Lanjutan dari artikel [Lagi!!!] Terduga Teroris Meninggal Saat Diperiksa Densus 88 (Part 2)


Selebaran misterius pengadu domba antara Polri & Muhammadiyah

Ditengah-tengah memanasnya kasus kematian Siyono, ada pihak yang sengaja mengadu domba antara Muhammadiyah dengan Polri.

Muhammadiyah Bantah Selebaran Soal Lapor jika Digerebek Densus 88

PP Muhammadiyah angkat bicara beredarnya selebaran melalui media sosial apabila ada warga yang rumahnya digerebek Densus 88maka diminta segera melapor ke Muhammadiyah untuk mendapatkan pendampingan hukum.

Berikut isi selebaran itu:

Perhatian! 
 Bagi seluruh warga Indonesia dan warga kota Surabaya yang tempat kediamannya digerebek dan atau tetangga, kerabat, teman dan keluarganya ditangkap oleh Densus 88 segera hubungi kami...
 Kami akan melakukan pendampingan dan advokasi..

Korps Muballigh Muhammadiyah, Majelis Tabligh
 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabata
 Jl Sutorejo 73-77 Surabaya.

“Selebaran itu beredar di media sosial, kan kalau sudah ‎di media sosial itu susah. Kami tidak pernah buat selebaran itu dan tidak mungkin kami buat. Itu sangat konyol,” tegas aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Lebih lanjut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan juga meminta agar warga tidak mempercayai selebaran tersebut.

“Selebaran ini hoaks, ini jelas-jelas ingin memprovokasi dan mengadu domba antara Polri dengan Muhammadiyah,” tambahnya.

Polri Selidiki Selebaran Hoaks ”Digerebek Densus 88 Lapor Muhammadiyah”

Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki. — tribunnews.com

Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki. — tribunnews.com

Cyber Crime Mabes Polri menyelidiki beredar selebaran melalui media sosial, soal apabila ada warga yang rumahnya digerebekDensus 88 maka diminta segera melapor keMuhammadiyah untuk mendapatkan pendampingan hukum.

“Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki,” ucap Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Anton menambahkan pihaknya sudah mengkonfirmasi ke Muhammadiyah, bahwa selebaran itu bukan dibuat olehMuhammadiyah. Dan itu hoaks atau bohong.

Terpisah aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy juga membantah adanya selebaran tersebut.

‎”Kalau sudah ‎di media sosial itu susah. Kami tidak pernah buat selebaran itu dan tidak mungkin kami buat. Itu sangat konyol,” katanya.

Densus Kembali Berhadapan Dengan Autopsi Muhammadiyah Jika Tidak Hati-hati

Suratmi, istri terduga teroris, menyerahkan dua gepok uang santunan misterius kepada Ketua PP Muhammadiyah Bidang hukum, Busyro Muqoddas beserta tim hukum PP Muhammadiyah dan Anggota Komans HAM Siyane Indiryani, di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (29/3/2016). — tribunnews.com

Suratmi, istri terduga teroris, menyerahkan dua gepok uang santunan misterius kepada Ketua PP Muhammadiyah Bidang hukum, Busyro Muqoddas beserta tim hukum PP Muhammadiyah dan Anggota Komans HAM Siyane Indiryani, di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (29/3/2016). — tribunnews.com

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti pun menghormati proses autopsi dengan mengutus satu dokter forensiknya bergabung bersama dokter Muhammadiyah.

Aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy‎ mengatakan peristiwa ini harusnya menjadi pembelajaran bagi Densus 88.

“‎Dengan otopsi ini kedepan Densus harus hati-hati, kalau tidak nanti akan kembali berhadapan dengan autopsi Muhammadiyah juga. Kalau kedepan ada yang ganjil lagi, ya kami autopsi lagi. Harus dipahami betul,” tegas Murad, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Murad melanjutkan dalam kasus ini Muhammadiyah ini ‎menegakkan hukum soal tewasnya Siyono yang dinilai tidak wajar.

“Siyono meninggal tidak wajar itu harus ditegakkan. Muhammadiyah tidak membenarkan siapapun melakukan teror. Kezaliman itu ibu kandung ‎dari teroris,” katanya.

Autopsi Siyono Rasa Sayang Muhammadiyah ke Polri

Untuk memastikan penyebab kematianSiyono, Komnas HAM meminta dokterMuhammadiyah melakukan autopsi pada‎ Minggu (3/4/2016) kemarin.

Menyoal autopsi, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti pun menghormati dan mengutus satu dokter forensiknya bergabung dengan dokter Muhammadiyah.

Aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy‎ bersuara atas autopsi yang hasilnya baru akan keluar dalam 10 hari kedepan.

“‎Kalau ditanya dimana posisiMuhammadiyah dalam autopsi Siyono. Kalau mau kritis, autopsi itu adalah rasa sayang Muhammadiyah pada Polri. Di media sosial disebutkan ada 120 terduga teroris yang meninggal dunia dan proses hukumnya tidak jelas. Autopsi kemarin pahamilah sebagai rasa sayang kami ke polisi. Langkah kami ini melibatkan forensik Polri dan dokter Undip, bukan jalan sendiri,” tegas Murad, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Murad juga menambahkan posisiMuhammadiyah di kasus Siyono, ‎tetap dalam koridor hukum.

Dimana Muhammadiyah ini mencari keadilan soal kematian yang dinilai tidak wajar.

“‎Otopsi ini bagian dari ingin tahu apa benarSiyono meninggal tidak wajar? Itu yang harus ditegakkan. Kalau soal Siyono teroris atau bukan itu bukan urusanMuhammadiyah,” katanya.

Anggota Densus 88 Diperiksa Propam Mabes Polri

Ilustrasi. — tribunnews.com

Ilustrasi. — tribunnews.com

‎Sebanyak tujuh orang anggota Densus 88 Mabes Polri diperiksa oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri.

Pemeriksaan ini berkaitan dengan tewasnya terduga teroris Siyono, asal Klaten, Jawa Tengah saat dibawa pengembangan untuk menunjukkan gudang senjata.

“Sudah banyak anggota yang saya periksa terkait kasus Siyono. Khusus anggotaDensus 88 ada 7 orang, dua diantaranya yang mengawal dan sopir saat peristiwa itu,” ucap Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen M Iriawan, Jumat (8/6/2016) di Mabes Polri.

Selain itu, mantan Kapolda Jawa Barat ini ‎juga memeriksa anggota lain yakni sejumlah Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) setempat, seperti Kapolres dan Kapolsek terkait.

Soal SOP pengawalan, ‎jenderal bintang dua ini mengakui memang ada kesalahan prosedur saat anggota Densus mengawalSiyono‎, bentuk kesalahannya yakni tidak diborgol.

“Mereka tidak profesional, ‎masa tidak diborgol hanya karena sudah dekat. Nanti akan ada sidang kode etik dan profesi,” tegasnya.

Untuk diketahui, Siyono (39) warga Brengkungan Cawas Klaten ditangkapDensus 88 pada Selasa (9/3/2016) karena diduga terlibat dalam jaringan teroris, namun dia kemudian meninggal di perjalanan.

Polri mengklaim yang bersangkutan meninggal usai kelelahan dan lemas akibat melawan dan berkelahi dengan anggotaDensus 88 yang mengawal selama perjalanan. Pasalnya saat itu, Siyono berupaya kabur.

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Siyono, Minggu (3/4/2016) kemarin tim dokter Muhammadiyah ‎dibantu satu dokter forensik Polri melakukan autopsi pada jenazah Siyono.

Polri Akui Ada Kesalahan Prosedur Saat Kawal Siyono Hingga Terjadi Perkelahian

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Anton Charliyanmengakui adanya kesalahan prosedur saat anggota Densus 88 membawa Siyono untuk menujukan lokasi gudang senjata.

“Kami temukan memang ada kesalahan prosedur. Pertama soal membuka borgol dan hanya dikawal seorang anggota Polri. Tapi pas perkelahian itu diluar kehendak, ini insiden kecelakaan,” katanya, Selasa (5/4/2016) di Mabes Polri.

‎Kata Anton, saat itu memang Siyono hanya dikawal satu orang dan satu orang lainnya sebagai sopir.

Seharusnya yang mengawal Siyono bukan satu orang‎, harusnya lebih dari dua orang.

“Disitulah kelalaian anggota dan kesalahan prosedur karena buka borgol dan yang mengawal hanya satu orang, sedangkan satunya lagi sopir,” kata Anton.

Untuk diketahui, Siyono (39) warga Brengkungan Cawas, Klaten ditangkapDensus 88 pada Selasa (9/3/2016) karena diduga terlibat dalam jaringan teroris. Namun dia kemudian meninggal di perjalanan.

Polri mengklaim yang bersangkutan meninggal akibat kelelahan setelah berkelahi dengan anggota Densus 88 yang mengawalnya dalam perjalanan karena berupaya melarikan diri.

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Siyono, Minggu (3/4/2016) tim dokter Muhammadiyah ‎dibantu satu dokter forensik Polri melakukan autopsi terhadap jenazah Siyono.

Komentar BNPT

Deputi I BNPT, Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, saat memberikan keterangan terkait kegiatan Duta Damai Dunia Maya di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/4/2016). — tribunnews medan

Deputi I BNPT, Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, saat memberikan keterangan terkait kegiatan Duta Damai Dunia Maya di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/4/2016). — tribunnews medan

Kasus kematian terduga teroris Siyono oleh anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Deputi I Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, enggan mengomentari kasus tersebut karena bukan kewenangannya.

“Saya mohon maaf, saya tidak bisa berkomentar tentang itu. Yang jelas bahwa, BNPT tidak identik dengan Densus 88,” kata Abdul Rahman di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/4/2016).

BNPT adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan Perpres No 46 tahun 2010 dan telah diubah menjadi Perpres No12 tahun 2012.

Sehingga, Abdul Rahman melanjutkan, BNPT sangat berbeda dengan Densus 88Antiteror yang kewenangannya langsung dibawahi Polri.

“Begitupun, kami yakin bahwa mereka melakukan (pemeriksaan) sesuai prosedur,” beber Abdul Rahman.

Siyono, warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, ditangkap personel Densus 88 Antiteror pada Jumat (11/3/2016) silam saat berada di dalam masjid untuk kemudian dibawa untuk menjalani pemeriksaan.

Setelah diperiksa, Siyono meninggal dunia karena diduga kuat dianiaya. KematianSiyono memancing kemarahaman ormas Islam, yang mendesak Densus 88 Antiteror dibubarkan.

Jika Terbukti Bersalah di Kasus Siyono, Anggota Densus Kena Pidana

‎Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyanmeminta semua pihak bersabar atas penyelidikan internal Polri melalui Propam Mabes Polri di kasus tewasnya teroris asal Klaten, Siyono.

Jenderal bintang dua itu memastikan, apabila memang anggota Densus terbukti bersalah maka selain kena sidang kode etik dan disiplin, bisa juga kena pidana.

“Soal prosedur pengawalan memang sudah salah. Dan bisa juga kena ‎ pidana karena dengan lalainya mengakibatkan orang meninggal dunia. Kita tunggu saja hasilnya,” tutur Anton, Rabu (6/4/2016).

‎Kemudian buntut dari tewasnya Siyono juga berimbas pada enam anggota Polri yang diperiksa , dua diantaranya ialah yang bertugas mengawal Siyono dan membawa mobil saat melakukan pengembangan.

“Ada enam anggota yang diperiksa oleh Propam, diantaranya dua anggota yang membawa SY (Siyono) saat pengembangan. Pemeriksaan masih berlangsung dan hasilnya belum ada,” tuturnya.

Diutarakan Anton, nantinya siapa yang bertanggung jawab atas tewasnya Siyonoakan dikembangkan apakah dua anggota itu atau bisa merembet pada komandannya atau kepala tim.

“Pemeriksaan oleh Propam mulai dari awal perjalanan hingga tewas. Nantinya siapa yang bertanggung jawab apakah anggota atau kepala tim, itu nanti akan diumumkan setelah seluruh pemeriksaan selesai dilakukan,” tegas Anton.

Untuk diketahui, Siyono (39) warga Brengkungan Cawas Klaten ditangkapDensus 88 pada Selasa (9/3/2016) karena diduga terlibat dalam jaringan teroris, namun dia kemudian meninggal di perjalanan.

Polri mengklaim yang bersangkutan meninggal usai kelelahan dan lemas akibat melawan dan berkelahi dengan anggotaDensus 88 yang mengawal selama perjalanan. Pasalnya saat itu, Siyono berupaya kabur.

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Siyono, Minggu (3/4/2016) kemarin tim dokter Muhammadiyah ‎dibantu satu dokter forensik Polri melakukan autopsi pada jenazah Siyono.

Busyro Kritik Keras BNPT dan Densus, Minta Presiden Bikin Tim Independen Evaluasi Menyeluruh

Kasus meninggalnya Siyono terduga teroris asal Klaten saat dibawa oleh densus 88 Polri menjadi preseden buruk bagi korps dengan lambang burung hantu tersebut sehingga harus ada evaluasi menyeluruh. Presiden Jokowi diminta bentuk tim independen.

“Kejadian ini kan kalau versi Komnas Ham sudah ke 118 kali. Kedua penanganan kasus terorisme sudah berjalan dengan memakan waktu cukup lama dalam hitungan saya sudah 6 kali ganti kapolri, tapi faktanya kasus terorisme tidak ada indikasi menurun, pertanyaannya bagaimana sesunguhnya kinerja Polri BNPT dan Densus dalam hal itu kinerja pemerintah,” ujar Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas di Kantor PP Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro Yogyakarta Selasa (29/3/2016).

Namun dia meminta ketika ada masyarakat sipil melakukan advokasi jangan pula justru disebut memusuhi polisi, karena semua juga untuk kebaikan kepolisian.

“Kami menjaga Polri supaya ini jadi koreksi bahwa tidak ada satupun lembaga negara yang terbebas dari hukum,” ujarnya.

Kasus ini juga harus menjadi pertimbangan dalam memilih Kapolri selanjutnya yang akan dipilih tidak lama lagi.

Selain itu Busyro juga meminta BPK, PPATK ataupun lembaga keuangan negara yang lain untuk mengaudit sumber keuangan BNPT dan Densus 88.

“BPK dan lembaga keuangan negara yang lain harus melakukan langkah-langkah bersama, mengaudit dari mana dana operasional BNPT dan Densus harus terbuka.”

“Jangan hanya merilis ada dugaan dana terorisme dari timteng, tapi harus juga diaudit darimana uang BNPT dan Densus berasal, ada tidak dana dari asing,” ujarnya.

“Sudah saatnya Presiden Jokowi mengambil keputusan segera bentuk tim independen untuk evaluasi menyeluruh BNPT dan Densus,” tambah Busyro.

Dinilai Janggal, IPW Minta Pemerintah Bentuk Tim Independen Usut Tewasnya Siyono

Meskipun Polri menyatakan tewasnya terduga teroris asal Klaten, Jawa Tengah Siyono bukan karena disiksa‎.

Namun banyak pihak menduga ada kejanggalan di kasus Siyono, bahkan Kontras menyatakan ada pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut.

Neta S Pane. — tribunnews.com

Neta S Pane. — tribunnews.com

Hal yang sama juga diungkapkan ketua Presidium IPW, Neta S Pane. Neta menganggap janggal kematian Siyono.

‎Termasuk Neta juga mempertanyakan mengapa saat Siyono dibawa Densus 88dalam keadaan sehat tiba-tiba saat pengembangan keluarga dikabarkan Siyono meninggal.

‎”Bagaimanapun juga alasannya, tetap janggal. Harusnya pemerintah membentuk tim independen untuk mengusut kasus ini. Jangan hanya tim investigasi sendiri,” kata Neta, Rabu (30/3/2016) di Kantor Kompolnas, Jakarta Selatan.

Neta menambahkan apabila nantinya terbukti ada anggota Densus yang melakukan kesalahan prosedur saat membawa Siyono, maka Polri harus menindak anggota tersebut.

“‎Kalau nanti terbukti anggota Densus bersalah, harus ditindak,” tambahnya.

Untuk diketahui, Siyono (39) warga Brengkungan Cawas Klaten ditangkapDensus 88 pada Selasa (9/3/2016) karena diduga terlibat dalam jaringan teroris.

Namun dia kemudian meninggal dalam perjalanan saat Densus 88 melakukan pengembangan kasus terorisme.

Polri mengklaim yang bersangkutan meninggal usai kelelahan dan lemas akibat melawan dan berkelahi dengan anggota Densus 88 yang mengawal selama perjalanan lantaran Siyono berniat melarikan diri.

F-PAN Dukung Agar Presiden Bentuk Tim Independen Audit Densus 88

Fraksi PAN mendukung langkah PP Muhammadiyah yang mendesak Presiden Jokowi agar membentuk Tim Independen untuk melakukan evaluasi dan Audit Densus 88.

“Tewasnya Siyono saat ditangkat Densus 88menjadi puncak kekecewaan kita atas perilaku Densus 88 yang selama ini bertindak tanpa kontrol,” ujar Wakil Ketua F-PAN DPR RI, Teguh Juwarno, dalam siaran persnya, Rabu (30/3/2016).

Dijelaskan, perintah konstitusi, tujuan negara adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Oleh sebab itu, presiden tidak bisa membiarkan tindakan Densus 88 yang telah membunuh lebih dari 100 terduga teroris (catatan Komnas HAM) dengan proses yang melanggar HAM.

Teguh mengatakan, presiden tidak bisa membiarkan perilaku ‘brutal’ ini terus menerus.

Polisi langsung berada dibawah wewenang Presiden sehingga wajar bila Presiden harus membenahi persoalan serius ini.

Audit terhadap Densus 88 dan BNPT juga perlu dilakukan dengan melibatkan PPATK untuk mengetahui darimana dana mereka, karena disinyalir menggunakan dana asing tanpa audit yang jelas.

“Kematian Siyono meninggalkan istri dan 5 anak yang masih kecil, dan ‘siyono-siyono sebelumnya’, semoga menyentuh hati Presiden. Presiden tidak boleh membiarkan perilaku pemberantasan teroris yang malah berpotensi menimbulkan bibit radikalisme akibat dendam atas ketidakadilan Densus 88,” kata Teguh Juwarno.

Muhammadiyah Ungkap Hasil Otopsi Yang Berbeda Dari Keterangan Polri

Hasil autopsi mengungkap Siyono meninggal karena kerusakan jaringan jantung. Berbeda dengan klaim dari kepolisian. — Rappler.com

Hasil autopsi mengungkap Siyono meninggal karena kerusakan jaringan jantung. Berbeda dengan klaim dari kepolisian. — Rappler.com

Misteri kematian Siyono, terduga anggota jaringan teroris, mulai mencapai titik terang. Hasil autopsi jenazah pria 36 tahun menunjukkan penyebab kematian yang berbeda dengan versi kepolisian.

“Kematian Siyono akibat benda tumpul di rongga dada,” kata Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani di kantornya pada Senin, 11 April 2016. Sebelumnya, visum Kepolisian RI menyatakan Siyono meninggal akibat pukulan benda tumpul di kepala.

Adapun pernyataan Komnas HAM ini berdasarkan autopsi independen yang mereka lakukan bersama dengan Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah, dan pelbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya. Proses pemeriksaan dilaksanakan Ahad pekan lalu oleh 9 dokter forensik dari Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), dan satu dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah.

Hasilnya, kata Siane, sebenarnya bersifat rahasia. “Tetapi kami sudah dapat izin dari keluarga dan dokter untuk membuka ke publik,” kata dia.

Dokter menemukan pada tubuh Siyono luka-luka entravital, atau yang terjadi dalam keadaan masih hidup. Luka bertebaran merata di sekujur tubuh, namun yang menyebabkan kematian adalah akibat pukulan benda tumpul di rongga dada.

“Ada patah di bagian tulang dada, yang mengakibatkan kerusakan jaringan jantung hingga berujung kematian,” kata Siane.

Berbeda dengan polisi?

Sebelumnya, pihak kepolisian telah mengumumkan hasil visum jenazah Siyono. Dalam laporan tersebut, tertulis penyebab kematian terduga teroris asal Klaten ini adalah karena pendarahan kepala di bagian belakang.

Hasil autopsi independen sendiri membenarkan ada luka di bagian kepala. “Tetapi tak menyebabkan kematian,” kata Siane.

Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, mengatakan hasil autopsi mengatakan pukulan tak menyebabkan pendarahan di kepala. “Otaknya berbentuk bubur putih, bukan merah. Artinya, tak ada pendarahan,” kata dia.

Selain itu, dokter juga tak menemukan adanya luka yang bersifat defensif, seperti luka tangkisan. Menurut Dahnil, ini tak membuktikan klaim polisi kalau Siyono dihajar lantaran melakukan perlawanan dan mencoba kabur.

Lebih lanjut, pada bagian belakang tubuh Siyono, terdapat memar yang menekan tubuh dari luar ke dalam. “Jadi ada analisa kalau siksaan dilakukan dalam keadaan tubuh korban tengah bersandar,” kata Siane.

Gatot Soeharto, ketua tim dokter forensik, mengatakan pemeriksaan dilakukan tak hanya dari luar, tapi juga secara mikroskopis di laboratorium. Mereka mengambil sampel kulit, otot, tulang, dan tempurung kepala yang terluka. Beruntung, berkat kondisi tanah yang sejuk karena mengandung banyak air, kondisi mayat korban tak terlalu busuk meski sudah dikubur selama 21 hari.

Seluruh data ini akan dimanfaatkan Komnas HAM untuk mengajukan rekomendasi ke presiden. “Wewenang kami hanya sampai di sini,” kata Siane.

Revisi hukum terorisme

Koordinator KontraS Haris Azhar berencana menemui Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyampaikan fakta temuan ini. Siksaan terhadap terduga teroris, yang bahkan berujung kematian, tak boleh lagi berlanjut.

Kerugian tak hanya diterima korban semata, tetapi juga keluarga yang ditinggalkan. “Ada diskriminasi, dan dari sini justru muncul teroris-teroris baru,” kata dia.

Upaya penegakan hukum dan pengungkapan fakta justru adalah upaya deradikalisasi yang paling efektif. Karena itu, DPR harus merevisi undang-undang terkait penindakan terorisme yang sudah ada.

Busyro pun mengungkapkan hal senada. “Kasus Siyono ini yang terakhir. Jangan terus menerus tak ada akhirnya. Kalau diteruskan, artinya Indonesia subur terorisme,” kata dia.

Pelaku penyiksaan hingga tewas semacam ini harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Edi Syaputra Hasibuan, mengatakan korban dapat melaporkan penyelewengan hukum semacam ini.

“Bukti-bukti pelanggaran dapat dibawa ke pemeriksa Kepolisian. Kalau terbukti benar ada penyiksaan, apalagi sampai tewas, bisa dipidanakan,” kata dia saat dihubungi redaksi rappler.com.

*Baca juga:
Densus 88 & BNPT Propagandis perusak citra Islam
Densus 88 salah tangkap & mengada-ada
Bubarkan DENSUS 88 Anti Teror, Ganti dengan SAT-81 GULTOR
Tuntutan Pembubaran Densus 88 Anti Teror

Sanksi yang didapatkan pelaku tak hanya sekedar pemecatan, tapi juga hukuman penjara. Tentu dengan catatan, korban memang tak memberikan perlawanan atau mencoba kabur. Bagaimanapun juga, penyiksaan hingga tewas sudah jelas menyalahi prosedur penangkapan.

Selain itu, dengan mematikan terduga anggota teroris, Detasemen Khusus 88 justru terkesan enggan menuntaskan jaringan teroris yang ada di Indonesia. Apalagi bila yang ditangkap dinyatakan sekelas ‘gembong’.

“Kalau memang Siyono kelas gembong, kenapa tak dilumpuhkan akinya saja supaya bisa terungkap guritanya?” kata Busyro.

Siyono, yang diduga merupakan anggota teroris Jamaah Islamiyah (JI), ini tewas usai diangkut oleh tim Densus 88. Pria asal klaten ini menderita banyak luka akibat siksaan di sekujur tubuhnya.

Densus 88 Ciptakan Radikalisasi Baru

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (kanan) bersama Anggota LIMA Ray Rangkuti (tengah) - Republika

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (kanan) bersama Anggota LIMA Ray Rangkuti (tengah) – Republika

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, cara kerja Detasemen Khusus 88 Antiteror lebih berpotensi menciptakan radikalisasi baru daripada deradikalisasi.

“Cara kerja Densus 88 justru memicu adanya perasaan dendam dan marah yang akan menyebabkan muncul radikalisasi-radikalisasi baru,” kata Dahnil dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR, di Jakarta, Selasa (12/3/2016).

Menurut Dahnil, Siyono memiliki lima anak yang saat ini masih trauma dengan kematian ayahnya sebagai terduga teroris. Beberapa anak Siyono kerap mengigau dan menyebut-nyebut kematian ayahnya.

Dahnil mengatakan, anak-anak Siyono bila tidak mendapat penyembuhan trauma yang tepat, bisa saja menyimpan dendam dan berikutnya berpotensi menjadi radikal. “Karena itu, Muhammadiyah berusaha merangkul anak-anak dan keluarga Siyono, serta memberikan penyembuhan trauma kepada mereka tanpa ada dana dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang salah satu programnya adalah deradikalisasi,” ujarnya lagi.

Hari ini, Komisi III DPR melakukan rapat dengar pendapat dengan Komnas HAM, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, dan Kontras tentang kematian Siyono. Pada rapat tersebut, Komnas HAM menyampaikan kesimpulan penyelidikan kematian Siyono, yaitu adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Densus 88.

Menurut hasil autopsi yang dilakukan tim dokter Muhammadiyah, penyebab kematian Siyono adalah rasa sakit akibat patah tulang rusuk yang menembus jantung.

Ucapan Terima Kasih Istri Siyono Kepada Muhammadiyah dan Komnas HAM

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani menujukkan hasil autopsi dari tim forensik Muhammadiyah terhadap jenazah Siyono di kantor Komnas HAM RI, Jakarta, Senin (11/4). (Rakhmawaty La'lang) - Republika

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani menujukkan hasil autopsi dari tim forensik Muhammadiyah terhadap jenazah Siyono di kantor Komnas HAM RI, Jakarta, Senin (11/4). (Rakhmawaty La’lang) – Republika

Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas menjelaskan, Muhamamdiyah bersama Komnas HAM melakukan advokasi terhadap kasus kematian Siyono karena selama ini mereka sudah terbiasa menerima laporan masyarakat terkait tuntutan keadilan.

Muhammadiyah dan Komnas HAM, terang Busyro, berani melakukan autopsi kepada jenazah Siyono sebab Ibu Suratmi, istri Siyono membuat surat kuasa. “Surat kuasa itu meminta agar kami mau melakukan autopsi guna membuka apa yang terjadi kepada Siyono,  antara Komnas HAM dan Muhammadiyah kemudian sepakat melakukan ini,” katanya di DPR, Selasa, (12/4).

Sejak adanya surat kuasa itu, Muhammadiyah dan Komnas HAM bekerja penuh dengan sinergitas. Tim forensik disiapkan untuk melakukan autopsi kepada Siyono yang dimulai pada 3 April, Ahad pagi.

Saat proses autopsi jenazah Siyono dilakukan Ibu Suratmi menangis. Ia mengucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah dan Komnas HAM yang sudah membantunya mencari keadilam. “Ibu Suratmi merasa berterimakasih ada yang mau membantunya.  Maka autopsi didalami lagi dengan uji laboratorium yang hasilnya sudah kami serahkan kepada Komisi III DPR agar masyarakat mendapat informasi yang benar.”

Baca Kelanjutan Kasus Kematian Siyono:

Muhammadiyah Lawan Densus 88 AT – Kasus Kematian Siyono

Pemuda Muhammadiyah Vs Ruhut Sitompul – Kasus Kematian Siyono

Galeri Foto Demonstrasi Massa Menuntut Pembubaran Densus 88:

Kelompok Ini Demo Desak Presiden Jokowi Bubarkan Densus 88, di Gladag Solo, Selasa 15 Maret 2016. — tribunnews.com

Kelompok Ini Demo Desak Presiden Jokowi Bubarkan Densus 88, di Gladag Solo, Selasa 15 Maret 2016. — tribunnews.com

Mahasiswa Gema Pembebasan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Medan meminta agar Densus 88 Anti Teror untuk segera dibubarkan. — tribunnews.com

Mahasiswa Gema Pembebasan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Medan meminta agar Densus 88 Anti Teror untuk segera dibubarkan. — tribunnews.com

Massa dari Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Banda Aceh melakukan demo di bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat (18/3/2016) sore. — tribunnews.com

Massa dari Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Banda Aceh melakukan demo di bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat (18/3/2016) sore. — tribunnews.com

Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) mengepung Kedutaan Besar Australia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, untuk berunjuk rasa menuntut permintaan maaf Australia kepada Indonesia, Jumat (22/11/2013). Sebelumnya Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono memanggil pulang Dubes RI untuk Australia menyusul ketegangan Indonesia dan Australia terkait penyadapan badan intelejen Australia terhadap beberapa petinggi negara, termasuk presiden. — tribunnews.com

Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) mengepung Kedutaan Besar Australia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, untuk berunjuk rasa menuntut permintaan maaf Australia kepada Indonesia, Jumat (22/11/2013). Sebelumnya Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono memanggil pulang Dubes RI untuk Australia menyusul ketegangan Indonesia dan Australia terkait penyadapan badan intelejen Australia terhadap beberapa petinggi negara, termasuk presiden. — tribunnews.com

Gema Pembebasan Bogor melakukan aksi demo di depan Tugu Kujang di Jalan Pajajaran, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (22/3/2016). — tribunnews

Gema Pembebasan Bogor melakukan aksi demo di depan Tugu Kujang di Jalan Pajajaran, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (22/3/2016). — tribunnews

Dana 18 Triliun untuk Membunuh Umat Islam, Bubarkan Densus 88! (LUIS/Laskar Umat Islam Surakarta) — panjimas.com

Dana 18 Triliun untuk Membunuh Umat Islam, Bubarkan Densus 88! (LUIS/Laskar Umat Islam Surakarta) — panjimas.com

Demo di Komnas HAM, Ormas Ini Minta Densus 88 Dibubarkan — Intelijen

Puluhan orang yang tergabung dalam Gerakan Muslim Nusantara berunjuk rasa di Komisi Nasional HAM, Jakarta, Senin (11/4/2016) pagi. Mereka menuntut Detasemen Khusus 88 antiteror untuk dibubarkan karena membunuh warga Klaten Siyono — Intelijen


Referensi

  • ^http://www.rappler.com/indonesia/125644-terduga-teroris-meninggal-saat-diperiksa-densus-88
  • ^http://www.rappler.com/indonesia/125677-kesaksian-keluarga-siyono-masih-sehat-saat-dibawa-densus-88
  • ^http://www.rappler.com/indonesia/125966-kontras-desak-polri-usut-siyonohttp://www.rappler.com/indonesia/127062-istri-siyono-densus-88-tolak-surat-damai
  • ^http://www.rappler.com/indonesia/127150-kontras-evaluasi-densus-88-polri
  • ^https://www.intelijen.co.id/ustaz-arifin-ilham-sebut-densus-88-zalim/
  • ^https://www.intelijen.co.id/pemikir-islam-kasus-siyono-dan-rs-sumber-waras-bagai-bangkai/
  • ^https://www.intelijen.co.id/siyono-tewas-densus-88-semena-mena/
  • ^https://www.intelijen.co.id/124445-2/
  • ^https://www.intelijen.co.id/muhammadiyah-di-garda-depan-mengapa-nu-tak-bela-korban-densus-88-ini-alasannya/
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/07/muhammadiyah-bantah-selebaran-soal-lapor-jika-digerebek-densus-88
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/07/polri-selidiki-selebaran-hoaks-digerebek-densus-88-lapor-muhammadiyah
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/07/densus-kembali-berhadapan-dengan-autopsi-muhammadiyah-jika-tidak-hati-hati
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/07/autopsi-siyono-rasa-sayang-muhammadiyah-ke-polri
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/08/7-anggota-densus-88-diperiksa-propam-mabes-polri-terkait-tewasnya-siyono
  • ^http://m.tribunnews.com/regional/2016/04/07/tanggapi-kematian-siyono-bnpt-tak-identik-dengan-densus-88
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/04/05/polri-akui-ada-kesalahan-prosedur-saat-kawal-siyono-hingga-terjadi-perkelahian
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/03/29/busyro-kritik-keras-bnpt-dan-densus-minta-presiden-bikin-tim-independen-evaluasi-menyeluruh
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/03/30/dinilai-janggal-ipw-minta-pemerintah-bentuk-tim-independen-usut-tewasnya-siyono
  • ^http://m.tribunnews.com/nasional/2016/03/30/fpan-dukung-agar-presiden-bentuk-tim-independen-audit-densus-88
  • ^http://www.rappler.com/indonesia/129083-penyebab-kematian-siyono-terungkap
  • ^http://m.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/04/12/o5iipo361-muhammadiyah-ke-dpr-densus-88-ciptakan-radikalisasi-baru#
  • ^http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/04/12/o5ihxt377-ucapan-terima-kasih-istri-siyono-kepada-muhammadiyah-dan-komnas-ham#
Iklan

3 responses »

  1. […] [Lagi!!!] Terduga Teroris Meninggal Saat Diperiksa Densus 88 (Part 3) […]

    Suka

  2. […] ^ Terduga Teroris Meninggal Saat Diperiksa Densus 88 – Kasus Kematian Siyono (3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s