Singapura, Israelnya Asia Tenggara

Menyambung artikel saya sebelumnya “Antara Indonesia, Malaysia dan Singapura”,  pernah saya sebutkan bahwa: Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua negara serumpun muslim ini.

Sejarah Konflik Indonesia-Malaysia

  • 1963: Pada tahun 1963, terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 (Lihat: Konfrontasi Indonesia-Malaysia).
  • 2002: Hubungan antara Indonesia dan Malaysia juga sempat memburuk pada tahun 2002 ketika kepulauan Sipadan dan Ligitan diklaim oleh Malaysia sebagai wilayah mereka, dan berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan wilayah Malaysia. Sipadan dan Ligitan merupakan pulau kecil di perairan dekat kawasan pantai negara bagian Sabah dan Provinsi Kalimantan Timur, yang diklaim dua negara sehingga menimbulkan persengkataan yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Sipadan dan Ligitan menjadi ganjalan kecil dalam hubungan sejak tahun 1969 ketika kedua negara mengajukan klaim atas kedua pulau itu. Kedua negara tahun 1997 sepakat untuk menyelesaikan sengketa wilayah itu di MI setelah gagal melakukan negosiasi bilateral. Kedua belah pihak menandatangani kesepakatan pada Mei 1997 untuk menyerahkan persengkataan itu kepada MI. MI diserahkan tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketa dengan jiwa kemitraan. Kedua belah pihak juga sepakat untuk menerima keputusan pengadilan sebagai penyelesaian akhir sengketa tersebut.
  • 2005: Pada 2005 terjadi sengketa mengenai batas wilayah dan kepemilikan Ambalat.
  • 2007: Pada Oktober 2007 terjadi konflik akan kepemilikan lagu Rasa Sayang-Sayange dikarenakan lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia, yang dirilis sekitar Oktober
  • 2007: Sementara Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu Kepulauan Nusantara (Malay archipelago), Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi ini sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu hanya mengada-ada. Gubernur berusaha untuk mengumpulkan bukti otentik bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Maluku, dan setelah bukti tersebut terkumpul, akan diberikan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membuktikan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Indonesia.
  • April 2011: Pada bulan April 2011 dua negara ini kembali digegerkan dengan kasus penangkapan nelayan Malaysia yang tertangkap tangan oleh petugas Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Belakangan terungkap bahwa posisi dari penangkapan yang terjadi tidak akurat dikarenakan alat GPS petugas Indonesia yang tidak berfungsi. Pada bulan yang sama, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan didirikannyaMuseum Kerinci di Malaysia. Gedung ini berdiri atas kerja sama Malaysia dengan Pemkab Kerinci, Indonesia. Kedua pihak berharap keberadaan museum akan mempererat hubungan Kerinci-Malaysia. Namun masyarakat Indonesia banyak yang menyayangkan pendirian museum ini.
  • Oktober 2011: Pada Oktober 2011 Komisi I DPR RI menemukan adanya perubahan tapal batas negara di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yaitu Camar Bulan & Tanjung Datuk. Pemerintah Indonesia diminta untuk menginvestigasi masalah ini secara hati-hati.

Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, “Barat harus memastikan bahwa antara Nusantara Melayu ini lemah”.

image

Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi:

  • Pertama,
    Imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India).
  • Kedua,
    Pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu.

Dan pengalaman Indonesia yang kerap mudah diadu domba adalah kunci yang selalu mereka pegang saat zaman devide et impera. Yang juga kita harus faham adalah Thomas Stamford Raffles sendiri seorangFreemason. Menurut Th Stevens dalam bukunya Tarekat Mason Bebas, Raffles pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas di bantara “Virtutis et Artis Amici”. “Virtus” merupakan suatu bantara sementara di perkebunan Pondok Gede di Bogor. Perkebunan itu dimiliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (suhu) di loge “De Vriendschap” di Surabaya.

Raffles pula yang mendirikan Singapura modern yang kini menjadi basis Israel di Asia Tenggara. Agen-agen zionis melalui Singapura adalah penghasut sebenarnya dalam mengeruhkan hubungan sesama muslim Melayu.

Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata.
Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi denganIndonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka membawa banyak uang ke Singapura.

Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakatIndonesia lebih fokus pada isu yang mereka ciptakan. Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasiMalaysia–Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing.

Adanya inflitrasi Zionis di Malaysia juga bukan barang baru. Tahun lalu mantan wakil perdana menteriMalaysia yang juga tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, pernah membeberkan fakta adanya keberadaan intelijen Zionis di markas kepolisian federal Malaysia.

Kala itu bersama dengan Kelompok Muslim, mereka menyatakan memiliki dokumen yang memperlihatkan kemungkinan adanya intelijen Zionis kedalam strategi informasi negara lewat perusahaan kontraktor bernama”Osiassov”, yang melaksanakan proyek pengembangan sistem komunikasi dan teknologi di markas besar polisi federal Malaysia.

Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan “Osiassov” terdaftar di Singapura namun berkantor pusat di ibukota negara penjajah Zionis, Tel Aviv. Menurut Anwar, kehadiran dua mantan perwira tentara Zionis di perusahaan yang bersangkutan, adalah sepengetahuan petugas polisi senior Malaysiadan Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak jaman Syed Ahmad Albar.

image

Bersatunya antara Malaysia dan Indonesia membentuk Imperium Islam Melayu inilah yang sangat ditakuti oleh Zionis. Mereka sadar Melayu adalah potensi kuat dalam membangkitkan Islam dari tenggara Asia, maka itu jalur ini harus dihabisi, apapun caranya.

Bukan bersatu menjadi 1 negara, melainkan bersatu saling membantu dalam bidang apapun, tidak ada perebutan wilayah dan lain sebagainya. Yakinlah, jika umat muslim Melayu tidak kembali ke ajaran Islam sejati, tempat tak ada ruang pada nasionalisme yang memberhalakan bangsa, benih permusuhan itu akan selalu muncul, walau kedua negara itu makmur dan sama-sama bermayoritas muslim.

Kini saatnya saya membahas tentang Singapura. Belum banyak kalangan yang tahu apa kekuatan yang sesungguhnya dari negara yang luasnya lebih kecil dari Jakarta itu. Pada kenyataannya, Singapura dikenal sebagai pusat keuangan di Asia Tenggara. Menurut penelusuran dari berbagai sumber, indikator-indikator ekonomi Singapura kerap menjadi tolak-ukur bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Gambar: dailynews.lk

Gambar: dailynews.lk

Masuk akal, karena negara yang didirikan oleh Lee Kuan Yew ini merupakan basis regional dari berbagai perusahaan multi-nasional negara-negara barat termasuk Amerika Serikat. Bahkan para konglomerat besar Cina dari Indonesia, Hongkong dan Taiwan, juga  menjadikan Singapura sebagai basis regionalnya untuk melancarkan operasi bisnisnya di Asia Tenggara.

Namun tahukan anda bahwa sisi yang berbahaya dari Singapura di masa depan justru pertumbuhan pesatnya dalam bidang pertahanan? Tabloid Intelijen edisi 13-26 Juli 2006, mewartakan bahwa pada tahun 2000-2001 saja anggaran militernya sudah mencapai 4,3 miliar dolar AS. Padahal kita negaranya jauh lebih besar, anggaran militernya pada 2010 diproyeksikan hanya 42 triliun rupiah.

Sekadar perbandingan dari segi peralatan militer, Singapura memiliki empat pesawat jet tempur F-16B, 10 F-18D, 36 F-SC, dan delapan F-5T. Sedangkan Indonesia, hanya punya 12 jet tempur F-16, dengan catatan hanya beberapa yang layak terbang.

Tak heran jika angkatan bersenjata Singapura cukup canggih secara teknologi, karena rata-rata anggaran militernya mencapai 6 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari gambaran sekilas tersebut, jelas Singapura mengidap ketakutan berlebihan atau paranoid sehingga mendorong sektor pertahanan nasionalnya menjadi agenda yang paling utama.

Hal ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa 10 persen dari jumlah penduduk Singapura yang sekarang berjumlah 3,2 juta penduduk ternyata bekerja di bidang militer. 50 ribu personel bekerja full time, dan sekitar 250 ribu lainnya masuk kategori komponen cadangan yang bisa digerakkan kapan saja.

Yang lebih mencemaskan lagi, dalam memenuhi kebutuhannya terhadap peralatan militer berteknologi tinggi, Singapura mengandalkan pada Israel. Secara psikologis, kedua negara memang memiliki ketakutan yang sama. Keduanya sama-sama negara kecil, sama-sama berwilayah sempit, dan berpenduduk pendatang yang bukan asli lokal. Dan dikelilingi oleh negara-negara besar berpenduduk mayoritas Muslim. Nampaknya inilah yang mendasari eratnya kerjasama militer kedua negara.

Ada cerita menarik dari ZA Maulani, mantan Kepala Badan Intelijen  Negara di era Presiden BJ Habibie. Menurut Maulani, pada era militer masih dikuasai oleh  Jenderal Benny Murdani, seringkali Indonesia mengirim personil-personil TNI untuk dilatih di Israel. Dan menariknya, Singapura dijadikan basis untuk memberangkatkan para personil TNI ke Israel secara rahasia.

Artinya, secara resmi TNI dikirim ke Singapura, namun setelah sampai di Singapura, kemudian segala identitas personil TNI tersebut diproses ulang, untuk kemudian diberangkatkan ke Israel dengan identitas baru hasil kreasi aparat militer dan intelijen Singapura.

Berarti, ada semacam konspirasi antara beberapa perwira TNI, para petinggi militer dan intelijen Singapura, dan tentunya pihak Israel.

image

Dari berbagai penelusuran data dan dokumen oleh Tim Riset Global Future Institute, sejak menjadi negara merdeka dan lepas dari Malaysia pada 1965, Singapura memang mengandalkan Israel untuk membentuk tentaranya.

Israel kemudian mengirim beberapa perwira handalnya ke Singapura. Tim pertama dipimpin oleh Elazari, yang bertugas untuk memberi pelatihan mengenai sistem pertahanan dan keamanan dalam negeri.

Tim kedua, dipimpin oleh Mayor Jenderal Yehuda Golan, bertugas untuk membangun infrastruktur militer ala Israeli Defense Force (IDF). Yang menariknya lagi, tim militer Israel tersebut sebelum berangkat ke Singapura dilatih oleh Jenderal Rehavam Ze’evi yang menurut informasi merupakan fundamentalis Zionis.

Kedekatan kedua negara semakin kelihatan jelas ketika pada 1968, tak lama setelah angkatan bersenjata Israel berhasil menaklukkan Mesir dan negara-negara Arab di gurun Sinai, Singapura membeli 72 tank jenis AMX-13 buatan Israel.

Dalam pembangun rudal anti tank, Singapura berkerjasama dengan Israel Aircraft Industries (IAI). Dan karena kerjasama tersebut, Israel bersedia mentransfer teknologi militernya ke Singapura.

Investasi Singapura di Israel hampir sebagian besar dikonsentrasikan dalam sektor teknologi tinggi. Pada 2000-2002, nilai investasi Singapura diperkirakan mencapai 400 juta dolar AS, dan sebagian besar ditanamkan di sektor-sektor industri berteknologi tinggi.

Sekadar informasi, sebagaimana diwartakan oleh Tabloid Intelijen edisi 13-26 Juli 2006, setidaknya dua perusahaan besar bermain dalam bisnis raksasa ini yaitu Temasek Capital TIF Ventures. Masuk akal, karena kedua perusahaan tersebut milik Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura yang berinvestasi di lima perusahaan permodalan Israel.

Bukan itu saja. Kedua negara juga mengikat kerjasama industri melalui Singapura-Israel Industry R&D (SIIRD). Melalui lembaga ini, memberikan 50 persen dananya untuk pengembangan riset bagi perusahaan Israel maupun Singapura.

Operasi Intelijen Singapura di Indonesia

Singapura memiliki badan intelijen, namanya Singapore Intelligence Service (SIS). Menurut beberapa sumber informasi, mereka ini berperan besar dalam membantu Megawati Sukarnoputri menjadi Presiden sejak kejatuhan Suharto pada Mei 1998 lalu.

Kalau kita menelusur lepasnya Indosat ke tangan perusahaan Singapura Singtel semasa Laksamana Sukardi menjadi Menteri BUMN era Megawati, sinyalemen tersebut jadi masuk akal adanya.

Menurut informasi, selain Laksamana Sukardi, Mayor Jenderal Purnawirawan Theo Syafei disebut-sebut merupakan pemain kunci dalam memfasilitasi terjadinya pengalihan asset kepemilikan BUMN ke Singapora. Syafei dikenal sebagai perwira tinggi yang dekat dengan Benny Murdani.

Menurut informasi, para agen intelijen SIS tersebut berlindung atas nama Kedutaan Singapura. Bahkan Tabloid Intelijen di edisi yang sama, menyebut koresponden Straits Times Derwin Pereira sebagai salah satu mata-rantai dari operasi intelijen yang dilancarkan oleh SIS.

Dalam konteks ini, peran SIS harus dibaca sebagai bagian dari mata-rantai konspirasi yang dilancarkan badan intelijen Amerika Serikat CIA dan badan intelijen Israel MOSSAD. Ketiga badan intelijen tiga negara tersebut inilah yang diyakini banyak kalangan telah ikut berperan dalam menjatuhkan Suharto dari tampuk kepresidenan pada Mei 1998.

Mengingat keahlian MOSSAD dalam teknik penyesatan (Deception), maka kita patut bercuriga terhadap peringatan yang dilontarkan angkatan laut Singapura baru-baru ini bahwa ada kelompok teroris yang sedang berencana lakukan aksi perompakan di Selat Malaka. Dalam peringatan tersebut, pihak Singapura menggunakan momentum penangkapan orang-orang Aceh baru-baru ini, sehingga memberi kesan mereka inilah kelompok teroris yang dimaksud.

Namun, dari fakta yang ada, intelijen Israel sangat ahli dalam menerapkan teknik False Flag alias bendera palsu. Operasi ini biasanya dimaksudkan untuk merekrut agen atau operator lapangan dengan tujuan untuk melakukan operasi tipuan yang tentunya dengan menjalankan misi yang juga palsu adanya.

Dalam operasi false flag yang jadi keahlian Israel, MOSSAD seringkali merekrut orang-orang arab yang justru merupakan musuh mereka, dengan menyamar sebagai orang eropa, orang arab atau bangsa lain selain Israel.

Maka kalau ada aksi terorisme seperti pemboman Hotel Marriot, atau Ritz Carlton beberapa tahun yang lalu, maka adanya indikasi keterliban jaringan Al-Qaeda atau Jemaah Islamiyah, rasa-rasanya kita harus bersikap skeptis terhadap versi-versi resmi yang dilontarkan aparat keamanan kita. Karena yang kita kira agen-agen kedua gerakan tersebut, bisa jadi merupakan bagian dari teknik operasi false flag yang diterapkan oleh MOSSAD, CIA dan SIS.

Dalam hal agama, Zionis-Israel merupakan penganut agama Yahudi di tengah-tengah komunitas bangsa-bangsa yang beragama islam.
 Dalam hal Etnis, Zionis-Israel adalah bangsa Yahudi yang berada di tengah-tengah negara tetangga yang mengepungnya yang nyaris seluruhnya warga Arab. Demikian pula Singapura, kebanyakan warga Singapura beretnis orang Cina, walau ada juga yang keturunan India dan Melayu. Cina Singapura dikepung negara-negara tetangga yang hampir seluruhnya merupakan ras melayu.
 Dalam hal wilayah, negara Zionis-Israel berdiri di atas tanah bangsa Palestina. Dilihat dari peta keseluruhan Jazirah Arab, keberadaan Israel demikian rentan dan kecil. Negeri Zionis ini dikepung negara-negara Arab yang luas wilayahnya. Ia minoritas dalam banyak hal, antara lain dari segi geografis, demikian pula Singapura.
Dengan demikian, dilihat dari sisi agama, etnis, maupun geografis, baik Zionis-Israel maupun Singapura memiliki banyak kemiripan.
Menteri pertahanan Goh keng Swee bisa dianggap sebagai salah satu orang Singapura pertama yang meletakkan ide menggunakan jasa Zionis-israel sebagai arsitek pembangunan cetak biru sistem pertahanan dan keamanan Singapura.
” Yang bisa membantu Singapura hanyalah Israel. Sebuah negara kecil yang dikepung oleh negara-negara muslim tapi mempunyai basis militer yang kuat. Hanya Israel yang mampu membangun militer yang dinamis di sini ” papar Goh keng Swee. Setelah itu pemerintah Singapura diam-diam menjalin kontak dengan Israel. Permintaan Singapura disambut hangat negeri Zionis tersebut. Berbagai persiapan digalang kedua belah pihak dengan amat intensif. Sebuah tim rahasia dengan sandi ”Mexicans” pimpinan kolonel Yaakov Elazari dari Israeli Sayerat ( Israel Defence Force, IDF ) dibentuk dan diperintahkan untuk segera ke Singapura. Tim ini mempunyai satu misi penting yaitu membangun cetak biru sistem pertahanan keamanan dalam skala nasional. Salah satu hal yang pertama dilakukan tim ini adalah menciptakan komandan-komandan lapangan yang tangguh bagi tentara nasional Singapura. Bapak Singapura, Lee Kuan Yeuw, dalam biografinya pernah enulis bahwa Israel jauh lebih hebat dan efektif dibanding Amerika. Pada perang Vietnam, demikian Lee, Amerika mengirimkan 3000 sampai 6000 penasihat militernya ke Vietnam Selatan guna membantu Presiden Ngo Dinh Diem, boneka dari paman Sam. Penasehat mliter sebanyak itu ternyata tidak membuahkan hasil. Kekalahan telak pun terpaksa ditelan Amerika dan bonekanya itu dari gerilyawan Vietcong yang pro komunis dengan sangat memalukan. Israel hanya perlu mengirimkan 18 perwiranya untuk membangun angkatan bersenjata di Singapura, Singapura tumbuh menjadi kekuatan militer tercanggih dan termodern di seluruh Asia Tenggara dan pasifik hingga saat ini. Kerja sama di bidang militer kemudian merambah ke bidang-bidang lainnya seperti ekonomi, politik dan budaya. Bulan Oktober 1968, Singapura dan Zionis-Israel secara resmi mengikat kerja sama mereka. Pada tahun 1969 Lee kuan Yew melakukan misi perdagangan resmi dengan Israel. Mei 1969 israel meresmikan kedutaan besarnya di Singapura. Singapura bertekad menguasai teknologi perang modern guna memimpin kekuatan militer di kawasan Asia Tenggara. Untuk itulah, Singapura tidak pernah main-main dalam hal pengembangan sektor pertahanan. Setiap tahun, anggaran militer Singapura mencapai 6 persen dari total produk Domestik Bruto (PDB) negeri itu. Dalam tahun fiskal 2000-2001, nilainya mencapai 4.3 miliar dolar AS. Angka investasi Singapura di Israel tahun 2000-2001 berjumlah 400 juta dolar AS. Atas perdagangan Israel untuk Singapura, Ehud Gonen, menyebutkan bahwa sebagian besar dari total investasi itu ditanamkan di berbagi proyek industri Hi-tech. Sebagai negara kaum Yahudi, Israel memiliki jaringan yang sangat solid dengan orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan yang rapi ini telah mengantarkan kaum Yahudi memegang posisi kunci dalam berbagai bidang kehidupan negara maju di dunia. Bahkan pemerintahan adi kuasa, Amerika Serikat, sebenar-benarnya telah berada dalam genggaman tangan kaum Yahudi sejak dulu hingga sekarang. Tidak ada seorang presiden Amerika pun yang bisa lolos dari pemilihan presiden tanpa mendapat restu dari lobi Yahudi AS. Walau tidak sebulat AS, kondisi serupa terjadi di Inggris, Perancis dan negara-negara kaya lainnya. Dari sinilah Dollar dan Euro mengalir deras masuk ke dalam kas negara pemerintahan Zionis-Israel setiap hari, dua belas bulan dalam setahun.

Usilnya Singapura terhadap Indonesia sudah lama dan berulangkali terjadi, terhadap masalah apa saja, politik, ekonomi, pertahanan dan lainnya. Terakhir adalah komentar terhadap masalah penamaan salah satu kapal perang Indonesia (fregat) dengan nama Usman Harun, pahlawan Indonesia dalam konfrontasi Indonesia – Malaysia puluhan tahun yang lalu. Singapura minta agar penamaaan kapal perang Indonesia jangan dengan nama Usman Harun, karena Singapura menganggap hal itu sebagai beban pasikologis bangsa Singapura. Kalau penamaan terhadap yang lainnya, misalnya Gedung, Singapura tidak akan keberatan.

Aneh…, inilah kalimat yang pantas diketengahkan pada seluruh bangsa Indonesia. Apa urusannya Singapura mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Nama Usman Harun diambil dari nama Usman Hj Mohd Ali dan Harun Said, dua anggota TNI dari Korps Komando Operasi (KKO), yang kini disebut sebagai Korps Marinir, pelaku peledakan bom di Singapura saat konfrontasi dengan Malaysia.

Keduanya tertangkap dan kemudian menjalani hukum gantung, jenasahnya dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta sebagai Pahlawan Nasional. Akibat pemberian nama KRI Usman Harun, muncul berbagai tanggapan dari Singapura.

MenteriLuar Negeri Singapura, K Shanmugam melalui Channel News Asia, mengatakan penamaan KRI Usman Harun yang baru diluncurkan oleh TNI Angkatan Laut itu, melukai perasaan rakyat Singapura, terutama keluarga korban dalam peristiwa pengeboman MacDonald House di Orchard Road, Singapura pada tahun 1965 (Detiknews).

Selalu mencari masalah, Singapura adalah negara kecil,  namun negara kecil ini sangat modern dan kuat. Kekuatan ekonominya sangat menakjubkan, salah satu dari 4 macan Asia, bersama  Hongkong, Korea Selatan dan Taiwan. Kekuatan ekonominya sangat bergantung pada   ekspor dan pengolahan barang impor, khususnya di bidang manufaktur yang mewakili 26% PDB Singapura tahun 2005 dan meliputi sektor elektronik, pengolahan minyak Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu biomedis. Tahun 2006, Singapura memproduksi sekitar 10% keluaran  wafer dunia. Singapura memiliki salah satu pelabuhan tersibuk d dunia dan merupakan pusat pertukaran mata uang asing terbesar keempat di dunia setelah London, New York dan Tokyo. Bank Dunia menempatkan Singapura pada peringkat hub logistik teratas dunia.

Kekuatan militernya juga sangat luar biasa, mempunyai lebih dari 350.000 pria bertugas sebagai serdadu cadangan yang siap beroperasi, dan 72.500 pria lainnya membentuk pasukan nasional dan korps reguler.

Karena kekuatan ekonomi dan militernya inilah, Singapura selalu memandang ‘rendah’ Indonesia, dan pada gilirannya,
Singapura selalu mencari masalah terhadap Indonesia. Banyak konglomerat nakal yang dilindungi, karena regulasi pemerintah Singapura memungkinkan hal itu.

Kejadian yang sangat memalukan dan tidak kooperatif adalah ketika akan ditandatanganinya ‘perjanjian extradisi’  terhadap para koruptor yang hidup nyaman di Singapura, terkesan Singapura tidak bersahabat atau non-kooperatif dan
melecehkan tatakrama diplomasi. Memang Menlu Singapura mengatakan bahwa tingkat keberhasilan pemeberantasan korupsi di Indonesia tergantung pada kondisi internal pemerintah Indonesia dan bukan pada ekstradisi, karena perjanjian ekstradisi hanya merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif hukum dan politik. Padahal perjanjian ekstradisi serupa berjalan dengan baik terhadap Thailand, Pilipina, dan Malaysia. Menurut sementara ahli, Singapura adalah pelindung bagi para konglomerat hitam Indonesia.

Pada era Presiden Soekarno, hubungan Indonesia dengan Singapura juga tidak erat, karena Indonesia memandang bahwa Singapura adalah tempat bagi kekuatan-kekuatan asing atau para pemberontak dan penyelundup narkoba sebagai batu loncatan untuk bersembunyi. Hubungan semakin memburuk, ketika pada tahun 1968, dua marinir Indonesia dikirim ke Singapura meledakkan bom di Orchard Road.

Kedua marinir tersebut, Usman Ali dan Harun Said, yang membuat Singapura ‘tidak berkenan di hati’ terhadap Indonesia menggunakan dua nama tersebut untuk kapal perang Indonesia.

Angkatan perang Singapura menjadi kekuatan tercanggih dan termodern di Asia Tenggara dan Pasifik. Menurut Riza Ridyasmara, dalam Seminar Bedah Buku, Singapura: Basis Israil Asia Tenggara, Tinjauan Ekonomi Politik dan Militer yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyakatan bahwa Israel lebih hebat dibandingkan dengan Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat ketia Amerika Serikat mengirim 6000 penasehat militer ke Vietnam untuk membantu Presiden Ngo Dinh Diem dan gagal. Di Singapura, Israel hanya mengirim
18 Perwira untuk membangun angkatan perang negara kecil ini.

Menurut Riza, hanyalah  Israel yang bisa membantu Singapura negara kecil yang dikepung nagara-negara Muslim tapi memiliki basis militer yang kuat. Hanya Israel yang mampu membangun militer yang dinamis di sana. Kekuatan ekonomi dan pertahanan keamanan Singapura lebih baik di banding Indonesia.

Singapura adalah duri dalam daging bagi Indonesia, kadang-kadang sikapnya jinak-jinak merpati. Kekuatan ekonomi Indonesia memang lemah, namun kekuatan militer Indonesia juga tak bisa diremehkan begitu saja. Indonesia mempunyai cadangan pasukan lebih dari 10 juta orang. Apa yang dikatakan Riza Ridyasmara ada benarnya, bahwa di samping Israel berada di belakang Singapura bila terjadi perang hebat dengan para tentangganya, khususnya Indonesia dan Malaysia, tapi RRC, Amerika Serikat, Australi dan sebagian negara Eropa Barat serta negara-negara yang tergabung dalam Coomonwealth (negara bekas jajahan Inggris), kemungkinan besar akan membela Singapura.

Walaupun Singapura sudah tergabung dalam ASEAN, yang intinya telah bersedia hidup damai dengan para tetangga di Asean, baik damai dalam politik, militer, ekonomi, sosial, budaya, namun tetap saja ‘kepongahan’ Singapura kadang nampak dengan jelas di depan mata.

Uraian di atas telah menunjukkan kekuatan ekonomi dan militer indonesia masih sangat lemah. Namun sebagai negara yang cinta damai, tidak mungkin Indonesia saat ini akan melakukan konfrontasi2 dengan negara tentangga, di samping  berbiaya mahal, juga yang paling menakutkan adalah Indonesia akan dikucilkan oleh internasional. Yang perlu diperkuat oleh Indonesia adalah, Indonesia harus KUAT di bidang ekonomi dan militer, juga kemampuan ‘berdiplomasi’ yang saat ini sangat lemah sekali. Singapura akan berhenti menjadi Israel di Asia Tenggara, bila Indonesia kuat di bidang ekonomi, militer dan diplomasi. Masalah penamaan kapal fregat Indonesia dengan nama ‘Usman Harun’ harus jalan terus, abaikan protes Singapura, karena dengan kukuhnya pendirian Indonesia, Singapura akan berpikir jutaan kali untuk mengadakan konfrontasi dengan Indonesia. Singapura pasti rugi, karena sebagian besar devisa Singapura berasal dari Indonesia.

Berbicara mengenai intelijen Singapura, tak bisa dilepaskan dari keberadaan Ching Cheong. Ia bukan sekadar warga negara Singapura biasa. la merupakan jurnalis kawakan harian The Straits Times yang April 2005 lalu ditangkap pihak keamanan Republik Rakyat China. Ching ditahan di penjara Guangzhou setelah didakwa oleh pihak keamanan Cina yang mengatakan Ching telah melakukan kegiatan spionase di RRC untuk kepentingan Taiwan.

“Pada awal tahun 2000, Ching telah direkrut Biro Keamanan Nasional Taiwan, dan membuka jaringan mata-mata di Hongkong atas perintah Taiwan,” tulis Kantor Berita Xinhua.

Saat itu, lebih dari 500.000 wartawan dari 100 negara telah menandatangani petisi yang meminta pemerintah Cina agar memperlakukan Ching dengan baik. (Kompas, 6 Agustus 2005)

Pihak keamanan Cina agaknya lebih awas ketimbang Indonesia. Bagi mereka, semua warga Singapura harus diawasi dengan ekstra ketat, sebab Cina tahu, Singapura menerapkan gaya Israel dalam membangun jaringan keamanan, pertahanan, dan juga jaringan intelijennya.

Dalam hal keamanan, pertahanan, dan jaringan intelijen, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tiap n warga Singapura dewasa adalah sel tidur, yang bisa dibangunkan kapan saja jika pemerintahan negeri kecil itu mau.

Terhadap seluruh wartawan The Straits Times yang akan ditugaskan di luar Singapura, pemerintah negeri singa ini menerapkan aturan bahwa mereka harus diperiksa dulu oleh SIS (Singapore Intelligence Service). Lolos atau tidaknya sangat ditentukan oleh sikap mau kooperatif mereka dengan SIS.

Alasan itu jugalah yang menyebabkan Kepala Biro The Straits Times di Indonesia, Derwin Parera pada tahun 2002 dinilai oleh komunitas intelijen Indonesia sebagai salah seorang ‘bagian’ dari SIS.

Derwin Parera yang ketika itu mengaku memperoleh dokumen “Operasi Jihad di Asia” dari kelompok radikal kanan (2002), dalam pengamatan Dr. AC. Manullang (seorang pengamat intelijen yang juga mantan salah satu Direktur BAKIN)  mendapatkannya informasi mengenai operasi jihad di Asia tersebut dari kalangan intelijen Singapura.

Intelijen Singapura sebenarnya sudah lama berkeliaran di Indonesia. Salah satu tokoh yang cukup terkenal adalah Kolonel Yoga. Ini bukan tentang Yoga Sugama yang juga perwira intel Indonesia itu. Melainkan Kolonel Yoga Indra Rajayoga, yang keturunan India dan berkebangsaan Singapura. Kolonel Yoga pernah menjabat sebagai Kepala SIS di Jakarta. Di Indonesia, SIS bernaung di bawah Kedutaan Besar Singapura yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ketika bertugas di Indonesia, Yoga memilih beberapa hotel sebagai tempat pertukaran informasi. Tempat favoritnya adalah di kawasan Hotel Hilton, Jakarta. Selain di Hilton, juga di Hotel Ambhara di Kebayoran Baru, Jakarta.

Seorang pengamat intelijen MT Arifin mengatakan, Singapura belajar intelijen dari Israel. Ciri khas intelijen kedua negara itu adalah kecil, canggih dan informasi yang diperoleh mereka sangat akurat. Singapura punya informasi terlengkap dan setiap hari di up-date mengenai Indonesia. Tiap hari, tidak sampai pukul 09.00 WIB, nyaris seluruh surat kabar Indonesia sudah ada di Singapura. Demikian pula dengan majalah dan media cetak lainnya Ciri yang lain adalah intelijen Singapura punya jaringan organisasi hingga unit terkecil yang solid, dan amat rapi. Bahkan CIA pun kalah dalam hal ini.

Terkait dengan penggunaan wartawan The Straits Times, yang discreening dahulu oleh SIS sebelum bertugas ke luar Singapura, M.T. Arifin memandang hal tersebut sebagai hal yang lumrah. Penggunaan wartawan sebagai agen intelijen yang memasok informasi dan data lazim dilakukan oleh dinas intelijen seluruh dunia.

Walau intelijen dan aparat keamanan Singapura dianggap hebat, sebuah peristiwa di medio akhir 2002 menjadi catatan kelam bagi SIS. Ketika itu Presiden Singapura Goh Tok Chong berkunjung ke Indonesia dan sedang mengadakan dialog dengan sejumlah ulama dan tokoh Islam di Jakarta pada malam hari.

Diam-diam, keempat pria yang mengaku pengawal Presiden Singapura itu plesir ke daerah kota. Aparat kepolisian Indonesia yang sedang melakukan operasi penertiban di daerah kota menangkap basah keempat pengawal Presiden Singapura itu tengah bermesraan dengan sejumlah pelacur di sebuah diskotik terkemuka.

Di hadapan para wartawan, Kapolda Metro Jaya Makbul Padmanegara sambil mesam-mesem penuh arti memberikan konfirmasi singkat, “Pengawal kok keluar malam-malam..”. Konfirmasi singkat tersebut dapat dimaknai bahwa yang tertangkap bukanlah pengawal, melainkan agen rahasia Singapura.

Referensi

  • ^http://www.linimedia.com/2015/06/intelijen-singapura-mengintai-indonesia.html?m=1
  • ^http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1620&type=4#.VvFwnNmlaBY
  • ^http://www.halobojonegoro.com/singapura-israel-di-asia-tenggara/#sthash.qIP6cbaZ.dpuf
  • ^http://www.linimedia.com/2015/06/intelijen-singapura-mengintai-indonesia.html?m=1
Iklan

2 responses »

  1. […] Singapura, Negara Israel di Asia Tenggara? […]

    Suka

  2. […] Singapura, Negara Israel di Asia Tenggara? […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s