Lanjutan dari: Jawa (part 9)


Jawa di Vietnam

Di Vietnam, terdapat sekelompok warga yang merupakan keturunan Indonesia. Mereka berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur, dan tinggal di Ho Chi Minh sejak masa pemerintah kolonial Belanda.

image

Mereka ‘terdampar’ di Vietnam karena alasan yang berbeda-beda. Sebagian memang karena merantau dan sebagian lagi karena bekerja untuk pemerintah kolonial Prancis yang berkuasa di Vietnam.

Namun, sebagian besar dari perantau keturunan Indonesia itu tidak dapat pulang ke kampung halaman, karena tidak memiliki dokumen kewarganegaraan dan tidak lagi memiliki hubungan dengan kerabat di Pulau Bawean.

Warga Vietnam keturunan Indonesia ini disebut orang Bawean atau Boyan. Sebagian besar tinggal di sekitar Masjid Al Rahim di Distrik 1 Ho Chi Minh.

Salah satunya adalah pemimpin Masjid Al Rahim, Imam Haji Ally, 86 tahun. Haji Ally berada di Vietnam karena mengikuti kedua orangtuanya yang pergi ke Ho Chi Minh pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, Haji Ally baru menginjak usia 11 tahun.

Haji Ally mengatakan, ayahnya bekerja pada pemerintah kolonial sebagai teknisi mesin. “Ayah saya dulu kerja di bagian teknik pada masa penjajahan. Saya tak ingat betul berapa orang yang ikut dari Indonesia,” jelas Ally dalam bahasa Melayu, seperti dikutip dari BBC, Senin (3/8/2015).

Imam Ally menjelaskan, keturunan Bawean juga telah menikah dengan warga Vietnam ataupun pindah ke Malaysia dan Singapura.

Menelusuri Sungai Mekong

Tidak ada catatan yang pasti kapan orang Bawean pertama tiba di Vietnam. Namun mereka tiba saat Vietnam masih berada dalam jajahan Prancis. Orang-orang Bawean di Vietnam ini kemudian membangun Masjid Al Rahim dengan menggunakan kayu.

Salah satu masjid tertua di Vietnam itu dibangun pada 1885. Kemudian masjid mengalami beberapa perubahan dengan dana dari sumbangan donatur. Renovasi terakhir dilakukan sekitar dua tahun lalu sama sekali mengubah bentuk aslinya.

Pakar studi Vietnam, Malte Stockhof, yang pernah meneliti tentang keturunan Bawean di Ho Chi Minh mengatakan, para perantau dari Bawean kemudian ada yang memilih tinggal di Singapura dan ada juga yang melanjutkan perjalanan ke Mekah.

Menurut Stockhof, orang-orang Bawean yang menempuh perjalanan melalui Sungai Mekong bekerja dengan para pedagang dari Cina dan kemudian mencari pekerjaan ketika tiba di Saigon (Ho Chi Minh).

Tak ada data yang pasti mengenai jumlah keturunan dan orang-orang asal Bawean di Vietnam. Namun, Imam Ally memperkirakan sekitar 400 orang. Dari jumlah tersebut, hampir tidak ada yang menguasai bahasa Indonesia ataupun bahasa Bawean. Bahkan tradisi daerah asal pun tidak ada yang diteruskan.

“Sehari-hari kita menggunakan bahasa Vietnam, hanya orang tua saja yang bisa berbicara bahasa Melayu. Ada juga anak-anak muda yang bisa bahasa Indonesia karena sekolah di sana,” jelas Imam Ally.

Imam Ally menikah dengan perempuan asli Vietnam dan anak-anaknya tinggal di Singapura dan Malaysia.

Hampir seluruh keturunan Bawean yang tinggal di Vietnam tidak memiliki identitas sebagai WNI, karena mereka tiba di negara tersebut ketika Indonesia belum merdeka.

Masalah kewarganegaraan ini muncul setelah Vietnam Selatan yang didukung Amerika Serikat dikalahkan oleh Vietnam Utara pada 1975. Perubahan situasi politik dan keamanan di Vietnam membuat keturunan Bawean di Ho Chi Minh merasa khawatir, apalagi banyak juga dari mereka yang bekerja dengan AS.

Malte Stockhof mengatakan sejumlah keturunan Bawean di Vietnam berupaya untuk pulang, tetapi terkendala dokumen dan terputusnya kontak dengan keluarga di kampung halaman.

“Yang berhasil mengontak kerabatnya dapat pulang ke Bawean, tetapi jumlahnya sangat sedikit karena alat komunikasi yang sangat terbatas pada masa itu,” jelas Stockhof.[27]

Jawa di Australia

Mungkin Anda akan sangat malu karena pria 64 tahun itu ternyata lebih fasih daripada orang asli Jawa sekalipun.

Screenshot_2016-07-02-18-36-20_1

Tutur katanya halus, intonasinya jelas, kosakata Jawa yang diingat luar biasa banyak. Sulit membayangkan bahwa sejatinya dia warga negeri Negeri Kanguru. Jenis bahasa Jawa apa pun dia kuasai. Krama Inggil, Krama Madya, hingga Basa Ngoko mengalir begitu saja. Yang pasti, kalau soal Jawa, George Quinn tahu betul luar dalam, termasuk kesusastraannya.

Pekan lalu dosen bahasa Jawa di Australian National University itu berkunjung ke Jawa Pos. Dia diantarkan oleh sastrawan Jawa Bonari Nabonenar. Kedatangan Pak Quinn, panggilan akrab George Quinn, tentu bukan lagi mendalami bahasa Jawa. Lebih dari itu, selama sepekan dosen berambut perak tersebut mengadakan riset tentang makam di tanah Jawa.

Quinn mengaku sudah mengunjungi lebih dari 130 makam keramat di tanah Jawa. “Kula inggih dateng Taman Bungkul (saya juga mau ke Taman Bungkul, Red),” ungkap pria murah senyum itu. Yang pasti, apabila masih ada makam Jawa yang punya nilai sejarah, pasti tak luput dari kunjungannya.

Menurut jadwal kunjungannya pekan lalu, Quinn akan mendatangi kompleks makam Tebu Ireng, Jombang, Troloyo, dan Trowulan, Mojokerto. Dia juga mengaku telah mengunjungi seluruh makam Wali Songo. Yang menarik lagi, Quinn melakukannya sendiri. Dengan kemampuan berbahasa Jawa itulah Quinn tak kesulitan blusukan di beberapa kuburan. Dengan begitu, dia tak membutuhkan pemandu dari warga setempat. “Sedaya kula lakoni piyambak (saya jalani sendiri, Red),” ujar Indonesianis yang juga pakar masalah Timor Leste itu.

Melalui riset itu, Quinn ingin membuat buku pegangan bagi peneliti luar negeri tentang makam di tanah Jawa. Menurut dia, sejarah makam di Jawa sangat populer. Ketertarikannya berawal saat belajar sastra Jawa dulu. Dalam ilmu tersebut juga dimuat panjang lebar sejarah Jawa. “Sebenarnya banyak orang yang sudah melakukannya,” ungkap pria yang kala itu menggunakan hem dan celana cokelat muda tersebut.

Selama ini banyak sekali yang sudah dihasilkan Quinn tentang Jawa. Termasuk, karyanya Novel in Javanesse (1992); Hidup Berwarna (Sydney,1989), The Learner’s Dictionary of Today’s Indonesian (Sydney, 2001), hingga penelitiannya tentang perkembangan Katolik di Timor Leste.

Bukan itu saja. Quinn juga sangat mengenal sastrawan Jawa. Dari sastrawan gagrak enggal Suparto Brata, sampai sastrawan Jawa asal Jogjakarta, Purwadi Atmodiharjo. “Kula kinten naminipun Pak Purwadi pengarang ageng sampun kados Pramoedya Ananta Toer (Saya kira nama Pak Purwadi adalah pengarang besar sekaliber Pramoedya Ananta Toer,” ungkap bapak seorang anak tersebut.

Ya, kecintaan Quinn, pada tanah Jawa sebenarnya bukan terbentuk begitu saja. Dengan tutur kata halus dan santai Quinn pun menceritakan perjalanannya belajar bahasa Jawa.

Semuanya bermula ketia dirinya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), 37 tahun silam. Saat itu Quinn muda belajar di Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa Indonesia. Bahasa Jawa waktu itu menjadi mata kuliah penunjang di kampusnya.

Saat naik tingkat, Quinn sebenarnya ingin menempuh mata kuliah bahasa Inggris. “Wedal menika dereng wonten SKS. Sistemi pun inggah-inggahan (waktu itu belum ada sistem SKS seperti sekarang. Sistemnya masih kenaikan kelas, Red),” ujarnya. Namun, seorang dosennya melarang keras. “You are English. Anda harus ambil bahasa Jawa,” tegas dosennya kala itu. Mau tak mau Quinn sendika dawuh.

Mulailah Quinn mengenal bahasa Jawa. Dia beralasan untuk belajar bahasa Indonesia, ilmu dasar yang harus dimengerti memang harus bahasa Jawa. Menurut dia, bahasa Jawa juga mempunyai ciri khas yang membedakan dengan bahasa lain, yakni terkait persoalan unggah-ungguh, tata krama bahasa yang lebih menghargai kepada yang lebih tua. “Angelipun basa Jawa menika dateng unggah-ungguh (Sulitnya bahasa Jawa itu karena ada tata krama bahasa, Red),” ujarnya.

Saat berkuliah di UGM, Quinn juga menempuh mata kuliah Pancasila. Maklum, kala itu setiap mahasiswa wajib memahami Pancasila. “Kula menika inggih lulus Pancasila. Dados awon-awon mekaten kula niki ugi Pancasilais (Saya juga lulus kuliah Pancasila. Jadi, jelek-jelek begini saya Pancasilais, Red),” terangnya. Namun, Quinn menolak saat Jawa Pos meminta menyebutkan sila-sila Pancasila tersebut. “Kula kinten sampun cekap (Saya kira sudah cukup, Red),” ujar Quinn mengelak melanjutkan pembicaraan tentang Pancasila.

Meski demikian, ada satu hal yang tentu tak mungkin dilupakan Quinn tentang Jawa. Saat berkuliah itu pula, dia mendapatkan pendamping hidup Emmy Oei, gadis asli Banyumas keturunan Tiongkok. Wanita yang memberinya seorang anak, Andrew Quinn, itu sejatinya pimpinannya ketika dia mengabdikan diri sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Dia juga masih terkenang ketika kali pertama melamar Emmy. Saat bertandang ke rumahnya, ayah Emmy memintanya kembali dan akan memberikan jawaban dalam dua minggu. “Oi arep nglamar anakku (kamu mau melamar anakku, Red). Dua minggu lagi temui saya,” terangnya sambil agak menirukan logat Tiongkok.

Tentu diperlakukan seperti itu, Quinn diliputi perasaan tak pasti. “Deg-degan sanget. Kula mikir napa dilulusaken (Deg-degan sekali waktu itu. Saya berpikir apa bisa diluluskan, Red),” terangnya.

Dia menyebutkan sikap ayah Emmy adalah bagian romantika mendapatkan istri. Setelah menikah pada 1973, Quinn memboyong istrinya ke kampung halaman. Karena itu, hingga sekarang Quinn sangat penurut dengan istrinya itu. “Ngantos sak menika kula mesti nurut Emmy (Sampai sekarang saya masih menurut Emmy),” ungkapnya.

Sama halnya dulu, aktivitas Quinn saat ini adalah mengajar dan melaksanakan penelitian. Di Australian National University, Quinn adalah satu-satunya bule yang mengajarkan bahasa Jawa. Sebenarnya ada seorang nama lagi, Amrih Widodo. Tapi, dia asli keturunan Jawa.

Di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Indonesia, bahasa Jawa merupakan bahasa penunjang. Di jurusan itu ada 110 orang yang berkuliah. Namun, hanya 13 orang yang menempuh kuliah bahasa Jawa. Di antara mereka ada orang Jepang. “Sakmenika wonten tiga welas mahasiswa kula (Sekarang ada 13 mahasiswa saya, Red),” ujarnya. Untuk mengajar, Quinn juga harus membuat materi ajar sendiri.

Selama ini, kata Quinn, mereka yang belajar bahasa Indonesia, termasuk bahasa Jawa, bisa menempati berbagai lapangan pekerjaan. Mulai staf kedutaan besar, tentara, guru bahasa Indonesia, hingga karyawan perusahaan yang berkantor di Indonesia.[28]

Mahasiswa Australia Bikin Film ‘Sri Ngilang’ Memakai Bahasa Jawa

Bahkan, sejumlah mahasiswa ANU memproduksi sekaligus menjadi pemain utama dalam film pendek yang berlatar belakang Jawa.

image

Uniknya lagi, film itu memakai bahasa Jawa. Sementara bahasa Inggris, hanya menjadi teks penjelas atau subtitle.

Film berjudul “Sri Ngilang” itu, menceritakan tentang seorang mahasiswi bernama Sri yang menghilang. Padahal, kedua temannya yang bernama Parto dan Landhung, memerlukan bantuan Sri.

Parto dan Landhung lantas menemui Nur dan Narsih, yang juga teman Sri. Mereka berempat, lantas bertindak layaknya detektif swasta mencari jejak Sri. Mau tahu kelanjutan ceritanya? simak filmnya di tautan berita ini.[29]

Mahasiswa Australia: Bahasa Jawa adalah Bahasa yang Penuh Rasa Hormat

Kirrilly McKenzie dari Australia National University (ANU) adalah salah satu mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jawa. Ia terdengar fasih berbicara dalam sebuah drama berbahasa Jawa. Lewat tulisan ini, ia berbagi makna dari belajar bahasa Jawa, bagi dirinya dan masa depan hubungan Australia dan Indonesia.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang di tuturkan oleh kira-kira 80 juta orang di Indonesia. Kebanyakan penuturnya tinggal di Pulau Jawa. Bahasa Jawa diperkirakan menjadi bahasa ibu yang ke-12 terpopuler di dunia.

Bahasa jawa itu penting untuk menguatkan budaya Jawa. Selain itu Bahasa Jawa juga penting di gunakan untuk berinteraksi sehari-hari di Pulau Jawa.

Di ANU di Canberra, ada mata kuliah Bahasa Jawa. Tugas akhir dari mata kuliah ini adalah memproduksi drama dalam bahasa Jawa, yang ditulis oleh Dr George Quinn. Drama berjudul Sri Ngilang berdurasi selama 30 menit ini uniknya dilakukan oleh mahasiswa Australia, yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris.

Sekitar dua bulan yang lalu, the Australian National University Digital Learning Project merilis video dari Drama Sri Ngilang di Youtube. Hingga saat ini video tersebut sudah ditonton oleh lebih dari 360 ribu di Youtube, juga menjadi “viral” di kalangan masyarakat Jawa.

Drama ini sudah ditulis dan dipublikasikan di beberapa media televisi di Australia dan Indonesia. Tidak ada seorang pun dari pembuat video ini yang menyangka jika video dalam bahasa Jawa ini akan sukses.

Sebagai salah satu aktris di drama tersebut, setiap hari saya menerima permintaan pertemanan baru di Facebook dan pesan dari orang yang juga menyukai drama.

Bagi saya, belajar bahasa Jawa memberikan saya wawasan yang dalam soal budaya Jawa dan cara yang orang Jawa berkomunikasi satu sama lain. Bahasa Jawa lebih bisa dipahami daripada Bahasa Indonesia. Saya sempat tinggal dan belajar di kota Yogyakarta dan Salatiga selama beberapa minggu.

Bahasa Jawa adalah bahasa umum untuk berkomunikasi, belajar bahasa Jawa tidak hanya memberi wawasan budaya tapi juga membuat anda lebih di hargai, terutama saat berbicara dengan kemampuan yang sangat dasar. Bahasa Jawa adalah bahasa yang penuh rasa hormat.

Sebagai orang asing, untuk berbicara bahasa Jawa atau pun bahasa Indonesia di Indonesia dianggap sebagai sesuatu jarang, dan karenanya menjadi istimewa. Bahasa indonesia menjadi semakin lebih dominan, selain juga penggunaan bahasa Inggris di Indonesia yang kini meningkat, sehingga memberikan kesempatan yang sama bagi orang Indonesia di seluruh nusantara.

Akan tetapi orang Indonesia penting untuk tetap ingat terhadap bahasa daerahnya. Ini berarti bahwa harus ada yang meneruskan serta melindungi bahasa daerah, baik di Indonesia dan luar negeri untuk mempelajarinya.

07-02-06.35.16

Kesempatan untuk belajar bahasa Jawa yang saya peroleh, membuat saya lebih memahami budaya Jawa dan memungkinkan saya untuk memperdalam kemampuan bahasa saya, tidak hanya bahasa Indonesia namun juga bahasa Jawa.

Suksesnya video ini membuktikan bahwa sangat pentingnya orang-orang di seluruh dunia untuk belajar bahasa Indonesia, terutama orang Australia.

Dengan belajar dan mengerti budaya Indonesia kita bisa menciptakan hubungan dari antar individu yang lebih baik dengan Indonesia.

Untuk belajar Bahasa Jawa, tidaklah terlalu penting untuk menjadi lancar, tapi mengerti dan menghormati budayanya.

Respon dari masyarakat Jawa dan Indonesia bagi saya sangatlah luar biasa, mengingat karena bahasa Jawa kami masih sangat dasar. Oleh karena itu pendidikan tinggi di Australia masih perlu untuk tetap menyediakan kelas bahasa Indonesia dan bahasa daerah di Indonesia.

Hal ini akan membantu untuk tetap menjaga dan mengajarkan bahasa Indonesia, khususnya bahasa Jawa di universitas di Australia.[30]


 Selanjutnya: Jawa [Part 11: Pembenci Jawa]

Iklan

10 responses »

  1. […] Jawa [Part 10] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s