Apa itu Panama Papers?

Panama Papers (Dokumen Panama) 

Peta negara yang pejabat negaranya terlibat

Tentang Pembocoran 11,5 juta dokumen (2,6 TB)
Tanggal dokumen 1970-an–2016
Dibocorkan Awal 2016
Kantor berita utama Süddeutsche Zeitung
Artikel terkait Daftar tokoh yang disebutkan dalam Panama Papers
Topik Penghindaran pajak
Panama Papers. — Tempo.Co via Occrp.Org

Panama Papers. — Tempo.Co via Occrp.Org

Panama Papers adalah kumpulan 11,5 juta dokumen rahasia yang dibuat oleh penyedia jasa perusahaan asal Panama,Mossack Fonseca. Dokumen ini berisi informasi rinci mengenai lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan direkturnya. Dokumen tersebut mencantumkan nama pemimpin lima negara — Argentina, Islandia, Arab Saudi,Ukraina, dan Uni Emirat Arab — serta pejabat pemerintahan, kerabat dekat, dan teman dekat sejumlah kepala pemerintahan sekitar 40 negara lainnya, termasuk Brasil, Cina,Perancis, India, Malaysia, Meksiko, Malta, Pakistan, Rusia, Afrika Selatan, Spanyol, Suriah, dan Britania Raya.

Rentang waktu dokumen ini dapat ditelusuri hingga tahun 1970-an. Dokumen berukuran 2,6 terabita ini diberikan oleh seorang sumber anonim kepadaSüddeutsche Zeitung pada bulan Agustus 2015 dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ).

Dokumen bocoran ini kemudian disebarkan kepada dan dianalisis oleh kurang lebih 400 wartawan di 107 organisasi media di lebih dari 80 negara. Laporan berita pertama berdasarkan dokumen ini bersama 149 berkas dokumennya diterbitkan pada tanggal 3 April 2016.

Daftar lengkap perusahaan yang terlibat akan dirilis pada awal Mei 2016.

Latar belakang

Mossack Fonseca adalah badan hukum dan penyedia jasa perusahaan asal Panama yang didirikan tahun 1977 oleh Jürgen Mossack dan Ramón Fonseca. Perusahaan ini menyediakan jasa pembentukan perusahaan di negara lain, pengelolaan perusahaan luar negeri, dan manajemen aset. Perusahaan ini memiliki lebih dari 500 karyawan di 40 negara. Badan ini beroperasi atas nama lebih dari 300.000 perusahaan yang kebanyakan terdaftar di Britania Raya atausurga pajak milik Britania.

Mossack Fonseca bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan terbesar di dunia seperti Deutsche Bank, HSBC, Société Générale, Credit Suisse, UBS, danCommerzbank. Badan ini kadang membantu nasabah bank tersebut membangun struktur yang rumit sehingga kolektor pajak dan penyidik sulit melacak arus uang dari satu tempat ke tempat lain.

Sebelum kebocoran Panama Papers, majalah The Economistmenyebut Mossack Fonseca sebagai pemimpin industri keuangan luar negeri “penuh rahasia”.

Isi Dokumen

Bocoran ini terdiri dari 11,5 juta dokumen yang diterbitkan antara tahun 1970-an dan awal 2016 oleh Mossack Fonseca dari Panama. The Guardian menjulukinya “badan hukum luar negeri terbesar keempat di dunia”. Data berukuran 2,6 terabita ini mencantumkan nama 140 badan luar negeri yang memiliki hubungan dengan pejabat negara. Bocoran dokumen ini dianalisis oleh wartawan di 80 negara.

Gerard Ryle, direktur International Consortium of Investigative Journalists, memperkirakan bahwa bocoran ini akan menjadi “kejutan terbesar bagi industri ekonomi bawah tanah” karena jumlah dokumen yang dibocorkan sangat banyak.

Tokoh

Laporan awal menyebutkan hubungan uang dan kekuasaan antara beberapa tokoh politik ternama dan kerabatnya. Presiden Argentina Mauricio Macri tercantum sebagai direktur perusahaan dagang Bahama. Ia tidak mengungkapkan hal ini ketika masih menjabat wali kota Buenos Aires; saat itu belum jelas apakah jabatan direktur non-pemegang saham perlu diungkapkan ke publik. The Guardian melaporkan bahwa bocoran ini mengungkapkan hubungankonflik kepentingan yang besar antara seorang anggota FIFA Ethics Committee dan mantan wakil presiden FIFA Eugenio Figueredo.

Beberapa pemimpin negara disebutkan dalam Panama Papers, termasuk Presiden Argentina Mauricio Macri, Khalifa bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab, Petro Poroshenko dari Ukraina, Raja Salman dari Arab Saudi, dan Perdana Menteri Islandia Sigmundur Davíð Gunnlaugsson. Selain itu, ada pula mantan Perdana Menteri Georgia (Bidzina Ivanishvili), Irak (Ayad Allawi), Yordania (Ali Abu al-Ragheb), Qatar (Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani), dan Ukraina (Pavlo Lazarenko), serta mantan Presiden Sudan Ahmed al-Mirghani dan Emir QatarHamad bin Khalifa Al Thani, dan lain-lain.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko berjanji kepada masyarakat bahwa ia akan menjual perusahaan permennya, Roshen, saat mencalonkan diri tahun 2014. Bocoran dokumen justru menunjukkan bahwa ia malah mendirikan perusahaan holding luar negeri untuk memindahkan bisnisnya keKepulauan Virgin Britania Raya. Atas tindakan tersebut, ia mampu menghindari pajak di Ukraina senilai jutaan dolar Amerika Serikat.

Pejabat pemerintahan beserta kerabat dekat dan teman dekat berbagai kepala pemerintahan dari kurang lebih 40 negara juga tercantum, termasuk pejabat pemerintah Aljazair, Angola, Argentina, Azerbaijan, Botswana, Brasil, Kamboja, Chili, Cina, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Ekuador, Mesir, Perancis, Ghana, Yunani, Guinea, Honduras, Hongaria, Islandia, India, Israel, Italia, Pantai Gading, Kazakhstan, Kenya, Malaysia, Meksiko, Maroko Malta, Nigeria, Pakistan, Panama, Peru, Polandia, Rusia, Rwanda, Arab Saudi, Senegal, Afrika Selatan, Spanyol, Suriah Taiwan, Britania Raya, Venezuela, dan Zambia. Meski awalnya dinyatakan bahwa Panama Papers tidak mencantumkan warga negara Amerika Serikat, pernyataan tersebut terbukti salah.

Nama Vladimir Putin “tidak muncul di catatan manapun” menurut The Guardian, tetapi surat kabar ini menerbitkan artikel utama tentang tiga teman Putin yang namanya tercantum.The Guardian menulis bahwa keberhasilan bisnis teman-teman Putin “tidak mungkin terjadi tanpa arahan dari Putin sendiri”. Misalnya, surat kabar ini mengutip Sergei Roldugin yang disebut-sebut sebagai “sahabat baik” Putin. Rodulgin adalah pemain cello konser dan sudah mengaku bukan pebisnis. Akan tetapi, Rodulgin “memegang serangkaian aset bernilai sedikitnya $100 juta, bahkan lebih.”

Perdana Menteri Islandia Sigmundur Davíð Gunnlaugsson.

Data ini juga menunjukakn bagaimana Perdana Menteri Islandia Sigmundur Davíð Gunnlaugsson memiliki aset rahasia di bank-bank gagal Islandia yang disembunyikan di balik perusahaan luar negeri. Bocoran dokumen menyebutkan bahwa ia bersama istrinya membeli perusahaan luar negeri Wintris Inc. pada tahun 2007. ICIJ menyatakan bahwa mereka membelinya “dari Mossack Fonseca lewat cabang Landsbankidi Luksemburg, satu dari tiga bank terbesar di Islandia”.  Ia tidak mencantumkan aset tersebut dalam pernyataan kekayaannya saat terpilih sebagai anggota parlemen tahun 2009. Delapan bulan kemudian, ia menjual 50% sahamnya di Wintris kepada istrinya dengan seharga $1. Gunnlaugsson dituntut mengundurkan diri, namun ia mengumumkan lewat siaran langsung bahwa ia tidak akan mundur karena pengungkapan Panama Papers. Ia menyebut Panama Papers “bukan hal baru”. Gunnlaugsson mengaku tidak melanggar hukum apapun, dan istrinya tidak diuntungkan oleh keputusannya.

Tokoh terkenal yang berhubungan dengan badan sepak bola dunia, FIFA, adalah mantan Presiden CONMEBOL Eugenio Figueredo, mantan Presiden UEFA Michel Platini, mantan Sekretaris Jenderal FIFA Jérôme Valcke,

dan mantan pesepakbola Argentina Lionel Messi. Pemeran IndiaAmitabh Bachchan dan Aishwarya Rai Bachchan juga tercantum dalam Panama Papers menurut The Indian Express .

Perusahaan

Kantor Mossac Fonseca. Foto: investigasi.tempo.co

Kantor Mossack Fonseca. Foto: investigasi.tempo.co

Mossack Fonseca mengelola banyak perusahaan selama bertahun-tahun. Jumlah perusahaan aktif yang dikelola mencapai puncaknya, 80.000 perusahaan, pada tahun 2009. Lebih dari 210.000 perusahaan di 21 negara muncul di Panama Papers. Lebih dari separuhnya didirikan di Kepulauan Virgin Britania Raya dan sisanya di Panama, Bahama, Seychelles, Niue, dan Samoa. Selama sekian tahun, Mossack Fonseca menangani klien di lebih dari 100 negara; sebagian besar perusahaan berasal dari Hong Kong, Swiss, Britania Raya, Luksemburg, Panama, dan Siprus. Mossack Fonseca bekerja sama dengan lebih dari 14.000 bank, badan hukum, notaris, dan pihak lainnya untuk mendirikan perusahaan, yayasan, dan trust sesuai pesanan klien. Lebih dari 500 bank mendaftarkan hampir 15.600 perusahaan cangkang bersama Mossack Fonseca. HSBC dan rekan-rekannya mendirikan lebih dari 2.300 perusahaan cangkang. Dexia (Luksemburg), J. Safra Sarasin (Luksemburg), Credit Suisse(Kepulauan Channel), dan UBS (Swiss) masing-masing mengajukan pendirian kurang lebih 500 perusahaan cangkang untuk kliennya, sedangkan Nordea (Luksemburg) mengajukan pendirian 400 perusahaan.

Bocoran

Lebih dari satu tahun sebelum dokumen Panama dibocorkan, surat kabar JermanSüddeutsche Zeitung menerima dokumen terkait Mossack Fonseca dari satu sumber anonim. Hairan ini mulai menerima material dalam jumlah besar; dalam kurun satu tahun, mereka memperoleh data berukuran 2,6 terabita berisi dokumen Mossack Fonseca tentang 214.488 perusahaan luar negeri milik pejabat pemerintahan. Bocoran ini terdiri dari 11,5 juta dokumen yang dibuat antara tahun 1970-an dan akhir 2015 oleh Mossack Fonseca.

Para wartawan berkomunikasi dengan sumber lewat saluran terenkripsi karena ia ingin identitasnya tidak diketahui. “Ada dua syarat. Nyawa saya terancam. Obrolan kita harus terenkripsi. Kita tidak boleh bertemu sama sekali.” Wartawan Süddeutsche ZeitungBastian Obermayer menyatakan bahwa sumbernya memutuskan untuk membocorkan dokumen tersebut karena ia menganggap Mossack Fonseca bertindak secara tidak etis.

Menurutnya, “sumber mengira bahwa kantor hukum di Panama ini membahayakan dunia, dan sumber ingin mengakhirinya. Itu salah satu motivasinya.”

International Consortium of Investigative Journalists memimpin penelitian dan peninjauan dokumen. Mereka mengerahkan wartawan dan staf The Guardian, BBC England, Le Monde, SonntagsZeitung, Falter, dan La Nación serta stasiun TV JermanNorddeutscher Rundfunk dan Suddeutscher Rundfunk dan stasiun TV Austria ORF. Tim wartawan awalnya bertemu di Munich, Lillehammer, London, dan Washington, D.C., untuk menyusun penelitian mereka. Datanya kemudian disebarkan dan dianalisis oleh kurang lebih 400 wartawan di 107 organisasi media di lebih dari 80 negara. Setelah lebih dari satu tahun, laporan berita pertama berdasarkan dokumen ini beserta 149 berkas dokumennya diterbitkan tanggal 3 April 2016.

Ukuran dokumen yang dibocorkan ini mengalahkan Wikileaks Cablegate (1,7 GB), Offshore Leaks (260 GB), Lux Leaks (4 GB), dan Swiss Leaks (3,3 GB). Data bocoran ini terdiri dari surat elektronik, berkas PDF, foto, dan berkas pangkalan data internal Mossack Fonseca. Semua data diterbitkan mulai tahun 1970-an sampai musim semi 2016. Panama Papers mencantumkan nama 214.000 perusahaan. Terdapat folder untuk setiap perusahaan cangkang (shell company) yang berisi surel, kontrak, transkrip, dan dokumen pindaian. Bocoran ini terdiri dari 4.804.618 surel, 3.047.306 berkas format pangkalan data, 2.154.264 PDF, 1.117.026 foto, 320.166 berkas teks, dan 2.242 berkas berformat lain.

Semua data ini harus diindeks secara rapi. Pengindeksan dilakukan menggunakanperangkat lunak berbayar bernama Nuix yang juga dipakai oleh para penyidik internasional. Dokumen menjalani proses OCR oleh komputer berkecepatan tinggi agar datanya dapat dibaca dan dicari secara digital. Daftar tokoh penting diperiksa ulang dengan dokumen yang diproses tadi.

Tahap selanjutnya adalah menghubungkan tokoh, peran, arus uang, dan keabsahan strukturnya.

Dampak

Menanggapi pertanyaan The Miami Herald, Mossack Fonseca mengidentifikasi rezim hukum dan kepatuhan di seluruh dunia yang mengurangi kemungkinan orang-orang memanfaatkan perusahaan luar negeri untuk keperluan penghindaran pajak dan anonimitas total. Mereka mengutip protokolFATF (bagi perusahaan dan lembaga keuangan di sebagian besar negara di dunia) yang mewajibkan identifikasi pemilik sejati semua perusahaan (termasuk perusahaan laur negeri) sebelum membuka rekening dan memulai transaksi.

Setelah diwawancarai The Guardian sebelum dokumen ini bocor, Perdana Menteri IslandiaSigmundur Davíð Gunnlaugsson bersama istrinya mengeluarkan pernyataan terbuka tentang perilaku wartawan yang melanggar privasi mereka dan menegaskan bahwa mereka sudah mengikuti hukum yang berlaku. Gunnlaugsson rencananya akan diminta mengadakan pemilihan umum dadakan oleh parlemen Islandia.

Seorang juru bicara HSBC berkomentar bahwa “[bocoran] ini sangat besar. Ada berkas-berkas yang dibuat 20 tahun lalu, jauh sebelum reformasi besar-besaran HSBC dalam beberapa tahun terakhir.”

Bocoran ini dijuluki sebagai “bocoran terbesar dalam sejarah jurnalisme data” olehEdward Snowden.

Presiden Perancis François Hollandemenyatakan bahwa bocoran ini akan “menaikkan pendapatan pajak dari para pelaku penipuan”.

Reaksi dan investigasi resmi

  • Australia

Australian Tax Office langsung mengumumkan akan menyelidiki 800 warga pembayar pajak di Australia yang menjadi klien Mossack Fonseca. Mereka juga menyatakan bahwa beberapa kasus dapat dilimpahkan ke Serious Financial Crime Task Force.

  • India

Selebriti India seperti Amitabh Bachchan dan Aishwarya Rai Bachchan tercantum namanya dalam Panama Papers. Perdana Menteri India Narendra Modi memerintahkan penyelidikan menanggapi laporan tersebut.

  • Selandia Baru

Departemen Pendapatan Dalam NegeriSelandia Baru mengatakan bahwa mereka berusaha mendapatkan informasi tentang warga pembayar pajak di negara itu yang menjadi klien Mossack Fonseca.

  • Swedia

Otoritas Pengawas Keuangan Swedia menyatakan akan menyelidiki Nordea, salah satu lembaga keuangan terbesar di kawasan Nordik, setelah Panama Papers mengungkapkan bahwa cabangnya di Luksemburg membantu pendirian 400 perusahaan luar negeri untuk klien-kliennya. Menteri Keuangan Magdalena Andersson menyebut tindakan perusahaan tersebut “jahat” dan “tak dapat diterima sama sekali”.

  • Ukraina

Setelah pengungkapan penghindaran pajak oleh Presiden Ukraina Petro Poroshenko,Oleh Lyashko, ketua Partai Radikal, meminta anggota parlemen merintis proses pemakzulan Poroshenko.

Skandal ini muncul di tengah-tengah perseteruan politik antara blok Poroshenko dan partai Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk yang sudah berlangsung selama beberapa bulan; kedua kubu saling melempar tuduhan korupsi terhadap satu sama lain.

  • Britania Raya

Jennie Granger, juru bicara otoritas pajak Britania Raya, HM Revenue and Customs(HMRC), mengatakan bahwa organisasinya sudah menerima “banyak sekali informasi tentang perusahaan luar negeri, termasuk di Panama, dari berbagai sumber yang saat ini sedang menjalani penyelidikan intensif”. Ia juga mengatakan bahwa ICIJ sudah diminta untuk merilis semua datanya kepada HMRC.

Skandal Pajak Panama Papers

Dunia tengah membicarakan kebocoran dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca. Data tersebut terangkum dalam hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), sebuah koran dari Jerman, Süddeutsche Zeitung, dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Adapun Tempo menjadi satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam pengungkapan skandal ini.

Data Panama Papers sebesar 2,6 terabita, yang berisi informasi sejak 1977 sampai awal 2015, tersebut berhasil diungkap ke publik. Dari data tersebut dapat diintip dunia offshore atau dunia tanpa pajak bekerja.

Mossack Fonseca menjajakan kerahasiaan finansial kepada politikus, penipu, mafia narkoba, miliuner, selebritas, dan bintang olahraga kelas dunia, untuk mendirikan perusahaan di negara surga bebas pajak seperti Panama atau British Virgin Island.

Uang terus mengalir di dalam gelombang global tapi terjaga secara rahasia. Tak jarang praktek tersebut mendorong lahirnya banyak modus kriminalitas dan perampokan kekayaan negara dari pajak yang tak dibayar. Semua transaksi tersebut disembunyikan di surga bebas pajak.

Dalam jutaan lembar dokumen itu, tergambar dengan detail sejumlah perjanjian bisnis yang melibatkan perusahaan offshore yang dilakukan sejumlah tokoh kenamaan di dunia. Firma hukum ini memang terbilang kecil. Namun firma tersebut disebut-sebut berpengaruh di Panama. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami, dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Panama Papers menyimpan data surat elektronik, tabel keuangan, paspor, dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah atau yurisdiksi offshore. Di dalam data itu, tersimpan pula kerahasiaan hasil kejahatan, seperti harta hasil curian, korupsi, atau pencucian uang. Setidaknya ada 128 politikus dan pejabat publik dari seluruh dunia yang namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang bocor ini.

Setelah diungkap, dokumen juga menunjukkan bagaimana Mossack secara teratur menawarkan klien mereka untuk membuatkan dokumen dengan tanggal mundur (backdated documents) guna membantu klien mereka mendapat keuntungan dari berbagai perjanjian bisnis mereka. Setiap satu bulan ke belakang, dalam penetapan tanggal dokumen perusahaan mereka, klien harus membayar US$ 8,75 kepada Mossack.

Data tersebut berhasil diungkap pertama kali oleh seorang reporter di Süddeutsche Zeitung. Kemudian ia membaginya dengan ICIJ dan semua media dalam kolaborasi ini. Tak ada media yang diminta membayar untuk memperoleh dokumen tersebut. Dokumen itu kemudian berujung pada sejumlah operasi penggeledahan di Jerman pada awal 2015. Dokumen ini kemudian ditawarkan pada otoritas pajak di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.

Laporan lengkap investigasi ini bisa dibaca di Investigasi Tempo, Panama Papers .Adapun infografis lengkap mengenai nama-nama orang terkenal yang tersangkut dokumen ini bisa dilihat di https://panamapapers.icij.org/the_power_players/.

Tokoh-Tokoh Penting

  • George Soros dan CIA

Konglomerat George Soros dikaitkan dengan organisasi media ICIJ yang mengungkap Panama Papers. — Intelijen.Co.Id

Konglomerat George Soros dikaitkan dengan organisasi media ICIJ yang mengungkap Panama Papers. — Intelijen.Co.Id

Konglomerat Yahudi asal Amerika Serikat (AS), Gorge Soros menjadi nama terbaru yang dikaitkan dengan Panama Papers. Dia diisukan sebagai sosok di belakang kebocoran dokumen terbesar dalam sejarah itu.

Hubungan antara Soros dengan Panama Papers ditarik dari konsorsium jurnalis yang mengulas dan mengumumkan dokumen Panama Papers kepada publik, yaitu International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ).

Seperti yang dicantumkan dalam informasi di laman resminya, ICIJ diketahui menerima sumbangan dana dari Open Society Foundation, sebuah jaringan hibah internasional yang berbasis di New York, AS. Soros yang sering disebut sebagai dalang terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada 1998 merupakan ketua sekaligus pendiri Open Society Foundation.

Bukan hanya Open Society Foundation, ICIJ juga mencantumkan nama Ford Foundation, sebuah lembaga amal yang sejak lama dicurigai memiliki hubungan dengan lembaga intelijen AS, CIA sebagai donatur mereka.

Keterkaitan kedua yayasan ini menimbulkan kecurigaan akan netralitas laporan mengenai Panama Papers yang dilakukan oleh ICIJ.

Pertanyaan ini semakin mengemuka setelah diketahui dari 11,5 juta dokumen yang mereka peroleh hanya ada segelintir warga AS yang muncul dalam daftar, dan sorotan yang begitu besar terhadap tokoh-tokoh yang dianggap sebagai ‘musuh’ bagi Negeri Paman Sam seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Suriah Bashar al Assad. Menurut laporan yang dilansir Zero Hedge, Rabu, (6/4/2016), sampai saat ini hanya 441 nama warga AS yang muncul di dalam laporan ICIJ.

Mengenai hal ini, Direktur ICIJ, Gerard Ryle menyatakan pihaknya tidak berencana untuk mengungkap semua data Panama Papers yang diterima ICIJ kepada publik. Menurutnya, mereka mencoba melakukan jurnalisme yang bertanggung jawab dengan tidak menyebarkan informasi orang-orang yang tidak bersalah

“Kami bukan Wikileaks, kami berusaha menunjukkan bahwa jurnalisme dapat dilakukan secara bertanggung jawab,” kata Ryle dalam sebuah wawancara dengan Wired.

Namun, pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa-siapa saja yang mereka anggap tidak bersalah. Justru sebaliknya, banyak pihak yang mendesak organisasi media itu untuk mengungkap lebih banyak lagi dokumen dari data sebesar nyaris tiga terabyte yang mereka miliki untuk diselidiki bersama-sama.

  • Bashar al-Assad

Bashar al-Assad — Intelijen.Co

Bashar al-Assad — Intelijen.Co

Rezim Bashar al-Assad berhasil berkelit dari sanksi internasional dan mendanai perang di Suriah melalui perusahaan bayangan. Hal ini terungkap dalam bocoran Panama yang dikutip dari koran Perancis, Le Monde.

Pada Senin (4/4), Le Monde memberitakan, ada tiga perusahaan Suriah yang menggunakan jasa firma hukum Panama Mossack Fonseca yang terungkap dalam bocoran jutaan dokumen, yaitu Pangates International, Maxima Middle East Trading, dan Morgan Additives Manufacturing.

Ketiga perusahaan itu menggunakan jasa Mossack Fonseca untuk menciptakan perusahaan cangkang di Seychelles. Menurut Le Monde, perusahaan cangkang ini digunakan untuk “mengelak dan sanksi internasional yang diterapkan sejak awal perang.”

Ketiga perusahaan ini diganjar sanksi oleh Amerika Serikat karena memberikan suplai minyak untuk digunakan rezim Assad, termasuk sebagai bahan bakar militer dan armada udara Suriah. Lebih dari 250 ribu orang tewas dalam perang di Suriah yang kini memasuki tahun kelima.

Le Monde mengatakan, bocoran dokumen yang dipublikasi Consortium of Investigative Journalists, ICIJ, Ahad lalu menunjukkan Mossack Fonseca masih melayani satu dari tiga perusahaan Suriah, Pangates, selama sembilan bulan setelah sanksi dijatuhkan.

Nama sepupu Assad, Rami Makhlouf, yang juga diganjar sanksi, muncul dalam bocoran dokumen Panama. Mahkhlouf disebut memiliki perusahaan di negara-negara surga pajak.

Salah satu perusahaan Makhlouf adalah Drex Technologies SA yang terdaftar di British Virgin Islands tahun 2000, melalui Mossack Fonseca. Baru pada tahun 2011, Mossack Fonseca memutuskan hubungan dengan Makhlouf, sesaat setelah revolusi Suriah pecah.

  • Putin

Presiden Rusia Vladimir Putin jadi bulan-bulanan media dunia meski tak masuk daftar Panama Papers. (Intelijen.Co via Russia Today)

Presiden Rusia Vladimir Putin jadi bulan-bulanan media dunia meski tak masuk daftar Panama Papers. (Intelijen.Co via Russia Today)

Putin “Dihajar” Media Dunia meski Tak Tercantum di Panama Papers

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menjadi bulan-bulanan media dunia terkait bocoran skandal pajak Panama Papers. Tapi, dalam data 11,5 juta dokumen yang dibocorkan kelompok jurnalis itu tidak tercantum nama Putin secara pribadi.

Foto Presiden Putin sempat muncul di halaman depan sejumlah media dunia seperti The Guardian, Mail Online, Business Insider, BBC, dan media dunia lainnya.

Tapi, isi artikel tidak menyebutkan Putin sebagai subjek yang disebut terlibat skandal pajak yang dibocorkan firma hukum Panama dengan bocoran data yang dikenal sebagai Panama Papers.

Isi artikel itu justru berisi pemimpin dan tokoh dunia lain yang memang masuk di daftar Panama Papers, seperti Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron, pemain sepak bola Lionel Messi, dan para tokoh lain.

Beberapa media dunia, terutama yang berbasis di Inggris telanjur menuduh Putin korupsi, meski isi artikel tentang bocoran Panama Papers tidak mencantumkan nama Putin.

Setelah beberapa jam, foto Putin akhirnya dihapus dari halaman depan sejumlah publikasi internet top, seperti Guardian, dan Independent. Aksi bulan-bulanan media dunia terhadap Putin itu memicu kecaman di media sosial.

“Anda menyatakan bahwa Putin tidak tercantum, Anda melanjutkan untuk menggunakan fotonya. Propaganda anti-Putin mesin Barat dalam ayunan penuh!,” bunyi komentar Mothibi Phosa II, di bawah artikel Business Insider.

Citra Putin Tidak Tergoyahkan oleh Panama Papers

Politisi oposisi dan aktivis anti korupsi Rusia Alexei Navalny menuturkan, fakta pencucian uang para politisi dunia yang dibocorkan melalui Panama Papers, tidak akan mengubah pandangan publik tentang citra Presiden Vladimir Putin.

Hal ini diungkapkan Nalvany terkait masuknya nama Grey Cardinal sebagai salah satu kepala negara yang memiliki aset perusahan bodong untuk menghindari pajak terbesar menurut dokumen Mossack Fonseca tersebut.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa Putin memang korup. Jadi tentu saja, secara menyeluruh kasus ini tidak akan mengubah persepsi umum tentang Putin. Saya rasa itu juga yang menjadi alasan, orang-orang tidak terlalu tertarik dengan bocoran (Panama Papers) tersebut,” tukasnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Senin (5/4/2016).

Navalny berujar setidaknya Panama Papers menunjukkan kepada dunia bahwa tuduhan yang diacungkan kepada mantan intelijen Rusia (KGB) itu benar. Masyarakat juga jadi mengetahui trik yang dipakai orang nomor satu di Negeri Beruang Merah dalam menyimpan kekayaannya.

“Sudah jelas bahwa tidak akan ada konsekuensi yang dirasakan di dalam negeri. Tapi banyak dari bank yang terlibat tercatat di bursa saham Eropa, itu yang ke depannya pasti akan jadi masalah. Orang-orang di luar sana pasti akan menindak bank tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, bagi kelompok oposisi pemerintahan petahanan, Panama Papers ini diharapkan akan menjadi senjata ampuh untuk mengkritik Putin.

“Kami akan menilik dan menyelidiki dulu dokumen ini dan akan mulai memprosesnya untuk menuntut konsekuensi (atas perbuatan Putin)” tandas dia.

  • Tatiana Navka

download

Tatiana Navka — Tempo.Co via Dailymail.Co.Uk

Tatiana Navka, istri diplomat Rusia Dmitry Peskov Sergeyevich menjadi sorotan setelah skandal Panama Papers terkuak. Sejumlah wajah-wajah cantik pasangan dari pemimpin dan politikus dunia ikut menjadi klien firma hukum Mossack Fonseca, atau diduga menikmati uang dari penggelapan pajak pasangannya.

  • Michel Platini

Presiden Federasi Sepakbola Eropa (UEFA), Michel Platini. Tempo.Co via Reuters.Com

Presiden Federasi Sepakbola Eropa (UEFA), Michel Platini. Tempo.Co via Reuters.Com

Bertambah lagi tokoh sepak bola yang terlibat dalam skandal Panama Papers. Setelah Lionel Messi, kini Presiden UEFA nonaktif, Michel Platini, juga disebut memiliki rekening di Bank Panama, seperti yang dilaporkan otoritas Swiss, negara tempatnya menetap, seperti yang diakui pengacaranya dalam sebuah wawancara dengan koran Prancis, Le Figaro, Selasa, 5 April 2016.

“Memiliki rekening bank atas nama perusahaan bukan sesuatu yang ilegal selama dilaporkan dan itulah masalahnya sekarang,” kata sang pengacara.

Wawancara tersebut muncul sehari setelah mencuatnya skandal dokumen “Panama Papers”, yang dibocorkan sebuah firma hukum Panama, Mossack Fonseca, sehingga memicu penyelidikan karena dikhawatirkan ada permainan uang tidak sah, seperti pencucian uang, oleh politikus dan tokoh-tokoh terkenal lain dari seluruh dunia.

Platini kini tengah mengajukan permohonan banding atas hukuman enam tahun tak boleh terlibat di sepak bola internasional. Hukuman itu dijatuhkan FIFA terkait dengan pembayaran sebesar 2 juta franc Swiss atau sekitar Rp 26 miliar sebagai suap terhadap mantan.

Panama dikenal sebagai negara yang tak memungut pajak tinggi sehingga banyak tokoh penting memilih menyimpan uangnya di negara Amerika Tengah itu. Dalam laporan dari Mossack Fonseca, disebut ada 11 juta data yang bocor. Sebanyak 20 di antaranya bintang sepak bola, termasuk Messi.

Platini membantah berbagai isu tersebut serta menyatakan semua uang dan kekayaannya tak pernah mangkir dari pajak karena ia selalu melaporkan kekayaannya ke dinas pajak Swiss. Ia disebut telah mendirikan perusahaan bernama Balney Enterprises sejak 2007, yang disinyalir sebagai badan yang digunakan hanya untuk mencuci uang.

  • Lionel Messi

Pesepakbola Barcelona Lionel Messi (kiri) memenuhi panggilan sidang untuk menjawab pertanyaan dalam kasus penggelapan pajak di pengadilan Gava, Spanyol (27/9). Messi dan ayahnya mendapatkan surat panggilan dari pengadilan Spanyol untuk menjelaskan dugaan penggelapan pajak sebesar Rp 61 miliar ($ 5,3 juta) . (Tempo.Co via AP Photo)

Pesepakbola Barcelona Lionel Messi (kiri) memenuhi panggilan sidang untuk menjawab pertanyaan dalam kasus penggelapan pajak di pengadilan Gava, Spanyol (27/9/2015). Messi dan ayahnya mendapatkan surat panggilan dari pengadilan Spanyol untuk menjelaskan dugaan penggelapan pajak sebesar Rp 61 miliar ($ 5,3 juta) . (Tempo.Co via AP Photo)

Lionel Messi membantah dia terlibat dalam pembelian perusahaan fiktif di Panama untuk penggelapan pajak seperti yang dilaporkan harian Spanyol, El confidencial. Dia pun telah memerintahkan pengacaranya untuk mengambil langkah hukum terhadap harian yang berbasis di Madrid itu.

“Dengan menghormati semua pihak, keluarga Messi telah menginstruksikan kepada pengacara kami untuk menganalisis tindakan hukum yang mungkin kami ambil terhadap media yang mempublikasikan tuduhan itu,” tulis pernyataan resmi keluarga Messi seperti dilansir oleh laman Mirror.

Harian El Confidencial, dengan mendasarkan diri pada “Panama Papers” yakni bocoran dokumen finansial sebuah firma hukuma asal Panama, Mossak Fonseca, mengabarkan bahwa Lionel Messi dan ayahnya, Jorge Messi, mengakuisisi sebuah perusahaan abal-abal di Panama, Mega Star Enterprise, melalui sebuah perusahaan penyangga yang berada di Uruguay. Harian itu menunjukkan sebuah dokumen akuisisi perusahaan dengan tanda tangan yang disebut milik Messi dan ayahnya.

Pembelian perusahaan abal-abal itu kabarnya dilakukan Messi sehari setelah otoritas pajak Spanyol mengendus dugaan penggelapan pajak senilai 4 juta euro oleh penyerang Barcelona itu. El Confidencial menyebut Messi terlibat dalam pembuatan jaringan penggelapan pajak.

Messi, lewat pernyataan keluarganya, membantah tudingan itu. Dalam pernyataan resminya, dia mengatakan perusahaan yang dimaksud tak pernah membuka rekening ataupun menerima uang dari Messi ataupun perusahaan yang menjadi pengelola dana milik Messi. Karena itu, mereka menilai pemberitaan media itu sebagai sebuah kebohongan dan menjatuhkan citra penyerang bertubuh mungil itu.

“Keluarga Messi menjelaskan bahwa Lionel Messi tak pernah terlibat dalam pembuatan jaringan penggelapan pajak, pencucian uang, dan lain sebagainya seperti yang dituduhkan,” tulis pernyataan itu.

Messi dan Ayahnya sendiri saat ini sedang menghadapi gugatan di pengadilan Spanyol karena masalah penggelapan pajak. Mereka dituding tak membayarkan pajak penghasilan sang pemain senilai 4 juta euro dari hasil iklan sejumlah produk.

Dalam bocoran catatan firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca, Messi dan ayahnya, Jorge Messi, merupakan pemilik sebuah perusahaan di Panama bernama Mega Star Enterprises Inc.

Perusahaan ini menambah daftar perusahaan cangkang milik Messi yang sedang diselidiki di Spanyol atas tuduhan penggelapan pajak. Jasa Mossack Fonseca kerap dipakai oleh orang-orang kaya, mulai pesohor hingga penipu, ketika mendirikan perusahaan di Panama atau negara surga bebas pajak lainnya. Tujuannya untuk menghindari pajak di negara asalnya dan penyelidikan penegak hukum.

Mega Star Enterprises disebut menampung jutaan uang dari kontrak hak citra Messi.

Bukan cuma Messi, melainkan laporan itu juga mencatat ada 20 pesepak bola dari Barcelona, Real Madrid, dan Manchester United yang juga menggunakan layanan Mossack Fonseca ketika mendirikan perusahaan di yurisdiksi bebas pajak (offshore). Penyerang Leicester City, Leonardo Ulloa, disebutkan menggunakan Fonseca ketika masih bermain di Argentina pada 2008.

Tokoh-Tokoh Indonesia

Luhut Binsar Panjaitan (Intelijen.Co via Kompas.Co)

Luhut Binsar Panjaitan (Intelijen.Co via Kompas.Co)

Pemerintah Selidiki Warga Indonesia Terkait “Panama Papers”

Pemerintah Indonesia menanggapi serius dokumen hasil investigasi tentang kejahatan keuangan dunia yang bertajuk “Panama Papers”.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pihaknya akan mempelajari informasi itu terlebih dahulu.

“Saya belum tahu persis gimana-gimananya, tetapi sudah saya suruh untuk investigasi itu,” ujar Luhut di kantornya, Selasa (5/4/2016).

Materi yang diinvestigasi, lanjutnya, terutama informasi soal adanya warga negara Indonesia yang disebut dalam dokumen itu atas kejahatan keuangan, seperti pengemplangan pajak.

“Kalau dia belum bayar pajak, ya kita akan suruh dia bayar pajak,” ujar Luhut. Panama Papers adalah nama dokumen yang dibocorkan koalisi wartawan investigasi internasional pada Minggu (3/4/2016) kemarin.

Dokumen itu meliputi data transaksi rahasia keuangan para pimpinan politik dunia, skandal global, dan data detail perjanjian keuangan tersembunyi para pengemplang dana, pengedar obat-obatan terlarang, miliarder, selebriti, bintang olahraga, dan lainnya.

Terdapat 2.961 nama individu ataupun perusahaan yang muncul saat kata kunci “Indonesia” dimasukkan. Selain itu, pada laman yang sama pun, muncul 2.400 alam.

Daftar Pengusaha Indonesia dalam Panama Papers

Kantor firma hukum Mossack Fonseca terlihat di Panama City, 4 April 2016. Sekitar 800 nama pebisnis dan politikus Indonesia termasuk dalam daftar klien Mossack Fonseca. Mereka masuk dalam daftar itu karena pernah menyewa Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan di yuridiksi bebas pajak di luar negeri (offshore). Tempo.Co via Reuters.Com

Kantor firma hukum Mossack Fonseca terlihat di Panama City, 4 April 2016. Sekitar 800 nama pebisnis dan politikus Indonesia termasuk dalam daftar klien Mossack Fonseca. Mereka masuk dalam daftar itu karena pernah menyewa Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan di yuridiksi bebas pajak di luar negeri (offshore). Tempo.Co via Reuters.Com

Sekitar 800 nama pebisnis dan politikus Indonesia termasuk dalam daftar klien Mossack Fonseca, sebuah firma hukum asal Panama, yang kemarin bocor. Selain mencantumkan nama-nama asal Indonesia, dokumen finansial itu memuat sejumlah kepala negara (mantan dan yang masih menjabat), pebisnis internasional, dan tokoh dunia. Mereka masuk dalam daftar itu karena pernah menyewa Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan di yuridiksi bebas pajak di luar negeri (offshore).

Bocoran dokumen yang kini dikenal sebagai The Panama Papers itu kemarin dipublikasikan secara serentak oleh 100 media di seluruh dunia. Tempomerupakan satu-satunya media di Indonesia yang tergabung dalam kolaborasi lintas negara ini. Sejak setahun lalu, 370 jurnalis dari 76 negara—diorganisasi oleh The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ)—menelisik 11,5 juta data di dokumen itu. Dokumen ini pertama kali didapat oleh sebuah koran dari Jerman,SddeutscheZeitung.

Mossack Fonseca adalah sebuah firma hukum kecil namun amat berpengaruh di Panama. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami, dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun langganan masuk daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia bertebaran dalam dokumen Mossack. Pemilik grup Lippo, James Riady, misalnya, tercatat sebagai pemegang saham di sebuah perusahaan bernama Golden Walk Enterprise Ltd. Perusahaan itu didirikan dengan bantuan Mossack Fonseca di British Virgin Islands pada 2011. Putranya, John Riady, juga tercatat sebagai pemilik Phoenix Pacific Enterprise Ltd di BVI. Ketika dimintai konfirmasi, salah seorang keluarga Riady memberikan keterangan off the record.

Nama lain yang muncul dalam daftar ini adalah Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang. Dia tercatat sebagai pemegang saham perusahaan offshore bernama Azzorine Limited. Nama Fransiscus tak langsung tercatat sebagai klien Mossack Fonseca. Dia terafiliasi lewat BOS Trust Company (Jersey) Ltd, yang menjadi klien sejak 2013.

“Azzorine? Saya enggak tahu,” kata Franciscus ketika ditanya soal ini, kemarin. Meski begitu, dia berjanji akan mengecek ihwal keterkaitan perusahaan itu dengan dirinya. Belakangan, setelah memeriksa dokumentasinya, Fransiscus membenarkan. “Iya benar, itu memang perusahaan saya,” katanya. Dia menegaskan bahwa Azzorine adalah perusahaan tanpa investasi, yang disebutnya “perusahaan satu dolar”. Dia juga memastikan bahwa dia taat membayar pajak di Indonesia.

Pengusaha RI Masuk Panama Papers

Dokumen rahasia yang terkenal dengan sebutan Panama Papers menguak aksi tipu-tipu ratusan tokoh yang terdiri dari kepala negara, politisi, pebisnis, selebriti, dan olah ragawan menyembunyikan hartanya.

Dalam dokumen itu, dipublikasikan aksi ribuan orang kaya di berbagai negara yang melakukan pencucian uang dan praktek kotor lainnya. Termasuk ratusan nama  dari Indonesia.

Dokumen itu milik Mossack Fonseca, firma hukum yang kantor pusatnya di Panama, yang bocor ke wartawan koran dari Jerman SüddeutscheZeitung.

Media tersebut membagi dokumen itu ke International Consortium of Investigative Journalists dan 100 organisasi pers dari seluruh dunia yang kemudian bersama-sama melakukan investigasi. Satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam proyek investigasi ini adalah Tempo.

Pada Senin, 4 April 2016, ratusan media itu mempublikan hasil investigasinya dengan judul Panama Papers.  Memang, dokumen yang diperoleh konsorsium jurnalis global ini mengungkapkan keberadaan perusahaan di yuridiksi bebas pajak (offshore companies) yang dirahasiakan.

Berikut modus yang dilakukan para orang kaya yang melakukan praktek kotor itu:

  1. Perusahaan cangkang (shell companies). Mossack Fonseca membuat perusahaan cangkang yaitu perusahaan yang digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan. Sang pemilik biasanya menyewa orang untuk berperan sebagai manajemen perusahaan. Total ada 214.488 nama perusahaanoffshore di Panama Papers yang terhubung dengan orang-orang dari 200 negara.
  2. Pusat keuangan perusahaan di yuridiksi bebas pajak (offshore financial centre). Ini tempat transaksi keuangan rahasia di British Virgin Islands, Macao, Bahama, dan Panama. Orang-orang kaya itu menyimpan dana mereka di sini dan dijamin kerahasiaannya. Transaksi keuangan difasilitasi pajak yang rendah hingga bebas pajak.
  3. Saham dan obligasi atas nama (bearer shares and bonds). Saham dan obligasi atas nama merupakan solusi untuk menyembunyikan kepemilikan orang kaya dan perusahaan dengan cara memindahkan uang dalam jumlah besar dengan mudah.
  4. Pencucian uang. Pencucian uang termasuk membersihkan uang “kotor” agar dapat digunakan tanpa memunculkan kecurigaan. Koruptor yang memiliki banyak uang tunai dapat mengirim uangnya ke offshore financial center.  Uangnya kemudian diubah ke obligasi atas nama dan dimiliki oleh perusahaan cangkang.

Panama Papers Ada Hubungan dengan Tax Amnesty

Presiden Joko Widodo, memberikan arahan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional III Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2016 di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta, 29 Maret 2016. Jokowi menemui para pimpinan berbagai satuan di lingkungan DJP untuk memberikan arahan utamanya terkait arah penerimaan pajak 2016 yang ditargetkan sebesar Rp1.360 triliun. Tempo.Co

Presiden Joko Widodo, memberikan arahan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional III Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2016 di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta, 29 Maret 2016. Jokowi menemui para pimpinan berbagai satuan di lingkungan DJP untuk memberikan arahan utamanya terkait arah penerimaan pajak 2016 yang ditargetkan sebesar Rp1.360 triliun. Tempo.Co

Presiden Joko Widodo masih enggan berkomentar soal skandal perusahaan offshore yang terungkap lewat Panama Papers. Menurut dia, skandal tersebut menyangkut banyak faktor yang belum selesai dibahas di kabinet.

“Nanti saya sampaikan kalau sudah final,” ujar Jokowi selepas meresmikan Pelabuhan Tobelo di Halmahera Utara, Rabu, 6 April 2016.

Kata Jokowi, Panama Papers berkaitan dengan kebijakan pengampunan pajak yang diusulkan pemerintah. Aturan tersebut diketahui masih belum dibahas bersama DPR.

“Ini kaitannya dengan tax amnesty (pengampunan pajak) juga,” kata Jokowi. Sayangnya, dia tidak menjelaskan keterkaitan Panama Papers dengan usulan tersebut.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pengampunan pajak digunakan untuk merangsang wajib pajak agar dana yang disimpan di luar negeri kembali ke Tanah Air. Salah satunya ditempatkan di negara bebas pajak, seperti Panama dan British Virgin Island.

Bambang mengatakan sudah meminta Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi mempelajari data The Panama Papers. Tujuannya untuk mencocokkan dengan data yang didapat dari otoritas pajak negara-negara maju kelompok G-20. “Yang pasti kami ingin menelusuri aset milik orang Indonesia yang belum pernah dilaporkan dalam surat pemberitahuan tahunan pajak,” kata Bambang, kemarin.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengaku baru mempelajari data itu. “Pemerintah akan investigasi itu,” kata Luhut di Jakarta, kemarin. Jaksa Agung M. Prasetyo secara terpisah menyatakan akan berkomunikasi dengan Dirjen Pajak. “Kalau ada kasus, kan pasti muaranya lewat kejaksaan,” ujarnya.

Sebanyak 11,5 juta dokumen Mossack yang bocor tersebut diselisik oleh 370 jurnalis dari 76 negara, yang ikut dalam The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), sejak setahun lalu. Tempo merupakan satu-satunya media di Indonesia yang tergabung dalam kolaborasi lintas negara ini. Bocoran dokumen itu dipublikasikan secara serentak oleh 100 media di seluruh dunia, mulai Senin lalu.

Tempo mendapati, setidaknya ada 899 individu dan perusahaan Indonesia yang tercatat dalam dokumen itu. Dua di antaranya adalah Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi “Boy” Thohir dan politikus NasDem Johny G. Plate. Boy, yang menyebut penggunaan jasa firma hukum dalam pembuatan perusahaan di luar negeri sebagai hal yang lumrah. Tapi dia membantah penggunaan firma asing itu merupakan langkah untuk menghindari pajak. Sedangkan Johny Plate membantah memakai jasa Mossack. “Kenal aja enggak,” katanya, kemarin.

Memiliki perusahaan offshore tak otomatis bisa dikategorikan ilegal. Mossack, yang memiliki lebih dari 30 kantor cabang di seluruh dunia, menawarkan jasa membuat perusahaan di yurisdiksi bebas pajak, seperti British Virgin Islands, dan bisa menyamarkan kepemilikan perusahaanoffshore kliennya agar tak mudah dilacak.

Heboh Panama Papers, DPR Percepat Pembahasan Tax Amnesty

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Ade Komarudin menuturkan terkuaknya skandal dokumen finansial kepemilikan ratusan perusahaan offshore, yang diungkap dalam Panama Papers, tak ada hubungannya dengan kepentingan pihaknya mempercepat pembahasan dan pengesahan undang-undang pengampunan pajak atau tax amnesty.Perusahaan offshore adalah perusahaan yang didirikan di yurisdiksi bebas pajak.

“Tidak ada urusan, yang pasti saya masukkan agenda utama dalam rapat pengganti badan musyawarah (bamus),” ujar Ade saat ditemui di gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 6 April 2016.

Ade mengatakan dia selalu meresponstax amnesty dengan positif dan ingin segera mempercepat proses pembahasan dan pengesahannya. Dia pun menyebut tax amnesty sebagai prioritas. Terkait dengan masih adanya kemungkinan sejumlah fraksi yang tak setuju dengan tax amnesty, menurut Ade, belum bisa disimpulkan. “Ada masalah, tinggal dibahas, belum bisa disimpulkan. Nanti diserahkan ke alat kelengkapan, misal ke Komisi XI,” katanya.

Sementara itu, Ade berujar, data yang paling valid tentang kepemilikan perusahaan offshore di negara tax havens bukan berasal dari Panama Papers. “Data yang paling valid bukan dari Panama Papers. Ada patokan yang resmi. Insya Allah di Dirjen Pajak ada semua datanya,” tuturnya.

Ratusan perusahaan tercantum namanya dalam sebuah bocoran dokumen finansial berskala luar biasa dan melibatkan berbagai kepala negara, baik mantan maupun yang masih menjabat, serta politikus dan pengusaha besar dunia, termasuk Indonesia. Mereka semua terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang sengaja didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak (tax havens).

Dalam daftar, ada 15.600 perusahaan papan nama (paper companies), yang dibuatkan oleh bank untuk klien, yang ingin keuangan mereka tersembunyi. Dokumen ini diketahui berasal dari sebuah firma hukum kecil, tapi amat berpengaruh di Panama, yang bernama Mossack Fonseca. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami, dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Firma adalah salah satu pembuat perusahaan cangkang (shell companies) terbaik di dunia. Perusahaan cangkang adalah sebuah struktur korporasi yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan. Total ada 214.488 nama perusahaan offshoreyang tercantum dalam dokumen yang bocor ini. Ratusan ribu perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dari 200 negara.

Data ini mencakup surat elektronik, tabel keuangan, paspor, dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia pemilik akun bank dan perusahaan di 21 yurisdiksi offshore, mulai Nevada, Singapura, hingga British Virgin Island.

  • Sandiaga Uno

Sandiaga S Uno — Intelijen.Co

Sandiaga S Uno — Intelijen.Co

Pebisnis yang kini menekuni dunia politik, Sandiaga Uno memberikan penjelasan terkait hubungannya dengan Mossack Fonseca, sebuah firma hukum asal Panama yang saat ini menjadi perbincangan karena menggelapkan pajak banyak pengusaha hingga politikus dunia.

Bocornya data Mossack Fonseca yang dikenal dengan istilah “Panama Papers” tersebut disusun oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) yang sebelumnya diterima media Jerman, Suddeutsche Zeitung dari orang tak dikenal.

Adapun nama Sandiaga Uno tercantum dalam daftar klien Mossack Fonseca yang berasal dari Indonesia. Namanya menjadi salah satu yang cukup dikenal, selain nama Mochtar Riady dan Mohammad Riza Chalid.

Namun, hal itu tidak menjadi indikasi bahwa nama yang tercantum merupakan pelaku penggelapan pajak. Daftar itu hanya membeberkan nama-nama perseorangan dan perusahaan klien Mossack Fonseca.

Sandiaga mengatakan kerjasama dengan perusahaan offshore service seperti Mossack Fonseca merupakan hal yang lumrah guna mendukung pertumbuhan bisnis. Namun, lanjutnya, hal itu harus sesuai dengan hukum.

“Dalam proses investasi dan penciptaan lapangan kerja, sangat lazim menggunakan offshore service dan tentunya harus tetap dalam koridor hukum yang berlaku,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Namun, ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai keberlangsungan kerjasama dengan Mossack Fonseca, Sandiaga menyatakan sudah tidak berkepentingan lagi. Pasalnya, ia mengaku sudah mundur dari berbagai jabatan bisnisnya, dan berfokus ke dunia politik.

“Saya sudah mundur dari bisnis pada Juni 2015. Untuk selanjutnya bisa ditanyakan kepada pihak Saratoga,” jelasnya.

Seperti diketahui, Sandiaga Uno memutuskan untuk melepas 16 jabatannya di berbagai perusahaan demi menapaki dunia politik melalui Partai Gerindra. Salah satu jabatan yang dilepasnya adalah kursi Presiden Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk yang merupakan perusahaan investasi.

Lebih lanjut, dokumen Mossack Fonseca juga mencatat 214 ribu entitas perusahaan di luar negeri. Mossack Fonseca sendiri memiliki cabang di lebih dari 35 negara. Dokumen itu menyebutkan nama 140 tokoh politik, termasuk 12 pemimpin atau bekas pemimpin negara.

Di antara nama yang muncul adalah saudara ipar Presiden China Xi Jinping, Deng Jiagui, putri mantan perdana menteri China Li peng, Li Xiaolin, cucu dari petinggi Partai Komunis China, Jia Qinglin, putra dari Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Mohd Nazifuddin bin Mohd Najib, anak-anak dari Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, Presiden Ukraina, Raja Arab Saudi dan Perdana Menteri Islandia.

Kendati bukan merupakan pelanggaran hukum menggunakan perusahaan luar negeri untuk mengatur atau berinvestasi, namun bocoran dokumen ini menyiratkan modus pengemplangan pajak dan pencucian uang.


Selanjutnya Skandal Pajak Panama Papers [2]

Iklan

One response »

  1. […] Sebelumnya: Skandal Pajak Panama Papers […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s