Lanjutan dari: Jawa (Part 3)


Bahasa Jawa Suriname

Ssw6

Bahasa Jawa Suriname merupakan ragam atau dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname dan oleh komunitas Jawa Suriname di Belanda. Jumlah penuturnya kurang lebih ada 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Orang Jawa Suriname merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Tanah Jawa dan sekitarnya.

Di Suriname Orang Indonesia tersebar dibeberapa tempat dan kampung yang gampang dikenali karena Kampung mereka masih menggunakan nama-nama dalam bahasa Indonesia seperti Desa Tamansari, Desa Tamanrejo dan semacam itu. Untuk mengingat akan Tanah airnya Indonesia selain dengan menggunakan nama Pemukiman mereka dengan Bahasa Indonesia, bahasa yang digunakanpun adalah Bahasa Jawa.

Pada Tahun 1990 sekitar 34,2% Penduduk Suriname atau 143.640 Orang keturunan asal Indonesia ( etnis jawa ) dan merupakan salah satu etnis terbesar di Suriname saat itu. Namun seiring dengan perkembangan jaman banyak di antara mereka yang pindah mengikuti keluarga dan bermukim di Belanda. Anehnya walau mereka pada umumnya belum pernah melihat Indonesia, mereka sangat fasih dalam berbahasa Jawa yang digunakan sehar-hari dalam pergaulan antara sesama etnis Jawa. Bukan di Suraname saja bahasa Jawa digunakan oleh masyarakat yang berasal dari Indonesia tapi juga di Belanda. Bahkan dari sebuah catatan menyebutkan kurang lebih 65 ribu orang Warga Negara Suriname etnis Jawa dan 30 puluh ribu orang Warga Negara Belanda etnis Jawa menggunakan Bahasa Jawa dalam bersosialisasi dengan sesama mereka dalam pergaulan sosial ditengah-tengah masyarakatnya.

Mungkin ada beberapa dialek yang kurang pas kedengarannya di telinga kita, itu disebabkan oleh pengaruh bahasa Belanda dan Bahasa Tongo, namun hanya pada dialek saja yang tampak lucu namun akan dapat dimengerti dengan baik oleh Orang Indonesia bila mendengarnya. Fonologi bahasa Jawa Suriname menggunaan dialek Kedu yang menjadi bahasa induk Warga Negara Suriname asal Indonesia yang tentunya tak jauh berbeda dengan Bahasa Jawa yang baku.


Selayang pandang

Pada akhir abad ke-19, pemerintah Belanda yang menguasai Suriname di Amerika Selatan memerlukan kuli-kuli untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan. Sebelumnya, pekerjaan ini dilakukan oleh para abdi atau budak Negro dari Afrika. Namun, setelah perbudakan dihapuskan pada pertengahan abad ke-19, orang-orang Negro, yang disebut sebagai orang Kreol Suriname, meninggalkan perkebunan dan berduyun-duyun ke kota-kota di Suriname. Untuk mengganti para kuli perkebunan, orang Belanda meminta pertolongan Inggris. Suriname kemudian menjadi jajahan Britania Raya. Sekali waktu, pernah didatangkanorang Tionghoa. Orang Inggris kemudian mendatangkan sejumlah kuli kontrak dari Raj Britania (kini India). Pada akhirnya, orang Belanda takut akan orang Inggris dan tak mau lagi bergantung kepada mereka.

Barulah pemerintah Belanda mencoba mengganti atau menambah orang-orang India, disebut orang Hindustan Suriname, dengan orang-orang dari Hindia-Belanda (kiniIndonesia); yakni orang Jawa. Orang-orang Jawa ini kebanyakan diambil dengan sistem razia dan dipaksa dikapalkan ke Suriname. Namun pada akhirnya diberi kontrak yang harus diteken, meskipun sebenarnya mereka kebanyakan adalah petani dan buruh kasar yang tuna aksara.

Pada gilirannya, program ‘transmigrasi’ dari Hindia-Belanda ke Suriname ini termasuk sukses. Antara tahun 1890–1939, terdapat lebih dari 33.000 jiwa orang Jawa yang dibawa ke Suriname. Jika Perang Dunia IItidak meletus, tentulah akan lebih banyaksuku Jawa yang dibawa ke sana.


Latar belakang orang Jawa di Suriname

Tak semua penduduk Hindia-Belanda yang dibawa ke Suriname itu etnis Jawa. Selain orang Jawa juga terdapat suku Sunda,Madura, dll. Namun karena mayoritas kuli kontrak itu adalah etnis Jawa, suku-suku selain Jawa berasimilasi sebagai orang Jawa.

Dilihat dari asalnya, kurang lebih 70% orang Jawa berasal dari Jawa Tengah, 20% dariJawa Timur dan 10% dari Jawa Barat. Kurang lebih 90% termasuk etnis Jawa; 5% Sunda; 2,5% Madura dan 2,5% suku lain, termasuk juga orang-orang dari Batavia (kini Jakarta)[2].

Di antara suku Jawa tersebut, mayoritas berasal dari Karesidenan Kedu (Kabupaten Magelang dan sekitarnya). Itulah sebabnya,bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname mirip dengan bahasa Jawa Kedu. Bahasa selain Jawa seperti Sunda, Madura sudah tak dituturkan lagi, dan tak memberi pengaruh apapun terhadap bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname. Walaupun demikian, terdapat pula beberapa kata Melayu, dan kata-kata tersebut memang sudah ada dalam bahasa Jawa masa itu sebelum dibawa ke Suriname.


Dialek bahasa Jawa di Suriname

Di Suriname hanya terdapat satu dialek Jawa. Namun, adanya varian-varian kata menunjukkan bahwa pada masa lalu para migran Jawa itu menuturkan sejumlah dialek yang berbeda. Di Suriname juga pernah ada penutur bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Sayangnya, bahasa ini dianggap tidak baik dan penuturnya sering dihina. Akibatnya, keturunan mereka tak lagi mempelajari dan menuturkan bahasa Banyumasan.


Pengaruh bahasa lain

Kosakata bahasa Jawa di Suriname banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meskipun demikian, kedua bahasa tersebut tak memengaruhi fonologi dan tata bahasa. Akan tetapi orang Jawa di Suriname tidak bisa berbahasa Indonesia karena sejak Belanda mendatangkan orang jawa untuk menjadi kuli kontrak , ketika itu orang asli Jawa dahulu hanya bisa berbahasa jawa saja. Kata-kata Sranan Tongo yang sudah diserap malah ada yang memiliki bentuk bahasa krama.


Fonologi

Fonologi bahasa Jawa di Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku di Tanah Jawa. Fonologi Dialek Kedu yang menjadi leluhur bahasa Jawa Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku. Namun terdapat fenomena baru dalam bahasa Jawa Suriname, yakni perbedaan antara fonem dental dan retrofleks (/t/ dan /d/ vs. /ṭ/ dan /ḍ/) semakin hilang.


Ejaan

Namun, bahasa Jawa Suriname memiliki cara penulisan yang berbeda dengan bahasa Jawa di Pulau Jawa. Pada tahun 1986, bahasa Jawa Suriname mendapatkan cara pengejaan baku. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan antara sistem Belanda sebelum PD II dengan ejaan Pusat Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pra-1942 Suriname (1986) Yogyakarta (1991)
b b b
d d d
d dh
dj j j
g g g
h h h
j y y
k k k
l l l
m m m
n n n
ng ng ng
nj ny ny
p p p
r r r
s s s
t t t
t th
tj ty c
w w w

Kemudian fonem /a/ yang diucapkan seperti [a] ditulis “â”. Sehingga, kata macan (harimau) ditulis mâtjân di Suriname.


Bahasa krama dalam bahasa Jawa Suriname

Dalam bahasa Jawa Suriname, terdapat juga basa krama (bahasa halus), namun tak lagi serupa dengan bahasa Jawa di Jawa. Bahkan generasi mudanya sudah banyak yang tak bisa menuturkan basa krama. Terdapat 3 ragam bahasa Jawa di Suriname, yakni ngoko, krama dan krama napis. Krama di Jawa adalah madya dan krama napis adalah krama dan krama inggil.


Kursus Bahasa Jawa di Suriname

Sejak tahun 2000 di buka kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk warga Suriname. Bertempat di KBRI Paramaribo, Pesertanya memang tidak banyak dan masih didominasi orang tua. Agar kemampuan berbahasa yang diperoleh dari kursus tidak hilang begitu saja, dibentuk Ikatan Alumni Kursus Bahasa Jawa (IKA-KBJ) dan Ikatan Alumni Kursus Bahasa Indonesia (IKA-KBI). Secara berkala, alumni berkumpul untuk berbicara dalam bahasa Jawa dan Indonesia.

Dari kursus itulah mereka menguasai bahasa Indonesia serta mengerti tata bahasa Jawa sesuai yang berlaku di tempat asalnya. Selama ini penggunakan ejaan Belanda untuk menulis kosa kata bahasa Jawa marak digunakan oleh masyarakat suku jawa di Suriname. Kemampuan berbahasa Jawa dan Indonesia itu penting bagi warga keturunan Jawa di Suriname. Meski bukan berkebangsaan Indonesia, mereka tetaplah manusia Jawa. “Manusia Jawa itu punya identitas, salah satunya bahasa Jawa. Maka agar tidak kehilangan identitas, mereka harus menguasai bahasa Jawa.”[5]


Wong Jawa di Suriname Jadi Dokter Hingga Capres

image

Walau berjarak sangat jauh, ikatan historis antara Indonesia dan Suriname begitu erat. Bahkan salah seorang warga keturunan Indonesia Raymond Sapoen akan segera bertarung dalam Pemilihan Presiden negara di Benua Amerika itu.

Raymond bercerita, di negaranya warga keturunan Indonesia berperan sangat penting. Bekerja sebagai polisi hingga dokter.

Keterangan tersebut disampaikan Raymond ketika menjawab pertanyaan dari  beberapa warga Indonesia melalui Facebook BBC Indonesia.

“Walaupun faktanya warga keturunan Indonesia di Suriname terdiri dari 15% (dari total 500.000 jiwa penduduk), kami sangat terwakili dari semua lapisan masyarakat,” ucap Raymond yang pernyataannya dikutip dari BBC, Sabtu (21/3/2015).

“Mulai dari dokter, guru, polisi, pengusaha, politik, mereka yang bergerak di industri serta finansial,” kata Raymond.

Meski mengakui kebanyakan warga keturunan Indonesia di Suriname berasal dari Jawa, Raymond mengatakan ada juga warga keturunan berasal dari daerah lain di tanah air. Seperti Sumatera.

“Ada beberapa imigran dari Sumatra namun saya harus mencari tahu lebih lanjut,” tutur Raymond.

Raymond Sapoen merupakan warga Suriname keturunan Banyumas, Jawa Tengah. Dalam satu kesempatan dia pun menegaskan dirinya siap maju jadi orang nomor satu di negara yang juga dijajah Belanda ini.

“Aku tinggal di Suriname, anakku telu, lanang….Aku arep dadi presiden Republik Suriname, partaiku jenengane Pertjaja Luhur (anak saya tiga, saya mencalonkan diri jadi presiden dari Partai Pertjaja Luhur),” kata Raymond.

image

Walaupun sudah tiga generasi tinggal di Suriname, ia mengaku tetap menggunakan bahasa Jawa dengan orang tua dan juga anak-anaknya.

“Kami tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Jawa. Orang tua saya bicara bahasa Jawa. Anak-anak saya dalam pendidikannya menggunakan bahasa Belanda, namun di rumah kami berbahasa Jawa.”

“Ini budaya kami, kebiasaan kami, dan kami harus merangkulnya karena bagian dari identitas kami,” katanya lagi.

Raymond sebelumnya pernah menjabat menteri perdagangan dan industri dari 2012 sampai akhir 2014 dan menjadi menteri pendidikan pada 2010 dan 2012. Saat ini, Raymond Sapoen merupakan kader partai oposisi, Partai Pertjaja Luhur dan tengah berkampanye untuk Pemilihan Presiden Suriname yang bakal dilangsungkan pada tanggal 25 Mei mendatang.

Informasi soal Raymond terkait asal usul keturunan asal Banyumas pertama kali dilontarkan oleh seorang warga keturunan Belanda yang kini bermukim di Desa Karangbanjar, Purbalingga, Arie Grobbee.

Dia menuturkan, kakek buyut Raymond Sapoen diduga berasal dari Desa Kanding di Banyumas, Jawa Tengah. Hal itu ia ketahui setelah menghubungi seorang temannya di Belanda, August de Man, begitu melihat ada kata ‘Sapoen’ pada Raymond Sapoen, beberapa waktu lalu.

“Teman saya memberikan data mengenai siapa jati diri Sapoen beserta fotonya. Saya kaget, ternyata dari data arsip yang dimiliki Pemerintah Belanda tersebut, Sapoen berasal dari Desa Kanding, Banyumas. Data tersebut menyebutkan bahwa Sapoen berangkat dari Batavia pada 1928 ke Suriname. Waktu itu, tempat yang dituju adalah Paramaribo,” jelasnya.

Pada data di situs Arsip Nasional Belanda yang ditelusuri BBC, ditemukan nama Sapoen dalam daftar warga Hindia Belanda yang dikirim pemerintah kolonial Belanda ke Suriname.

Dalam daftar tersebut dijelaskan bahwa Sapoen diberangkatkan ke Paramaribo pada 30 Juni 1928 menggunakan kapal bernama Merauke II. Asal Sapoen dari Desa Kanding, Banyumas juga disebutkan.

Dari data arsip pemerintahan Belanda, sepanjang 1920-1928 ada sebanyak 2.665 warga di Karesidenan Banyumas yang berangkat ke Suriname. Mereka dipekerjakan oleh Belanda di sektor pertanian dan perkebunan.[6]


Mbok Tumpi Nenek Capres Suriname

Calon Presiden Suriname, Raymond Sapoen merupakan cucu dari Tumpi yang berasal dari Dukuh Polowono Desa Jangkrikan Kecamatan Kepil Wonosobo, Jawa Tengah. Semasa masih hidup, ia adalah kembang desa. Sosromihardjo, paman Tumpi saat ditemui di rumahnya di Wonosobo menggambarkan bahwa Tumi adalah gadis cantik berambutnya keriting. Kini, Sosormihardjo diperkirakan berumur 115 tahun.

Tumpi menjadi kembang desa, sehingga dilirik banyak pemuda tak hanya orang pribumi, tapi juga orang Belanda yang saat itu menjajah Indonesia. Sosromihardjo adalah adik Mbok Karijosentono. Tumpi dan Sosromihardjo merupakan anak dari Karijosentono, seorang pegawai Rumah Sakit Wonosobo.

Kini, Sosromihardjo masih sehat. Ia menyatakan, ketika Jepang menjajah Indonesia pada 1942-1945, Sosromihardjo masih mengingatnya dengan jernih. “Jepang datang ke Indonesia itu kan baru kemarin sore (belum lama),” kata Sosromihardjo kepada Tempo. Ia ingin menunjukkan bahwa ia telah dewasa ketika Indonesia di bawah pendudukan Jepang.

Tumpi meninggalkan desanya dan pergi ke Suriname sebagai kuli kontrak. Ia menggunakan nama Tumpi Karijosentono. Ia dibawa oleh seorang warek yang berasal dari kata dalam bahasa Belanda, werk. Warek merupakan orang Belanda yang bertugas mencari kuli kontrak. Berdasarkan data arsip negara Belanda, Tumpi pergi ke Suriname menggunakan nama orang tuanya, Karijosentono. Tumpi pergi ke Suriname saat berusia 16 tahun dengan tinggi badan 148 sentimeter.

Sebelumnya, Tumpi tidak pernah tahu bahwa ia akhirnya dibawa oleh Belanda ke Suriname. Sebab, werk Belanda sebenarnya menjanjikan Tumpi bekerja sebagai pegawai Belanda di Deli,  Sumatera Utara. Jadi, Tumpi sesungguhnya ditipu, kontraknya sebagai kuli dialihkan oleh Belanda dari Deli ke Suriname.

Memang,  sebagian kuli kontrak dari Jawa ini benar-benar dipekerjakan di Deli.  Warisannya masih terasa, karena kini banyak keturunan Jawa menetap di Sumatera yang dikenal sebagai Jawa Deli. Anak orang Jawa yang lahir di sini kerapa punya sebutan Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Di kalangan kuli kontrak, mereka yang benar-benar bekerja di sejumlah perkebunan di Deli disebut Deli Terang.

Sedangkan kuli kontrak asal Jawa lainnya,  ternyata dipekerjakan di sejumlah perkebunan di Suriname, sebuah negara jajahan Belanda di Benua Amerika. Mereka yang bekerja ke Suriname, dikenal di kalangan kuli kontrak sebagai bekerja di Deli Peteng (Deli gelap).

Menurut pegiat komunitas Sambung Roso Jawa-Suriname, Arie Grobbee, Tumpi meninggalkan Jawa dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 16 Agustus 1926. “Ia bekerja di perusahaan gula yang bernama N.V Nickerie Sugar Estate & Co. Ltd,” katanya saat bersama Tempo ke Desa Kepil. Arie adalah warga keturunan Belanda yang kini tinggal di Purbalingga. Sudah setahun ini, ia melakukan penelusuran terhadap warga keturunan Jawa yang menjadi kuli kontrak di Suriname.

Di Suriname, Mbok Tumpi bertemu jodoh dengan Sapoen.Ki Sapoen yang berasal dari Desa Kanding Somagede Banyumas Jawa Tengah. Ia dikirim Belanda ke Suriname pada tahun 1928, juga sebagai kuli kontrak perkebunan.

Raymond Sapoen, calon Presiden Suriname, akan bertarung pada pemilihan presiden Mei mendatang. Ia akan maju dengan dukungan Partai Pertjaja Luhur. Raymond pun mengkonfirmasi bahwa ia memang keturunan Jawa asal Banyumas.[7]

image


Selanjutnya: Jawa [Part 5: Suku Jawa di Suriname]

Iklan

10 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s