level Language.

Java dikembangkan pada tahun 1990 oleh insinyur Sun, James Gosling sebagai bahasa pemrograman yang berperan sebagai otak untuk peralatan pintar (TV interaktif, oven serba bisa). Gosling tidak puas dengan hasil yang ia peroleh ketika menulis program dengan C++, bahasa pemrograman lain, sehingga ia mengasingkan diri di kantornya dan menulis bahasa pemrograman baru agar lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Gosling menamakan bahasa pemograman barunya Oak, nama sebuah pohon yang bisa ia lihat dari jendela kantornya; ia kemudian menamainya Green, dan kemudian mengganti namanya menjadi Java, berasal dari kopi Jawa (Java Coffee) , yang katanya banyak dikonsumsi dalam jumlah besar oleh pencipta bahasa ini. Bahasa pemograman ini kemudian menjadi bagian dari strategi Sun untuk menghasilkan uang jutaan dolar ketika TV interaktif menjadi industri bernilai jutaan dolar. Hal itu memang masih belum terjadi hari ini, tetapi sesuatu yang benar-benar berbeda kemudian terjadi pada bahasa pemograman baru Gosling itu.

Secara kebetulan World Wide Web menjadi begitu populer, banyak kelebihan yang membuat bahasa Gosling dapat digunakan dengan baik dan cocok pada proyek maupun alat untuk adaptasi ke Web. Pengembang Sun merancang cara bagi program yang akan berjalan dengan aman dari halaman web dan memilih nama baru yang menarik untuk menemani fokus baru bahasa itu, yakni Java.

Walaupun Java dapat digunakan untuk banyak hal, Web menyediakan tampilan yang dibutuhkan untuk menarik perhatian internasional. Seorang programmer yang menempatkan program Java pada halaman web dapat langsung diakses ke seluruh planet “Web-surfing”. Karena Java adalah teknologi pertama yang bisa menawarkan kemampuan ini, Java kemudian menjadi bahasa pemrograman komputer pertama yang menerima perlakuan bagai bintang di media.

Java adalah bahasa pemrograman untuk berbagai tujuan (general purpose), bahasa pemrogramn yang concurrent, berbasis kelas, dan berorientasi objek, yang dirancang secara khusus untuk memiliki sesedikit mungkin ketergantungan dalam penerapannya. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan pengembang aplikasi “write once, run anywhere” (WORA), yang berarti bahwa kode yang dijalankan pada satu platform tidak perlu dikompilasi ulang untuk di tempat lain. Java saat ini menjadi salah satu bahasa pemrograman yang paling populer digunakan, terutama untuk aplikasi web client-server, dengan 10 juta pengguna.


Hanacaraka v.1.0

Aplikasi Hanacaraka v.1.0 adalah aplikasi untuk menerjemah aksara latin ke aksara jawa dan juga sebaliknya. Aplikasi yang dapat membantu auntuk mengembangkan budaya Jawa melalui aksara Jawa.


Mongosilakan.net

LogoMongosilakan.net

Mongosilakan.net merupakan layanan terjemahan daring bahasa Indonesia ke basa Jawa dan sebaliknya dengan unggah-ungguh basa Jawa.

Bahasa yang didukung:

  • Indonesia
  • Ngoko
  • Krama
  • Krama Inggil

Bahasa Jawa di Google Translate

20-06.09.20

Google Translate merupakan aplikasi daring untuk urusan penerjemahan bahasa. Hasil terjemahan memang kadang tidak sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia sehingga kalau diterjemahkan apa adanya justru lebih sulit dipahami daripada bahasa aslinya (bahasa Inggris). Beberapa sumber menyebutkan update itu mulai 9 Mei 2013. Dengan masuknya Bahasa Jawa, berarti Google Translate sudah mendukung lebih dari 70 bahasa di dunia, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah.

Sistem penerjemahan bahasa Jawa di Google Translate ini masih berstatus “Alpha” atau masih dalam proses pengembagan, sehingga hasil terjemahan mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Metro Duos GT-C3322

Gb. Wikipedia

Metro Duos GT-C3322 menyediakan pilihan bahasa Jawa di menu konfigurasi ponsel. Samsung pun ternyata cukup serius dengan opsi bahasa yang terbilang jarang ditemukan di produk ponsel ini. Semua menu berhasil diterjemahkan dalam bahasa Jawa yang “baik dan benar”.


Buku-buku agama Islam dalam bahasa Jawa

KH. Muhammad Saleh Darat adalah orang pertama yang mempelopori penulisan buku-buku dalam agama dalam bahasa jawa. Karya-karyanya di tulis dengan huruf Arab gundul (pegong) di era akhir tahun 1800-an. Al-Quran pun ia terjemahkan dengan huruf itu. Kitab Faid ar-Rahman merupakan kitab tafsir pertama di Nusantara yang di tulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Satu eksemplar buku terjemahan itu di hadiahkan pada RA Kartini ketika ia menikah dengan RM Joyodiningrat, bupati Rembang.


Naskah Terjemahan Al-Qur’an Pegon koleksi Perpustakaan Masjid Agung Surakarta

Naskah ini ditulis sebagai bahan ajar di Madrasah Manba’ul Ulum—pesantren yang pendiriannya didukung penuh oleh pihak keraton, di bawah kekuasaan Sri Susuhunan Pakubuwono IX (1861-1893). Jenis bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa ngoko dan model terjemahan tafsīriyyah-ma‘nawiyyah. Secara historis, naskah ini menjadi salah satu bukti tentang hubungan yang intens antara Islam dan keraton di Surakarta serta peran keraton dalam proses pendidikan dan pengembangan Islam pada akhir abad ke-19 M. Pada sisi lain, naskah ini ikut memperkaya keilmuan pesantren yang selama ini lebih dikenal dengan tradisi keilmuan fikih dan tasawuf.


Audio Digital Al Quran Terjemah Dalam Bahasa Jawa Dan Sunda

Digital Al QuranAl Hira Technologi dan bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Ilmu Al Quran (LPIQ) MUI Provinsi Jawa Barat selaku pemegang Hak Cipta untuk Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 telah mengembangkan Digital Al Quran selain terjemahan Bahasa Indonesia juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Tidak menutup kemungkinan jika permintaan Digatal Al Quran dapat diterjemahkan dalam bahasa suku yang lain selain Bahasa Indonesia. Digital Al Quran tersebut diberi nama Digital Al Quran tersebut adalah Al Mubarak.


Tafsir al-Qur’an al-Aziz Tafsir Berbahasa Jawa Karya KH Bisri Musthofa

Satu dari beberapa karya tafsir al-Qur’an berbahasa Jawa yang cukup fenomenal, adalah al-Ibriz Li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz karya KH Bisri Musthofa, seorang ulama kharismatis dan ‘materialistis’ asal Rembang Jawa Tengah. Karya tafsir ini memuat penafsiran ayat secara lengkap, 30 juz, mulai dari Surah al-Fatihah hingga Surah al-Nas.

Dalam tradisi pesantren, terutama pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karya tafsir Kiai Bisri ini sama sekali tidak asing. Karya ini lumrah dikaji dan diaji oleh para santri, dari sejak kemunculannya hingga kini. Seperti dituturkan penulisnya, karya ini, antara lain, memang ditujukan untuk para santri pesantren. Sehingga tidak aneh jika karya ini dikenal sangat luas di kalangan pesantren dan tidak di luar pesantren. Dan dengan penggunaan bahasa Jawa yang sangat kental, karya ini menjadi kian akrab dengan suasana pesantren di Jawa.


Kuran Jawi

Museum Radya Pustaka Surakarta, Jawa Tengah menyimpan peninggalan benda-benda kuno milik Raja Keraton Surakarta. Bahkan, museum ini juga menyimpan koleksi karya sastra terjemahan Alquran dalam bentuk aksara Jawa lengkap dengan tutur bahasa Jawa.

Karya sastra yang diberi nama “Kuran Jawi” ini dibuat periode 1835 tahun alit. Lantaran lama tersimpan, maka kondisi kertas dari buku ini pun menguning kecokelatan. Saat ini buku dengan tebal kurang lebih 10 centimeter itu sudah banyak yang terlepas dari sampul jilidnya. Bahkan saat membuka lembaran buku pun harus hati-hati dengan bantuan petugas museum.

Kuran Jawi ini dipecah dalam 3 buah buku yang berjumlah 30 juz. Untuk nama-nama surah tetap menggunakan nama bahasa Arab. Tetapi untuk tulisannya menggunakan aksara Jawa. Untuk membacanya juga sebagaimana membaca aksara Jawa mulai dari kiri.

Tiga buah Alquran ini dibuat oleh abdi dalem Keraton Surakarta. Mereka adalah Bagus Ngarpah sebagai penerjemah ke bahasa Jawa, Mas Ngabehi Wiro Pustoko, serta Ki Rono Suboyo sebagai penyelaras dan penulis ke dalam tulisan Jawa.


Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah

Negara Indonesia selain memiliki satu bahasa nasional, bahasa Indonesia, juga memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Beberapa bahasa daerah dengan populasi penutur yang tinggi telah memiliki Alkitab dalam versi bahasa daerah tersebut, termasuk Alkitab dalam bahasa Jawa telah diterbitkan oleh LAI.

Kitab suci terjemahan resmi LAI dalam bahasa Jawa itu ada dua versi. Versi bahasa Jawa sehari-hari ini kira-kira sama dengan Alkitab Kabar Baik, yang memang lebih sederhana kata-katanya dan versi Terjemahan Baru bahasa Indonesia, 1974 yang digunakan di hampir semua gereja di Indonesia saat ini.

Saat ini terdapat proyek yang sedang berjalan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah lainnya. Hal ini juga berguna untuk melestarikan bahasa daerah. Salah satu organisasi yang berusaha menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa daerah Indonesia adalah Wycliffe Bible Translator.


Sejarah

Provinsi di Indonesia  % dari populasi provinsi Berbahasa Jawa (1980)
1. Aceh 6,7% 175.000
2. Sumatra Utara 21,0% 1.757.000
3. Sumatra Barat 1% 56.000
4. Jambi 17% 245.000
5. Sumatra Selatan 12,4% 573.000
6. Bengkulu 15,4% 118.000
7. Lampung 62,4% 2.886.000
8. Riau 8,5% 184.000
9. Jakarta 3,6% 236.000
10. Jawa Barat 13,3% 3.652.000
11. Jawa Tengah 96,9% 24.579.000
12. Yogyakarta 97,6% 2.683.000
13. Jawa Timur 74,5% 21.720.000
14. Bali 1,1% 28.000
15. Kalimantan Barat 1,7% 41.000
16. Kalimantan Tengah 4% 38.000
17. Kalimantan Selatan 4,7% 97.000
18. Kalimantan Timur 10,1% 123.000
19. Sulawesi Utara 1% 20.000
20. Sulawesi Tengah 2,9% 37.000
21. Sulawesi Tenggara 3,6% 34.000
22. Maluku 1,1% 16.000

[4]


Artikel Selanjutnya: Jawa [Part 4: Jawa Suriname]

Iklan

10 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s