Kisah Hidup Kartosuwirjo, Antara Kebenaran dan Pemberontakan

Kejahatan politik yang dituduhkan di era Soekarno membawa Kartosoewirjo meregang nyawa di tiang penembakan. Bersama ribuan pengikutnya pria yang bernama asli Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ini berniat merobohkan NKRI dengan melakukan pemberontakan bahkan merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno.

Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo
Imam Negara Islam Indonesia
Masa jabatan
7 Agustus 1949 – 4 Juni 1962
Didahului oleh posisi dibentuk
Digantikan oleh posisi dihapuskan
Informasi pribadi
Lahir 7 Januari 1905
Cepu, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal 5 September 1962 (umur 57)
Kepulauan Seribu, Jakarta,Indonesia
Suami/istri Dewi Siti Kalsum
Agama Islam

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (lahir diCepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 – meninggal di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta,5 September 1962 pada umur 57 tahun) adalah seorang tokoh Islam Indonesia yang memimpin pemberontakan Darul Islammelawan pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga tahun 1962, dengan tujuan mengamalkan Pancasila dan mendirikanNegara Islam Indonesia berdasarkan hukumsyariah.

Sejarah hidup

Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu.

Pada umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse(ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi kalangan bumiputera. Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro(sekolah untuk orang Eropa). Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi. DiBojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiyah. Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo. Pemikiran Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi ajaran-ajaran Islam.

Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School.Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan organisasiSyarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal di rumahTjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo. Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena ia dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.

Karier

S.M. Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia. Ia membuat tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda. Dalam artikelnya nampak pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar kaum buruh bangkit untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas. Ia juga sering mengkritik pihak nasionalis lewat artikelnya.

Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikanKomite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).

Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial.

Masa perang kemerdekaan

Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long marchke Jawa Tengah. Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Karena semua perjanjian yang dibikin pemerintah Belanda menyengsarakan rakyat Indonesia, perjanjian-perjanjian semuanya hanya untuk mengelabui orang orang penting agar mereka taat kepada Hindia Belanda. Maka dari itu Karto menolak mentah mentah semua perjanjian yang diadakan oleh Belanda.

Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri. Pada waktu itu, Sugondo Djojopuspito, yang kenal baik dengan SM Kartosoewitjo dan Amir Sjarifuddin ketika peristiwa Sumpah Pemuda1928 di Batavia, membujuk Kartosoewirjo:Wis to Mas, miliho menteri opo wae asal ojo Menteri Pertahanan utowo Menteri Dalam Negeri (Sudahlah Mas, pilih jadi menteri apa saja, tapi jangan Menteri Pertahanan atau Menteri Dalam Negeri). Kartosoewirjo menjawab: Emoh, nek dasar negoro ora Islam (Tidak mau, kalau dasar negara bukan Islam).

Kartosoewirjo, Imam Negara Islam, pecinta sosialis & Jam Rolex

Kartosoewirjo. Handout/Hari Terahir Kartosoewirjo/Fadli Zon. (merdeka.com)

Walau memimpin Darul Islam Kartosoewirjo bukan berasal dari kalangan santri. Dia dikenal sebagai seorang sosialis yang kemudian tertarik dengan ideologi kanan.

Kartosoewirjo juga bukan berasal dari kalangan jelata. Ayahnya bangsawan dan mantri perusahaan candu. Dia mengecap pendidikan tinggi bergaya Belanda. Sesuatu yang langka saat itu untuk kebanyakan putra pribumi.

Mulai dari sekolah ISTK (Inlandsche School der Tweede Klasse) lalu HIS (Hollandsch Inlandsche School) kemudian ELS (Europeesche Lagere School) hingga sekolah kedokteran NIAS (Nederlands Indische Artsen School).

Setelah lulus ELS di Bojonegoro, Kartosoewirjo kuliah di NIAS. Dia kuliah mulai 1923 dan mengikuti tingkat persiapan selama tiga tahun. Yang menarik, dia sempat dikeluarkan dari NIAS pada 1926. Alasannya karena memiliki buku-buku sosialis dan komunis.

Buku-buku itu diperoleh dari pamannya Mas Marco Kartodikromo, wartawan dan sastrawan yang sangat terkenal. Kartosoewirjo juga ikut aktif dalam berbagai aktivitas kepemudaan. Sebut saja, Jong Java, Jong Islamieten Bond hingga ikut ‘menempel’ pada tokoh legendaris Sarekat Islam, Tjokroaminoto. Dari Bojonegoro, Kartosoewirjo kembali ke Surabaya menjadi asisten pribadi Tjokroaminoto.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, pengetahuan Islam dan kedekatannya dengan para ulama, impian akan Negara Islam Indonesia yang juga dikenal dengan Darul Islam mulai muncul.

Kondisi carut marutnya pemerintahan Indonesia akibat perjanjian Renville seakan memberi jalan bagi ideologi Islam versi Kartosoewirjo dapat terealisasi hingga berhasil diproklamirkan di tahun 1949.

“Kartosoewirjo banyak bersentuhan dengan tokoh kalangan Islam mulai dari Islamieten Bond. Di situ saya kira gagasan Islam mulai diterima apalagi dengan dengan menjadi sekretaris Tjokroaminoto padahal tadinya dikeluarkan dari NIAS karena dianggap komunis,” jelas budayawan Fadli Zon dalam percakapannya kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Kartosoewirjo juga dipercayai memiliki beberapa jimat. Kini tindakan seperti itu tentu tak bisa diterima gerakan Islam garis keras saat ini. Sosok sang Imam pun ternyata tak sepuritan yang dibayangkan. Dia punya jam Rolex yang terkenal mahal. Saat itu rasanya hanya Perdana Menteri Sjahrir yang jamnya Rolex.

“Dulu jam itu diwariskan ke anak bungsu Kartosoewirjo, Sardjono. Tapi rumah Sardjono dulu kemasukan pencuri. Jam itu hilang dicuri,” kata Fadli Zon saat peluncuran buku Hari-hari terakhir Kartosoewirjo tahun 2012 lalu. Sardjono membenarkan kisah itu sambil tersenyum.

Kartosoewirjo, tegas soal ibadah

Sejak munculnya buku kumpulan foto Hari Terakhir Kartosoewirjo diterbitkan oleh Fadli Zon Library, Rabu pekan lalu, muncul informasi baru. Sejak Tentara Nasional Indonesia (TNI) menangkap deklarator Negara Islam Indonesia itu pada 4 Juni 1962, kabar mengenai Kartosoewirjo begitu misterius hingga kini. Bahkan, lokasi kuburannya tidak pasti.

Alhasil, sosok Kartosoewirjo menjelma menjadi mitos. Dia diyakini bisa meramal sebuah peristiwa. Belum lagi dengan dua pusaka, keris Ki Dongkol dan Pedang Ki Rompang, dianggap bertuah dan banyak membantu dalam persembunyiannya.

Menurut Asvi Marwan Adam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), munculnya kumpulan foto hari-hari terakhir Kartosoewirjo seperti bertutur dengan kronologis. Foto itu sudah menunjukkan bagaimana negara memperlakukan hukuman mati kepada orang dianggap pemberontak. Meski begitu, negara memberikan hak Kartosoewiryo bertemu keluarganya sebelum dieksekusi.

Namun, Asvi masih meragukan keaslian kumpulan foto itu, termasuk keterangan di dalamnya. Ini bukan soal bagaimana menafsir sebuah sumber sejarah, namun bagaimana sumber itu perlu diuji keabsahannya.

Sedangkan Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo, meyakini foto-foto diperoleh Fadli Zon lewat lelang. Dia membenarkan lima kakaknya: Muhamad Darda, Tahmid Basuki, Danti, Kartika, dan Komalasari, hadir dalam pertemuan terakhir itu. Dulu, saya sempat punya acara khusus makan bersama keluarga untuk mengenang peristiwa itu, seperti perjamuan terakhir dilakukan Nabi Isa dan murid-muridnya ujar Sardjono.

Ketika ayahnya ditangkap, Sardjono masih berumur sekitar lima tahun. Namun, ia mengaku masih ingat saat dia bersama keluarga dan pasukan ayahnya kerap berpindah-pindah menghindari kejaran tentara. Dari Gunung Galunggung hingga Gunung Bataraguru di Garut, Jawa Barat.

Sardjono mengenang ayahnya sangat tegas menjalankan ibadah meski saat bergerilya. Kartosoewirjo tidak segan menghukum anak-anaknya yang meninggalkan salat. Kadang hukumannya membaca istighfar tiga ribu kali dan diawasi Bapak atau salah satu anggota pasukan.”

Dia belum lupa Kartosoewirjo saban malam mengikuti perkembangan berita melalui radio di gubuknya. Ukurannya cukup besar dengan tenaga dari 40 baterai. Saking beranta, radio itu harus diangkut beberapa orang. Pasukan ayahnya juga suka mencuri dengar dari luar seraya mengendap.

Buat mengusir jenuh, Kartosoewirjo meminta anak buahnya bermain reog atau monolog lucu diiringi gendang kecil. Semoga dengan foto-foto eksekusi ini, mitos Bapak bisa hilang. Ia manusia biasa seperti yang lain, kata Sardjono.

Merdeka.com Sabtu pekan lalu berupaya menyusuri jejak terakhir Kartosoewirjo, mulai dari lokasi penangkapannya di Gunung Galunggung hingga Hunung Geber, Majalaya, Garut. Sayangnya, Sarjono kerap lupa soal tempat-tempat pernah dijejaki ayahnya itu. Maklum saja, saat itu dia masih digendong.

Perintah Kartosoewirjo: Bunuh Soekarno!

Imam Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo memimpin Negara Islam Indonesia. Dia memberontak dan tak mau mengakui pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno mulai tanggal 7 Agustus 1949. Tepat 65 tahun lalu.

Sejatinya, Kartosoewirjo pernah jadi sahabat karibSoekarno . Dulu Soekarno , Muso dan Kartosoewirjo sama-sama ngekos di rumah Tjokroaminoto di Surabaya. Walau sering saling ejek, Soekarno cocok berdiskusi dengan Kartosoewirdjo.

Tapi tiga sekawan itu akhirnya memilih ideologi dan jalan yang berbeda. Musso memimpin pemberontakan PKI Madiun melawan Soekarno . Sementara Kartosoewirdjo berideologi kanan, berseberangan dengan Soekarno yang nasionalis.

Dikutip dari buku karya Holk H Dengel, Darul Islam NII dan Kartosoewirjo, inilah alasan sang Imam tega membunuh Soekarno .

“Di Indonesia ada RI dan NII. Dengan begitu ada dua presiden. Maka dari itu, Soekarno harus dibunuh,” kata Kartosoewirdjo saat memberikan perintah pada anak buahnya.

Seperti terungkap dalam surat tuntutan sidang Kartosoewirjo, upaya pembunuhan terhadap Bung Karno salah satunya terjadi Juni 1961, di daerah Galunggung. Saat itu Kartosoewirdjo memerintahkan kepada Mardjuk seorang bawahannya untuk membunuh Bung Karno.

Perintah sama diberikan kepada Agus Abdullah disertai 11 peluru. Tetapi Agus Abdullah tidak melaksanakan perintah itu. Oleh Mardjuk, perintah pembunuhan dilaporkan kepada Taruna dan Budi, dua sekretaris pribadi Kartosoewirjo. Kepada Mardjuk diberikan gigi Kartosoewirjo sebagai sejenis surat kuasa.

Pada April 1962 Mardjuk memerintahkan kepada Sanusi, Abudin, Djaja, Napdi, dan Kamil untuk membunuh Presiden Soekarno . Pada 14 Mei 1962, pada Hari raya Idul Adha, Sanusi menembakkan pistolnya ke arah PresidenSoekarno selagi salat di halaman Istana.

Pengawal Polisi Presiden Mangil Martowidjojo mengisahkan peristiwa Senin pagi itu. Saat itu, Mangil mengaku sengaja tidak ikut salat. Dia duduk enam langkah di depan Bung Karno.

Dia bersama Inspektur Polisi Soedio duduk menghadap umat. Sementara tiga anak buah Amoen Soedarjat, Abdul Karim dan Soesilo, pakai pakaian sipil duduk di sekeliling Bung Karno. Peristiwa itu cepat sekali.

“Sewaktu umat sedang dalam posisi rukuk, terdengar teriakan keras, seseorang menyerukan takbir. Dari sudut mata saya, nampak dengan sekelebatan, tangan kanan seseorang mengacungkan pistol. Saya langsung lari ke depan, meloncat untuk bisa melindungi Bapak,” kisah Mangil.

Refleks, semua pengawal berlarian menubrukSoekarno . Amoen melindungi Soekarno dengan tubuhnya. Dor! Sebutir peluru menembus dadanya. Amoen terjatuh berlumuran darah.

Dor! Pistol menyalak lagi. Kali ini mengenai menyerempet kepala Susilo. Tapi tanpa menghiraukan luka-lukanya, Susilo menerjang penembak gelap itu. Dua anggota DKP membantu Susilo menyergap penambak yang belakangan diketahui bernama Bachrum. Soekarno bisa diselamatkan, walau dua pengawal presiden dilarikan ke RS.

Dalam sidang, Sanusi Firkat alias Usfik, Kamil alias Harun, Djajapermana alias Hidajat, Napdi alias Hamdan, Abudin alias Hambali dan Mardjuk bin Ahmad dihukum mati.

Percobaan pembunuhan itu bukan yang pertama. Sebelumnya Soekarno juga digaranat di Cikini dan coba dihadang di beberapa tempat. Namun selalu gagal. Kartosoewirjo ditangkap tentara Siliwangi saat bersembunyi dalam gubuk di Gunung Rakutak, Jawa Barat tanggal 4 Juni 1962.

Pengadilan memvonis mati Kartosoewirjo. Soekarno menolak grasi mantan sahabat yang sudah mencoba berkali-kali membunuhnya. Imam besar ini menerima takdirnya di depan regu tembak tentara bulan September tahun yang sama.

Kisah Kartosoewirjo nyaris ditangkap pasukan Idjon Djanbi

Kawilarang — Merdeka.com

Pemberontakan Darul Islam yang dipimpin Kartosoewirjo membuat pusing Komandan Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Evert Kawilarang. Hal itu yang akhirnya mendorong Kawilarang mendirikan sebuah pasukan elite untuk menumpas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Saat itu pasukan reguler sulit bergerak lincah di hutan Jawa Barat yang masih sangat lebat. Kawilarang pun memanggil Idjon Djanbi dan memaparkan rencananya, sekaligus meminta Idjon menjadi pelatih tahun 1952. Idjon menerima tawaran itu. Maka dia menjadi pelatih sekaligus komandan pasukan elite yang awalnya bernama Kesatuan Komando TT III Siliwangi.

Mayor Idjon Djanbi adalah pensiunan Korps Speciale Troepen, pasukan komando Belanda. Nama aslinya Kapten Rokus Bernandus Visser.

Dia bersimpati pada perjuangan Republik Indonesia. Visser meninggalkan dinas ketentaraan, masuk Islam lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu menikah dengan wanita Sunda dan jadi petani bunga di Lembang.

Latihan yang diberikan sangat berat. Dari 400 calon siswa komando, kurang dari setengah yang dinyatakan lulus.

Setelah latihan, mereka ditugaskan untuk menangkap Kartosoewirjo. Pasukan itu dipimpin Letnan Satu Fadillah. Mayor Idjon Djanbi turut serta bersama Komandan TT III Siliwangi Kolonel Kawilarang.

Dalam buku memoarnya, Kawilarang menceritakan pengejaran di bulan Oktober 1955 itu. DI/TII bukan gerilyawan sembarangan, mereka sudah bertahun-tahun hidup di hutan. Sebagian masyarakat juga mendukung gerakan itu sehingga mereka mudah bergerak.

Kawilarang menemukan fakta Kartosuwiryo selalu mendirikan kamp di tengah pepohonan bambu. Jadi saat musuh mendekat mereka tahu dari gesekan di rumpun bambu. Namun saat itu Idjon jatuh sakit, tapi pengejaran terus berlangsung.

“Mayor MI Djanbi jatuh sakit dalam patroli ini dan harus digotong,” beber Kawilarang.

Pengejaran itu sudah sangat dekat dengan Kartosoewirjo. Tapi saat itu nasib baik berpihak pada sang Imam. Banjir besar menghalangi pasukan Komando itu bergerak. Sebenarnya jika mereka menerjang maju, mungkin mereka bisa menangkap Kartosoewirjo.

“Kami tidak mau mengambil risiko. Beberapa bulan sebelumya dua anggota komando hanyut dalam suatu operasi,” kata Kolonel Kawilarang. Maka Kawilarang memutuskan meninggalkan tempat itu. Kartosuwiryo pun lolos.

Eksekusi Kartosoewirjo di Pulau Nyamuk

Masyarakat, terutama peminat sejarah dan sejarawan, barangkali terkejut setelah Fadli Zon meluncurkan bukunya berjudulHari Terakhir Kartosoewirjo di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Eksekusi Kartosoewirjo – Merdeka.com

Buku setebal 91 halaman ini bukan sekadar memuat 81 foto merekam jejak terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu. Mulai dari penangkapan hingga eksekusi dan pemakaman. Namun paling mengejutkan, politikus Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini menyebutkan eksekusi sekaligus penguburan jenazah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berlangsung di Pulau Ubi pada 12 September 1962.

Selama ini, banyak pihak, termasuk keluarga meyakini lelaki yang dijemput ajal pada usia 57 tahun itu ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Onrust. “Sekarang mana yang benar, di Onrust atau Pulau Ubi? Katanya selama ini di Onrust, saya selalu ke sana,” kata Sardjono, putra bungsu Kartosloewirjo dari lima bersaudara kepada merdeka.com di Garut, Sabtu pekan lalu.

Hasil penelusuran merdeka.com menemukan Pulau Ubi yang dimaksud Fadli, sesuai keterangan foto, ternyata ada dua, yakni Ubi Besar dan Ubi Kecil. Dua-duanya sudah tenggelam, bahkan jauh sebelum eksekusi atas Kartosoewirjo. “Pulau Ubi Kecil tenggelam pada 1949 dan Pulau Ubi Besar hilang pada 1956,” ujar Lurah Pulau Untung Jawa Agung Maulana Saleh ketika ditemui terpisah Senin lalu dalam acara Lebaran Betawi di kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ternyata tidak hanya Fadli yang memiliki arsip saat-saat terakhir kematian lelaki kelahiran Cepu, Jawa tengah, itu. Kumpulan foto serupa tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Bedanya, 28 foto ini tanpa keterangan dan ditempel di atas kertas berukuran folio.

Selain arsip foto, ada beberapa dokumen terkait Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan eksekusi mati Kartosoewirjo. Salah satunya menyebutkan lokasi eksekusi dan pusara Kartosoerwirjo di Pulau Nyamuk. Seperti Onrust, Ubi Besar, dan Ubi Kecil, pulau ini di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Tulisan di atas kertas sudah berwarna kekuningan itu menggunakan mesin ketik tanpa kop sebuah lembaga. Dokumen ini merupakan putusan majelis hakim Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Djawa dan Madura diberi judul ‘Pelaksanaan Hukuman Mati’

Mencari pusara Kartosoewirjo

Kartosoewirjo. Handout/Hari Terahir Kartosoewirjo/Fadli Zon — merdeka.com

Bagi Sardjono, foto-foto itu sudah menjawab pertanyaan tentang eksekusi mati Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kisah hari-hari terakhir menjelang ajal, hingga lokasi terakhir pemakaman bapaknya kian benderang. Namun bungsu dari lima saudara ini lebih memilih berdamai dengan nasib. Tidak dendam, juga tidak hendak menggugat pemerintah.

Namun sebagai anak, dia menyesalkan eksekusi mati kepada bapaknya. Apa harus dieksekusi mati, sudah tua seperti itu, dipenjara juga nanti pasti mati, kata dia kepada merdeka.com sambil menikmati makan siang di rumah makan Padang di Garut, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.

Kartosoewirjo ditembak mati pada 5 September 1962. Hari-hari terakhir sang imam menjelang hukuman tembak direkam jelas dalam 81 esai foto lama karya anonim, lengkap dengan keterangan gambar. Jepretan foto-foto itu dicetak dalam buku berjudul Hari Terakhir Kartosoewirdjo karya politikus Partai Gerindera, Fadli Zon. Buku diluncurkan Rabu pekan lalu.

Hingga kini siapa pemotret eksekusi tersebut belum jelas. Fadli Zon mengaku mendapatkan foto dari seorang kolektor. Dia bertemu dalam sebuah acara lelang benda-benda filateli dan numismatik bertajuk Java Auction di Hotel Redtop, Agustus 2010. Dia meyakinkan kolektor itu, foto lebih aman bila disimpan di perpustakaanya, Fadli Zon Library.

Buku setebal 91 halaman itu dianggap telah mematahkan buku-buku sejarah ihwal lokasi eksekusi dan makam sang Imam. Sardjono dan keluarga misalnya, sebelumnya menganggap bapaknya dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Sebelum terbitnya buku itu, dia beberapa kali berziarah ke sana. Tapi kini dia harus berpikir ulang.

Sekarang mana yang benar. Di Onrust atau di Pulau Ubi? Katanya selama ini di Onrust, saya selalu ke sana, kata dia. Dalam keterangan foto, lokasi eksekusi mati dan pemakaman Kartosoewirjo memang ditulis di Pulau Ubi.

Dalam buku diceritakan perjalanan Kartosoewirjo menjelang eksekusi. Foto pertama bercerita tentang pertemuan keluarga, kemudian menampilkan perjalanan di dalam kapal, hingga proses eksekusi di Pulau Ubi. Juru foto mengabadikan lengkap detik-detik menjelang hukuman tembak itu. Begitu pula dengan pemakaman jenazah.

Bila dokumen foto dan keterangan-keterangan itu benar, Sardjono berharap ada penelusuran makam. Tujuannya buat mencari kebenaran lokasi makam. Menurut dia, keluarga mempunyai hak mengetahui lokasi persis pusara bapaknya. Tapi kami ini mau mengadu ke mana. Saya berharap ada yang mau memfasilitasi, dilakukan uji forensik, menggali makam buat mencari kebenaran, ujarnya.

Lalu bagaimana perasaannya setelah melihat foto? Foto itu telah menceritakan semuanya. Masyarakat pasti bisa menyimpulkan bagaimana keadaan saat itu. Kesimpulan saya serahkan kepada masyarakat, silakan mau komentar apa, ujarnya.

Hanya satu permintaannya, di mana sesungguhnya kubur bapaknya itu

Nama Pulau Ubi di Kepulauan Seribu mencuat setelah peluncuran buku Hari Terakhir Kartosoewirjo oleh Fadli Zon Library di Galeri Cipta II, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu. Buku memuat 81 foto detik-detik terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) itu menginformasikan lokasi eksekusi matinya di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, pada 5 September 1962.

Namun, menurut Lurah Pulau Untung Jawa Agung Maulana Saleh, ada dua nama pulau itu, yakni Ubi Besar dan Ubi Kecil. Dalam catatan kelurahan ada Pulau Ubi Kecil dan Pulau Ubi besar, katanya saat ditemui merdeka.com kemarin dalam acara Lebaran Betawi di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berdasarkan dokumen laporan warga di kantornya, Agung memastikan dua pulau itu sudah tenggelam. Data itu merupakan catatan turun-temurun Kelurahan Pulau untung Jawa. Pihaknya memantau pulau-pulau terdekat berdasarkan laporan warga yang berlayar atau mencari ikan. Pulau Ubi Kecil tenggelam pada 1949 dan Pulau Ubi Besar hilang pada 1956, ujar Agung.

Mulanya, Pulau Ubi Besar berpenghuni, namun karena mulai terkikis oleh ombak warga terpaksa pindah. Pilihannya adalah lokasi terdekat, yakni Pulau Untung Jawa. Bedol desa itu juga diketahui dan disetujui oleh pemerintah saat itu.

Catatan perpindahan penduduk itu ditandai dengan sebuah tugu. Di sana tercatat perpindahan berlangsung pada 13 Februari 1954. Lokasi tugu di tengah Pulau Untung Jawa. Informasi itu juga dimasukkan dalam brosur perjalanan wisata oleh Mitra Karya Club, agen yang berkantor di Pulau Untung Jawa.

Sekitar dua tahun setelah kepindahan penduduk, Pulau Ubi Besar sudah hilang, Kata Agung. Sedangkan hasil orolannya dengan sejumlah sesepuh di Pulau Untung Jawa, mereka tidak pernah mendengar Kartosoewirjo dieksekusi di Pulau Ubi. Bahkan, menurut dia, hampir sebagian besar penduduk di kelurahannya hanya mengetahui makam Kartosoewirjo di Pulau Onrust.

Sebelum munculnya buku itu, banyak kalangan meyakini makam Kartosoewirjo di Pulau Onrust, juga bagian dari Kepulauan Seribu. Saya baru tahu tempat eksekusi itu di Pulau Ubi setelah dihubungi Fadli Zon sebelum peluncuran buku, ujar Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo, kepadamerdeka.com, Sabtu siang pekan lalu di Garut, Jawa Barat.

Tenggelamnya pulau Ubi Besar dan Ubi Kecil ini diperkuat oleh keterangan Sobirin, buruh bongkar muat di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Namun, dia tidak tahu kapan kedua pulau itu lenyap.

Selain karena abrasi, Sobirin memperkirakan Ubi Besar dan Ubi Kecil tenggelam lantaran penggalian pasir besar-besaran buat membangun Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten. Seingat saya, pasir dari Pulau Ubi dulu banyak disedot untuk membangun Bandara Soekarno-Hatta, ujar Sobirin ditemui di lokasinya bekerja, Ahad sore lalu.

Situs Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, http://www.bakorsurtanal.go.id masih mencantumkan nama dan koordinat Pulau Ubi Besar. Namun berdasarkan foto satelit, pulau itu sudah tidak ada. Sedangkan situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, http://www.jakarta.go.id, hanya menulis nama Pulau Ubi Kecil, bagian dari wilayah administrasi Kelurahan Pulau Untung Jawa.

Fadli Zon yakin lokasi eksekusi sekaligus pusara Kartosoewirjo di Pulau Ubi. itu berdasarkan foto dan keterangan foto yang diperoleh melalui hasil lelang. “Foto itu milik seorang kolektor,” katanya. Tapi dia menolak mengungkap identitas kolektor itu.

Dia mengakui Pulau Ubi sudah tenggelam. Dia mengaku mendengar soal itu sekitar 1990-an hingga 2000-an. Dia menambahkan stafnya sudah tiga kali ke lokasi, yakni tahun lalu, tiga bulan lalu, dan Ahad pekan lalu. “Menurut cerita Pak Sardjono, sekitar 1963-1964, ada utusan dari Bung Karno menyampaikan eksekusi dilaksanakan di Pulau Ubi,” ujar Fadli.

Suasana bekas camp lokasi Kartosoewirjo yang kini menjadi salah satu obyek wisata kawah Kamojang, di Kawasan Garut-Majalaya Jawa Barat.

Bapak Sardjono merupakan putra bungsu Kartosoewirjo yang ikut serta dalam perjalanan gerilya Kartosoewirjo di Garut-Majalaya, Jawa Barat.

Bapak Sardjono merupakan putra bungsu Kartosoewirjo yang ikut serta dalam perjalanan gerilya Kartosoewirjo di Garut-Majalaya, Jawa Barat.

Suasana bekas camp lokasi Kartosoewirjo yang kini menjadi salah satu obyek wisata kawah Kamojang, di Kawasan Garut-Majalaya Jawa Barat.

Suasana bekas camp lokasi Kartosoewirjo yang kini menjadi salah satu obyek wisata kawah Kamojang, di Kawasan Garut-Majalaya Jawa Barat.

Bapak Sardjono menunjukkan gugusan pegunungan Bataraguru di kawasan wisata kawah Kamojang, di Garut-Majalaya.

Bapak Sardjono menunjukkan gugusan pegunungan Bataraguru di kawasan wisata kawah Kamojang, di Garut-Majalaya.

Pemandangan gugusan pegunungan Bataraguru di kawasan wisata kawah Kamojang, di Garut-Majalaya.

20120909114203-perjalanan-gerilya-kartosoewirjo-008-debby-restu-utomo

Suasana bekas camp lokasi Kartosoewirjo di Kawasan Garut-Majalaya Jawa Barat


NEXT

Iklan

One response »

  1. […] NII (Negara Islam Indonesia) asalnya DI (Darul Islam, diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewi… Kemudian nama NII itu berupa penjelasan singkat tentang proklamasi. Pada tahun 1980-an ketika diadakan musyawarah tiga wilayah besar (Jawa Barat, Sulawesi, dan Aceh) di Tangerang Jawa Barat, diputuskan bahwa Adah Djaelani Tirtapradja diangkat menjadi Imam NII. Lalu ada pemekaran wilayah NII yang tadinya 7 menjadi 9, penambahannya itu KW VIII (Komandemen Wilayah VIII) Priangan Barat (mencakup Bogor, Sukabumi, Cianjur), dan KW IX Jakarta Raya (Jakarta, Tangerang, Bekasi). […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s