Lanjutan dari: Jawa (part 10)


Pembenci Etnis Jawa


Jawa, Etnis Yang Penuh Ajaran Tata Krama, Unggah-Ungguh, dan Sopan Santun-pun juga di benci oleh berbagai pihak

smilies_fbeg2zbaufk9Tanpa bermaksud SARA, saya akan mencontohkan sedikit saja artikel tentang orang/pihak yang membenci Jawa. Mereka membenci karena mungkin tidak tahu, karena terprovokasi atau karena apa, akan saya kutipkan di sini.


Di Papua: Bangsa Jawa Diminta Keluar dari Papua

Img source: memangbeda.net

Img source: memangbeda.net


Kelompok separatis Papua Barat merayakan Hari Raya Nasional kemerdekaan mereka. Para separatis menyerukan pengibaran bendera di berbagai negara dengan tagar #GlobalFlagRaising. Pengibaran tersebut ditujukan sebagai rasa solidaritas terhadap gerakan Papua.

“Hari ini menandai 54 tahun bendera Papua Barat dikibarkan (1 Desember 1961, tulis kelompok kampanye kemerdekaan Papua Barat“.

Mereka pun mengklaim telah meraih kemedekaan penuh selama sembilan tahun. Dalam laman Facebook Free West Papua Campaign, mereka menampilkan pengibaran bendera bintang kejora di berbagai negara termasuk di Austria dan Selandia Baru.

Pada salah satu gambar berisi tulisan sangat provokatif. Tulisan itu terpampang di bawah bendera bintang kejora.

“Papua Merdeka!!!! Rakyat Bangsa Jawa Indonesia Pergi Luar Dari Papua Barat Karena Papua Barat Bukan Dimiliki Kalian! Pulanglah ke Jawa.“

(Padahal orang Papua yang ada di Jawa manapun selalu diperlakukan dengan baik, bahkan di hormati)


Di Aceh: Saya ini lahir dan besar di Aceh. Tapi, mengapa saya dimusuhi?

Mereka lahir di Aceh, tapi mahir berbahasa Jawa. Mereka sudah tak bisa lagi melacak keluarganya di tanah Jawa, namun tak lancar berbahasa Aceh. Itulah potret kehidupan masyarakat Kampung Jawa yang melingkupi empat desa di Kecamatan Seruay, Aceh Tamiang.

Api perang membuat kampung mereka membara. Mereka yang beberapa hari ini mengungsi itu termasuk salah satu target kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka. Di mata gerakan yang ingin memisahkan diri dari Indonesia itu, para penduduk Kampung Jawa sering diidentikan dengan sebutan “Jawa Indonesia”.


  • Kehadiran mereka sering dianggap sebagai duri dalam daging.

Sekitar 1.200 orang yang menghuni Kampung Jawa itu kini mendiami barak pengungsian di lapangan Masjid Desa Tangsi Lama, Seruay, Aceh Tamiang. Mereka terpaksa meninggalkan rumahnya karena takut diserang GAM. Para pengungsi itu begitu trauma karena selama ini GAM selalu mengusik mereka.

Suasana Jawa begitu terasa saat memasuki kompleks pengungsian mereka yang terletak sekitar 450 kilmeter dari Banda Aceh dan hanya 50 kilometer dari perbatasan dengan Sumatera Utara. Wartawan koran ini merasakan kultur Jawa mereka masih melekat walaupun sudah turun-temurun di Tanah Rencong.

Seorang bocah berusia enam tahun berlari kecil ketika rombongan mobil yang ditumpangi wartawan koran ini memasuki kawasan pengungsian itu. Matanya awas menatap arah kami.

“Wah, montore teka (Wah, mobilnya datang), teriak bocah kelas 1 SD itu diikuti gegap gempita rekan-rekannya saat menyambut kami“.

Praktis, kami yang ada di dalam mobil pun terkejut mengingat di tengah desa dalam pedalaman kebun kelapa sawit ada seorang anak kecil yang bercakap dengan bahasa Jawa.

“Mereka sudah lama di sini. Yakni semenjak awal kemerdekaan dulu. Mereka didatangkan dari Jawa untuk perkebunan kelapa sawit dan kemudian beranak-pinak, kata Syamsudin, salah satu warga Aceh yang kebetulan tinggal di Kampung Jawa“.

Mereka rata-rata generasi kedua dan ketiga. “Iya, Pak. Kami memang orang Jawa, tapi lahir dan besar di Aceh, ungkap Supini, ibu lima orang anak yang sudah tak mengetahui jejak leluhurnya ketika ditanya asal asulnya Jawa“.

“Saya tak tahu lagi di mana. Yang saya tahu, hanya di Jawa Tengah gitu lho, sambung wanita 40 tahun tersebut.“

Diterangkan Syaifudin, sekretaris camat Seruay, sekitar 80 persen warga Kampung Jawa berasal dari etnis Jawa. Sisanya adalah keturunan Melayu, Batak, dan Aceh. Mereka tersebar di Desa Kuala Pusong Kapal (365 jiwa), Desa Sungai Kruk II (340 jiwa), Desa Paya Udang (341 jiwa), dan Desa Kampung Baro (209 jiwa). “Totalnya sekitar 1.200 jiwa,”tambahnya“.

Rakyat Aceh pada umumnya sangat menerima kehadiran mereka. Warga Kampung Jawa dianggap menjadi bagian dari masyarakat Serambi Makkah itu. Mereka hanya diusik oleh orang-orang yang bergabung dalam kelompok GAM.

Dalam lima tahun terakhir ini, Kampung Jawa sering mendapat teror dari GAM. Puncaknya, sejak status Aceh meningkat menjadi darurat militer, intimidasi dari kelompok separatis itu semakin meningkat. GAM melakukan aksi pembakaran beberapa rumah. Sekitar 26 rumah ikut tersambar api yang disulut GAM. Mau tak mau, mereka yang merasa diteror dan terintimidasi memilih mengungsi. Menurut Runta, 47, ibu dengan lima anak, beberapa tetangganya juga diculik GAM.

“Tetangga saya bernama Qodri sempat diculik oleh mereka (GAM, Red), cerita warga Kampung Jawa itu dengan mimik sedih“.


  • Mengapa GAM membakar rumah mereka?

“Saya tak tahu. Tapi, setiap pecah konflik besar, orang seperti kami ini menjadi sasaran hanya gara-gara kami berbahasa Jawa. Padahal, saya ini lahir dan besar di Aceh, namun lingkungan kami memang Jawa semua.


  • Tapi, mengapa kami dimusuhi?

“Garis leluhur mereka yang telah membawanya mengungsi di dalam kemah-kemah yang terbuat dari terpal. Mereka hanya tidur beralas tikar plastik. Bila mentari beranjak tinggi, cahayanya membuat siapa pun yang berada di balik terpal itu akan kepanasan, sepanas situasi perang itu sendiri. Siang hari, banyak yang memilih bernaung di bawah rindang sejumlah pohon yang terdapat di sekitar lokasi pengungsian.

Untung, mereka cukup mendapat bantuan makanan. Pemda setempat masih mampu menyuplai mereka makan tiga kali sehari. “Tapi, kami tetap sedih. Sampai kapan nasib ini berakhir? ungkap Ahmad, pengungsi yang lain“.

Mereka begitu berharap gerakan separatis Aceh menghentikan langkah-langkahnya. Seperti diungkapkan oleh Runta. Dia tak ingin masa-masa penuh teror dalam kehidupannya terulang“.

Kami ingin hidup damai. Kami ini orang Aceh. Kalau perang ini selesai, kami tak ingin lagi ada orang-orang yang memusuhi kami, ujarnya, penuh harapan.

“Kami ini orang Indonesia bersaudara dengan yang lain, katanya, yang tanpa sadar air matanya meleleh“. Yang jelas, Runta dkk tak pernah memilih lahir di daerah konflik.

(Padahal orang Aceh yang ada di Jawa manapun selalu diperlakukan dengan baik, bahkan di hormati)


Komunitas Anti Jawa

Berhati-hatilah wahai saudaraku. Sampai saat ini banyak sekali komunitas yang ingin menjegal suku Jawa di Indonesia. Seperti Islam yang di cap teroris, begitupun Jawa juga dianggap sama. Masyarakat luar Jawa di bujuk untuk ikut mendukung gerakan ini melalui media sosial. Berikut saya tampilkan beberapa diantaranya:


  • Facebook Page “ANTI SUKU JAWA”

image

Di forum tersebut di tuliskan:

  1. Menghentikan segala aksi jawanisasi.
  2. Menuntut pada pemerintah RI (Jawa) menghentikan eksploitasi sumber daya alam demi kepentingan pembangunan di Jawa.
  3. Meminta kemerdekaan, minimal dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)
  4. Menuntut pada pemerintah.

Forum tersebut juga merinci:

KRONOLOGI PEMBANTAIAN JAWA TERHADAP ETNIS LAIN:

1. Peristiwa pembantaian terhadap lebih dari 500 orang (Sultan-sultan Melayu dan ahli warisnya di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan) oleh TNI dalam
  dekade Desember 1945-1947, yang Sukarno sebut sebagai Revolusi sosial;

2. Pembantaian terhadap 20,000 bangsa Sunda oleh TNI semasa meletusnya Darul Islam antara 1950-1958;

3. Pembantaian terhadap 30,000 bangsa Acheh oleh TNI semasa meletusnya Darul Islam antara 1953-1961;

4. Pembantaian terhadap 30,000 bangsa Minangkabau, Riau dan Jambi oleh TNI semasa meletusnya PRRI antara 1957-1959;

5. Pembantaian terhadap 5,000 bangsa Melayu di Kalimantan oleh TNI semasa meletusnya Permesta PRRI tahun 1957-1958 oleh TNI;

6. Pembantaian terhadap 6,000 bangsa Papua oleh TNI sejak tahun 1962-63;

7. Pembantaian terhadap 1000,000 (1 juta) manusia dalam peristiwa G-30S/PKI tahun 1965 oleh TNI. Sebelumnya telah terjadi pembantaian terhadap 7000
  orang Jawa dalam peristiwa PKI di Madiun, tahun 1948.

8. Pembantaian terhadap lebih dari 6,000 bangsa Papua oleh TNI sejak tahun 1969-sekarang;

9. Pembantaian terhadap lebih dari 450,000 (1/4% dari bangsa Timor Timur)oleh TNI antara tahun 1975-1998;

10. Pembantaian terhadap 20,000 bangsa Acheh antara tahun 1976-sekarang;

11. Pembantaian terhadap 900 jama'ah Masjid At-Taqwa Tanjung Priok oleh TNI tahun 1994;

12. Pembantaian terhadap 1,500 penduduk Talang sari, Palembang Sumatera, oleh TNI tahun 1995;

13. Pembantaian terhadap 39 penduduk Bima oleh TNI tahun 1994;

14. Pembantaian terhadap 1,600 penduduk bekas tahanan PKI Pulau Buru di Kedung Gemboh oleh TNI tahun 1994;

15. Pembantaian terhadap 700 penyokong PDI kubu Megawati di jln. Diponegoro, Jakarta oleh TNI pada 27 Maret 1997;

16. Pembantaian terhadap 1,300 bangsa Dayak di Kalimantan Barat dan Utara oleh TNI tahun 1998;

17. Pembantaian terhadap 200 orang penyokong PPP dan PDI di Kalimantan oleh TNI antara April-Mei tahun 1998;

18. Pembantaian terhadap 300 orang penyokong PPP dan PDI di Tasik Malaya oleh TNI yang menuntut reformasi, April tahun 1997;

19. Pembantaian terhadap 150 orang penyokong PPP dan PDI di Situbondo oleh TNI yang menuntut reformasi, April tahun 1997;

20. Pembantaian terhadap 100 orang penyokong PPP dan PDI di Sampang, Madura oleh TNI yang menuntut reformasi, April tahun 1997;

21. Pembantaian terhadap 1,500 orang pro reformasi di Jakarta oleh TNI yang menuntut reformasi, tahun 1998;

22. Pembantaian terhadap 3,000 bangsa Maluku oleh TNI yang menuntut merdeka awal tahun 2000


  • Facebook Page “STOP Transmigrasi, Usir Pendatang Haram Jawa di Kalimantan dan Sumatera”

Screenshot_2016-06-04-13-48-08_1_1

Screenshot_2016-06-04-13-53-02_1Screenshot_2016-06-04-13-54-40_1


  • Blog Malaysia: kamiantiindon.blogspot.co.id

image

Salah satu artikel dari blog malaysia yang membenci Jawa adalah sbb:

HIDUP MELAYU MINDANAO!! HIDUP MELAYU SUMATERA!! HIDUP MELAYU KALIMANTAN!! HIDUP MELAYU!!

Ingat Kata-kata Hang Tuah! Tak akan hilang Melayu di muka bumi ini! Sekarang, bangsa Melayu telah berpecah kepada banyak kawasan di Nusantara ini. Bangsa Melayu berada di Tanah Melayu (Malaysia), Brunei, Singapura, Sumatera Indonesia, Mindanao Filipina, Selatan Thai dan lain-lain. Bangsa Melayu merupakan orang yang mengamalkan adat dan budaya melayu.

Tanah Melayu atau MALAYSIA sekarang adalah tempat majoriti orang Melayu sehinggakan kwasan semenanjung itu disebut tanah Melayu kerana kebanyakan orang Melayu tinggal disana. oleh yang demikian, tempat-tempat lain diNusantara ini bukannya tanah melayu, mereka mempunyai nama trsendiri seperti sumatera, mindanao dan lain lain lagi.

“Malay” adalah istilah atau gelaran yang diberikan kepada orang Melayu oleh penjajah dahulu. Malay bermaksud Melayu. Tetapi sekrang, Malay khusus dilabel kepada orang Melayu Malaysia. Secara dasarnya, Malay adalah gelaran kepada semua orang MELAYU, yang tidak secara khusus, yang berada di Malaysia.

Orang Melayu Sumatera lebih banyak dari orang melayu yang berada di Malaysia.

“Bagi aku, aku anti INDON adalah aku anti JAWA!“

Malaysian banyak menujukan perkataan INDON bukan untuk orang Melayu Indonesia. Ia jolokan kepada Jawa. Jadi, INDON=JAWA.

Melayu tetap Melayu! masa dan waktu boleh berubah, tetapi BANGSA tetap, ia tidak boleh diubah, dan terubah!

Sumatera merupakan penduduk MELAYU terbesar di Indonesia, hentikanlah aktiviti menghina MELAYU MALAYSIA! Kita sama-sama sebangsa. Adakah anda menghina bangsa anda sendiri?

Kesimpulan dari blog diatas adalah ternyata yang disebut Indon oleh malaysia adalah Jawa, bukan Indonesia seutuhnya.


Sebelum kalian benar-benar membenci orang-orang Jawa, silakan baca ini:

image

  1. Suku Jawa itu tidak punya organisasi suku, tidak ada kepala suku dan hidupnya individual bukan berkelompok. Jawa sebenarnya adalah etnis (ethnic) bukan suku (tribe). Karena jumlahnya banyak dan relatif terpecah tidak bersatu atau heterogen. Beberapa suku lain punya organisasi suku, ada kepala suku dan hidupnya berkelompok. Suku Jawa sangat kecil solidaritas antar sesamanya berbeda dengan suku lain yang solidaritas antar sesama sukunya besar sekali. Buktinya bentrokan antar suku di Indonesia didominasi bentrokan suku non Jawa. Contohnya seperti suku Kalimantan (Dayak), suku Madura, suku Bugis, suku Melayu, suku Lampung, suku Tionghoa, suku Batak, suku Minang, suku Betawi, suku Bali, suku NTT, suku Maluku, suku Papua dll (saya tidak bermaksud SARA, tapi itulah berita yang sering muncul di media masa). Debat di internet juga lebih ramai antar suku non Jawa karena mereka masih punya ikatan suku yang kuat, berbeda dengan suku Jawa yang terpecah antar kota/kabupaten. Suku Jawa lebih suka menyebut dirinya dari kota/kabupaten mereka berasal. Pengelompokkan suku Jawa berdasarkan kota/kabupaten mereka berasal. Seperti orang Tegal, orang Surabaya, orang Solo, orang Malang, orang Semarang, orang Jogja dll.
  2. Dominasi suku Jawa di pekerjaan tertentu yaitu PNS pusat dan PNS pemda Jateng-DIY-Jatim adalah karena mereka secara individual melamar sendiri bukan dikerahkan organisasi suku, dan tes penerimaannya memakai sistem komputer yang tidak melihat sukunya dan mereka diterima memang murni melalui tes. Kalau dulu PNS pusat dan TNI-Polri didominasi orang Jawa karena saat itu yang mau melamar hanya orang Jawa karena gajinya kecil. Sekarang gaji PNS pusat dan TNI-Polri sudah dinaikkan sehingga orang-orang non Jawa berbondong bondong melamar PNS pusat dan TNI-Polri. Demikian pula pegawai BUMN didominasi orang Jawa karena melamar dengan sistem komputer tanpa kaitan dengan suku.
  3. Masalah diskriminasi, di banding suku non Jawa, justru orang Jawa terdiskriminasi, mereka sangat jarang diterima di PNS pemda luar Pulau Jawa dan perusahaan swasta. Karena suku non Jawa punya organisasi kesukuan sehingga kesadaran suku mereka sangat tinggi. Di perusahaan swasta yang direkrut mayoritas berdasarkan suku pemilik perusahaan. Kalau pemiliknya orang Tionghoa yang direkrut pegawai biasanya orang Tionghoa. Kalau pemiliknya orang Sumatera yang direkrut pegawai biasanya orang Sumatera. Demikian pula PNS pemda yang mendominasi adalah suku yang banyak di tempat itu. Misalkan PNS pemda Kalimantan dan pemda Indonesia Timur didominasi penduduk setempat seperti Dayak, Banjar, Bugis, Minahasa, Mandar, Maluku, Bali, NTT, Papua.
  4. Yang menarik di PNS pemda Sumatera dan PNS pemda Jakarta malah didominasi orang Sumatera dan orang Sunda-Betawi. Padahal orang Jawa terbanyak di Jakarta dan Sumatera. Ingin tahu jumlahnya? Jumlah orang Jawa di Jakarta mencapai 35% lebih banyak dari Betawi 27%, Sunda 15%, Minang-Melayu 5%, Tionghoa 5%, Batak 4%, Madura 3%, Indonesia Timur 6%. Tapi PNS pemda Jakarta didominasi orang Sumatera, Sunda dan Betawi. Jumlah orang Jawa di Sumatera mencapai 30% lebih besar daripada orang Melayu 15%, Batak 15%, Minang 14%, Aceh 10%, Tionghoa 5%, Lampung 2%, Sunda 2%, Bali 1%, lainnya 6%. Jumlah orang Jawa di Sumatera yang banyak terutama di Sumut (33%), Riau (25%) dan Lampung (60%). Tapi anehnya PNS pemda Sumatera didominasi suku asli Sumatera yaitu Minang, Melayu, Batak, Aceh dan Lampung.
  5. DPRD Jakarta dan DPRD Sumatera juga didominasi orang Sumatera. Karena parpol lebih suka ajukan orang Sumatera yang punya organisasi kesukuan. Orang Sumatera di Jakarta dan Sumatera pasti lebih pilih caleg DPRD dari suku mereka sendiri. Sementara orang Jawa justru lebih netral dan belum tentu pilih orang Jawa. DPRD Jateng-DIY-Jatim didominasi suku Jawa karena memang itu wilayah orang Jawa. Di DPR RI yang mendominasi malah suku non Jawa. Karena kursi DPR RI di daerah pemilihan Jawa butuh lebih banyak suara daripada kursi DPR RI di daerah pemilihan luar Jawa. Bahkan banyak orang luar Jawa yang dicalonkan DPR RI di daerah pemilihan Jawa. Mereka bisa menang karena orang Jawa tak tahu bedanya suku Jawa dan luar Jawa. Seperti Angelina Sondakh (Manado), Juliari Batubara (Batak), Ramson Siagian (Batak), Idham Samawi (Minang) mereka sukses menang di DPR RI dari Jawa.
  6. Orang non Jawa juga menyoroti perguruan tinggi terbaik Indonesia yang didominasi orang Jawa. Tapi tunggu dulu. Memang betul menurut Webometrics dari 17 perguruan tinggi terbaik Indonesia ternyata 10 diantaranya didominasi orang Jawa. Ini karena orang Jawa sangat peduli perguruan tingginya. Mereka fanatik alumni perguruan tinggi. Orang Jawa alumnus UI lebih memilih orang Sumatera/Sunda/Kalimantan alumnus UI daripada sesama orang Jawa tetapi alumnus UGM. Itu sebabnya perguruan tinggi mayoritas orang Jawa memang dominan. Orang Jawa juga sangat menyukai teknologi dan sains itu sebabnya orang Jawa mendominasi ilmuwan Indonesia peraih paten.
  7. Orang luar Jawa juga memprotes ketimpangan ekonomi antar Jawa dan non Jawa. Mereka berargumen karena kekayaan alam luar Jawa disedot ke Jawa. Tapi sebenarnya justru Jawa lah yang mensubsidi luar Jawa. Hanya Riau, Kaltim dan Papua yang berlimpah sumber daya alam. Jawa juga punya migas Cepu yang terbesar di Indonesia. Jawa masih punya pertanian yang hasilnya terbesar di Indonesia dan pajak penghasilan Jawa terbesar di Indonesia dari manufakfur non migas. Jangan lupa cukai rokok Jawa itu terbesar di Indonesia cuma dikembalikan 2% oleh pemerintah. Sisanya untuk luar Jawa. Namun memang ketimpangan ekonomi Jawa dan non Jawa harus segera diatasi pemerintah. Kalau masalah lain seperti budaya Jawa yang mendominasi seperti Batik, Keris, Wayang, Gamelan, Kebaya, Candi, Sastra Jawa dll itu cuma masalah asimilasi dan akulturasi. Tapi memang kurang tepat bila budaya itu dipaksakan ke luar Jawa. Kerajaan Jawa dan pahlawan Jawa lebih banyak dibahas di buku sejarah karena mereka paling sering bersentuhan dengan orang asing. Misalkan Mataram dengan Belanda, Demak dengan Portugis, Singasari dan Majapahit dengan China, RA Kartini  dan Pangeran Diponegoro dengan Belanda dll. Tidak ada hubungan dengan suku mereka berasal. Karena mereka sendiri dikhianati oleh orang Jawa yang pro asing. Masakan Jawa seperti gudeg, opor ayam, warteg, tongseng, bakso, rawon, sate ayam dan kambing, nasi goreng, soto ayam, rames, asem daging, nasi tumpeng, martabak, mendoan, tahu petis, tempe, nasi kucing dll memang sangat jarang terdapat di luar Jawa (Sumatera, Kalimantan dan Indonesia Timur) dan isunya diboikot separatis tertentu. Tapi masakan itu tidak dipaksakan sebagai masakan semua orang.
  8. Jika kalian masih bersikeras dengan pendapat kalian yang membenci suku Jawa, silakan anda mengunjungi atau bahkan tinggal di Jawa. Saya contohkan di daerah saya, di Solo. Di pusat kota solo, di komplek THR (Taman Hiburan Rakyat) di Sriwedari sebelah timur, di sana banyak orang Bali. Mereka sudah lama menetap di Jawa dan mereka membaur dengan indahnya bersama warga Solo. Masih di Solo, di sekitar areal Pasar Gede, di sana di dominasi etnik Tionghoa dan merekapun membaur dengan warga Solo. Di daerah Pasar Kliwon, di sana di dominasi warga keturunan Arab juga sudah sejak lama dan tak bisa di deteksi kapan pertama kali mereka berada di Solo. Merekapun membaur dengan penduduk Solo. Di Solo dipenuhi restoran Padang. Orang² Padang pun membaur dengan damai dengan penduduk Solo. Bahkan teman saya sendiri yang lahir.di Poso (Sulawesi Tengah), tinggal di Tolai, sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, dia menghabiskan masa kecil hingga remaja di Tolai, dia sekolah di Solo, dia teman sebangku saya waktu SMK, teman kuliah saya satu kampus, dan bahkan dia teman saya satu pekerjaan. Selama 12 tahun saya berteman dengan dia. Dia menangis saat dia memutuskan kembali ke daerah asalnya untuk bekerja di sana. Dia menangia karena dia merasa di Solo benar² membuat dia nyaman. Karena orang Jawa memang menganggap suku lain yang berada di Jawa sebagai tamu agung bagi mereka.

Kembali ke:

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10


Referensi

Lihat Pula

Iklan

10 responses »

  1. […] Jawa [Part 11] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s