Iwan Fals. (merdeka.com/dwi narwoko)

Karya Anda tak pernah mati ditelan zaman, dari mana ide membuat karya-karya itu ?

Ya, keseharian begini. Ngobrol kadang-kadang dari media elektronik, televisi, radio tetapi zaman dulu belum ada. Lalu dari cetak koran, majalah, teman-teman ngobrol, imajiner lalu juga kadang-kadang mimpi. Misalnya mimpi ini menarik nih wow… bisa jadi lagu atau apa. Dari sana.

Salah satu contoh lagu dari mimpi itu apa ?

Kaya lagu yang ‘ada yang ada nyatanya tak ada’ lagu apa itu. Ada yang ada antara yang ada sama enggak ada itu ada, jadi kaya begitu. Lalu ada lagi, kita namanya mimpi kan macam-macam, ada yang abstrak, realis, surrealis, ada yang seperti nyata kan mimpi. Kalau lagunya apa, saya juga lupa, tetapi banyak 300 lagu lebih sampai sekarang saya masih bikin lagu. Lagu mana-mana saja, kebetulan saya enggak rajin menulis ini lagu ini lagi apa ya? Kaya Oemar Bakri dulu lagi apa ya? Kaya Bento lagi apa? Asal muasalnya tidak tercatat. Karena di bawah lagu itu, saya enggak catet tanggal, jam berapa, peristiwa apa. Mungkin kelemahan mendokumentasikannya di sana. Jadi sulit juga jawab pertanyaan itu. Lagu-lagu apa saja yang dari koran, mimpi, obrolan begini. Ketika ide ada langsung tulis saja.

Jadi kalau ada ide langsung ambil gitar?

Bisa gitar, bisa musik dulu, bisa syair dulu atau bisa bareng-bareng. Ada gitar nih.. langsung tet.. tet.. kalau sekarang ini kan mudah tinggal kantor buka langsung bikin syair. Cenderung syair dulu. Kalau di kendaraan ada melodi datang, masukan langsung. Rekam. Lalu nanti di dengarkan, tambahkan syair. Macam-macam. Banyak cara.

Lagu Tikus Kantor, Oemar Bakrie menjadi gambaran nyata hingga kini, apakah itu muncul sebagai gambaran Anda mengkritik lewat lagu?

Aduh saya enggak pernah berfikir begitu ya. Tetapi saya sebagai orang biasa yang larut sama keadaan, lingkungan, anak lain. Waktu zaman-zaman saya masih SMA itu dulu ya. Mahasiswa atau saya lupa suasana itu. Dan saya tumbuh, zaman saya dari zaman TVRI, menonton film kartun kaya Mickey Mouse dengan suasana itu. Saya tumbuh pada zaman Soeharto, saya tumbuh politik seperti itu macam-macam lah.Dari semua suasana itu yang dari lingkungan tadi, ya masuk begitu saja ke kepala saya, dan tiba-tiba tikus kantor atau kartun tikus itu tiba-tiba sinergi sama sosial, peristiwa.

Dulukan ada cerita soal minyak, Pertamina atau hutan macam-macamlah. Saya tuh kebetulan waktu itu malas baca juga, sama mungkin sudah terwakili dengan main gitar, bola, main karate, olah raga terus ya sudah. Tetapi saya juga nangkap cerita di luar, cerita tetangga saya, sini gini..gini..gini. Namanya anak muda kalau ngobrol sambil menyanyikan enak, tiba-tiba jadi. Lalu menjadi cerita lain saat di media, direkam jadi simbol. Kalau dulu enggak begitu-begitu amat. Jadi dulu ada cerita tentang film kartun kejar-kejaran tikus sama kucing. Di saat senggang waktu main gitar, ada teman cerita politik, suasana ini, ada marah juga, prihatin bikin.

Bukan cuma tikus kantor, Oemar Bakri, Serdadu, Bento sudah mulai senang baca. Di bawah itu kemesraan, Oemar Bakrie itu ya ini saja gaul saja ke kampus. Demo ikut demo. Ada partai politik kampanye juga kampanye. Heboh-hebohan saja. Berantem ya berantem.

Karya-karya Anda bertema lingkungan juga banyak, apakah ini juga terlahir karena miris dengan kondisi alam Indonesia ?

Awalnya saya enggak mengerti apa pun, sampai saat ini. Cuma banyak keluh kesah di lingkungan, cerita koran, radio dan segala macam juga menggelitik saya untuk belajar. Sampai suatu saat saya diundang ke Kalimantan sama teman ke satu radio. Jadi saya juga tahu, kalau pohon ditebang itu air susah tanah juga jadi sakit, lingkungan jadi ini. Banyak kontradiksi yang akhirnya membuat saya mengerti. Teman saya tahu yang tadi soal tikus kantor jadi banyak undangan-undangan, dikira teman saya itu, saya tahu banyak kan dulu, dia tanya tentang buruh, tentang ini, kalau saya bilang tidak tahukan enggak enak juga. Padahal saya cuma penyanyi biasa. Awalnya saya pura-pura mengerti saja biar dibilang pintar. He.he.he.

Sudah, habis itu lama-lama karena ingin dibilang pintar akhirnya belajar juga, walaupun sampai sekarang masih bodoh juga. Mulai cari data-data. Berapa guru sih? Berapa luas hutan yang rusak. Karena banyak orang mengeluh ke saya. Dianggap bisa disuarakan. Karena saya ingin tetap mendapatkan respon baik dari lingkungan. Saya respon saya nyanyi. Ya sudah dan terus begitu. Sampai akhirnya, sampai sekarang ini.

Sebenarnya ya betul masalah itu menjadi inspirasi saya berkarya, bukan berarti saya suka dengan begitu, tidak. Saya juga melihat hidup tetangga susah, bagaimana coba. Saya diajarkan sebagai orang muslim. Dari kecil sama orang tua saya diajarkan untuk peduli dengan alam, manusia lain dan kenyataan kok mulai timbul pemberontakan kemarahan. Dan puncaknya itu konser saya di batalkan. Akhirnya sama teman-teman bikin Swami ada lagu Bongkar. Tetapi untuk ‘loe bajingan’, enggak. Memang enggak ada niat berontak seperti itu, karena saya tahu pasti kenapa ngomong kalau enggak ngerti persoalan. Bahaya banget itu, bisa menimbulkan fitnah.

Makanya kaget lihat facebook, bahkan di televisi kok lihat diskusi ILC (Indonesia Lawyers Club) itu, wuh serem banget ya. Atau Najwa Sihab ngomong tentang mafia bola , ada ya kaya gitu?. Bagi saya itu, saya itu di kesenian. Jadi bedalah. Tetapi saya enggak suka lihat orang yang disia-siakan.

Karya Anda bisa dibilang kritik secara cerdas ?

Enggak ada. Kritik. Enggak ada. Gue mau kritik ini nih, kebijakannya enggak bener nih, enggak ada. Kalaupun tiba-tiba ada di sana orang makan nasi aking, ya sudah tulis saja. Tiba-tiba ada orang muslim kelakuannya begini, ya sudah tulis saja, nyanyi saja dan enggak ada niat. Ini fakta-fakta saja. Kesaksian-kesaksian saja tinggal dinaikan. Dengan kebencian, enggak ada. Kan saya tahu, saya salah Zaman dulu. Coba saya dikasih tahu dengan kasar saya pasti melawan. Tetapi kalau ngasih tahu dengan baik-baik, saya pasti menurut.

Waktu saya salah, ada orang yang colek, enggak mau mengaku saya. Itukan naluri dari zaman sekolah. Tetapi kalau ada yang kasih tahu dengan benar, baru saya (nurut). Zaman sekolah dulu jangan begini, begini, begini, masa bodoh. Tetapi ada yang bilang ‘kalau loe bolos loe rugi loe ketinggalan’ di jelaskan dengan akal sehat begitu, wow dengan enteng gue akan masuk sekolah. Dengan senang hati. Begitu di marahi, wo hidup-hidup gue, urusan-urusan gue. Loe mau atur-atur. Gue mau masuk penjara kek. Gue mau masuk neraka kek. Itu urusan gue. Tetapi kalau ada yang menyentuh dengan halus, ngomong baik-baik, ‘sudahlah hidup baik-baik’ kalau namanya ada neraka, kan loe gak masuk neraka kalau hidup loe baik. Secara nalar dan bisa menjelaskan secara nalar. Karena itu saya enggak pernah itu, menuding, memaki-maki orang itu.

Saya kaget juga dengan kondisi kritik sekarang ini di media. Tetapi masuk akal juga sekeras sekarang. Di Jakarta Utara minum saja susah. Jadi bagaimana orang enggak marah-marah. Terus asap, asap ini kita enak di sini, orang sana disuruh sabar bagaimana? Akhirnya sudah saatnya orang marah-marah. Karena mungkin enggak bisa sabar, ini omongan ya apa yang lain dari kata sabar. Tetapi sebal juga dengar kata sabar sudah bertahun-tahun. Tiba-tiba dia jadi kriminal enggak bisa disalahkan, karena dia harus bertahan. Tiba-tiba penguasa punya otoritas, terus leyeh-leyeh. Itukan nyebelin juga. Atau pelayanan rumah sakitnya enggak manusiawi, misalnya, itu juga. Yah, jalani saja hidup.

Dan saya gak berdaya kalau ada pers yang bilang saya tukang protes, tukang kritik, saya enggak tahu juga. Tetapi sungguh dari saya enggak ada niat untuk kritik. Saya enggak tahu definisi kritik. Saya jalani hidup saja. Kalau memang sesuai hati saya, saya akan ini. Kalau tidak sesuai saya akan ngomong. Bentuk omongan saya, ya saya kerja di musik, ya saya tuangkan dalam musik, masukan dalam lagu. Akhirnya menjadi apa, ya Allah yang aturlah. Saya sudah lakukan tugas saya. Kalau tangan saya masih bisa meraih untuk memberi manfaat kenapa enggak? Tetapi tangan saya enggak bisa merangkul semua. Banyak hal dan saya pikir semua juga tahu.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam setiap konser membagi-bagikan pohon ?

Ada iklan apa itu ya, perusahaan apa, bagaimana bisa hidup kalau lingkungan tidak hidup. Kita kan tergantung lingkungan, kalau lingkungannya mati bagaimana bisa hidup? Kalau soal lain-lain. Kalau lingkungan bagaimana nih? Selain oksigen, kita belajar kan di sekolah pentingnya pohon, bagaimana mereka mengeluarkan oksigen. Mangrove atau terumbu karang juga memberikan oksigen yang besar. Itupun hancur. Di bom. Saya melihat bahwa pohon-pohon itu punya sejarah panjang pada manusia, saat era animisme, dinamisme sebelum agama-agama Ibrahim masuk. Orang pedalaman kita kalau sakit pergi ke pohon macam-macam. Begitu hormat. Di Mentawai itu tuhan-tuhannya di daun.

Itu sakit hati ya, sedih ya, namanya pohon, rumah tuhannya itu. Orang asing ratusan tahun lalu kaya karena pohon-pohon kita. Terus sampai sekarang berapa menit, ditebang seluas satu lapangan bola. Tetapi kita bisa berbuat. Kalau kita mau tanam. Saya enggak ngerti ini menjadi seksi. Ya sudah saya tanam saja. Kenapa? Karena ini solusi.

Saya melakukan perjalanan pesantren. Banyak kiai-kiai bilang, ‘kamu kalau menanam pohon itu, walau besok kiamat punya satu biji. Kalau itu tumbuh, setiap daun itu zikir, doain kamu’. Makin kuat lagi dong dan saya lihat sendiri, waktu saya ke Bali, orang Bali sangat antusias sama pohon sama ini. Rindu sama pohon. Dalam keadaan perang pun anak-anak perempuan sama pohon jangan diganggu. Makin memperkuat lagi. Tiba-tiba ada gerakan nasional pemerintah, karena hutan ditebang, berapa miliar pohon. Wow makin semangat lagi. Kalau saya yang menanam kan paling hanya satu, dua saja. Coba ikut program SBY itu sejuta pohon, menteri kehutanan MS Kaban saat itu. Itu bisa ribuan pohon bahkan jutaan pohon ditanam. Ya sudah. Ya itu tadi karena dapat zikir, dapat oksigen, dapat doa dan segala macam. Belum lagi buah-buahan. Sehingga saya ada lahan di jonggol ini saya bilang sama istri, ‘bikin usaha kayu atau apa yang bisa apa’ pokoknya bagaimana usaha dari pohon ini tetapi enggak menebang. Hehehehehe.

Ada Penelitian juga. Di Jepang apa ya? Pohon katanya bisa stres. Hahahahahahahaha. Saya punya teman di puncak, suatu saat pohonnya enggak berbuah. Dia marah sama pohonnya, dia maki-maki itu pohonnya, ‘awas loe ya kalau enggak berbuah gue tebang’ habis gitu entah berjodoh apa enggak, tiba-tiba pohonnya itu berbuah banyak. Hehehehehehe. Berarti mengerti. Cerita sederhana itu yang membuat saya mengerti. Lagian apa juga salahnya pohon ditebang? wong bikin sejuk malah ditebang. Percuma banyak uang kalau enggak ada pohon sampai mati. Dan mereka orang pintar. Dari negara terlibat, kiai, kenapa saya enggak terlibat. Sederhana itu. Saya bukan ahli pohon atau apa. Semenjak itu saya ngomong sama manajemen saya pokoknya setiap manggung harus menanam pohon. Itu syaratnya ada di proposal.

Sudah berapa banyak pohon yang Anda tanam ?

Saya enggak menghitung. Paling enggak di proposal satulah, sejelek-jeleknya. Tetapi saya pernah terlibat di gerakan penanaman pohon. Sekarang saya masih tetap sampai sekarang enggak tahu ada tarikan. Karena ini jalan keluar oksigen. Betul masalah sosial memang penting tetapi itu masih bisa kita perdebatkan. Manusiakan orang yang paling gampang beradaptasi tinggal di kutub kita bisa hidup. Orang kutub taruh di sini bisa hidup, tetapi beruang kutub taruh di sini belum tentu bisa hidup. Mati. Atau pohonan tropis kalau taruh di kutub belum tentu bisa hidup. Tetapi manusia, tropis, kutub bisa hidup. Kalau kita enggak manja bisa hidup. Alam bagaimana? Kita manusia kan khalifah, kita yang memimpin bumi. Bukan sok begitu, kita bagian dari alam. Tetapi kenyataannya cuma butuh berapa menit untuk menebang pohon. Selesai. Tetapi untuk tumbuh butuh berapa tahun? Tetapi kalau menebang, selesai. Habis.

Dia enggak mengganggu. Dia cuma mengasih ini. Bahkan daun-daunnya kalau kita mau jatuh bisa jadi makannya dia. Cuma kita takut di daun-daun itu ada ular. Jadi kesadaran itu yang membuat saya menanam pohon. Setidaknya ada titik terang dulu deh. Menanam pohon. Ada jalan keluar. Kita ngomongin BBM itu penting. Politik penting, tetapi kita bisa berdebat. Tetapi lingkungan? Ikan, pohon itu harus dijaga. Kalau enggak. Orang yang merasa diuntungkan dari menebang pohon itupun rugi kalau dia menebang. Dapat duit oke, tetapi mati loe. Banjir, longsor, makan tuh duit. Kan gitu. Penjahatnya juga rugi. Jadi mungkin harus ada konsensus dunia mungkin seperti PBB yang namanya alam enggak boleh diganggu gugat. Alam itu enggak bisa diganggu gugat. Kalau perlu penambangan juga, emas, perak itulah. Bagaimana coba? Kamu tulang mu diambil mau enggak? Jeroan, emas itukan, penguatan di bumi atau bagaimana apa tembaga kalau diambil. Sekarang logika kan saja deh, kalau itu diambilkan tanah turun. Penyangganya itu. Toh kalau sudah diambil kan enggak dimakan. Disimpan di satu bank untuk menguatkan nilai tukar kan? Bukan kasih piring, kasih lauk, sambal. Heheheheheh.

Hanya di taruh di Bank, Peti, sampai ketakutan dijaga tentara. Pintu besi segala macam. ‘itu emas gue ada berapa kilo di dalam. Itukan harus dijaga. Sedangkan tanah yang diambil bagaimana? Hancur. Kan enggak dipakai emas atau minyak, kebuang juga. Perlu mungkin kita belajar sama orang Baduy, sama orang pedalaman. Kalau kita mau harmoni. Kan kutub selatan dan utara kan mulai mencair. Daerah pesisir, ini Jakarta kalau enggak hati-hati, enggak dibikin bendungan lebih dari 10 juta orang terancam loh. Karena tinggi air laut, lebih tinggi dari daratan. Sementara orang ambil air terus banyak penduduk, atau pengelolaannya enggak baik dari gunung masuk, laut masuk, dari hujan masuk, penduduk makin banyak, aduh amit-amit. Mudah-mudahan enggak kejadian. Kalau bener-bener enggak punya kesadaran lingkungan mungkin, enggak ada berapa tahun.

Apakah ini masih sama dengan ide bagi-bagi pohon ?

Itu teknis lah. Saya juga tahu diri dengan simbolik dengan saya bagi pohon atau apa jadi orang ingin tanam pohon atau apa. Teknis itu. Cara untuk mempengaruhi orang supaya menanam pohon. Dan saya gak mungkin bisa menanam sendirian. Sangat tergantung pada pers, orang lain dan teman-teman, penonton. Saya cuman gong saja, pemanis lah. Hehehehe

Sadar dirilah. Bahwa itu penting. Itu penting banget enggak bisa enggak. Tetapi katanya ini zaman sudah menanam, sampai dulu orang mau nikah tuh mas kawinnya pohon katanya. Saya dengar ceritanya. Serakah orang ya, gelondongan-gelondongan. Apalagi data-data Walhi, Green Peace. Sekarang asapnya sudah mulai ke luar. Katanya itu ada yang dibakar biar lebih murah. Uang saja persoalannya. Tidak tahu deh bagaimana. (Wawancara Merdeka.Com dengan Iwan Fals)

Iwan Fals pada cover majalah Rolling Stone Mei 2007. (wikipedia)

Tidak seluruh album yang dikeluarkan Iwan Fals berisi lagu baru. Pada tahun-tahun terakhir, Iwan Fals sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli maupun dengan aransemen ulang. Pada tahun-tahun terakhir ini pula Iwan Fals lebih banyak memilih berkolaborasi dengan musisi muda berbakat.

Banyak lagu Iwan Fals yang tidak dijual secara bebas. Lagu-lagu tersebut menjadi koleksi ekslusif para penggemarnya dan kebanyakan direkam secara live. Beberapa lagu Iwan Fals yang tidak dikomersialkan seperti lagu ‘Pulanglah’ yang didedikasikan khusus untuk almarhum Munir ternyata sangat digemari yang akhirnya direkam ulang dan dimasukkan ke dalam album 50:50 yang beredar pada tahun 2007.

Fans Keluarga Besar Iwan Fals

  • Fals Mania FC-SI (Fama)
  • Ormas Oi (Oi)
  • Komunitas Tiga Rambu (K3R)

Lagu-lagu yang tidak beredar

  • Demokrasi Nasi (1978)
  • Semar Mendem (1978)
  • Pola Sederhana (Anak Cendana) (1978)
  • Mbak Tini (1978)
  • Siti Sang Bidadari (1978)
  • Kisah Sapi Malam (1978)
  • Mince Makelar (1978)
  • Luka Lama (1984)
  • Anissa (1986)
  • Biarkan Indonesia Tanpa Koran (1986)
  • Oh Indonesia (1992)
  • Imelda Mardun (1992)
  • Maumere (1993)
  • Joned (1993)
  • Mesin Mesin Pembunuh (1994)
  • Suara dari Jalanan (1996)
  • Demokrasi Otoriter (1996)
  • Pemandangan (1996)
  • Jambore Wisata (1996)
  • Aku Tak Punya Apa-Apa (1997)
  • Cerita Lama Tiananmen (1998)
  • Serdadu dan Kutil (1998)
  • 15 Juta (1998)
  • Mencari Kata-Kata (1998)
  • Malam Sunyi (1999)
  • Sketsa Setan yang Bisu (2000)
  • Indonesiaku (2001)
  • Kemarau (2003)
  • Lagu Sedih (2003)
  • Kembali ke Masa Lalu (2003)
  • Harapan Tak Boleh Mati (2004)
  • Saat Minggu Masih Pagi (2004)
  • Repot Nasi/Sami Mawon (2005)
  • Hari Raya Bumi (2007)
  • Berita Cuaca (2008)
  • Paman Zam
  • Kapal Bau Pesing
  • Makna Hidup Ini
  • Selamat Tinggal Ramadhan
  • Nyatakan Saja
  • Berputar Putar
  • Air dan Batu
  • Lagu Pegangan
  • Semut Api dan Cacing Kecil
  • Kata-Kata
  • Peniti Benang
  • Pukul Dua Malam
  • Curiga
  • Penjara
  • Belatung
  • Dulu Sekarang dan Selama Nya
  • Bunga Kayu Di Beranda
  • Nyanyian Sopir
  • Bunga Hitam
  • Aku Bergelora
  • Suara dari Jalanan
  • Pepaya
  • Ibuku Matahariku
  • Si Gembala Sapi (Babadotan)
  • Harapan Tak Boleh Mati
  • Oh
  • Bersatulah
  • Join In Jeans & Jackets
  • Indonesia Pusaka
  • Pondokku
  • Reformasi
  • Tuhan
  • Kasih Jangan Kau Pergi (Ft. Bunga)
  • Gila (Ft. Bunga)
  • Maling Budiman
  • Serpihan Surga Pagar Alam
  • Tanah Air Udara dan Api (live)
  • Komunitas Tiga Rambu (live)
  • Birokrasi Semut
  • Rumi Sang Pencerah (Juni 2011)
  • Hentikan! (2011)
  • Isyarat (2011)
  • Gugusan Bintang (2011)
  • Garong Wan Takuup (2011)
  • Cenis Cenos (1990)
  • Polteng “Polisi Tengik” (2012-Lagu Jamming bersama Komunitas OI yang belum sempat direkam (wikipedia)

 Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s