Lanjutan dari: Indonesia Berpotensi Jadi Musuh Utama Amerika Serikat (bagian 2)


Negara-Negara atau Daerah yang Pernah Merasakan Agresi Militer Indonesia

1. TIMOR LESTE

Timor-Leste_180-animated-flag-gifs

Operasi Seroja adalah sandi untuk invasi Indonesia ke Timor Timur yang dimulai pada tanggal 7 Desember 1975. Pihak Indonesia menyerbu Timor Timur karena adanya desakan Amerika Serikat dan Australia yang menginginkan agar Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timur. Selain itu, serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.
 
Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap menyatroni wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975. Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976. Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI.
 

Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.


2. PAPUA BARAT

Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.
 
Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49′ LS dan 135°02′ BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut. Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau.
 
Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan. Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran”.
 
Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia. Lebih dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
 

Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini, Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.


3. MALAYSIA

BoyWalkingWithMalaysiaFlagPada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya: Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia, Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia
 
Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan Indonesia tewas dan 200 pasukan Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).
 
Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.
 
Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.
 
Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Peristiwa ini dikenal dengan “Pengepungan 68 Hari” oleh warga Malaysia. Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.
 

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.


4. SINGAPURA

 Singapore_240-animated-flag-gifs
Usman lahir di Purbalingga, Banyumas, Jawa Tengah (1943). Harun lahir di P Bawean, Surabaya (1947). Kedua-duanya nama samaran untuk tugas sebagai sukarelawan menyusup ke Singapura, melakukan tugas sabotase dalam rangkaDwikora (Dwi Komando Rakyat). Pada waktu itu RI terlibat konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura. Usman dan Harun tergabung dalam tim sabotir. Pada 8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki.
 
Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road. Tiga orang tewas dan sejumlah lainnya luka.
 
Dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani. Baru pada 13 Maret pagi, setelah berhasil merampas sebuah motorboat, Usman dan Harun dalam perjalanan pulang. Tapi boat macet di perjalanan. Mereka takdapat menghindar dari sergapan patroli.
 
Pada 4 Oktober, Usman dan Harun diadili. Dijatuhi hukuman mati pada 20 Oktober 1965. Banding diajukan pada 6 Juni 1966, ditolak 5 Oktober 1966. Diajukan lagi pada 17 Februari 1967 ke Privy Council di London, tapi tetap ditolak (21 Mei 1968). Kemudian permohonan grasi diajukan kepada Presiden Singapura Jusuf bin Ishak (1 Juni 1968).
 
Sementara itu pada 4 Mei 1968, Menlu Adam Malik melalui Menlu Singapura membantu upaya KBRI memperoleh pengampunan atau setidak-tidaknya memperingan hukuman kedua sukarelawan.

Pada 10 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi ditolak. Pada 10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH yang dipanggil ke Jakarta dan kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan. Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Tokyo.


Kembali Ke Masalah Pangkalan Militer AS di Asia

Keberhasilan Amerika Serikat untuk membangun pangkalan militer yang mengelilingi Indonesia tidak lain juga berasal dari dukungan sekutunya. Modus politik yang dilakukan Amerika berdasarkan atas dasar kemanusiaan. Padahal jika dilihat lebih dalam lagi, Indonesia yang kaya akan kekayaan alam yang berlimpah (seperti emas) dan strategis letaknya, membuat Amerika rakus untuk mendapatkan Indonesia. Belum lagi, ketika AS melancarkan strategi bernama “war on terrorism”. Karena Indonesia ini mayoritas adalah Islam (walaupun masih belum jelas tauhidnya), menjadi sasaran empuk bagi Amerika untuk menjerat berbagai kalangan, terutama aktivis Islam yang menyerukan syari’at Allah. Apalagi saat ini, lagi menjadi trending topicmengenai Daulah Islam/Islamic State (IS). Yang mana kekuatan Islamic State (IS) jauh lebih kuat daripada Amerika.

Maka dari itu, Amerika Serikat merubah haluan. Yang seharusnya mereka ingin menguasai wilayah Timur Tengah, namun karena status peta politik dan militer telah berubah sangat jauh, yaitu mayoritas telah dikuasai Daulah Islam (IS), maka Amerika telah berencana akan menguasai wilayah Indonesia.

Berbekal adanya sekutu-sekutu Amerika Serikat di sekitar wilayah Indonesia, hal ini tentunya mempermudah Amerika untuk membangun pangkalan militernya, walaupun dibarengi dengan alasan klasik nan basi.

Bagaimana Dengan Alutsista Milik TNI?

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia tampaknya sudah mulai serius dengan pembaharuan alutsistanya. Jika pemerintah tetap bertahan dan menggunakan alutsista lama, maka kedaulatan Indonesia bisa sedikit goyah. Prajurit TNI tidak bisa bekerja dengan maksimal lantaran peralatan yang dimiliki sangat minim dan teknologinya sudah ketinggalan zaman.

Alutsista TNI-AD dan TNI-AU

Sejak tahun 2014 silam, peralatan canggih lintas satuan mulai berdatangan. Dampaknya, kekuatan Indonesia menjadi semakin besar dan tak lagi diremehkan oleh negara lain. Berikut lima alutsista terbaru TNI yang membuat Indonesia terlihat lebih ganas.

  • 1. Tank BMP 3F, Tank Ganas yang Disegani Dunia

Source: rentaka.weebly.com

Source: rentaka.weebly.com

TNI AL mulai berbenah dan mendatangkan 37 tank jenis baru buatan dari Rusia. Tank dengan nama BMP 3F ini adalah jenis amfibi yang mampu bergerak di darat dan air secara bergantian. Tank jenis ini memiliki teknologi yang sangat canggih. Bahkan saking canggihnya membuat dunia segan dan berpikir dua kali jika akan menghadapinya.

Secara garis besar, tank ini memiliki peralatan digital yang sangat akurat. Sementara itu, terdapat lubang penembakan yang mampu digunakan dengan SS-1 produksi Pindad. Oh ya, tank ini mampu berada di dalam air hingga 7 jam sebagai penunjang kemampuan amfibi. Untuk masalah persenjataan BMP 3F dilengkapi meriam balistik dengan kaliber 100mm.

  • 2. MBT Leoprad 2, Tank Tempur Terganas di Dunia

Source: wikimedia.org

Source: wikimedia.org

Jerman dikenal sebagai negara dengan teknologi militer yang sangat tinggi. Bahkan pasca kalah di perang dunia ke-II, negeri ini terus berbenah hingga akhirnya menjadi juragan tank paling disegani di dunia. Salah satu tank paling bagus, canggih, dan diminati oleh banyak sekali negara di dunia termasuk Indonesia adalah Leopard 2.

Tank ini sebenarnya sudah diproduksi sejak tahun 1979. Namun selalu memiliki pembaruan komponen dalam kurun waktu tertentu. Saat ini Indonesia sudah memesan sekitar 100 buah dan akan dijalankan oleh TNI AD. Penambahan jenis tank tempur ini akan membuat Indonesia semakin kuat di darat dan susah ditembus oleh musuh yang berniat untuk masuk dan menyerang.

  • 3. MLRS Astros II Mk6, Peluncur Roket Paling Gahar

Source: analisismiliter.com

Source: analisismiliter.com

Ada beberapa alasan kenapa Indonesia akhirnya membeli MLRS Astros II Mk6. Pertama karena negara ini berada di kawasan khatulistiwa yang dikelilingi oleh negara besar seperti Australia, Tiongkok, hingga Malaysia dan Thailand. Memiliki peluncur roket ini akan membuat Indonesia semakin disegani dan negara tersebut tidak akan berani mengusik.

Alasan selanjutnya karena sektor roket masihlah kurang di Indonesia. Pembelian peluncur roket itu akan menurunkan ancaman serangan dari negara lain. Memiliki MLRS Astros II Mk6 akan membuat Indonesia jadi lebih ganas. Jika sampai ada negara yang mengusik, roket uang jumlahnya banyak bisa diluncurkan secara serentak.

  • 4. Sukhoi Su-35, Jet Tempur Saingan Amerika

Source: img.rt.com

Source: img.rt.com

Sukhoi Su-35 adalah pesawat jet tempur terbaru yang akan dimiliki oleh Indonesia. Sebelumnya, Sukhoi jenis Su-27 dan Su-30 telah ada memperkuat keamanan udara di Indonesia. Untuk lebih meningkatkan keamanan di udara, TNI akhirnya memutuskan mengganti F-5 E/F Tiger yang sudah terlalu tua hingga tidak bisa maksimal dalam menjaga keamanan di Indonesia.

Sukhoi Su-35 dipilih karena pilot tempur di Indonesia sudah terbiasa mengoperasikan mesin jet dari Rusia. Selain itu, Sukhoi Su-35 juga diprediksi mampu mengalahkan F-15 Eagle dan F-16 Falcon yang diproduksi oleh Amerika. Sukhoi Su-35 mampu menghilang dari radar musuh lantaran memiliki kecepatan hingga dua kali kecepatan suara.

  • 5. Embraer EMB 314 Super Tucano, Pesawat Penyerang Serba Bisa

Source: wikimedia.org

Source: wikimedia.org

Sebanyak 16 pesawat jenis Embraer EMB 314 Super Tucano, telah dipesan sejak beberapa tahun lalu. Pesawat buatan Brasil ini akhirnya dikirimkan ke Indonesia secara berkala sejak tahun 2012 hingga 2015 tahun lalu. Pesawat Super Tucano jenis terbaru ini ditempatkan di Suadron Udara 21 Bandara Abdul Rachman Saleh Malang.

Pesawat Embraer EMB 314 Super Tucano adalah jenis penyerang seba bisa meski tak secepat F-16 atau pun Sukhoi. Biasanya pesawat jenis ini juga digunakan untuk latihan penerbangan sebelum menggunakan pesawat yang lebih canggih lainnya. Oh ya, pesawat ini sangat andal dalam hal manuver dan juga menyerang dengan sangat presisi.

  • 6. Jet tempur MiG-15, MiG-17, MiG-19 dan MiG-21.

Kedigjayaan udara sangat terasa ketika Indonesia resmi menerima pengakuan kedaulatan dari Belanda. Uni Soviet yang saat itu menjadi musuh negara-negara Barat, secara terang-terangan menghibahkan sejumlah peralatan tempur modernnya kepada Indonesia.

Pesawat tempur yang diterima bukan sembarangan, bahkan termasuk modern ketika itu. Tiga pesawat yang diberikan secara cuma-cuma itu merupakan buatan Mikoyan-Gurevich, yakni MiG-15, MiG-17, MiG-19 dan MiG-21.

Secara spesifikasi, keempat pesawat ini tak memiliki kekuatan yang begitu jauh. Apalagi, keempatnya merupakan hasil perbaikan dari versi sebelumnya.

Screenshot_2016-06-09-17-11-47_1

MiG-15 misalnya, pesawat ini memiliki panjang 10,07 meter dan lebar sayap 10,08 meter. Pesawat ini memiliki bobot kosong 3.630 kg dilengkapi mesin Klimov VK-1 sehingga mampu melesat dengan kecepatan maksimal 1.059 km per jam, dan menempuh jarak hingga 1.240 km.

Pesawat ini pernah dipakai berlatih oleh militer Indonesia selama persiapan Operasi Trikora untuk membebaskan Papua Barat dari tangan Belanda. Pesawat ini tak lagi digunakan pada 1969 dan dipensiunkan setahun berikutnya.

Lalu MiG-17 ini memiliki panjang 11,26 meter dan lebar sayap 9,63 meter. Pesawat berbobot kosong 3.919 kg dan bobot maksimal 5.350 kg ini dilengkapi mesin Klimov VK-1F. Kecepatan pesawat mencapai 1.145 km per jam pada ketinggian 10.000 kaki dan melesat sampai 2.060 km.

Sedangkan MiG-19 sedikit lebih panjang, yakni 12,54 meter dengan lebar sayap mencapai 9 meter. Pesawat berbobot kosong 5.447 kg ini dilengkapi 2 mesin Tumansky RD-9B. Dengan mesin tersebut, pesawat ini mampu melesat hingga 1.455 km per jam dan menempuh jarak 2.200 km dengan tangki tambahan.

Screenshot_2016-06-09-17-14-55_1

Tak kalah dengan pendahulunya, MiG-21 memiliki panjang 14,5 meter dan lebar sayap 7.154 meter ini memiliki bobot bersih 8.825 kg. Pesawat ini dilengkapi sebuah mesin Tumansky R25-300 yang membuatnya melesat hingga 2.175 km per jam dengan jarak tempuh 1.210 km.

Screenshot_2016-06-09-17-14-55_2

Dari ketiga pesawat, masih ada satu pesawat yang tak kalah canggihnya, yakni Lavochkin La-11. Pesawat ini memiliki panjang lebih kecil dibanding empat pesawat MiG yang diterima Indonesia, yakni 8,62 meter dan lebar sayap 9,80 meter. Pesawat ini memiliki bobot kosong 2.770 kg.

Pesawat ini dilengkapi mesin Shvetsov ASh-82FN yang dilengkapi pendingin udara serta fuel injection. Kecepatan yang mampu dicapai pesawat jenis hanya hanya 674 km per jam, namun bisa melesat hingga 2.235 km sejak lepas landas.

  • 7. Pesawat Bomber Tupolev Tu-2, Tu-16 dan Ilyushin Il-28

Ada tiga jenis pesawat bomber yang diterima Indonesia, yakni Tupolev Tu-2, Tu-16 dan Ilyushin Il-28. Dibanding Tu-16 dan Ilyushin Il-28, kemampuan tempur Tu-2 sudah terlihat saat berlangsungnya perang dunia kedua.

Secara spesifikasi, Tu-2 yang memuat 4 orang kru ini dibuat pada 1941-1948. Pesawat berbobot kosong 7.601 kg ini dilengkapi 2 mesin Shvetsov ASh-82 dengan kecepatan 528 km per jam. Kemampuan menjelajah pesawat ini hanya mampu mencapai 2.020 km. Namun, pesawat ini mampu membawa bom seberat 9,000 kg.

Pesawat Tu-16 KS. ©2013 Merdeka.com/Repro dok.TNI AU

Pesawat Tu-16 KS. ©2013 Merdeka.com/Repro dok.TNI AU

Tu-16 ini memuat 7 orang kru mulai diperkenalkan pada 1954 dan berhenti diproduksi tahun 1993. Pesawat berbobot kosong 37.200 kg ini dilengkapi 2 mesin Mikulin AM-3 M-500 dan mampu melesat hingga 1.050 km per jam, serta mampu menjelajah sampai 7.200 km.

Screenshot_2016-06-09-17-22-30_1

Selain Tupolev, Indonesia juga menerima pesawat pembom dari pabrikan Ilyushin, yakni Il-28. Pesawat yang memuat 3 kru ini mulai diproduksi pada 1948 dan berhenti berdinas era 1980-an. Pesawat berbobot 12.890 kg ini dipasang 2 mesin Klimov VK-1A turbojets dan mampu melesat hingga 902 km per jam, dengan kemampuan jelajah hingga 2.180 km. Pesawat ini bisa membawa bom seberat 3.000 kg.

  • 8. Helikopter Mil Mi-4 dan Mi-6

Mil Mi 4 (wikipedia)

Mil Mi 4 (wikipedia)

Selain pesawat, Indonesia juga menerima sejumlah helikopter angkut dari Uni Soviet. Ada dua jenis heli yang diterima TNI AU ketika itu, yakni Mil Mi-4 dan Mi-6. Kedua heli ini merupakan kendaraan angkut paling modern yang dimiliki Indonesia.

Pembuatan Mi-4 dilakukan sebagai respon terhadap H-19 Chickasaw buatan AS yang dipakai selama berlangsungnya Perang Korea. Heli yang dibuat pada 1951 sampai 1979 ini pertama kali diperkenalkan kepada dunia saat berlangsungnya Soviet Aviation Day yang digelar di Tushino.

Secara karakteristik, Mi-4 ini bisa membawa 16 orang tentara atau mengantarkan kargo seberat 1.600 kg ke tempat tujuan. Untuk tenaganya, heli ini dilengkapi sebuah mesin Shvetsov ASh-82V radial engine sehingga mampu terbang dengan kecepatan 185 km per jam dan menempuh jarak sampai 500 km.

Berbeda dengan Mi-4, Mi-6 merupakan heli angkut berat. Jika di era modern, maka heli ini setara dengan Eurocopter AS 332 Super Puma milik TNI AU. Mi-6 diproduksi pada 1960 sampai 1981.

Screenshot_2016-06-09-17-27-52_1

Pada eranya, heli ini dijuluki sebagai pesawat terbesar karena mampu memuat kargo hingga 12.000 kg. Dengan 2 unit mesin jenis Soloviev D-25V turboshaft heli ini memiliki kecepatan maksimal 300 km per jam hingga membuatnya disebut-sebut heli tercepat di dunia. Karena ukurannya yang besar, Mi-6 bisa menampung 90 penumpang atau 70 pasukan terjun payung.

  • 9. Pesawat Angkut Personil Antonov An-12 dan Ilyushin Il-14

Ilyushin Il-14. ©wikipedia.org

Ilyushin Il-14. ©wikipedia.org

Tak kalah pentingnya, Indonesia juga mendapatkan dua jenis pesawat angkut personel. Kedua pesawat itu adalah Antonov An-12 dan Ilyushin Il-14.

Khusus Antonov An-12, pesawat yang diproduksi 1957 hingga 1973 tidak jauh berbeda dengan Lockheed C-130 Hercules buatan Amerika Serikat. Namun, pesawat buatan Uni Soviet itu memiliki box pertahanan di bagian ekornya.

An-12 ini mempekerjakan lima orang kru yang terdiri dari 2 pilot, teknisi, navigator dan operator radio. Pesawat ini mampu menampung hingga 60 orang penumpang, termasuk kendaraan tempur jenis BMD-1.

Screenshot_2016-06-09-17-30-14_1

Pesawat berbobot kosong 28.000 kg itu dilengkapi 4 unit mesin Ivchenko AI-20L atau bisa juga dipasang mesin 4 mesin AI-20M turboprops. Kecepatan maksimal pesawat ini mencapai 777 km per jam dan mampu menempuh jarak hingga 5.700 km (full tank) atau 3.600 km jika seluruh badan pesawat terisi penuh.

Sedangkan Ilyushin Il-14 ini hanya dioperasikan empat orang kru dan mampu menampung hingga 32 orang penumpang. Pesawat berbobot kosong 12.600 kg itu dilengkapi 2 unit mesin Shvetsov ASh-82T 14 berpendingin udara berbentuk silinder.

Kecepatan maksimal pesawat ini mencapai 417 km per jam dan mampu menempuh jarak hingga 1.305 km.

  • 10. Jet Tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30

Sukhoi Su-30. ©wikipedia.com

Sukhoi Su-30. ©wikipedia.com

Terdapat dua jenis pesawat yang dibeli Indonesia, yakni Su-27 dan Su-30. Pesawat ini dikenal oleh negara-negara Barat dengan nama Flanker-A.

Bicara soal kemampuan, Su-27 terpasang radar jenis Phazotron N001 Myech yang berelasi dengan Pulse-Doppler yang bisa mencari, mengunci hingga menembak jatuh pesawat musuh. Jet tempur ini juga memiliki sistem OLS-27 yang mampu mendeteksi lawannya sejauh 100 km.

Screenshot_2016-06-09-17-36-06_1

Secara spesifikasi, pesawat ini memiliki bobot kosong 16.380 kg. Sebagai penggerak, terdapat 2 unit mesin Saturn/Lyulka AL-31F turbofans ditambah tangki yang mampu memuat bahan bakar hingga 9.400 kg. Kecepatan maksimal yang dicapai pesawat ini mencapai 2.500 km per jam dan menempuh jarak sampai 3.530 km. Terdapat 5 pesawat jenis Su-27SK/SKM yang dimilik Indonesia saat ini.

Sedangkan Su-30 dilengkapi dua mesin Saturn AL-31F afterburning yang membuatnya mampu melesat hingga 1.350 km per jam. Dengan kapasitas tangki sebesar 5.270 kg, pesawat ini bisa menjalani 4,5 jam pertempuran udara dengan jarak tempuh 3.000 km. TNI AU memiliki 11 jenis Su-30MK/MK2 yang mulai berdinas sejak September 2013 lalu.

  • 11. Puluhan Helikopter Serang Tercanggih

Helikopter serang AH64E Apache.

Helikopter serang AH64E Apache.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) bertekad memperkuat skuadron helikopter. Hal itu untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AD yang ada sekarang.

Hal itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, saat membuka bazar Sembako di Mabes TNI AD, Jakarta, Selasa (23/2). Bazar bekerja sama dengan Bank Mayapada dan Tahir Foundation dengan menyediakan 2.000 paket sembako.

Mulyono menjelaskan, salah satu alutsista yang sudah dalam tahap pembuatan adalah helikopter Bell 412. Kontrak pembelian helikopter serang AH64E Apache buatan Boeing, Amerika Serikat juga sudah dikerjakan.

Helikopter angkut MI-26 buatan Rusia

Helikopter angkut MI-26 buatan Rusia

Namun, rencana pengadaan helikopter angkut MI-26 buatan Rusia tidak diungkapnya. Demikian juga masalah pengadaan helikopter serbu UH-60 Black Hawk.

“Apache belum datang tahun ini, tapi kontrak sudah dimulai,” kata mantan panglima Kostrad ini.

Ia menegaskan, apa yang dilakukan hanya meneruskan program rencana strategis (Renstra) II periode 2015-2019. Pihaknya tidak menambah alutsista baru, di luar Renstra yang ada.

Helikopter serbu UH-60 Black Hawk (ist)

Helikopter serbu UH-60 Black Hawk (ist)

“Semua alutsista itu lanjutan program. Alutsista roket, meriam, senjata MLRS (multiple launch rocket system) untuk Arhanud, hingga MBT Leopard itu kan lanjutan (renstra I),” tuturnya.

Mulyono menambahkan, akan melengkapi persenjataan MBT Leopard karena selama ini baru berupa armada murni, belum termasuk perlengkapan lainnya. Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkunjung ke Jerman untuk melengkapi pengadaan MBT Leopard.

“Gelar uji penembakan akan segera dilakukan di Jerman. Kita lihat amunisi dan alat komunikasi. Kalau bagus, kita lakukan perjanjian kontrak,” tegasnya.


Selanjutnya: Indonesia Berpotensi Jadi Musuh Utama Amerika Serikat (Bagian 4)

Iklan

2 responses »

  1. […] Sebelumnya: Indonesia Berpotensi Jadi Musuh Utama Amerika Serikat (Bagian 3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s