Lanjutan dari: Jawa (part 8)


Generasi Ketiga Keturunan Jawa Di Pontian, Johor, Malaysia, Menjaga Budaya Dengan Mengimpor Lagu Campursari lewat TKI

Angin laut menyapu pantai. Enam orang bertubuh liat berkulit legam mendorong sebuah perahu ke darat, di pesisir Pontian. Lamat-lamat terdengar aba-aba. ”Siji.. loro.. telu (satu, dua tiga),” teriak salah seorang pendorong perahu itu. Tiap kali aba-aba, perahu maju satu langkah membelah pasir.

Percakapan mereka menggunakan bahasa Jawa ngoko. Nelayan asal Indonesia? ”Bukanlah, Bang. Kami ini warga Malaysia asli,” kata Zainuddin bin Sarip, 33, dalam bahasa Jawa. ”Kami orang Malaysia dengan darah Jawa tulen,” sambungnya buru-buru.

Pontian terletak 62 kilometer dari Johor Bahru, ibu kota negeri Johor. Ibu kotanya disebut Pontian Kechil. Umumnya warga kawasan itu pengolah tanaman bakau, nelayan, petani sawit, dan komoditas perkebunan lain. ”Tapi, menangkap ikan masih merupakan aktivitas utama penduduk di daerah ini,” terang pria yang mengaku keturunan Klaten itu.

Pontian, lanjut Zainuddin, dihuni mayoritas orang Melayu serta warga keturunan Bugis dan Jawa, terutama di kawasan pesisir. Ada juga warga keturunan Tionghoa suku Teochew. Namun, kata dia, dari ragam multikultur dan ras, warga Jawa cukup mendominasi.

Buktinya, sebagian besar penduduk Pontian berbahasa Jawa. ”Bahkan, keturunan Tionghoa di Pontian pun fasih berbahasa Jawa. Karena ini (bahasa Jawa, Red) bahasa perdagangan dan digunakan ketika di kebun,” paparnya.

Para keturunan Jawa itu berupaya agar ras mereka tetap dominan di Pontian. Karena itu, mereka berusaha keras menjaga kesatuan antarwarga keturunan Jawa dan memberikan pendidikan kepada generasi muda. Di sudut-sudut kampung bahasa Jawa menjadi bahasa utama.

Ketika ada orang luar yang bertanya dengan bahasa Melayu, pertanyaan pertama mereka adalah apakah penanya paham akan bahasa Jawa? Jika tidak bisa, baru mereka meladeni dengan bahasa Melayu.

”Kami hanya melanjutkan ketegasan yang diberlakukan para orang tua dan kakek nenek kami,” terang Husin bin Rokmat, salah satu tokoh adat Jawa di Pontian.

Pria keturunan Kebumen itu ingat, orang tua mereka sampai hati mengusir anaknya yang menolak belajar bahasa dan tradisi Jawa. Ketika berada di luar kampung mereka memang bebas menggunakan bahasa Melayu, namun ketika kembali di rumah, mereka wajib berperilaku sopan santun dan tata krama layaknya orang Jawa.

Hal itu juga berlaku ketika mereka memilih pasangan hidup. Prioritasnya adalah yang berdarah Jawa. ”Kalau tidak begitu, bisa hilang tradisi Jawa dikikis budaya luar. Kami ini kanperantauan, jadi harus biasa hidup keras dan tegas,” terang pria berambut putih itu.

Rahmat bin Rusdi yang tinggal di kompleks perkebunan mengatakan, sulit bagi mereka melacak kembali asal usul dan kerabat di Jawa. Bahkan, tak pernah terlintas sedikit pun di benak mereka untuk kembali ke tanah Jawa dan meninggalkan kehidupan mereka di Malaysia. Pria yang mahir berbahasa Inggris itu lantas berkelakar. ”Kami ini istilahnya sudahdead torch alias kepaten obor sama kerabat di Jawa,” katanya lantas tertawa.

Kepaten obor yang secara harfiah berarti obor yang padam adalah istilah Jawa untuk menandakan bahwa hubungan kerabat dalam garis keturunan sudah tidak terdeteksi alias sudah padam. ”Tapi, itu tidak menandakan bahwa kami lupa asal usul kami,” ujarnya mantap.

Menjelang siang, warga Jawa umumnya lautatau istirahat dari kegiatan berkebun. Mereka lazim berkumpul di kedai-kedai makan dan bercengkerama. Saat itulah mereka berbagi tip dan trik seputar perkebunan dan tentu melakukan lobi-lobi bisnis. ”Ini tradisi baru untuk tetap menjaga jaringan antarwarga Jawa di sini,” tuturnya.

Rahmat mengatakan, warga Jawa di Pontian dulu datang sebagai budak yang dibawa oleh VOC. Mereka dipekerjakan mengolah tambang minyak dan perkebunan sawit di pesisir selat Malaka itu. Nama Pontian sendiri adalah pelesetan dari kata perhentian. Hal itu merujuk pada lokasi Pontian yang merupakan sebuah tanjung yang digunakan sebagai daerah perhentian kapal-kapal pedagang yang hendak berlindung dari badai dan ombak besar.

Pontian berada di jalur laut perdagangan paling padat di dunia yang dulu terpusat di Temasik alias Singapura. ”Jadi, warga Jawa di sini tidak asing dengan tradisi dan budaya luar yang kerap dibawa pendatang,” terangnya.

Rahmat mengaku sedikitnya menguasai lima bahasa: Jawa, Melayu, Inggris, Arab, dan Mandarin. Namun, jenis bahasa Jawa yang dipahami Rahmat adalah bahasa Jawa kasar alias ngoko. Dia mengaku warga Pontian sudah sangat langka yang dapat menggunakan bahasa Jawa halus atau krama.

Maklum, asal usul mereka memang Jawa totokyang mayoritas pekerja kasar. Namun, dia mengakui bahwa ada beberapa keturunan keraton dan bangsawan yang termasuk dalam rombongan yang diasingkan ke Malaysia. Karena itu, di antara komunitas Jawa Pontian, orang yang mampu menggunakan bahasa Jawa halus pasti mendapat penghormatan lebih. ”Sudah pasti itu kami lakukan sebagai bentuk tradisi asli Jawa,” kata Rahmat.

Adapun kesenian Jawa yang kini dipertahankan warga Pontian sudah nyaris kehilangan keasliannya. Karena itu, mereka kerap mencari referensi melalui internet maupun berkorespondensi dengan penggiat kesenian Jawa di Tanah Air. Seni Jawa yang tetap dipertahankan di daerah mereka seperti wayang kulit, gamelan, dan tradisi jathilan.

Husin mengakui, di era globalisasi ini dia semakin sulit mempertahankan tradisi Jawa kepada anak cucu. Sebab, mereka mengenyam pendidikan di kota-kota besar seperti di Johor Bahru ataupun di Kuala Lumpur. Kebiasaan itu mengikis rasa kejawaan generasi muda. ”Mereka suka pakai bahasa Inggris dan Melayu untuk pergaulan. Karena itu, sulit dikenali apakah mereka Jawa Pontian atau bukan,” keluhnya.

Untuk itu, dia dan sejumlah warga Pontian berupaya mengimpor lagu-lagu campursari dan rekaman pertunjukan seni Jawa dalam bentuk compact disk (CD). Dalam misi itu mereka mendapat koneksi melalui para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa yang mereka temui di ibu kota Johor Bahru. Mereka berharap melalui seni, pemuda keturunan Jawa di Pontian terdorong untuk melanjutkan misi menjaga tradisi Jawa sampai kapan pun. ”Bagi kami, orang yang lupa asal usulnya adalah orang yang tak akan menemukan kedamaian dalam hidup,” katanya.

Sebagian penduduk Kota Pontian, Johor, Malaysia, merupakan keturunan Jawa. Mereka umumnya generasi ketiga dari warga yang dimobilisasi Belanda di zaman penjajahan. Sampai sekarang mereka tetap menjaga bahasa dan tradisi nenek moyang.[22]


Jawa di Di Singapura


Makam Keluarga Jawa Jadi Objek Wisata di Singapura

07-02-07.04.28

Pemerintah Singapura memang telah menggusur sebagian besar kuburan kota untuk dijadikan bangunan perkotaan. Tetapi, hingga saat ini terdapat dua kuburan kuno yang masih dipertahankan, yakni seorang ayah dan putrinya yang merupakan keturunan Jawa Muslim dari keluarga bangsawan.[24]


Jimmy Ong, terinspirasi buku History of Java karya Thomas Stamford Raffles

07-02-07.01.56

Seniman kontemporer Singapura, Jimmy Ong, terinspirasi buku History of Java karya Thomas Stamford Raffles. Buku itu pula yang membawanya ke Jawa Tengah.

”Beberapa kali saya mengunjungi Candi Borobudur, dan hidup di tengah masyarakat Yogyakarta. Lalu, saya melukiskannya sebagai reimaji suasana seperti diceritakan Raffles melalui karya bukunya, History of Java,” kata Jimmy, Rabu (21/1/2015) di Galeri Fost, lokasi pameran yang bertempat di salah satu bangunan di Barak Gillman, Singapura.

Karya-karya lukisannya yang membayangkan ulang masa lalu itu ikut ditampilkan dalam Pekan Seni Singapore (Singapore Art Week). Rangkaian pamerannya dikemas dalam tema ”Where Art Meets History” (Pertemuan Seni dengan Sejarah). Pameran History of Java karya Jimmy Ong dibuka 16 Januari hingga 1 Maret 2015.

Galeri Fost yang menggunakan bangunan bekas barak tentara Inggris itu tidak lapang. Belasan karya Jimmy disajikan. Di antaranya, lukisan arang di atas kertas berjudul ”Mapping Boro Budur”, berukuran 128 x 320 sentimeter.

Lukisannya, ”Mapping Boro Budur”, memperlihatkan suasana masyarakat laki-laki dan perempuan Jawa yang guyub bekerja. Hewan piaraan ayam dan kambing dilukis Jimmy ada di mana-mana. Candi Borobudur dijadikan latar belakang suasana harmoni masyarakat Jawa.

Jimmy juga melukiskan sosok yang tertidur menyamping, menghadap ke arah candi. Mungkin itu mengingatkannya pada postur Patung Buddha Tidur. Hitam-putih arang (charcoal) di atas kertas menjadi ciri khas Jimmy.

”Lukisan-lukisan lainnya juga hasil reimaji History of Java. Ada lukisan tentang Tamansari dan Keraton Yogyakarta. Ada perburuan macan dan banteng di Jawa, juga video seni tentang makam Imogiri di Yogyakarta,” tutur Jimmy.

Selama membuat karya-karya lukis reimaji History of Java, Jimmy tinggal di Yogyakarta. Dia membuat studio di Mangkuyudan pada tahun 2014.


Imogiri

Jimmy beralih menunjukkan dua layar televisi. Salah satu televisi memutarkan rekaman suasana Astana Imogiri, makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta.

Makam Imogiri dibangun Sultan Agung, Raja Mataram III pada 1645. Jimmy menunjukkan bagian penting di dalam adegan videonya.

Sejenak ketika mengikuti adegan yang ditunjukkan Jimmy, tampak adegan penutur berbahasa Jawa mengisahkan jasad seorang pengkhianat Raja Sultan Agung bernama Tumenggung Endranata yang dipotong tiga.

Setiap potongan tubuh Endranata dikuburkan terpisah. Bagian kepalanya dikubur di bawah gapura, badannya dikubur di bawah anak tangga, dan kakinya dikubur di bawah kolam.

”Tindakan ini untuk memberi peringatan keras bagi pengkhianat raja,” kata penutur berbahasa Jawa di dalam video itu.

Tumenggung Endranata diketahui membocorkan strategi penyerangan kedua Sultan Agung ke Batavia pada 1629. Di antaranya, membocorkan strategi membangun lumbung-lumbung pangan di Karawang dan Cirebon sehingga lumpung pangan dihancurkan Hindia Belanda. Serangan pasukan Sultan Agung dari Mataram (Yogyakarta) ke Batavia akhirnya dilumpuhkan.

”Saya tidak bisa berbahasa Jawa. Namun, banyak dibantu teman-teman dari Yogyakarta untuk memahami cerita berbahasa Jawa, terutama hal-hal terkait yang dikisahkan di dalam History of Java,” kata Jimmy.


Barak tua

Tempat Jimmy Ong memajang karya-karyanya, Barak Gillman, menguatkan kesan pertemuan sejarah dengan seni. Barak Gillman dibangun Jenderal Sir Webb Gillman (petinggi militer Inggris) untuk tujuan ekspansi militer Inggris di Singapura tahun 1936. Rentang waktu hingga 1990 barak ini dikuasai institusi militer Singapura.

Mulai tahun 1990 terjadi peralihan fungsi kemiliteran menjadi fungsi komersial. Pada 1996 dikenalkan sebagai Gillman Village. Pada 2010, nama Gillman Village dikembalikan ke nama semula, Barak Gillman. Barak itu kemudian direnovasi.

Pada September 2012, Barak Gillman diluncurkan sebagai Pusat Seni Kontemporer Singapura. Barak seluas 6,4 hektar dengan 14 bangunan bekas barak tentara Inggris itu kini digunakan untuk 17 galeri internasional. Beberapa di antaranya, Galeri Arndt (Jerman), The Drawing Room (Filipina), Equator Art Projects, Fost (Singapura), Future Perfect, Michael Janssen (Singapura), Mizuma, Ota Fine Arts, Partners & Mucciaccia, Pearl Lam, ShanghART, Silverlens, Space Cottonseed, Sundaram Tagore, Tomio Koyama (Jepang), Yavuz, dan Yeo Workshop. Barak Gillman kini tertata sangat rapi dan menarik dikunjungi wisatawan dengan suguhan karya-karya seni yang dipamerkan.

Penggunaan Barak Gillman sebagai warisan sejarah masa kolonial Inggris di Singapura sebagai galeri seni dapat menjadi inspirasi menarik bagi Indonesia. Selama ini, sejumlah tempat bersejarah di Indonesia, baik dari masa peradaban Hindu kuno sampai kolonialisasi Hindia Belanda, kurang terawat dan tidak berfungsi optimal.


Sejarah seni

Di barak itu pula generasi muda dapat belajar sejarah seni. ”Tantangan bagi kita sekarang, generasi muda tidak lagi menyukai museum untuk belajar tentang sejarah seni,” kata pendiri Singapore Pinacotheque de Paris, Marc Restellini, salah satu galeri internasional. Marc lalu menunjukkan tiga lukisan legendaris karya para maestro Chaim Soutine, Amedeo Modigliani, dan Jackson Pollock kepada sejumlah jurnalis asing.

Singapore Pinacotheque de Paris masih tahap persiapan dan dijadwalkan buka pada Mei 2015. Galeri itu merupakan bagian dari hasil ekspansi Pinacotheque, museum karya seni lukis di Paris, Perancis, yang dikelola swasta sejak 2003.

Pertemuan Jimmy Ong, sejarah Jawa, dan galeri-galeri internasional di barak tua itu pun menyempurnakan perpaduan seni, sejarah, dan masa kini.[25]


Petualangan Prajurit Jawa di Singapura

Karya-karya tentang Jawa itu tak henti-hentinya bertualang. Saya mengamati bahwa barisan prajurit itu telah pergi menjejakkan kaki di berbagai tempat di dunia: barangkali hanya benua Amerika yang belum dipijaknya. Tahun ini, setelah menghabiskan petualangannya di beberapa pameran kelompok di Australia dan Asia, serta mengikuti biennale di Austria dan Lyon di Eropa, para prajurit itu berlabuh di Singapura. Agustinus Kuswidananto, yang kerap disapa Jompet, seniman pencipta barisan prajurit itu, mengatakan bahwa inilah pameran terakhirnya yang memajang seri karya “Java’s Machine”.

Jompet diundang untuk menggelar pameran tunggal di Osage Gallery Singapore, salah satu galeri yang paling mapan di Asia sekarang ini pada November 2009 hingga Januari 2010. Kurator galeri ini, Eugene Tan, pertama kali tertarik melihat karya Jompet ketika ia menghadiri Jakarta Biennale 2009. Dan keputusan untuk membawa karya ini ke Singapura ternyata cukup tepat, sambutan publik setempat cukup bagus, terutama karena sedikit banyak berbagi pengalaman yang sama tentang kolonialisasi dan sinkretisme beragam kebudayaan.

Gagasan karya Jompet adalah tentang sinkretisme yang membentuk Jawa. Pada karya-karyanya yang terdahulu itu, diwujudkan dengan barisan 15 prajurit berkostum lombok abang, khas Keraton Yogyakarta, untuk pameran kali ini dikembangkan terutama menggali lebih dalam sisi spiritualitas. Masuknya agama-agama ke tanah Jawa, selain ditandai dengan berbagai peperangan dan penggulingan kekuasaan, pun diimbangi dengan asimilasi dan akulturasi kepercayaan-kepercayaan yang dulu belum dikenal sebagai agama.

Ruang pamer dibuka dengan karya menarik, “The New Myth for the New Family”, berbentuk pohon tanpa daun yang dipenuhi dengan binatang semacam serangga. Serangga ini tanpa henti mengepakkan sayapnya, dengan dengung suara yang membuat ruang kecil itu jadi terasa mencekam. Jika diperhatikan, setiap serangga itu ternyata memiliki identitas (semacam gantungan nama yang banyak dipasang pada binatang piaraan) masing-masing. Hampir seratus serangga itu dipasang tidak dengan acak.

Sesungguhnya Jompet sedang menggambarkan sebuah pohon keluarga (family tree) yang melacak hubungan keturunan dari Nabi Adam hingga Raja Mataram pertama. Dari pelacakan mengenai raja-raja dan sejarah Islam di Jawa, ternyata ditemukan mitos tentang bagaimana sebelum diterima secara luas dan menjadi agama resmi masyarakat, mereka membutuhkan mitos yang dapat menggambarkan relasi raja, Muhammad, dan nabi-nabi sebelumnya sebagai satu keturunan. Di bawah pohon itu, disebarkan daun-daun kering kecokelatan yang membuat citra visual menjadi lebih puitis. Dengungan serangga sendiri menjadi musik yang kontemplatif bagi karya ini.

Di ruang pamer utama, Jompet menggelar karya “Ghost of War” series, yang melukiskan ke-15 prajurit berdiri dengan posisi menyebar. Beberapa dari mereka membawa drum, sedangkan yang lain memanggul senjata, dengan lampu menyala dari tubuh mereka. Instalasi ini dihubungkan dengan dua video, yang pertama menunjukkan seorang pemuda setengah telanjang menari sambil membawa pecut, sedangkan video yang kedua menggambarkan situasi yang sama, dengan latar belakang di sebuah pabrik gula. 

Di antara para prajurit itu, tampak “sosok” seorang raja dengan pakaiannya yang gemerlap, kain batik motif khusus raja dengan kerlip emas dan mahkota yang tegak. Di hadapannya, Jompet memajang empat pasang sepatu bot berbahan kulit untuk perempuan yang di atasnya terlindung oleh tiruan atap masjid dalam ukuran kecil, terbuat dari aluminium. Karya ini berjudul “Marry Us”. Jompet menggambarkan dengan simbol-simbol yang penuh makna tentang bagaimana perkawinan dua tradisi yang berbeda, antara Jawa dan Islam, melalui proses “peminangan” pula, tatkala janji-janji dan harapan baru didengungkan. 

Kemudian, di sudut yang lain, Jompet memajang karya video tentang orang-orang yang menunggu dan berjaga pada sesuatu yang baru, yang akan datang memasuki hidup mereka. Orang-orang itu dimunculkan sebagai bayangan, seperti prajurit yang membawa tonggak sebagai penanda. Langit biru dan bayangan hitam adalah imaji utama dalam karya video ini, tetapi elemen penting lain adalah teks. Melalui alat pendengar, pengunjung bisa mengikuti percakapan antara dua orang, lelaki dan perempuan, tentang orang-orang yang menunggu entah apa. Bisa jadi perang, bisa jadi kebudayaan baru, bisa jadi sistem baru, atau penguasa baru. 

Dalam pandangan saya, beberapa karya baru yang ditampilkan pada pameran di Singapura ini beranjak dari pameran Java’s Machine sebelumnya, Jompet memberi penekanan lebih pada aspek negosiasi antara praktek budaya dan politik dengan agama ketimbang pada isu pertemuan Jawa dengan modernisasi dan gagasan-gagasan Barat sebagaimana karya yang diciptakan setahun lalu. Simbol-simbol tentang Islam yang dimunculkan pun lebih Islam yang dihidupi oleh praktek keseharian masyarakat di kultur pinggiran atau agraris, bukan simbol Islam yang bercitra “murni” atau “modern”, misalnya pada video tentang lagu-lagu salawatan atau adaptasi dari nama-nama Arab menjadi nama berbau Jawa, yang ditempelkan pada serangga dalam karya pohon keluarga tadi. 

Sebagaimana petualangannya di beberapa tempat lain, karya-karya Jompet dalam pameran di Singapura ini mendapat sambutan sangat baik dari pengunjung. Di luar bentuknya yang secara visual mudah menarik perhatian, beserta berbagai kejutan yang dimunculkan oleh teknologi sederhana yang menjadi ajang bermain-main senimannya, barangkali mereka sendiri juga diingatkan untuk melacak lagi jejak dari lintasan-lintasan berbagai budaya yang berbeda, yang sekarang ini menjadi fondasi mereka sebagai sebuah bangsa.[26]


Artikel Selanjutnya: Jawa [Part 10: Jawa di Vietnam dan Australia]

Iklan

10 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s