Lanjutan dari: Jawa (part 7)


Jawa di Negeri Malaysia

Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kunjungan dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Hamidi di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Pria yang karib disapa JK itu menyampaikan, Hamidi memiliki darah Jawa.

“Beliau kan orang Jawa, orang Yogyakarta, Kulonprogo, ya artinya dia pulang kampung. Nanti beliau juga ada acara keluarga,” kata JK di Jakarta, Jumat (18/9/2015).

image

Kunjungan ke Indonesia ini merupakan yang pertama ‎yang dilakukan Hamidi sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia. JK menuturkan, perbincangan keduanya berjalan akrab.

Saat bersama Hamidi, sejumlah hal dibahas, mulai dari hubungan kedua negara sampai masalah ‎ekonomi.

‎JK menerima Hamidi pukul 11.45 WIB tadi. Kemudian, keduanya melaksanakan salat Jumat di Masjid Baiturrahman, Istana Wapres, Jakarta.

Acara itu lalu dilanjutkan santap siang bersama. Turut mendampingi JK Menteri Perindustrian Saleh Husin, Kepala Bappenas Sofyan Djalil, dan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.[18]

Malaysia Wajibkan Siswa Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

Pemerintah Negara Bagian Malaka, Malaysia, bakal mengajarkan Bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan sehari-hari warga di negara itu. Hal itu dilakukan, karena di negara bagian itu banyak masyarakat yang berasal dari suku Jawa.

Menteri Pendidikan Negara Bagian Malaka Datuk Wira Haji MD Yunos Bin Husin mengatakan, bahasa Jawa di Malaka sebenarnya sudah menjadi bahasa sehari-hari. Karena di kawasan Malaka, banyak warganya yang merupakan keturunan Jawa.

Namun akhir-akhir ini, bahasa itu sudah mulai ditinggalkan, karena banyak generasi muda yang tidak mengerti akan budaya Jawa tersebut. Para generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Melayu dalam kehidupannya sehari-hari.

“Bahasa Jawa itu perlu diregenerasi di wilayah kami, karena di wilayah kami banyak kesamaan dengan budaya Jawa, terutama Solo dan Jogja, dengan alasan itulah kami datang ke sini,” katanya, saat ditemui di Solo, Senin (26/5/2014).

Akan tetapi pihaknya belum berbicara lebih detail mengenai konsep pembelajaran bahasa Jawa di Negara bagian tersebut. Pihaknya justru ingin mempelajari budaya Jawa lebih detail terlebih dahulu, sebelum nantinya diajarkan kepada warganya.

“Kita belajar dahulu, tingkatkan kerjasama dengan daerah-daerah di Pulau Jawa. Setelah itu, kita akan ajarkan budaya itu kepada warga kami,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo Eny Tyazni Suzana menyatakan, hingga kini pihaknya menilai positif rencana Menteri Pendidikan Negara bagian Malaka tersebut.

Menurutnya, belum ada hal-hal yang menyimpang yang perlu dicurigai oleh Pemerintah Kota Solo, mengenai konsep pengajaran budaya Jawa di negeri Jiran tersebut.

Dia mengatakan, kunjungan menteri pendidikan di Kota Solo itu juga baru masuk pada tahap penjajagan. Belum sampai membicarakan proses kerjasama antara kedua wilayah yang ada.

“Kita saat ini berpikir positif dahulu, kita yakin mereka tidak akan mematenkan bahasa kita di negera mereka, mereka hanya merasa memiliki budaya yang sama,” tukasnya.[19]

Kampung Padang Jawa

Secara fisik, kampung ini memang terlihat berbeda dibanding gedung-gedung tinggi di luar kampung. Di dalam kampung, tepatnya di jalan utamanya sangat lebar tersebut, tidak terdapat gedung-gedung megah seperti di bagian lain di kota Shah Alam. Kota Shah Alam adalah Ibukota Selangor, Malaysia.

image

Kampung Padang Jawa berdekatan dengan kota baru Klang dan kota besar Shah Alam. Jaraknya dari Klang lebih kurang 8 Km dan dari Shah Alam lebih kurang 4 Km. Kampung ini sangat unik karena berada di bawah pemerintahan 2 kota, yaitu satu bagian di bawah Daerah Klang dan sebagian lagi masuk daerah Shah Alam. Garis perbatasan di antara kedua daerah ini terletak di tengah-tengah kampung ini.

Kampung ini juga agak istimewa kerana mempunyai 3 jalan masuk ke kampung ini, yaitu dari Klang, Shah Alam dan Lebuh Raya Persekutuan (Federal Highway)

Bila kita menyusuri Kampung Padang Jawa, toko dan rumah penduduk yang berjajar di jalan utama paling banyak dibangun dalam dua lantai, dan hanya sedikit rumah susun sederhana yang dibangun di kampung itu. Sebagai catatan, meski terdapat gedung-gedung tinggi di pusat kotanya, Shah Alam tidak seperti Jakarta yang sangat dipadati gedung-gedung pencakar langit.

Shah Alam sebagai ibukota Selangor ini memang memiliki gedung-gedung megah, meski tak seberapa banyak. Serta, penduduknya tidak sepadat kota-kota besar di Indonesia. Kota Shah Alam adalah kota yang tergolong besar di Malaysia yang sarat dengan sejarah panjang berkembangnya hingga dianggap sebagai salah satu ‘bandar’ terkemuka di Malaysia.

Kampung Padang Jawa merupakan salah satu cikal bakal berkembangnya Shah Alam, sehingga tidak mengherankan bila kampung unik ini akhirnya berada di tengah pertumbuhan dua kota, Shah Alam dan kota Klang. Dua kota yang terus berkembang karena disokong penuh oleh Pemerintah Malaysia. Sedangkan kampung ini terkesan tumbuh lebih secara natural, tanpa pacuan pembangunan gedung-gedung besar pencakar langit oleh pemerintah. Tak pelak, saat ini kawasan tersebut dikelilingi denyut pembangunan proyek fisik serta gedung-gedung bertingkat di luar kampung tersebut. Namun jangan berpraduga tentang diskriminasi, karena sarana fisik standar yaitu jalan dan fasilitas transportasi tetap mendapatkan porsi anggaran yang mencukupi dari pemerintah.

image

Sejak ratusan tahun yang lalu, Shah Alam sudah mulai didatangi oleh para pendatang dari Indonesia. Mayoritas dari mereka berasal dari pulau Jawa, dan sebagian lainya dari Sumatera (terutama dari daerah Padang, Medan dan Aceh).

Apakah karena banyak pendatang dari Jawa dan Sumatera, hingga akhirnya dinamakan Kampung Padang Jawa?

Sejarah silam asal usul Padang Jawa dimulai sejak berdirinya lebih 160 tahun lalu.

Di awal pembukaannya, Padang Jawa merupakan tanah pertanian dan terkenal dengan dusun buah-buahan, pada waktu itu banyak penduduknya yang bekerja sebagai pengumpul getah karet. Sebelum Sungai Klang dicemari oleh limbah pembangunan kota-kota disekitarnya, rata-rata penduduk di Padang Jawa bekerja sebagai nelayan yang menjadikan ikan air tawar, udang galah dan udang belacan sebagai hasil tangkapan.

Pendekar ‘Wak Kairan’ sebagai pendiri Padang Jawa, berasal dari Jawa Tengah

Asal muasalnya Padang Jawa ini dimulai oleh seorang pendekar yang terkenal dengan ilmu persilatan dan gagah berani, malah dikabarkan memiliki kekuatan yang sukar ditandingi.

Wak Kairan  yang berasal dari Jawa Tengah adalah individu pertama yang memulai penebasan dan pembukaan kampung, dengan cara membersihkan hutan dan semak belukar. Singkat cerita, beliaulah yang pertama kali mewujudkan Padang Jawa ini. Dikhabarkan Wak Kairan mempunyai ilmu persilatan yang sangat tinggi dan memiliki tenaga yang amat luar biasa. Beliau diceritakan malah pernah bertarung dengan musuhnya di kawasan stasiun kereta api selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti rehat. Dikisahkan pula, beliau mampu menarik dan memberhentikan kereta api yang sedang bergerak.

Ketika Wak Kairan meninggal dunia, jasadnya dikebumikan di tanah pemakaman di ujung kampung. Selepas itu kuburnya dipindahkan ke kawasan tanah pemakaman baru yang terletak bersebelahan dengan Lebuh Raya Persekutuan.

Asal nama Padang Jawa

Merujuk pada kamus Bahasa Jawa, ‘Padang’ membawa arti membersihkan atau membuat terang suatu kawasan, dan upaya pembukaan itu dilakukan oleh Wak Kairan yang tak lain adalah seorang pendekar yang berasal dari Jawa. Pada perjalanannya, itu kampung ini kemudian dinamakan Padang Jawa.

Setelah era kemerdekaan Malaysia, kawasan-kawasan ini dijaga di bawah satu ketua kampung dengan menggunakan nama Kampung Padang Jawa.[20]

Kampung Jawa

Satu lagi yang terkenal dari Malaka adalah Sungai Malaka, wisatawan bisa menyusuri Sungai Malaka dari ujung ke ujung, baik dengan menggunakan kapal atau berjalan kaki melewati jalur yang sudah disediakan di sisi kanan-kiri sungai. Kawasan di pinggir Sungai Malaka ini dahulu memang diperuntukkan untuk kawasan residensial, karenanya tempat  ini sekarang menjadi tempat rumah-rumah tua yang masih tertata rapi dan berdiri gagah.

image

Di tengah-tengah jalur susur Sungai Malaka inilah terletak Kampung Jawa. Sesuai namanya konon di kampung ini bermukim orang-orang Jawa yang datang ke Malaka di waktu yang lampau. Layaknya kawasan residensial, suasana di Kampung Jawa sepi dan lengang. Rumah-rumah berjajar rapi, tidak terlalu besar, sebagian masih menyisakan konstruksi kayu yang berasal dari beberapa dekade yang lalu.

Asalnya masih simpang siur, satu versi sejarah mengatakan orang-orang Kampung Jawa adalah bekas prajurit Pati Unus dan Ratu Kalinyamat dari Demak yang kalah perang saat penyerbuan ke Malaka. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa orang-orang dari Jawa sudah datang sebelum itu, saat masih era Kesultanan Malaka.

Model pengelompokan residensial berdasarkan asal-usul bangsa memang khas sekali warisan kolonial. Adalah Portugis yang pertama kali mengelompokkan orang-orang Jawa di Kampung Jawa, diikuti kemudian oleh Belanda dan Inggris. Orang-orang Portugis menyebut area untuk orang Jawa dengan Campong Jaio, sementara orang Belanda menamakannya Campong Java. Setelah beberapa kali dipindahkan karena kebijakan pengaturan residensial oleh penguasa Malaka, akhirnya Kampung Jawa menetap di lokasinya yang sekarang.

Jelajah Kampung Jawa

Penanda Kampung Jawa jika wisatawan berjalan menyusuri Sungai Melaka adalah Jembatan Kampung Jawa. Dari sini wisatawan bisa kemudian menelusuri Kampung Jawa melalui jalur pedestrian yang ada di kampung. Suasananya tak ubahnya dengan suasana kampung-kampung di Indonesia.

image

Keturunan orang Jawa yang kemudian beranak-pinak dan menetap di Kampung Jawa mayoritas adalah muslim yang taat dan nuansa Islami memang kental di kampung ini. Di kampung ini terdapat sebuah madrasah tradisional tempat anak-anak belajar agama. Madrasah itu bernama Madrasah Al-Hidayah, terkadang juga disebut saja Madrasah Kampung Jawa. Berlokasi di sebuah surau tua, madrasah ini hingga sekarang masih rutin menyebarkan dakwah Islam untuk umat muslim di Kampung Jawa.

Apabila masuk lebih ke dalam maka akan ditemui kompleks perumahan orang Jawa yang bentuknya lebih tradisional dengan konstruksi kayu, bukan tembok. Kesannya nampak bukan seperti bukan bangunan permanen, namun justru seperti itulah rupa bangunan tradisional Kampung Jawa dari masa lalu. Nuansa tradisional juga terlihat dari beberapa warung atau kios yang ada di seputar Kampung Jawa. Bentuknya masih mempertahankan gaya bangunan lama.

Jelajah Kuliner Di Kampung Jawa

image

Uniknya sebagian warisan kuliner di Kampung Jawa berasal dari tanah leluhurnya, Jawa. Ada beberapa kuliner familiar dari Jawa yang juga ada di Kampung Jawa seperti pecel, rujak dan camilan seperti tempe. Rupanya memang anak buyut dan keturunan orang-orang Jawa di sini masih melestarikan tradisi dari Jawa, termasuk tradisi kulinernya.

Ada restoran yang terdapat di ujung jalan masuk menuju Kampung Jawa, lokasinya persis berada di tepi Sungai Malaka. Restoran tersebut menyajikan sajian-sajian khas Melayu dan warisan kuliner Jawa. Restoran ini bernama Restoran Lineclear Kampung Jawa, ini adalah tempat makan paling ramai di Kampung Jawa, biasanya buka dari jam 11 siang sampai jam 5 sore. Tapi jika di akhir pekan sering sebelum ashar sudah tutup karena sajian kulinernya sudah tandas dibeli.

Restoran ini menyajikan menu-menu yang sudah akrab di lidah, menu utama yang paling disukai pembeli adalah sate ayam. Bentuknya sama dengan sate yang ada di Indonesia, hanya bedanya bumbu yang digunakan di sini lebih pekat dan lebih merasuk ke dalam serat dagingnya. Proses pembuatannya pun lebih lama, itu karena proses pelumuran bumbu yang diulang-ulang supaya meresap.

image

Lantas ada juga es cendol sebagai pelengkap, mirip di Indonesia, cendolnya hijau dengan santan yang melimpah ruah. Sajian cendolnya juga dilengkapi dengan kacang merah dan sepertinya juga dilengkapi dengan lelehan gula merah, mirip dengan sajian cendol di Jawa.

Kuliner yang hampir serupa dengan kuliner di Indonesia menandakan bahwa ada benang merah antara keberadaan orang-orang Jawa di Malaka dengan leluhur mereka di Nusantara. Mau merantau sejauh apapun, warisan budaya termasuk kuliner tetap dipertahankan dan dibawa.

Kehidupan Di Kampung Jawa

Kehidupan di Kampung Jawa seperti halnya di Malaka memang sangat multikultur. Para pemukim yang dahulunya dari Jawa ini sekarang kebanyakan sudah berasimilasi dengan budaya lokal. Karenanya tidak terlihat ada yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi di Kampung Jawa.

Mungkin karena proses asimilisai budaya, orang-orang Kampung Jawa sudah sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu yang menjadi bahasa nasional Malaysia. Yang tertinggal hanyalah identitas bahwa mereka adalah keturunan orang-orang Jawa yang bermigrasi ke Malaka ratusan tahun yang lalu.

Orang-orangnya pun sudah tidak memakai pakaian khas Jawa, yang perempuan lebih banyak menggunakan baju kurung, layaknya perempuan muslim di Malaysia. Sementara kaum lelakinya tidak menggunakan pakaian dengan ciri khusus, namun beberapa diantaranya masih setia mengenakan peci putih sebagai penutup kepala dan menggunakan baju koko.

Tatanan rumah-rumah dan lingkungannya pun rapi jali, walaupun daerah pemukiman lawas tapi tampaknya keberadaan rumah tua di Malaka memang dijaga dengan baik, tak heran Malaka lantas dikenal karena warisan sejarahnya karena memang benar-benar masih sangat terjaga.

Berkeliling Malaka yang kata orang barat di masa lampau adalah Venezia Dari Timur benar-benar membuka mata. Ada banyak peninggalan sejarah yang saling kait-mengait satu sama lain, selain itu juga bisa menyaksikan bagaimana keturunan bangsa sendiri turut menorehkan sejarah di negeri lain sejak ratusan tahun yang lalu.[21]


Selanjutnya: Jawa [Part 9: Jawa di Singapura]

Iklan

10 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s