Hubungan Indonesia-India mengacu pada hubungan bilateral antara India danIndonesia. India dan Indonesia adalah negara bertetangga. Kawasan Andaman danKepulauan Nikobar India berbatasan langsung dengan wilayah maritim Indonesia di sepanjang Laut Andaman.

Sukarno dan Jawaharlal Nehru, bersamaIndira Gandhi, Megawati Sukarnoputri dan Guntur. Hubungan diplomatik antara India dan Indonesia sudah hangat sejak awal. Foto: reprografi.wordpress.com via wikipedia

Hubungan antara India dan Indonesia telah terjalin sejak dahulu kala, selama hampir dua ribu tahun lamanya. Pada tahun 1950, Presiden pertama Indonesia – Soekarnomenyerukan kepada rakyat Indonesia dan India untuk “meningkatkan hubungan baik” yang sudah terjalin antara kedua negara “selama lebih dari 1000 tahun” sebelum sementara “terputus” oleh kekuasaan kolonial Eropa.

Pada musim semi tahun 1966, para menteri luar negeri dari kedua negara mulai berbicara lagi dari era hubungan persahabatan. India memiliki kedutaan besar di Jakarta dan Indonesia memiliki kedutaan besar di New Delhi. India menganggap Indonesia sebagai anggota paling pentingASEAN. Kedua negara telah sepakat untuk membentuk kemitraan strategis. Indonesia dan India adalah anggota G-20, E7,Gerakan Nonblok, dan PBB.

Menurut World Service Poll 2013 BBC, 79% orang Indonesia memandang India memberikan pengaruh positif bagi dunia, sementara 21% menyatakan pandangan negatif terhadap India, hal ini adalah salah satu persepsi terbaik terhadap India di dunia.

   

Sejarah

Hubungan antara Indonesia dan India telah dimulai sejak zaman Ramayana, “Yawadvipa” (pulau Jawa) disebutkan dalam epos kuno India, Ramayana. Disebutkan Sugriwa, salah satu jenderal Rama mengirim anak buahnya ke Yawadvipa, Pulau Jawa, untuk mencari Shinta.

Orang India telah mengunjungi Indonesia sejak zaman kuno, dan orang Indonesia kuno (BangsaAustronesia) telah memulai perdagangan bahari di laut Asia Tenggara dan Samudera Hindia. Orang India purba menyebarkan ajaran Hindu dan banyak aspek lain dari budaya India termasuk bahasa Sansekertadan Aksara Brahmi. India telah memainkan peran besar dalam budaya Indonesia, yang merupakan perpaduan dari India, China, Asia Tenggara, dan budaya asli Indonesia. Jejak pengaruh India yang paling terlihat jelas dalam sejumlah besar kata-kata serapan dari bahasa Sansekerta dalam kosa kata Bahasa Indonesia.

Nama Indonesia berasal dari bahasa LatinIndus, yang berarti “India”, dan bahasa Yunaninesos, yang berarti “pulau”. (karena kemiripan budaya di kedua wilayah ini). Nama ini mulai dikenal sejak abad ke-18, jauh mendahului pembentukan Indonesia merdeka. Selama zaman Sriwijaya, banyak orang Indonesia belajar di UniversitasNalanda di India. Indonesia memasuki periode sejarah setelah mengadopsi Aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta dari India. Sebagaimana terbukti dari temuan beberapa prasasti awal yang berasal dari kerajaan Indonesia tertua seperti Yupa dari Kutai, Prasasti Tugu dariTarumanagara dan catatan sejarah Kalingga. Kerajaan bercorak Hindu – Buddha sepertiSriwijaya, Medang, Sunda dan Majapahitadalah pemerintahan yang berkuasa di Indonesia, dan era klasik Hindu-Buddha ini berlangsung dari kurun tahun 200 hingga abad ke-16, dengan kerajaan Hindu terakhir masih tersisa di Bali.

Sepanjang sejarah kedua bangsa, sebagian besar hubungan antara India kuno dan Indonesia berlangsung harmonis dan damai, namun ada satu pengecualian ketika India kuno dan Indonesia terlibat dalam peperangan. Pada 1025 Rajendra Chola, RajaChola dari Coromandel di India Selatan, meluncurkan serangan angkatan laut pada pelabuhan Sriwijaya dan merebut Kadaramdari Sriwijaya dan menempatinya selama beberapa waktu.

Indonesia telah menyerap banyak aspek budaya India sejak kontak pertama hampir dua ribu tahun yang lalu. Dampak yang paling jelas adalah kata serapan bahasa sansekertake dalam Bahasa Indonesia (lihat: kata serapan Sansekerta di Indonesia). Epos India – Ramayana dan Mahabharata – memainkan peran penting dalam budaya Indonesia dan sejarahnya, dan populer di kalangan orang Indonesia sampai hari ini. Dalam teater terbuka Prambanan di Jawa, Muslim Jawa narikan Sendratari Ramayana selama malam bulan purnama. Sebuah contoh dalam pengaruh Hindu-Buddha di sejarah Indonesiaadalah abad ke-9 Borobudur dan Prambanan. Bahkan setelah datangnya ajaran Islam, hubungan antara kedua negara tetap kuat, bukan hanya karena India memiliki populasi Muslim yang signifikan. Arsitektur Islam Indonesia, terutama di Sumatera, telah sangat dipengaruhi oleh arsitektur MughalIndia. Hal ini terlihat jelas dalam arsitekturMasjid Raya Baiturrahman di Aceh danMasjid Raya Medan.

Kekaguman budaya tidak bertepuk sebelah tangan. India juga merasa memiliki kedekatan budaya yang erat dengan budaya Indonesia. Rabindranath Tagore mengunjungi Jawa dan Bali pada tahun 1927 dan ia terpesona oleh budaya Bali dan ajaran Hindu Dharma Bali.

Pada 1945-1949, selama Revolusi Nasional Indonesia dan pembentukan republik, Indiadan Mesir adalah negara-negara paling awal yang mendukung dan mengakui kedaulatan Indonesia, serta membina hubungan diplomatik dengan Republik Indonesia. Selain itu, sebelum kemerdekaan Indonesia,Muhammad Ali Jinnah – pendiri Pakistan – yang pada waktu itu adalah Presiden dari Liga Muslim Seluruh India, mendorong tentara Muslim India yang bertugas di Ketentaraan Kolonial Inggris untuk bergabung dan membantu perjuangan Indonesia melawan Kekaisaran Belanda. Akibatnya, 600 tentara Muslim Angkatan Darat Inggris asal India melakukan desersi untuk mempertaruhkan hidupnya bergabung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. India dan Indonesia secara resmi membuka hubungan diplomatik sejak 3 Maret 1951. India dan Indonesia secara resmi membuka hubungan diplomatik sejak 3 Maret 1951.

Pada tahun 1955, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Presiden Indonesia Soekarno adalah dua di antara lima tokoh pendiri Gerakan Nonblok.

Selama perang India-Pakistan tahun 1965, Indonesia menawarkan bantuan militer kepada Pakistan untuk ‘merebut Andaman dan Kepulauan Nikobar’ dari India untuk mengalihkan perhatian dari fron Kashmir. Akhirnya Indonesia memobilisasi kapal selam untuk membantu Pakistan. Sebuah perjanjian batas laut antara kedua negara dikeluarkan di New Delhi pada 14 Januari 1977.

Ekonomi

Pada tanggal 25 Januari 2011, setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri IndiaManmohan Singh dan mengunjungi Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, India dan Indonesia telah menandatangani kesepakatan bisnis bernilai miliaran dolar dan menetapkan target yang ambisius menggandakan perdagangan selama lima tahun ke depan. Dalam hal pariwisata, Indonesia merupakan salah satu dari hanya 14 negara yang bebas visa untuk memasuki India. Warga India juga mendapatkan visa turis pada saat kedatangan di Indonesia. India juga memiliki hubungan ekonomi lebih lanjut dengan Indonesia melalui perjanjian perdagangan bebas dengan ASEAN, dimana Indonesia menjadi anggotanya.

Presiden Indonesia Soekarno adalah tamu kehormatan yang diundang menghadiri parade tahunan republik India. Pada tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoadalah tamu utama untuk upacara kenegaraan yang sama.

Budaya

Ikatan budaya masih terus berlanjut hingga kini, musik Dangdut yang populer di Indonesia menampilkan pengaruh musik Hindustan. Film Bollywood dan musik India juga populer di Indonesia.[21] Untuk mempromosikan budaya India di Indonesia, Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru didirikan di Jakarta pada tahun 1989, menyediakan layanan perpustakaan dan memberikan pelajaran tentang budaya India, serta mempromosikan seninya seperti Yoga,musik dan tari India.

Busana dari kedua negara juga memiliki beberapa kemiripan, misalnya kain lungi yang mirip sarung Indonesia yang umum dikenakan kaum pria. Makanan dari kedua negara juga memiliki banyak kesamaan seperti Kare yang sebenarnya berasal darikari India, dan Masakan Padang dariSumatera Barat menggunakan rempah-rempah yang sama dengan rempah dalammasakan India, selain itu kue apam adalah kue Indonesia yang dipengaruhi kue India yang juga disebut apam.

Kemiripan aspek kuliner

Jika melacak akar cikal-bakal kuliner Indonesia saat ini, India merupakan salah satu negara yang telah memberikan pengaruh besar, selain Tiongkok.

Sehingga, tak mengherankan, jika menikmati kuliner India yang penuh warna dan kaya rasa, akan mengingatkan kita dengan kuliner negeri sendiri.

India dan Indonesia, masing-masing memiliki budaya dan daerah yang beragam. Namun, dari segi makanan tradisional yang digemari dan mendunia dari kedua negara, kita bisa mengamati, ada kemiripan. Baik dari cita rasa, proses memasak, dan cara makan.

Inilah mengapa, tidak begitu sulit bagi penduduk Indonesia menikmati hidangan khas India, dan sebaliknya. Tidak seperti penduduk negara Barat atau bagian Asia lainnya, yang menganggap cita rasa makanan India ‘ajaib’.

Kemiripan antara kuliner dua negara itu antara lain ada dalam:

  • 1. Penggunaan rempah

Dalam salah satu hidangan, masakan India dan Indonesia pada umumnya menggunakan campuran berbagai rempah-rempah– namun hidangan India menggunakan kuantitas rempah yang  lebih banyak dalam setiap hidangan.

Rempah-rempah. (foto: anisassecretrecipes.com)

Rempah-rempah. (foto: anisassecretrecipes.com)

Jahe, kunyit, cengkeh, dan ketumbar adalah beberapa dari bumbu yang pada umumnya digunakan dalam kedua kuliner. Jika Indonesia memiliki hidangan gulai kambing yang disajikan dengan nasi, India memiliki kari domba yang biasa dimakan dengan roti prata.

Keduanya memiliki cita rasa yang membangkitkan indera perasa sepenuhnya. Ini jugalah yang menjadi khas keduanya secara global.

Nasi

Nasi merupakan makanan pokok kedua negara. India maupun Indonesia dikenal biasa makan olahan nasi, atau makan nasi putih tanak dengan lauk-pauk.

Namun, di Indonesia, nasi memiliki peran yang lebih penting. Sampai-sampai, banyak orang beranggapan ‘belum makan’, jika perut belum terisi dengan nasi, walau sudah mengkonsumsi bahan pangan karbohidrat lainnya seperti roti atau mie.

Nasi goreng Indonesia dan nasi biryani India. (foto: Indochinekitchen.com)

Nasi goreng Indonesia dan nasi biryani India. (foto: Indochinekitchen.com)

 
Inilah mengapa, roti lebih dianggap sebagai makanan ringan, dan mie sering dimakan bersama nasi di Indonesia. Sedangkan, di India roti juga menjadi salah satu makanan pokok sendiri. Pun begitu, kedua negara memiliki hidangan nasi yang mendunia. India dengan nasi biryani, dan Indonesia dengan nasi goreng.

Daging-dagingan (Daging ayam dan kambing).

Daging sapi bukanlah daging paling populer di kedua negara, tidak seperti di negara-negara barat. Di Indonesia, ayam merupakan unggas paling mudah dicari.

Bahkan praktik peternakan unggas pertama terdata dimulai dari Asia Tenggara. Sedangkan, di India, mayoritas penduduknya beragama Hindu, dan tidak mengkonsumsi daging sapi.

Ayam dan kambing pun menjadi daging yang paling umum digunakan dalam hidangan-hidangannya. Indonesia memiliki ayam goreng khas Indonesia, sate, dan sop kambing. India punya ayam tandoori dan kari domba.

Kacang-kacangan

Kacang umum digunakan dalam bahan masakan. Baik sebagai bumbu atau bahan utama masakan.

Di Indonesia, kacang tanah biasanya ditumbuk dan dicampur bumbu– dan digunakan dalam masakan seperti pecel, gado-gado, dan siomay. Sementara kacang merah juga sering digunakan sebagai campuran sop.

Sementara itu di India, ada hidangan yang bernama dal, sajian itu adalah campuran kacang, mentega, dan bumbu-bumbu, dan dimakan sebagai hidangan utama. Kacang yang umum digunakan adalah kacang lentil hitam dan kacang merah.

Untuk hidangan praktis, kacang juga sering dimasak dengan bumbu kari dan dihidangkan dengan nasi di India. Sedangkan di Indonesia, kacang-kacangan biasa digoreng dan menjadi cemilan.

Memasak teknik ‘slow cooker’

Hidangan di kedua negara umum dimasak dalam panci besar, dan dalam waktu lama. Indonesia punya rendang, yang semakin lama dimasak, semakin empuk dagingnya dan semakin meresap bumbunya. Sedangkan, masyarakat India mengenal vindaloo.

Makan dengan tangan

Makan menggunakan tangan lazim di kedua negara. Di India, makan dengan tangan bahkan memiliki nilai tersendiri.

Dikutip Patheos, dalam ajaran Ayuverdic, setiap jari dianggap melambangkan lima elemen. Jempol menggambarkan ruang, jari telunjuk menggambarkan udara, api untuk jari tengah, air untuk jari manis, dan bumi untuk jari kelingking.

Dengan cita rasa makanan dan bumbu makanan yang kaya dari kedua negara, makan dengan tangan juga terbukti meningkatkan indra perasa, yang dipicu oleh syaraf yang turut merasakan temperatur dan tekstur makanan.

Hidangan di kedua negara umum dimasak dalam panci besar, dan dalam waktu lama. Indonesia punya rendang, yang semakin lama dimasak, semakin empuk dagingnya dan semakin meresap bumbunya. Sedangkan, masyarakat India mengenal vindaloo. Makan dengan tangan Makan menggunakan tangan lazim di kedua negara. Di India, makan dengan tangan bahkan memiliki nilai tersendiri. Dikutip Patheos, dalam ajaran Ayuverdic, setiap jari dianggap melambangkan lima elemen. Jempol menggambarkan ruang, jari telunjuk menggambarkan udara, api untuk jari tengah, air untuk jari manis, dan bumi untuk jari kelingking. Dengan cita rasa makanan dan bumbu makanan yang kaya dari kedua negara, makan dengan tangan juga terbukti meningkatkan indra perasa, yang dipicu oleh syaraf yang turut merasakan temperatur dan tekstur makanan.

Kari domba India (foto: thenomadickitchen.com)

  • 2. Eksportir rempah-rempah terbesar dunia

Kemiripan aspek kuliner kedua negera bukan hanya dari cita rasa masakan dan budaya makan. Namun juga status kedua negara sebagai eksportir rempah-rempah terbesar di dunia.

Di negara ASEAN, Indonesia merupakan sumber impor terbesar bagi India. Sebagian besar rempah-rempah yang diekspor di seluruh dunia berasal dari India dan Indonesia. Menurut Forest Product Definition, India merupakan negara produsen nomor satu jinten, jahe, cabe, kunyit dan adas, sedangkan Indonesia merupakan eksportir terbesar kayu manis, cengkeh dan pala.

Bumbu masakan, beserta kopi dan teh mengalami peningkatan nilai pendapatan dari perdagangan bilateral India-Indonesia. Peningkatannya pun pesat, pada perdagangan bilateral, di tahun 2010, pendapatan dari ekspor-impor bahan pangan dari India-Indonesia berjumlah 10,99 persen. Tahun 2011 meningkat menjadi 15,10 persen dan tahun 2012 meningkat menjadi 17,51 persen.

Menurut Makalah Studi dari PT Feedback Infra Indonesia untuk The India Business Forum, kekuatan pertumbuhan impor dari Indonesia untuk komoditas ekspor India tertinggi pada bahan pangan. Dengan persentase mencapai 95 persen. Ini berarti, bahan makanan memiliki potensi paling besar dalam hal ekspor-impor. Ini juga bisa mengindikasikan ada potensi dalam peningkatan kuliner kedua negara.


Referensi

Lihat pula

  • wikipedia, thenomadickitchen.com,Indochinekitchen.com, anisassecretrecipes.com

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s