Lanjutan dari: Jawa (part 6)


Orang Jawa di Kaledonia Baru

Keturunan Indonesia di Kaledonia Baru saat ini hidup sejahtera dan banyak yang berkarir di berbagai sektor

Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia – Kaledonia Baru (PMIK), Thierry Timan menyatakan, “Sebagai orang tua, kami merasa bertanggung jawab untuk mewariskan budaya dan tradisi Indonesia kepada generasi muda, seperti yang pernah diajarkan oleh kakek dan nenek kami. Meskipun demikian, kami akan tetap saling menghormati budaya setempat, dengan memegang prinsip ‘Berbagi dan Membaur’.”

Konjen RI Noumea, Widyarka Ryananta menggarisbawahi bahwa meskipun komunitas Indonesia telah berkewarganegaraan Prancis, tidak berarti cinta kepada negara asal menjadi berkurang. “Selama Indonesia terus berada di hati, darah dan pikiran, masyarakat keturunan di New Caledonia ini akan terus menjadi bagian dari keluarga Indonesia,” ucap Konjen Widyarka.

Keturunan Indonesia di Kaledonia Baru saat ini hidup sejahtera dan banyak yang berkarir di berbagai sektor.

image

Sementara itu, dalam upacara peringatan di Paita, Walikota Paita, Harold Martin memuji komunitas Indonesia yang berkontribusi dalam pembangunan Paita dari dahulu hingga sekarang. “Saya harapkan hubungan antara Paita dengan Indonesia, tidak hanya berkembang di kalangan masyarakat saja, tetapi dapat diperluas dengan hubungan antar pemerintah,” ucap Harold Martin.

image

Ditemui saat resepsi perayaan 120 tahun kedatangan orang Jawa di Wisma Indonesia pada malam harinya, Aurelie Siban, generasi ke-tiga diaspora Indonesia yang masih kuliah jurusan Teknik di Sydney, menyatakan terima kasih kepada Pemerintah New Caledonia yang terus mendukung masyarakat keturunan Indonesia untuk tetap melestarikan tradisi leluhurnya.

Rangkaian kegiatan peringatan 120 tahun ini akan dilanjutkan dengan acara Jamuan Sesepuh sebagai bentuk penghormatan kepada para orang tua di Gedung Budaya Ko We Kara, Noumea pada tanggal 21 Februari 2016. Diperkirakan lebih dari 700 masyarakat keturunan Indonesia dari seluruh penjuru New Caledonia hadir dalam acara tersebut.

Kemudian acara peringatan serupa akan diselenggarakan di Gedung Balai Budaya La Foa, berjarak 100 km sebelah utara ibukota Noumea.

Sejarah keberadaan bangsa Indonesia di wilayah Prancis yang berada di Pasifik Selatan ini, diawali dengan penetapan peraturan “Koeli Ordonantie” tahun 1880, yang salah satunya menjamin ketersediaan tenaga kerja untuk perkebunan Belanda di wilayah jajahannya.

Prancis, yang menduduki New Caledonia, kemudian meminta tenaga kerja dari Pulau Jawa, untuk dipekerjakan di perkebunan kopi dan pertambangan nikel New Caledonia. Tepat tanggal 16 Februari 1896, sekitar 170 orang pekerja asal Jawa tiba di Teluk Orphelinat, Noumea, New Caledonia. Tanggal tersebut menjadi peristiwa penting yang diperingati sebagai hari kedatangan pertama kali leluhur dari Jawa ke New Caledonia.

Pada tahun 1996 saat merayakan peringatan ke 100 tahun, diaspora Indonesia membangun tugu peringatan di lokasi yang dipercaya menjadi tempat berlabuhnya orang Jawa di New Caledonia.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pekerja asal Indonesia semakin bertambah hingga mencapai sekitar 19,500 orang. Namun demikian sejak Indonesia merdeka tahun 1945, banyak dari para pekerja Indonesia kembali ke tanah air. Para pekerja Indonesia yang masih menetap di New Caledonia kemudian terus berkembang dan berjuang untuk meraih kehidupan yang lebih layak, sebagaimana yang telah dinikmati oleh generasi keturunannya.

Menurut data dari Badan Statistik New Caledonia – ISEE, terdapat sekitar 7.000 orang keturunan Indonesia berkewarganegaraan Prancis, meskipun yang masih mengaku sebagai keturunan Indonesia hanya sekitar 3,851 orang. Sementara sisanya mengaku sebagai orang Kaledonia.
Kehadiran ratusan masyarakat dan diaspora Indonesia dari berbagai kota di Tugu Peringatan Kedatangan Orang Jawa, Valon du Gaz, Noumea, menambah khidmatnya acara perdana peletakan karangan bunga peringatan 120 tahun kedatangan orang Indonesia di New Caledonia (16/2).

Keturunan Indonesia di Kaledonia Baru saat ini hidup sejahtera dan banyak yang berkarir di berbagai sektor mulai dari pemerintahan, militer, hingga swasta. Keturunan Indonesia yang menjabat posisi penting di antaranya Rusmaeni Sanmohamat (Anggota Kongres Kaledonia

Baru dari Partai Les Republicains – partai loyalis Prancis), Yannick Slamet (Wakil Gubernur Provinsi Utara dari Partai PALIKA – partai pro-kemerdekaan), Corine Voisin (Walikota La Foa dari Partai CE- Caledonie Ensemble – partai loyalis Prancis) dan Walikota Bourail, Brigitte El Arbi.[15]

Jawa dan Kaledonia Baru. Seakan tidak ada satu benang merah pun yang menghubungkan keduanya. Jawa bisa diartikan sebagai salah satu suku bangsa yang mendiami Indonesia, sebuah negara dengan luas wilayah yang cukup besar di Asia Tenggara. Sedang Kaledonia Baru, adalah negeri kepulauan yang secara wilayah bisa dibilang kecil, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia. Kaledonia Baru sendiri terletak di lautan Pasifik, tepatnya di seberang barat  Benua Australia.

Walau terpisah cukup jauh, tapi ternyata ada semacam kedekatan yang tidak terbantahkan antara Indonesia dan Kaledonia Baru. Suatu kedekatan yang dihubungkan oleh selembar benang merah yang mungkin belum banyak diketahui orang. Benang merah tersebut adalah: orang Jawa.

Ternyata di negeri yang sampai saat ini masih berada dalam kolonialisasi Perancis tersebut, terdapat banyak orang Jawa atau keturunan Jawa di sana. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 7000 orang Jawa atau keturunan Jawa di sana. 2000 diantaranya bahkan memilih untuk berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Walau lebih dari setengah populasi Jawa tersebut yang memilih berpaspor Kaledonia Baru (Perancis), tapi mereka semua tetap berusaha untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhur mereka.

Surga di Samudra Pasifik.

Seperti apa sebenarnya negeri bernama Kaledonia Baru tersebut? Seperti sudah disebutkan, Kaledonia Baru adalah sebuah gugusan kepulauan yang terletak di Selatan Samudra Pasifik, tepatnya berada di sebelah timur Benua Australia. Bersama dengan Fiji, Vanuatu dan negera-negara Pasifik Selatan lainnya, Kaledonia Baru masuk dalam wilayah sub-benua Melanesia.

Secara politis dan administratif pemerintahan, Kaledonia Baru masih berada dalam wilayah kekuasaan Republik Perancis. Status Kaledonia Baru pun sering berganti-ganti. Pada tahun 1853, negeri ini dianeksasi oleh Napeleon menjadi daerah jajahan Perancis. Kemudian pada tahun 1946, statusnya berubah sebagai wilayah seberang lautan Republik Perancis dengan ibukota bernama Noumea. Tetapi itu hanya bertahan tidak lama, karena pada 1999, statusnya kembali berubah. Kali ini Kaledonia Baru  menjadi wilayah jajahan Republik Perancis dengan status khusus (Sui Generisis)  pada tahun  1999. Ini memungkinkan Kaledonia Baru memiliki hak otonomi yang lebih besar dari sebelumnya.

Kaledonia Baru memiliki banyak tempat wisata yang indah dan menarik. Pantai-pantainya masih bersih dan terawat. Hutan-hutannya juga masih hijau dan asri. Di sana juga beberapa kali digelar event-event internasional, terutama yang berkaitan dengan olahraga air, seperti renang, ski air dan menyelam.  Hotel dan restoran juga cukup banyak, menjamur di hampir setiap tempat. Salah satu pemasukan negeri itu memang berasal dari bidang pariwisata, selain dari pertambangan dan subsidi pemerintah Perancis.

Wilayah Kaledonia Baru memiliki penduduk asli, yakni bangsa Melanesia yang berkulit hitam yang biasa disebut Kanaki. Oleh sebab itu, tak jarang Kaledonia Baru juga disebut sebagai Kanaki, merujuk pada nama suku pribuminya. Selain dihuni oleh suku Kanaki, Kaledonia Baru ternyata juga adalah negeri multiras, yaitu negeri yang dihuni oleh berbagai ras. Ada ras kulit putih Eropa, Cina, India, Tamil, Jepang, dan Jawa.

Pekerja yang ulet dan tangguh

Bagaimana bisa orang-orang Jawa tersebut tiba dan berkembang menjadi sebuah populasi yang cukup besar di Kaledonia Baru? Ternyata jika dirunut, sejarah kedatangan orang-orang Jawa ke wilayah jajahan Perancis tersebut sangatlah panjang.

Berawal dari dianeksasisnya (dikuasainya) kepulauan Kaledonia Baru oleh Perancis, maka wilayah itu difungsikan sebagai tempat pembuangan bagi para narapidana dan pemberontak dari Perancis. Kebanyakan, para pemberontak itu dipekerjakan di bidang pertanian dan perkebunan. Tetapi kemudian, sejak tahun 1894, Gubernur Perancis untuk Kaledonia Baru, Paulus Feillet membuat kebijakan baru. Ia menggantikan para narapidana dengan kaum pekerja imigran yang kemudian diikat dalam sebuah kontrak kerja.

Kebanyakan dari pekerja tersebut berasal dari Asia, termasuk Jawa (Indonesia). Selain bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, ternyata mereka juga bekerja di sektor pertambangan (nikel dan krom). Kedatangan orang-orang Jawa pertama ke negeri itu terjadi pada 16 Februari 1896. Saat itu, ada 170 orang pekerja yang tiba ke Kaledonia Baru menggunakan kapal.  Tanggal itulah yang hingga kini dirayakan dan dihormati oleh komunitas Jawa sebagai hari peringatan kedatangan nenek moyang mereka di negeri Pasifik tersebut. Ada yang merayakannya dengan berkumpul bersama tetangga lalu menyelenggarakan berbagai pertunjukkan kesenian seperti ludruk dan wayang, ataupun  hanya sekedar makan bersama. Ada pula penduduk yang ‘nyekar’ ke tugu Centainer Du Gaz, di kota Noume. Tugu itu dibangun di lokasi pendaratan nenek moyang orang Jawa di Kaledonia Baru, ratusan tahun yang lalu.

Ketika terjadi demam Nikel dan Krom, maka jumlah pekerja asal Jawa yang pergi ke Kaledonia Baru pun bertambah banyak. Mereka selain bekerja di sektor pertambangan, juga ada yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga-keluarga Perancis maupun Belanda yang ada di sana. Gelombang kedatangan orang-orang Jawa tersebut berlangsung antara tahun 1896 hingga 1930. Ketika masa kontrak mereka habis, sebagian besar pekerja tersebut memilih kembali ke tanah Jawa.

Orang-orang Jawa yang datang ke Kaledonia Baru pada gelombang pertama (antara tahun 1896-1900) biasa disebut sebagai golongan Nouli. Merekalah yang dianggap sebagai pionir dan panutan bagi generasi-generasi sesudahnya. Semangat dan kerja keras mereka mampu meraih simpati dari kelompok masyarakat lain di Kaledonia Baru.

Tetapi kemudian terjadi gelombang kedatangan orang-orang Jawa yang kedua, yakni di tahun 1948 hingga pertengahan tahun 1995. Kebanyakan dari mereka kembali lagi ke tanah air karena mendengar Belanda sudah kalah dan Indonesia sudah merdeka. Walau begitu, ada pula yang lebih memilih untuk menetap di Kaledonia Baru.

Setelah tahun 1995, tidak ada lagi gelombang kedatangan orang-orang Jawa ke Kaledonia Baru. meskipun ada, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang dibawa oleh orang Jawa-Kaledonia Baru untuk menetap di sana. Golongan ini kemudian disebut sebagai golongan ‘Jawa Jukukkan’. Kata Jukukkan sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘diambil’.

Oleh masyarakat di Kaledonia Baru, orang Indonesia cukup dihormati. Ini tak lain karena keramahan dari orang-orang Jawa. Selain terkenal ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, orang-orang Jawa  di sana juga terkenal ulet dan pekerja keras.

Keramahan dari orang-orang Jawa tersebut juga  membuat mereka terhindar dari sentimen rasis yang biasa ditujukan penduduk asli (orang Kaniki) terhadap warga keturunan non-pribumi. Di Kaledonia Baru sendiri beberapa kali memang terjadi kerusuhan sipil yang dimotori oleh tokoh-tokoh masyarakat Kaniki. Mereka selalu berjuang untuk melepaskan diri dari kekuasaan Perancis dan berdiri sendiri sebagai sebuah negara merdeka.

Selain karena ramah, orang Jawa juga cukup disegani sebagai pekerja keras yang tangguh dan rajin. Semboyan yang selalu dipegang hingga hari ini adalah: ‘jika kamu mau mendapat lebih, maka kamu harus bekerja lebih’. Semboyan itu pula yang terus dipegang dan diamalkan oleh warga hingga hari ini. Maka tak heran kini, banyak dokter, sarjana, pengusaha dan bahkan tokoh politik dan pemerintahan yang berasal dari keturunan orang Jawa-Kaledonia Baru. Mereka antara lain:

  • 1.    Roesmani Sanmuhammad, anggota parlemen di Kaledonia Baru.
  • 2.   J Waspan, wakil walikota Nouemea.
  • 3.   Corine Voisin, walikota La foa, sebuah kota di Provinsi Selatan
  • 4.  Emmanuelle Darman, Miss Kaledonia Baru 2005

Melestarikan Budaya

Ternyata, banyak keluarga Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini juga adalah upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Sayangnya, kini sebagian generasi muda mereka mulai meninggalkan tradisi ini. Mereka bahkan lebih suka berbicara dalam bahasa Kreol Kaniki atau Prancis.

Selain bahasa, beberapa tradisi leluhur juga coba dilestarikan. Salah satunya adalah seni tari dan gamelan. Selain itu beberapa praktik budaya khas Jawa (Indonesia) yang juga masih dilakukan adalah sunatan dan silaturahmi ketika hari raya lebaran. Selain itu, kuliner khas Indonesia juga ternyata cukup diminati oleh warga Kaledonia Baru yang lain. Salah satunya adalah bakmi.

Bangga atau Malu?

Untuk terus melestarikan kebudayaan dan tradisi nenek moyang, maka dibentuklah sebuah organisasi yang memayungi warga Jawa, baik WNI ataupun yang berpaspor Kaledonia Baru (Perancis). Organisasi tersebut adalah PMIK atau singkatan dari Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru.

Bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di sana, PMIK kerap menyelenggarakan acara-acara budaya dan kesenian. Bahkan secara rutin dilaksanakan kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Terkadang ada kerinduan dari beberapa warga keturunan Indonesia di sana untuk menengok dan berziarah ke tanah air mereka di Indonesia.

Melihat fakta semacam ini, kita seharusnya berbangga. Ternyata walau telah meraih kesuksesan di negeri orang, mereka tidak melupakan budaya dan tradisi. Walau banyak yang sudah menjadi warga Kaledonia Baru (Perancis), tapi masih ada 2000 orang yang tetap memilih berpaspor Republik Indonesia. Setiap tanggal 16 Februari, mereka rayakan sebagai Hari Kedatangan.

Coba bandingkan semua itu dengan apa yang terjadi di sini, ketika warga bangsa yang terpisah lautan luas di sana tetap berusaha mempertahankan dan melestarikan budaya luhur nenek moyang, justru sebaliknya yang terjadi di tanah air sendiri. Budaya dan tradisi lambat laun menghilang dan hanya hidup dalam kenangan generasi masa lalu.

Lucunya, ketika budaya tersebut diklaim oleh negeri-negeri tetangga seperti yang heboh terjadi beberapa waktu lalu, secara emosional dan menggebu-gebu masyarakat marah, mengutuk bahkan mengajak perang. Padahal setelah sumpah serapah dan kemarahan tersebut menguap, kebudayaan yang diperebutkan itu tetap bernasib menyedihkan, berjuang terseok-seok melawan globalisasi dan budaya hedonis.

Mungkin, suatu saat nanti, orang Jawa di Indonesia harus menyebrangi lautan menuju  Kaledonia Baru, untuk belajar Gamelan dan Ludruk.[16]

Orang Jawa Sangat di Hormati di Negara Kaledonia Baru

Selain di Suriname, ribuan orang Jawa tercatat berada di Kaledonia Baru. Sebuah kepulauan di Samudera Pasifik bagian selatan. Mereka adalah keturunan para pekerja kasar yang didatangkan secara bergelombang sejak 1896. Satu keluarga dari sana, baru-baru ini mengunjungi kenalan lamanya di Semarang. Wartawan Suara merdeka, Yoseph Harry W dan Anton Sudibyo melaporkan.

Rumah Drs Soegito, dosen bahasa Prancis Unnes, di Jalan Raya Dewi Sartika 83 Sampangan Gajahmungkur, Semarang, baru-baru ini mendadak ramai. Puluhan bekas mahasiswanya yang kini telah mengajar di beberapa SMA di Semarang berkumpul. Tawa dan canda mewarnai pertemuan itu. Maklum telah sekian lama mereka tak bertemu.

Namun itu bukan reuni biasa. Mereka sedang menyambut tamu spesial dari negeri seberang. Pasti baru sedikit dari jutaan orang Indonesia yang pernah menginjakkan kakinya di sana.

Sekitar pukul 11.00, sebuah van putih melambat. Semua mata langsung terarah pada mobil yang parkir tepat di depan rumah itu. Soegito menyeruak ke depan. Wajahnya sumringah, kedua tanganya terbuka penuh gairah. ”Bonjour,” sapanya.

Sapaan akrab dalam bahasa Prancis itu dibalas serupa hampir berbarengan oleh beberapa orang yang baru saja turun dari van itu. Tak kalah cerah air muka mereka. Lalu, layaknya sebuah keluarga di hari raya, pertemuan itu diawali dengan acara salam-salaman berkeliling. Beberapa patah kata dalam Prancis dan tawa kecil mewarnainya.

Yang baru saja datang adalah sepasang suami istri, Andre Vaquijot dan Saminah Evelyne Vaquijot. Mereka baru saja menempuh perjalanan udara sembilan jam dari Nouvelle Caledonie atau Kaledonia Baru bersama putri keduanya Ivana, menantu Paul Siat dan empat cucunya, Helena Wahyuni (22), Lea Ayu (20), Sophie Samina (18), Marie Kadriati (16), dan Piere Agus (12).

Meski berasal dari negeri nan jauh di mata, keluarga Vaquijot ternyata memiliki ciri fisik tak berbeda dengan orang Jawa pada umumnya. Kulit sawo matang, rambut ikal, dan tubuhnya sebesar rata-rata orang Indonesia. Bahkan khusus Evelyne dan suaminya, cukup fasih bahasa Indonesia, terutama Jawa Ngoko. “Piye kabare apik-apik wae to,” kata Evelyne.

Kepada keluarga dan mantan mahasiswanya, Soegito kemudian mengenalkan bahwa tamunya itu merupakan keturunan asli Jawa yang tinggal di Kaledonia Baru sejak 1896. Kedatangan mereka ke Semarang, terutama di rumah Soegito, merupakan kali kedua setelah pada 2005 pernah berkunjung pula bersama 33 warga Kaledonia Baru keturunan Jawa lainnya.

Berkunjung ke Indonesia bagi mereka adalah sarana melawan lupa. Mereka merasa masih sebagai orang Jawa yang tak boleh lupa pada asal usulnya. Terkhusus kali ini, keluarga Vaquijot ingin memperkenalkan pada anak dan cucunya akan kampung halaman leluhurnya.

“Agar anak cucu selalu ingat bahwa kakek nenek mereka dulu adalah orang Jawa,” ujarnya.

Untuk menjawab keinginan keluarga Vaquijot, Soegito pun berupaya menggelar penyambutan yang maksimal. Bersama istrinya, Niken Rahayu, pensiunan dosen Undip, ia mengemas sebuah acara yang kental nuansa Jawa.

Siang itu, khusus dipersembahkan beberapa lagu-lagu Jawa yang dimainkan mahasiswa Soegito. Di antaranya tembang ”Suwe Ora Jamu” dan ”Cublak- cublak Suweng” dalam iringan gitar yang rancak. Betapa senang Evelyne sekeluarga mendapat sambutan begitu rupa. Tak segan-segan, keluarga itu ikut bergoyang menikmati alunan irama tradisional Jawa tersebut.

Apalagi ketika hidangan khas Jawa mulai tersaji. Tak membuang waktu, keluarga Evelyne pun menyikat habis berbagai menu yang terhidang. Di antaranya lunpia, getuk, sate, sop, dan gudeg. “Atiku tetep Jowo, ilatku yo tetep Jowo,” kata Evelyne sembari mengunyah lunpia yang digemarinya.

Masih Njawani

Evelyne bercerita bahwa ia masih terlihat njawani karena masyarakat Jawa di Kaledonia Baru berupaya tetap menjaga tradisi Jawa. Meski terlahir di Noumea, Kaledonia Baru 14 Desember 1938, Evelyne mendapat didikan keras dari orang tuanya untuk tetap memegang teguh kejawaan. Dia pun menurunkan ajaran itu kepada anak cucunya.

Setiap 16 Februari, masyarakat Jawa di sana memperingati hari pertama kedatangannya dengan nyekar di Tugu Centainer Valon-Du-Gaz, Noumea. Tugu tersebut merupakan tempat pertama kali orang Jawa menginjakkan kaki di Kaledonia Baru pada 1896.

Usai nyekar dilanjutkan dengan acara kumpul-kumpul di wisma khusus Jawa. Di situ digelar berbagai mata acara dari bazar makanan Jawa hingga pertunjukan seni budaya. “Kami masih menggunakan adat Jawa dalam merayakan kelahiran dan kematian seperti mitoni, nyelapan, matang puluh, dan nyewu,” ucap Evelyne.

Saat ini, menurut Evelyne, ada lebih 7.000 orang Jawa di Kaledonia. Sekitar 2.000 di antaranya masih tercatat sebagai warga negara Indonesia. Sementara, sisanya sudah beralih ke kewarganegaraan Prancis. Mereka tersebar di berbagai kota di Kaledonia Baru. Komunitas Jawa terbesar di kota Noumea.

Karena lama tinggal dan beranak pinak, akulturasi budaya pun tak terhindarkan. Terutama disebabkan perkawinan dengan bangsa-bangsa lain baik pribumi, Prancis, maupun bangsa Asia lain seperti China dan Jepang.

Hal yang paling kentara adalah soal nama. Evelyne menyebut, nama Vaquijot sebenarnya berasal dari nama Jawa, Wakidjo. Bagi pendengaran secara fonetik Prancis, nama Wakidjo terdengar “Vaquijot”. Contoh lain penyesuaian nama yakni Bou Di Mane (Budiman) atau Saricone (Sarikun). “Kami diterima baik dan sudah menjadi bagian masyarakat, tanpa ada perbedaan. Tidak ada kelas sosial di sana, semuanya sama,” tandas Evelyne.

Orang Jawa, menurutnya, bahkan cenderung disukai karena terkenal baik hati, ramah, setia kawan, dan loyal. Masyarakat setempat menyebutnya Niaoulis (baca: Nyauli). Kata itu dalam bahasa setempat berarti pohon kayu putih. Ini berasal dari kebiasaan para pekerja perempuan Jawa zaman dulu yang suka meninggalkan anaknya di bawah pohon kayu putih ketika bekerja.

Pada 20 Agustus 1924, seorang perempuan bau kencur asal Grogol, sebuah desa terpencil di Kabupaten Ponorogo, menjejakkan kakinya di Saint Louis, Kaledonia Baru.

Saminah namanya. Meski baru berusia 13 tahun, ia terpaksa meninggalkan kampung halaman karena tak mau dipaksa menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya. Setelah berkelana ke beberapa tempat, ia ditawari untuk menjadi pembantu rumah tangga. Namun, tak dibayangkannya jika tempatnya bekerja adalah sebuah kepulauan terpencil di timur Australia.

Saminah adalah satu dari puluhan ribu pekerja kasar asal Jawa yang didatangkan ke Kaledonia Baru. Ia datang pada gelombang keempat setelah yang pertama pada 12 Februari 1896.

Pada abad 19, kepulauan yang terletak di timur Australia, selatan Vanuatu, barat Fiji, dan utara Selandia Baru itu menjadi wilayah penghasil nikel dan krom pertama di dunia. Hal itu mengharuskan Prancis mengimpor pekerja ke negeri koloninya itu.

Selain di pertambangan, mereka juga bekerja di perkebunan kopi dan sebagian lagi sebagai pembantu rumah tangga.

Menurut riset yang dilakukan Dr Jean Luc Maurer dari Universitas Jenewa (http://jurnalrepublik.blogspot.com), tercatat sekitar 20 ribu orang keturunan Indonesia yang bermigrasi ke Kaledonia Baru. Sebagian terbesar dari mereka berasal dari pulau Jawa.

Sewaktu masa kontrak kerja habis, kebanyakan di antara mereka kembali pulang ke Jawa, terutama pada rentang 1930 dan 1935, setelah terjadi malaise ekonomi pada 1929. Kondisi yang sama kembali terulang antara 1948 sampai 1955 dengan jumlah yang lebih besar, terutama pada 9 Juli 1955. Yang terakhir memutuskan pulang karena mendengar kabar Kemerdekaan Indonesia.

Sementara orang-orang Jawa yang tetap memilih tinggal di Kaledonia Baru terus berkembang. Mereka membangun komunitas Jawa dengan menjadi warga negara Kaledonia Baru. Kini Jumlah mereka ditaksir 7 ribu orang, dengan 2 ribu orang di antaranya tetap berstatus warga negara Indonesia (WNI).

Di antara mereka yang tak mau kembali ke Indonesia, termasuk juga Saminah. Ia memutuskan tinggal karena sudah merasa betah dan berpenghidupan baik. Apalagi, ia menemukan cinta sejatinya di sana. Pria itu bernama Sadir, juga asal Jawa, tepatnya dari Wonotirto, Kebumen.

“Keduanya hidup bersama tanpa menikah karena saat itu belum ada lembaga pernikahan. Dari perkawinan tak resmi itu lahirlah saya,” kata Evelyne Saminah Vaquijot.

Di Kaledonia Baru, masyarakat Jawa yang oleh penduduk asli (Kanaki) disebut Nyauli diterima tanpa syarat. Bahkan lebih disukai dbanding imigran lain asal India, Vietnam, atau China misalnya. Hal ini karena orang jawa dikenal baik hati, ramah, dan loyal.

Hingga kini, menurut Evelyne, masyarakat Indonesia di provinsi yang bernama resmi Collectivite sui generis de la Nouvelle-Caledonie ini telah sampai generasi ke tujuh. Kehidupan sosialnya pun telah banyak berubah. Tak lagi menjadi pekerja kasar, secara umum mereka bahkan bisa dikatakan berada pada kalangan menengah, bahkan menengah ke atas.

Di antara mereka banyak yang menjadi pengusaha, dokter, dan insinyur. Beberapa orang bahkan berhasil menjadi sebagai pegawai pemerintahan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Di antaranya J Waspan, Wakil Wali Kota Noumea.

Evelyne sendiri bekerja sebagai apoteker di sebuah apotik terkenal di Noumea. Ia hidup berkecukupan dengan Andre Vaquijot, suaminya, yang bekerja di salah satu pabrik pertambangan Nikel.

Untuk lebih mempertegas eksistensinya, komunitas Jawa membentuk berbagai organsiasi. Sebut saja Persatuan Umat Muslim Masyarakat Indonesia (PUIMIK), dan Persatuan Umat Katolik Masyarakat Indonesia (ACI).

Keduanya berinduk pada organisasi yang lebih besar yakni Asociation Indonesian New Caledonie (AINC). Dalam berbagai kesempatan organisasi-organisasi itu menggelar berbagai kegiatan seperti pesta budaya Jawa sampai kursus Bahasa Indonesia.

“Saya meskipun terlahir di Kaledonia, bisa lancar bahasa Indonesia dari kursus itu. Menggelikan sekali waktu itu, orang Indonesia kok kursus bahasa Indonesia hahaha,” kenangnya.

Bahasa Jawa Ngoko-nya, kata dia, merupakan hasil didikan Saminah, ibunya. Di keluarga Sadir-Saminah itu, semua anak-anaknya diharuskan bicara dalam bahasa Jawa jika di dalam rumah. Namun di luar, mereka berkomunikasi dalam Prancis.

Selain itu, aturan-aturan Jawa juga masih dipegang erat saat itu. Hal-hal yang menurut adat Jawa tabu dilakukan, juga berusaha tetap dihormati. “Misalnya tak boleh nyapu kalau malam ya kami turuti, meskipun tak tahu maksudnya. Kalau ditanya orang, jawabnya ya nggak boleh sama embah (nenek),” tutur perempuan beruban itu.

Tak heran, dengan tradisi yang selalu dipegang, kebudayaan Jawa di Kaledonia masih terpelihara. Upacara kedatangan 12 Februari selalu diperingati dengan tari-tarian dan pesta masakan Jawa. Mereka berbaur dengan kebudayaan asli setempat secara harmonis.

“Kalau zaman saya kecil masih banyak teman-teman bapak dan ibu yang bisa main ketoprak atau nari jaipong, sering main kalau ada perayaan,” katanya.
Harmonisasi kehidupan yang ditunjukkan masyarakat Jawa di Kaledonia Baru, akhirnya mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. Pemerintah menganggap orang Indonesia mampu meningkatkan toleransi dan keharmonisan kehidupan antarumat beragama di Kaledonia.

Ya, kepulauan seluas 18.575 kilometer persegi tersebut memang negeri Imigran. Tak hanya pribumi dan Indonesian yang tercatat sebanyak 2,6 persen. Di kepulauan yang berpenduduk 237.765 jiwa (sensus 2006) itu terdapat ras Melanesian 44,6%, European 34,5%, Wallisian 9,1%, Tahitian 2,7%, Vietnam 1,4%, Ni-Vanuatu 1,2%, dan penduduk lain (Tionghoa, Filipino) 3,9%.

Mereka tersebar di tiga provinsi, yakni Province Sud (South Province) dengan ibu kota, Noumea, Province Nord (North Province) dengan ibu kota Kone dan Province des Óles Loyaute (Loyalty Islands Province) dengan ibu kota Lifou.

Masing-masing juga memeluk agama yang berbeda dengan mayoritas memeluk Katolik Roma 75%, Protestan 15%, Islam 5%, dan Animisme 5%. “Masyarakat Jawa yang dulu muslim sudah banyak yang berpindah agama yang kebanyakan karena pernikahan. Tapi itu tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Agama di sana adalah hal yang sangat pribadi,” tutur Evelyne.

Persamaan dan kedudukan yang setara itu juga membawa masyarakat Jawa dalam konstelasi perpolitikan. Mereka yang sudah berkewarganegaraan Prancis memiliki hak memilih dan dipilih, meski tidak terikat dalam partai tertentu.

Namun khusus konflik politik penduduk pribumi dengan pemerintah, kata dia, Nyauli tidak ikut-ikut. Diceritakan, di negara kepulauan itu sering terjadi kerusuhan kecil yang dimotori warga asli (Kanaki). Itu dilakukan dengan tuntutan ingin merdeka dari jajahan Prancis.

Dalam beraksi, mereka kerap melakukan sweeping kepada siapa saja yang melintas. Tak jarang, warga atau staf kantor konsulat Indonesia yang dibuka pada 1951 itu terjebak dalam sweeping. Namun, mereka lebih sering lolos tanpa kejadian apa pun setelah menunjukkan tanda pengenal Indonesia dan mengaku berasal dari Jawa. ”Mereka sangat menghormati keturunan Jawa,” katanya.

Noumea, adalah ibu kota Kaledonia Baru Negara jajahan Perancis di Samudera Pasifik bagian selatan.. Negara ini cukup asing di telingga bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Kaledonia Baru juga di namakan Kanaki, di ambil dari nama penduduk asli kepulauan itu.

Perjalanan dari Jakarta ke Kaledonia Baru memakan waktu sekitar sembilan jam dan harus transit dulu di Australia, dengan biaya sekitar USD 2.250 (setara dengan sekitar Rp 22 juta). Namun, perjalanan bisa molor karena penerbangan ke sana sering terkendala dengan cuaca buruk. “Penduduk di sana sebagian besar di huni suku Jawa” kata Bu Sulastriningsih (duta besar RI untuk Kaledonia Baru), saat di wawancarai reporter Jawa pos (Zulham Mubarak).

Dulu orang Jawa di Kaledonia Baru menjadi kuli kontrak. Perpindahan orang Jawa ke Kaledonia Baru juga sama dengan orang Jawa ke Suriname (Negara jajahan Belanda di Amerika Selatan). Namun, perpindahan orang Jawa ke Pasifik terhenti sejak 1949. Jumlah penduduk Kanaki (Kaledonia Baru) tercatat per 1 september 2006 mencapai 237.765 jiwa. Sulastriningsih mengatakan, “Bertugas di Kaledonia, membutuhkan kejelian dan faktor kesukuan yang kental.

Sebab, di Negara kepulauan itu sering terjadi kerusuhan kecil yang di motori warga asli berkulit hitam. Itu di lakukan dengan tuntutan ingin merdeka dari jajahan Perancis”. Dalam beraksi, mereka kerap melakukan sweeping kepada siapa saja yang melintas. Tak jarang, staf kantor perwakilan Indonesia juga terjebak dalam sweeping. Namun, mereka lebih sering lolos tanpa kejadian apa pun setelah menunjukkan tanda pengenal Indonesia dan mengaku berasal dari Jawa.

“Masyarakat Jawa di sana duduk di kalangan menengah ke atas. Berbeda dengan pendatang asing lain. Penduduk asli Kaledonia pun sangat menghormati keturunan Jawa” terang Bu Sulastriningsih duta besar RI. Belajar dari itu, Kementerian Luar Negeri kerap memprioritaskan staf yang keturunan Jawa untuk di tempatkan di Kaledonia Baru. Yang masih mengganjal bagi Sulastriningsih adalah sering tersendatnya akses komunikasi dari dan ke Kaledonia menuju Indonesia.

Sampai sekarang, kata dia, akses untuk SMS ke Indonesia dan sebaliknya masih belum memungkinkan. Penggunaan handphone sebatas hanya untuk menelepon saja. “Ya kalau hendak kirim teks, dengan email atau faks. Tapi kalau mau direct, mungkin dengan telepon saja” ujar Sulastriningsih. Kendala keamanan bukan faktor utama karena Indonesia lebih di terima warga setempat. Namun, kini sangat sulit untuk merunut seseorang apakah keturunan Jawa atau bukan.

Mereka kebanyakan sudah berkawin campur. Berbeda dengan warga keturunan India dan kulit hitam di sana yang terus menjaga tradisi. Bahasa Jawa masih tetap di gunakan sebagai bahasa sehari-hari, namun kalangan anak-anak mudanya sudah tak bisa berbahasa Jawa, dan hanya bisa berbahasa Perancis.[17]


Artikel Selanjutnya: Jawa [Part 8: Jawa di Malaysia]

Iklan

10 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s