Lanjutan dari artikel sebelumnya: Siapa Sebenarnya Densus 88 AT?


Kebiadaban densus 88 ditutup-tutupi pihak polisi dan media tv: densus menginjak orang yang sedang shalat.

Sebelumnya Mabes Polri mengaku memastikan Gories Mere berada dalam penggerebekan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di Medan. Namun, jika benar Gories yang tak lagi berdinas di bidang terorisme, ada dalam rombongan Densus 88, Mabes Polri menilai tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan. Bisa saja Gories memang ada keperluan di Medan.

06-05-07.00.48

Pada Kamis 16 September, Danlanud Medan mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara terkait ‘penerobosan’ rombongan Densus 88 di Bandara Polonia. TNI Angkatan Udara merasa keberatan karena rombongan itu tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Petugas yang berjaga di pos sempat digertak oleh salah satu orang di rombongan tersebut. Orang itu mengatakan agar si petugas pos tidak menghalangi misi negara. Selain itu, orang di rombongan itu juga menyebut ada jenderal bintang tiga di rombongan itu (GoriesMere).

Fakta seputar “Bom Bali 1”

Tanggal 12 Oktober, dua buah bom meledak di Bali. Bom pertama meledak di Paddys Café, termasuk berdaya ledak rendah (low explosive), dan disusul kemudian dengan ledakan bom berkekuatan sangat tinggi (high explosive) di Sari Club, Kuta. Saat itu pemerintah Bush tengah gencar-gencarnya merekrut negara-negara lain, salah satunya Indonesia, agar mau bergabung dengan AS dalam perang melawan terorisme.

Ketika itu Presiden Megawati kurang memberikan tanggapan. Atas desakan umat Islam, pemerintah Megawati kala itu gamang merespon ajakan Bush. Dan meledaklah Bom Bali. Usai tragedi itu, pemerintah Megawati pun mau tidak mau berperan serta, aktif dalam perang melawan apa yang dinamakan AS sebagai terorisme. Indonesia saat itu sangat pro-aktif menangkapi para aktivis Islam, hingga banyak kalangan secara sinis menyebut republik ini telah menjadi negara bagian AS ke 51.

Amrozi dan kawan-kawan telah mengakui membom Paddys Café, yang berdaya ledak rendah. Namun mereka menolak sebagai pelaku yang meledakan bom berkekuatan sangat tinggi yang meledak di Sari Club, Kuta. “Kami tidak memiliki kemampuan untuk membuat bom sedahsyat itu” ujar Imam Samudera suatu ketika.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) alm. Letjen. ZA. Maulani saat itu berkeyakinan bahwa yang meledak di Sari Club adalah bom mikro nuklir.

“Hanya mikro nuklir yang memiliki efek ledakan seperti itu, bukan RDX apalagi TNT. Dan mikro nuklir yang ada di dunia ini hanya diproduksi di instalasi nuklir Dimona, milik Israel”

Temuan Maulani dikuatkan oleh Joe Vialls. Mantan pakar demolisi dari kesatuan elit tentara Inggris SAS, yang kemudian desersi dan menetap di Australia sebagai pengamat masalah-masalah intelijen juga meyakini bom yang meledak di Sari Club adalah mikro nuklir, karena ada efek cendawannya. “Efek cendawan merupakan satu-satunya efek yang bisa dibuat oleh bom nuklir. Dan bom yang meledak di Sari Club, Kuta-Bali, memang mikro nuklir, ” ujar Vialls.


  • Letjen Maulani menghembuskan nafas beberapa waktu kemudian karena sakit.

  • Joe Vialls juga menemui ajal beberapa tahun kemudian.


Kematiannya mencurigakan karena sangat mendadak. Ada indikasi Vialls diracun oleh MOSSAD, sama seperti Litvinenko diracun oleh agen-agen KGB atas perintah Vladimir Putin.

Saat terjadinya ledakan, sebuah kapal perang AS memang tengah melabuh jangkar di pelabuhan Genoa Bali dan anehnya bisa melakukan sweeping sekeliling kapal dalam radius ratusan meter, agar siapa pun tidak mendekat. Ini sesuatu yang aneh bin ajabi terjadi di republik yang berdaulat penuh.

Kesaksian seorang kapten angkatan bersenjata Australia yang tengah berlibur di Kuta dan selamat dari ledakan di Sari Club juga patut mendapat perhatian. Menurutnya, beberapa detik sebelum bom meledakkan Sari Club, aliran listrik padam di sekitarnya, seolah ada gelombang elektomagnetik atau gelombang radiasi yang menyebabkan listrik padam. Dan Vialss maupun Maulani yakin bahwa temuan ini memperkuat analisanya tentang mikro nuklir.

Namun sampai hari ini kepolisian kita masih saja berkeras kepala bahwa yang meledakkan dua bom di Bali itu Amrozi dan kawan-kawan. Betapa hebatnya Amrozi cs. Dan kepolisian juga menutup mata dan telinga tentang temuan-temuan yang mengarah ke penggunaan mikro nuklir. Bisa jadi, atas prestasi kepolisian inilah maka AS mengucurkan bantuan berupa dana dan aneka pelatihan yang tidak sedikit kepada Polri agar bisa lebih lincah menangkapi ‘teroris’. Pembentukan Detasemen 88, kesatuan khusus pemburu teroris, merupakan salah satunya di mana para personil detasemen ini dilatih oleh instruktur-instruktur yang didatangkan dari AS langsung dan merupakan mantan anggota FBI dan CIA.

Selain temuan-temuan di atas, juga harus diusut siapa sesungguhnya Ali Imron yang pernah kepergok tengah berada bersama perwira polisi Gorries Mere di Café Starbuck Kuningan, padahal kala itu Ali Imron sedang berstatus tahanan. Oleh banyak kalangan, Ali Imron diyakini sebagai double agent.

Apapun yang terjadi Densus 88 AT akan terus beraksi walaupun aksinya sangat sadis dan memalukan sampai-sampai pernah menculik anak yang masih bau kencur namun apa mau di kata jika Big Bos nya yang ada di amrik sono masih memberi makan Densus 88 AT maka apapun akan di labrak Densus 88 AT. Densus 88 adalah anjingnya Amerika.

Kebiadaban Densus 88 yang membedah korbannya di sinyalir mengambil organ tertentu

2.30

Jurnalis Independen: Setelah lebih dari 3 minggu jenazah Eri Riyanto alias Ahmad Kholil alias Abu Kholid, korban penembakan Densus 88 di teras Masjid Nur Al-Afiah, RS. Wahidin Sudirohusodo, di “obok-obok organ” tubuhnya, dipulangkan ke kampung halamannya di Ciamis untuk dimakamkan pada Rabu (30/1/2013).

Kebencian kelicikan kepengecutan densus 88 terhadap mujahidin sangat kentara sampai membedah dan besar kemungkinan mengambil beberapa organ dari seorang mujahid yang telah meninggal, sebegitu pengecutkah kalian? apakah kalian mencontoh pasukan salib yang pada tahun 1098 di Maraat an-numan, Syria telah memakan kaum muslimin yang telah kalian bantai?

Abdullah, yang turut mengurus kepulangan jenazah Ahmad Kholil menyampaikan bahwa jenazah baru bisa dikembalikan kepada pihak keluarga setelah melalui perjuangan panjang.

Istri dan anak-anak almarhum Ahmad Kholil pun harus tinggal di Jakarta berhari-hari demi mengurus pemulangan jenazah.

Akhirnya keputusan bahwa jenazah bisa dipulangkan dan dimakamkan pihak keluarga diterima. Hingga pada Selasa (29/1/2013), jenazah Ahmad Kholil keluar RS. Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur dan diberangkatkan menuju rumah orang tua almarhum di Dusun Pangolahan RT. 10 RW. 05 Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

“Jenazah dimandikan dan mulai diberangkatkan dari RS. Polri Kramat Jati ba’da maghrib lalu tiba di Ciamis sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Karena waktu sudah malam, keluarga sepakat memakamkannya besok pagi sekitar pukur 08.00 WIB dan selesai pukul 09.30 WIB,” kata Abdullah kepada voa-islam.com, Kamis (31/1/2013).

Abdullah yang mengiringi jenazah hingga ke rumah orang tua almarhum Ahmad Kholil menuturkan bahwa pihak keluarga amat tabah dan bangga menerima kedatangan jenazah.

“Keluarga sangat tabah, meskipun tentunya mereka bersedih. Dari mulai ibunya, istri dan keluarga lainnya, bahkan mereka bangga,” ungkapnya. Sementara, masyarakat Desa Karangmulya sendiri justru menyambutnya dengan baik, hal ini jelas membantah prasangka kepolisian selama ini yang mengkhawatirkan adanya penolakan terhadap pemakaman almarhum Ahmad Kholil.

“Sambutan dari masyarakat luar biasa, kampung yang awalnya sepi itu menjadi ramai dengan gemuruh takbir dari mulai diberangkatkan dari rumah hingga dimakamkan. Jadi kenyataan ini membantah sama sekali adanya isu penolakan yang dikhawatairkan pihak kepolisian,” ucapnya.

Abdullah yang sempat menyaksikan dan mengabadikan jenazah korban juga menyampaikan kondisi jenazah almarhum Ahmad Kholil, dimana banyak ditemukan lubang bekas luka tembak yang menyebabkannya wafat.

“Jenazah terdapat bekas jahitan dari leher hingga ke pusar. Lalu yang kelihatan ada 2 lubang bekas luka tembak dari arah kiri bagian pinggang tembus agak serong ke atas pinggang sebelah kanan. 1 lubang di punggung kanan dekat belikat. 1 lubang di betis kanan. Itu saja yang saya ingat,” tuturnya.

7.18

Selain itu, ia bersama kaum muslimin yang menyertai pemakaman Ahmad Kholil, menyaksikan tanda-tanda syahid (insya Allah) pada jenazah. Sekaligus, ia juga membantah mereka yang meragukan tanda-tanda syahid tersebut.

“Jelas sekali bahwa jenazah berkeringat. Ada diantara orang-orang yang menyangsikan bahwa itu bekas pendingin. Namun, faktanya jenazah itu sudah terlebih dahulu dimandikan dan diguyur air. Lalu dari sejak dimandikan dibawa ke kampung halaman dari Jakarta ke Ciamis kan lebih dari dari empat jam dan baru dikuburkan besok pagi,” jelasnya.

Untuk diketahui, Ahmad Kholil ditembak Densus 88 di teras masjid Nur Al-Afiah RS. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulsel, sekitar pukul 10.00 WIB menjelang shalat Jum’at (4/1/2013).

Menurut kesaksian Endang, istri korban suaminya pergi ke rumah sakit hendak menjenguk temannya yang sakit sekitar pukul 08.30 WIB.

t.28

Endang juga membantah pernyataan kepolisian bahwa suaminya membawa senjata api dan melakukan perlawanan. Sebab menurut Endang, tidak mungkin suaminya membawa senjata api sebab ia hanya ingin membesuk temannya yang sakit dan saat itu hanya membawa kue untuk dagangan sehari-hari. Selain itu Ahmad Kholil juga tinggal menetap dan tak pernah pergi ke Poso untuk mengikuti pelatihan militer.

Kepergian Ahmad Kholil yang begitu tragis diberondong tembakan oleh Densus 88, membuat sang istri terpukul, sebab Kholil adalah kepala keluarga, apalagi sang istri kini tengah mengandung anak kelima. Almarhum Ahmad Kholil meninggalkan seorang istri dan empat orang anak; Kholid, Ayash, Najwa dan Faruq yang kini menjadi yatim. Namun demikian, Endang tetap tegar, sebab keinginan dan cita-cita sang suami untuk syahid di jalan Allah akhirnya terwujud.

Kebohongan Media

Istri Ahmad Nudin: Semoga Polisi & Media Sekuler Segera Diadzab Allah
POSO (voa-islam.com) – Kematian Ahmad Nudin, aktivis Islam asal Poso meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, khususnya sang istri tercinta Ummu Hasyim. Wanita yang berumur 30an tahun ini sangat sedih dan terpukul ketika mengetahui suaminya dibunuh Densus 88 dengan sangat kejam dan keji.

Meninggalnya Ahmad Nudin juga meninggalkan satu anak yatim berumur 2,5an tahun bernama Hasyimuddin. Untuk itu, selain menjadi janda, sekarang ini Ummu Hasyim juga harus bekerja ekstra keras untuk menghidupi buah hatinya yang masih balita tersebut.

Saat ditemui voa-islam.com dikediamannya di jalan Pulau Jawa 2, Gebang Rejo, kecamatan Poso Kota, kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Ummu Hasyim tak bisa berbicara terlalu banyak. Sesekali mengingat kronologi pembunuhan Ahmad Nudin yang didapatkan dari para warga, dan juga saat mengingat wajah suami yang hampir rusak parah, dirinya langsung menangis.

…Iya itu pak, saya tidak mau Densus di bilang menembak, dia (Densus 88) itu pembunuh. Tolong ini berita di kabarkan pak. Pendusta semua media (sekuler) itu yaa Allah…

Wanita asli Poso ini menyatakan jika dirinya tidak rela jika suaminya hanya diberitakan media massa pada umumnya, ditembak oleh Densus 88. Harusnya media massa memberitakan bahwa suaminya telah dibunuh. Karena kesaksisan para warga menyebutkan seperti itu.

“Iya itu pak, saya tidak mau Densus di bilang menembak, dia (Densus 88 -red) itu pembunuh. Tolong ini berita di kabarkan pak. Pendusta semua media (sekuler -red) itu yaa Allah,” kata Ummu Hasyim pada Jum’at (14/6/2013) sambil menangis.

Dirinya juga menegaskan jika suaminya saat itu tidak melakukan perlawanan sama sekali, sebagaimana kesaksian para warga kepada keluarga yang melihat langsung dibunuhnya Ahmad Nudin oleh Densus 88. Menurutnya, jika suaminya yang menabrak terlebih dulu, maka Densus 88 itu tidak akan sama nasibnya dengan suaminya.

…Saya tidak mau suami saya di bilang tabrak (Densus 88), kalau di tabrak habis itu pak (Densus 88). Tapi yang terjadi itu dia (Nudin) di tabrak langsung di tembak pak. Densus itu pengecut pak, ndak berani dia (Densus 88 itu melawan) di depan, pengecut semua Densus itu pak. Tolong pak, ini kabarkan, luruskan berita ini pak, saya mohon…

Hal tersebut karena mengingat karakter warga Poso yang punya tekad kuat dan solidaritas atau sosial yang tinggi. Hal ini terbukti ketika Nudin ditembak, warga Poso yang melihat langsung peritiwa itu langsung menghampirinya dan hendak menolongnya.

“Saya tidak mau suami saya di bilang tabrak (Densus 88 -red), kalau di tabrak habis itu pak (Densus 88 -red). Tapi yang terjadi itu dia (Nudin -red) di tabrak langsung di tembak pak. Densus itu pengecut pak, ndak berani dia (Densus 88 itu melawan -red) di depan, pengecut semua Densus itu pak. Tolong pak, ini kabarkan, luruskan berita ini pak, saya mohon,” tegasnya.

Terakhir, Ummu Hasyim yang berbicara dengan suara lirih dan isak tangis yang mendalam, mendoakan agar para polisi, khususnya Densus 88 yang telah membunuh suaminya segera di adzab oleh Allah. Ummu Hasyim juga mendoakan agar media massa yang memberitakan peristiwa Poso dengan tidak adil mendapatkan adzab sama.

…Tolong ini berita di kabarkan pak. Pendusta semua media (sekuler) itu yaa Allah. Semua media menuduh Abi bersalah, saya tidak ridho yaa Allah. Semoga Engkau (Allah) menurunkan adzab (pada Densus 88 dan media-media tersebut) yaa Allah…

Karena dirinya tidak ridho dengan pemberitaan dan opini dzolim dari media massa sekuler yang menjadi corong kepolisian untuk memojokkan dan menyalahkan umat Islam secara terus menerus. Ummu Hasyim juga meminta kepada media Islam untuk mengabarkan hal ini dengan sebenar-benarnya dan terus menerus.

“Tolong ini berita di kabarkan pak. Pendusta semua media (sekuler) itu yaa Allah. Semua media menuduh Abi bersalah, saya tidak ridho yaa Allah. Semoga Engkau (Allah) menurunkan adzab (pada Densus 88 dan media-media tersebut -red) yaa Allah,” tandasnya.

Uang Puluhan Juta Pesangon RSI Kendal Milik Iwan Raib Diambil Densus

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itu mungkin sebuah pepatah yang pas buat Kussteyorini, istri dari Purnawan Adi Sasongko alias Iwan sasongko yang “diculik” Densus 88 Anti Teror pada Rabu petang (8/5/2013) saat Iwan sedang melaksanakan shalat magrib.

Bagaimana tidak, suami yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi dirinya dan ketiga buah hatinya diculik Densus 88 yang saat itu tanpa adanya keterangan yang jelas penyebab ditangkapnya Iwan, dan juga tanpa surat penangkapan.

Tak hanya surat penangkapan, surat penyitaan barang-barang  pada waktu itu juga tak ada sama sekali. Beberapa barang berharga seperti laptop, HP dan uang puluhan juta raib entah kemana ketika Densus 88 menggeledah da mengambil barang-barang yang ada dirumahnya.

Bu Rini menjelaskan bahwa uang puluhan juta tersebut adalah uang dari Jamsostek, hasil ternak kambing dan pesangon dari Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal tempat dimana Iwan Sasongko sebelumnya bekerja. Iwan keluar dari RSI Kendal pada bulan lalu dan hendak berwirausaha.

Sedianya, uang tersebut akan dipergunakan Iwan dan istrinya untuk modal usaha membuka Apotik yang berada di pertigaan Karanganom, Kelurahan Karanganom, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal dan untuk tambahan peternakan kambing yang sebelumnya telah dia rintis.

…Kemarin dirumah ada uang pesangon dari RSI kurang lebih 15 jutaan. Ada uang dari Jamsostek sekitar 14 juta lebih, tapi saat saya masuk rumah ini pada Rabu malam setelah diungsikan kerumah tetangga (oleh Densus -red), kondisi rumah sudah acak-acakan. Dan uang tersebut juga sudah tak ada lagi…

Densus 88 perampok

“Kemarin dirumah ada uang pesangon dari RSI kurang lebih 15 jutaan. Ada uang dari Jamsostek sekitar 14 juta lebih, tapi saat saya masuk rumah ini pada Rabu malam setelah diungsikan kerumah tetangga (oleh Densus -red), kondisi rumah sudah acak-acakan. Dan uang tersebut juga sudah tak ada lagi,” kata Bu Rini kepada voa-islam.com sambil menagis pada Minggu (12/5/2013).

Dirinya juga membantah jika suaminya adalah seorang perampok sebagaimana tuduhan Densus 88 dan yang selama ini diberitakan media massa. Dirinya menjelaskan bahwa Iwan Sasongko orangnya kalem dan tak pernah keluar rumah lebih dari satu malam. Kalaupun keluar rumah hingga menginap, Iwan pasti memberitau dirinya.

“Tidak betul itu (jika Iwan perampok -red). Mas Iwan kalau keluar rumah dan sampai menginap selalu bilang mau pergi kemana. Uang yang ada dirumah itu rencananya untuk membuka Apotik dipertigaan sana (pertigaan Karanganom yang tak jauh dari rumah kontrakan Iwan -red),” paparnya.

Sementara itu, menurut Pak Nomo, warga Weleri yang juga bekerja di RSI Kendal membenarkan bahwa Iwan pernah bekerja di RSI Kendal. Tapi karena ingin membuka usaha sendiri yaitu peternakan kambing dan membuka apotik, maka Iwan memutuskan untuk keluar dari RSI Kendal.

“Dia sebelumnya kerja di RSI, lalu dia keluar dan ternak kambing. Jadi sehari-harinya ya gak ada yg mencurigakan karena dia itu orangnya terbuka sama siapa saja,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Iwan Sasongko diculik densus 88 saat shalat maghrib bersama anak pertamanya, Hasan. Sebelum Iwan dibawa Densus 88, istri Iwan dan ketiga anaknya disuruh keluar karena Densus 88 hendak menggeledah rumahnya untuk mencari barang bukti.

Kronologis kebrutalan densus 88 di Solo

Banyak media online yang sempat memuat berita statemen Ansyad Mbai (Ketua BNPT) terkait pandangan-pandangan para pengamat (pemerhati) dalam bidang terorisme. Diantaranya Ansyad Mbai mengatakan, para pengamat teroris yang tidak berada di lapangan justru memperkeruh situasi. Ia meminta para pengamat teroris hendaknya berbicara sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. “Langsung tinjau TKP dan mengumpulkan data, jangan jadi pengamat di belakang meja yang asal bunyi seperti itulah”.

Bisa jadi seorang Ansyad gerah dengan kritik karena kritik tersebut adalah kebenaran tersembunyi. Atau karena kritik tersebut tidak sejalan dengan kemauan BNPT atas pengelolaan isu terorisme. Mengingat dilapangan juga ada “pengamat pesanan” yang bercerita mengikuti alur yang dikembangkan oleh BNPT dan tidak lagi obyektif.

Dalam beberapa kesempatan saya sampaikan aparat BNPT dan Densus88 kurang profesional bahkan tidak jarang melakukan tindakan arogan. Dalam ranah publik, media lebih banyak mengakomodir cerita-cerita sepihak dari aparat Densus88 dan BNPT terkait semua cerita terorisme. Dan nyaris tidak ada pembanding yang proporsional dan obyektif mendedah persoalan.

Di sini ingin saya buka satu contoh dari sekian fakta lapangan yang tidak terungkap di media dan bukan didapat dari balik meja. Karena kita juga sadar 100% bahwa berita-berita terkait terorisme yang sudah dipublish media sudah tidak lagi steril dari interprestasi media yang bersangkutan. Kerap kali, media tidak membeber fakta tapi sudah full dengan opini dan persepsi atas realitas dan fakta. Bahasa mudahnya, pak Ansyad  Mbai ada benarnya bahwa kita akan tersesat dihutan belantara opini dan propaganda jika hanya dibalik meja dan mengikuti alur lalu lintas berita fakta dari sumber sekunder (yang terpublish media).
Apalagi kalau sumber berita media itu dari satu pihak yaitu BNPT atau Densus88, masyarakat bisa dimanipulasi sedemikian rupa seperti yang dikehendaki.

Kalau intens memonitoring berita “terorisme” maka khalayak akan ingat tentang penemuan senjata di TMII.

Berikut lengkapnya:

Seorang pegawai Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur, bernama Samit (36) menemukan sepucuk senjata api jenis FN bersama ratusan butir pelurunya. Tak jelas milik siapa, senjata api beserta peluru tersebut kemudian diamankan di Mapolsektro Cipayung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Dian Perri membenarkan penemuan senjata api di tepi Danau Museum Air Tawar, TMII, tersebut. Meski demikian, dia enggan merinci senjata api yang diamankan dengan alasan tengah dalam penyelidikan.

“Ya, benar, kemarin sore ditemukan. Senjata itu memang yang dimiliki anggota TNI, tetapi kami belum tahu itu siapa yang taruh. Pistolnya sudah diamankan di Polsektro Cipayung,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (7/9/2012) siang.

Berdasarkan data yang beredar di Polsektro Cipayung, senjata api jenis FN tersebut ditemukan saat Samit tengah membersihkan sampah di sekitar danau. Tak sengaja, ia menemukan plastik putih mencurigakan. Setelah diperiksa, ternyata plastik tersebut berisi senjata api lengkap bersama pelurunya. Perangkat yang ditemukan, antara lain, adalah satu pucuk pistol jenis FN tanpa magasin, plip kokang dan pelatuk, slot kokang dan peluru pistol yang terdiri dari tiga butir kaliber 45 mm, dua butir kaliber 30 mm, 22 butir kaliber 38 mm, 19 butir kaliber 9 mm dan 147 butir peluru laras panjang kaliber 65 mm.
Kini, senjata api berikut pelurunya telah diamankan di Mapolsektro Cipayung. Pihak kepolisian tengah menyelidiki siapa penaruh senjata yang menjadi senjata resmi anggota TNI tersebut (Silakan baca di http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/07/1411524/Karyawan.TMII.Temukan.Senjata.TNI.dan.Ratusan.Peluru)

Nah, dibalik berita diatas ada satu tragedi yang menimpa seorang aktifis dakwah salah satu gerakan Islam yang sangat eksis di Indonesia. Jumat tgl  8 agustus 2012 sekitar Pukul 10.00 Wib seorang bernama Herman pulang mengantar istrinya dari tempat kerja, saat di jembatan tol muncul ada 2 orang dengan berkendaraan motor meminta kepada Herman untuk menepi dengan mengatakan “minggir dulu Tadz”, setelah menepi Herman ditodong senjata api (pistol) dan diancam akan dibunuh jika tidak mau ikut.

Herman dibawa ke taman Mini Indonesia Indah (TMII) di pinggir danau. Di sana sudah ada 3 orang yang menunggu, sehingga seluruhnya ada 5 orang 7 mengaku anggota Densus88. Di pinggir danau tersebut Herman ditunjukkan senjata laras panjang dan diminta mengakui senjata itu miliknya, namun Herman tidak mau. Herman diminta menghubungi pimpinan gerakan Islam dimana Herman menjadi bagian didalamnya, agar Pimpinan Herman  bisa datang dan membelanya. Saat itu Herman hanya SMS ke salah satu kawannya  di daerah Ciracas yaitu Ustad Ilham bahwa dia telah ditangkap Densus 88. Ustad Ilham yang saat itu sedang bekerja meminta salah seorang aktifis yang lain keberadaan Herman, setelah dicek memang Herman tidak ada di rumah.

Herman diintimidasi dan mendapatkan kekerasan fisik karena tidak mau mengakui memiliki senjata api, anggota Densus 88 mengatakan kalau tidak mengakui senjata tersebut miliknya nanti bisa saja Herman ditembak, kemudian dituduh teroris dengan barang bukti senjata yang ada, karena masih tidak mau mengakui Herman di-injak kakinya dan di-pukul di bagian punggungnya. Hal itu terus berlanjut hingga sekitar Pukul 14.00 Wib, sehingga Herman tidak sholat Jumat.

Karena Herman tidak mau juga mengakui, anggota Densus88 mencoba memancing emosi Herman dengan menjelek-jelekkan Islam, mulai dari menghina Nabi Muhammad, Al-Quran, dan lainya. Namun Herman diam saja, justru menurut penuturan Herman, dari  5 orang tersebut ada seorang yang muslim dan menyatakan tidak setuju kalo mengintimidasi dengan menghina-hina agama Islam, karena merasa dirinya muslim. Sehingga terjadi debat antara anggota Densus88, dan akhirnya anggota Densus yang muslim memerintahkan Herman pulang dan mengatakan biar teman-temannya menjadi urusan dia. Herman kemudian pulang dan diminta jangan keluar rumah selama 3 hari dan terus diintimidasi bahwa dia akan mati.
Dihari itu juga diberitakan telah ditemukan beberapa senjata api jenis FN dan pelurunya di pinggir danau museum air tawar TMII dan sedang diselidiki siapa pemiliknya. Lalu, bagaimana nasib Herman? Seorang aktifis yang menjadi korban, ditinggalkan begitu saja kehormatannya sebagai seorang manusia setelah di injak-injak harga diri dan fisiknya oleh orang yang ngaku Densus88 dan bahkan kemudian dimasa trumanya masih dalam “ancaman” untuk tidak membeberkan kasus ini.

Nah, BNPT bisa saja membantah kasus ini mungkin dilakukan Densus88 gadungan atau apalah. Tapi ini adalah fakta di balik berita yang tidak terungkap. Contoh kasus seperti ini memberikan indikasi, betapa rentannya isu terorisme menghadirkan operasi-operasi intelijen hitam. Melakukan kriminalisasi terhadap aktifis dakwah dan digiring kepada target tertentu.Dan masih banyak contoh lain, yang benar-benar khalayak tau Densus88 melakukan operasi dan bukan operasi tertutup sehingga orang-orang yang dekat dengan TKP meyaksikan arogansi dan kurang profesional dalam menangani masalah terorisme.

Saya kira seorang Ansyad Mbai tidak perlu panik dengan pandangan dari para pengamat, biarkan waktu yang akan menguji kebenaran semua analisa yang ada. Jika ada kritik kepada BNPT itu betul-betul salah, ngapain juga Ansyad Mbai seperti kebakaran jenggot? Masih banyak contoh kasus lain yang bisa kita beber jika mau.Wallahu a’lam bisshowab

6.12

Info dari Warnet Annisa-net dari Abdul Rouf di ceritakan dari walid Irhabna Mahmud terkait kejadian di solo yang selalu di kait2kan dengan Islam dan label “TERORIS” nya, Sms dari salah seorang ikhwah (kawan karib saya) di Semarang.

Berikut isinya: “Kami tadi ke Solo silaturrahim dengan laskar Salamah Solo (Masjid belakang Lottemart). Jarak markas laskar dengan lokasi “tembak-menembak” Densus88 hanya 30 meter.

Menurut keterangan saksi warga sekitar dan laskar, tidak ada tembak-menembak, yang ada mobil Densusu88 menabrak korban sampai jatuh. Dalam keadaan tertimpa motor,korban diinjak dan ditembak dalam jarak kurang dari satu meter berulang-ulang. Salah satu peluru terpental mengenai perut anggota Densus 88 (bisa jadi anggota densus 88 sendiri yang menembak). Dalam keadaan panik, mereka melarikan anggota tsb ke RS tapi maut lebih cepat…

Hal yang janggal adalah kenapa tidak dilakukan otopsi terhadap mayat Densus 88 agar tahu peluru siapa yang menembus tubuhnya, tapi buru-buru dikuburkan…

Keterangan polisi terkait pistol yang dipakai farhan juga simpang siur jenisnya, kadang bilang FN kadang barreta…

Kasus penembakan pos dan pelemparan granat yg dilakukan desertir Polri NB tidak pernah diangkat polri dan media. Semua teror diarahkan ke Farhan (19) yg statusnya baru.”

Hancurkan Densus 88

12.41.15

Selain melanggar hukum dan HAM, menurut Dr. Saharudin Daming, SH, MH, Densus 8 juga telah menginjak-injak kesucian agama. Hal ini sebagaimana fakta di lapangan, dimana Densus 88 begitu keji memberondong dua orang pemuda di teras Masjid Nurul Afiah di RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Saharudin yang pernah tinggal di Makassar saat menempuh pendidikan S1 fakultas hukum Universitas Hasanuddin ini dengan tegas menyatakan Densus 88 itu lebih mirip bandit, yang sangat kentara sekali sangat memusuhi Islam terutama kaum mujahidin.

“Densus 88 itu lebih mirip sebagai bandit daripada aparat penegak hukum. Saya sendiri tidak lagi mentolelir eksistensi Densus 88 itu sebagai aparat penegak hukum, karena sudah terlalu sering mengatasnamakan penegakkan hukum tapi menginjak-injak Hak Asasi Manusia dan menginjak-injak kesucian agama,” ujarnya saat diwawancara voa-islam.com, Selasa (8/1/2013).

Pics.47.02

Teras Masjid Berdarah

Umat Islam di Indonesia ini terlalu bodoh, padahal umat ini punya kewenangan untuk mendesak pemerintah agar membubarkan Densus 88 dengan cara demo besar-besaran dalam waktu yang lama  Menurutnya Densus 88 harus dibubarkan karena tidak menghormati nyawa seseorang dan rumah ibadah.

“Densus 88 sama sekali tidak menghormati, jangankan nyawa manusia rumah ibadah pun tidak dihormati, karena itu saya menyerukan agar Densus 88 itu segera dibubarkan,” kata dewan pakar Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI) itu.

Untuk itu ia menyerukan kepada umat Islam agar melakukan demo besar-besaran mendesak Presiden SBY agar membubarkan Densus 88.

2.51.58

“Menurut saya umat Islam di Indonesia ini terlalu bodoh, padahal umat ini punya kewenangan untuk mendesak pemerintah agar membubarkan Densus 88 dengan cara demo besar-besaran dalam waktu yang lama, sampai Presiden mau membubarkan Densus 88,” tegasnya.

Ternyata di lingkungan Polri sendiri satuan Densus 88 dikenal begitu arogan. Bahkan tindakan Densus 88 saat melakukan operasi di lapangan kerap membuat Polda di sejumlah daerah tersinggung.

Hal ini diungkapkan mantan Komisioner Komnas HAM, Dr. Saharudin Daming, SH, MH. “Di jajaran kepolisian sendiri sebetulnya satuan yang sangat arogan ini Polda-polda itu tersinggung sebenarnya kalau ada operasi, mereka seolah-olah lebih merasa superior,” kata dewan pakar Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI) kepada voa-islam.com, Selasa (8/1/2013).

“Jadi kalau di internal Polri sendiri mereka sangat arogan, jangan heran kalau dia sudah keluar pun boleh menghakimi siapa saja yang dia anggap sebagai target sasaran,” imbuhnya.

Selain itu, Densus 88 sebenarnya talah melanggar paradigma baru Polri yaitu menghormati Hak Asasi Manusia dalam pelaksanaan tugasnya.

“Ini semua bukan hanya melanggar hukum atau melanggar HAM, tapi melanggar sumpah paradigma baru Polri. Paradigma baru itu salah satunya adalah menghormati HAM yang tertuang dalam peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 yang intinya mengamanatkan seluruh jajaran Polri agar menghormati HAM dalam semua pelaksanaan tugas, berarti termasuk Densus 88 kan?” ungkapnya.

Namun demikian Saharudin Daming merasa heran, mengapa pelanggaran hukum dan HAM itu masih saja dibiarkan oleh Kapolri. “Atau jangan-jangan Densus 88 itu bukan Polri barangkali? Dia tidak melaksanakan tugas dalam konteks peraturan Kapolri,” tandasnya.

Banyak yang Bertanya kepadaku tentang Kekejaman dan Penyiksaan Densus 88 terhadapku

Banyak yang bertanya kepadaku tentang kekejaman dan penyiksaan Densus 88 terhadapku hampir 8th silam, namun belum ada waktu untukku bercerita tentang kejadian-kejadian masa lampau yang malas sekali untuk ku ceritakan.

Pasca syahidnya (insyaa Allah) akhi Siyono rahimahullah akibat siksaan-siksaan brutal densus hingga ajal menjemput lalu pak polisi menyangkal bahwa hal tersebut adalah akibat perlawanan beliau hingga anggota densus melakukan pembelaan diri. Disitu saya mulai muak dan mual akibat bualan dan cerita palsu mereka. Bukan tanpa alasan, karena saya adalah salah satu manusia yang pernah mengalami siksaan dan kekejaman yang tidak berperikemanusian tersebut, dan saya dengan haqqul yakin banyak lagi diantar temen-temen aktivis Islam lainya mendapat perlakuan yang lebih keji. Saya sendiri merasakan bagaimana saat mereka masukkan kresek plastik ke kepalaku lalu dilakban dan dipukul. Dengan tanpa belas kasih mereka mencabut jenggotku. Seluruh tubuhku dipukul dengan belati sehingga gigi2 ini retak dan rontok. Saat itu juga kepalaku diinjak dan hantukkan kedinding dan diludahi seolah-olah kita adalah makhluk keji yang harus dinyahkan dari muka bumi. Ya Allah.. dan begitu seterusnya. Maka wajar jika akhi Siyono bisa meninggal karena mungkin tidak tahan dengan perlakuan kejam tersebut. Ya Rabb…

Namun setiap laporan dan keluhan kami orang-orang yang terzalimi ini tidak pernah digubris. Tuduhan demi tuduhan terus berlanjut. Kadang hati ini ingin menjerit dan menangis. Namun hal tersebut hanya layak dilakukan disaat bertemu Allah disaat-saat mustajab dalam doa dan airmata. Beratnya ujian Allah ini kepada aku dan sahabat-sahabat yang terzalimi ini karena dakwah dan jihad yang kami yakini ini tidak sebanding dengan kaum muslimin yang tertindas lainnya. Disitulah ku bersabar dan tidak menaruh dendam kepada mereka para penjahat. Karena tidak mungkin sesuatu ujian itu ditimpakan kepada kita jika kita tidak mampu memikulnya. Allah Maha Tahu atas segalanya. Sabar dan shalatlah yang terbaik. Insyaa Allah..

Alhamdulillah, melalui Muhammadiyah dan kaum muslimin lainya yang concern terhadap hak-hak ummat Islam, kasus ini bisa terbongkar. Kezaliman densus lambat laun akan dibuka oleh Allah, dengan cara apapun. Tinggal kita banyaklah bersabar dan mendoakan saudara-saudara kita lainya yg dizalimi dan bantu mereka dengan kemampuan kita. Karena hal tersebut akan membuatmu mulia. Insyaa Allah. Insyaa Allah satu saat nanti kuingin menulis tentang hari-hari yang menyakitkan dalam hidupku, agar menjadi iktibar untuk temen2. Insyaa Allah..

07-06-01.13.17

Baca juga:


Referensi

  • ^densus88at.blogspot.co.id/2013/06/kebiadaban-densus-88-yang-membedah.html?m=1
  • ^megapolitan.kompas.com/read/2012/09/07/1411524/Karyawan.TMII.Temukan.Senjata.TNI.dan.Ratusan.Peluru
  • ^voa-islam.com/
  • ^arrahmah.com/
  • ^nahimunkar.com/banyak-bertanya-kepadaku-kekejaman-dan-penyiksaan-densus-88-terhadapku/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s